Kado Akhir Tahun
Cerpen
Subagio S.Waluyo
“Sialan, Si Yunus. Nih!”, maki Bima
Arwana setengah berteriak.
“Kenapa Si Yunus, Pa?, tanya istrinya
heran.
“Masa` dia kirim paket isinya kain
kafan?”, kata Bima Arwana sang suami masih setengah berteriak.
“Keren itu, Pa! Benar-benar keren tuh!”,
kata sang istri sambil senyum-senyum kecil.
“Kok, keren? Orang ngirim paket isinya
kain kafan kok dibilang keren? Gimana nih, Mama?”, tanya sang suami melongo.
“Ya, keren Pa. Sebab itu benar-benar
kiriman paket yang unik”, jelas sang istri.
“Unik?”, tanya sang suami seperti
tidak mengerti jawaban sang istri.
“Ya, unik Pa. Karena kita diingatkan
sama Si Yunus kalo kita semua nanti akan mati”, jelas sang istri seperti
memberi nasihat buat suaminya.
“Kok, ngasi paket supaya kita
diingatkan dengan kematian?”, Bima Arwana masih belum mengerti jawaban
istrinya.
“Papa maunya orang ngirim paket isinya
makanan atau kendaraan mewah atau kunci rumah mewah di Citra Grand?”, tanya sang
istri.
“Kalo soal makanan, yang kita makan sudah
lebih dari cukup. Kalo soal mobil mewah, di rumah ini sudah banyak. Rumah ini sudah
seperti show room mobil-mobil mewah. Saking banyaknya mobil kadang Papa
bingung mau pakai mobil yang mana setiap keluar rumah. Kalo soal rumah mewah,
selain rumah kita yang kita tempatin sekarang ini, kita masih punya rumah yang tergolong mewah di
tiga tempat yang kata Papa nanti buat anak-anak kita”, cerocos sang istri.
“Ya, tapi yang wajarlah. Jangan kirim
kain kafan. Ini benar-benar keterlaluan Si Yunus tuh!”, jawab sang suami masih
sedikit emosional.
“Emangnya gak wajar kalo orang kirim
kain kafan?”, tanya istrinya.
“Ya, gak wajarlah kalo orang kirim
paket isinya kain kafan!”, tangkis sang suami.
“Papa merasa terhina kalo Si Yunus itu
kirim kain kafan? Kalo emang iya, Papa laporin aja ke polisi biar nanti
diproses sama polisi. Bisa juga Papa bikin pengaduan ke Komnas HAM karena sudah
melanggar HAM, gimana menurut Papa?”, tantang sang istri.
“Ah, ngapain harus lapor ke polisi
atau ke Komnas HAM. Kayak gak ada kerjaan aja!”, jawab sang suami masih sedikit
emosi.
“Terus Papa mau labrak tuh Si Yunus?”,
tantang sang istri.
“Kalo menurut mama, Papa sampein saja
ke Si Yunus ucapan terima kasih karena sudah diingatkan sama kematian. Gitu aja
Pa. Santai aja lagi. Gak usah galau Pa. Ingat, kita nih dah punya anak cucu.
Kita dah gak muda lagi. Kita semuanya hidup nunggu dipanggil Allah. Emang Papa
merasa mau hidup seribu tahun lagi?”, pertanyaan sang istri masih menantang
keberanian sang suami untuk meresponnya.
“Nanti kita mati gak bawa apa-apa.
Kita cuma bawa amal baik. Benar juga Si Yunus kirim paket isinya kain kafan
karena nanti pas kita dikubur yang melekat di tubuh kita cuma kain kafan. Semua
mobil Papa yang mewah-mewah itu sama rumah-rumah yang mewah itu termasuk uang
Papa yang disimpan di banyak bank gak dibawa mati”, kata sang istri
menceramahi suami.
Bima
Arwana tertunduk mendengar ceramah istrinya. Dia bergeming. Dia tersudut persis
seperti tikus yang tidak bergerak di hadapan kucing yang mau menerkamnya. Dia
pasrah. Dia tidak punya perbendaharaan kata untuk menangkis ceramah istrinya.
Jauh di lubuk hatinya dia membenarkan kata-kata istrinya yang meluncur begitu
lancar dari bibirnya. Belum lagi Bima Arwana bereaksi, sang istri kembali
bertanya.
“Gimana Pa, dengan kiriman paket Si
Yunus? Papa mau buang? Daripada dibuang buat Mama aja biar Mama simpan. Nanti
siapa aja yang duluan mati. Nanti kalo Mama duluan yang mati, kain kafan ini
Mama pakai. Kalo Papa yang mati duluan, ya Papa yang pakai. Papa `kan mau pakai
kafan ini kalo dah mati?”, tanya sang istri mengejek.
“Kalo papa mati, mana mungkin Papa
nolak pakai kain kafan pemberian Si Yunus. Papa `kan sudah gak bisa apa-apa lagi waktu itu. Papa dah pasrah aja. Ah, Mama ini pintar benar ngejek”, kata sang
suami agak kesal karena diejek istrinya.
“Ya, udah Mama simpan aja”, jawab Bima
Arwana menyerah.
“Oke, Mama simpan dulu, ya?”, tanya
sang istri.
“Ya!”
***
Bima
Arwana dan Muhammad Yunus adalah dua orang sahabat yang hubungannya sudah
demikian melekat. Ketika kecil dulu, mereka berdua hidup bertetangga. Tinggal
dalam satu komplek perumahan AURI di Halim Perdana Kusuma. Mereka juga
sama-sama satu sekolah dari SD sampai SMA. Setelah lulus SMA, Bima Arwana
kuliah di Universitas Trisakti. Muhammad Yunus kuliah di UI. Selesai dari
perguruan tinggi, Bima Arwana mencoba menapaki hidupnya di bidang politik
sehingga sejak masuk masa reformasi sampai saat ini (sudah lebih dari 25
tahun), dia menjadi anggota dewan. Sementara itu, Muhammad Yunus lebih
cenderung ke dunia usaha. Sebagai anggota dewan Bima Arwana hidup penuh dengan
kemewahan. Sampai saat ini di luar rumah dinasnya yang sudah sekian lama tidak
ditempati, dia juga masih punya tiga rumah mewah. Selain rumah, Bima Arwana
juga punya sepuluh mobil mewah. Uang tabungannya tersimpan di banyak bank.
Tampaknya, Bima Arwana sudah benar-benar mapan hidupnya.
Muhammad
Yunus termasuk pengusaha yang berhasil. Sebagai seorang pengusaha, dalam
membangun usahanya dia sudah biasa jatuh bangun. Meskipun sudah biasa jatuh
bangun, dia tidak pernah putus-putusnya untuk bersedekah. Buatnya sedekah lebih
merupakan kewajiban yang jika suatu saat ditinggalkan, ada perasaan bersalah.
Sebaliknya, dia merasa tenang hidupnya setiap kali bersedekah meskipun yang
dikeluarkan dari koceknya terkadang terhitung kecil. Dia merasa yakin
ketenteraman hidupnya dalam berumah tangga sangat ditentukan oleh intensnya
bersedekah. Dia juga merasa yakin anak-anaknya yang kata orang termasuk
anak-anak yang penurut, anak-anak yang saleh-salehah, dan kesuksesan
anak-anaknya dalam menapaki dunia pendidikan lebih disebabkan oleh salah
satunya adalah kebiasaannya bersedekah. Di luar itu semua, Muhammad Yunus
dikenal sebagai pengurus masjid yang sukses dalam memakmurkan masjidnya.
Keaktifannya di masjid sudah dimulai sejak di bangku SMA Kelas 1. Waktu itu
Muhammad Yunus muda dikenal sebagai aktivis remaja masjid. Begitu masuk
perguruan tinggi keaktifannya di masjid masih
ditindaklanjuti. Ketika hijrah dari Komplek Perumahan Halim Perdana Kusuma, di
tempat barunya di bilangan Cipayung, Muhammad Yunus juga aktif di masjid komplek
perumahannya sampai sekarang ini. Masjid yang sekarang dikelola bersama
pengurus masjid lainnya membuahkan hasil yang luar biasa. Salah satu indikator
keberhasilannya bisa dilihat dari banyaknya jamaah salat magrib yang sama
banyaknya dengan salat subuh. Tidaklah aneh kalau dia bersama pengurus masjid
lainnya demikian mudah memperoleh donasi, baik dari jamaah masjid maupun luar
masjid. Setiap program, baik program masjid maupun untuk kesejahteraan umat
yang digulirkannya selalu mendapat apresiasi dari jamaah masjid dan warga di
komplek perumahannya. Bahkan, ada saja jamaah yang tidak dikenal dari tempat
yang jauh mendonasikan uangnya di masjid yang dikelolanya.
Bima
Arwana tidak pernah aktif di masjid. Keaktifannya lebih banyak di karang taruna
dan pencinta alam. Pengalamannya dalam mendaki gunung sudah tidak bisa dihitung
dengan jari. Selain aktif sebagai pendaki gunung, dia juga aktif di
kemahasiswaan. Di masa-masa jauh sebelum reformasi, Bima Arwana sempat
menduduki Ketua Senat Mahasiswa tingkat universitas. Selesai kuliah, Bima
sempat aktif di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Ketika bergolak
demontrasi mahasiswa dan masyarakat di negara ini, dia sempat ikut turun ke
jalan. Bahkan, Bima Arwana dikenal sebagai salah satu aktivis yang berhasil
menggerakkan ribuan mahasiswa dan masyarakat untuk turun ke jalan. Berkat
keaktifannya dalam demonstrasi yang bisa menjatuhkan rezim Orde Baru, Bima
Arwana direkrut oleh salah satu partai besar di masa itu untuk menjadi anggota
dewan. Tidak tanggung-tanggung dia langsung masuk ke parlemen di tingkat pusat
atau anggota DPR Pusat. Sebagaimana anggota dewan lainnya, begitu masuk ke
dalam lingkar kekuasaan idealisme yang dianutnya mulai luntur. Dia mulai larut
dalam kehidupan politik yang menguntungkan, yang membuatnya kehidupannya
bergelimang harta. Dibandingkan dengan Muhammad Yunus,teman akrabnya, seorang
pengusaha yang hidupnya sederhana kekayaannya tidak sebanding. Muhammad Yunus
hanya memiliki dua mobil lama dengan satu rumah yang selama ini ditempatinya.
Tetapi, Muhammad Yunus patut bersyukur karena bahtera rumah tangganya tidak
mengalami goncangan. Lain halnya dengan Bima Arwana yang bahtera rumah
tangganya sempat goyah. Baru belakangan ini saja bahtera rumah tangganya mulai
membaik setelah sang istri banyak melakukan introspeksi diri. Sang istri
diikuti anak-anaknya mulai akrab dengan agama. Mereka sering mengikuti
kajian-kajian agama. Makanya ketika Bima Arwana dikirimi kain kafan, bagi
istrinya itu merupakan cara yang efektif untuk menyadarkan sang suami agar
tidak larut dengan kehidupan dunia.
***
Larut
malam Bima baru pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, dia langsung
tertidur. Dia tidak sempat untuk menyapa istrinya yang sudah lebih dulu
tertidur di sampingnya. Begitupun juga dengan anak-anaknya yang sudah sama
pulas dengan tidur dan mimpinya. Belakangan ini kesibukannya dengan rapat-rapat
di DPR yang banyak menguras waktu membuat dia pulang larut malam sehingga dia
tidak sempat disapa atau menyapa istri dan anak-anaknya. Dia sudah merasakan
kehidupannya sudah demikian hampa karena jarang ada tegur sapa antara dia dan
istrinya. Demikian juga dengan anak-anaknya. Baru tadi pagi saja tumben-tumbenan
sang istri mau menimpalinya ketika dia menerima kiriman paket berupa kain kafan
dari temannya. Dalam tidurnya dia bermimpi, teman akrabnya, Muhammad Yunus
menelponnya.
“Assaamualaikum”, sapa Muhammad Yunus.
“Waalaikum salam.”
“Gimana kabarnya nih, Bapak anggota
dewan terhormat?”, tanya temannya.
“Baik, alhamdulillah”, jawabnya kalem.
“Ente sudah terima kiriman paket?”,
tanya temannya.
“Sudah. Cuma yang gua gak habis pikir,
kenapa lu kirim gua kain kafan?”, tanyanya heran.
