BERKISAH TENTANG PALU-ARIT
Subagio S. Waluyo
Setelah
palu dan arit kusimpan di bawah rak piring, masalah kuanggap selesai. Tapi
ternyata tidak. Muncul masalah baru yang sangat rumit, ketika suamiku tiba-tiba
menggeledah isi dapur dan menemukan kedua benda yang dianggap memiliki makna
politis itu.
“Rupanya
kamu tidak bisa melupakan ideologi yang sudah dilarang sejak lama,” komentar
suamiku sambil memegang palu dan arit.
“Apa
maksudmu?” tanyaku ketus. Rasanya aku sangat tersinggung, karena suamiku
mencurigaiku, mentang-mentang aku keturunan PKI. Ayahku dulu Ketua Cabang PKI
yang kemudian ikut menjadi korban pembersihan, jenazahnya ditemukan di tengah
persawahan dengan leher nyaris putus.
Setelah
itu Ibu dipenjara seumur hidup tanpa proses persidangan, sedangkan aku diurus
oleh Paman yang kebetulan anti PKI. Sejak kecil aku dididik Paman untuk menjadi
manusia beragama yang rajin beribadah. Aku disekolahkan di madrasah agar bisa
menulis dan membaca aksara latin dan arab. Lalu setelah dewasa aku menikah
dengan suamiku, putra seorang modin di desanya.
“Apa
maksudmu menyimpan palu dan arit ini di bawah rak piring? Bukankah benda-benda
ini bukan sembarang benda?” suamiku balik bertanya.
“Aku
menyimpannya di bawah rak piring, karena siapa tahu suatu ketika ada gunanya.”
(Cerpen Kompas, Siti Siamah, “Paket”)
Palu dan arit atau sering ditulis
palu-arit sebenarnya hanya seperangkat perkakas yang sering digunakan orang
untuk pengerjaan tukang kayu.Tapi, kedua alat itu bisa saja dimaknai dengan
sesuatu yang berkaitan dengan ideologi. Dalam hal ini orang sering mengaitkan
kedua alat itu sebagai sebuah ideologi yang pernah ada di negara ini: komunis.
Bahkan, komunis pernah menjadi sebuah partai yang cukup besar pengikutnya:
Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI saat ini sesuai dengan Ketetapan MPRS Nomor
XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang Pelarangan dan Pembubaran PKI termasuk sebagai
organisasi terlarang. Karena sudah dikategorikan sebagai partai terlarang, mau
tidak mau setiap kegiatan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran komunis/Marxisme-Lenisme
sah-sah saja kalau dilarang. Orang yang menyebarkannya juga sah-sah jika harus
berhadapan dengan pihak berwajib.
Sebagai sebuah ideologi yang pernah
besar PKI juga pernah membuat peristiwa besar di negara ini. Tercatat selama
Indonesia merdeka sudah dua kali PKI melakukan pemberontakan. Pertama di Madiun
pada tahun 1948. Pemberontakan pertama ini dilakukan oleh "Front Demokrasi
Rakyat" (FDR), yang terdiri atas Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai
Sosialis Indonesia (PSI), Partai Buruh Indonesia (PBI), Pemuda Rakyat dan
Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Pemberontakan PKI yang
dilakukan oleh Musso ini mengalami kegagalan.Musso sendiri ditembak mati ketika dalam pengejaran ke Sumoroto (dekat
Ponorogo). Selain, Musso juga Amir Sjarifudin dan beberapa temannya ditangkap
di Grobogan (Jawa Tengah) dan dihukum mati (https://id.wikipedia. org/wiki/Pemberontakan_
PKI_1948).
Peristiwa kedua terjadi pada 30
September 1965 atau G30S PKI. Dalam peristiwa ini enam militer Indonesia
beserta beberapa orang yang lain dibunuh dalam suatu usaha kudeta. Upaya kudeta
itu berhasil digagalkan. Adalah Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat
itu, Mayjen Soeharto yang berhasil melakukan penumpasan terhadap gerakan
tersebut. Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
1.
Letjen TNI Ahmad Yani
(Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi);
2.
Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II
Menteri/Panglima AD bidang Administrasi);
3.
Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono
(Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan);
4.
Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I
Menteri/Panglima AD bidang Intelijen);
5.
Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan
(Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik); dan
6.
Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo
(Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat).
Jenderal TNI Abdul Harris Nasution
yang menjadi sasaran utama selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya,
putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu CZI Pierre Andreas
Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut. Para korban tersebut kemudian
dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang
Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965. Selain itu beberapa orang
lainnya juga turut menjadi korban, yaitu Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal
kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena) dan Kolonel Katamso
Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta). Beberapa bulan setelah
peristiwa ini, seluruh anggota dan pendukung PKI, orang orang yang diduga
anggota dan simpatisan PKI, seluruh partai kelas buruh yang diketahui dan
ratusan ribu pekerja serta petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan
ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini
terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali
(bulan Desember). Jumlah orang yang dibantai belum diketahui secara pasti. Namun
diduga setidak-tidaknya ada satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam
bulan yang mengikuti kudeta itu (https:// id.
wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September).
Peristiwa berdarah yang dilakukan PKI
dan antek-anteknya yang pada akhirnya diputuskan sebagai partai terlarang
sekaligus ideologi terlarang di negara ini. Sulit dibayangkan kalau pada Peristiwa
G30S PKI negara ini bisa direbut oleh mereka. Sudah bisa dipastikan negara ini
menjadi negara komunis. Allah mentakdirkan negara yang sebagian besar penduduknya
Muslim ini ternyata masih bisa diselamatkan dari bahaya komunisme. Sebuah
nikmat yang layak untuk disyukuri walaupun harus menelan korban yang tidak
sedikit baik dari kalangan ulama maupun santri. Kita berharap peristiwa ini di
masa depan tidak terulang kembali. Karena itu upaya mempertahankan TAP MPRS
Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 ini harus diperjuangkan. Jangan lagi ada lagi
oknum-oknum tertentu yang berniat menghapusnya. Kalau sampai TAP MPRS itu sampai
dihapus tidak mustahil PKI akan berkuasa kembali. Umat Islam akan dihabisi
karena yang menjadi penghalang utama mereka dalam menanamkan paham komunis di
negara ini justru umat Islam.
Peristiwa yang memilukan dan memakan
banyak korban anak bangsa ini sangat berbekas di benak seluruh rakyat Indonesia
yang pernah mengalami peristiwa tersebut. Wajar saja tidak sedikit orang yang
tersinggung kalau ada orang yang menyimpan seperti palu-arit dikaitkan dengan
PKI. Buat sebagian besar anak bangsa yang tahu persis peristiwa G30S PKI tidak
terima jika disebut PKI. Buat mereka PKI sebuah stigma yang sampai kapan pun
punya konotasi negatif. Kalau ada orang yang tidak tersinggung, bahkan bangga
disebut PKI atau keturunan PKI, orang seperti ini perlu diwaspadai:
jangan-jangan memang benar dia keturunan
PKI yang selama ini tiarap demi menyelamatkan dirinya. Boleh jadi juga entah
bapak atau kakeknya diam-diam menanamkan ideologi komunis ke dalam diri anak
tersebut. Anak-anak ini jika sejak dini tidak ditanamkan nilai-nilai agama dan
bahaya laten komunis, tidak mustahil
mereka akan menjadi generasi penerus PKI. Naudzubillahi
min dzaalik.
Di atas telah disampaikan sesuatu yang
dianggap wajar jika ada orang yang tersinggung dikatakan PKI atau keturunan
PKI. Dalam cerpen yang ditulis oleh Siti Siamah: “Paket” diceritakan kalau
Tokoh Aku (seorang perempuan, ibu rumah tangga) suatu hari menerima paket.
Paket itu begitu dibuka membuat Tokoh Aku terkejut karena isinya palu dan arit
serta sepotong kertas yang bertuliskan: “Palu arit ini untuk membongkar rumahmu
yang sudah bobrok. Semoga bermanfaat.” Kertas warna merah darah itu tidak
bertanda tangan sehingga sulit dilacak penulisnya. Sulit diterima untuk
memperbaiki rumah hanya bermodalkan palu dan arit. Tokoh Aku merobek kertas surat
itu dan menyimpan palu arit ditaruh di bawah rak piring, di sudut dapur dengan
anggapan suatu saat ada manfaatnya.
Palu-arit itu suatu saat ditemukan
suaminya, seorang pegawai negeri di kantor pemda. Suaminya yang menemukan palu
arit itu langsung menuduh kalau istrinya masih terikat dengan ideologi
terlarang itu. Tokoh Aku jelas tidak terima tuduhan tersebut. Walaupun ayahnya
mantan tokoh PKI yang disembelih lehernya dan ibunya dipenjara seumur hidup
tanpa pengadilan yang jelas sedangkan Tokoh Aku diasuh oleh pamannya yang anti
PKI, dia tidak terima tuduhan tersebut. Buat Tokoh Aku tuduhan itu
sangat-sangat menyakitkan. Keributan itu berakhir dengan pernyataan sang suami
yang ingin menceraikan istrinya yang dituduh PKI. Pernyataan sang suami tentu
saja membuat Tokoh Aku terpukul. Sejak saat itu keduanya tidak saling bertegur
sapa. Tidak cukup sampai di situ, uang belanja yang biasanya diberikan penuh
dipotong oleh sang suami sebesar 25% karena sang suami sejak saat itu tidak mau
memakan masakan istrinya.
Ada sebuah kecerdasan yang dimiliki Tokoh Aku yang
tampaknya patut ditiru oleh kita. Ternyata, diam-diam Tokoh Aku menyelidiki perilaku
sang suami. Diam-diam dia ikuti suaminya ketika berangkat kerja. Suatu saat dia
dapati sang suami dengan teman kerjanya (seorang perempuan) makan bersama di
warung. Setelah itu dia telusuri tempat tinggal sang perempuan tersebut.
Ternyata, perempuan teman sekantor suaminya itu seorang janda yang cerai karena
suaminya selingkuh. Jadi, ada hubungan asmara antara suaminya dan perempuan
janda itu. Selain itu, hasil penelusurannya juga membuahkan sesuatu yang luar
biasa, yaitu palu arit dan selembar kertas yang dibungkus rapi seperti layaknya
paket memang sengaja dikirim oleh sang suami dan perempuan itu agar istrinya
bisa diceraikan dengan tuduhan yang cukup keji: masih menganut paham ideologi
komunis (PKI). Meskipun demikian, di sini kita layak belajar sabar dari Tokoh
Aku, sang istri yang tergolong cerdas ini, biar bagaimanapun tidak ada niatan
untuk berpisah dengan sang suami. Walaupun cara yang ditempuh sang suami
terhitung keji, dia tetap mencintai suaminya sehingga dia ingin masalah itu
diselesaikan dengan cara baik-baik.
Pada
hari lainnya, aku sengaja masuk pasar dan mencari kios penjual alat-alat
pertukangan seperti palu, arit, gergaji, linggis dan sebagainya. Kutanyakan
apakah sebulan lalu pernah ada laki-laki yang ciri-cirinya sama dengan
suamiku yang membeli palu dan arit?
Pemilik
kios itu mengangguk sambil berkata, “Ya. Tapi seingatku, belakangan banyak
orang membeli palu dan arit. Mungkin untuk membangun rumah gubuk di lahan
baru karena banyak kampung dilanda banjir atau menjadi korban gempa dan tanah
longsor.”
Lalu
kuperlihatkan sebuah foto suamiku yang sengaja kubawa dari rumah.
“Betul,
dia datang bersama seorang wanita memakai seragam kantor pemda. Malah wanita
itu yang membayarnya. Kemudian palu dan arit yang dibelinya itu langsung
dibungkus dengan kardus, lalu dibungkus lagi dengan kertas kado. Katanya akan
dikirimkan kepada seseorang.”
“Sayalah
yang menerima kiriman itu. Terima kasih. Anda telah membantu saya membongkar
skandal cinta yang sangat keji.”
Pemilik
kios itu terpana dengan kening berkerut. Sepertinya mau bertanya tapi
ragu-ragu. Lalu aku buru-buru permisi meninggalkan kios itu.
Sekarang,
aku betul-betul mengerti, betapa suami yang berselingkuh memang amat sangat
kejam terhadap istri. Dan aku pun jadi mengerti, kenapa ada istri yang tega
membunuh suaminya yang telah berselingkuh. Tapi rasanya aku tidak akan tega
membunuh suamiku, karena aku masih mencintainya, entah sampai kapan...
|
***
Peristiwa langka seperti yang ada pada
cerpen tersebut jelas merupakan perbuatan keji karena memanfaatkan
simbol-simbol PKI sebagai ideologi terlarang hanya untuk kepentingan pemenuhan nafsu syahwat. Seolah-olah
seperti tidak ada cara lain untuk melakukan pemenuhan nafsu syahwat itu. Sang suami
yang menuduh istrinya PKI jelas menunjukkan akhlak yang buruk. Kalau memang
akhlaknya baik, kenapa dia gunakan simbol-simbol komunis? Bahkan, secara
langsung dia juga menuduh Tokoh aku sebagai orang yang masih menganut ideologi
komunis? Apakah bisa dibenarkan menyimpan perkakas berupa palu arit bisa
dituduh sebagai orang yang masih lekat menganut paham komunis? Jelas, tuduhan sang
suami cenderung berlebihan apalagi cuma alasan yang tidak masuk di akal dia mau
menceraikan istrinya.
Suasana
sepi berlangsung selama satu pekan. Setelah itu suamiku tiba-tiba mengajakku
bicara.
“Aku
tidak mau punya istri yang diam-diam ingin menghidupkan komunisme,” ujar
suamiku dengan suara berat.
Aku
langsung membantah keras. “Aku tidak mau difitnah oleh siapa pun, termasuk
oleh suamiku sendiri.”
“Aku
tidak memfitnah, karena buktinya kamu menyimpan palu dan arit di bawah rak
piring.”
“Apakah
menyimpan palu dan arit sudah bisa dianggap mau menghidupkan komunisme?
Jangan keterlaluan! Semua keluarga pasti menyimpan benda-benda yang pada
suatu saat bisa digunakan sesuai fungsinya.”
“Kalau
kamu memang ingin menghidupkan komunisme, kita harus bercerai.”
|
Sebuah keberuntungan bagi Tokoh Aku
yang cenderung bersikap sabar menghadapi perilaku suaminya. Seandainya di
cerpen tersebut sikap istri cenderung tidak mau mengalah, bahkan berani
menantang untuk bercerai, boleh jadi akan terjadi sebuah perceraian. Dari
cerpen ini kita mengambil hikmahnya. Hikmah yang pertama, di saat seseorang
dengan kemarahan besar menuduh orang lain dengan tuduhan yang keji, tidak perlu
tuduhan itu dibalas dengan balasan yang serupa. Coba saja perhatikan sikap
Tokoh Aku ketika dituduh dengan cara-cara keji, apa yang dibalasnya? Dia hanya
menangis karena sangat sedih melihat sikap suaminya. Hikmah berikutnya, Tokoh
Aku menunjukkan sikap sabar ketika dituduh sebagai orang yang masih lekat
dengan ideologi komunis. Dia tidak perlu marah besar. Justru, dengan adanya
kesabaran itu yang akhirnya membuahkan hasil luar biasa. Sang suami yang telah
menuduhnya PKI, ternyata diam-diam selingkuh dengan teman sekantornya seorang
perempuan janda yang juga menjadi korban selingkuh mantan suaminya. Hikmah
terakhir, yang ini perlu juga dimiliki oleh kita semua, betapapun hati ini
demikian sakit mengingat perilaku orang yang telah menyakitinya, kalau dalam
diri ini masih ada rasa cinta, sebuah perceraian harus benar-benar dijauhkan.
Buktinya, Tokoh Aku lebih mengedepankan kebersamaan dengan sang suami karena
Tokoh Aku masih mencintai suaminya.
***
PKI sebagai ideologi terlarang sampai
kapan pun tidak boleh lagi ada di negara yang kita cintai ini. Terbukti
peristiwa berdarah yang memilukan, yang merenggut tidak sedikit nyawa anak
bangsa lebih disebabkan oleh pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan PKI.
Agar tidak terjadi peristiwa-peristiwa yang telah menorehkan sejarah buruk buat
bangsa ini, seluruh lapisan masyarakat harus ditumbuhkan kesadaran bahwa
ideologi komunis sampai kapan pun haram hukumnya dianut oleh bangsa ini. Oleh
karena itu, pendidikan agama (dalam hal ini agama Islam) harus juga ditanamkan
pada anak didik pendidikan aqidah yang isinya memuat paham komunis yang sudah
jelas-jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Ajaran-ajaran Marxis yang menjadi
dasar paham komunis harus diwaspadai sebagai ajaran sesat dan menyesatkan.
Dengan cara demikian, mudah-mudahan generasi penerus kita terselamatkan dari
ideologi komunis. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar