Senin, 26 Juni 2017

Artikel Agama (34)

TITIK AKHIR PERUBAHAN

Subagio S.Waluyo

Ramadhan baru saja berlalu. Saatnya hamba-hamba Allah mengakhiri semua aktivitas ibadah yang begitu nikmat. Tapi, hamba-hamba Allah yang meraih ketaqwaan jangan terburu-buru karena Ramadhan mewarisi banyak hal yang perlu direnungkan. Hamba-hamba Allah yang semula jarang bahkan enggan berpuasa, begitu memasuki Ramadhan mau tidak mau juga berpuasa. Tentang di awal-awal berpuasa niatnya masih belum jelas antara terpaksa dan tidak terpaksa, tetapi dalam perjalanan ibadahnya Insya Allah telah terjadi perubahan karena ada pelurusan niat. Hamba-hamba Allah itu karena ingin meraih derajat taqwa juga melengkapi ibadah-ibadahnya dengan sholat tarawih sambil mendengar ceramah-ceramah tarawih yang mencerahkan, sholat subuh berjamaah di masjid atau mushollah, sholat-sholat sunnah lainnya, tilawah Qur`an, dzikir, bersedekah, dan menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka bagi sesama Muslim yang berpuasa. Sepuluh hari menjelang berakhirnya Ramadhan, hamba-hamba Allah itu melaksanakan i`tikaf walaupun terkadang tidak bisa penuh karena masih ada urusan duniawi yang memang tidak bisa ditinggalkan. Lagi-lagi dengan i`tikaf itu hamba-hamba Allah belajar membina hubungannya pada Sang Khalik dan dan pada sesama Muslim yang melakanakan i`tikaf. Hamba-hamba Allah itu tanpa disadari telah menyempurnakan hubungannya bukan hanya pada Allah tetapi juga pada sesama manusia.
Ibadah Ramadhan ternyata telah mengakhiri hamba-hamba Allah yang semula hubungan pada Allah demikian minimnya menjadi demikian masif dan merasakan nikmatnya beribadah. Ibadah Ramadhan juga mengakhiri hamba-hamba Allah yang semula hubungannya dengan sesama manusia cenderung individualis ternyata bisa berbagi dan merasakan nikmatnya kebersamaan. Ibadah Ramadhan semakin sempurna manakala diakhiri hamba-hamba Allah dengan menunaikan kewajiban berikutnya, yaitu mengeluarkan zakat fitrah. Jika mungkin tidak cukup di situ, bagi yang mampu hamba-hamba Allah juga mengeluarkan zakat maal (harta), shodaqoh, dan infaq yang berguna untuk kemaslahatan ummat. Di pagi hari tepat 1 Syawal dilengkapi dengan sholat iedul fitri seraya mendengarkan khotbah dari sang khatib. Setelah itu, sesuatu yang indah terjadi, sesama hamba Allah bersalaman, (kalau mungkin) berpelukan, seraya saling mendo`akan dan bermaaf-maafan. Ah, nikmatnya hidup dalam naungan Islam bisa mengakhiri sesuatu yang semula tidak dilakukan menjadi sebuah pembelajaran untuk melakukan perubahan.
Ramadhan telah mengubah hamba-hamba Allah untuk mengakhiri segala ibadah yang terasa berat menjadi ringan untuk dikerjakan. Ramadhan telah  mengubah hamba-hamba Allah untuk mengakhiri yang semula jauh dari Al-Qur`an menjadi akrab dengan Al-Qur`an. Ramadhan telah mengubah hamba-hamba Allah untuk mengakhiri sifat kikir karena menjadi hamba-hamba Allah yang dermawan. Ramadhan telah mengubah hamba-hamba Allah untuk mengakhiri tidak adanya rasa ukhuwwah menjadi hamba-hamba Allah yang mau berbagi sehingga tanpa disadari memunculkan rasa  kebersamaan pada sesama Muslim. Ramadhan telah mengubah hamba-hama Allah untuk mengakhiri perilaku yang buruk atau kurang baik menjadi hamba-hamba Allah yang sholeh dan sholehah. Ah, nikmatnya hidup dalam naungan Islam ternyata hanya melalui tarbiyah Ramadhan telah mengakhiri segala hal yang negatif dari hamba-hamba Allah menjadi positif. Hamba-hamba Allah itu telah menjadi seorang pribadi Muslim yang kaafah. Bahkan, hamba-hamba Allah itu telah memasuki Islam secara kaafah. Bukankah ini merupakan perintah Allah yang memang harus dikerjakan? Ramadhan ternyata bisa menggiring hamba-hamba Allah untuk memasuki Islam secara kaafah.

Ramadhan menjadi titik akhir sebuah perubahan ke arah perubahan yang lebih baik atau dari yang semula buruk menjadi baik. Hamba-hamba Allah semula sering membuat fitnah, berkat Ramadhan telah mengubahnya menjadi hamba-hamba Allah yang menjauhi fitnah. Hamba-hamba Allah yang sering bikin hoax, yang menjelek-jelekkan sesama agamanya, yang dengan sengaja menyebarkan Islamfobia, yang membuat orang lain tidak nyaman dengan perilakunya, dan yang asing dengan agamanya sendiri. Pendek kata, hamba-hamba Allah itu yang tadinya tergolong orang-orang munafiqun menjadi hamba-hamba Allah yang Islami. Hamba-hamba Allah itu telah bertobat dari segala perilaku buruk tersebut sehingga layak jika di awal Syawal hamba-hamba Allah itu kembali pada fitrah. Hamba-hamba Allah itu Insya Allah menjadi orang-orang yang bertaqwa. Ah, nikmatnya hidup di bawah naungan Islam. Ternyata, Ramadhan itu telah mentarbiyah hamba-hamba Allah menjadi orang-orang yang bertaqwa dan kembali pada fitrahnya yang bersih. Sangat pantas kalau Islam itu menjadi rahmatan lil alamin. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...