Mantan Koruptor
Cerpen
Subagio S.Waluyo
Aku baru saja ke luar dari Sukamiskin
setelah hampir lima tahun mendekam di balik jeruji besi. Aku benar-benar galau
karena keluarga berantakan. Aku tidak tahu persis bagaimana keadaan anak-anak dan
istriku. Satu hal yang kuketahui kedua anakku jadi korban narkoba. Sedangkan istriku telah lama meninggalkanku. Rasanya belum
satu tahun aku mendekam di penjara, dia minta cerai karena mau menikah dengan
mantan pacarnya. Aku benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Aku persilakan
saja kalau dia mau menikah lagi dengan mantan pacarnya. Hanya ada satu anak
yang lahir bukan dari rahim istriku, tapi aku selama ini menganggap sebagai
anak sendiri. Anak angkat inilah yang sangat aku percaya karena aku masih melihat
perilakunya yang baik, alim, dan taat beribadah.
Aku percayakan sepenuhnya uang
simpanan di bank yang aku peroleh dari benar-benar uang halal selama aku tugas
sebagai PNS di salah satu kantor kementerian di negara ini. Semua dokumenku
termasuk ijazah S1, S2, dan S3 aku percayakan padanya untuk disimpannya. Kalau
sewaktu-waktu aku membutuhkannya aku tinggal memintanya. Uang hasil korupsi
telah diatasnamakan istriku. Bukan saja uang hasil korupsi, semua kendaraan
dan rumah sekalipun telah diambil alih istriku. Aku tidak peduli dengan semua
harta benda hasil korupsi yang telah diambil alih istriku. Sejak
pengadilan Tipikor memvonis aku lima tahun penjara dan denda setengah milyar
rupiah aku mulai menyadari kalau uang korupsi adalah uang haram bagiku. Aku bertekad
tidak mau menyentuhnya dan tidak mau menitipkan pada siapapun yang bagi orang
lain uang hasil korupsi itu akan bermanfaat kelak selepas dari penjara. Aku
bukan jenis golongan manusia seperti itu.
Selama aku di penjara, jika
sewaktu-waktu aku butuh uang untuk keperluan biaya hidup atau apapun termasuk di antaranya
memberikan infak atau sodaqoh, aku segera minta tolong anak angkatku. Semua
pengeluaran yang bersumber dari simpananku dicatat dan dilaporkan secara rutin
oleh anak angkatku. Ah, aku bersyukur pada Allah masih ada orang yang
punya empati padaku. Bukan itu saja,
yang membuat aku terhibur terkadang dia juga mengajak anak-anaknya. Aku
menganggap mereka itu sebagai cucu-cucuku yang membahagiakanku ketika aku dalam
kesedihan dan kesepian.
Sebagai orang yang telah berlepotan
dosa dan maksiat selayaknya aku juga harus bersyukur karena selama di dalam
penjara Allah mengirimkan seorang sesama napi yang aku lihat seorang alim dan
berakhlak baik. Aku biasa memanggilnya `Pak Ustad`. Pak Ustad sudah dua tahun
lebih dulu dari aku di Sukamiskin ini. Kasusnya sama denganku. Sebagai anggota
dewan suatu saat pernah terjebak kasus korupsi. Hukumannya lebih lama dariku:
sepuluh tahun. Aku banyak mendapat nasihat dan nilai-nilai agama. Darinya aku
juga belajar agama lagi. Aku, Pak Ustad, dan napi-napi lainnya kerap kali
bersama-sama melaksanakan salat wajib berjamaah. Bukan hanya salat wajib,
salat-salat sunah juga dilakukan berjamaah. Puasa senin-kamis juga dilakukan
bersama-sama. Selain itu, aku dan kawan-kawan napi lainnya juga tadarus dan
tadabur Quran bersama. Jika di antara kami punya kelebihan apapun, kami biasa
berbagi. Aku dan juga yang lainnya merasakan kenikmatan yang luar biasa selama
di balik jeruji besi penjara Sukamiskin.
Tidak terasa tiba-tiba saja aku harus
meninggalkan Sukamiskin. Hukuman lima tahun yang seharusnya aku jalani, karena
aku dinilai selama dalam penjara berkelakuan baik, aku menjalani hukuman selama
empat setengah tahun. Mendengar kabar kalau aku segera dibebaskan, aku sujud
syukur. Aku sebenarnya sedih juga meninggalkan Pak Ustad dan teman-teman napi
yang sudah seperti keluarga sendiri bagiku. Namun, karena sudah ada putusan
kalau aku harus segera meninggalkan lapas Sukamiskin, aku minta izin pada
mereka untuk pamit. Aku segera menghubungi anak angkatku. Aku minta buku
tabungan dan kartu ATM yang ada padanya berikut semua dokumenku yang dititipkan
padanya diserahkan padaku. Aku juga minta kalau di hari aku dibebaskan supaya dia datang dengan
istri dan anak-anaknya. Mereka datang menjemputku. Aku bermalam di rumahnya. Aku
menolaknya untuk tinggal bersama mereka di rumahnya. Aku hanya semalam saja
bermalam. Keesokan harinya pagi-pagi sekali dengan alasan untuk ziarah ke makam
orangtuaku di Purworejo aku minta diantar ke Stasiun Kiaracondong. Sebelum
meninggalkan mereka, aku tunjukkan pada anak angkatku kalau aku baru saja
mentransfer uang buat mereka dengan jumlah yang cukup besar. Aku juga minta
kalau dari uang itu disisihkan lima juta rupiah untuk korban genosida di Gaza,
Palestina. Aku masih sempat melihat ekspresi wajahnya yang menunjukkan
keterkejutan. Segera aku menghiburnya kalau itu merupakan pemberian tanda
terima kasihku selama aku di balik jeruji besi Sukamiskin.
***
Selama dalam perjalanan aku banyak
terdiam. Pikiranku melayang-layang membayangkan masa-masa indah ketika masih
berkumpul dengan anak istri, ketika aku masih belum terjerat kasus korupsi yang
memaksaku masuk dalam kurungan selama empat setengah tahun. Membayangkan
masa-masa indah dulu tiba-tiba saja “Yesterday” masuk ke dalam kalbuku ketika
Paul Mc Cartney personil The Beatles melantunkan "Oh, I believe in
yesterday". Bagian akhir dari bait pertama itu seolah-olah mengajakku
kalau masa lalu itu lebih baik dari masa kini. Harus aku akui masa laluku lebih
baik dari sekarang ini. Sekarang aku seperti orang yang sebatang kara. Tidak
ada anak dan istri. Aku hanya punya uang tabungan yang kuperoleh selama aku
bekerja sebagai PNS dulu dan rumah peninggalan orangtuaku di Purworejo. Dengan
uang yang masih tersisa itu aku bertekad untuk hidup hemat. Aku juga harus cari
nafkah yang kukira tidak akan mudah diperoleh mengingat masih banyak orang yang
mungkin saja memandangku curiga. Maklum, aku mantan koruptor yang wajahnya
pernah terpampang di media sosial dan mainstream yang membuat orang
tidak akan mudah percaya padaku.
***
Siang hari kereta api yang aku naiki
tiba di Stasiun Kutoarjo. Aku segera menuju ke musola stasiun untuk mengerjakan
salat. Selesai salat aku segera memesan Grab Car menuju Purworejo. Aku
minta diantar ke Pasar Baledono. Aku mau melakukan napak tilas. Aku masih ingat
ketika sekolah di kota kecil ini dengan teman-teman sebaya sering berjalan
melewati Pasar Baledono. Dari Pasar Baledono aku tidak tahu kemana kakiku
melangkah. Aku terus saja berjalan sampai akhirnya menjelang sore aku tiba di
Masjid Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP). Di masjid itu aku salat
magrib. Selesai salat magrib aku teruskan dengan salat isya. Baru saja aku
selesai melaksanakan salat isya, tiba-tiba saja ada orang yang menepuk
pundakku. Aku langsung menoleh. Seseorang di belakangku memberi salam.
“Assalamualaikum”, katanya.
“Waalaikum salam”, jawabku. Aku
langsung mengenalinya, ternyata teman sekantorku, Khaidir, yang lebih dulu resign.
“Lho, Pak Khaidir, bukan?”, tanyaku.
“Ya. Bapak masih ingat saya, ya?”,
tanyanya.
“Ya, ingatlah”, kataku seraya kami
saling berpelukan.
“Bagaimana kabarnya?”, tanya temanku.
“Alhamdulillah sehat-sehat aja. Bapak
sekeluarga juga sehat, ya?”, tanyaku.
“Alhamdulillah”, katanya.
“Lho, Bapak sama seperti saya sedang
mampir di masjid ini?”, tanyaku. Aku tahu temanku bukan orang Purworejo. Dia
berasal dari Kebumen. Lima tahun sebelum aku diciduk KPK dia telah menyatakan
keluar sebagai PNS karena tidak tahan tekanan dari atasannya untuk melakukan
manipulasi data. Aku akui dia lebih berani menantang atasan. Resikonya dia
diberhentikan sebagai PNS.
“Saya memang mengajar di sini. Saya
selepas dari tempat kita kerja dulu langsung pulang kampung. Karena saya punya
ijazah S2 dari Amerika, saya ditawari teman saya ngajar di UMP. Waktu itu saya
langsung diangkat jadi dosen tetap karena memang FE UMP butuh tenaga dosen
tetap”, jelasnya.
“Alhamdulillah Bapak tidak
berlama-lama menganggur, ya?”, kataku.
“Ya. Saya kemudian dikasi kesempatan
untuk mengambil S3 di UGM atas biaya kampus”, tambahnya.
“Baru dua tahun lalu saya selesai
S3-nya”, katanya.
“Alhamdulillah, Bapak benar-benar
beruntung”, kataku bangga.
“Alhamdulillah semua berkat doa Bapak
sebelum saya meninggalkan tempat kerja kita dulu. Bapak masih ingat `kan
kata-kata Bapak pada saya waktu itu?”, tanyanya.
“Ya, saya ingat”, kata saya.
“Sekarang bagaimana dengan Bapak?”,
tanyanya.
Aku jelaskan setelah keluar dari
Sukamiskin aku galau. Aku merasa tidak punya tujuan hidup lagi. Aku sendiri
juga tidak tahu kemana aku harus melangkah. Aku jelaskan juga tentang istri dan
anak-anakku. Aku hanya punya harapan pada anak angkatku di Bandung yang
memiliki perilaku yang demikian baik, alim, dan taat pada agama. Setelah
mendengar penjelasanku temanku sempat tercenung. Sesaat kemudian dia bertanya.
“Bapak S2 dan S3 bukannya dari Monash
University?”, tanyanya.
“Ya, memang saya dulu S2 dan S3-nya
dari Monash University. Emang kenapa?”, kataku.
“Cuma saya dulu tidak seberani Bapak
yang nekad keluar dari PNS”, sambungku.
“Kalau saja saya waktu itu keluar dari
PNS, nasib saya tidak seperti sekarang ini”, sesalku.
“Ya, sudahlah Pak. Itu sudah qodarullah”,
katanya.
“Buat apa diingat-ingat lagi. Gak ada
gunanya, Pak. Hanya membuat kita semakin sesak nantinya”, jelasnya. Setelah
temanku berkata demikian sempat hening sejenak. Tidak ada kata-kata yang keluar
dari mulut kami berdua. Namun, tak lama kemudian temanku memecahkan keheningan.
“Bapak kira-kira berminat gak kalau
mengajar di sini. Maksud saya di UMP?”, tanyanya.
“Apakah pimpinan UMP ini bersedia
menerima mantan koruptor seperti saya ini?”, tanyaku.
“Bukannya lebih baik mantan koruptor
jadi orang saleh daripada mantan orang saleh jadi koruptor?”, tanya temanku
bercanda.
Aku geli mendengar candaan temanku.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Bapak tidak usah khawatir, peristiwa
yang menimpa Bapak lima tahun lalu Insya Allah lambat-laun akan hilang dari
memori mereka. Bapak `kan tahu sendiri orang Indonesia itu memorinya pendek?”, jelas temanku sambil bercanda.
“Ya. Memang benar memori orang
Indonesia itu pendek. Cepat melupakan kejadian-kejadian yang menyakitkan sekalipun”,
jelasku.
“Bapak yang penting tunjukkan pada
mereka kalau Bapak bisa bekerja profesional. Bapak masih punya integritas.
Selain itu, Bapak juga bisa buktikan kalau Bapak termasuk orang yang taat pada
agama. Itu saja saran saya Pak”, kata temanku menyarankan.
“Baik kalau memang begitu”, kataku.
Mendengar tawaran temanku aku terharu.
Aku sulit berkata-kata. Namun air mata kegembiraan tidak bisa terbendung,
keluar dari kedua pelupuk mataku.
“Besok Bapak siapkan saja surat
lamaran, curriculum vitae, dan fotokopi ijazah S1, S2, dan S3-nya, kalau
pernah dapat piagam-piagam tanda penghargaan juga boleh Pak”, katanya.
“Nanti saya ajukan ke pimpinan saya”,
sambungnya.
“Kita ketemu di sini aja ya?”,
tanyanya.
“Ya, Insya Allah”, jawabku.
“Maaf, malam ini Bapak bermalam di
mana?”, tanyanya.
“Saya orang sini asli Pak. Di sini
banyak keluarga dari orangtua saya. Saya mau pulang ke rumah adik saya yang
tidak jauh dari sini. Saya juga masih punya rumah warisan orang tua saya”,
kataku.
“Kalau begitu nanti Bapak saya antar
ke rumah adik Bapak ya?”, tawarnya.
“Terima kasih sebelumnya.”
“Sekarang kita makan malam dulu Pak
sebelum saya antar Bapak pulang.”
“Baik. Sekali lagi, terima kasih atas
kebaikan Bapak.”
***
Pegunungan Menoreh yang membentang dari barat ke timur termasuk deretan pegunungan terbesar di Jawa Tengah. Begitupun dengan harapanku untuk memperoleh hidup yang lebih baik, lebih besar dari Pegunungan Menoreh. Aku katakan demikian karena setelah bertemu dengan teman lamaku, aku merasa hidup kembali. Langkah kakiku tidak gontai lagi seperti beberapa saat lalu sebelum aku bertemu dengan Khaidir, temanku. Aku menyadari bekerja sebagai dosen di kota kabupaten seperti Purworejo yang orang sebut sebagai kota pensiun ini tentu saja dilihat dari segi penghasilannya tidak sebanding yang aku peroleh ketika menjadi PNS di kementerian dulu. Tapi, aku wajib bersyukur karena tidak semua orang memandangku curiga. Buktinya, mereka bisa menerima kehadiranku. Aku tidak mengalami kesulitan ketika bertemu dengan adik-adikku di kampung halaman. Rupanya banyak orang yang telah melupakan masa laluku. Aku yakin semua ini merupakan buah dari doa-doaku dan doa teman-temanku sesama napi selama di Sukamiskin. Selain itu, boleh jadi ini semua terwujud berkat infak dan sodaqoh yang selama ini tidak putus-putusnya keluar dari kantongku. Aku merasa seperti terlahir kembali, Ah, di tengah kebahagiaan ini hampir saja aku terlupa untuk menyelamatkan kedua anakku yang terjerat narkoba. Aku tidak tahu tentang perkembangan terakhir mereka. Aku bertekad harus menyelamatkan mereka sebelum ajal menjemputnya. Mungkinkah mereka masih bisa diselamatkan?
Kota Bekasi, 22 Agustus 2025.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar