TITIK
AWAL PERUBAHAN
Subagio
S. Waluyo
Setelah melaksanakan
ibadah Ramadhan, apa yang dirasakan saat ini? Betapa nikmatnya bukan ibadah
Ramadhan? Meskipun di awal-awal terasa berat karena yang biasanya tidak puasa
(shaum) tiba-tiba terpaksa harus shaum. Biasanya tidak pernah bangun malam
beberapa saat menjelang sholat Subuh karena harus makan sahur, terpaksa harus
dijalankan. Begitu terdengar azan Subuh bersegera berangkat sholat Subuh
berjamaah entah di musholla atau masjid walaupun biasanya sholat Subuh sering
kesiangan. Setelah itu harus menjaga hawa nafsu dari hal-hal yang membatalkan
shaum di antaranya keinginan makan dan minum. Tidak cukup di situ, juga harus
menjaga lisan, mata, telinga, dan keinginan-keinginan buruk (termasuk keinginan
berhubungan seks dengan istri atau suami). Agar benar-benar sempurna shaumnya
waktu-waktu luang diisi dengan banyak dzikir dan tilawah Qur`an.
Aktivitas selama
Ramadhan tidak berhenti sampai di situ, ternyata orang yang biasanya tidak
pernah sholat sunnah 11 atau 23 rakaat setelah sholat Isya (sholat tarawih dan
witir) terpaksa harus menjalankannya walaupun cuma sunnah. Selain itu, yang
biasanya tidak pernah atau jarang bersedekah, perlahan-lahan tangan ini mulai
tergerak untuk bersedekah walaupun hanya beberapa ratus atau ribu rupiah dari
kantongnya. Kalau di luar Ramadhan tidak pernah atau jarang berbagi, ketika Ramadhan
mengajak orang untuk berbuka puasa. Boleh juga kalau mau dituruti banyak teman,
tetangga, atau dari tempat bekerja dan dari manapun mengajak berbuka. Pendek
kata, selama bulan suci yang dinamakan Ramadhan hamba-hamba Allah yang masih
ada iman diajak disiplin dan diajak berbagi.
Hamba-hamba Allah itu
dididik untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Hamba-hamba Allah itu dididik untuk
memperbanyak amalan sunnah dari sholat tarawih, sholat dhuha, tilawah Qur`an, bersedekah,
menjamu orang berbuka puasa, dan segala amalan yang bisa menggiring sang hamba
menjadi insan yang bertaqwa. Ah… ternyata untuk menjadi taqwa itu yang semula
terasa berat dijalankan pada akhirnya menjadi nikmat dan indah. Ramadhan itu membuahkan keindahan. Keindahan
Ramadhan itu masih diteruskan dengan janji-janji Allah yang tidak kurang
nikmatnya (walaupun terasa berat) karena adanya Malam Lailatul Qadar yang lebih
baik daripada seribu bulan. Untuk bisa menggapainya sang hamba Allah harus
i`tikaf di masjid atau musholla selama sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. Ibadah
ini tampaknya tidak mudah dijalani karena banyak hamba Allah yang masih sibuk dengan
urusan duniawi. Hanya mereka sajalah yang
benar-benar terbebas dari urusan duniawi bisa menjalankannya.
Happy
ending dari ibadah Ramadhan ditunjukkan Allah dengan
cara berbagi pada sesama, yaitu mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah sesuai
dengan namanya merupakan wujud dari cara seorang hamba Allah agar benar-benar
sempurna ibadahnya harus membersihkan diriya dengan berbagi pada sesamanya.
Allah mewajibkan hambanya untuk mengeluarkan zakat fitrah tidak memberatkan
hamba-Nya. Cukup dengan 3,5 liter/2,5 kilogram beras (bahan makanan apapun yang
biasa dikonsumsi) yang harus dikeluarkan. Zakat fitrah itu disalurkan pada
hamba-hamba Allah yang tergolong dhuafa (fakir miskin) agar mereka juga bisa
merayakan I`dul Fitri sama seperti hamba-hamba Allah yang diberi kelebihan.
Ah …nikmatnya
Ramadhan. Nikmatnya cara Allah mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Yang semula
ibadah-ibadah di bulan Ramadhan terasa berat, ternyata pada akhirnya membuahkan
nikmat yang luar biasa. Hamba-hamba Allah itu bisa menjadi orang yang tekun
beribadah. Hamba-hamba Allah itu bisa menjadi orang yang berbagi pada sesama. Hamba-hamba
Allah itu bisa menjadi orang yang berakhlak mulia. Namun, yang pasti sesuai
dengan janji Allah hamba-hamba Allah itu akan terlahir sebagai bayi yang baru
lahir. Hamba-hamba Allah itu akan menjadi manusia yang bertaqwa yang siap
menunjukkan pada umat-umat lain bahwa kehadiran Islam akan membawa rahmat bagi
seluruh alam semesta. Wallahu a`alam
bissawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar