Selasa, 20 Mei 2025

All You Need Is Love (209)

 Revolusi Akhlak (4)

Subagio S.Waluyo




Melihat kondisi umat yang carut-marut baik cara atau gaya hidupnya, pandangan hidupnya, maupun perilakunya (akhlaknya) sudah saatnya umat Islam melakukan revolusi akhlak. Revolusi akhlak merupakan sebuah kemestian yang harus diprogramkan. Agar revolusi akhlak bisa berjalan efektif dan efisien harus dibuat sebuah perencanaan yang benar-benar matang. Juga diperlukan organisasi yang juga siap menjadi penanggung jawab untuk keberlangsungan jalannya program ini. Karena masalah akhlak memerlukan keteladanan (uswatun hasanah) dari sosok orang yang bisa dijadikan contoh sekaligus pemotivasi, mau tidak mau juga harus ada sosok guru (ustadz/ustadzah) yang bisa menjadi panutan dan sekaligus pemotivasi.

          Perencanaan sudah disusun dengan baik. Sudah ada organisasi yang dipercayakan untuk menjadi penanggung jawab sekaligus pengelola program. Sosok ustadz/ustadzah juga sudah disiapkan (meskipun terkadang sangat terbatas jumlahnya). Langkah berikut, yang juga perlu dilakukan sejak dari perencanaan, adalah adanya aktivitas pengawasan terhadap berjalannya program. Langkah terakhir tentu saja juga dibutuhkan evaluasi untuk melihat tingkat keberhasilan atau kegagalannya. Kalau dikatakan berhasil, apa saja indikator keberhasilannya. Kalau dikatakan ada kegagalan, perlu dicari apa yang menjadi faktor penyebab kegagalannya. Memang, dengan melihat pola kerja di atas ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bukankah musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam juga melakukan tahapan-tahapan seperti yang diuraikan di atas?

          Musuh-musuh Islam menghancurkan umat Islam dimulai dari atas, yaitu akhlak. Mereka mengalami kesulitan kalau dimulai dari aqidah. Tentu saja pilihan mereka untuk menghancurkan umat Islam dari akhlak dilakukan dengan perencanaan yang matang yang diteruskan dengan langkah-langkah berikutnya. Sampai saat ini mereka melakukan langkah-langkah yang sama. Yang membuat kita tidak habis pikir, ternyata program itu berjalan masif dan terukur. Berarti ada program pewarisan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Dengan demikian, ada kaderisasi yang berjalan dengan baik sehingga program yang dijalankan tidak pernah terhenti. Bahkan, program-program mereka selalu disinergikan dengan perkembangan zaman yang dalam hal ini sangat berkaitan dengan sains dan teknologi. Bukan itu saja, mereka juga sangat memperhatikan perkembangan sosial dan politik yang sedang terjadi di tempat yang dijadikan sasarannya.

          Musuh-musuh Islam sebagaimana dijelaskan di atas menghancurkan umat Islam dimulai dari akhlak. Kalau Islam diibaratkan sebuah bangunan, (yang di dalamnya ada fondasi, tiang-tiang, dan atapnya) musuh-musuh Islam mempreteli terlebih dahulu atap bangunannya. Bagian teratas dari bangunan Islam, yang disebut atap, adalah akhlak. Bangunan (rumah, gedung) kalau atapnya rusak (tidak ada) bagian berikutnya tinggal menunggu kerusakannya. Begitu juga dengan umat Islam, kalau akhlahknya sudah rusak, ibadah dan aqidahnya juga segera menyusul. Jadi, musuh-musuh Islam memperhatikan sekali masalah itu. Sementara umat Islam tidak memiliki cara atau program untuk menghadapi strategi musuh-musuhnya yang tidak pernah berhenti merusak umat Islam.

          Konsep Islam untuk memperbaiki akhlak umat Islam tidak dimulai dari perbaikan akhlak, tapi dimulai dari pembenahan aqidahnya. Dimulai dari pengokohan yang menjadi fondasi bangunan Islam. Secara masif untuk bisa melakukan revolusi akhlak, umat Islam ditanamkan tentang konsep makna syahadatain (dua kalimat syahadat). Di dalam diri umat Islam harus tertanam tentang kesaksian akan keberadaan Allah, kebesaran Allah, ketinggian Allah, kesucian Allah, dan kekuasaan Allah sehingga tumbuh dalam diri seseorang untuk bergantung pada Allah. Kalau sudah bergantung pada Allah sehingga memasrahkan hidupnya pada kehendak Allah, orang tersebut akan selalu merasakan adanya pengawasan Allah (taqarrub illa Allah). Orang seperti ini Insya Allah dijamin akan bersikap jujur dalam kata dan tindakan. Orang seperti ini akan ada konsistensi ucapan dengan perbuatan. Orang seperti ini tidak mau berkata-kata yang menyakitkan orang lain. Orang seperti inilah yang bisa dikategorikan orang beriman.

          Selain aqidahnya bersih, orang yang dijadikan objek revolusi akhlak juga harus melakukan ibadah sesuai tuntunan dan tuntutan syariat, yaitu harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan mengikuti tuntunan dan tuntutan syariat ia akan beribadah dengan baik (shohihul ibadah). Karena aqidahnya bersih, orang seperti ini dalam beribadah benar-benar diniatkan hanya untuk Allah. Dalam beribadah ia tidak ada perasaan untuk dilihat orang lain (riya). Dalam beribadah ia benar-benar melakukannya dengan ikhlas. Dia tidak merasa diintervensi/dipaksa orang lain untuk beribadah karena dia telah berprinsip tidak ada paksaan dalam beragama (2/256). Dia telah benar-benar menjadi ahlul ibadah.

          Sebagai pelengkap bahwa dirinya merupakan pendukung ‘rahmatan lil alamin’, dia juga harus membiasakan diri untuk tilawah Qur’an. Kalau perlu, dia juga harus menghafalnya, men-tadabur-kannya, dan mengamalkannya. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an Insya Allah diberikan ketenangan batin karena Qur’an juga merupakan sarana untuk berdzikir. Bukankah dengan berdzikir seorang Muslim akan tenang batinnya (13/28)? Selain itu, orang yang akrab dengan Al-Qur’an akan dimudahkan oleh Allah untuk menggali ilmu pengetahun karena dalam Al-Qur’an sendiri ada perintah untuk iqro’ ‘membaca’, ‘meneliti’, atau ‘mengungkap yang terselubung’. Bahkan, dalam Al-Qur’an jelas-jelas telah mengarahkan bahwa seluruh alam semesta ini ciptaan Allah sehingga seorang Muslim diharuskan meneliti atau mengkajinya seraya berdzikir pada Allah (3/190-191). Diharapkan seorang Muslim yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an, dia akan menjadi seorang beriman yang tentu saja akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT (58/11).

          Sebagai tambahan, perlu juga disampaikan di sini, agar revolusi akhlak itu benar-benar bisa menghasilkan seorang Muslim yang bersih aqidahnya, benar ibadahnya, dan baik akhlaknya dia juga harus banyak belajar mengkaji shiroh nabawiyah (sejarah kehidupan Rasulullah). Dengan mengkaji shiroh dia akan memiliki pengetahuan bahwa untuk menegakkan Islam diperlukan perjuangan yang panjang sebagaimana Rasulullah, para sahabat, dan para tabi’in (pengikutnya) mencontohkan bahwa untuk menegakkan dan mendakwahkan Islam di muka bumi ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, ekstra kesabaran, dan ke-istiqomah-an. Bukan hanya shiroh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, tetapi juga yang berkaitan dengan sejarah, sosial, politik, dan budaya Islam juga tidak kalah pentingnya untuk dipelajari. Singkatnya, revolusi akhlak menggiring s eorang Muslim diharuskan memasuki Islam secara kaafah dan dilarang mengikuti langkah-langkah setan  (2/208) karena seorang Muslim harus menjadikan Allah sebagai walinya (2/257).    

          Untuk bisa mewujudkan program revolusi akhlak salah satunya bisa melalui jalur pendidikan Islam. Penyelenggaraan sekolah-sekolah Islam yang berbasis IT (Islam Terpadu) yang dimulai dari TK sampai dengan SLTA yang telah dimulai lebih dari 30 tahun lalu di negara ini sekarang bisa dirasakan hasilnya. Memang, untuk bisa mewujudkannya membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi, hasil dari pendidikan tersebut bisa dibuktikan ketika anak-anak didik yang 30 tahun lalu bersekolah di TKIT/SDIT ternyata mereka sekarang ini banyak yang menjadi ‘orang-orang pintar’ yang berakhlak baik. Di samping melalui jalur pendidikan, bisa juga dilakukan melalui masjid atau majelis taklim. Masjid-masjid di Indonesia sekarang banyak juga yang telah ditangani secara profesional sehingga banyak berhasil membentuk masyarakat Muslim walaupun dalam lingkup wilayah yang tergolong kecil. Salah satu masjid di Indonesia yang telah berhasil menjadikan masjid sebagai pembentuk pribadi muslim adalah Masjid Jogokariyan di Jogjakarta. Masjid ini telah berhasil mengubah sebuah wilayah yang masyarakatnya semula tidak tahu menahu masalah Islam (bahkan ada sebagian yang memusuhi Islam) menjadi masyarakat yang taat beribadah, berperilaku Islami, dan memiliki kecintaan pada agamanya. Tidak aneh jika di Masjid Jogokariyan baik sholat Isya maupun subuhnya selalu dipenuhi jamaah. Seandainya, di Indonesia ada seratus masjid yang seperti ini, Insya Allah keberkahan akan selalu ada di negara ini sehingga ungkapan baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur akan benar-benar terwujud.   

          Kita harus yakin bahwa mewujudkan revolusi akhlak di negara ini akan bisa dilakukan. Kita harus yakin bahwa umat kita Insya Allah masih bisa diajak untuk melangkah ke arah yang baik, ke arah yang Allah ridhoi. Kita harus yakin bahwa kondisi umat Islam dan bangsa ini akan menjadi lebih baik dari sekarang. Kita harus punya tekad kuat melawan mindstreamyang jelas-jelas akan menghadang kita ketika berniat melakukan kebaikan. Selagi kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, merasakan terik panas matahari, dan limpahan rizki yang Allah berikan, kita harus melakukan yang terbaik, yaitu menegakkan dan melaksanakan program revolusi akhlak. Kita harus menjadi orang yang mengangkat umat ini dari lumpur kejahiliahan. Apakah kita hanya mau menjadi penonton menyaksikan saudara-saudara kita larut dalam kubangan lumpur kejahiliahan? Apakah kita juga yakin bahwa kita tidak akan terkena virus-virus kejahiliahan yang sekarang ini masih terus memakan anak bangsa ini? Kalau memang kita sadar, lakukanlah yang terbaik. Kalau bukan kita, siapa lagi?Wallahu a’alam.       

 

(selesai)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...