Kekritisan dan Kepedulian Mahasiswa
Penulis beranggapan kekritisan dan
kepedulian tidak boleh dipisahkan. Artinya, orang yang kritis kalau tidak
peduli tidak akan berbuat apa-apa. Pada akhirnya, orang seperti itu diberi
gelar `omdo`: omong doang atau dia hanya bisa berwacana. Lebih konkritnya, dia
hanya bisa bicara tapi tidak berbuat apa-apa. Orang yang peduli tapi tidak
kritis,dia cuma bisa melakukan sesuatu tapi tidak pernah memikirkan yang
dilakukannya. Jadi, dia tidak tahu alasan melakukan aktivitasnya, tujuannya,
dan mungkin juga manfaatnya. Untuk itu, kedua kata itu,baik kekritisan maupun
kepedulian tidak bisa terpisahkan. Kekritisan tidak akan sempurna tanpa
kepedulian. Begitupun sebaliknya, kepedulian tidak akan sempurna tanpa
kekritisan.
***
Sebagai
tenaga pendidik di PT terus terang saja Penulis mendapati anak didiknya sebagai
calon cendekia muda minim kekritisan dan kepedulian. Penulis mencoba mengaitkannya
dengan keminiman ruang dialog yang boleh jadi para dosen sebagai ilmuwan lalai
menghidupkannya. Ada kecenderungan di kalangan sebagian ilmuwan hanya
menjadikan anak didik sebagai tempat dituangkannya ilmu sesuai dengan konsep
pembelajaran CBSA seperti yang dikemukakan Penulis di “Dicari Ilmuwan Kreatif
dan Inovatif”. Di sini sang calon cendekia muda hanya dicekoki ilmu tanpa ada
kesempatan untuk bertanya, berdebat, atau berupaya mengkritisinya. Buat sang calon
cendekia muda sudah tertutup semua itu karena dosennya yang sudah terlanjur
mengecap dirinya sebagai ilmuwan sebatas mentransfer ilmu tanpa melihat timbal
balik dari ilmu yang ditransfernya. Sang mahasiswa mau memahami atau tidak
bukan urusannya. Hal ini bisa terjadi, baik sang dosen maupun sang mahasiswa
tidak memahami dan mengambil manfaat dari ilmu yang dipelajarinya.
Kekritisan
dan kepedulian akan muncul pada diri mahasiswa manakala sang mahasiswa sudah
bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Selama dia tidak bisa
mengambil manfaatnya, selama itu juga sang mahasiswa tidak akan memiliki
kekritisan. Perlu diketahui, seorang mahasiswa yang kritis menunjukkan bahwa selain
memahami konsep objek yang dikritisinya,dia juga bisa mengambil manfaat ilmu
yang dipelajarinya. Sebagai contoh, mahasiswa yang mempelajari Pendidikan
Antikorupsi kalau memahami benar dampak yang akan terjadi akibat korupsi di
sebuah negara, dia akan memprediksi tidak mustahil negara tersebut akan masuk
ke dalam jurang kegagalan. Agar tidak terjadi hal seperti itu, sebagai
mahasiswa dia akan berupaya menjadi aktivis gerakan antikorupsi. Bisa saja dia
dan teman-temannya yang seide membuat kelompok mahasiswa antikorupsi di
kampusnya. Kalau idenya tidak diapresiasi oleh pihak pimpinan PT, dia akan
mencari LSM atau organisasi yang peduli dengan gerakan antikorupsi. Dengan
demikian, jangan disalahkan mereka-mereka yang aktif di luar kampus karena
kampus sebagai lembaga PT yang terhormat (karena di kampus tempat berkumpul `orang-orang
intelek`) tidak siap menerima ide-ide mereka.
Ide-ide
mereka yang berawal dari kekritisan dan kepedulian merupakan bukti bahwa ada
generasi muda yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang dipelajarinya. Ide-ide
mereka bisa saja disalurkan lewat pembentukan forum-forum diskusi mahasiswa
entah bisa dibentuk di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau di BEM. Ide-ide
mereka yang cemerlang bisa saja disalurkan lewat kegiatan mimbar ilmiah yang
diadakan di tingkat program studi (prodi) atau fakultas. Ide-ide mereka yang
mungkin dianggap idealis perlu diapresiasi oleh pihak pimpinan PT dengan
menyalurkannya ke UKM, BEM, atau bisa saja lewat kegiatan-kegiatan di
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Ide-ide mereka harus
diterima dengan tangan terbuka oleh para dosen yang mengaku sebagai ilmuwan
yang mumpuni. Sikap tinggi hati atau masih adanya pandangan yang berpegang
teguh pada who (siapa yang bicara) sudah saatnya disingkirkan. Ganti
sikap itu dengan what (apa yang disampaikan). Kalau ide-ide mereka
benar-benar diapresiasi, tidak mungkin mereka mencari aktivitas di luar kampus (meskipun
sebenarnya dengan aktifnya mereka di LSM menjadikan mereka kaya pengalaman dan
luas pergaulannya). Di sini pihak pimpinan PT dan seluruh ilmuwan harus memiliki
kepedulian terhadap mereka.
Pimpinan
PT dan para ilmuwannya yang mengapresiasi ide-ide para mahasiswanya dengan
menyediakan waktu, tenaga, dan (kalau perlu) juga dananya akan membuat
mahasiswa betah berlama-lama di kampus. Selama mereka di kampus waktunya diisi
dengan aktivitas yang bermanfaat. Jadi, bukan hanya kuliah atau `nongkrong-nongkrong`
yang tidak `karuan`, mereka akan benar-benar memanfaatkan sarana yang sudah
disediakan pihak PT untuk melakukan aktivitas kemanusiaan dan kesosialan. Meskipun
demikian, pihak pimpinan PT dan para ilmuwan juga harus melakukan pengawasan
dan pengevaluasian. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
***
Mahasiswa sebagai calon cendekia muda adalah
orang-orang muda yang dinamis. Karena kedinamisannya, sangat mungkin mereka
belajar mencari pengalaman di luar kampus manakala kehidupan kampus
menjenuhkan. Tidak mustahil mereka-mereka yang pernah aktif di luar kampus
(seperti di LSM) suatu saat manakala telah meraih jenjang pendidikan
tertingginya akan mencoba membuka aktivitas semacam LSM seperti yang dilakukan
alumni Universitas Hasanudin (Unhas) yang mendirikan Sulawesi Community
Foundation (https://www.unhas.ac.id/alumni-unhas-kembangkan-cara-berpikir-dan-pertahankan-idealisme-melalui-lsm/?lang =id). Ini merupakan suatu
bukti bahwa mereka-mereka adalah orang-orang yang memiliki kekritisan dan
kepedulian. Bukankah kritisan juga merupakan bukti tanda kepedulian? Oleh
karena itu, sejak dini tanamkan pada para mahasiswa dua hal ini: kekritisan dan
kepedulian.
Sumber Gambar:
(https://lensamedianews.com/2021/10/23/mahasiswa-kritis-tanda-peduli)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar