Jumat, 30 Mei 2014

Kebahasaan dan Kesastraan (23)

BAGAIMANA NANTI VERSUS NANTI BAGAIMANA

Subagio S. Waluyo


/a/
Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa `bagaimana nanti` lebih layak digunakan daripada `nanti bagaimana`. Ada juga yang beranggapan bahwa `nanti bagaimana` lebih layak digunakan daripada `bagaimana nanti`. Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik `bagaimana nanti` maupun `nanti bagaimana` sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

/b/
Frase `bagaimana nanti` terkadang juga dimasukkan kata `saja` sehingga menjadi `bagaimana nanti saja`. Frase `bagaimana nanti` tidak bisa dimasukkan sebagai kalimat tanya meskipun di depan frase tersebut ada kata tanya `bagaimana` karena memang frase jenis ini tidak membutuhkan jawaban. Justru, frase `bagaimana nanti (saja)` merupakan sebuah jawaban seseorang ketika ditanya tentang, misalnya, kesiapan menghadapi ujian esok hari. Atau ketika seseorang melakukan aktivitas yang ilegal jika ditanyakan tentang resiko atas perbuatannya, selalu memberikan jawaban `bagaimana nanti (saja)`. Atau ketika seseorang telah melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, jika ditanyakan tentang hasilnya, bisa juga memberikan jawaban `bagaimana nanti (saja)`. Untuk yang terakhir ini sebenarnya boleh dikatakan jarang memberikan jawaban seperti itu.

Dalam tulisan saya yang terdahulu (lihat “Kerancuan Berpikir dan Kerancuan Berbahasa dalam Skripsi Sarjana S1”) telah dijelaskan bahwa menurut hipotesis Sapir-Whorf, bahasa bukan hanya menentukan budaya, tetapi juga cara dan jalan pikiran manusia (Abdul Chaer, 1994:70).  Dengan  kata lain, boleh juga dikatakan suatu bangsa dengan bangsa lain yang berbeda bahasanya akan mempunyai jalan pikiran yang berbeda pula.  Dengan demikian, perbedaan bahasa merupakan sumber perbedaan budaya dan jalan pikiran manusia karena tanpa bahasa manusia tidak mempunyai pikiran sama sekali. Dengan melihat pada frase `bagaimana nanti (saja)` bisa dikatakan bahwa jalan pikiran orang yang mengatakan demikian lebih cenderung berpikiran pragmatis. Mangunhardjana berpendapat kaum pragmatis berpendapat bahwa yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan dipraktekkan dan mendatangkan yang positif. Karena itu, lanjutnya, baik-buruknya perilaku dan cara hidup dinilai atas dasar praktis semata (Isme-Isme dari A Sampai Z, 2001:189-190). Dengan melihat pada uraian  itu bisa disimpulkan bahwa orang yang mengatakan `bagaimana nanti (saja)` adalah orang yang berpikir praktis, orang yang tidak mau disulitkan dengan resiko-resiko yang akan muncul di kemudian hari, dan/atau orang yang tergolong dalam EGP `Emangnya Gue Pikiran`. Orang yang termasuk dalam golongan ini adalah orang yang kerjakan dulu apa saja yang bisa kita kerjakan (tidak perlu memandang yang dikerjakannya baik atau buruk, benar atau salah) dan tentang akibatnya tidak pernah dipikirkan. 

Apakah tidak ada efek sampingan dari frase `bagaimana nanti (saja)`?  Kalau mau ditelusuri, jelas pasti ada. Di dunia politik orang yang berkampanye dengan cara-cara yang ilegal, misalnya, politik bagi-bagi uang, sudah bisa dipastikan manusia jenis ini adalah manusia yang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`.  Efek sampingannya, di parlemen diisi wakil-wakil rakyat yang kualitasnya `diragukan. Anggota dewan seperti ini begitu memasuki ruang parlemen pertama kali yang muncul di benaknya adalah `bagaimana mengembalikan uang yang telah dikeluarkan selama kampanye dulu?` Di dunia bisnis orang yang ketika berbisnis melakukan praktek-praktek ilegal, misalnya, melakukan manifulasi data agar diperoleh keuntungan yang besar, sudah bisa dipastikan jenis manusia seperti ini adalah manusia yang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`.   Efeknya, kalau bisnisnya berkaitan dengan pemerintahan, tidak mustahil terjadi praktek-praktek yang sudah kita kenal, yaitu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sehingga menghancurkan pembangunan ekonomi di negara ini dan semakin terbentang jurang pemisah antara kaya dan miskin.

Di dunia pendidikan guru-guru yang memaksa orang tua siswanya agar mengeluarkan sejumlah uang untuk acara perpisahan kelas (entah SD kelas VI, SMP kelas IX, atau SLTA kelas XII), ketika orang tua siswa-siswanya meminta tanda bukti pembayaran dengan berbagai alasan pihak sekolah tidak akan mau mengeluarkannya, sudah bisa dipastikan jenis manusia seperti tang tergolong frase `bagaimana nanti (saja)`.  Kalau perilaku anak didik,  bahkan perilaku bangsa ini membuat Taufik Ismail Sang Penyair Angkatan `66 membuat puisi `Malu Aku Jadi Orang Indonesia` sangat-sangat wajar. Singkatnya, pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan orang yang berkompeten di bidang keilmuannya (meskipun terkadang juga bisa diragukan), tetapi tidak bermoral, tidak berakhlak. Hampir di semua bidang kehidupan manusia ada saja orang yang masih memanfaatkan praktek-praktek ilegal dengan selalu menggunakan frase `bagaimana nanti (saja)`. Ternyata, frase `bagaimana nanti (saja)` tidak memberikan manfaat. Justru yang terjadi kebalikannya, yaitu lebih banyak mudharatnya. Apakah masih layak kita menggunakan frase jenis ini?

/c/
Frase `nanti bagaimana` jelas berbeda dengan `bagaimana nanti (saja)`. Frase `nanti bagaimana` merupakan kebalikan dari `bagaimana nanti`. Bukan hanya kebalikan dari posisi kata `bagaimana` dan `nanti` yang berbeda penempatannya, tetapi juga pola cara berpikirnya juga jelas berbeda. Kalau `bagaimana nanti (saja)` cenderung orang yang menggunakannya berpikiran pragmatis, spekulatif, dan tidak mau mengambil resiko, dan (bahkan) tidak memiliki tanggung jawab, dalam `nanti bagaimana` orang yang menggunakannya adalah orang yang pasti punya penuh perhitungan. Orang yang menggunakannya bukan orang yang ragu-ragu atau plin-plan. Bisa juga orang jenis ini adalah orang yang punya orientasi sehingga tidak ada keinginan di hatinya untuk berubah orientasi (disorientasi). Orang jenis ini adalah orang yang bisa membuat prediksi atau bisa juga mengaitkan antara sebab dan akibat. Karena tahu setiap kali berbuat (yang menjadi sebab) akan berbuah kebaikan atau keburukan, orang seperti ini adalah orang yang sudah memperhitungkan segala hal yang dilakukannya jauh-jauh hari agar tidak terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.

Alangkah indahnya hidup ini jika banyak orang yang bisa mencari akar permasalahan sebuah kejadian dengan menemukan faktor-faktor penyebabnya. Karena menemukan faktor-faktor penyebab, orang seperti ini tidak akan mengulang pekerjaan yang sama agar tidak terjadi lagi ekses-ekses negatif yang pernah dia atau orang banyak lainnya mengalaminya. Dia juga bisa memprediksikan setiap hal yang diucapkannya atau yang diperbuatnya pasti akan memberikan dampak baik positif maupun negatif. Dia akan melakukan perencanaan secara matang segala hal yang akan dilakukannya sehingga diprediksikan tidak akan menimbulkan gejolak. Seandainya memang terjadi gejolak, dia bisa mengatasinya karena dia telah mempelajari ada  banyak hal yang mungkin di luar perhitungannya. Sekali lagi siapapun orangnya, entah dia seorang pemimpin  besar (presiden, gubernur, walikota/bupati) atau pemimpin kecil (kepala rumah tangga walaupun juga sebenarnya tergolong yang tidak mudah mengurus rumah tangga) kalau memang dalam melakukan pekerjaan selalu dimulai dengan niat yang baik, kemudian diteruskan dengan perencanaan yang matang, pasti orang seperti ini akan melakukan sebuah pertanyaan `nanti bagaimana?`.  Jenis pemimpin seperti ini Insya Allah bisa mewujudkan banyak pekerjaan yang sedikit memberikan ekses negatif karena selalu saja di benaknya digelayuti dengan pertanyaan `nanti bagaimana?`.

/d/
Sebaiknya, memang kita harus menyingkirkan frase `bagaimana nanti (saja)` karena frase jenis ini mencerminkan masyarakat (bahkan) bangsa yang berpikiran pragmatis, spekulatif, tidak mau mengambil resiko,  dan tidak memiliki tanggung jawab. Untuk itu, sebaliknya, kita harus secara tegas membiasakan untuk menggunakan frase `nanti bagaimana`. Frase `nanti bagaimana` harus selalu muncul di benak kita ketika kita akan memulai suatu pekerjaan atau mengambil keputusan.  Semoga saja kita mau mengubah paradigma kita yang terlanjur salah dalam berbahasa sehingga mau menggantikan frase `bagaimana nanti (saja)` dengan `nanti bagaimana`. Wallahu a`lam bissawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...