Rabu, 22 Juli 2026

Bahasa dan Sastra (255)


Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S.Waluyo
 

(Sebuah catatan khusus menyambut Hari Anak Nasional 2026)

 

          Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak seperti sekarang. Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih banyak didapati tanah lapang yang bisa digunakan untuk anak-anak bermain. Segala macam bentuk permainan anak-anak yang sekarang ini dikenal sebagai permainan tradisional banyak dimainkan. Umumnya, permainan tradisional itu sebagian besar tidak perlu keluar uang. Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau di Jawa Tengah dinamakan `gobak sodor`) yang dimainkan secara massal yang terbagi dalam dua grup (satu grup bisa sampai empat atau enam orang). Permainan ini hanya butuh tanah yang agak luas dan rata (ada tanah yang luasnya 100 meter juga sudah cukup) atau kalau ada lapangan badminton yang sedang tidak digunakan juga bisa dipakai untuk bermain `galasin`. Permainan ini akan terasa lebih nikmat jika dimainkan di malam hari ketika terang bulan.    


          Hampir semua permainan anak-anak yang tergolong tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama dan tidak butuh biaya (kalau terpaksa harus keluar uang juga relatif murah), seperti `petak umpet`, `benteng`, `egrang`, `perang-perangan`, `bola kasti`, `layangan`, dan `galasin` membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bermain `galasin saja, misalnya, anak harus bisa berlari cepat, lincah, cekatan, dan harus bisa mengelabui musuhnya yang menjadi penjaga. Jenis permainan seperti galasin juga mebutuhkan kekompakan kelompok. Dalam permainan ini dibutuhkan adanya kesatuan komando sehingga untuk bisa memainkannya dengan apik harus ada satu orang yang menjadi kepala regu.

          Permainan yang membutuhkan tenaga yang kuat, keterampilan,  dan keseimbangan seperti `egrang` tidak semua anak bisa memainkannya. Agar anak bisa memainkan `egrang` dengan lancar dibutuhkan latihan berkali-kali. Banyak juga anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan ketika bermain `egrang` sering terjatuh dan terkilir. Jenis permainan seperti ini memang sedikit membahayakan. Tetapi, tetap saja, jenis permainan ini menggembirakan, baik bagi anak yang bermain maupun yang hanya menjadi penonton. Sebagai pelengkap, perlu juga diketahui permainan tradisional yang dimainkan anak-anak juga mengajarkan anak belajar berhitung. Jenis permainan seperti `congklak`/`dakon` baru bisa dimainkan kalau anak sudah bisa berhitung. Tentu saja, ini yang sangat perlu diketahui, semua jenis permainan tradisional membutuhkan keterampilan dan kejujuran.

***

          Seiring dengan perjalanan waktu sedikit demi sedikit terjadi proses penghilangan permainan tradisional. Anak-anak generasi baby boomer yang dulu akrab dengan permainan tradisional, anak-anak generasi berikutnya yang lahir di awal abad 21 ini karena arus globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat perlahan namun pasti menggeser permainan tradisional. Mereka sudah tidak lagi mengenal itu main `galasin`, `egrang`, `benteng`, atau `gangsing`. Salah satu tudingan bisa-bisa saja karena semakin sempitnya lahan untuk bermain anak-anak. Di samping itu, ada sebagian orang tua yang merasa tenang kalau anak-anaknya bermain di rumah. Orang tua seperti ini untuk mengantisipasi agar anak-anaknya betah di rumah mau tidak mau menyediakan mainan-mainan buatan pabrik yang harganya boleh jadi harus merogoh kantung lebih dalam lagi.    

          Mengapa ada kecenderungan orang tua saat ini melarang bermain di luar? Apakah orang tua sekarang lebih mengutamakan peran menjaga dan menjalankan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik anak, serta memastikan anak menjalankan kewajiban utama seperti sekolah? Mengapa jadi ada kebalikan dengan pola asuh orang tuanya terdahulu yang lebih mengupayakan anak bermain di luar agar anak dapat bersosialisasi, mengembangkan kreativitas, dan mampu berkompetisi di masa yang lebih sulit secara finansial? Kalau direnungkan, orang tua generasi sebelumnya lebih berpikir logis karena mereka  sadar keseimbangan aktivitas fisik, kognitif, dan sosial, penting untuk perkembangan anak. Jadi, justru orang tua sekarang kurang menyadari semua  itu. Orang tua sekarang lebih cenderung mengarahkan anaknya agar nantinya menjalankan peran orangtua yang wajib bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Untuk itu, tidak aneh jika suatu saat nanti generasi jenis ini (disebut sebagai `generasi baby boomer`) kurang memikirkan keseimbangan kehidupan keluarga.

          Di awal abad 21 ini (tepatnya tahun 2010 dan seterusnya) muncul anak-anak yang dikenal dengan istilah anak-anak  generasi alfa. Bagaimana permainan anak-anak anak-anak generasi Alfa? Istilah anak-anak generasi alfa merupakan julukan yang pertama kali diorbitkan dalam tabloid Nova, 22 September 2015 yang mengutip pendapat Mark Mc Crindle. Dimaksudkan dengan generasi alfa atau generasi broadband atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Z dan  terakhir generasi Y. Ada orang yang memprediksikan bahwa generasi alfa diprediksi adalah orang-orang ekspresif dan hitec karena lahir dan berada di era informasi. Bahkan, anak-anak generasi alfa diprediksi lebih pragmatis materialistik karena dibesarkan di era kemajuan teknologi. Mereka juga berpikir dengan sangat praktis, kurang memerhatikan nilai-nilai, lebih egois. Selain itu, anak-anak `generasi alfa` cenderung memiliki berat badan berlebih karena hidup di era menjamurnya makanan cepat saji dan junk food.

          Karena anak-anak generasi alfa lahir di era informasi, jenis permainannya juga berbeda dengan generasi terdahulu (apalagi generasi penulis yang lahir di penghujung tahun `50-an). Anak-anak generasi alfa ketika disetelkan lagu-lagu MP3 dari smartphone kepalanya bergerak-gerak seakan mengikuti irama. Kalau tayangan video dari Youtube dimatikan, ia menjerit seolah tak rela. Permainan anak-anak generasi alfa ini menggunakan teknologi layar sentuh atau disapu dengan jari baik itu berupa smatphone  maupun ipad atau  notebook  sehingga anak-anak generasi alfa dalam permainannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan lebih bersifat individual. Kemajuan teknologi yang demikian pesat telah mempengaruhi gaya hidup anak-anak generasi alfa. Gaya hidup generasi alfa lebih pragmatis materialistis. 

          Ada perbedaan yang sangat jauh antara anak-anak terdahulu (before) dengan anak-anak yang sekarang (today) yang dinamakan anak-anak generasi alfa.  Anak-anak yang terdahulu (before) dalam permainan lebih mengutamakan kebersamaan. Ada kejujuran, kebersamaan, kecekatan, kelincahan, kekuatan fisik, kreativitas, dan yang paling penting, yaitu adanya  toleransi. Bagaimana dengan anak-anak generasi alfa (today)? Mereka masing-masing asyik dengan gadget-nya yang tinggal menggeser tampilan-tampilan di layar gadget dengan telunjuknya. Tidak dibutuhkan fisik. Tidak ada kecekatan. Tidak ada kontak fisik. Lebih menunjukkan sikap individualisnya. Tanpa disadari generasi ini tidak punya toleransi. Tidak punya kepedulian karena mereka lebih mengedepankan sifat egosentrisnya. Tidak mustahil `generasi alfa` akan menderita penyakit anti sosial atau bisa juga sosiopat.

***

          Jakarta sebagai ibukota negara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia (bahkan dunia) memang memiliki daya tarik tersendiri. Kota ini setiap saat mengundang orang untuk mengadu nasib. Walaupun banyak di antara mereka yang gagal hidup di kota Jakarta, tetap saja masih banyak orang yang nekad untuk belajar mengubah nasibnya. Berpindahnya orang-orang dari daerah atau desa ke kota yang dinamakan urbanisasi memang tidak bisa dibendung. Akibatnya, kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia semakin padat. Lahan-lahan kosong semakin langka. Rumah-rumah penduduk yang semula berhalaman luas kini disesaki dengan rumah-rumah kontrakan/petak. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab anak-anak generasi alfa lebih cenderung duduk manis di rumah seraya bermain gadget atau permainan jenis teknologi canggih lainnya. Untuk itu, wajar-wajar saja kalau Jakarta bisa saja disebut sebagai kota khusus anak-anak generasi alfa.   

          Bukan hanya Jakarta, kota-kota di negara ini sudah menjadi kota khusus untuk anak-anak generasi alfa. Kota-kota di negara ini telah tergerus oleh arus globalisasi. Banyak pemerintah kota di negara ini yang sangat minim menyediakan taman-taman khusus bermain anak-anak. Akibatnya, anak-anak kabur ke tempat-tempat play station atau game online yang cenderung menjadikan anak ke depannya sosiopat karena boleh jadi jenis-jenis permainan tersebut memengaruhi perilaku anak yang menjurus pada perilaku antisosial. Jalan-jalan lingkungan di tempat-tempat tinggal penduduk kota dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Tetapi, kondisi tempat seperti itu jelas tidak aman karena tempat lalu lalang kendaraan bermotor. Agar mereka tidak melakukan aktivitas di luar rumah, para orang tua mengambil jalan pintas, yaitu melarang anaknya bermain. Sebagai gantinya berikan mainan buatan pabrik atau gadget, ipad, smartphone, atau notebook karena yang penting anak sambil bermain bisa duduk manis walaupun berjam-jam anak-anak malang ini harus memelototi layar monitor. Beginilah gambaran kota yang dihuni anak-anak alfa. Kota yang bisa digolongkan sebagai kota yang tidak sehat.

          Kota yang sehat adalah kota yang memiliki daya dukung yang sehat bagi warganya. Untuk itu, kota yang sehat memiliki indikator standar kenyamanan. Selain itu, juga memiliki manajemen perkotaan yang mampu menjaga keutuhan kawasan per kawasan. Artinya, kota yang nyaman harus memiliki keberpihakan pada kelestarian lingkungan dengan menyediakan sekurang-kurangnya tiga puluh persen luas lahan kotanya untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sebagai tambahan, kota yang nyaman harus memiliki institusi khusus yang dapat memobilisasi sumber-sumber pembangunan pemukiman dan perkotaan yang berkelanjutan dan sampai batas tertentu harus terlepas dari mekanisme pasar (Mengendalikan Masa Depan/Afthonul Afif, 2015:69). Apakah mungkin pembangunan perkotaan di Indonesia bisa terlepas dari mekanisme pasar kalau masih saja pemerintah ini sangat tergantung pada bantuan luar yang dalam hal ini lembaga-lembaga internasional?

***

          Kota-kota di Indonesia  sama seperti kota-kota di dunia sekarang ini sebagian besar penghuninya adalah anak-anak kota generasi alfa. Anak-anak kota generasi alfa memang banyak juga yang berprestasi akademik. Angka-angka rapot atau ijazahnya memuaskan bahkan tinggi-tinggi. Tetapi ada yang terlupakan, mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah tidak lagi memiliki kecerdasan emosional dan spiritual sehingga banyak di antara mereka yang cepat putus asa. Mereka tidak memiliki toleransi dan kepedulian pada sesama. Banyak di antara mereka yang menderita penyakit psikopat atau sosiopat. Apakah kalau nanti banyak di antara mereka yang menderita penyakit psikopat atau sosiopat akan didiamkan saja?        

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...