Minggu, 14 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (74)


BERKISAH TENTANG KEMATIAN

Subagio S. Waluyo


“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”

(QS Al-Anbiya: 35)

“Allah-lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(QS Al-Mulk: 2)

“Perbanyaklah mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati dapat membersihkan dosa-dosa dan dapat menanamkan rasa zuhud terhadap perkara duniawi. Apabila kalian mengingatnya di saat kaya, niscaya mengingat mati dapat meruntuhkannya, dan apabila kalian mengingatnya di saat miskin, niscaya hal ini akan membuatmu rela dengan keadaan penghidupanmu.”

(HR Ibnu Abdud Dun-ya melalui Anas Radiallahu Anhu)

Kamis, 11 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (73)


BERKISAH TENTANG HARGA DIRI 

Subagio S. Waluyo


Kebaikan Durakkap mengantar Marlena pulang dipandang sebagai pelecehan oleh Brodin. Laki-laki bajing itu tidak terima istrinya dibonceng oleh Durakkap yang pernah menaruh cinta pada Marlena. Durakkap dianggap melecehkan harga diri Brodin sebagai seorang suami. Durakkap menjelaskan duduk perkaranya. Brodin tak percaya. Degup jantungnya berlompatan tak karuan.

Sebagai seorang bajing yang disegani, Brodin menantang Durakkap carok. Awalnva Durakkap menolak, tapi lama-kelamaan mulut Brodin membuat dadanya berlubang. Durakkap diminta memotong kelaminnya jika menolak tantangan Brodin. Penolakan Durakkap bukan tak beralasan. Ia khawatir dirinya tewas di medan carok. Dengan kematian Durakkap, tentu saja akan membuat Taneyan sebatang kara.

Kesepakatan waktu dan tempat ditentukan hari itu juga. Durakkap pulang dengan dada yang kian sesak. Bayangan anak gadis semata wayangnya berkelebat di matanya. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Taneyan saat tiba di rumah. Rencana carok dengan Brodin ditutup rapat-rapat.

(Cerpen Zainul Muttaqin: “Celurit di Atas Kuburan”)

Senin, 08 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (72)


BERKISAH TENTANG PALU-ARIT

Subagio S. Waluyo



Setelah palu dan arit kusimpan di bawah rak piring, masalah kuanggap selesai. Tapi ternyata tidak. Muncul masalah baru yang sangat rumit, ketika suamiku tiba-tiba menggeledah isi dapur dan menemukan kedua benda yang dianggap memiliki makna politis itu.

“Rupanya kamu tidak bisa melupakan ideologi yang sudah dilarang sejak lama,” komentar suamiku sambil memegang palu dan arit.

“Apa maksudmu?” tanyaku ketus. Rasanya aku sangat tersinggung, karena suamiku mencurigaiku, mentang-mentang aku keturunan PKI. Ayahku dulu Ketua Cabang PKI yang kemudian ikut menjadi korban pembersihan, jenazahnya ditemukan di tengah persawahan dengan leher nyaris putus.

Setelah itu Ibu dipenjara seumur hidup tanpa proses persidangan, sedangkan aku diurus oleh Paman yang kebetulan anti PKI. Sejak kecil aku dididik Paman untuk menjadi manusia beragama yang rajin beribadah. Aku disekolahkan di madrasah agar bisa menulis dan membaca aksara latin dan arab. Lalu setelah dewasa aku menikah dengan suamiku, putra seorang modin di desanya.

“Apa maksudmu menyimpan palu dan arit ini di bawah rak piring? Bukankah benda-benda ini bukan sembarang benda?” suamiku balik bertanya.

“Aku menyimpannya di bawah rak piring, karena siapa tahu suatu ketika ada gunanya.”

(Cerpen Kompas, Siti Siamah, “Paket”)

Minggu, 07 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (71)


BERKISAH TENTANG

MENGKRANGKENG NAFSU


Subagio S. Waluyo 


Hambali kerap melamun berkepanjangan. Sendirian di beranda rumah. Terperanjat jika teringat ibu kandungnya yang pernah dilukai hatinya. Kaget jika terbayang wajah-wajah adik mendiang Amih Dinah yang keruh merasa tak mendapat ketidakadilan. Terlintas masa sebelumnya, menjalani hidup yang anti berbagi pada sesama. Kepala Hambali pusing lalu berputar-putar. Bibirnya perlahan bergerak-gerak. Tersenyum. Lalu tertawa terbahak-bahak melihat dua cicak yang tengah bercengkrama di langit-langit atap beranda. Ia seolah-seolah diajak bercanda. Lalu beranjak, melompat dan hendak menungkup cicak yang jatuh di lantai. Dahinya terbentur ubin yang keras. Ia meraung sakit. Lalu menangis sekeras-kerasnya seperti anak kecil yang tak diberi jajan oleh ibunya.

(Cerpen Kompas Komala Sutha “Nafsu Serakah”)

Senin, 01 Juni 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (70)


BERKISAH TENTANG "MEOK"

Subagio S. Waluyo 




Sedari kecil terlalu dimanjakan orangtua, diberi berbagai fasilitas atau kemudahan sehingga merasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mempedulikan neraca kebutuhan, dan faktor lainnya.
Kehadiran ‘influencer’ di media sosial sangat mempengaruhi rasa kecemburuan untuk memiliki benda-benda mewah yang sebenarnya tidak sanggup untuk didapatkan sehingga memaksakan segala cara meskipun harus berutang.
Pergaulan atau bergaul dengan orang-orang yang memiliki standar hidup mewah, menggunakan barang-barang bermerek, sehingga muncul rasa minder ketika tidak sepadan dengan mereka. Akhirnya demi mengikuti pergaulan tersebut, Anda rela menghabiskan uang untuk membeli barang yang sama.
Menjamurnya akses keuangan bagi masyarakat untuk meminjam uang dan mencicilnya dengan mudah.

Jumat, 22 Mei 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (69)

KUNCI YANG PATAH



Subagio S. Waluyo


Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
(Surat Thoha:82)

Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh,  maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha  Penyayang.
(Surat Al-Furqon:70)

Dan (juga) orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
(Surat Ali Imran:135)

Jika seorang mukmin selamat dari neraka, maka ia ditahan di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Lalu ia dimintai pertanggungjawaban oleh orang-orang yang dizalimi di dunia. Jika telah suci dan bersih, barulah mereka diizinkan masuk surga.
(Hadits Riwayat Bukhari)
***
Seorang hamba Allah yang beriman jika melakukan kesalahan, dia segera ingat Allah. Dia segera bertobat. Dia yakin Allah akan mengampuninya. Tapi, dia juga harus punya tekad untuk tidak mengulangi kesalahannya. Kalau dia masih tetap melakukan kesalahan, kemudian dia bertobat, kemudian melakukan kesalahan lagi, itu namanya main-main. Sangat sulit orang seperti ini untuk diampuni Allah. Meskipun demikian, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pengasih, tetap saja pintu untuk bertobat selalu terbuka. Sebelum Allah menyelesaikan masa kontrak kita di dunia ini, masih ada kesempatan untuk bertobat. Sifat seperti ini sangat tidak mungkin ada pada hamba-Nya. Kalau juga ada, selayaknya kita bersyukur ada orang-orang semacam itu.

Salah seorang hamba Allah yang mengakui kesalahannya, mengakui dosa-dosanya sehingga dia merasa `masih mungkinkah pintumu kubuka, dengan kunci yang telah kupatahkan` adalah Ebiet G. Ade dalam lirik lagunya “Aku Ingin Pulang”.

Aku Ingin Pulang

                       Ebiet G. Ade

Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S'lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du du du

Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu kubuka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku harus pulang




Ebiet di lirik lagu itu jelas sekali menggambarkan orang yang lemah, orang yang merasa diawasi Allah. Dia merasa selalu dibayangi Allah. Tidak ada tempat untuk sembunyi karena Allah yang Maha Tahu, Maha Melihat, pasti tahu di mana pun dia berada. Kalau sudah merasa benar-benar dalam pengawasan Allah, dia akan merasa letih. Yang pada akhirnya, dia menginginkan kesendirian. Dia perlu tempat untuk merenungkan akan kelemahan dirinya sebagai hamba Allah yang benar-benar dhaif. Coba saja kita renungkan baris-baris di lirik ini.
Kemanapun aku pergi
Bayang bayangmu mengejar
Bersembunyi dimanapun
S'lalu engkau temukan
Aku merasa letih dan ingin sendiri

***
Masalah-masalah yang berkecamuk dalam diri memang sulit dicari jalan ke luarnya. Dia hanya bisa diselesaikan lewat ibadah di malam hari yang orang bisa khusyuk untuk melakukannya. Di situ Sang Hamba yang dhaif bisa langsung mengadu pada Sang Khalik yang Maha Pengampun yang selalu mendengar pengaduan hamba-Nya. Dia juga bisa meminta yang diinginkannya pada Tuhan-Nya. Sang Khalik yang mendengar pengaduan dan do`a hamba-Nya akan meresponnya dengan cara mengingatkan Sang Hamba sehingga Sang Hamba ketika ingin melakukan sesuatu akan selalu tertutup jalannya. Dengan demikian, Sang Hamba akan selalu bersih dari perbuatan maksiat.  
Ku tanya pada siapa
Tak ada yang menjawab
Sebab semua peristiwa
Hanya di rongga dada
Pergulatan yang panjang dalam kesunyian

Aku mencari jawaban di laut
Ku sadari langkah menyusuri pantai
Aku merasa mendengar suara
Menutupi jalan
Menghentikan petualangan
Du du du

Manusia yang masih punya hati nurani yang bersih tatkala berbuat salah pasti akan selalu dihantui perasaan bersalah. Inilah jenis manusia yang masih punya iman. Manusia mukmin yang rendah hati (tawadhu). Sebaliknya, manusia yang ingkar pada Allah adalah orang yang telah kotor hatinya, yang tidak akan mungkin ada perasaan bersalah. Manusia yang kotor jiwanya selalu merasa benar, merasa menang sendiri, merasa superior. Manusia jenis ini jauh dari keimanan. Manusia jenis ini adalah manusia yang tinggi hati. Coba bandingkan dengan yang diungkap Ebiet jenis manusia yang digambarkannya adalah jenis manusia  yang selalu merasa dihantui kesalahan. Sampai-sampai perasaan bersalah itu memunculkan suatu perasaan apakah Allah mau menerimanya kalau kunci yang digunakan untuk membuka pintu-Nya telah patah. Jiwanya telah terpecah-pecah sehingga dia merasa tidak lagi punya kepribadian (kepribadiannya pecah atau split personality).
Kemanapun aku pergi
Selalu ku bawa bawa
Perasaan yang bersalah datang menghantuiku
Masih mungkinkah pintumu kubuka
Dengan kunci yang pernah kupatahkan
Lihatlah aku terkapar dan luka
Dengarkanlah jeritan dari dalam jiwa

***

Ungkapan curahan hati Ebiet G. Ade sama seperti Chairil Anwar dalam puisinya “Doa”. Di situ Chairil Anwar mengungkapkan:

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
 Chairil Anwar merasakan hal yang sama dengan Ebiet G. Ade, sama-sama merasa gundah, galau, tidak tenang karena selalu dihantui rasa bersalah. Keduanya merasakan jiwanya telah tidak utuh lagi. Meskipun demikian, keduanya tidak putus asa karena rahmat Allah akan melingkup kepada semua Hamba-Nya. Mereka yakin Allah pasti menerima kehadirannya meskipun kunci yang digunakan untuk dekat pada Allah telah dipatahkan. Tentu saja, setiap hamba Allah yang mau mengetuk pintu-Nya walaupun kunci yang digunakan telah patah pasti Allah akan membuka pintu-Nya karena Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Karena itu, Chairil Anwar tidak putus asa meminta pada Sang Khalik:
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

Seruan yang serupa juga terjadi pada Taufik Ismail dalam puisinya: ”Puisi Doa “. Dalam puisi tersebut Taufik Ismail memulainya dengan sebuah pengakuan bahwa dirinya dan orang-orang di sekitarnya telah banyak berbuat nista. Memang, Taufik dan teman-teman seperjuangannya telah berhasil menjungkalkan rezim Orde Lama. Tapi, dalam melaksanakannya dia merasa ada yang tidak benar. Dia merasa ada perbuatan nista yang dilakukannya. Untuk itu, dia meminta pada Allah ampunan-Nya. Dia minta kerelaan-Nya agar dia dan teman-teman seperjuangannya tetap dalam barisan Allah. Artinya, dia minta diakui sebagai hamba Allah, yaitu orang-orang yang berserah diri dan beriman kepada Allah. Biar bagaimanapun dia minta tetap dalam Iman dan Islam. Bisa kita simak isi lengkap puisi Doa karya Taufik Ismail berikut ini.    


Puisi Doa

Karya: Taufik Ismail

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin

Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami
Ampunilah
Amin.

1966
 
***
Tidak ada kata terlambat bagi siapa saja yang masih ada iman. Selagi Allah masih beri kesempatan hidup di dunia ini manfaatkan untuk bertobat dan berbuat baik. Dalam Surat Ali Imran ayat 135, Allah meminta kita untuk segera bertobat begitu kita melakukan perbuatan dosa. Dosa kita pada Allah kita minta pada Allah agar menghapus dosa-dosa kita. Sebagaimana Nabi Adam begitu dia berbuat dosa, beliau mengakui kesalahannya dan minta agar dihapuskan kesalahannya. Karena, kalau tidak dihapus segala kesalahannya dikhawatirkan dirinya termasuk orang-orang yang dzalim (Surat Al-A`raf:23). Agar kita ketika dicabut nyawanya oleh Allah bukan tergolong orang yang dzalim tidak ada salahnya kita membaca do`a yang diajarkan Nabi Adam AS. Bukankah kita menghendaki kehidupan dunia yang baik dan akhirat yang baik? Dengan demikian, kita juga harus punya harapan agar akhir hidup kita menjadi orang-orang yang khusnul khotimah (penutup yang baik). Untuk itu, tidak ada salahnya kalau kita menjadi orang yang digambarkan Ebiet dalam “Aku Ingin Pulang”  yang diucapkan berulang kali:
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku ingin pulang uhuu
Aku harus pulang uhuu
Aku harus pulang
Kita memang pada akhirnya akan berpulang kepada Allah. Kita memang harus pulang kepada-Nya. Kepulangan itu harus disertai amal saleh. Kepulangan itu harus dengan jiwa yang bersih. Kepulangan itu harus diridhoi Allah. Karena jiwa ini telah Bersih dari segala kekotoran, ketika Allah mencabut nyawa kita, yang ada di wajah ini sebuah senyuman dan seruan `Laa Ilaha Illa Allah` . Semoga saja itu bisa terjadi pada kita. Wallahu a`lam bissawab. 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...