HOAX
HASANAH
Subagio
S.Waluyo
Suatu saat seseorang mem-posting sebuah tulisan dari grup WA yang selama ini dipercaya
sumber tulisannya ke grup WA lainnya. Beberapa saat setelah di-posting ada salah seorang anggota grup
WA yang langsung mengomentarinya `hoax`
(tulisan tersebut dianggap bohong, sulit dipertanggungjawabkan isinya). Orang
itu tidak kaget atau gusar (apalagi marah) kalau posting-annya dikomentari `hoax,`.
Dia cukup menjawab `hoax` yang
bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya: `hoax`
kok bermanfaat?
Kita perlu melihat dulu hal-hal yang berkaitan dengan hoax baik
pengertiannya, asal-usulnya, dan efek dari hoax itu sendiri sebelum menjawab
pertanyaan di atas. Hoax yang
sekarang ini menjadi perbincangan hangat baik yang terdapat di media cetak maupun
media sosial (online), menurut Wikipedia ialah usaha untuk menipu atau mengakali
pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita
palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut
adalah palsu (https://id.wikipedia.org/wiki/).
Sedangkan menurut Kamus Inggris Indonesia
oleh John M.Echols dan Hassan Shadilly (1997:300) adalah olok-olokan; ceritera
bohong; memperdayakan. Dengan kata lain,
hoax adalah kabar palsu yang sengaja
disebar untuk membuat kehebohan publik.
Hoax
menurut Robert Nares (brilio.net dari WikiWand) berasal dari kata `hocus` yang berarti `menipu`. `Hocus` sendiri semula digunakan dalam permainan mantra sulap yang
merupakan kependekan dari `hocus pocus`.
Istilah `hoax` menjadi popular sejak
pemutaran film The Hoax (2006). Film
yang dibintangi Richard Gere dan disutradarai
Lasse Hallstrom yang skenarionya ditulis oleh William Wheeler ini diangkat dari
sebuah buku oleh Clifford Irving dari judul yang sama, yakni The Hoax. Kepopuleran film ini
menyebabkan setiap orang manakala berhadapan dengan sebuah berita atau informasi
yang patut diduga memuat kebohongan (sumbernya tidak jelas dan kurang
dipercaya) dengan mudahnya ikut-ikutan (latah) menyebutnya sebagai `hoax`.
Sejak saat itu kata `hoax`
menjadi sangat populer.
Efek samping adanya hoax paling sedikit ada empat efek (https://www.
merdeka.com/teknologi/4-bahaya-mengintai-dari-kabar-hoax-di-dunia-maya).
Pertama, hoax buang-buang waktu dan
uang karena membaca hoax dapat
menimbulkan kerugian yang tidak sedikit baik bagi individu maupun badan usaha yang
indikatornya dapat diketahui dari produktivitas yang menurun akibat kabar hoax. Kedua, hoax bisa menjadi pengalih isu. Hal itu dilakukan oleh penjahat cyber untuk memuluskan aksi ilegalnya. Ketiga, hoax
sesuai dengan pengertian di atas dijadikan sarana untuk melakukan penipuan publik.
Sudah banyak korban dari para pelaku penjahat cyber ketika mereka melakukan penipuan publik di dunia maya.
Tujuannya sudah jelas agar kerja-kerja mereka yang terbilang kotor dan penuh
kenistaan dapat berjalan lancar. Keempat,
berkaitan dengan butir ketiga di atas, hoax
jelas-jelas bisa menjadi pemicu kepanikan publik. Artinya, kalau publik sudah
banyak yang tertipu, tentu saja akan muncul kepanikan publik. Justru inilah
yang ditunggu-tunggu oleh para penjahat cyber
untuk memenuhi hasratnya, entah itu hasrat kekayaan, seksual, atau kekuasaan.
Kembali pada uraian di awal tulisan, seseorang
yang postingannya dianggap hoax yang
ditanggapi dengan dingin-dingin saja bahkan dia balas dengan hoax yang bermanfaat, boleh juga hoax hasanah, karena isi postingannya
menurutnya tidak memberikan efek negatif. Dia tunjukkan butir-butir
postingannya yang menurutnya bermanfaat bagi si pembaca sebagaimana terlihat
pada potongan postingan di bawah ini.
“…penyebab utama
kerusakan hati adalah tidur terlalu malam&bangun terlalu siang”
Insya Allah banyak orang yang setuju dengan
pernyataan di atas karena memang orang yang tidur terlalu malam kalau dia bangun pagi kondisi fisiknya
tidak sesegar orang yang tidur cepat dan bangun di pagi hari. Orang yang tidur
cepat (tidur sore-sore) dia bisa bangun sebelum subuh. Buat seorang Muslim dia
masih sempat sholat tahajud diteruskan dengan sholat subuh kondisi fisik
terlihat sehat. Kondisi hatinya juga, Insya Allah, sehat sehingga dia bisa
melakukan aktivitas sehari-hari dengan penuh keceriaan. Bagaimana dengan orang yang tidur terlalu malam? Mana mungkin
dia bisa bangun cepat? Kalau dia bangun cepat, bisa dijamin kepalanya akan
pening karena kurang tidur. Kalau di pagi hari sudah diawali dengan kepala yang
pening, bagaimana dia bisa melakukan aktivitas hariannya? Agar terlihat fit dan
penuh vitalitas, dia akan mengkonsumsi obat-obat penguat atau suplemen. Tetapi,
semua yang dia masukkan ke dalam tubuhnya tidak akan menyehatkan. Suatu saat
dia akan ambruk karena tubuhnya telah diracuni oleh berbagai suplemen yang
tidak menyehatkan.
Pernyataan berikut yang juga patut diapresiasi adalah
berikut ini.
“Jangan makan makanan
berat setelah jam 18.00 malam”
“Minum lebih banyak
air putih di pagi hari, malam lebih sedikit.”
“Jam tidur yang
paling baik jam 22.00 malam sampai jam 03.00 pagi.”
“Jangan terlalu cepat
berbaring setelah minum obat.”
Memang, ada beberapa kutipan berikut ini yang tampaknya perlu penelitian lebih
lanjut.
“Begadang&bangun
terlalu siang mengacaukan metabolisme tubuh”
“Selain itu dari tengah malam s.d. Pukul 04.00
dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.”
“Jawablah telpon
menggunakan telinga sebelah kiri.”
“Ketika baterai
ponsel tinggal satu jangan angkat telpon karena radiasi meningkat hingga 100
kali.”
Pertanyaannya, apakah kutipan-kutipan di atas yang
dianggap hoax jika dikaitkan dengan
efek negatif dari adanya hoax di
antaranya memberikan pengaruh pada kepanikan publik? Apakah kutipan-kutipan di
atas bisa ditengarai sebagai salah satu cara pengalihan isu? Apakah ada hasrat
tertentu dari penulis postingan itu dengan menulis seperti kutipan-kutipan di
atas? Kalau memang jawabannya negatif, postingan yang dianggap hoax karena unsur manfaatnya lebih
banyak dari unsur mudhoratnya bisa dianggap hoax
hasanah.
Memang harus diakui semua tulisan yang tidak jelas
sumbernya wajib hukumnya untuk diteliti dengan cermat agar siapapun orangnya
terhindar dari menyebarkan hoax. Tetapi,
sepanjang tulisan tersebut ada manfaatnya bagi orang yang membacanya dan tidak
ada indikasi menimbulkan kepanikan tidak ada salahnya untuk dikonsumsi sendiri.
Artinya, tidak perlu disebarluaskan lagi. Meskipun demikian, siapapun orangnya
ketika memposting sebuah tulisan, kalau di dalamnya memuat sebuah atau beberapa
pernyataan tetap harus menyebutkan sumbernya agar terhindar dari hoax. Sudah saatnya semua orang yang
memposting tulisan untuk membiasakan diri bersikap ilmiah. Salah satu sikap
ilmiah yang perlu ditunjukkan adalah tidak ada lagi keraguan untuk mencantumkan
sumber tulisan walaupun mengutip hanya satu kata/frase. Selain itu, hindari sikap
berbohong bahwa tulisannya diangkat dari hasil penelitian para ilmuwan di
sebuah/bebarapa perguruan tinggi di negara-negara maju. Mudah-mudahan semakin
hari semakin banyak orang yang sadar dari perilaku buruk untuk tidak lagi
membuat tulisan yang diduga hoax. Sebaliknya,
makin banyak orang yang menegakkan kejujuran dalam mempertanggungjawabkan
tulisannya sehingga dunia akademis yang mengedepankan kejujuran bisa diwujudkan. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar