Menjauh dari Kenyataan Hidup
Subagio S.Waluyo
Apa respons kita kalau John Lennon, sang maestro musik legendaris sampai abad 21 ini, menulis di Imagine seperti ini.
Imagine there's no Heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one
John Lennon lewat lirik di atas mencoba menstimulus kita agar kita memberikan respons. Respons kita mungkin seperti ini: “Kurang ajar John Lennon, berani-beraninya mengajari kita kalau gak ada surga, gak ada neraka, gak ada negara, gak ada agama, gak ada kepemililkan, dan gak ada ketamakan serta kelaparan sehingga dijamin kehidupan akan damai karena kita bersaudara.” Tapi, bagaimana kenyataan dunia hari ini? Bukankah memang sekarang ini terjadi kehidupan yang serba keras? Coba saja kita lihat peperangan di beberapa negara terjadi. Orang saling membunuh, saling menghabisi. Nyawa orang begitu murahnya. Harga diri manusia direndahkan. HAM yang dijunjung tinggi sudah dilecehkan. Konstitusi sudah dibuang ke tong sampah. Jadi, kita harus bisa menerima lirik lagu Imagine di atas yang ditulis John Lennon di awal tahun `70-an itu yang sekarang telah dipraktekkan oleh sebagian manusia bahkan negara untuk meremehkan keberadaan agama plus surga dan neraka. Kalau begitu, kita juga mutlak harus menerima kenyataan bahwa pada akhirnya apa arti kehadiran sebuah negara kalau negara ternyata tidak berperan dalam menjaga harkat hidup orang banyak (rakyat, bangsa) karena keadilan tidak ditegakkan. Bukankah Lennon juga sudah memastikan bahwa nanti kita juga setuju sebagaimana katanya:
You may say that I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one
Masih berkaitan dengan lirik lagu di atas, coba kita simak petikan dari cerita pendek (cerpen) “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (Kuntowidjojo) berikut ini.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Hilir-mudik kendaraan. Orang berjalan ke sana-ke mari memburu waktu. Pabrik-pabrik berdentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikur dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Adakah kesamaan bait-bait dari Imagine (John Lennon) di atas dengan kutipan dari cerpen Kuntowidjojo? Kedua-duanya sama-sama mengajak kita untuk berimajinasi bahwa hidup harus penuh dengan kedamaian dan ketenangan jiwa plus keteguhan batin. Kalau John Lennon mengajak kita untuk menjauhi atau setidak-tidaknya untuk tidak mempercayai adanya surga, neraka, negara, agama, kepemilikan, ketamakan, dan kelaparan, Kuntowidjojo mengajak kita untuk menjauhi hidup yang penuh hiruk-pikuk. Hidup yang penuh penipuan. Hidup yang penuh perebutan. Manusia dalam hidupnya harus memperoleh ketenangan jiwa dan keteguhan batin. Dengan demikian, baik Lennon maupun Kuntowidjojo mengajak kita untuk menjauhi kenyataan hidup karena kenyataan hidup yang dibingkai dengan agama (adanya surga dan neraka), aturan kenegaraan, dan kehidupan materi membuat manusia tidak memperoleh ketenteraman. Yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah kita bisa hidup tanpa itu semua?
Tidak ada manusia yang mengingkari bahwa dia ingin hidup tenang, tenteram, dan damai tapi juga tidak mungkin manusia menghindari dari kenyataan hidup yang memang penuh tantangan. Kita sebagai manusia sejak lahir sampai sekarang ini menghadapi dua hal yang sangat kontradiktif, yaitu kebenaran dan kebatilan; kebaikan dan keburukan; kekayaan dan kemiskinan; kemudahan dan kesusahan; dan ketenangan dan kebisingan. Mungkin masih banyak lagi butir yang menunjukkan kehidupan yang serba kontradiktif. Apakah ada manusia yang bisa menghindar dari hal-hal yang sangat kontradiktif itu? Jawabannya tidak ada manusia di dunia ini yang bisa terhindari dari kehidupan yang serba kontradiktif. Oleh karena itu, mengajak manusia berimajinasi agar menjauh dari kenyataan hidup yang memang serba kontradiktif adalah suatu cara yang salah atau kalau bisa dikatakan menyimpang. Manusia yang ingin dalam hidupnya menjauh dari kenyataan hidup adalah manusia yang sepanjang hidupnya telah terbawa arus autisme.
Autisme menurut A.Mangunhardjana (Isme-Isme dari A sampai Z, 2001:29) ialah keadaan atau pendirian hidup yang terlalu menekankan dan berpegang pada keunikan dan kekuasaan diri. Orang yang berpendirian autis cenderung dalam hidupnya hanya mengikuti gagasan pemikiran, kehendak, perasaan diri, dan berperilaku menurut enaknya sendiri. Orang yang berpendirian autis dengan demikian juga orang yang mau terlepas dari kenyataan di sekelilingnya. John Lennon lewat lirik Imagine-nya dan Kuntowidjojo lewat “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” jangan-jangan berpendirian autis atau penganut paham autisme yang ingin menularkan pemahamannya kepada umat manusia. Bukankah lirik lagu Imagine dan kutipan dari cerpen di atas sudah bisa mewakilinya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengajak kita agar menjauh dari kenyataan hidup? Semoga kita terhindar dari penyakit kejiwaan yang bernama autis. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar