SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (4)
Subagio S. Waluyo
((https://images.app.goo.gl/KYhiF6RaC6RkMZj97)
Aku
terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor.
Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Mae dan Agam, abang dan adikku.
Ketika
pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Mae! Beberapa
orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa
tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus
berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.
“Ini
pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia
seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak
lama!”
(Dikutip dari Cerpen "Jaring-Jaring Merah"/Helvy Tiana Rosa)
Pelanggaran HAM memang menjadi salah satu sumber inspirasi bagi
sastrawan. Tetapi, jangan disalahartikan sastrawan menghendaki adanya
pelanggaran HAM karena sastrawan justru penentang utama segala macam bentuk
ketidakadilan. Bahkan, kalau boleh dikatakan, sastrawan merupakan pejuang
penegak keadilan yang konsekuen dan konsisten. Coba saja simak puisi-puisi
Taufik Ismail yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Belum
lagi penyair-penyair lain seperti Ikranegara, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum
Bachri, dan Sapardi Djoko Damono yang mereka juga tidak henti-hentinya
menyuarakan hati nuraninya. Pendek kata, hampir semua sastrawan adalah
orang-orang yang menyuarakan manusia dan kemanusiaan karena misi utama sebuah
karya sastra adalah memanusiakan manusia.
Bertitik tolak dari penegakan HAM-lah banyak sastrawan yang menjadikan
tema tersebut sebagai sumber inspirasi meskipun penegakan HAM melalui sastra
hampir sia-sia saja hasilnya. Kita bisa mengatakan demikian karena demikian
sedikitnya orang yang menikmati karya-karya sastra ketimbang acara-acara
sinetron, kuis, musik, dan berbagai acara hiburan lainnya di layar elektronika
di rumah kita. Kita lebih mudah terbius oleh acara-acara sinetron yang hanya
menampilkan kepiawaian tokoh-tokoh selibritis idola kita sementara itu dunia
realita kita semakin jauh dari yang sebenarnya. Sebaliknya, karya sastra
menampilkan hal lain. Dunia sastra mengajak dan mengajar kita pada kebenaran
dan keadilan yang sesungguhnya. Sastrawan sebagai penulis karya-karya sastra
mengajak dan mengajar kita untuk merenungkan makna-makna kehidupan yang
termasuk ke dalamnya makna-makna penegakan HAM.
Jauh sebelum memasuki masa reformasi, beberapa tahun menjelang lengsernya
Soeharto, beberapa penyair Muslim menulis puisi-puisi yang berisikan protes
terhadap pelanggaran HAM di Bosnia. Tidak kurang seorang kiai NU yang cukup
dikenal, KH A.Mustofa Bisri, menulis puisi seperti terlihat di bawah ini.
Bosnia
adalah
Bosnia
adalah wajah kita yang kusut
Bosnia
adalah keangkuhan dan ketidakberdayaan kita
Bosnia
adalah kita yang terkoyak-koyak
Bosnia
adalah kepanikan manusia menghadapi diri sendiri
(Airmata
dan darah tertumpah atau tidak
Raung
atau erang yang terdengar
Atau
justru hanya senyum yang sunyi
Tragedi
manusia adalah saat
Kemanusiaannya
lepas entah kemana)
Atau
barangkali Bosnia
Adalah
dunia kita yang mulai
Sekarat
(Rembang,
1992)
|
Siapa yang tidak tahu peristiwa genocide di Bosnia di penghujung akhir
abad XX? Peristiwa pembantaian manusia yang dilakukan dengan biadab. Kalau
Mustofa Bisri melihat peristiwa Bosnia sebagai lambang ketidakberdayaan umat
manusia yang melihat pelanggaran di depan mata secara keji, selain itu juga
merupakan tragedi kemanusiaan yang menandakan dunia kita yang semakin sekarat,
Prasanti menambahkan bukti ketidakberdayaan umat manusia sehingga pihak Barat
justru yang sebenarnya melakukan pembiaran terhadap peristiwa di Bosnia itu.
Bahkan, pihak Barat dengan seenak perutnya menggunakan lembaga-lembaga
internasional untuk mengusir orang-orang Bosnia yang tertindas.
……………………………
di
The New York Review, 27 Agustus 1992, William Pfaff
menulis:
Menolong
warga yang terperangkap
tanpa
menghentikan pengepungan itu sendiri
sama
halnya dengan menolong korban hari ini
untuk
biarkan mati esok hari
Mengevakuasi
warga sipil dan tawanan
dari
wilayah yang terkena “pembersihan etnis”
sama
saja dengan membantu Serbia mengusir orang Bosnia
atas
biaya dunia Internasional
Pendek
kata, pemerintah Barat hanya berusaha
mencari
jalan
untuk
memuaskan opini masyarakat yang berang
sambil
menghindari isu-isu serius dalam krisis ini.
Paris,
London, dan Washington
bukan
berusaha mencegah dan menyetop agresi,
melainkan
mencari jalan untuk menyelamatkan muka sendiri
(Majalah
Tempo, 17 Oktober 1992)
Melihat
perilaku Barat yang seperti itu, sangat layak kalau seorang penyair besar
seperti Taufik Ismail mengirimkan ludahnya lewat amplop putih:
………………………………
Karena
tak terbayang uang dan tiada minyak bumi
Kalian
kirim pasukan asal‑asalan
saja kini
Padahal
inilah negeri yang kecil dan tak berdaya
Si
alit yang lemah Bosnia‑Herzegovin
Telah
dibantai di sana berpuluh ribu manusia tanpa
Senjata
Beribu
perempuan digilas kehormatan utamanya
Beratus
kanak‑kanak dipotongi tangan dan kakinya
Beribu
orang jadi kerangka berkulit dikamp konsentrasi
Beratus
ribu diusir, mengungsi, terancam dingin dan
mati
Tak
kudengar kalian dengan penuh semangat melindungi
Mereka
Bersama
surat ini kukirimkan ludahku padamu
Dipinggir
amplop berwarna putih bersih
Yang
kutulis dengan hati yang sangat pedih
(1992)
|
Berbicara tentang pembantaian manusia atau pelecehan HAM bukan hanya di
Bosnia, di negara kita (Indonesia) pun sampai dengan memasuki masa-masa
reformasi masih terjadi peristiwa serupa yang dikenal di masa orde baru Daerah
Operasi Militer (DOM). DOM diberlakukan di Aceh (sekarang Nanggaroe Aceh
Darussalam/NAD). DOM memakan korban sangat besar. Bukan saja terjadi pembunuhan
tetapi juga perusakan moral bahkan perusakan keturunan karena banyak yang
menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan pihak militer. Adalah Helvy Tiana
Rosa yang merekam peristiwa mengenaskan sehubungan dengan terjadinya
pelanggaran HAM di masa berlangsungnya DOM di NAD di masa orde baru dan di
awal-awal masa Reformasi. Berikut petikan cerpennya “Jaring-Jaring Merah” yang
merupakan cerpen terbaik Majalah Sastra Horison selama kurun waktu tahun 1990 –
2000.
……………………………………………………………………………………….
“Keluar,
Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!”
Aku
terbangun dan mengucek kedua mataku. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor.
Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Mae dan Agam, abang dan adikku.
Ketika
pintu dibuka, tiba-tiba saja Ayah diseret keluar, juga Agam dan Mae! Beberapa
orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak, beberapa
tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Kudengar Ayah tak putus
berdzikir. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.
“Ini
pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Kurasa ia
seorang pemimpin. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro
sejak lama!”
Warga
desa menunduk. Mereka tak mampu membela kami. Dari kejauhan kulihat api
berkobar. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah!
“Jangan
ada yang menunduk!”
Aku
gemetar mendengar bentakan itu.
“Ayo
lihat mereka. Kalian sama dengan warga Mane bekerjasama dengan GPK!” suaranya
lagi.
“Kami
bukan GPK!”suara Mae. Ulon hana teupheu sapheu!”
“Lepaskan
mereka. Kalian salah sasaran!” Ya Allah, itu suara Hamzah!
“Angkut
orang yang bicara itu!”
Aku
melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung, lalu ia diinjak-injak!
Dan diseret pergi. Airmataku menderas.
“Siapa
lagi yang mau membela?” tantang lelaki penyiksa itu pongah.
“Kami
tidak membela, mereka memang bukan orang jahat,” suara Geuchik Harun. “Pak
Zakaria hanya seorang muadzin. Jiibandum ureung biasa.” Samar-samar kulihat
kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.
Serentetan
tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun, lalu Mae abangku! Aku
histeris. Tak jauh, kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi, lalu Ayah
yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.
“Bawa
mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!”
Aku
meronta, menendang, menggigit, mencakar, hingga aku letih sendiri. Dan aku
tak ingat apa-apa lagi, saat tak lama kemudian, nyeri yang amat sangat
merejam-rejam tubuhku!
Dikutip
dari cerpen “Jaring-Jaring Merah”/Helvy tiana Rosa
|
Inong pelaku utama pada cerpen “Jaring-Jaring Merah” menjadi korban
pemerkosaan yang dilakukan oleh aparat militer. Bapaknya dituduh sebagai GPK
(Gerakan Pengacau Keamanan) yang mendukung Hasan Tiro (Tokoh Gerakan Aceh
Merdeka/GAM yang tinggal di Helsinki, Finlandia). Karena itu, keluarganya
dihabisi oleh militer. Sebelum mereka menggeledah keluarganya, mereka membakari
puluhan rumah penduduk. Mereka menghabisi kakaknya, Harun, dan ayahnya, Zakaria, dengan rentetan tembakan. Kemudian, mereka menyeretnya ke suatu tempat. Sedang
Inong sendiri diperkosa oleh mereka. Akibatnya, Inong menderita gangguan jiwa.
Inong merasa beruntung karena masih ada orang yang mengurusinya. Cut Dini,
seorang aktivis LSM, aktivis masjid, yang kembali ke kampung halamannya setelah
menyelesaikan kuliahnya di Jakarta menolongnya. Inilah salah satu contoh pelanggaran HAM di
masa DOM masih diberlakukan di Aceh.
Lesik Keti Ara atau L.K. Ara, penyair kelahiran Takengon, Aceh Tengah,
1937 menulis puisi tentang kekejaman militer di Aceh ketika DOM masih ada di
provinsi tersebut. Kita simak puisi di bawah ini.
Seureuke/L.K.
Ara
telah
kau simpan
apa
yang patut kau simpan, Seureuke
tulang
belulang dan tengkorak rakyatmu
yang
ditebas dengan ganas
oleh
senjata tajam
dan
peluru tajam
telah
kau rahasiakan
apa
yang patut kau rahasiakan, Seureuke
nama
dan asal mereka
yang
dibantai kemudian dikubur di sini
sebagai
ibu, Seureuke
engkau
simpan semua
engkau
rahasiakan semua
apa
yang terjadi atas anak-anakmu
dan
atas dirimu
engkau
simpan derita anak-anakmu
engkau
rahasiakan perih hatimu
Seureuke
yang sepi
akan
datang nanti
gerimis
berhari-hari
tak
henti-henti
menemani
air matamu
yang
menggenang di perih hatimu
1998
|
L.K. Ara merekam sebuah kejadian yang menimpa seorang ibu beserta
anak-anaknya. Di bait pertama, penyair menulis orang-orang di sekitar Seureuke
(dibacanya `Serengke` nama seorang ibu) yang menjadi korban DOM yang dengan
kejinya menebas leher-leher rakyat Aceh dengan senjata tajam dan menmbakinya
dengan peluru tajam. Semuanya diketahui Seureuke. Tapi semuanya menjadi rahasia
bagi Seureuke karena sebagai perempuan dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali
hanya menyimpannya di dalam memorinya. Dia juga merahasiakan siapa saja dan
dari mana saja asal mereka, orang-orang yang dibantai dan dikuburkan dekat
tempat tinggalnya oleh DOM.
………………………………….
telah
kau simpan
apa
yang patut kau simpan, Seureuke
tulang
belulang dan tengkorak rakyatmu
yang
ditebas dengan ganas
oleh
senjata tajam
dan
peluru tajam
telah
kau rahasiakan
apa
yang patut kau rahasiakan, Seureuke
nama
dan asal mereka
yang
dibantai kemudian dikubur di sini
|
Seureuke juga menyaksikan anak-anaknya dibunuh oleh militer. Bahkan, dia
juga merahasiakan keperihan hati yang menimpa atas dirinya. Sebagai ibu yang
tidak berdaya dia hanya merahasia dan menyimpannya meskipun semua itu
memberikan keperihan hatinya.
…………………………………….
sebagai
ibu, Seureuke
engkau
simpan semua
engkau
rahasiakan semua
apa
yang terjadi atas anak-anakmu
dan
atas dirimu
engkau
simpan derita anak-anakmu
engkau
rahasiakan perih hatimu
|
Seureuke, seorang ibu yang tidak berdaya hanya bisa menangis mengingat
kejadian yang menimpa dirinya, anak-anaknya, dan orang-orang di sekitarnya.
Derai air mata yang mengalir akan disertai dengan gerimis hujan berhari-hari
yang juga menggenangi keperihan hatinya.
……………………………………………..
Seureuke
yang sepi
akan
datang nanti
gerimis
berhari-hari
tak
henti-henti
menemani
air matamu
yang
menggenang di perih hatimu
|
Negara ini memang pada akhirnya dibanjiri air mata. Air mata yang
mengalir dari orang-orang yang tidak berdaya seperti Inong atau Seureuke.
Jutaan mata mengalirkan air mata sebagai simbol kepedihan dan keperihan hati.
Akibat, ketidakberdayaan kaum yang lemah, pada akhirnya mereka hanya menyimpan
nestapa. Mereka hanya mengubur duka lara. Meskipun demikian, satu hal yang
tidak bisa disembunyikan keperihan yang mau tidak mau akan merebak ke mana-mana
sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri menulis dalam bait puisinya “Tanah Air
Mata” berikut ini.
……………………………………
kami
coba simpan nestapa
kami
coba kuburkan duka lara
tapi
perih tak bisa sembunyi
ia
merebak ke mana-mana
|
Masalah pelanggaran HAM tampaknya masih menjadi salah satu objek bagi
para sastrawan. Bahkan, masalah ini tidak akan pernah luput dijadikan objek
mereka untuk mengungkapkan hati nuraninya. Selama dunia ini masih terjadi
pelanggaran HAM, selama itu pula mereka mengukirkan pena-pena tajamnya di atas
kertas putih dengan deraian air mata. Semua itu lebih merupakan bentuk
perlawanan terhadap kedzoliman para pelanggar HAM yang memang tidak bisa
dibalas dengan kekerasan karena kekerasan tidak pernah membuahkan kebaikan atau
kemaslahatan umat manusia. Tetapi, dengan ketajaman pena yang tidak akan
melukai fisik si pelanggar HAM justru dia akan merobek-robek hati nurani
manusia pembacanya entah itu si pelanggar HAM itu sendiri yang hatinya terbuat
dari batu atau pembaca yang masih memiliki hati nurani yang bersih. Meskipun
upaya itu tidak akan banyak membawa hasil (karena pelanggaran HAM pada waktu
yang bersamaan juga akan terus terjadi), bagi sastrawan sudah merasa cukup
kalau ungkapan kepedihan hati itu bisa dituangkan dalam kata-kata berupa puisi,
cerpen, novel, atau esai. Mereka juga sadar bahwa pelanggaran HAM sebagai
penghilangan nilai kemanusiaan pada akhirnya tidak akan bisa dilawan dengan
pena-pena tajamnya, tetapi itulah satu-satunya upaya penyelamatan nilai-nilai
kemanusiaan melalui karya sastra. Hartojo Andangdjaja pada akhirnya juga sadar
bahwa mengungkapkan sebuah kebenaran melalui tulisan ternyata bisa berbalik
pada si penulis itu sendiri. Hal itu terbukti manakala sastrawan-sastrawan
besar seperti Brecht, Voltaire, Ehrenburg, dan Pasternak seperti orang yang
berdosa ketika harus mengungkapkan kebenaran. Bahkan, Mayakowski pun harus
bunuh diri akibat ancaman yang menimpa dirinya makala mengungkapkan nilai-nilai
kemanusiaan yang telah dilanggar oleh pelanggar HAM.
1964
Di
manakah akan kuselamatkan kini
Suaraku
yang lembut bernama puisi
ketika,
seperti Brecht pernah berkata:
bicara
tentang pohon pun hamper suatu dosa
Di
manakah akan kuselamatkan kini
suaraku
yang sayup bernama puisi
ketika,
seperti kini kita derita:
bicara
tentang kebenaran adalah dosa
Maka
aku pun tahu kini
Kenapa
Voltaire dibenci
Tinggal
ia di Ferney, di bumi Swiss
jauh
dari Prancis
Aku
pun mengerti kenapa Ehrenburg lari
Pasternak
sepi sendiri
dan
Mayakowski bunuh diri
Dikutip
dari puisi “1964”/Hartojo Andangdjaja
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar