Kamis, 22 Juni 2017

Artikel Agama (33)

TITIK AWAL PERUBAHAN

Subagio S. Waluyo

Setelah melaksanakan ibadah Ramadhan, apa yang dirasakan saat ini? Betapa nikmatnya bukan ibadah Ramadhan? Meskipun di awal-awal terasa berat karena yang biasanya tidak puasa (shaum) tiba-tiba terpaksa harus shaum. Biasanya tidak pernah bangun malam beberapa saat menjelang sholat Subuh karena harus makan sahur, terpaksa harus dijalankan. Begitu terdengar azan Subuh bersegera berangkat sholat Subuh berjamaah entah di musholla atau masjid walaupun biasanya sholat Subuh sering kesiangan. Setelah itu harus menjaga hawa nafsu dari hal-hal yang membatalkan shaum di antaranya keinginan makan dan minum. Tidak cukup di situ, juga harus menjaga lisan, mata, telinga, dan keinginan-keinginan buruk (termasuk keinginan berhubungan seks dengan istri atau suami). Agar benar-benar sempurna shaumnya waktu-waktu luang diisi dengan banyak dzikir dan tilawah Qur`an.

Aktivitas selama Ramadhan tidak berhenti sampai di situ, ternyata orang yang biasanya tidak pernah sholat sunnah 11 atau 23 rakaat setelah sholat Isya (sholat tarawih dan witir) terpaksa harus menjalankannya walaupun cuma sunnah. Selain itu, yang biasanya tidak pernah atau jarang bersedekah, perlahan-lahan tangan ini mulai tergerak untuk bersedekah walaupun hanya beberapa ratus atau ribu rupiah dari kantongnya. Kalau di luar Ramadhan tidak pernah atau jarang berbagi, ketika Ramadhan mengajak orang untuk berbuka puasa. Boleh juga kalau mau dituruti banyak teman, tetangga, atau dari tempat bekerja dan dari manapun mengajak berbuka. Pendek kata, selama bulan suci yang dinamakan Ramadhan hamba-hamba Allah yang masih ada iman diajak disiplin dan diajak berbagi.
Hamba-hamba Allah itu dididik untuk menjaga diri dari hawa nafsu. Hamba-hamba Allah itu dididik untuk memperbanyak amalan sunnah dari sholat tarawih, sholat dhuha, tilawah Qur`an, bersedekah, menjamu orang berbuka puasa, dan segala amalan yang bisa menggiring sang hamba menjadi insan yang bertaqwa. Ah… ternyata untuk menjadi taqwa itu yang semula terasa berat dijalankan pada akhirnya menjadi nikmat dan indah.  Ramadhan itu membuahkan keindahan. Keindahan Ramadhan itu masih diteruskan dengan janji-janji Allah yang tidak kurang nikmatnya (walaupun terasa berat) karena adanya Malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan. Untuk bisa menggapainya sang hamba Allah harus i`tikaf di masjid atau musholla selama sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. Ibadah ini tampaknya tidak mudah dijalani karena banyak hamba Allah yang masih sibuk dengan urusan duniawi. Hanya mereka sajalah yang  benar-benar terbebas dari urusan duniawi bisa menjalankannya.
Happy ending dari ibadah Ramadhan ditunjukkan Allah dengan cara berbagi pada sesama, yaitu mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah sesuai dengan namanya merupakan wujud dari cara seorang hamba Allah agar benar-benar sempurna ibadahnya harus membersihkan diriya dengan berbagi pada sesamanya. Allah mewajibkan hambanya untuk mengeluarkan zakat fitrah tidak memberatkan hamba-Nya. Cukup dengan 3,5 liter/2,5 kilogram beras (bahan makanan apapun yang biasa dikonsumsi) yang harus dikeluarkan. Zakat fitrah itu disalurkan pada hamba-hamba Allah yang tergolong dhuafa (fakir miskin) agar mereka juga bisa merayakan I`dul Fitri sama seperti hamba-hamba Allah yang diberi kelebihan.  

Ah …nikmatnya Ramadhan. Nikmatnya cara Allah mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Yang semula ibadah-ibadah di bulan Ramadhan terasa berat, ternyata pada akhirnya membuahkan nikmat yang luar biasa. Hamba-hamba Allah itu bisa menjadi orang yang tekun beribadah. Hamba-hamba Allah itu bisa menjadi orang yang berbagi pada sesama. Hamba-hamba Allah itu bisa menjadi orang yang berakhlak mulia. Namun, yang pasti sesuai dengan janji Allah hamba-hamba Allah itu akan terlahir sebagai bayi yang baru lahir. Hamba-hamba Allah itu akan menjadi manusia yang bertaqwa yang siap menunjukkan pada umat-umat lain bahwa kehadiran Islam akan membawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Wallahu a`alam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...