Minggu, 26 Februari 2017

All You Need Is Love (28)

HOAX HASANAH

Subagio S.Waluyo

Suatu saat seseorang mem-posting sebuah tulisan dari grup WA yang selama ini dipercaya sumber tulisannya ke grup WA lainnya. Beberapa saat setelah di-posting ada salah seorang anggota grup WA yang langsung mengomentarinya `hoax` (tulisan tersebut dianggap bohong, sulit dipertanggungjawabkan isinya). Orang itu tidak kaget atau gusar (apalagi marah) kalau posting-annya dikomentari `hoax,`. Dia cukup menjawab `hoax` yang bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya: `hoax` kok bermanfaat?

Kita perlu melihat dulu hal-hal  yang berkaitan dengan hoax baik pengertiannya, asal-usulnya, dan efek dari hoax itu sendiri sebelum menjawab pertanyaan di atas. Hoax yang sekarang ini menjadi perbincangan hangat baik yang terdapat di media cetak maupun media sosial (online), menurut Wikipedia ialah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu (https://id.wikipedia.org/wiki/). Sedangkan menurut Kamus Inggris Indonesia oleh John M.Echols dan Hassan Shadilly (1997:300) adalah olok-olokan; ceritera bohong; memperdayakan.  Dengan kata lain, hoax adalah kabar palsu yang sengaja disebar untuk membuat kehebohan publik.

Hoax menurut Robert Nares (brilio.net dari WikiWand) berasal dari kata `hocus` yang berarti `menipu`. `Hocus` sendiri semula digunakan dalam permainan mantra sulap yang merupakan kependekan dari `hocus pocus`. Istilah `hoax` menjadi popular sejak pemutaran film The Hoax (2006). Film yang dibintangi  Richard Gere dan disutradarai Lasse Hallstrom yang skenarionya ditulis oleh William Wheeler ini diangkat dari sebuah buku oleh Clifford Irving dari judul yang sama, yakni The Hoax. Kepopuleran film ini menyebabkan setiap orang manakala berhadapan dengan sebuah berita atau informasi yang patut diduga memuat kebohongan (sumbernya tidak jelas dan kurang dipercaya) dengan mudahnya ikut-ikutan (latah) menyebutnya sebagai `hoax`. Sejak saat itu kata `hoax` menjadi sangat populer.

Efek samping adanya hoax paling sedikit ada empat efek (https://www. merdeka.com/teknologi/4-bahaya-mengintai-dari-kabar-hoax-di-dunia-maya). Pertama, hoax buang-buang waktu dan uang karena membaca hoax dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit baik bagi individu maupun badan usaha yang indikatornya dapat diketahui dari produktivitas yang menurun akibat kabar hoax. Kedua, hoax bisa menjadi pengalih isu. Hal itu dilakukan oleh penjahat cyber untuk memuluskan aksi ilegalnya.  Ketiga, hoax sesuai dengan pengertian di atas dijadikan sarana untuk melakukan penipuan publik. Sudah banyak korban dari para pelaku penjahat cyber ketika mereka melakukan penipuan publik di dunia maya. Tujuannya sudah jelas agar kerja-kerja mereka yang terbilang kotor dan penuh kenistaan dapat berjalan lancar.  Keempat, berkaitan dengan butir ketiga di atas, hoax jelas-jelas bisa menjadi pemicu kepanikan publik. Artinya, kalau publik sudah banyak yang tertipu, tentu saja akan muncul kepanikan publik. Justru inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penjahat cyber untuk memenuhi hasratnya, entah itu hasrat kekayaan, seksual, atau kekuasaan.    

Kembali pada uraian di awal tulisan, seseorang yang postingannya dianggap hoax yang ditanggapi dengan dingin-dingin saja bahkan dia balas dengan hoax yang bermanfaat, boleh juga hoax hasanah, karena isi postingannya menurutnya tidak memberikan efek negatif. Dia tunjukkan butir-butir postingannya yang menurutnya bermanfaat bagi si pembaca sebagaimana terlihat pada potongan postingan di bawah ini.
“…penyebab utama kerusakan hati adalah tidur terlalu malam&bangun terlalu siang”
Insya Allah banyak orang yang setuju dengan pernyataan di atas karena memang orang yang tidur terlalu  malam kalau dia bangun pagi kondisi fisiknya tidak sesegar orang yang tidur cepat dan bangun di pagi hari. Orang yang tidur cepat (tidur sore-sore) dia bisa bangun sebelum subuh. Buat seorang Muslim dia masih sempat sholat tahajud diteruskan dengan sholat subuh kondisi fisik terlihat sehat. Kondisi hatinya juga, Insya Allah, sehat sehingga dia bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan penuh keceriaan. Bagaimana dengan  orang yang tidur terlalu malam? Mana mungkin dia bisa bangun cepat? Kalau dia bangun cepat, bisa dijamin kepalanya akan pening karena kurang tidur. Kalau di pagi hari sudah diawali dengan kepala yang pening, bagaimana dia bisa melakukan aktivitas hariannya? Agar terlihat fit dan penuh vitalitas, dia akan mengkonsumsi obat-obat penguat atau suplemen. Tetapi, semua yang dia masukkan ke dalam tubuhnya tidak akan menyehatkan. Suatu saat dia akan ambruk karena tubuhnya telah diracuni oleh berbagai suplemen yang tidak menyehatkan.

Pernyataan berikut yang juga patut diapresiasi adalah berikut ini.
“Jangan makan makanan berat setelah jam 18.00 malam”
“Minum lebih banyak air putih di pagi hari, malam lebih sedikit.”
“Jam tidur yang paling baik jam 22.00 malam sampai jam 03.00 pagi.”
“Jangan terlalu cepat berbaring setelah minum obat.”
Memang, ada beberapa kutipan berikut  ini yang tampaknya perlu penelitian lebih lanjut.
“Begadang&bangun terlalu siang mengacaukan metabolisme tubuh”
 “Selain itu dari tengah malam s.d. Pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.”
“Jawablah telpon menggunakan telinga sebelah kiri.”
“Ketika baterai ponsel tinggal satu jangan angkat telpon karena radiasi meningkat hingga 100 kali.”
Pertanyaannya, apakah kutipan-kutipan di atas yang dianggap hoax jika dikaitkan dengan efek negatif dari adanya hoax di antaranya memberikan pengaruh pada kepanikan publik? Apakah kutipan-kutipan di atas bisa ditengarai sebagai salah satu cara pengalihan isu? Apakah ada hasrat tertentu dari penulis postingan itu dengan menulis seperti kutipan-kutipan di atas? Kalau memang jawabannya negatif, postingan yang dianggap hoax karena unsur manfaatnya lebih banyak dari unsur mudhoratnya bisa dianggap hoax hasanah.

Memang harus diakui semua tulisan yang tidak jelas sumbernya wajib hukumnya untuk diteliti dengan cermat agar siapapun orangnya terhindar dari menyebarkan hoax. Tetapi, sepanjang tulisan tersebut ada manfaatnya bagi orang yang membacanya dan tidak ada indikasi menimbulkan kepanikan tidak ada salahnya untuk dikonsumsi sendiri. Artinya, tidak perlu disebarluaskan lagi. Meskipun demikian, siapapun orangnya ketika memposting sebuah tulisan, kalau di dalamnya memuat sebuah atau beberapa pernyataan tetap harus menyebutkan sumbernya agar terhindar dari hoax. Sudah saatnya semua orang yang memposting tulisan untuk membiasakan diri bersikap ilmiah. Salah satu sikap ilmiah yang perlu ditunjukkan adalah tidak ada lagi keraguan untuk mencantumkan sumber tulisan walaupun mengutip hanya satu kata/frase. Selain itu, hindari sikap berbohong bahwa tulisannya diangkat dari hasil penelitian para ilmuwan di sebuah/bebarapa perguruan tinggi di negara-negara maju. Mudah-mudahan semakin hari semakin banyak orang yang sadar dari perilaku buruk untuk tidak lagi membuat tulisan yang diduga hoax. Sebaliknya, makin banyak orang yang menegakkan kejujuran dalam mempertanggungjawabkan tulisannya sehingga dunia akademis yang mengedepankan kejujuran bisa diwujudkan. Wallahu a`lam bissawab.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...