BERKISAH TENTANG PALU-ARIT
Subagio S. Waluyo
Setelah
palu dan arit kusimpan di bawah rak piring, masalah kuanggap selesai. Tapi
ternyata tidak. Muncul masalah baru yang sangat rumit, ketika suamiku tiba-tiba
menggeledah isi dapur dan menemukan kedua benda yang dianggap memiliki makna
politis itu.
“Rupanya
kamu tidak bisa melupakan ideologi yang sudah dilarang sejak lama,” komentar
suamiku sambil memegang palu dan arit.
“Apa
maksudmu?” tanyaku ketus. Rasanya aku sangat tersinggung, karena suamiku
mencurigaiku, mentang-mentang aku keturunan PKI. Ayahku dulu Ketua Cabang PKI
yang kemudian ikut menjadi korban pembersihan, jenazahnya ditemukan di tengah
persawahan dengan leher nyaris putus.
Setelah
itu Ibu dipenjara seumur hidup tanpa proses persidangan, sedangkan aku diurus
oleh Paman yang kebetulan anti PKI. Sejak kecil aku dididik Paman untuk menjadi
manusia beragama yang rajin beribadah. Aku disekolahkan di madrasah agar bisa
menulis dan membaca aksara latin dan arab. Lalu setelah dewasa aku menikah
dengan suamiku, putra seorang modin di desanya.
“Apa
maksudmu menyimpan palu dan arit ini di bawah rak piring? Bukankah benda-benda
ini bukan sembarang benda?” suamiku balik bertanya.
“Aku
menyimpannya di bawah rak piring, karena siapa tahu suatu ketika ada gunanya.”
(Cerpen Kompas, Siti Siamah, “Paket”)