“Lha, gua juga bingung mau kirim apa
ke elu? Mobil? Rumah? Duit? Ato makanan? Semuanya dah banyak lu punya!”, jawab
temannya seperti mengejek.
“Ya, tapi jangan kain kafan lu kirim.
Itu bikin gua inget mati”, ketus Bima Arwana.
“Kalo berupa buku lu mau terima?”,
tanya temannya.
“Buku apa yang mau lu kirim?”,
tanyanya.
“Buku yang isinya cerita siksa kubur
sama siksa di neraka. Gimana?”, tanya temannya setengah menantang.
“Masalah kematian, masalah siksa
kubur, masalah siksa neraka, jangan dulu dah! Jangan dulu! Jangan dulu!”,
teriak Bima Arwana sekeras-kerasnya. Teriakan Bima Arwana membuat istrinya yang
tidur di sebelahnya terbangun.
“Pa, Pa, ada apa Pa? Kok, Papa
teriak-teriak `jangan dulu-jangan dulu`?, tanya istrinya sambil
membangunkannya. Bima Arwana terbangun seraya mengucek matanya.
“Tadi papa mimpi ditelpon Si Yunus.
Papa sempat tanya soal kiriman paket berupa kain kafan. Terus dia sampein kalo
kirim buku yang isinya soal siksa kubur sama siksa neraka, gimana? Papa jawab
sambil teriak `jangan dulu-jangan dulu`”, Bima Arwana berusaha menjelaskan isi
mimpinya barusan. Istrinya yang mendengarnya tertawa cekikikan seraya
mengambilkan air putih buat suaminya.
“Makanya Pa, kalo mau tidur baca doa
dulu. Tapi, tadi itu mimpi bagus buat Papa supaya Papa sadar sama umur. Papa
dah gak perlu lagi mengejar dunia. Papa dah musti ninggalin tuh kehidupan
politik yang bikin Papa lupa dunia-akhirat. Orang seumur kita dah waktunya
dekat sama Allah. Sekarang kita nikmatin aja hidup. Gak usah ngoyo-lah
ngejar dunia. Kita kejar akhirat supaya kita selamat dari siksa kubur sama
siksa akhirat. Papa mau ninggalin dunia politik? Papa mau jauh dari keluarga
sampe gak saling sapa sama anak-anak? Gak mau `kan? Kalo bisa Papa besok
mengajukan pengunduran diri aja sebagai anggota dewan. Mobil-mobil mewah yang
Papa punya dijual aja. Rumah-rumah mewah juga sama dijual aja. Kita cukup
tinggal di sini. Kalo bisa semua yang kita jual, kita hibahkan buat bantu
orang-orang duafa. Ingat Pa, saudara-saudara kita di Sumatera yang jadi korban
banjir. Mereka butuh bantuan. Papa ikut aktif aja sama Si Yunus di masjid. Kita
masih punya simpanan di banyak Bank. Insya Allah kita masih bisa hidup sampai
Allah nanti menjemput kita. Gimana sama usul Mama, Pa?”, kata sang istri
sedikit menceramahi Bima Arwana. Sejenak ada hening karena sang suami tidak
segera menjawab. Namun, beberapa saat kemudian secara perlahan-lahan Bima
Arwana menjawabnya dengan mantap.
“Papa bersedia mundur sebagai anggota
dewan dan pengurus sekaligus anggota partai. Papa sudah sampai titik jenuh
hidup di tengah lingkaran kekuasaan. Papa mau jadi rakyat biasa. Papa mau hidup
merakyat. Papa mau dekat sama anak-anak dan sama Allah. Besok pagi Papa segera
buat surat pengunduran dirinya”, janjinya.
“Alhamdulillah. Kalo Papa mau
mengajukan pengunduran diri sebagai anggota dewan sekaligus pengurus partai dan
anggota partai. Mudah-mudahan permintaan Papa tadi di-ijabah Allah”,
kata sang istri terharu.
“Amin”, Bima Arwana mengaminkannya.
“Sekarang kita tidur lagi,Pa. Jangan
lupa berdoa sebelum tidur!”, pesan sang istri. Meskipun sempat terbangun dan
agak sulit untuk meneruskan tidurnya, akhirnya Bima Arwana tertidur juga.
Kota Bekasi, 21 Desember 2025.
.jpg)
.jpg)
.jpg)