Selasa, 29 Juli 2025

Bahasa dan Sastra (224)



Pak Kades Ditelan Bumi 

Cerpen

Subagio S.Waluyo



`Orang Pintar` baru saja sampai di rumahnya ketika tiba-tiba saja ada orang yang memberi salam.

“Assalamu`alaikum”, kata orang yang sudah dikenal suaranya oleh `Orang Pintar`.

“Wa`alaikum salam”, jawab `Orang Pintar`, “Eh, Pak Sugeng, apa kabar?”, lanjut `Orang Pintar` basa-basi.

“Alhamdulillah, Pak”, jawab Pak Sugeng.

“Silakan masuk, Pak Sugeng”, `Orang Pintar` mempersilakan tamunya masuk.

“Terima kasih, Pak”, jawab Pak Sugeng seraya masuk rumah `Orang Pintar`.

“Kok, sepi-sepi aja Pak?”

“Iya, istri saya pergi ngaji. Anak-anak masih di sekolah. Nanti mereka pulang agak sore.”

“Maaf, mengganggu waktu istirahat Bapak, nih!”, kata Pak Sugeng.

“O, gak Pak. Saya sehabis salat asar gak pernah istirahat. Bapak mau minum kopi atau teh manis?”, `Orang Pintar` menawari Pak Sugeng minuman.

“Apa saja boleh, Pak”

“Kalo gitu saya buatkan kopi ya?”.

“Ya, gak apa-apa.”

“Tunggu sebentar, ya?”

          Sambil berkata begitu `Orang Pintar` langsung ke dapur meracik minuman buat Pak Sugeng dan juga buat dirinya. Selang beberapa menit kemudian tercium aroma kopi Robusta.

“Kalo mau pakai gula ambil aja sendiri Pak”, `Orang Pintar` menawarkan.

“Ya, Pak. Terima kasih.” Pak Sugeng langsung mencampurkan sedikit gula. Mengaduknya dan menyeruputnya.

“Wah, kopinya enak nih, Pak?”

“Alhamdulillah. Itu kopi Lampung Pak. Minggu lalu ada keluarga dari Lampung bawakan kopi. Maaf Pak, gak ada yang lain. Cuma kopi aja.”

“Gak apa-apa Pak. Ini juga sudah cukup.”

“Ngomong-ngomong ada apa nih Bapak berkunjung ke rumah saya?”, tanya `Orang Pintar` penuh selidik.

“Gini Pak. Bapak tahu `kan Pak Kades?”, tanya Pak Sugeng.

“Ya, tahulah. Saya kenal baik sama Pak Kades. Ada apa dengan Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar` masih penuh selidik.

“Bapak perhatikan gak kepala Pak Kades belakangan ini?”, tanya Pak Sugeng.

“Ada apa dengan kepala Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar` penasaran.

“Pak Kades kepalanya semakin sehari semakin membesar”, jelas Pak Sugeng.

“Semakin membesar?”, tanya `Orang Pintar` penasaran.

“Sejak kapan kepala Pak Kades mulai membesar?”, tanya `Orang Pintar

“Sudah ada enam bulan kali, Pak”, jawab Pak Sugeng.

“Sudah enam bulan?”, tanya `Orang Pintar`.

“Saya malah gak ngeh tuh, kalo kepala Pak Kades mulai membesar sejak enam bulan lalu. Sampean lihat sendiri atau ada orang ngasi informasi yang gak jelas? Maklum sekarang ini `kan banyak beredar informasi yang berbau hoax”, jelas `Orang Pintar`.

“Semula saya dengar bisik-bisik dari orang-orang di kampung kita. Saya penasaran pengen lihat sendiri. Eh, benar. Pas, saya perhatikan kepala Pak Kades memang membesar. Pokoknya, jadi gak normal kelihatannya”, jelas Pak Sugeng meyakinkan `Orang Pintar`.

“Kalo Bapak gak percaya, coba saja lihat sendiri”, tantang Pak Sugeng.

“Ya. Saya percaya omongan sampean. Saya memang sudah cukup lama gak ketemu Pak Kades. Kalo mau ketemu paling ada acara-acara tertentu saja.”

“Terus gimana tuh? Apakah Pak Kades sudah berobat?”, tanya `Orang Pintar` penasaran.

“Kata orang-orang dekatnya sudah berobat ke mana-mana Pak. Sampai ke orang-orang paranormal yang terkenal juga didatangin Pak. Tapi, saya perhatikan kepalanya kok malah makin membesar?”, jelas Pak Sugeng.

“Sudah berobat gak juga sembuh? Artinya, kepalanya bukan mengecil tapi malah membesar?”, tanya `Orang Pintar` penasaran.

“Ya, Pak. Makin membesar. Mungkin Bapak tahu apa penyebabnya?”, tanya Pak Sugeng.

          `Orang Pintar` tidak menjawab pertanyaan Pak Sugeng. Justru `Orang Pintar` terlihat merenung sejenak tentang penyakit yang terbilang aneh itu. Beberapa saat kemudian `Orang Pintar` buka suara.

“Pak Sugeng, segala penyakit yang kita derita pasti ada faktor penyebabnya. Bisa saja yang diderita sama Pak Kades itu disebabkan oleh virus. Tapi, juga bisa…”, `Orang Pintar` tiba-tiba saja menghentikan penjelasannya yang membuat Pak Sugeng penasaran.

“…tapi juga bisa apa, Pak?”

“Bisa juga ada faktor lain yang akal manusia gak bisa nerimanya.”

“Maksudnya?”, tanya Pak Sugeng semakin penasaran.

“Sampean tahu `kan perilaku Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar`.

“Ya, tahulah. Apa hubungannya dengan perilaku Pak Kades?”, Pak Sugeng semakin penasaran.

“Menurut sampean, gimana perilaku Pak Kades selama ini?”, tanya `Orang Pintar`.

“Baik-baik saja. Suka menolong orang. Kalau diundang sama warga kampung ini selalu hadir. Dia juga orangnya royal. Selalu ngasi bantuan ke masjid atau ke orang-orang yang butuh bantuan. Pokoknya orangnya baik. Kalau gak baik, gak mungkin dia terpilih lagi jadi Kades”, jelas Pak Sugeng.

“Ya, saya setuju sama sampean kalau Pak Kades orangnya baik. Tapi, ada yang perlu sampean tahu dari semua yang sampean bilang baik ada yang perlu sampean tahu atau mungkin sampean juga sudah tahu”, jelas `Orang Pintar`.

“Apa itu?”, tanya Pak Sugeng.

“Maaf, saya cuma mau ngomong sama sampean. Sampean gak perlu lagi ngomong sama orang lain. Sampean mau berjanji?”, pinta `Orang Pintar`.

“Ya, saya mau berjanji. Kalau nanti saya ingkar janji, silakan saya siap diapapun sama Bapak”, Pak Sugeng berusaha meyakinkan `Orang Pintar`.

“Jadi gini, Pak Sugeng. Segala penyakit seperti yang saya katakan tadi ada penyebabnya. Gak mungkin tiba-tiba saja kepala Pak Kades membesar. Pasti ada penyebabnya”, jelas `Orang Pintar`.

“Terus, apa Pak?”, Pak Sugeng makin penasaran.

“Boleh jadi penyakit yang diderita Pak Kades merupakan teguran dari Allah.”

