Kamis, 21 Agustus 2025

Bahasa dan Sastra (227)

 



Mantan Koruptor

 

Cerpen

 

Subagio S.Waluyo

 

Aku baru saja ke luar dari Sukamiskin setelah hampir lima tahun mendekam di balik jeruji besi. Aku benar-benar galau karena keluarga berantakan. Aku tidak tahu persis bagaimana keadaan anak-anak dan istriku. Satu hal yang kuketahui kedua anakku jadi korban narkoba. Sedangkan istriku telah lama meninggalkanku. Rasanya belum satu tahun aku mendekam di penjara, dia minta cerai karena mau menikah dengan mantan pacarnya. Aku benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Aku persilakan saja kalau dia mau menikah lagi dengan mantan pacarnya. Hanya ada satu anak yang lahir bukan dari rahim istriku, tapi aku selama ini menganggap sebagai anak sendiri. Anak angkat inilah yang sangat aku percaya karena aku masih melihat perilakunya yang baik, alim, dan taat beribadah.

 

Aku percayakan sepenuhnya uang simpanan di bank yang aku peroleh dari benar-benar uang halal selama aku tugas sebagai PNS di salah satu kantor kementerian di negara ini. Semua dokumenku termasuk ijazah S1, S2, dan S3 aku percayakan padanya untuk disimpannya. Kalau sewaktu-waktu aku membutuhkannya aku tinggal memintanya. Uang hasil korupsi telah diatasnamakan istriku. Bukan saja uang hasil korupsi, semua kendaraan dan rumah sekalipun telah diambil alih istriku. Aku tidak peduli dengan semua harta benda hasil korupsi yang telah diambil alih istriku. Sejak pengadilan Tipikor memvonis aku lima tahun penjara dan denda setengah milyar rupiah aku mulai menyadari kalau uang korupsi adalah uang haram bagiku. Aku bertekad tidak mau menyentuhnya dan tidak mau menitipkan pada siapapun yang bagi orang lain uang hasil korupsi itu akan bermanfaat kelak selepas dari penjara. Aku bukan jenis golongan manusia seperti itu.

 

Selama aku di penjara, jika sewaktu-waktu aku butuh uang untuk keperluan biaya hidup atau apapun termasuk di antaranya memberikan infak atau sodaqoh, aku segera minta tolong anak angkatku. Semua pengeluaran yang bersumber dari simpananku dicatat dan dilaporkan secara rutin oleh anak angkatku. Ah, aku bersyukur pada Allah masih ada orang yang punya  empati padaku. Bukan itu saja, yang membuat aku terhibur terkadang dia juga mengajak anak-anaknya. Aku menganggap mereka itu sebagai cucu-cucuku yang membahagiakanku ketika aku dalam kesedihan dan kesepian.

 

Sebagai orang yang telah berlepotan dosa dan maksiat selayaknya aku juga harus bersyukur karena selama di dalam penjara Allah mengirimkan seorang sesama napi yang aku lihat seorang alim dan berakhlak baik. Aku biasa memanggilnya `Pak Ustad`. Pak Ustad sudah dua tahun lebih dulu dari aku di Sukamiskin ini. Kasusnya sama denganku. Sebagai anggota dewan suatu saat pernah terjebak kasus korupsi. Hukumannya lebih lama dariku: sepuluh tahun. Aku banyak mendapat nasihat dan nilai-nilai agama. Darinya aku juga belajar agama lagi. Aku, Pak Ustad, dan napi-napi lainnya kerap kali bersama-sama melaksanakan salat wajib berjamaah. Bukan hanya salat wajib, salat-salat sunah juga dilakukan berjamaah. Puasa senin-kamis juga dilakukan bersama-sama. Selain itu, aku dan kawan-kawan napi lainnya juga tadarus dan tadabur Quran bersama. Jika di antara kami punya kelebihan apapun, kami biasa berbagi. Aku dan juga yang lainnya merasakan kenikmatan yang luar biasa selama di balik jeruji besi penjara Sukamiskin.

 

Tidak terasa tiba-tiba saja aku harus meninggalkan Sukamiskin. Hukuman lima tahun yang seharusnya aku jalani, karena aku dinilai selama dalam penjara berkelakuan baik, aku menjalani hukuman selama empat setengah tahun. Mendengar kabar kalau aku segera dibebaskan, aku sujud syukur. Aku sebenarnya sedih juga meninggalkan Pak Ustad dan teman-teman napi yang sudah seperti keluarga sendiri bagiku. Namun, karena sudah ada putusan kalau aku harus segera meninggalkan lapas Sukamiskin, aku minta izin pada mereka untuk pamit. Aku segera menghubungi anak angkatku. Aku minta buku tabungan dan kartu ATM yang ada padanya berikut semua dokumenku yang dititipkan padanya diserahkan padaku. Aku juga minta kalau di hari aku dibebaskan supaya dia datang dengan istri dan anak-anaknya. Mereka datang menjemputku. Aku bermalam di rumahnya. Aku menolaknya untuk tinggal bersama mereka di rumahnya. Aku hanya semalam saja bermalam. Keesokan harinya pagi-pagi sekali dengan alasan untuk ziarah ke makam orangtuaku di Purworejo aku minta diantar ke Stasiun Kiaracondong. Sebelum meninggalkan mereka, aku tunjukkan pada anak angkatku kalau aku baru saja mentransfer uang buat mereka dengan jumlah yang cukup besar. Aku juga minta kalau dari uang itu disisihkan lima juta rupiah untuk korban genosida di Gaza, Palestina. Aku masih sempat melihat ekspresi wajahnya yang menunjukkan keterkejutan. Segera aku menghiburnya kalau itu merupakan pemberian tanda terima kasihku selama aku di balik jeruji besi Sukamiskin.

***

Selama dalam perjalanan aku banyak terdiam. Pikiranku melayang-layang membayangkan masa-masa indah ketika masih berkumpul dengan anak istri, ketika aku masih belum terjerat kasus korupsi yang memaksaku masuk dalam kurungan selama empat setengah tahun. Membayangkan masa-masa indah dulu tiba-tiba saja “Yesterday” masuk ke dalam kalbuku ketika Paul Mc Cartney personil The Beatles melantunkan "Oh, I believe in yesterday". Bagian akhir dari bait pertama itu seolah-olah mengajakku kalau masa lalu itu lebih baik dari masa kini. Harus aku akui masa laluku lebih baik dari sekarang ini. Sekarang aku seperti orang yang sebatang kara. Tidak ada anak dan istri. Aku hanya punya uang tabungan yang kuperoleh selama aku bekerja sebagai PNS dulu dan rumah peninggalan orangtuaku di Purworejo. Dengan uang yang masih tersisa itu aku bertekad untuk hidup hemat. Aku juga harus cari nafkah yang kukira tidak akan mudah diperoleh mengingat masih banyak orang yang mungkin saja memandangku curiga. Maklum, aku mantan koruptor yang wajahnya pernah terpampang di media sosial dan mainstream yang membuat orang tidak akan mudah percaya padaku.

***

Siang hari kereta api yang aku naiki tiba di Stasiun Kutoarjo. Aku segera menuju ke musola stasiun untuk mengerjakan salat. Selesai salat aku segera memesan Grab Car menuju Purworejo. Aku minta diantar ke Pasar Baledono. Aku mau melakukan napak tilas. Aku masih ingat ketika sekolah di kota kecil ini dengan teman-teman sebaya sering berjalan melewati Pasar Baledono. Dari Pasar Baledono aku tidak tahu kemana kakiku melangkah. Aku terus saja berjalan sampai akhirnya menjelang sore aku tiba di Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP). Di masjid itu aku salat magrib. Selesai salat magrib aku teruskan dengan salat isya. Baru saja aku selesai melaksanakan salat isya, tiba-tiba saja ada orang yang menepuk pundakku. Aku langsung menoleh. Seseorang di belakangku memberi salam.

“Assalamualaikum”, katanya.

“Waalaikum salam”, jawabku. Aku langsung mengenalinya, ternyata teman sekantorku, Khaidir, yang lebih dulu resign.

“Lho, Pak Khaidir, bukan?”, tanyaku.

“Ya. Bapak masih ingat saya, ya?”, tanyanya.

“Ya, ingatlah”, kataku seraya kami saling berpelukan.

“Bagaimana kabarnya?”, tanya temanku.

“Alhamdulillah sehat-sehat aja. Bapak sekeluarga juga sehat, ya?”, tanyaku.

“Alhamdulillah”, katanya.

“Lho, Bapak sama seperti saya sedang mampir di masjid ini?”, tanyaku. Aku tahu temanku bukan orang Purworejo. Dia berasal dari Kebumen. Lima tahun sebelum aku diciduk KPK dia telah menyatakan keluar sebagai PNS karena tidak tahan tekanan dari atasannya untuk melakukan manipulasi data. Aku akui dia lebih berani menantang atasan. Resikonya dia diberhentikan sebagai PNS.

“Saya memang mengajar di sini. Saya selepas dari tempat kita kerja dulu langsung pulang kampung. Karena saya punya ijazah S2 dari Amerika, saya ditawari teman saya ngajar di UMP. Waktu itu saya langsung diangkat jadi dosen tetap karena memang FE UMP butuh tenaga dosen tetap”, jelasnya.

“Alhamdulillah Bapak tidak berlama-lama menganggur, ya?”, kataku.

“Ya. Saya kemudian dikasi kesempatan untuk mengambil S3 di UGM atas biaya kampus”, tambahnya.

“Baru dua tahun lalu saya selesai S3-nya”, katanya.

“Alhamdulillah, Bapak benar-benar beruntung”, kataku bangga.

“Alhamdulillah semua berkat doa Bapak sebelum saya meninggalkan tempat kerja kita dulu. Bapak masih ingat `kan kata-kata Bapak pada saya waktu itu?”, tanyanya.

“Ya, saya ingat”, kata saya.

“Sekarang bagaimana dengan Bapak?”, tanyanya.

Aku jelaskan setelah keluar dari Sukamiskin aku galau. Aku merasa tidak punya tujuan hidup lagi. Aku sendiri juga tidak tahu kemana aku harus melangkah. Aku jelaskan juga tentang istri dan anak-anakku. Aku hanya punya harapan pada anak angkatku di Bandung yang memiliki perilaku yang demikian baik, alim, dan taat pada agama. Setelah mendengar penjelasanku temanku sempat tercenung. Sesaat kemudian dia bertanya.

“Bapak S2 dan S3 bukannya dari Monash University?”, tanyanya.

“Ya, memang saya dulu S2 dan S3-nya dari Monash University. Emang kenapa?”, kataku.

“Cuma saya dulu tidak seberani Bapak yang nekad keluar dari PNS”, sambungku.

“Kalau saja saya waktu itu keluar dari PNS, nasib saya tidak seperti sekarang ini”, sesalku.

“Ya, sudahlah Pak. Itu sudah qodarullah”, katanya.

“Buat apa diingat-ingat lagi. Gak ada gunanya, Pak. Hanya membuat kita semakin sesak nantinya”, jelasnya. Setelah temanku berkata demikian sempat hening sejenak. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Namun, tak lama kemudian temanku memecahkan keheningan.

“Bapak kira-kira berminat gak kalau mengajar di sini. Maksud saya di UMP?”, tanyanya.

“Apakah pimpinan UMP ini bersedia menerima mantan koruptor seperti saya ini?”, tanyaku.

“Bukannya lebih baik mantan koruptor jadi orang saleh daripada mantan orang saleh jadi koruptor?”, tanya temanku bercanda.

Aku geli mendengar candaan temanku. Aku mengangguk mengiyakan.

“Bapak tidak usah khawatir, peristiwa yang menimpa Bapak lima tahun lalu Insya Allah lambat-laun akan hilang dari memori mereka. Bapak `kan tahu sendiri orang Indonesia itu memorinya pendek?”,  jelas temanku sambil bercanda.

“Ya. Memang benar memori orang Indonesia itu pendek. Cepat melupakan kejadian-kejadian yang menyakitkan sekalipun”, jelasku.

“Bapak yang penting tunjukkan pada mereka kalau Bapak bisa bekerja profesional. Bapak masih punya integritas. Selain itu, Bapak juga bisa buktikan kalau Bapak termasuk orang yang taat pada agama. Itu saja saran saya Pak”, kata temanku menyarankan.

“Baik kalau memang begitu”, kataku.

Mendengar tawaran temanku aku terharu. Aku sulit berkata-kata. Namun air mata kegembiraan tidak bisa terbendung, keluar dari kedua pelupuk mataku.

“Besok Bapak siapkan saja surat lamaran, curriculum vitae, dan fotokopi ijazah S1, S2, dan S3-nya, kalau pernah dapat piagam-piagam tanda penghargaan juga boleh Pak”, katanya.

“Nanti saya ajukan ke pimpinan saya”, sambungnya.

“Kita ketemu di sini aja ya?”, tanyanya.

“Ya, Insya Allah”, jawabku.

“Maaf, malam ini Bapak bermalam di mana?”, tanyanya.

“Saya orang sini asli Pak. Di sini banyak keluarga dari orangtua saya. Saya mau pulang ke rumah adik saya yang tidak jauh dari sini. Saya juga masih punya rumah warisan orang tua saya”, kataku.

“Kalau begitu nanti Bapak saya antar ke rumah adik Bapak ya?”, tawarnya.

“Terima kasih sebelumnya.”

“Sekarang kita makan malam dulu Pak sebelum saya antar Bapak pulang.”

“Baik. Sekali lagi, terima kasih atas kebaikan Bapak.”

***

Pegunungan Menoreh yang membentang dari barat ke timur termasuk deretan pegunungan terbesar di Jawa Tengah. Begitupun dengan harapanku untuk memperoleh hidup yang lebih baik, lebih besar dari Pegunungan Menoreh. Aku katakan demikian karena setelah bertemu dengan teman lamaku, aku merasa hidup kembali. Langkah kakiku tidak gontai lagi seperti beberapa saat lalu sebelum aku bertemu dengan Khaidir, temanku. Aku menyadari bekerja sebagai dosen di kota kabupaten seperti Purworejo yang orang sebut sebagai kota pensiun ini tentu saja dilihat dari segi penghasilannya tidak sebanding yang aku peroleh ketika menjadi PNS di kementerian dulu. Tapi, aku wajib bersyukur karena tidak semua orang memandangku curiga. Buktinya, mereka bisa menerima kehadiranku. Aku tidak mengalami kesulitan ketika bertemu dengan adik-adikku di kampung halaman. Rupanya banyak orang yang telah melupakan masa laluku. Aku yakin semua ini merupakan buah dari doa-doaku dan doa teman-temanku sesama napi selama di Sukamiskin. Selain itu, boleh jadi ini semua terwujud berkat infak dan sodaqoh yang selama ini tidak putus-putusnya keluar dari kantongku. Aku merasa seperti terlahir kembali, Ah, di tengah kebahagiaan ini hampir saja aku terlupa untuk menyelamatkan kedua anakku yang terjerat narkoba. Aku tidak tahu tentang perkembangan terakhir mereka. Aku bertekad harus menyelamatkan mereka sebelum ajal menjemputnya. Mungkinkah mereka masih bisa diselamatkan?

 

Kota Bekasi, 22 Agustus 2025.

       

 

 

  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...