Rindu Senyuman, Rindu Terima Kasih
Aku tidak habis pikir dalam sebulan
mendapat musibah beruntun. Pertama, simpanan di salah satu rekeningku di bank amblas
ditipu orang. Segera setelah musibah itu terjadi aku blokir rekeningku, aku ganti
nomor rekening, ganti kartu ATM, dan e-banking-ku. Baru saja selesai urusan
dengan bank, anakku sepulang kuliah mendapat musibah ketika motornya diserempet
mobil. Untung anakku hanya luka ringan. Terakhir, ketika aku, istri, dan
anak-anakku ke luar kota, burung tekukur kesayanganku digondol maling. Burung
itu baru saja aku beli dan menjadi kesayanganku karena setiap pagi suaranya
mengingatkanku ketika aku kecil di kampung.
Selama ini aku selalu beranggapan yang
namanya musibah lebih karena kelalaianku. Aku tidak pernah terpikir kalau ada
sebab lain munculnya musibah. Memang, musibah yang aku hadapi terbilang kecil.
Bagi anggota dewan seperti aku rekening yang amblas bisa diisi kembali, toh
uang bagiku mudah didapat. Anakku yang terluka ringan karena keserempet mobil
buatku juga tidak jadi masalah. Begitu pun dengan burung yang digondol maling,
suatu saat juga bisa aku beli lagi. Tapi, yang jadi masalah bagiku `bagaimana
kalau suatu saat aku mendapat musibah yang lebih besar lagi?`. Masalah ini yang
sampai beberapa hari menggelayuti hidupku membuat aku tidak tenang menjalani
kehidupan.
***
Di saat-saat aku tercenung memikirkan
musibah yang mungkin saja akan menimpaku, aku teringat pada teman lama yang
sudah lama tidak aku kunjungi. Temanku seorang dosen di salah satu PTN ternama
di negeri ini. Kabarnya dia seorang profesor. Aku biasa menyapanya `Pak Dosen`.
Dulu aku biasa menyambanginya sekalian curhat. Sejak menjadi anggota dewan
sudah cukup lama aku tidak mendengar lagi nasihatnya. Mungkin sudah sepuluh
tahun aku tidak bertemu dengannya karena kesibukan yang sebenarnya kalau memang
berniat mau silaturahim bisa saja aku lakukan. Ah, selagi masih ada waktu aku coba
mengunjunginya. Segera aku berkunjung ke rumahnya. Sebelumnya aku mampir ke
toko buah membeli parsel buah. Alhamdulillah aku masih ingat jalan arah ke
rumahnya meskipun di sekitar rumahnya sudah banyak bermunculan
bangunan-bangunan baru. Begitu sampai di rumahnya aku segera memberi salam.
“Assalamu`alaikum!”.
“Waalaikum salam”. Kudengar suaranya
dari dalam rumahnya. Tidak lama kemudian muncul temanku yang segera
mengenaliku.
“Eh, Din tumben-tumbenan lu datang ke
rumah gua. Gua kira lu dah lupa sama gua”, katanya dengan penuh keriangan.
Aku segera menyalami dan memeluknya.
“Gua gak bakal lupa sama lu, Pak
Dosen. Biar gimanapun Kita `kan tetap bersahabat”, kataku.
“Gimana kabar lu bapak anggota dewan
terhormat?”, canda temanku.
“Alhamdulillah, sehat-sehat aja. Lu
sekeluarga juga sehat ya? Gua lihat rambut lu masih hitam gak kayak gua nih,
dah putih semua”, kataku.
“Lu `kan banyak yang dipikirin.”
“Nah, kalo lu?”, tanyaku.
“Kalo gua gak ada pikiran”, katanya
bercanda sampai kami berdua tertawa. `Ah, temanku masih seperti dulu, selalu
penuh dengan humor ketika bicara serius`, kataku dalam hati.
“Yuk, masuk ke dalam. Kita
bincang-bincang di dalam aja”, ajak temanku.
“Sore-sore gini, lu mau ngopi `kan?”,
tanyanya.
“Air apa juga gua minum. Asal jangan
air tajin aja”, kataku bercanda.
“Ah, elu. Tunggu bentar ya?”, tanya
temanku. Sambil berkata begitu temanku langsung ke dapur meracik minuman. Tak
lama kemudian dua cangkir kopi telah tersedia di meja.
Setelah bincang-bincang, aku membuka
pembicaraan. Aku sampaikan maksud kedatanganku. Aku ceritakan kalau aku
mendapat musibah dalam waktu satu bulan sampai tiga kali. Aku juga
sampaikan bagaimana kalau ada musibah
yang lebih besar menimpaku sekeluarga. Temanku serius menyimak yang aku
sampaikan. Sebelum menjawab masalah yang aku sampaikan, aku lihat dia tercenung
sejenak. Kemudian dia buka suara.
“Din, yang namanya musibah itu ada dua
kemungkinan”, katanya.
“Maksud lu?”, tanyaku.
“Iya, maksud gua, yang namanya musibah
itu boleh jadi lu lagi diuji sama Allah”.
“Lha, kenapa gua musti diuji sama
Allah?”, tanyaku penasaran.
“Itu hal yang biasa Din. Semua orang
pasti diuji kesabarannya, kira-kira lu termasuk orang yang sabar gak nerima
musibah atau sebaliknya”.
“Nah, yang kedua?”, tanyaku sedikit
memaksa.
“Bisa juga musibah itu merupakan
teguran dari Allah”, jelas temanku.
“Teguran? Kenapa gua musti ditegur?”,
tanyaku heran.
“Semua orang yang mengaku beriman
pasti diuji Allah dalam bentuk teguran. Lu beriman gak sama Allah?”, tanya
temanku.
“Jelas berimanlah”, jawabku.
“Jadi, musibah yang lu terima sampe
tiga kali dalam sebulan itu teguran dari Allah. Mungkin ya, maaf nih, lu tuh
gak berbagi”, jelas temanku.
“Gak berbagi? Gua selama ini tetap
berbagi. Gua bagi anak istri gua. Gua kasi rutin ngasi uang belanja buat
kebutuhan sehari-hari ke istri gua. Anak-anak gua segala kebutuhannya gua
penuhi. Begitu juga ke orang tua dan mertua gua semuanya yang mereka minta
maupun yang gak diminta gua penuhi. Juga buat adik-adik gua atau adik-adik ipar
gua semuanya. Pokoknya, semua yang ada di sekitar keluarga semua kebutuhannya
gua penuhi”, kataku sedikit menekan temanku.
“Semua yang lu sampein itu dah
kewajiban lu.”
“Maksud lu, apa?”, tanyaku makin
heran.
“Maksud gua berbagi itu, maaf ya,
kalau gua sedikit menggurui, lu dah kasi gak haknya orang-orang duafa di
sekitar lu?”, tanyanya.
“Maksud lu tetangga-tetangga gua?
Tetangga-tetangga gua semuanya orang kaya. Mereka `kan anggota dewan”, kataku
menjelaskan.
“Maksud gua bukan tetangga-tetangga lu
sekomplek yang anggota dewan. Tapi, yang di luar tembok perumahan anggota
dewan”, jelas temanku.
“Maksud lu gua ngasi sedekah ke
orang-orang duafa yang tinggal di luar komplek perumahan anggota dewan?”,
tanyaku.
“Ya”.
“Kalau zakat, gua ngasi zakat fitrah
ke masjid.”
“Itu masih kurang Din. Lu `kan kalau
gua lihat dari penghasilan lu dah musti ngeluarin zakat mal. Lu cuma keluarin
dua setengah persen dari harta yang lu peroleh selama setahun. Selain itu, lu
gak usah pelit-pelit keluarin buat orang-orang duafa di sekitar lu karena biar
gimanapun ada milik mereka di harta lu. Boleh jadi di antara tetangga-tetangga
lu yang orang duafa itu iri sama lu. Sampe-sampe burung tekukur kesayangan lu
dicuri sama mereka. Insya Allah kalo lu dah berbagi sama mereka yang namanya
maling segan nyuri di rumah lu. Kalo lu ke masjid di situ `kan ada kotak infak.
Kalo ada banyak kotak infak buat TPA, anak yatim, Palestina, jumat berkah, atau
buat jariah masjid, lu isi semua kotak juga gak apa-apa. Dengan lu ngeluarin
zakat mal, infak, atau sedekah lu gak bakal miskin Din. Malahan lu akan dapat
rizki yang makin berlimpah. Tetangga-tetangga lu yang rutin lu kasi sedekah
akan baik sama lu hubungannya. Lu coba kasi mereka. Lu lihat nanti senyum
mereka, ucapan terima kasih mereka rasanya nih hati akan adem. Lu percaya deh
sama gua”, jelas temanku.
“Ya, ya. Gua ngerti apa yang lu
sampein. Gua juga percaya sama elu”, kataku.
“Lu kasi tetangga-tetangga lu sedekah.
Bentuknya bisa berupa uang atau sembako juga boleh”.
“Nanti kalo gua kasi uang ato sembako
bukannya money politic?”, tanyaku.
“Gak lah. Lu kan ngasi rutin. Bukan
waktu pileg ato pilpres. Lagi juga di situ bukan daerah pemilihan lu `kan?,
tanya temanku.
“Bukan sih. Cuma jaga-jaga aja jangan
sampe gua nanti kena delik money politic”, kataku.
“Insya Allah gak papa. Kalo lu mau ngasi
zakat mal salurkan ke yayasan yang khusus menangani ziswaf”, jelas temanku.
“Apa itu ziswaf”, tanyaku.
“Zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf”,
kata temanku.
“Kalo untuk infaq ke masjid aja”,
sambungnya.
“Ya. Gua segera laksanakan titah
baginda”, selorohku bercanda. Kami berdua tertawa riang.
“Kita dah sama-sama tua gini masih
suka bercanda, ya?”, tanya temanku.
“Gak apa-apa selagi bercanda gak
dikenain pajak”, kataku ngeledek. Ledekanku kali ini juga mengundang tawa
bersama.
Setelah cukup lama berbincang-bincang,
aku pamit diri. Sebelum ke luar dari rumahnya aku berikan parsel buah dan
amplop yang telah aku siapkan sebelum berangkat. Temanku langsung merespon.
“Apa-apaan nih. Kok, pake
ngasi parsel sama amplop?”, tanya temanku.
“Udah, lu terima
aja”, kataku. “Ada rizki jangan ditolak!”, tegasku.
“Gua jadi enak,
nih!”, kata temanku ngeledek. Kami tertawa lagi.
“Iaudah gua pamit,
ya?”, kataku.
“Ya, hati-hati di
jalan. Nanti kalo ada waktu luang gua mau ke rumah lu.”
“Siap, Pak Dosen!
Assalamualaikum”.
“Waalaikum salam”.
***
Pas azan magrib aku
sudah sampai di rumah. Aku langsung berganti pakaian, mengenakan sarung, dan
peci untuk salat magrib berjamaah di masjid. Sudah lama rasanya aku tidak salat
berjamaah. Di masjid aku disapa oleh beberapa jamaah yang mengenalku. Sapaan,
salam, dan senyum mereka membuat hatiku tenteram. Sebelum kembali ke rumah,
selesai salat dan wirid aku sempatkan untuk berbincang-bincang dengan beberapa
jamaah. Aku juga menyempatkan diri untuk memasukkan uang ke kotak-kotak infak.
Sesuai dengan saran temanku, aku masukkan semua kotak infak itu. Ah, hari ini
aku merasa lega karena bisa salat berjamaah, berbincang-bincang dengan jamaah
masjid, dan menginfakkan sebagian rizki yang aku miliki. Aku berniat besok sore
orang-orang duafa yang tinggal di belakang tembok perumahan anggota dewan
tempat tinggalku akan aku sambangi dan kuberikan sedekah. Aku rindu dengan
ucapan terima kasih dan senyum mereka.
Kota Bekasi,
14 Agustus 2025.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar