Minggu, 30 Juli 2017

All You Need Is Love (35)

MASYARAKAT GPD

Subagio S.Waluyo


Masyarakat atau segelintir orang dari negeri kolam susu yang termasuk EGP tidak boleh berlama-lama bercokol karena cepat atau lambat punya andil besar menenggelamkan kapal Titanic. Sudah banyak yang tahu kalau mereka itu golongan iblis berbaju manusia. Mereka itu walaupun manusia didominasi oleh keserakahan, haus kekuasaan, dan kedzoliman. Saking serakah pada kekuasaan (termasuk serakah terhadap harta) sampai-sampai mereka lupa kalau ada kewajiban untuk menolong orang-orang duafa. Bahkan, boro-boro menolong mereka malah memarginalkan orang-orang duafa. Cita-cita negeri kolam susu sebagaimana yang tercantum dalam sila kelima `Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia` bukan hanya `nyaris` tapi memang `tidak akan terwujud`.  Jadi, demi mewujudkan sila kelima itu mereka yang tergolong EGP (egois) harus diganti oleh masyarakat yang tergolong GPD.

Masyarakat GPD bukan ‘Ga Pe De` atau `tidak percaya diri` alias `rendah diri` (inferior), tetapi justeru sebaliknya, mereka masyarakat yang rendah hati. Di samping rendah hati, mereka tergolong masyarakat yang cerdas, tangkas, dan taqwa. Mereka masyarakat produk dari pendidikan karakter yang telah `mendarah daging` sehingga menjadi orang-orang yang sangat peduli pada sesamanya. Mereka kebalikan dari orang-orang EGP yang jauh (bahkan benci) dari pendidikan karakter sehingga penyakit-penyakit keserakahan, rakus kekuasaan, dan kedzoliman jauh dari mereka. Inilah yang disebut masyarakat `Gue Peduli Dunk` (GPD). Dalam bahasa ilmiahnya masyarakat seperti ini lebih mengedepankan `aksiologi` daripada orang-orang EGP yang `Not Action Talk Only` (NATO) dan yang cenderung `nyinyir` atau `omong doang` (`omdo`). Saking teguhnya orang-orang EGP yang NATO dan `omdo` sampai-sampai sebagian besar rakyat negeri kolam susu sebal jika mereka beropini.
Masyarakat GPD karena lebih mengedepankan aksi daripada NATO atau `omdo` sehingga bisa digolongkan masyarakat penganut paham `altruisme`. Kalau menurut Andrew Heywood altruisme didefinisikan sebagai kepedulian terhadap kepentingan dan kesejahteraan orang lain, didasarkan baik pada kepentingan diri yang tercerahkan maupun keyakinan terhadap rasa kemanusiaan bersama  (Ideologi Politik sebuah Pengantar, 2016:91). Dengan melihat pada definisi itu berarti masyarakat GPD juga masyarakat yang diharapkan bisa mewujudkan `Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia`.  Timbul pertanyaan, apakah selama ini belum ada atau baru sekedar wacana kalau ada keinginan kuat untuk membangun masyarakat GPD? Masyarakat GPD sejak masa penjajahan sudah ada. Mereka bangsa negeri kolam susu yang terjajah waktu itu sudah berjuang untuk membela sesama dan membebaskan negeri kolam susu dari penjajahan. Mereka-mereka ini yang masuk dalam golongan pahlawan (walaupun juga ada yang luput dari sebutan pahlawan). Mereka-mereka ini yang tidak gila publikasi atau gila pencitraan sehingga perjuangan mereka benar-benar ikhlas karena Allah. Keluarga mereka juga banyak yang tidak minta pada pemerintah negeri kolam susu agar orang tuanya yang pernah berjuang memperjuangkan negeri kolam susu mendapat tanda kehormatan atau setidaknya kuburnya dipindahkan ke makam pahlawan. Bandingkan dengan orang-orang yang saat ini berkuasa di negeri kolam susu yang cenderung narsis dan hedonis seperti terlihat pada ilustrasi berikut ini. 
Bukan hanya di masa penjajahan, di masa-masa kemerdekaan, bahkan di masa orde baru juga ada sosok orang-orang yang tergolong GPD. Adalah Mohamad Kasim Arifin, mahasiswa IPB, yang selama lima belas tahun mengabdi di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Kasim dikirim oleh fakultasnya untuk menjalani program "Pengerahan Tenaga Mahasiswa" (semacam Kuliah Kerja Nyata sekarang) selama beberapa bulan di Waimital, dengan tugas memperkenal-kan program Panca Usaha Tani. Namun yang terjadi malah ia begitu terlibat dengan pengabdiannya mengajar para petani setempat bagaimana meningkatkan hasil tanaman dan ternak mereka. Akhirnya ia lupa untuk pulang dan menyelesaikan skripsinya. Kasim menolong masyarakat desa untuk menjadi mandiri. Bersama-sama ia membuka jalan desa, membangun sawah-sawah baru, membuat irigasi, dan semua itu dilakukannya tanpa bantuan satu sen pun dari pemerintah. Masyarakat setempat sangat menghargai kesederhanaan, kedermawanan, dan tutur katanya yang lembut. Oleh masyarakat setempat, ia disapa sebagai `Antua` sebuah sebutan bagi orang yang dihormati di Maluku. Orangtuanya meminta agar Kasim segera pulang. Permintaan itu tidak dihiraukannya. Demikian pula panggilan sekolahnya, bahkan rektor IPB sekalipun, Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, tidak dipedulikannya. Panggilan ketiga sekolahnya yang disertai oleh utusan khusus Rektor IPB, yaitu sahabatnya sendiri, Saleh Widodo, akhirnya berhasil menggerakkan Kasim untuk pulang dan menerima gelar insinyur pertanian istimewa. Gelar sarjana yang diberikan bukan karena berhasil mempertahankan skripsinya dalam sebuah ujian, melainkan karena ia telah menunjukkan baktinya selama lima belas tahun tanpa pamrih dan gaji. Saking terharunya Taufiq Ismail, penyair Indonesia terkemuka yang juga teman kuliah Kasim, menghadiahinya dengan sebuah puisi yang berjudul: "Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke Almamaternya" (http://www.hutan-tersisa.org/2010/01/mengenang-m-kasim-arifin-aktivis.html ). Silakan disimak puisi di bawah ini.

SYAIR UNTUK SEORANG PETANI DARI WAIMITAL, PULAU SERAM, YANG PADA HARI INI PULANG KE ALMAMATERNYA
                                                      Taufik Ismail          
I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilometer sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-sayuran yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.
1979
          Untuk menjadi orang yang masuk ke dalam kelompok GPD tidak perlu harus menunggu sampai jadi orang kaya. Atau menjadi konglomerat. Atau menunggu kalau nanti memperoleh gelar akademis entah S1, S2, S3, atau profesor. Atau menunggu kalau nanti pensiun. Atau harus dikaitkan dengan acara tertentu sehingga kalau tidak ada acara tertentu tidak ada kepeduliaan. Siapa saja, di mana saja, kapan saja setiap orang bisa melakukan aktivitas kepedulian. Bentuk kepedulian pada sesama di masa-masa reformasi seperti yang sekarang ini terjadi di negeri kolam susu bisa beragam. Jika di masa penjajahan fokusnya pada pengusiran penjajah, di masa-masa reformasi ini bisa-bisa saja melakukan aktivitas bantuan sosial pada masyarakat duafa, penegakan keadilan, atau boleh-boleh saja pemberantasan kemiskinan, kebodohan, dan kemaksiatan (3K). Untuk bisa menegakkan pemberantasan 3 K silakan saja kalau ada organisasinya. Organisasi yang berkiprah di program 3 K juga tidak perlu sungkan-sungkan bermitra dengan pemerintah negeri kolam susu. Selain itu, sah-sah saja kalau bermitra dengan sesama organisasi masyarakat atau organisasi politik atau pihak swasta sekalipun. Meskipun demikian, jangan sampai organisasi yang bergerak dalam pemberantasan 3 K itu ditunggangi oleh pihak-pihak yang punya kepentingan. Organisasi itu harus benar-benar independen.        
   Untuk mewujudkan masyarakat GPD memang suatu pekerjaan berat. Meskipun demikian, setiap anak bangsa di negeri kolam susu ini harus punya tekad untuk belajar dari pejuang-pejuang yang gigih memper-tahankan kemerdekaan atau pejuang-pejuang di masa orde baru seperti Kasim Arifin yang telah mengubah wajah Waimital yang semula kering kerontang menjadi tanah-tanah yang subur dan siap dinikmati hasil pertaniannya. Pendek kata masyarakat Waimital, Pulau Seram, Maluku, sejak kehadiran dan keterlibatan Kasim Arifin di tempat itu terselamatkan dari penyakit 3 K. Anak bangsa negeri kolam susu harus banyak belajar dari orang semacam Kasim. Jadi, untuk mengubah wajah negeri kolam susu yang saat ini menjadi negeri kolam air mata dibutuhkan Kasim-Kasim yang lain. Kasim-Kasim yang tidak perlu menunggu menjadi orang kaya, orang hebat, atau orang luar biasa, tapi punya tekad ingin belajar pada orang-orang hebat seperti Kasim. Kalau pada saatnya nanti menjadi Kasim, orang-orang itu akan mengubah sebagian besar anak bangsa menjadi anak bangsa yang luar biasa. Mereka menjadi luar biasa karena telah tersejahterakan. Artinya, mereka bukan lagi masyarakat miskin (walaupun kemiskinan di dunia ini tidak bisa dientaskan), bodoh, dan terdzolimi. Ini prinsip masyarakat GPD yang harus ditegakkan. Apakah itu bisa diwujudkan? Mudah-mudahan saja bisa walaupun anak bangsa yang berjiwa GPD harus berhadapan dengan segelintir anak bangsa yang masih bersemayam keserakahan, kedzoliman, dan haus kekuasaan. Do`akan saja!






1 komentar:

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...