Ilmuwan Pragmatis-Permisif
Penulis
berpendapat dua kata: pragmatis dan permisif, keduanya tidak dapat dipisahkan.
Artinya, orang yang pragmatis sudah pasti akan permisif. Sebaliknya, orang yang
permisif juga sudah pasti pragmatis. Kok, bisa begitu? Coba saja perhatikan,
orang yang bersikap pragmatis ketika ingin memperoleh sesuatu mana mau
melakukan yang idealis? Pasti dia melakukan cara-cara yang bertentangan dengan
idealis apalagi kalau bukan cara-cara yang menyimpang. Perilaku yang menyimpang,
misalnya, kalau mau memperoleh gelar entah S1, S2, atau S3
sekalipun orang yang pragmatis tidak mau berlelah-lelah untuk belajar. Dia akan
melakukan jalan ringkas: menerabas. Bukankah yang dia lakukan cenderung
pragmatis dan permisif?
***
Dalam
kehidupan di Menara Gading juga banyak ilmuwan yang tidak luput dari perilaku
pragmatis-permisif. Di banyak uraian terdahulu sudah Penulis berikan
contoh-contoh yang kasat mata perilaku pragmatis-permisif ilmuwan di PT. Di
berbagai momen yang berkaitan dengan masalah-masalah akademis ada kecenderungan
banyak ilmuwan yang mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif. Praktek-praktek
perilaku pragmatis-permisif di satu sisi memang bisa menyelesaikan masalah. Tapi,
bukan berarti masalah yang baru saja diselesaikan tidak meninggalkan masalah. Ada
masalah baru yang justru lebih menantang, yaitu tentang kredibilitas sang
ilmuwan.
Sebagai
ilmuwan ketika mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif mau tidak mau
sebenarnya telah mempertaruhkan kredibilitasnya di hadapan insan akademis
lainnya. Kalau untuk mengerjakan tugas-tugas akademis sang ilmuwan telah mempraktekkan
perilaku pragmatis-permisif, terlepas hasil pekerjaannya diketahui orang atau
tidak sangat mungkin di suatu saat orang pasti juga tahu yang dikerjakannya. Suatu
saat manakala orang tahu yang dikerjakannya lebih merupakan praktek-praktek ilegal
(hasil dari perilaku pragmatis-permisif), berlaku peribahasa `sekali lancung ke
ujian, seumur hidup orang tak percaya`. Artinya, walaupun sekali saja sang
ilmuwan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif, sejak dia melakukannya
seumur hidup orang akan meragukan kompetensinya. Apa jadinya kalau diragukan
kompetensinya padahal sang ilmuwan bertitel S3, bahkan profesor
sekalipun?
Seorang
ilmuwan kalau sudah diragukan kompetensinya, walaupun masih diberi amanah untuk
mengajar, membimbing mahasiswa, atau hal-hal yang berkaitan dengan penelitian
dan pengabdian masyarakat, tetap saja stigma sebagai ilmuwan yang diragukan
kompetensinya itu tetap melekat. Bahkan, tidak mustahil orang juga meragukan
gelar kesarjanaan tertinggi yang diraihnya. Di awal-awal ketika sang ilmuwan
baru saja meraih gelar doktor, misalnya, orang pasti banyak berharap pada kemampuannya
untuk melakukan kerja-kerja penelitian dan pengabdian masyarakat. Tetapi,
ketika didapati semua yang dikerjakannya tidak lebih dari hasil jiplakan
pekerjaan orang lain (plagiat), sejak saat itu orang sudah memandangnya sebelah
mata alias diremehkan. Bagaimana kalau sang ilmuwan bergelar doktor sudah
diremehkan? Silakan tebak sendiri!
Seorang
ilmuwan yang mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif sepanjang hanya
diragukan kompetensinya masih dianggap beruntung. Lain halnya kalau praktek
buruk itu berbuah pada pencabutan gelar doktornya. Sudah banyak ilmuwan yang
kedapatan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif yang berujung pada pencabutan
gelar doktornya. Terlepas dari orang tahu atau tidak tahu kalau sang ilmuwan
mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif, sebagai orang yang berke-Tuhan-an sekaligus
seorang ilmuwan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan selayaknya sebelum
melakukannya mempertimbangkan baik-buruk perbuatan yang akan dilakukannya. Kalau
ternyata nilai keburukannya lebih tinggi daripada kebaikannya, sebaiknya hal
itu ditinggalkan. Di sini sang ilmuwan harus bisa pandai-pandai memprediksi
hal-hal yang tidak diinginkan akibat dari perilaku pragmatis-permisif. Apa
salahnya jika sang ilmuwan menyingkirkan perilaku pragmatis-permisif?
Menyingkirkan
perilaku pragmatis-permisif memang pekerjaan berat. Sang ilmuwan yang sudah `kadung`
melakukan praktek-praktek ilegal itu manakala suatu saat mau menyingkirkan
perilaku pragmatis-permisif bisa dipastikan akan berhadapan dengan entah atasan
atau teman sejawat yang sudah karatan hidup dengan perilaku buruk itu. Tidak
mustahil mereka-mereka yang berperilaku buruk itu akan melakukan berbagai cara
untuk mempengaruhinya. Bisa saja sang atasan yang tidak suka dengan perubahan
sikap sang ilmuwan akan memecatnya atau minimal menghambat kariernya. Bagi
ilmuwan yang idealis tidak menjadi masalah, baik dipecat sebagai dosen maupun
dihambat kariernya karena masalah karier atau rezeki sekalipun sudah ada yang
menentukan.
***
Menjadi seorang ilmuwan yang idealis
di tengah-tengah kehidupan yang serba pragmatis-permisif memang sulit. Tapi,
semua itu harus dilawan. Orang harus disadarkan bahwa yang mereka kerjakan
tidak benar. Kalau memang sulit untuk mengubahnya, minimal sang ilmuwan yang tidak
berkeinginan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif sudah baik. Meskipun
demikian, sang ilmuwan yang idealis sebaiknya juga membentuk komunitas atau bisa
juga melakukan pertemanan dengan orang-orang sejenis. Bukankah domba yang
sendirian mudah disergap serigala?
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

.jpg)

.jpg)

.jpg)