“Teguran dari Allah?”, tanya Pak Sugeng heran.

“Iya teguran dari Allah?”, jawab `Orang Pintar` tegas.

“Kalau memang benar-benar orang beriman, Pak Kades akan banyak bertanya pada diri sendiri, kenapa kepala saya semakin sehari semakin membesar? Kenapa juga gak ada satu dokter dan paranormal pun yang bisa mengobati penyakit yang saya derita. Jadi, dia gak cari-cari penyebab yang datangnya dari luar, entah itu yang namanya virus atau guna-guna dari orang-orang yang gak suka sama dia”, jelas `Orang Pintar`.

“Lho, emangnya Pak Kades salah apa sampe ditegur Allah, Pak?”, tanya Pak Sugeng semakin gak ngerti.

“Sampean tuh sampe gak tahu yang dilakukan Pak Kades selama ini?”, jawab `Orang Pintar`.

“Coba sampean ingat-ingat, pernah gak Pak Kades dituduh koruptor sampe-sampe punya rumah paling megah di kampung ini yang di bawah rumahnya kata orang ada bunker tempat Pak Kades nyimpan uangnya dan mas permatanya yang nilainya sekian miliar itu”, jelas `Orang Pintar`.

“Ya..ya..saya ingat”, jawab Pak Sugeng.

“Selain itu, pernah gak dia berbohong di hadapan orang-orang desa waktu pilkades kalo mau menyejahterakan warga desa? Dia mau usahakan bangun jalan desa yang kuat dan mulus lewat bantuan bangdes? Sekarang gimana itu kabarnya? Sudah terealisasi belum?”, tanya `Orang Pintar` lagi.

“Belum…belum, Pak”, jawab Pak Sugeng.

“Nah, sekarang sampean tahu `kan kesalahan-kesalahan Pak Kades?”, tanya `Orang Pintar`.

“Ya..ya..Pak, saya tahu”, jawab Pak Sugeng dengan yakin.

“Pak Kades itu kalau saya bisa katakan orang yang kemaruk dengan harta. Orang yang serakah!”, kata `Orang Pintar` dengan sedikit emosional. 

“Kalo sampean sudah tahu, sekarang coba jawab pertanyaan saya, apakah yang diderita selama enam bulan ini sama Pak Kades bukan hukuman dari Allah?”, pancing `Orang Pintar`.

“Ya, jelas..jelas..hukuman dari Allah, Pak!”, tegas Pak Sugeng.

“Nah, sampean dah akui `kan itu hukuman dari Allah?”, tanya `Orang Pintar`.

“Ya, saya akui Pak”, jawab Pak Sugeng.

“Itu baru hukuman dunia, Pak Sugeng. Belum lagi nanti hukuman di akhirat. Saya susah menggambarkan hukuman apalagi yang nanti dialami dia di akhirat”, jelas `Orang Pintar`.

“Di Al-Quran banyak cerita tentang orang-orang yang kemaruk dengan harta. Qarun, misalnya, sampean tahu `kan Qarun?”, tanya `Orang Pintar`.

“Ya, saya tahu. Orang yang ditelan bumi bersama-sama hartanya”, jawab Pak Sugeng.

“Buat Allah mudah saja menghukum orang seperti Qarun”, tegas `Orang Pintar`.

“Maksud Bapak, nanti Pak Kades nasibnya sama seperti Qarun?”, tanya Pak Sugeng penasaran.

“Saya gak bilang begitu. Saya cuma ngasi permisalan saja orang yang rakus, serakah, dan gila harta di Al-Quran diberi hukuman seperti kisah Qarun”, jelas `Orang Pintar.

“Gimana? Sudah bisa dipahami `kan?”, tanya `Orang Pintar`.

“Ya, sudah jelas Pak! Terima kasih Pak. Saya sudah dapat pencerahan dari Bapak”, jawab Pak Sugeng.

“Ayo, Pak Sugeng diminum lagi kopinya. Nanti keburu dingin”, kata `Orang Pintar`.

“Ya. Pak”

Pak Sugeng menyeruput sisa-sisa minumannya.

          Beberapa saat kemudian Pak Sugeng pamit pada tuan rumah karena mau melanjutkan aktivitasnya. Sebelum Pak Sugeng meninggalkan tempat, sekali lagi `Orang Pintar` minta pada Pak Sugeng untuk tidak menyampaikan pembicaraannya tadi. Pak Sugeng meyakinkan `Orang Pintar` kalau dia akan memegang teguh janjinya.

***

          Beberapa bulan setelah Pak Sugeng bertamu ke rumah `Orang Pintar` sesuatu yang pernah dibicarakan tentang kisah Qarun dalam Al-Quran benar-benar terjadi di kampungnya. Kisahnya begini, setelah Pak Kades merayakan hari ulang tahunnya yang ke lima puluh tujuh, ketika tamu-tamunya sudah pada pulang tinggallah Pak Kades bersama istri, anak-anak, menantu, dan cucu-cucunya. Masih dalam suasana gembira, tiba-tiba saja di dapur rumahnya terjadi ledakan besar. Ledakan itu menimbulkan kebakaran. Petugas pemadam kebakaran datang sangat terlambat karena memang tempat tinggalnya di kampung jauh dari Pos Pemadam Kebakaran. Wajar-wajar saja kalau kebakaran itu melumatkan bangunan termegah di kampung itu. Akibatnya, rumahnya benar-benar ludes dimakan api. Mereka sekeluarga mengungsi. Hanya pakaian yang melekat di tubuh mereka. Beberapa warga yang pernah ditolong Pak Kades menampung mereka.

          Meskipun sudah terkena bencana, sikap tamak dan serakah masih ada pada keluarga Pak Kades. Terbukti beberapa hari setelah kebakaran, mereka semuanya (tidak termasuk cucu-cucu dan asisten-asisten rumah tangganya) mendatangi lokasi rumahnya. Padahal di seputar rumah yang terbakar itu telah dipasangi police line, mereka tetap masuk menerabas. Mereka mengorek-ngorek bekas-bekas bangunan. Ketika di bawah bangunan yang terbakar itu masih kelihatan bunker yang dibangun dulu, mereka gembira sekali. Mereka menyangka harta bendanya yang berisi uang dan mas permata masih aman tersimpan di bunker yang mereka bangun. Buat mereka gak masalah kalau bangunannya yang megah bersama kendaraan-kendaraan yang harganya ratusan juta hangus terbakar karena yang penting masih ada simpanan uang dan mas permata. Baru saja mereka mengecap kegembiraan, tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang mengejutkan. Bumi yang mereka pijak terbelah menjadi jurang yang menganga lebar. Mereka semuanya masuk ke dalam jurang yang lebar itu. Tanah yang tadinya mereka pijak menimbun mereka hidup-hidup. Harta benda yang berupa uang dan mas permata menenggelamkannya. Tidak ada yang tersisa. Mereka semuanya tertimbun longsoran dari tanah dan bangunan bekas-bekas kebakaran dan bunker yang menyimpan uang, dan mas permatanya. Semuanya terkubur hidup-hidup. Kejadian itu hanya dalam hitungan menit. Warga desa pun tidak sempat menolongnya karena mereka juga takut terjerumus ke jurang yang menganga demikian lebar. Tidak ada yang tersisa karena bekas-bekas kebakaran pun masuk ke jurang. Yang tersisa hanya cucu-cucu mereka yang masih di rumah-rumah warga yang pernah Pak Kades santuni.

***

          Peristiwa yang terbilang langka ini sontak mengundang sekian banyak konten kreator dan netizen. Mereka-mereka yang terlibat dalam medsos bukan sekedar memberitakan peristiwa tersebut, tapi juga turut mengomentarinya. Mereka-mereka ini yang biasa meramaikan jagat Instagram, Threads, sampai Tik Tok. Sementara itu, media mainstream baru meramaikannya ketika medsos sudah lebih dulu meliputnya. Seperti biasa media mainstream menurunkan para wartawannya dan kelihatan `sok sibuk` mewawancarai orang-orang desa yang diperkirakan tahu kronologi peristiwa langka itu.

          Pak Sugeng yang turut menjadi saksi semakin percaya bukan karena ramalan `Orang Pintar`,tapi lebih pada penjelasannya yang telah mencerahkan jiwanya. Dia semakin yakin akan kebenaran kata-kata `Orang Pintar` bahwa sebuah musibah yang dihadapi seseorang lebih disebabkan oleh perilakunya. Dia bersyukur masih ada orang seperti `Orang Pintar` yang mengingatkan akan peran manusia di muka bumi ini. Baru saja dia mau menyampaikan kabar ke `Orang Pintar`, tiba-tiba saja ada WA dari `Orang Pintar`: Inna lillahi wa inna ilaihi roji`un.   

Kota Bekasi, Akhir Juli 2025.  


Rabu, 09 Juli 2025

Bahasa dan Sastra (223)


Sangka Buruk Tommy

Cerpen 

Subagio S.Waluyo


Setiap rabu dan sabtu pagi Tommy bersepeda. Di dekat pertigaan jalan yang dilewatinya Tommy seringkali melihat anak gadis berusia belasan tahun memegang kardus kusam bertuliskan `tolong sedekahnya untuk adik-adik saya yang belum makan`. Setiap kali melihatnya, setiap kali pula Tommy berkomentar walaupun hanya di dalam hati `Masih muda sudah minta-minta. Memang dasar pemalas. Jiwanya jiwa pengemis.` Itu-itu saja yang selalu dikomentarinya. Terkadang ketika berkendaraan dengan anak-anak dan istrinya Tommy juga berkomentar dengan ucapan yang sarkasme `Dasar pemalas, kerjanya cuma minta-minta`. Mendengar ucapan yang sarkasme, spontan istrinya mengomentarinya `Jangan begitu Yah. Kalau gak ngasi juga gak apa-apa. Lebih baik diam daripada keluar kata-kata yang kurang baik`. Anak-anaknya juga mengaminkan ucapan ibunya. Tommy cuma diam saja. Dia enggan menimpalinya.

 

Sabtu pagi ini Tommy seperti biasa bersepeda. Dia lewati jalan yang sama. Tapi, pagi ini dia tidak menemukan anak gadis belasan tahun yang memegang kardus. Rabu pagi juga dia tidak menemukannya. Selang sepekan, sabtu pagi berikutnya, dia juga tidak menemukannya. Dia jadi bertanya-tanya dalam hati ke mana gerangan gadis belasan tahun yang memegang kardus yang biasa ada di dekat pertigaan jalan? Dia penasaran. Rasa penasarannya menuntunnya untuk mendekati dua orang peminta-minta, suami-istri, yang juga sering berada di dekat pertigaan jalan yang sering dia lewati.

“Pak, maaf, anak gadis yang biasa di dekat pertigaan jalan itu ke mana ya? Kok, dah seminggu lebih gak kelihatan?”

“Sudah meninggal Pak.”

“Sudah meninggal?”, tanyanya heran.

“Iya sudah meninggal. Dia kamis yang duluan ditabrak truk. Sama bos pake ambulans langsung diantar ke kampungnya, di Brebes.”

“Ditabrak truk?. Terus diantar bos ke Brebes? ”, tanya Tommy penuh selidik.

“Ya, Pak. Dia ditabrak truk sampe badannya berlumuran darah. Kepalanya hancur. Sudah gak bisa dikenalin mukanya.”

Deg, Tommy bergidik mendengar keterangan pengemis itu.

“Bapak tahu kampungnya gak?”

“Tahu Pak. Dia `kan sekampung sama saya.”

“Kalo gitu, Bapak bisa anter saya besok ke kampungnya.”

“Bisa aja Pak. Tapi, saya `kan harus nyetor ke bos.”

“Nyetor ke bos?”, tanyanya heran.

“Ya, harus nyetor?”

“Sampean biasanya nyetor berapa ke bos?”

“Seperempat dari yang saya dapat”, kata si bapak.

“Sampean biasanya dapat berapa sehari?”

“Sekitar 100 sampe 200 ribu.”

“Iaudah saya kasi sampean besok 200 ribu. Mau gak?”

“Ya…ya…Mau Pak.”

“Besok pagi sampean sama istri nunggu di sini aja. Nanti saya jemput.” 

“Siap Pak!”

***

Besok paginya, hari minggu, dua pengemis itu telah menunggu kedatangan Tommy. Tidak seperti biasanya, kini mereka berpakaian rapi dan tidak lusuh. Tommy menyapanya dan mempersilakan mereka duduk di kursi belakang. Selama dalam perjalanan kedua orang pengemis itu menyampaikan kalau korban, Nurul Hasanah, adalah gadis berusia enam belas tahun. Pendidikannya hanya sampai tamat SD. Gadis yang biasa dipanggil Nurul itu kedua orangtuanya sudah tidak ada. Adik-adiknya dua orang masih kecil-kecil. Mereka tinggal dengan kakek dan neneknya. Karena kondisi ekonomi yang lemah, setamat SD Nurul mencari kerja di Jakarta. Dia diajak tetangganya untuk kerja sebagai pengemis. Seperti yang biasa terjadi di kalangan pengemis, ketika baru saja dia menjadi pengemis, sang bos minta Nurul untuk berhubungan badan meskipun waktu itu usianya baru dua belas tahun. Nurul yang memang lugu dan lemah tidak bisa menolak. Jadi, dalam usia yang demikian muda Nurul telah hilang keperawanannya. Sejak itu kalau hasrat seksual bosnya sedang naik dia diminta untuk melayaninya.

 

Hasil dari meminta-minta memang sebagian diberikan ke adik-adiknya di kampung. Memang benar juga kalau uang hasil meminta-minta itu bukan hanya buat makan kedua adiknya, tetapi juga kakek-neneknya. Kelebihannya digunakan untuk biaya pendidikan kedua adiknya. Kalau tetangga-tetangganya yang juga sama-sama peminta-minta rumahnya bagus-bagus, tidak demikian dengan Nurul. Rumah Nurul di kampung tetap yang paling buruk dan lapuk. Uang kelebihan dari meminta-minta sering diminta oleh bosnya yang juga sekaligus sebagai pacarnya. Mendengar penjelasan kedua pengemis itu Tommy cukup kaget. Dia merasa bersalah kalau selama ini telah bersangka buruk pada gadis belasan tahun peeminta-minta yang menjadi korban kecelakaan. Sebelum keluar dari jalan tol yang menuju kampung tempat tinggal Nurul, di rest area terdekat dia minta supirnya untuk istirahat sebentar. Tanpa sepengetahuan mereka Tommy menuju ATM. Tommy menarik uang dari rekeningnya yang segera dimasukkan ke amplop yang sudah dia sediakan.

***

Hari masih belum begitu siang ketika mereka memasuki kampung yang boleh dikatakan sebagian besar warganya biasa mencari nafkah sebagai pengemis di berbagai kota besar di Jawa. Tommy sempat kaget juga melihat rumah-rumah mereka yang ternyata cukup mewah untuk ukuran sebuah kampung. Jalan menuju ke rumah Nurul juga terbilang bagus. Begitu juga masjid dan kantor desanya.

“Ini semua dari hasil mengemis Pak. Saya sama teman-teman urunan dari hasil mengemis buat bangun jalan, masjid, sama kantor desa”, jelas si bapak.

“Dari hasil mengemis sampean sisihkan buat bikin ini semua?”

“Ya, Pak. Karena memang gak ada bantuan dari pemerintah”, jelas di bapak.

“Wah, hebat juga nih! Warga kampung ini lebih hebat dari kami orang kota. Orang kota mana mau nyumbang buat bikin ini semua.”

“Nah, itu rumah Nurul Pak”

“Seperti yang saya sampein tadi, rumah Nurul paling jelek di kampung ini. Dia gak bisa nabung karena duitnya banyak diambil sama bosnya yang juga pacarnya.”

“Ya”

 

Di depan rumahnya kakek dan nenek Nurul ditemani kedua adiknya langsung menyambut kedatangan Tommy dan kedua pengemis yang mengantarnya. Karena memang tidak memiliki apa-apa, kakek dan nenek Nurul hanya menyediakan minuman dan sedikit penganan kampung. Sebagai rasa hormat pada tuan rumah, Tommy meminum air yang disediakan. Setelah sedikit bincang-bincang, Tommy menyerahkan amplop yang telah disediakan pada kakek Nurul. Orangtua itu kaget juga ketika Tommy memberikan amplop yang cukup tebal. Semula sang kakek menyangka kalau Tommy adalah penabrak cucunya. Tapi, setelah dijelaskan oleh kedua pengemis itu dia meminta maaf pada Tommy. Tommy juga berjanji pada mereka kalau sepulangnya dari rumah Nurul akan berusaha mencari dana dari teman-teman koleganya dan berbagai yayasan yang peduli pada orang-orang duafa untuk membiayai kedua adiknya Nurul sekaligus merenovasi rumahnya. Setelah selesai urusannya, Tommy pamit untuk kembali pulang.

***

Kedua pengemis yang mengantar Tommy memintanya mampir sebentar di rumahnya. Tommy juga sempat kaget melihat rumahnya. Kali ini Tommy tidak seperti biasanya yang sering berkomentar walaupun hanya dalam hati. Tommy telah banyak belajar dari kasus gadis belasan tahun peminta-peminta yang harus meregang nyawa karena membantu adik-adik dan kakek-neneknya di kampung yang saat ini dikunjunginya. Tapi, ketika melihat foto-foto anak-anak pengemis yang diwisuda di salah satu PTN Tommy sempat bertanya.

“Itu siapa, Pak?”

“Itu anak-anak saya. Ini anak saya, laki-laki, yang pertama. Dua tahun lalu lulus dari UNY.”

“Nah, ini yang kedua. Juga dah lulus bulan lalu dari UPN Veteran Jogja”, tambahnya.

“Wah, anak-anak Bapak hebat-hebat sudah pada sarjana”, puji Tommy.

“Terima kasih, Pak.”

“Anak yang pertama sekarang jadi guru di Semarang. Alhamdulillah, sekarang sudah PNS di SMA Negeri”,tambahnya.

“Alhamdulillah. Nah, kalau yang kedua?”

“Lagi coba-coba melamar kerjaan, Pak. Mohon doanya.”

“Insya Allah saya doakan”, janji Tommy.

“Terima kasih, Pak.”

Beberapa saat kemudian setelah bincang-bincang Tommy pamit kembali ke Jakarta. Rupanya, kedua pengemis itu tidak ikut Tommy ke Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah kedua pengemis itu, Tommy sesuai janjinya memberikan dua lembar uang ratusan ribu rupiah.

***

Dalam perjalanan pulang Tommy banyak merenung. Dia merasa berdosa pada gadis peminta-minta karena selama ini bersangka buruk. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan sangka buruknya. Di dalam hatinya dia mengadukan perlakuan buruknya:”Ya, Allah aku telah berbuat zalim karena berprasangka buruk pada hamba-Mu. Aku merasa sia-sia saja segala amalku. Mungkinkah melalui-Mu, ya Allah, aku bisa menutup rasa maluku pada seorang hamba-Mu yang telah aku nodai lewat prasangka burukku? Ya, Allah aku berazam untuk membantu keluarganya. Semoga Engkau mengampuni hamba-Mu ini yang telah berlumur dosa. Amin. Yaa robbal alamin.”

 

Sesampainya di rumah, Tommy mencium tangan istrinya dan menangis sesunggukan. Istrinya heran melihat perilakunya. Tapi, sebagai istri yang cerdas dia segera maklum atas sikap suaminya. Istrinya tidak mau bertanya kenapa tiba-tiba saja suaminya mencium tangannya dan menangis sesunggukan. Dia hanya berpesan pada suaminya.

“Sudah Yah, lain kali kita gak usah bersangka buruk pada orang. Mudah-mudahan kebaikan Ayah pada mereka dibalas Allah dengan kebaikan. Yang lebih penting lagi mudah-mudahan Allah memaafkan kesalahan Ayah.”

“Amin!”, jawab Tommy.

Kota Bekasi, 10 Juli 2025.

 



Senin, 07 Juli 2025

Bahasa dan Sastra (222)

 

Laki-Laki Jahat untuk Perempuan Jahat

Cerpen

 Subagio S.Waluyo



 

Joni baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai suami. Sang istri, Citra, masih tergolek di tempat tidurnya. Joni teringat kata-kata istrinya sebulan lalu ketika mereka belum diikat dengan tali pernikahan “Laki-laki jahat untuk perempuan jahat”. Baginya ucapan itu mengundang tanya.

 

“Apa maksudmu `laki-laki jahat untuk perempuan jahat`?

Citra dengan entengnya menjawab,

“Kita berdua orang jahat.”

“Kita berdua orang jahat?”, Joni semakin heran dengan jawaban Citra.

“Kenapa kita disebut orang jahat? Emangnya kita melakukan tindakan kriminal?”

“Kita memang gak melakukan tindakan kriminal.”

“Lho, kalau memang kita berdua gak melakukan tindakan kriminal, kenapa kita disebut orang jahat?” Joni semakin tidak mengerti.

“Ya, kita disebut orang jahat karena kita berdua pezina.”

“Jadi, yang namanya pezina itu orang jahat?”, Joni semakin heran dengan penjelasan Citra.

“Dapat dari mana kata-kata itu, Citra?”

“Tak sengaja aku buka-buka Instagram. Di situ ada seorang penceramah yang mengutip sebuah ayat Quran, tepatnya di Surat An-Nur ayat 26 `laki-laki jahat untuk perempuan jahat`. Penceramah itu juga menjelaskan kalau yang dimaksud laki-laki dan perempuan jahat itu adalah laki-laki dan perempuan pezina. Karena kita berdua pezina wajar-wajar aja dong kalau disebut orang jahat.”  

“Kalo gitu, gimana supaya kita berdua gak disebut orang jahat?”

“Kita harus bertobat. Kita harus ninggalin perbuatan zina yang sudah sering  kita lakukan.”

 

Deg, mendengar jawaban itu Joni terkejut. Di usianya yang sebentar lagi menginjak empat puluh tahun sudah tidak terhitung lagi dia melakukan zina. Sudah ratusan perempuan yang sempat ditidurinya. Dia juga harus akui dari sekian banyak perempuan yang ditidurinya, dia telah membuat rumah tangga mereka berantakan. Joni juga sadar batas akhir seseorang untuk melakukan kebaikan justru di usia empat puluh tahun. Kalau sampai melewati usia itu tidak pernah berubah, seterusnya sampai malaikat maut menjemputnya dia akan mengakhiri hidupnya sebagai pezina. Mengingat itu, bergidik juga bulu kuduknya. Dia sadar. Sudah saatnya dia harus berubah. Selagi masih ada umur dia harus berubah. Dia harus tinggalkan sebutan laki-laki pezina. Dia juga mengajak Citra, perempuan yang selama ini sudah sekian kali dizinai, untuk melakukan hal yang sama.

 

“Supaya sebutan gak lagi nempel di diri kita berdua, gimana kalo kita tinggalin perbuatan buruk ini?”

“Aku sangat setuju. Aku juga berpikiran begitu. Kalo perlu sekarang juga kita gak usah lagi berhubungan badan.”

 

Sambil berkata begitu, Citra meraih selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang sejak tadi tidak ada selembar benang pun menempel. Kemudian dia meraih handuk. Di kamar mandi Citra mandi seperti orang yang baru saja bersetubuh yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Joni yang masih di tempat tidur memperhatikan yang dilakukan Citra. Ada sebersit pikiran kotor mengajak Citra untuk melakukannya sekali lagi. Tapi, entah bagaimana ada yang menahannya untuk melakukan zina. Joni, juga sama dia segera mandi di kamar mandi yang berbeda.

 

Beberapa saat kemudian keduanya selesai mandi. Keduanya juga selesai berpakaian. Citra pamit pada Joni untuk kembali ke kosannya. Sebelumnya Joni minta agar dibolehkan mencium kening Citra. Citra tidak membolehkan. Joni tidak tersinggung dengan penolakan Citra. Joni juga sempat mengajukan sesuatu ke Citra.

 

“Kalau kita sudah benar-benar bersih dari perbuatan kotor ini, maukah kau menjadi istriku?”

 

Citra sempat terkejut meskipun dia juga cepat mengendalikan diri.

“Aku siap saja menjadi istrimu. Tapi, aku minta waktu untuk benar-benar bertobat. Aku juga minta kamu bertobat. Gimana?”

“Boleh. Gak apa-apa. Berapa lama aku harus menunggu?”

“Aku minta satu bulan. Bisa?”

“Gak apa-apa. Satu tahun pun aku siap asalkan aku menikah denganmu”

“Baik. Kalo gitu aku pamit dulu, ya?”

“Gimana kalo aku antar pulang?”

“Gak usah. Mulai saat ini aku gak mau berjalan bersama yang bukan mahromnya. Kalau kamu mau kontak aku, cukup lewat WA aja.”

***

Sebulan memang waktu yang singkat. Tapi, bagi Joni sebulan serasa seabad. Bukan cuma menunggu yang bikin dia bosan, gangguan yang datang bertubi-tubi membuat dia galau. Gangguan yang paling utama menghadapi hasrat seksualnya yang seringkali datang. Kalau gangguan itu datang, dia seperti orang gila. Mula-mula dia lawan dengan mengambil air wudhu. Kemudian dia salat sunah dan diteruskan dengan membaca Quran. Selain itu, dia juga perbanyak dzikir. Dia juga mulai membiasakan puasa senin-kamis. Dia juga mulai menyingkirkan semua barang di hadapan matanya yang memancing nafsu syahwatnya. Rumahnya kini benar-benar bersih dari segala macam yang mengundang syahwat. Selain itu, supaya tidak dihubungi lagi sama perempuan-perempuan yang pernah bermain cinta dengannya, dia juga mengganti hp-nya. Satu hal lagi yang patut diberi nilai tambah, dia mulai sering salat berjamaah di masjid dekat tempat tinggalnya.

 

Dari masjid itu dia mulai berinteraksi dengan jamaah masjid. Di masjid Joni juga aktif ikut pengajian. Dari kantongnya tidak sedikit dia mengeluarkan infaknya. Bukan hanya di tempat tinggalnya, di tempat kerjanya Joni juga mulai membiasakan diri salat berjamaah. Dia ajak semua karyawannya untuk salat berjamaah. Musala di kantornya yang selama ini boleh dikatakan tidak layak sebagai tempat ibadah mulai dibenahi. Sebagai pimpinan dan sekaligus pemilik perusahaan karyawan-karyawannya kaget melihat perubahan yang boleh dikatakan drastis. Biar bagaimanapun mereka bersyukur melihat perubahan yang terjadi pada pimpinannya. Yang membikin mereka banyak bersyukur akhir-akhir ini sang pimpinan memiliki kepedulian yang tinggi. Kalau sebelumnya Joni cuek-cuek saja sama bawahannya, justru sekarang seringkali membantu bawahannya. Bawahannya yang terkena musibah dia kunjungi dan dipenuhi segala keperluannya. Perubahan sikap itu tentu saja membuat sebagian besar bawahannya bertanya-tanya, `ada apa dengan Pak Joni?`. Mereka sekedar bertanya saja dalam hati. Tampaknya mereka tidak punya nyali untuk bertanya langsung dengan sang pimpinan.

 

Mereka sebenarnya juga heran dengan sikap yang ditunjukkan Pak Joni. Selama ini mereka sangat tahu kalau Pak Joni ini tergolong laki-laki flamboyan yang akrab dengan perempuan. Banyak perempuan yang keluar- masuk ruang kerjanya. Untuk menghindari berinteraksi dengan perempuan dia juga mengganti sekretarisnya dengan laki-laki. Laki-laki yang dipilih menjadi sekretrarisnya tentu saja orang yang memiliki akhlak yang baik dan rajin ibadahnya.  Sekarang yang keluar masuk hanya bawahannya yang punya urusan dengan pekerjaan. Joni benar-benar telah melaksanakan niat baiknya. 

***

Citra sekembalinya dari rumah Joni langsung ke tempat kosannya. Sebelum sampai ke tempat kosannya dia sempatkan diri membeli beberapa busana muslimah. Dia segera berberes-beres. Selesai berberes-beres dia datangi pemilik kosannya. Dia lunasi uang kosannya dan disampaikan ke pemilik kosannya kalau mau pulang kampung dan tidak balik lagi ke tempat semula. Citra sudah tekad bulat untuk kembali ke pangkuan orangtuanya di kampung. Dia sudah punya niat nikah dengan Joni. Dia percaya Joni akan memenuhi janjinya.

 

Sesampainya di kampung kontan kedua orangtuanya heran bukan semata-mata karena tiba-tiba saja Citra muncul di rumahnya, tapi busana yang dikenakan. Bukan cuma busana muslimah yang membalut tubuhnya, perilakunya juga jauh berbeda. Citra tidak lagi muncul sebagai perempuan nakal yang biasa tampak di hadapan orangtua dan orang-orang kampung. Citra kini tampil sebagai perempuan saleh. Citra tidak banyak bicara pada kedua orangtuanya tentang perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia cuma menyampaikan kalau untuk sementara waktu tidak akan balik ke kota. Dia cuma bilang kalau dia mau istirahat dulu di kampung.

 

Sama halnya Joni, orangtua Citra juga kaget dengan perubahan yang boleh dikatakan seratus delapan puluh derajat pada anak bungsunya. Bukan hanya orangtuanya, tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya juga heran dengan perubahan yang terjadi pada Citra. Kalau sebelumnya Citra boleh dikatakan tidak pernah salat, justru sekarang ini bukan cuma salat wajib, salat-salat sunah juga dikerjakan. Di saat-saat salat sunah di malam hari orangtuanya sering melihat ada butir-butir air mata yang mengalir. Orangtuanya juga kerap melihat Citra banyak berzikir dan baca Quran. Selain itu, Citra juga kerap mengerjakan puasa sunah senin-kamis. Tentu saja sebagai orangtua mereka bersyukur atas perubahan yang terjadi pada anaknya. Mereka tidak mau banyak bertanya karena sudah tahu watak anaknya.

***

 

Beberapa hari menjelang hari pernikahannya, Citra menghadap orangtuanya. Dia menyampaikan kalau berniat untuk menikah setelah satu bulan berada di kampungnya.

“Bapak-Ibu, Citra awal bulan depan mau menikah”

“Mau menikah?”, tanya bapaknya.

“Dengan orang mana?”

“Laki-laki saleh dari kota.”

“Insya Allah orangnya baik dan bertanggung jawab”, tambah Citra.

“Citra hanya minta tolong Bapak urus surat pernikahan ke KUA. Untuk urusan lain-lainnya sudah Citra siapkan.”

“Baik kalau gitu.”

 

Kedua orangtuanya demikian gembira dan bahagia demi mendengar niat baik Citra yang mau menikah. Mereka berharap pernikahan kali ini tidak seperti yang sudah-sudah cuma seumur jagung. Bukan hanya Citra yang telah menutup lembaran buruk hidupnya di masa lalu, kedua orang-tuanya juga menutup lembaran buruk yang dialami anak bungsunya.

***

Di hari H-nya, Joni ditemani dua orang bawahannya datang ke rumah Citra. Tidak lama kemudian petugas KUA juga datang. Ijab Kabul berjalan lancar. Selesai acara kedua teman yang ikut menjadi saksi pernikahan Joni dan Citra balik ke kota. Tinggal Joni dan keluarga besar Citra yang ada di rumah itu. Menjelang sore satu persatu keluarga besar Citra dan orang-orang kampung kembali ke rumahnya masing-masing. Di rumah orangtua Citra tinggal Joni, Citra, dan kedua orangtuanya. Di malam hari kedua pasangan itu melampiaskan kerinduan yang terpendam selama sebulan.

 

“Mas belum tidur?”, tanya Citra mengagetkan Joni yang sempat melamun.

“Tadi sempat tidur sebentar. Tiba-tiba terbangun.”

“Ayo, tidur lagi”, pinta Citra.

“Boleh. Tapi…”

“Tapi apa?”, potong Citra.

“Aku mau nambah lagi”

“Oh, boleh-boleh.”, kata Citra sambil menarik tubuh suaminya yang juga masih sama-sama tanpa selembar benang pun melekat di tubuh mereka.

Mereka pun saling berpagutan melampiaskan hasrat seksualnya.

 

Kota Bekasi, 8 Juli 2025.   

 

 

   

Minggu, 22 Juni 2025

Bahasa dan Sastra (221)


Bunglon di Pohon Kekuasaan

Subagio S. Waluyo 


BUNGLON

 

                                                Beni Guntarman

 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

pada warna siapa yang berkuasa ia 'kan menyesuaikan warna diri

lincah berkelebat dari dahan ke dahan, dari periode ke periode kekuasaan

terus menjadi ekor, dan kerap bermimpi menjadi sang pelopor

meski hakikat diri hanyalah alat kekuasaan yang kotor

 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

kokoh berlindung dalam warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik

diam-diam merasa bosan pada keangkuhan kayu dan dedaunan

coba berjuang menjadi pelopor perubahan

memaksakan warna kehendak diri pada pohon besar di pelataran singgasana

namun kayu tetaplah kayu, daun tetaplah daun yang selalu menghijau

tak sudi menjadi pengikut bunglon

 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

dunia dalam satu warna yang ada di benaknya

ketika berhadapan dengan tantangan kehidupan nyata

bunglon selalu kehilangan ekornya!

 

(http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/bunglon)


***

          Ada banyak cara orang untuk mengkritisi, baik masalah-masalah sosial maupun politik. Ada orang yang mengkritisinya lewat lirik-lirik lagu, seperti Iwan Fals. Ada mengkritisinya lewat cerpen, seperti Ahmad Tohari atau Kuntowijoyo. Ada juga yang lewat puisi, seperti WS Rendra. Beni Guntarman termasuk penyair yang mengkritisi masalah-masalah sosial dan politik lewat puisinya “Bunglon”.

          Berbicara tentang bunglon yang dijadikan objek oleh Beni Guntarman dalam puisinya sebenarnya bukan hal yang baru. Jauh sebelumnya ada yang pernah menulis puisi dengan judul yang sama. S.M. Ashar dalam Gema Tanah Air (1951) menulis puisi “Bunglon”. Meskipun muatannya berbeda, dari sisi perilaku yang ada pada Sang Bunglon pada prinsipnya sama, sama-sama menggambarkan sosok perilaku orang yang bisa disebut `munafik`. Bisa juga kalau mau disebut lebih halus `hipokrit`. Keduanya menggambarkan perilaku orang yang cenderung bermuka dua (standar ganda). Khusus untuk “Bunglon” yang ditulis S.M. Ashar telah dibahas penulis dalam tulisannya: “Menjauhi Hipokrit” (http://subagiowaluyo.blogspot.com/2021/11/menjauhi-hipokrit-ke-mengetuk-pintu.html). Kali ini penulis fokus membahas puisi yang ditulis Beni Guntarman: “Bunglon”. Untuk itu, penulis akan mencoba membahas setiap bait dari puisi “Bunglon” tersebut.

*** 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

pada warna siapa yang berkuasa ia 'kan menyesuaikan warna diri

lincah berkelebat dari dahan ke dahan, dari periode ke periode kekuasaan

terus menjadi ekor, dan kerap bermimpi menjadi sang pelopor

meski hakikat diri hanyalah alat kekuasaan yang kotor

 

     Sosok manusia yang disebut sebagai bunglon oleh Beni Guntarman adalah mereka-mereka berada di kekuasaan entah di tingkat pemerintahan pusat maupun daerah. Mereka-mereka adalah tipe orang yang berstandar ganda. Di satu sisi bisa jadi mereka berpihak pada sesamanya (masyarakat sipil). Di sisi lain, mereka juga berteman dengan orang-orang yang berada di kekuasaan (bisa berpihak pada penguasa). Mereka-mereka ini cepat sekali menyesuaikan diri sehingga banyak orang yang tertipu oleh perilakunya. Orang-orang jenis ini selalu ada dalam setiap periode kekuasaan. Karena sudah terbiasa berperilaku hipokrit, mereka tidak pernah menjadi penguasa. Mereka-mereka ini hanya menjadi pengikut yang setia pada kekuasaan yang kotor. Meskipun demikian, ada kalanya mereka juga punya keinginan untuk menjadi penguasa. Kalau menjadi penguasa, mereka-mereka ini tidak pernah berubah perilakunya tetap menjadi orang-orang yang hipokrit.

 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

kokoh berlindung dalam warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik

diam-diam merasa bosan pada keangkuhan kayu dan dedaunan

coba berjuang menjadi pelopor perubahan

memaksakan warna kehendak diri pada pohon besar di pelataran singgasana

namun kayu tetaplah kayu, daun tetaplah daun yang selalu menghijau

tak sudi menjadi pengikut bunglon

 

      Mereka-mereka yang menjadi bunglon (orang-orang hipokrit) sudah terlanjur nyaman hidupnya di bawah penguasa yang otoriter (bisa juga disebut zalim). Mereka-mereka yang sudah merasa nyaman dengan penguasa yang zalim ini sangat pandai mencari muka, baik di hadapan penguasa yang zalim maupun di hadapan rakyat yang dizalimi penguasanya. Inilah yang disebut sebagai perilaku standar ganda. Hal ini bisa dibuktikan, ketika negara dalam kondisi genting tiba-tiba saja mereka-mereka ini menjadi pendukung rakyat. Bahkan, mereka-mereka ini yang menjadi provokator. Mereka-mereka ini pura-pura menjadi pahlawan. Kalau bisa, mereka-mereka ini berusaha agar penguasa yang ingin dijatuhkannya menjadi pengikutnya. Tapi, boleh jadi penguasa yang benar-benar berniat mewujudkan sebuah demokrasi yang benar tidak akan mudah terprovokasi. Penguasa yang didukung rakyatnya akan berusaha menghabisi mereka-mereka yang berperilaku hipokrit.     

 

Bunglon, sang penyamar hati di pohon kekuasaan

dunia dalam satu warna yang ada di benaknya

ketika berhadapan dengan tantangan kehidupan nyata

bunglon selalu kehilangan ekornya! 

          Orang-orang hipokrit merasa nyaman hidup di bawah kekuasaan yang zalim. Mereka-mereka ini menghendaki agar penguasa yang zalim tetap dalam kezalimannya karena dengan cara demikian mereka bisa hidup nyaman. Suatu saat ketika menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan, mereka menjadi orang-orang yang oportunis dan selalu mencari aman meski harus untuk itu mereka harus berkorban. Bisa juga ketika dalam kondisi yang tidak mengenakkan, mereka-mereka ini berupaya menghindar dari masalah atau menyelamatkan dirinya. Orang jenis ini jelas tidak memiliki integritas, identitas, dan harga diri.

***

        Orang yang masih memiliki hati nurani yang bersih tentu tidak mau berperilaku hipokrit seperti bunglon. Orang-orang jenis ini jelas masih memiliki integritas, identitas, dan harga diri. Buat mereka lebih baik mati daripada hidup berlumuran dosa. Mereka berupaya menjauhi perilaku seperti itu. Tentu saja agar terhindar dari penyakit hipokrit mau tidak mau seseorang harus melakukan pendekatan pada Sang Khalik secara intens. Mereka yakin dengan melakukan pendekatan pada Sang Khalik secara intens bisa terhindar dari penyakit hipokrit sebagaimana S.M. Ashar menyampaikan di bait terakhir puisi “Bunglon”-nya:

……………………………………………………..

O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,

Biar lahirku diancam derita,

Tidak daku sudi serupa.  


Selasa, 20 Mei 2025

All You Need Is Love (209)

 Revolusi Akhlak (4)

Subagio S.Waluyo




Melihat kondisi umat yang carut-marut baik cara atau gaya hidupnya, pandangan hidupnya, maupun perilakunya (akhlaknya) sudah saatnya umat Islam melakukan revolusi akhlak. Revolusi akhlak merupakan sebuah kemestian yang harus diprogramkan. Agar revolusi akhlak bisa berjalan efektif dan efisien harus dibuat sebuah perencanaan yang benar-benar matang. Juga diperlukan organisasi yang juga siap menjadi penanggung jawab untuk keberlangsungan jalannya program ini. Karena masalah akhlak memerlukan keteladanan (uswatun hasanah) dari sosok orang yang bisa dijadikan contoh sekaligus pemotivasi, mau tidak mau juga harus ada sosok guru (ustadz/ustadzah) yang bisa menjadi panutan dan sekaligus pemotivasi.

          Perencanaan sudah disusun dengan baik. Sudah ada organisasi yang dipercayakan untuk menjadi penanggung jawab sekaligus pengelola program. Sosok ustadz/ustadzah juga sudah disiapkan (meskipun terkadang sangat terbatas jumlahnya). Langkah berikut, yang juga perlu dilakukan sejak dari perencanaan, adalah adanya aktivitas pengawasan terhadap berjalannya program. Langkah terakhir tentu saja juga dibutuhkan evaluasi untuk melihat tingkat keberhasilan atau kegagalannya. Kalau dikatakan berhasil, apa saja indikator keberhasilannya. Kalau dikatakan ada kegagalan, perlu dicari apa yang menjadi faktor penyebab kegagalannya. Memang, dengan melihat pola kerja di atas ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bukankah musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam juga melakukan tahapan-tahapan seperti yang diuraikan di atas?

          Musuh-musuh Islam menghancurkan umat Islam dimulai dari atas, yaitu akhlak. Mereka mengalami kesulitan kalau dimulai dari aqidah. Tentu saja pilihan mereka untuk menghancurkan umat Islam dari akhlak dilakukan dengan perencanaan yang matang yang diteruskan dengan langkah-langkah berikutnya. Sampai saat ini mereka melakukan langkah-langkah yang sama. Yang membuat kita tidak habis pikir, ternyata program itu berjalan masif dan terukur. Berarti ada program pewarisan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Dengan demikian, ada kaderisasi yang berjalan dengan baik sehingga program yang dijalankan tidak pernah terhenti. Bahkan, program-program mereka selalu disinergikan dengan perkembangan zaman yang dalam hal ini sangat berkaitan dengan sains dan teknologi. Bukan itu saja, mereka juga sangat memperhatikan perkembangan sosial dan politik yang sedang terjadi di tempat yang dijadikan sasarannya.

          Musuh-musuh Islam sebagaimana dijelaskan di atas menghancurkan umat Islam dimulai dari akhlak. Kalau Islam diibaratkan sebuah bangunan, (yang di dalamnya ada fondasi, tiang-tiang, dan atapnya) musuh-musuh Islam mempreteli terlebih dahulu atap bangunannya. Bagian teratas dari bangunan Islam, yang disebut atap, adalah akhlak. Bangunan (rumah, gedung) kalau atapnya rusak (tidak ada) bagian berikutnya tinggal menunggu kerusakannya. Begitu juga dengan umat Islam, kalau akhlahknya sudah rusak, ibadah dan aqidahnya juga segera menyusul. Jadi, musuh-musuh Islam memperhatikan sekali masalah itu. Sementara umat Islam tidak memiliki cara atau program untuk menghadapi strategi musuh-musuhnya yang tidak pernah berhenti merusak umat Islam.

          Konsep Islam untuk memperbaiki akhlak umat Islam tidak dimulai dari perbaikan akhlak, tapi dimulai dari pembenahan aqidahnya. Dimulai dari pengokohan yang menjadi fondasi bangunan Islam. Secara masif untuk bisa melakukan revolusi akhlak, umat Islam ditanamkan tentang konsep makna syahadatain (dua kalimat syahadat). Di dalam diri umat Islam harus tertanam tentang kesaksian akan keberadaan Allah, kebesaran Allah, ketinggian Allah, kesucian Allah, dan kekuasaan Allah sehingga tumbuh dalam diri seseorang untuk bergantung pada Allah. Kalau sudah bergantung pada Allah sehingga memasrahkan hidupnya pada kehendak Allah, orang tersebut akan selalu merasakan adanya pengawasan Allah (taqarrub illa Allah). Orang seperti ini Insya Allah dijamin akan bersikap jujur dalam kata dan tindakan. Orang seperti ini akan ada konsistensi ucapan dengan perbuatan. Orang seperti ini tidak mau berkata-kata yang menyakitkan orang lain. Orang seperti inilah yang bisa dikategorikan orang beriman.

          Selain aqidahnya bersih, orang yang dijadikan objek revolusi akhlak juga harus melakukan ibadah sesuai tuntunan dan tuntutan syariat, yaitu harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan mengikuti tuntunan dan tuntutan syariat ia akan beribadah dengan baik (shohihul ibadah). Karena aqidahnya bersih, orang seperti ini dalam beribadah benar-benar diniatkan hanya untuk Allah. Dalam beribadah ia tidak ada perasaan untuk dilihat orang lain (riya). Dalam beribadah ia benar-benar melakukannya dengan ikhlas. Dia tidak merasa diintervensi/dipaksa orang lain untuk beribadah karena dia telah berprinsip tidak ada paksaan dalam beragama (2/256). Dia telah benar-benar menjadi ahlul ibadah.

          Sebagai pelengkap bahwa dirinya merupakan pendukung ‘rahmatan lil alamin’, dia juga harus membiasakan diri untuk tilawah Qur’an. Kalau perlu, dia juga harus menghafalnya, men-tadabur-kannya, dan mengamalkannya. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an Insya Allah diberikan ketenangan batin karena Qur’an juga merupakan sarana untuk berdzikir. Bukankah dengan berdzikir seorang Muslim akan tenang batinnya (13/28)? Selain itu, orang yang akrab dengan Al-Qur’an akan dimudahkan oleh Allah untuk menggali ilmu pengetahun karena dalam Al-Qur’an sendiri ada perintah untuk iqro’ ‘membaca’, ‘meneliti’, atau ‘mengungkap yang terselubung’. Bahkan, dalam Al-Qur’an jelas-jelas telah mengarahkan bahwa seluruh alam semesta ini ciptaan Allah sehingga seorang Muslim diharuskan meneliti atau mengkajinya seraya berdzikir pada Allah (3/190-191). Diharapkan seorang Muslim yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an, dia akan menjadi seorang beriman yang tentu saja akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT (58/11).

          Sebagai tambahan, perlu juga disampaikan di sini, agar revolusi akhlak itu benar-benar bisa menghasilkan seorang Muslim yang bersih aqidahnya, benar ibadahnya, dan baik akhlaknya dia juga harus banyak belajar mengkaji shiroh nabawiyah (sejarah kehidupan Rasulullah). Dengan mengkaji shiroh dia akan memiliki pengetahuan bahwa untuk menegakkan Islam diperlukan perjuangan yang panjang sebagaimana Rasulullah, para sahabat, dan para tabi’in (pengikutnya) mencontohkan bahwa untuk menegakkan dan mendakwahkan Islam di muka bumi ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, ekstra kesabaran, dan ke-istiqomah-an. Bukan hanya shiroh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, tetapi juga yang berkaitan dengan sejarah, sosial, politik, dan budaya Islam juga tidak kalah pentingnya untuk dipelajari. Singkatnya, revolusi akhlak menggiring s eorang Muslim diharuskan memasuki Islam secara kaafah dan dilarang mengikuti langkah-langkah setan  (2/208) karena seorang Muslim harus menjadikan Allah sebagai walinya (2/257).    

          Untuk bisa mewujudkan program revolusi akhlak salah satunya bisa melalui jalur pendidikan Islam. Penyelenggaraan sekolah-sekolah Islam yang berbasis IT (Islam Terpadu) yang dimulai dari TK sampai dengan SLTA yang telah dimulai lebih dari 30 tahun lalu di negara ini sekarang bisa dirasakan hasilnya. Memang, untuk bisa mewujudkannya membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi, hasil dari pendidikan tersebut bisa dibuktikan ketika anak-anak didik yang 30 tahun lalu bersekolah di TKIT/SDIT ternyata mereka sekarang ini banyak yang menjadi ‘orang-orang pintar’ yang berakhlak baik. Di samping melalui jalur pendidikan, bisa juga dilakukan melalui masjid atau majelis taklim. Masjid-masjid di Indonesia sekarang banyak juga yang telah ditangani secara profesional sehingga banyak berhasil membentuk masyarakat Muslim walaupun dalam lingkup wilayah yang tergolong kecil. Salah satu masjid di Indonesia yang telah berhasil menjadikan masjid sebagai pembentuk pribadi muslim adalah Masjid Jogokariyan di Jogjakarta. Masjid ini telah berhasil mengubah sebuah wilayah yang masyarakatnya semula tidak tahu menahu masalah Islam (bahkan ada sebagian yang memusuhi Islam) menjadi masyarakat yang taat beribadah, berperilaku Islami, dan memiliki kecintaan pada agamanya. Tidak aneh jika di Masjid Jogokariyan baik sholat Isya maupun subuhnya selalu dipenuhi jamaah. Seandainya, di Indonesia ada seratus masjid yang seperti ini, Insya Allah keberkahan akan selalu ada di negara ini sehingga ungkapan baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur akan benar-benar terwujud.   

          Kita harus yakin bahwa mewujudkan revolusi akhlak di negara ini akan bisa dilakukan. Kita harus yakin bahwa umat kita Insya Allah masih bisa diajak untuk melangkah ke arah yang baik, ke arah yang Allah ridhoi. Kita harus yakin bahwa kondisi umat Islam dan bangsa ini akan menjadi lebih baik dari sekarang. Kita harus punya tekad kuat melawan mindstreamyang jelas-jelas akan menghadang kita ketika berniat melakukan kebaikan. Selagi kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, merasakan terik panas matahari, dan limpahan rizki yang Allah berikan, kita harus melakukan yang terbaik, yaitu menegakkan dan melaksanakan program revolusi akhlak. Kita harus menjadi orang yang mengangkat umat ini dari lumpur kejahiliahan. Apakah kita hanya mau menjadi penonton menyaksikan saudara-saudara kita larut dalam kubangan lumpur kejahiliahan? Apakah kita juga yakin bahwa kita tidak akan terkena virus-virus kejahiliahan yang sekarang ini masih terus memakan anak bangsa ini? Kalau memang kita sadar, lakukanlah yang terbaik. Kalau bukan kita, siapa lagi?Wallahu a’alam.       

 

(selesai)



Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...