SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (3)
Subagio S.Waluyo
(https://images.app.goo.gl/aerG1sH6uXtwWobF6)
Hidupku akan terus bergulir. Meski di Malam Tahun Baru lalu, hidupku serasa telah berakhir. Aku meratapi hubunganku yang kandas. Aku meratapi Edo yang kini terbaring di dalam tanah. Aku tak bisa menghapus kenangan ketika ia memelukku. Ia anak kecil yang tak berdaya meminta perlindungan orang tua. Meminta perlindungan terhadap ayahnya sendiri.
(dikutip dari Novel Pintu Terlarang/Sekar Ayu Asmara)
4. Disorganisasi
Keluarga
Disorganisasi bukan hanya sebatas perceraian atau suami-istri tidur
berpisah (pisah ranjang). Disorganisasi bisa saja entah istri atau suami yang
selingkuh. Dalam novel Pintu Terlarang orang
semacam Talyda memanfaatkan benar sikap Gambir, sang suami, yang memang takut
sehingga melakukan pembiaran. Gambir yang takut pada istrinya (meski ia sangat
mencintainya) sering diperlakukan kasar oleh istrinya. Sang istri jika tidak
suka pada suaminya dengan kasar mengusir suaminya agar tidak tidur sekamar
dengannya. Sebagai istri yang semestinya tunduk dan patuh pada suaminya tidak
terlihat pada sikap Talyda. Sebaliknya, justru Talyda karena suaminya di bawah
pengaruhnya memperlakukan suaminya seenak perutnya. Terbukti ketika suaminya
salah sedikit saja, ia langsung bereaksi yang membuat suaminya benar-benar
merasa bersalah. Salah satu perilaku yang diperlihatkan di sini ketika ia
dengan kasar mengusir suaminya dari
kamar tidurnya. Tidak cukup sampai di situ, pada saat benar-benar marah pada
suaminya, dia menenggak habis anggur yang diminumnya. Inilah salah satu dari
disorganisasi keluarga. Tidak harus hidup berpisah atau cerai, cukup salah
seorang (entah suami atau istri) sangat berkuasa dia bisa melakukan apa saja, yaitu menyakiti pasangan
hidupnya dengan perilaku kasar seperti yang diperlihatkan Talyda pada suaminya:
Gambir.
Belahan
nyawanya benci melihat dirinya memakai
lingerie warna merah. Pakaian dalam
warna merah terkait image perempuan nakal. Mungkin belahan nyawanya punya
pengalaman demikian di masa lalu. Biasanya ia menurut. Tapi malam ini, ia
tidak peduli.
Ia
membelai bantal di mana kepala Gambir biasa merebah. Kosong. Tidak akan ada
kepala meniduri bantal malam ini. Ia akan memberi Gambir pelajaran. Gambir
harus menanggung akibat. “Kalau memang ia cinta, Gambir tak akan pernah
melukai perasaan saya.” Ia cinta Gambir. Ia tidak akan pernah melukai perasaan Gambir.
Gambir
membuka pintu memasuki kamar tidur. Ia terkejut. Pelacur berbaju merah
mengambil alih bidadarinya. Matanya mencela. Kepala menggeleng. Batin
berbicara. “Ke mana Talyda, bidadariku? Istriku yang sempurna. Istriku
perempuan terhormat. Jawab, perempuan jalang! Ke mana istriku?” Tapi mulut
terkatup. Ia tak berani melawan murka yang masih berkecamuk di hati
bidadarinya.
Geleng
kepala Gambir mengelupas luka yang mulai sembuh. Amarah Talyda terusik
kembali. “Mau apa kamu ke sini?! Saya nggak mau kamu tidur di sini malam ini!
Kamu tidur di luar saja!”
“Maafkan
saya, saya bener-bener menyesal.”
“Saya
benci kamu! Kamu tidur di luar sana!” Talyda mengambil bantal, membidikkannya
ke belahan nyawanya. Gambir menangkap bantal, bergegas menutup pintu.
.....................................................................................................................
Bias
nyala lilin putih di tengah meja menari-nari pada wajah Talyda. Nafsu makan
hilang seketika. Gambir mengecewakan. Ia melihat ke pesanan belahan jiwanya. Spaghetti Il Mare, dihidangkan
bertumpuk saus kepiting, udang-karang, dan cumi. Aku tak sempurna tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku tak sempurna
tanpamu. Kau tak sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku.
Bersama kita sempurna.
“Kamu
kenapa nggak minta persetujuan saya dulu sih?”
Talyda
merasa belahan nyawanya mulai melantur, mulai semena-mena. Kesempurnaan mulai
terancam.
“Koh
Jimmy yang maksa. Dia itu yakin banget.” Gambir serasa menyulut sumbu mercon
di pemakaman.
“Maksudmu,
saya nggak yakin sama kamu?” Kesempurnaan mulai terancam. Harus ditindak
tegas.
“Bukannya
begitu. Koh Jimmy bilang kamu pasti setuju.” Sumbu terus memercik. Terlambat
bila dicegah.
Talyda
menenggak habis sisa anggur. Gambir laki-laki pilihannya, di antara banyak
laki-laki yang mengejarnya. Tak satu pun mampu menyaingi. Aku tak sempurna
tanpamu. Kau sempurna tanpaku. Aku belahan nyawamu. Kau belahan nyawaku.
Bersama kita sempurna. Kesempurnaan kini terancam. Belahan nyawanya mengambil
keputusan tanpa mengajak bicara lebih dahulu.
“Gambir
dengar ya. Saya ini istrimu, bukan istrinya Koh Jimmy. Kalau ada apa-apa,
kamu mesti tanya dulu sama saya.” Peringatan tegas mengatasi perilaku
menyimpang. Menyimpang, meninggalkan kesempurnaan.
Gambir
merasa restoran Antonio`s menyempit. Menyempit, menyempit, dan kian
menyempit. Menyempit hingga hanya menyisakan sudut kecil. Sudut kecil dimana
Gambir duduk tak berdaya. Dilanda marah pun bidadarinya tetap cantik.
Cintanya kepada Talyda tak terbatas.
......................................................................................................................
Kesempurnaan
bukanlah kepompong yang pasti bermetamorfosa menjadi kupu-kupu. Kesempurnaan
tidak terjadi begitu saja. Kesempurnaan haruslah diupayakan. Bellevue Suites
adalah boutique hotel di Jalan Tirtayasa di kawasan Kebayoran Baru. Moto
“Small is exclusive” tecermin dari jumlah kamar yang hanya sepuluh. Kata
“tidak bisa” tak dikenal dalam pelayanan. Semua permintaan tamu mutlak disanggupi.
Privacy dinomorsatukan. Inilah sebabnya hotel ini kemudian menjadi tempat
favorit bagi pasangan berselingkuh. Tidak akan pernah ada yang melihat, tidak akan pernah ada yang
mengetahui.
Di
kamar nomor delapan, Talyda mengenakan kembali gaun hitam rancangan Donna
Karan. Dari bibir tempat tidur, lamunan melayang ke masa lalu. Ia teringat
pertama kali mengenal seks.
..........................................................................................................................
Pandangan
dilayangkan pada tubuh telungkup di tempat tidur. Tubuh telanjang tak
bernama. Tubuh telanjang tak beralamat. Meraka tadi bertukar pandang pada
laju kecepatan seratus kilometer. Mereka bertukar senyum ketika berhenti di
lampu merah. Tubuh tak bernama mengikuti hingga ke kamar nomor delapan.
Semalaman,
mereka berdua berbagi cinta. Singa betina menaklukkan raja belantara. Beban
tak hinggap pada hati nurani Talyda. Bercinta dengan pasangan tak dikenal
menjadikan semuanya lebih mudah. Tidak akan ada yang menuntut. Tidak akan ada
yang disakiti.
.................................................................................................................
Talylda
membenci kata selingkuh. Ia marah bila perbuatannya dikategorikan sebagai
perselingkuhan. Baginya berselingkuh adalah ketika seseorang yang telah
berpasangan memberikan hati kepada orang lain. Mencintai atau jatuh cinta
kepada orang lain. Sementara, dirinya tidak demikian. Ia tetap mencintai
Gambir. Cintanya tetap milik Gambir seorang.
Petualangan
badaniah dengan laki-laki lain hanyalah upaya meyakinkan dirinya bahwa Gambir
suami paling tepat. Suami yang sempurna. Petualangan memperkuat cinta kepada
belahan nyawanya. Semua yang dilakukan sifatnya hanya fisik belaka. Boleh
secara fisik ia dicicipi banyak orang, tapi cintanya tetap milik Gambir
seorang.
Tangannya
mencemplungkan korek api ke dalam stoples. Stoples sudah tiga perempat terisi
berbagai macam korek api. Ia memiliki kebiasaan baru, mengoleksi korek api
dari hotel-hotel di mana ia menginap. Setiap petualangan ditandai bukti satu
korek baru.
Dikutip
dari Novel Pintu Terlarang/Sekar
Ayu Asmara
|
Beginikah gambaran kehidupan rumah tangga zaman kiwari? Sampai-sampai
sebuah pengkhianatan seorang istri yang melakukan perzinahan dengan laki-laki
hidung belang kalau tidak ada unsur rasa cinta bukan perselingkuhan? Sepertinya
ada pergeseran makna tentang perselingkuhan. Apakah ini sebuah pertanda bahwa
di negara ini orang semakin permisif karena tuntutan kehidupan global dan
modern memang seperti itu. Atau boleh juga orang dengan sengaja mengalihkan
kata `perselingkuhan` yang semula sebagai pengganti `perbuatan serong` seorang
suami atau istri dalam bentuk pemuasan hasrat seksual pada orang lain yang
bukan suami atau istrinya? Bagaimana foto-foto keluarga atau dalam
shooting-shoting pasangan suami istri di media-media elektronik yang
memperlihatkan seolah-olah mereka pasangan yang ideal dan berbahagia.
Kebahagiaan yang mereka perlihatkan sebenarnya kebahagiaan yang semu.
Kebahagiaan yang penuh dengan kebohongan. Kebahagiaan yang penuh kepura-puraan.
Kehidupan suami-istri seperti ini kalau masih terlihat harmonis, itu hanya
upaya pembohongan publik. Dalam bahasa yang populer, sekedar jaga imej alias
`jaim` atau pencitraan. Bukankah di negara ini bukan hanya pimpinan rakyatnya
juga terkena penyakit `jaim` alias gila pencitraan?
Sosok Talyda dalam novel Pintu Terlarang juga termasuk gila pencitraan. Ketika
Talyda dilamar Gambir, sang ibu menyampaikan kalau Gambir seorang seniman yang
kata ibunya hidupnya susah. Jawaban Talyda waktu itu demikian mantap kalau dia
mau menikah dengan Gambir lebih karena cinta. Tentang memenuhi kebutuhannya
sendiri dengan tegas dia katanya seorang pengusaha yang tergolong sukses
sehingga dijamin tidak sangat bergantung pada Gambir. Seiring dengan
berjalannya usia pernikahan, tampak warna sifat aslinya ketika dia dengan
bengisnya mengusir Gambir yang terlihat
pada kutipan di atas. Memang, Talyda tergolong orang yang cerdas, pengusaha
yang berhasil meneruskan usaha orang tuanya. Bahkan, saking berhasilnya
mengelola perusahaan, perusahaannya termasuk di antara sepuluh perusahaan
terbaik di negara ini. Meskipun demikian, dia juga harus menyadari bahwa
keberadaannya sebagai istri biar bagaimanapun tetap harus di bawah kendali
suaminya. Bukan malah sebaliknya, Gambir di bawah kekuasaannya sehingga dengan
seenaknya saja dia memperlakukan
suaminya. Yang lebih menyakitkan lagi, Talyda berselingkuh dengan sekian banyak
laki-laki.
Kalau ada pepatah yang mengatakan `sepandai-pandainya tupai melompat
akhirnya jatuh juga`, masalah perselingkuhan Talyda dengan beberapa laki-laki
(termasuk dengan teman-teman suaminya dan yang lebih gila lagi dengan adik
iparnya sendiri) akhirnya ketahuan juga oleh Gambir. Semua itu berawal dari
kecerobohan istrinya yang meninggalkan memo di samping telpon. Gambir membaca
memo yang tertinggal itu. Di situ jelas-jelas sekali disebutkan tempat
pertemuan istrinya dengan seseorang ketika sebelumnya dia mendengar percakapan
istrinya (menurut pengakuan istrinya telpon dari ibu mertuanya). Kebohongan
yang tersimpan selama ini terbongkar. Gambir bertindak cepat. Dia menuju tempat
yang tertulis di memo itu. Sesampainya di tempat itu dia tunggu di dekat pintu
lift. Begitu istrinya ke luar dia tidak segera menyapanya. Dia membiarkan istrinya
berlalu. Dia justru mengambil korek api dan memasukkannya ke saku celananya. Dia
takut menghadapi sebuah kenyataan. Kenyataan yang ada di hadapan matanya dengan
jelas memberikan isyarat kalau istrinya telah selingkuh.
Ia
mengangkat gagang telpon. Matanya tiba-tiba melihat coretan memo istrinya
yang tertinggal di samping telpon. Dalam keterburu-buruan dan kegugupannya,
rupayanya Talyda telah lupa untuk membawa kertas memo itu. Ia membaca tulisan
tangan bidadarinya. Raut mukanya berubah. Kata-kata yang tertulis menusuk
jantungnya: ROYAL PAVILLION, ROOM 5062. Kecurigaan yang tadi sepintas
menyelinap kini menetap di dalam benak.
............................................................................................................................
Lobi
Hotel Royal Pavillion sudah sepi. Petugas front office pun sudah tak tampak.
Ia melihat ke jam tangan. Jam tiga pagi. Tentu saja, lobi ini sepi. Semua
tamu sudah berada dalam kamar masing-masing. Semua tamu telah memasuki lift,
dan naik ke kamar masing-masing. Dari sofa tempat duduknya, Gambir bisa
melihat lift. Sedari tadi ia melihat semua tamu yang keluar-masuk. Ia
mengawasi. Ia memperhatikan. Mereka tidak melilhat dirinya.
Ting.
Lift berdenting ketika sampai di lantai lobi. Pintu lift terbuka, Talyda
melangkah keluar. Gambir terkesima melihat istrinya. Belum pernah ia melihat
Talyda begitu cantik. Kecantikannya berkilau.
..............................................................................................................................
Menyapa,
jangan menyapa. Menegur, jangan menegur. Bertanya, jangan bertanya.
Pertimbangan-pertimbangan bertarung di dalam benak Gambir. Ia mengambil
sebatang rokok. Ia mengambil korek api yang tergeletak di samping asbak di
depannya. Sejenak ia mengamati korek berwarna biru dengan logo Royal
Pavillion berwarna emas yang di-emboos di atasnya. Ia menyulutkan rokok. Menyapa,
jangan menyapa. Menegur, jangan menegur. Bertanya, jangan bertanya. Hingga
Talyda berlalu pun Gambir tidak pernah sempat mengambil keputusan.
Sambil
mengembuskan asap rokok, ia memasukkan korek api ke saku celananya. Ia
takut.Ia sungguh takut menghadapi kenyataan yang telah terpapar di
depannya. Ia takut, karena kebenaran
akan terkuak. Ia belum siap menghadapi kebenaran-kebenaran yang pasti
terungkap.
(Dikutip
dari Novel Pintu Terlarang/Sekar
Ayu Asmara)
|
“Saya
punya masalah. Saya nggak bisa cerita ke siapa-siapa. Saya ngga tah lagi
siapa yang bisa dipercaya.”
Gambir
membayangkan sahabat-sahabatnya yang telah mengkhianati dirinya. Rio dan
Dandung, sahabat-sahabatnya yang hadir di pesta di rumah ini. Sahabat-sahabatnya
yang berlaku seakan tidak ada apa-apa. Seakan persahabatan mereka seperti
dulu.
“Soal
apa sih, Mas? Sepertinya penting dan
serius sekali.”
“Soal
Talyda.”
“Emangnya
istri Mas kenapa?”
Gambir
terlihat berpikir sejenak. Ia seperti masih mencari kata-kata yang tepat
untuk mengungkapkan masalah-masalah yang merisaukan hatinya.
“Saya
curiga dia lagi selingkuh.”
“Edan
kamu, Mas.” Damar terlihat kaget. “Emangnya Mas punya bukti? Jangan
sembarangan menuduh. Dia kan istrinya Mas!”
Keringat
dingin mulai menetes di wajah Gatotkaca, penguasa dirgantara.
“Saya
mengikuti dia waktu itu. Saya buntuti. Saya lihat dia keluar dari hotel.”
Gambir memberikan penekanan.
“Pagi-pagi
buta.”
Damar
melihat ke lantai, tidak berani menatap wajah kakaknya. Rasa bersalah merebak
di seluruh hatinya. Rasa berdosa merebak di seluruh pikirannya. Gatot-kaca
seperti kebingungan menebak arah angin.
“Mas
lihat cowoknya, nggak?”
Gambir
mencoba mengingat kejadian malam itu.
“Nggak
sih. Itulah, saya nggak pernah bisa membuktikan. Dia keluarnya sendiri. Kalau
memang dia meeting sama client, kan nggak mungkin keluar dari lift. Itu kan
berarti dia naik ke kamar. Apa yang dia lakukan di kamar hotel pagi-pagi
begitu?”
Sekalipun
ia merasa sangat berdosa, Damar berusaha keras untuk tidak terlihat gugup.
“Ada
cowok yang mas curigai, nggak?”
Gambir
seakan mencari dalam benaknya sebuah nama atau seraut wajah yang mungkin
mampu berselingkuh dengan istrinya. Ia tidak menemukan siapa pun.
“Nggak
ada. Sama sekali nggak kebayang siapa selingkuhannya.”
Damar
bernapas lega. Jantungnya berdegup keras. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari
dalam saku untuk meredakan ketegangannya. Ia mengambil sebatang dan
menaruhnya di sela bibir. Tangan Damar merogoh-rogoh kantong celana mencari
korek api. Gambir menawarkan korek api pada adiknya.
Pada
saat yang bersamaan Damar telah menemukan korek apinya pula. Kedua kakak-beradik
ini ternyata mengeluarkan korek api yang sama persis. Keduanya adalah korek
api dari Hotel Royal Pavillion. Hotel pada malam ketika Gambir mengikuti
dan mengintai Talyda.
Gambir
terlihat sangat terkejut melihat Gatotkaca mengeluarkan korek api yang sama.
Kecurigaan tiba-tiba terbentuk di dalam benak.
Damar
juga sangat terkejut melihat Gambir mengeluarkan korek api dari Hotel Royal
Pavillion.
Gambar
lama memandang adiknya. Gatotkaca yng perkasa di udara. Gatotkaca yang banyak
dipuja-puja wanita. Otot kawat tulang besi. Tak terkalahkan. Tak tertandingi.
Hati kecilnya telah yakin bahwa ia telah menemukan pasangan selingkuh
istrinya. Ia berusaha tidak memercayai kata hati kecilnya. Wajah Damar
terlihat agak ketakutan melihat ekspresi Gambir.
Kecurigaan
Gambir sepertinya sudah bulat, wajahnya mengeras. Ia memberanikan diri untuk
bertanya tentang kebenaran yang sesungguhnya amat ia takuti.
“Damar,
kamu ada di hotel itu bersama istri saya? Kamu bersama istri saya kemarin malam?”
Damar
menolehkan kepalanya. Ia tidak berani memandang mata kakaknya dan tidak
berani pula menyangkal tuduhannya.
..........................................................................................................................
“Ampun,
Mas... Tolong, Mas... Jangan bunuh saya... Saya...saya hanya disuruh
sama...Ibu...”
Kemarahan
Gambir sampai di puncaknya. Ia memakukan belati tepat ke jantung Damar. Dan adiknya
pun terkulai tak bernyawa. Mata Gambir kian merah menahan amarah. Gambir
bangkit sambil menendang jasad adiknya dengan kesal. Kata-kata terakhir
adiknya mengiang terus di telinga. Bagaimana mungkin ibunya menyuruh adiknya
untuk berselingkuh dengan Talyda? Bagaimana mungkin?
.......................................................................................................................
“Kamu
pikir istri kamu hanya selingkuh dengan Damar saja?Tanya sama sahabat-sahabat
kamu. Tnya sana, sama Rion dan Dandung. Mereka semua juga telah meniduri
istri kamu.”
.........................................................................................................................
Semua...
Ibu yang suruh. Talyda menantu Ibu yang baik. Ia menurut sama Ibu.
(Dikutip
dari Novel Pintu Terlarang/Sekar
Ayu Asmara)
|
Kisah yang menyisakan peristiwa tragis sepeti dalam novel Pintu Terlarang itu memang hanya kisah fiktif.
Tapi, dari kisah itu kita bisa mengambil pelajaran betapa pentingnya sebuah
keluarga memperhatikan kehidupan keluarga yang harmonis. Keluarga yang bersih
dari perilaku menyimpang. Keluarga yang bersih dari perilaku hedonis. Talyda
dalam novel Pintu Terlarang jelas
seorang yang memang sejak gadisnya adalah anak yang terbiasa hidup menyimpang, serba
permisif, konsumtif, dan hedonis. Walaupun tergolong cerdas, seorang istri
seperti Talyda telah menciptakan neraka di rumahnya. Ia tidak berhasil
mewujudkan kebahagiaan. Kalau ada kebahagiaan, itu adalah kebahagiaan palsu, penuh dengan
kepura-puraan. Perilaku orang tua Gambir yang sejak kecil telah memperlakukan
Gambir sebagai anak pembawa sial, jelas juga sebuah perilaku menyimpang. Kalau
suatu saat orang semacam Gambir bisa
menghabisi nyawa orang-orang yang telah menyakitinya, wajar-wajar saja
walapun tindakan itu jelas-jelas merupakan perbuatan yang didorong oleh hawa
nafsu. Boleh juga itu lebih merupakan perbuatan orang yang telah kerasukan
setan. Agar tidak terjadi lagi kasus seperti yang terdapat dalam kisah di novel
Pintu Terlarang itu, setiap orang harus
memperhatikan bahwa dalam berkeluarga tidak cukup hanya berdasarkan pada faktor
kecantikan/ketampanan, kekayaan, atau keintelektualan, tapi juga dibutuhkan nilai-nilai
agama. Bahkan nilai-nilai agama harus mendominasi kehidupan keluarga.
Diharapkan dengan nilai-nilai agama yang mendominasi kehidupan keluarga,
harapan setiap orang untuk mewujudkan keluarga bahagia, baik di dunia maupun di
akhirat kelak akan bisa terwujud.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar