BERKISAH TENTANG KEMATIAN
Subagio S. Waluyo
“Tiap-tiap yang
bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan
serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
(QS
Al-Anbiya: 35)
“Allah-lah yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS
Al-Mulk: 2)
“Perbanyaklah
mengingat mati karena sesungguhnya mengingat mati dapat membersihkan dosa-dosa
dan dapat menanamkan rasa zuhud terhadap perkara duniawi. Apabila kalian
mengingatnya di saat kaya, niscaya mengingat mati dapat meruntuhkannya, dan
apabila kalian mengingatnya di saat miskin, niscaya hal ini akan membuatmu rela
dengan keadaan penghidupanmu.”
(HR
Ibnu Abdud Dun-ya melalui Anas Radiallahu Anhu)
***
Masalah mati hanya Allah yang tahu.
Kita sebagai manusia tidak akan tahu karena memang itu rahasia Allah. Meskipun
demikian, sebagai hamba Allah yang mengaku beriman kita harus akui bahwa semua
makhluk yang Allah ciptakan akan menghadapi kematian. Tentang kita nanti
matinya khusnul khotimah (penutup
yang baik) atau su`ul khotimah
(penutup yang buruk) juga hanya Allah yang menentukan. Cuma di sini kita
sebagai hamba Allah selagi masih diberi kesempatan hidup di dunia ini harus
bisa melakukan amal soleh. Kita harus bisa memanfaatkan waktu kita untuk
melakukan kebaikan-kebaikan. Dengan cara demikian, pada saat Allah mencabut
nyawa kita Insya Allah kita termasuk orang yang mati dalam kondisi khusnul khotimah.
Untuk memperoleh khusnul khotimah seperti yang dikemukakan di atas di antaranya
melakukan banyak amal kebaikan. Termasuk salah satu amal kebaikan yang perlu
kita lakukan adalah perbanyak mengingat mati karena dengan mengingat mati
(sebagaimana yang disampaikan di kutipan hadits di atas) dapat membersihkan dosa-dosa.
Selain itu, dapat menanamkan rasa zuhud (tidak terlalu cinta dunia). Jadi,
seorang hamba Allah yang benar-benar beriman itu harus memiliki dua hal, yaitu
banyak ingat mati dan hidup zuhud. Ini dua hal yang sebenarnya cukup berat
untuk kita kerjakan. Meskipun cara tersebut diharapkan bisa membersihkan
dosa-dosa kita dan membuat kita tidak terlalu cinta dunia, bagi orang yang
hidupnya sudah bergelimang harta, rasa-rasanya susah untuk melakukan hal itu.
***
Dalam kehidupan sehari-hari kita
dapati orang-orang yang ketika sudah pensiun (tidak banyak lagi aktivitas di
tempat kerja) atau jatuh miskin, baru mereka mau mengingat mati. Itu pun masih
syukur kalau orang yang tergolong pensiun dan jatuh miskin masih ingat mati,
tapi terkadang juga banyak orang tidak bersyukur seolah-olah tidak bisa
menerima keadaan sehingga yang terjadi hidupnya bergelimang dengan kemaksiatan.
Salah satu contoh orang yang ketika pensiun semakin dekat pada Allah dan selalu
ingat kematian adalah Wen.Wen dalam cerpen “Cincin Akik di Kamar Mandi” oleh
Harris Effendi Thahar adalah seorang pensiunan yang boleh dikatakan rajin solat
berjamaah di masjid dekat rumahnya. Karena rajin solat berjamaah, Wen tahu
persis kebiasaan jamaah yang datang solat berjamaah di masjid. Ada jamaah yang datang
solat rajin selalu memakai parfum seperti Haji Jamal yang membuat Wen senang solat di sebelah orang
tersebut. Ada orang yang solat selalu di belakang imam,Pak Mul, tetapi Pak Mul
tidak bersedia menjadi imam. Bahkan, orang-orang di masjid tersebut tahu persis
kalau di belakang imam itu tempat Pak Mul solat sehingga jamaah tidak berani
mengusiknya. Ada jamaah yang ketika solat berjamaah selalu berganti peci dan
memakai batu akik seperti Profesor Kuman. Ada kebiasaan baik Profesor Kuman:
setiap masuk dan keluar masjid selalu bersalaman dengan para jamaah (walaupun
di antara jamaah ada yang balita). Khusus untuk Profesor Kuman ini ada cerita
unik yang berkaitan dengan Wen.
Profesor Kuman suatu saat pernah
berjanji akan memberikan Wen cincin akik yang cukup banyak dia miliki. Tapi,
sampai Allah mencabut nyawanya cincin akik itu belum sempat diberikan ke Wen.
Profesor Kuman tidak ingkar janji tapi memang ada sebuah musibah yang menimpa
dirinya. Ketika berada di kamar mandi dia jatuh terpeleset sehingga tidak
sadarkan diri. Musibah itu sampai merenggut nyawanya. Rupanya, di tempat yang
sama (maksudnya di kamar mandi Profesor Kuman) juga terjadi musibah yang sama.
Kali ini yang terkena musibah Wen sendiri. Wen yang datang melayat penasaran
ingin mencari batu akik di kamar mandi Profesor Kuman karena dia beranggapan
ketika terjatuh ada kemungkinan batu akik milik Profesor Kuman juga terjatuh di
lobang WC-nya. Pada saat dia mencari-cari batu akik di lobang WC tiba-tiba saja
ada orang yang mau masuk ke kamar mandi. Orang tersebut sempat kaget dan tidak
jadi masuk ke kamar mandi. Tapi, Wen yang terkejut justru terjatuh di kamar
mandi sehingga seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan dan lidahnya kelu.
Seminggu setelah kejadian itu, Wen meninggal dunia. Pesan terakhir yang
disampaikan Wen pada istrinya adalah agar di kamar mandinya disediakan pegangan
agar orang yang memanfaatkan kamar mandinya tidak terjatuh.
Di
rumah duka, didorong rasa penasaran, Wen sempat nyelonong memeriksa kamar
mandi Profesor Kuman. Kamar mandi itu berlantai keramik putih bersih. Wen
penasaran, lalu masuk dan mencoba menginjak lantainya yang bersih itu dengan
debaran jantung seperti gendang. Ternyata tidak licin. Wen mencoba membuka
penutup kloset, spontan saja memeriksa kalau-kalau masih ada cincin akik
Profesor Kuman seperti yang diberitakan di dalamnya. Ketika Wen secara
spontan mencoba memasukkan tangan kirinya ke dalam gua kloset itu, pintu
kamar mandi itu berderit, seseorang membukanya. Wen kaget, tidak menduga akan
dipergoki, ditimpa rasa sesal mengapa tidak mengunci pintu dari dalam. Dalam
keadaan kaget itulah ia terlonjak dan terpeleset jatuh. Wen merasa pusing
sepusing-pusingnya, tertelentang, sementara orang yang tadi membuka pintu dan
melihat ada orang, juga kaget dan cepat-cepat pergi.
Wen
merasa melayang-layang dan berusaha berdiri. Akan tetapi semua anggota
tubuhnya seperti tidak mau digerakkan. Lidahnya pun kelu. Tiba-tiba
pandangannya gelap dan akhirnya tersadar setelah berada di kamar rawat inap
Rumah Sakit Besar.
Begitu
tersadar, kata pertama yang keluar dari mulut Wen adalah, “kamar mandi.”
“Kenapa
kamar mandi?” tanya istrinya.
“Kamar
mandi kita harus dipasang pegangan di dinding-dindingnya,” katanya
terbata-bata.
“Pegangan
apa?”
“Besi
pegangan, tempat berpegang agar tidak jatuh…,” kata Wen.
Setelah
menyampaikan pesan itu kepada istrinya, Wen tidak berkata-kata lagi hingga
dinyatakan meninggal seminggu setelah percakapan itu.
|
***
Dalam cerpen tersebut bukan hanya Wen
dan Profesor Kuman yang akhir kehidupannya disebabkan jatuh di kamar mandi,
Haji Jamal, juga seorang jamaah masjid
mengalami hal yang sama. Juga Ustadz Qamat yang kerap mejadi imam masjid
mengalami hal yang sama: jatuh di kamar mandi istri mudanya. Selain itu, Ustaz
Qamat juga mengidap tekanan darah tinggi meski dari sisi umur belum termasuk
tua benar. Jadi, keunikan cerpen ini terletak pada akhir hidup para jamaahnya
yang menghadapi kematian lebih disebabkan jatuh di kamar mandi. Karena jamaah
masjid di cerpen tersebut sebagian tergolong lanjut usia,boleh jadi salah satu
faktor penyebab mereka mengalami
kematian di antaranya jatuh di kamar mandi. Bukankah kamar mandi salah satu tempat
yang rawan, yang rentan bagi orang-orang lanjut usia? Bukankah kamar mandi juga
tempat bersemayamnya setan sehingga Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya
agar berdo`a baik ketika masuk maupun keluar dari kamar mandi? Semata-mata do`a
itu ditujukan pada kita agar terhindar dari gangguan setan selama di kamar
mandi.
Berkaitan dengan do`a yang dianjurkan
Rasulullah SAW, ketika Wen datang melayat dia `nyelonong` masuk ke kamar mandi.
Tujuannya mencari cincin batu akik milik Profesor Kuman. Yang jadi pertanyaan
buat kita: kenapa Wen melakukan itu ketika datang melayat? Jelas perilaku itu
menunjukkan adanya tanda-tanda keunikan ketika seseorang mendekati kematian.
Bisa dikatakan keunikan karena memang Allah SWT memperlihatkan pada
hamba-hamba-Nya di saat-saat orang menghadapi kematian, ada orang yang sudah
siap sehingga semakin mendekati kematian semakin khusyuk dalam ibadah dan
semakin banyak dalam beramal soleh. Ada juga orang yang tidak siap yang
diperlihatkan dengan perilaku yang aneh. Apakah Wen termasuk orang yang siap
atau tidak siap? Haji Jamal ketika masih hidup sempat mengingatkan pada Wen
bahwa kematian itu rahasia Allah. Oleh Wen perkataan Haji Jamal itu seperti
meramalkan diri sendiri kematiannya karena beberapa waktu kemudian Haji Jamal
dipanggil Allah.
Sewaktu
melayat di rumah duka Ustad Qamat, Wen duduk bersebelahan dengan Haji Jamal.
Malah terlibat percakapan serius mengenai ajal manusia. Satu kalimat Haji
Jamal yang masih terngiang di telinga Wen waktu di rumah duka itu adalah,
“Inilah rahasia Allah. Siapa yang tahu, tak berapa lama lagi, salah seorang
di antara kita yang hadir ini menyusul Ustad Qamat. Entah besok entah lusa…”
“Ya,
Ji. Allah yang tahu,” balas Wen.
Mengingat
itu, Wen jadi bergidik. Sepertinya Haji Jamal meramalkan sendiri hari
kematiannya. Kata orang, biasanya jika seseorang sudah dekat ajalnya, akan
keluarlah ucapan-ucapan yang mengarah ke pintu kubur dari mulutnya.
Kadang-kadang diikuti oleh tingkah laku aneh yang tidak biasa dilakukannya.
|
***
Di atas telah diuraikan bahwa kita
harus bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Boleh juga
dikatakan menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat. Berkaitan erat
dengan hal itu, Rasulullah SAW bersabda “Sebagian dari kebaikan Islam seseorang
adalah meninggalkan perkara yang tak berguna.” (HR Abu Hurairah Radiallahu
Anhu). Jadi, seorang Muslim yang baik bisa dipastikan meninggalkan hal-hal yang
tidak berguna (tidak ada manfaatnya). Dia akan selalu mengisi waktunya dengan
hal-hal yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Dia akan selalu
bekerja/beramal karena yakin Allah, Rasul-Nya, dan orang –orang yang mukmin
akan melihat pekerjaannya (QS At-Taubah:105). Kalau sudah seperti itu, orang
yang benar-benar beramal karena Allah akan jauh dari hal-hal yang negatif.
Dengan demikian, dalam bekerja dia tidak akan banyak berharap dari penilaian
(pujian) orang karena dia hanya berharap pada ridho Allah.
Salah satu aktivitas yang perlu
dilakukan oleh orang-orang yang hanya mengharapkan rdho Allah adalah membimbing
masyarakat. Aktivitas yang termasuk dalam membimbing masyarakat di antaranya:
menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan. Di cerpen Harris Effendi Thahar kali ini
kalau ditelisik ada unsur menyebarkan dan
mendakwahkan kebaikan walaupun hanya sepintas saja. Kebiasan Profesor
Kuman yang ketika masuk dan keluar dari masjid selalu bersalaman itu termasuk
menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan. Dari kebiasaan bersalaman itu akan
tumbuh nilai-nilai ukhuwwah, rasa kasih sayang di antara sesama Muslim, dan
rasa hormat-menghormati sesama Muslim. Selain itu, Haji Jamal yang pernah
mengingatkan tentang kematian juga bisa dikategorikan orang yang berperan dalam
menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan. Hal-hal yang berkaitan dengan memerangi
segala bentuk perbuatan hina/kemungkaran belum ditampakkan dalam cerpen
tersebut. Dengan demikian, para jamaah masjid di cerpen tesebut baru sebatas
menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan.
Bagaimana pula dengan melakukan amar makruf nahi munkar? Atau membangun
opini publik dengan pemikiran-pemikiran Islam? Tampaknya, hal-hal semacam itu luput
dari perhatian jamaah masjid yang ada di cerpen tersebut. Cerpen tersebut hanya
berkisah seperti halnya terjadi di tengah-tengah umat saat ini: cukuplah menjadi seorang Muslim yang baik, yaitu
seorang Musim yang soleh-solehah. Seorang Muslim yang hanya konsens mengerjakan
amalan-amalan Islam yang terangkum dalam rukun Islam. Mereka lebih fokus pada hablum mina Allah (membina hubungan baik
pada Allah). Sementara yang berkaitan
dengan hablum mina naas (membina
hubungan baik pada sesama manusia) baru sebatas memberikan sebagian hartanya
dalam bentuk zakat, infak, dan shodaqoh serta kebiasaan baik yang dilakukan
Profesor Kuman: bersalaman ketika masuk dan keluar masjid. Untuk itu, jangan
diharap dari jamaah seperti itu bisa membina atau membimbing umat (masyarakat).
Padahal yang dibutuhkan saat ini masjid dan jamaahnya harus bisa membina dan
membimbing umat agar mereka menjadi Muslim yang bukan hanya soleh-solehah tapi
juga Muslim yang terselamatkan dari kemusyrikan (aqidah yang kotor). Bahkan,
lebih dari itu mereka harus terselamatkan dari kemiskinan. Dalam hal ini miskin
nilai-nilai agama (Islam), miskin pengetahuan, dan miskin harta. Berikut ini bisa dilihat contoh kegiatan Masjid Jogokariyan (Yogyakarta) yang telah berhasil melakukan pembebasan tiga jenis kemiskinan di sekitar lokasi masjid.
Sudah saatnya pengurus dan jamaah
masjid di manapun melakukan pencerahan. Pencerahan terutama ditujukan pada
masyarakat di sekitar masjid. Dalam hal ini masyarakat yang berada di sekitar
masjid harus merasakan kehadiran sebuah masjid. Kehadiran sebuah masjid bukan
sebatas dalam bentuk keterlibatan pada aktivitas ibadah-ibadah di masjid, tapi masyarakat di sekitar masjid juga
terlibat dalam program-program pencerahan yang dalam hal ini masuk ke dalamnya program
yang mengarah pada pembebasan kemiskinan sebagaimana yang disebutkan di atas
(miskin agama, pengetahuan, dan harta). Untuk bisa mewujudkan itu semua infak
yang diperoleh dari jamaah harus benar-benar dimanfaatkan kegiatan aktivitas
memberantas kemiskinan. Dengan cara seperti itu, pemikiran bahwa masjid menjadi
tempat orang-orang yang paling tepat buat orang-orang yang siap-siap menghadapi
kematian bukan menjadi prioritas utama. Kalau pemikiran seperti itu masih
bercokol di benak kita, sampai kapanpun kita tidak akan bisa memakmurkan
masjid.
***
Di masa pandemi Covid-19 seperti saat
ini, misalnya, uang kas masjid yang demikian besar jumlahnya jangan cuma
disimpan yang sewaktu-waktu dikeluarkan untuk melengkapi asesoris masjid. Uang
kas masjid harus dikembalikan pada umat dalam bentuk melakukan kegiatan yang
mengarah pada penyelamatan nasib umat yang seperti kita ketahui umat Islam ini
masih banyak yang terbelakang. Dengan cara seperti ini kita akan bisa membina
dan membimbing umat di sekitar masjid. Di sisi lain, kita juga bisa
menghidupkan masjid. Sebaliknya, kalau kita masih merasa aman dan nyaman dengan
aktivitas masjid yang cenderung monoton, tanpa kita sadari sebenarnya kita juga
telah mematikan fungsi dan peranan masjid. Supaya kita terhindar dari pemikiran
yang hanya mengarah pada menunggu detik-detik kematian (persiapan mati) sehingga tanpa kita sadari kita juga sebenarnya
telah mematikan aktivitas masjid, kita harus punya tekad untuk melakukan perubahan. Seandainya,
pemikiran yang mengarah pada perubahan dikembangkan di setiap masjid di negara
ini, tidak mustahil yang kita cita-citakan: baldatun
thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang makmur dan selalu di bawah
ampunan Allah) akan bisa diwujudkan. Wallahu
a`lam bissawab.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar