Kamis, 18 Juni 2026
Minggu, 07 Juni 2026
Bahasa dan Sastra (249)
Insan Akademis dan Kejahatan Budaya Copas
Subagio S.Waluyo
Di
saat-saat berselancar di dunia maya, tampaknya ada kebiasaan baru di kalangan
insan akademis yang nyaris menjadi sebuah budaya, yaitu copy paste atau copas.
Kebiasaan ini bisa menjadi budaya atau telah membudaya di kalangan mereka
terutama pada saat harus mengerjakan tugas atau ujian. Tugas-tugas yang kerap
mereka kerjakan (baik di kalangan mahasiswa maupun dosen) sebagian besar
merupakan produk dari copas. Terkadang jika ada dosen yang demikian
teliti memeriksa pekerjaan mereka (dengan catatan dosen tersebut juga tidak
gagap teknologi) ternyata pekerjaan mereka lebih merupakan hasil copas
dari berbagai sumber. Boleh jadi yang mereka kerjakan merupakan paper atau
laporan hasil penelitian orang lain yang diunggah di website. Bahkan,
saat ini seseorang yang katakanlah ingin membuat paper atau tugas kampus tidak
harus mengambil bahan orang lain, cukup melalui bantuan Artificial Intelligence
(AI) yang telah tersedia di setiap ponsel segala sesuatu yang
diinginkannya dalam hitungan sekian menit sudah siap tersaji. Pekerjaan insan
akademis yang katanya sangat menjunjung nilai-nilai akademis ini jelas-jelas
tergolong cybercrime `kejahatan virtual`(?).
***
Sebenarnya
yang melakukan kejahatan virtual bukan hanya mahasiswa, dosen sebagai ilmuwan
yang telah `mumpuni` ilmunya juga sama. Kejahatan virtual yang dilakukan
mahasiswa dan dosen (sebut saja mereka insan akademis) di kampus lebih pada
kejahatan melakukan budaya copas. Budaya copas bisa terjadi di
kampus lebih karena masih lemahnya pemahaman insan akademis tentang
undang-undang terkait dengan Hak Cipta (Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta). Tidak banyak orang yang
tahu apakah melakukan apapun dalam dunia literasi melalui AI termasuk
dalam kejahatan virtual sesuai dengan UU tersebut? Boleh jadi karena UU
tersebut keluar jauh sebelum munculnya AI sehingga tidak didapati di
setiap pasalnya yang menunjukkan bahwa orang yang bergiat di dunia literasi
lewat AI bukan termasuk kejahatan virtual. Terlepas dari kejahatan virtual atau tidak, yang jelas siapapun
orangnya yang sangat bergantung pada AI cenderung untuk tidak kreatif.
Dengan kata lain, penggunaan berlebihan pada AI tanpa disadari akan membunuh
kreativitas seseorang. Bukan hanya itu, kehadiran AI juga menumbuhsuburkan
plagiarisme (mental menjiplak atau mencuri data). Silakan ditafsirkan sendiri,
apakah orang yang melakukan plagiarisme lewat AI bukan termasuk orang
yang melakukan kejahatan virtual?
Kehadiran
AI selain membunuh kreativitas insan akademis (seperti uraian di atas)
juga menumbuhsuburkan plagiarisme yang justru penyakit yang satu ini
benar-benar menjadi sebuah tantangan besar bagi dunia akademis. Insan akademis yang
memang sudah jelas-jelas minim budaya baca dan bermental penjiplak (punya budaya
copas) dengan kehadiran AI semakin malas untuk melakukan aktivitas
membaca dan menulis. Kecenderungan mereka yang masih bercokol adanya mentalitas
menerabas dengan kehadiran AI semakin juah dari berpikir ilmiah atau out
of the box. Jadi, tidak usah heran kalau dilakukan penelitian di kalangan insan akademis, banyak di antara mereka yang belum memperoleh manfaat
dari ilmu yang digelutinya selama belajar di perguruan tinggi (PT).
Di
atas telah disebutkan bahwa minimnya
budaya baca di kalangan insan akademis sudah bukan barang baru. Sejak munculnya
telepon seluler (ponsel) dan tablet, ada kecenderungan di kalangan insan
akademis menghilangkan kebiasaan baca menjadi kebiasaan buka-buka ponsel atau tablet
untuk mencari data. Jauh sebelum munculnya AI di setiap ponsel atau
tablet tersedia mesin pencari data yang orang kenal sebagai google search.
Lewat google search sang insan akademis sangat terbantu manakala mencari
entah kata atau data apapun. Lewat google search juga insan akademis
bisa mencari buku-buku (ebook), hasil-hasil penelitian (laporan
penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya), atau berbagai media
online yang memang sangat mudah mendapatkannya. Kalau memang ada kebiasaan
membaca sampai tuntas, misalnya, ebook yang didapatkannya dari google
search, berarti insan akademis seperti itu masih memiliki budaya baca.
Tapi, kalau sekedar membaca sebagian atau hanya ingin mengetahui isinya,
berarti insan akademis ini sudah terkena sindrom hilangnya budaya baca. Bahkan,
banyak juga di kalangan insan akademis jangankan membaca ebook, membaca whatsapp
(WA) yang agak panjang saja sudah malas untuk menuntaskannya. Karena itu,
tidaklah aneh kalau budaya menulis di sebagian kalangan akademis juga
menghilang.
Hilangnya
budaya menulis selain tersedianya sarana yang lebih mudah lewat ponsel atau tablet,
juga (seperti telah disampaikan di atas) karena masih bercokolnya mentalitas
menerabas di kalangan insan akademis. Dimaksudkan dengan mentalitas menerabas menurut
Koentjaraningrat (Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, 2015: 52) ialah
mentalitas yang bernafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan
berusaha. Mentalitas menerabas sama dengan instantisme (A. Mangunhardjana dalam
Isme-Isme dari A Sampai Z, 2001:113) sikap yang menuntut segala yang
dimaui ada seketika. Insan akademis yang sudah terkena sindrom mental menerabas
(instantisme) melakukan sesuatu dengan sabar, selangkah demi selangkah, atau
menunggu dengan waktu yang baginya cukup lama merupakan sesuatu yang sulit dijalankan.
Artinya, mereka tidak akan sabar melakukan sesuatu dengan tekun, sabar, dan
tetap konsisten meskipun hanya menulis, misalnya, sebuah buku teks PT. Apakah
sebuah PT yang memiliki visi, misalnya, menjadikan PT unggulan di tahun 2026
akan terwujud kalau budaya menulis saja mengalami kemandegan? Bahkan, yang
lebih parah lagi kalau terbukti ternyata insan akademis di sebuah PT belum
memperlihatkan adanya perubahan sikap. Dalam hal ini masih bercokol di kalangan
insan akademis mentalitas menerabas yang juga merupakan bukti bahwa mereka
belum sama sekali memperoleh manfaat dari ilmu yang mereka geluti.
***
Insan
akademis yang memperoleh manfaat dari ilmu yang digelutinya tidak akan mau
melakukan cara-cara yang tidak bermoral (menerabas). Biar bagaimanapun ilmu yang
selama ini digelutinya akan memberikan dampak terhadap pembentukan moral atau
unsur moral harus mempengaruhinya selama mereka menggeluti ilmunya. Selama ilmu
yang digeluti insan akademis tidak memberi dampak pada perilakunya, selama itu
juga akan ditemui cara-cara ilegal dalam menjalankan tri dharma PT. Insan
akademis yang berada di PT yang selayaknya menjadi contoh terbaik dalam
menjalankan tri dharma PT karena masih
belum bisa mengambil manfaat dari ilmu yang digelutinya, tidak mustahil visi
dan misi yang diemban PT tersebut hanya sebatas slogan atau kalimat-kalimat
tanpa makna.
Selasa, 05 Mei 2026
Bahasa dan Sastra (248)
Potongan Hati yang Tertinggal
Subagio S. Waluyo
Mengenang ibu-ibu perkasa yang
telah dipanggil Allah
di gerbong terakhir KRL Commuter
Line
Cooler
bag itu menjadi saksi bisu yang memisahkan sang ibu dengan anaknya. Sang
ibu yang masih sempat-sempatnya memeras ASI-nya demi keberlanjutan hidup sang
anak setiap pagi buta harus menempuh perjalanan demi menjalankan
keberlangsungan hidup keluarganya. Entah berapa bulan atau tahun usia sang
anak, namun yang pasti sang ibu menjadi korban di gerbong terakhir KRL Commuter
Line yang malam itu (selasa, 27 April 2026) ditabrak Lokomotif KA Argo
Bromo Anggrek. Kita tidak tahu pasti wujud fisik sang ibu setelah peristiwa
yang mengerikan itu menimpa dirinya. Kita hanya tahu cooler bag yang
telah menjadi saksi bisu itu sudah menjadi seperti potongan hati yang
tertinggal (frase potongan hati yang tertinggal dikutip dari catatanmimi)
yang mengikat hubungan tali kasih ibu dan anaknya. Tali kasih itu telah
terputus. Sang anak hanya bisa merasakan ASI terakhir dari sepotong hati yang tertinggal
yang diterima sang ayah dari seorang petugas di Stasiun Bekasi Timur.
Sejak
sang ibu pergi menghadap Sang Ilahi, sejak itu juga telah terputus hubungan ibu
dan anak. Telah terputus juga tatapan kasih dari sang ibu pada anaknya. Sang
anakpun hanya bisa memandang wajah ayahnya dan orang-orang yang ada di
sekitarnya. Sementara itu, wajah sang ibu yang selama ini telah menjadi tumpuan
kasih sayangnya tidak akan dijumpainya lagi. Betapa mudah dan cepat Allah
memutuskan tali kasih di antara hamba-hamba-Nya. Tapi, bukankah kita semua
milik Allah? Jika Allah meminta kembali yang diciptakan-Nya, apakah mungkin
kita bisa menolaknya? Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perenungan kita.
Tentang
perempuan-perempuan yang menjadi korban keganasan sang lokomotif sampai harus
menghilangkan 16 nyawa dan 84 korban luka-luka berat dan ringan, mereka bisa
disebut sebagai perempuan-perempun perkasa. Mereka setiap hari bertaruh nyawa
hanya untuk mengais rezeki yang memang telah diberikan Tuhan, tapi mereka harus
dengan kerja keras. Mereka
perempuan-perempuan perkasa yang berdesak-desakan di KRL sejak subuh buta
sampai hari menjelang senja. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang terpaksa
harus meninggalkan sang anak yang semestinya sepenuhnya dalam belaian kasih
sayangnya. Mereka perempuan-perempuan perkasa yang turut berperan dalam
mensejahterakan keluarganya demi keberlanjutan hidup yang tidak bisa diharapkan
hanya dari rezeki pasangan hidupnya.
Mereka layak disebut sebagai perempuan-perempuan perkasa sebagaimana
Hartojo Andangdjaja menulis dalam salah satu puisinya “Perempuan-Perempuan
Perkasa”.
Perempuan-Perempuan
Perkasa
Hartojo Andangdjaja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari
manakah mereka
Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, ke manakah
mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah
mereka
Mereka ialah ibu-ibu yang perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cintakasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.
Perempuan-perempuan perkasa abad 21
jelas tidak membawa bakul. Tapi, mereka membawa tanggung jawab yang secara
moral jauh lebih berat ketimbang membawa bakul karena mereka juga harus
meneruskan estafeta kehidupan keluarganya. Perempuan-perempuan perkasa abad 21
menjejali stasiun-stasiun kereta api seraya berebutan masuk gerbong yang telah
sesak dengan penumpang dengan tujuan yang sama ke pusat-pusat kota untuk
mengais rezeki. Perempuan-perempuan abad 21 sebagian besar bukan dari
bukit-bukit yang ada di desa-desa, tapi mereka datang dari rumah-rumah KPR yang
masih berutang sekian tahun lagi untuk bisa melunasinya. Perempuan-perempuan
perkasa abad 21 dari hari-ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun sebagian
waktunya hidup berkendara di atas roda-roda baja. Perempuan-perempuan perkasa
abad 21 terkadang harus berhadapan dengan aturan-aturan kerja yang membuat
mereka tidak berdaya manakala mereka melanggar aturan-aturan kerja yang cenderung
tidak manusiawi. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 juga sama dengan
perempuan-perempuan perkasa dari bukit-bukit pedesaan, mereka memiliki cinta
kasih bergerak menghidupi keluarga. Perempuan-perempuan perkasa abad 21 yang
berjuang dari pagi buta, berebut masuk KRL di saat pergi dan pulang, mereka
harus meregang nyawa manakala lokomotif yang ada di belakangnya dengan dahsyat
meluluhlantakkan gerbong KRL yang ada di hadapannya. Ah, tidak ada seorangpun di dunia
ini yang meminta akhir hidupnya ditabrak kereta api yang melaju kencang. Takdir
Allah berkata lain, mereka telah diakhiri hidupnya oleh Allah dengan sesuatu
yang tragis.
Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad
21 telah menyisakan seorang suami yang seiya sekata dalam menata kehidupan dan
merancang masa depan yang lebih baik. Kepergian perempuan-perempuan perkasa
abad 21 telah meninggalkan anak-anak yang semestinya masih dalam dekapannya
karena curahan kasih sayang mutlak dimiliki oleh sang ibu. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah mengandaskan mimpi-mimpi indah
mereka-mereka yang masih banyak berharap dari uluran tangannya. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 telah banyak memberikan hikmah buat kita
yang ditinggalkan bahwa sebuah perilaku tidak disiplin yang masih banyak dianut
oleh anak bangsa ini akan berakibat fatal. Kepergian perempuan-perempuan
perkasa abad 21 menjadi sebuah teguran buat pengelola bangsa ini agar segera
membenahi pembangunan yang sampai saat ini masih banyak salah urus dan terbengkalai diakibatkan oleh korupsi. Kepergian
perempuan-perempuan perkasa abad 21 menjadi alat koreksi perilaku
pejabat-pejabat publik bangsa ini yang masih bergiat melakukan aktivitas yang
merugikan anak bangsanya sendiri (lagi-lagi korupsi). Kepergian perempuan-perempuan
perkasa abad 21 menjadi sebuah pembelajaran buat kita semua untuk kerap melakukan
koreksi diri. Kepergian perempuan-perempuan perkasa abad 21 memunculkan sebuah
pertanyaan yang muncul di benak kita: maukah bangsa ini berubah dari sekian banyak keburukan
ke arah kebaikan?
Orang yang masih punya hati nurani yang bersih pasti sangat berminat untuk melakukan perubahan dari keburukan ke kebaikan. Kalau ada yang masih ngotot tidak mau melakukan perubahan, orang semacam ini perlu dicurigai: jangan-jangan orang ini telah sakit jiwanya! Termasuk orang-orang yang sakit jiwanya adalah orang-orang yang semakin bertambah umur semakin giat mengumpulkan harta dari cara-cara yang ilegal (apalagi kalau bukan korupsi dan sejenisnya). Orang-orang seperti ini tidak pernah dan tidak mau belajar dari setiap musibah yang menimpanya. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham memupus harapan masa depan perempuan-perempuan perkasa abad 21. Orang-orang seperti inilah yang merusak perilaku anak bangsa. Orang-orang seperti inilah yang memiliki saham terbesar dalam memutuskan potongan hati yang tertinggal. Wallahu a`lam bissawab!
Jumat, 10 April 2026
Bahasa dan Sastra (247)
Negeri Kolam Susu
Koes Plus
Bukan lautan
hanya kolam susu
Kail dan jalan
cukup menghidupimu
Tiada badai
tiada topan kau temui
Ikan dan udang
menghampiri dirimu
Bukan lautan
hanya kolam susu
Kail dan jala
cukup menghidupmu
Tiada badai
tiada topan kau temui
Ikan dan udang
menghampiri dirimu
Orang bilang
tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan
batu jadi tanaman
Orang bilang
tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan
batu jadi tanaman
Ada negeri diberi
embel-embel “kolam susu”. Jadilah “negeri kolam susu” nama negeri itu. Itulah
Indonesia. Negeri elok yang jika dilihat dari petanya saja seperti untaian
permata manikam yang tersusun demikian indahnya. Itu baru dilihat dari tampilan
petanya. Ternyata, negeri ini memang elok bukan dari petanya, tapi juga dari
keindahan pantai-pantainya yang dijejeri sekian ribu bahkan ratusan ribu
(mungkin juga jutaan) pohon kelapa. Sepanjang mata memandang selain pohon-pohon
kelapa juga ada di sebagian tempat bukit-bukit hijau yang jika digali masih ada
kekayaan alam yang tidak terhingga. Jika tidak berkeinginan menggalinya, tanam
saja pohon-pohon keras yang bisa dituai hasilnya di kemudian hari. Bukankah
negeri kolam susu itu hanya dengan ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’?
Negeri kolam susu
yang lautnya 70% dari keseluruhan luas negeri itu dihuni oleh beragam makhluk
laut dan jutaan (bahkan boleh jadi milyaran) yang ada di laut itu siap untuk
dimanfaatkan oleh penduduk negeri kolam susu. Dijamin tidak akan habis-habisnya
untuk dipancing atau ditangkap makhluk laut yang ada di lautan negeri kolam
susu itu. Bukan hanya makhluk-makhluk laut yang ada di lautan, jika dilakukan
eksplorasi, ternyata masih banyak terpendam sumber-sumber minyak bumi yang
dijamin bisa memenuhi kebutuhan rakyat negeri kolam susu akan BBM. Bukan hanya
itu, dari minyak-minyak yang digali masih bisa digunakan industri-industri yang
menggunakan baik untuk bahan bakunya maupun untuk menggerakkan mesin-mesin
industrinya. Pendek kata, negeri kolam susu dijamin dalam beberapa tahun ke
depan (entah 20, 30, atau 50 tahun) tidak akan mengalami krisis BBM asal benar
saja pengelolaannya.
Kekayaan alam
Indonesia seperti yang ditulis Anne Ahira sebagai negara dengan tingkat
biodiversitas (keanekaragaman hayati) kedua di dunia setelah Brazil (http://www.anneahira.com/kekayaan-alam-indonesia.htm#).
Sebagai negara yang berada di garis katulistiwa, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati
sangat tinggi; tumbuhan tipe Indo-Malaya yang arealnya paling luas; hewan tipe
oriental Asia, Australia, serta peralihan; hewan dan tumbuhan langka yang
sangat banyak; dan kaya akan hewan dan tumbuhan endemik. Oleh karena itu,
wajar-wajar saja jika keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki
keunikan. Keanekaragaman hayati yang ada di
negara ini jika dikelola dengan baik diharapkan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Itu baru dari
keanekaragaman hayatinya, bagaimana dengan kekayaan alam Indonesia lainnya,
seperti gas alam atau hasil pertambangan? Kalau mau dieksplorasi masih sangat
banyak kekayaan alam Indonesia dari hasil tambang. Gas alam, misalnya, karena
Indonesia memiliki banyak gunung, pegunungan, dan perbukitan, tidak mustahil
jika dieksplorasi Indonesia bisa jadi negara terkaya dalam memiliki
sumber-sumber gas alam. Selain gas alam, hasil-hasil tambang lainnya yang
sampai saat ini masih digali seperti emas, timah, tembaga, batu bara, atau
berbagai jenis mineral lainnya memberikan devisa buat negara yang tidak
sedikit. Semua hasil tambang dan mineral itu kalau dikelola dengan baik
diharapkan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Dari sektor
pariwisata Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tidak salah jika
negeri ini disebut sebagai “surganya dunia”. Lihat saja pegunungan-pegunungan
di Indonesia yang membujur dari barat di Sumatera sampai di timur, itu semua
menampilkan sekian banyak tempat wisata yang siap dimanfaatkan bagi masyarakat
yang ingin mengisi liburan atau sekedar melepaskan kejenuhan. Jajaran
pegunungan masih bersambung di Jawa yang jika ditarik garis lurus dari barat di
Provinsi Banten sampai ke ujung timur di Provinsi Jawa Timur menawarkan pesona
alam yang luar biasa. Masyarakat yang punya hobi arum jeram, sungai-sungai di
Indonesia siap menyalurkan hobinya. Masyarakat yang punya hobi berpetualang ke
alam bebas (hutan, misalnya), hutan-hutan Indonesia siap menyalurkan hobinya.
Masyarakat yang punya hobi pada peninggalan-peninggalan kuno, Indonesia punya
warisan candi-candi, museum-musem, atau bangunan-bangunan kerajaan yang siap
menerima kehadirannya. Masyarakat yang punya hobi bersilancar di laut,
pantai-pantai di Indonesia siap menyalurkan hobinya karena dijamin akan
aman-aman saja (bukankah ini negeri yang disebut "tiada topan tiada badai
kau temui?"). Masyarakat yang punya hobi kuliner, di beberapa kota yang
dikenal sebagai kota-kota wisata kuliner siap mengenyangkan perut-perut
wisatawan yang punya hobi kuliner. Masyarakat yang punya hobi pada hasil-hasil
industri kreatif, kota-kota di Indonesia yang memiliki sentra-sentra industri
kreatif siap menerima kehadirannya untuk memenuhi seleranya. Pendek kata,
wisata di Indonesia memberikan banyak tawaran yang bisa memuaskan para
wisatawan yang berhasrat memenuhi kepuasan batiniahnya. Dari sektor pariwisata
saja jika dikelola dengan baik dijamin bisa memberikan kesejahteraan bagi
rakyat Indonesia.
Indonesiaku “negeri
kolam susu” yang membuat rakyatnya selayaknya hidup seperti di surga karena
“tiada badai tiada topan kau temui” sehingga nelayan bisa mengail ikan dengan
nyaman dan aman. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang rakyatnya seharusnya
hidup berkecukupan karena “kail dan jala cukup menghidupimu” sehingga lautan
yang membentang luas itu siap memenuhi kebutuhan para nelayan. Indonesiaku
“negeri kolam susu” yang “orang bilang tanah kita tanah surga” karena “tongkat
kayu dan batu jadi tanaman”. Dari “tongkat kayu” yang ditancapkan itu akan
tumbuh tunas-tunas pohon yang kelak bisa dinikmati oleh para penanamnya.
Indonesiaku “negeri
kolam susu” ternyata jauh panggang dari api. Pengelola "negeri kolam
susu" ini karena keserakahannya, kebodohannya, kehausan
kekuasaannya, dan tentu saja kealpaannya sampai-sampai tidak ingat pada rakyat
kecil yang mereka selayaknya juga mendapat bagian dari kekayaan negeri ini.
Indonesiaku “negeri kolam susu” berubah jadi “negeri kolam air mata” karena
banyak rakyat negeri ini yang setiap hari menangisi kemiskinannya. Ah,
"negeri kolam susu" yang telah berganti jadi "negeri kolam air
mata" sudah seperti nasibnya Kapal Titanic. Wallahu a`lam
bissawab.
Senin, 30 Maret 2026
Bahasa dan Sastra (246)
Hoax Hasanah
Subagio
S.Waluyo
Suatu saat seseorang memposting sebuah
tulisan dari grup WA yang selama ini dipercaya sumber tulisannya ke grup WA
lainnya. Beberapa saat setelah di-posting ada salah seorang anggota grup WA
yang langsung mengomentarinya `hoax` (tulisan tersebut dianggap bohong,
sulit dipertanggungjawabkan isinya). Orang itu tidak kaget atau gusar (apalagi
marah) kalau postingannya dikomentari `hoax,`. Dia cukup menjawab `hoax`
yang bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya: `hoax` kok bermanfaat?
Kita
perlu melihat dulu hal-hal yang
berkaitan dengan hoax baik pengertiannya, asal-usulnya, dan efek dari
hoax itu sendiri sebelum menjawab pertanyaan di atas. Hoax yang sekarang
ini menjadi perbincangan hangat baik yang terdapat di media cetak maupun media
sosial (online), menurut Wikipedia ialah usaha untuk menipu atau
mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta
berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu (https://id.wikipedia.org/wiki/).
Sedangkan menurut Kamus Inggris Indonesia oleh John M.Echols dan Hassan
Shadilly (1997:300) adalah olok-olokan; ceritera bohong; memperdayakan. Dengan kata lain, hoax adalah kabar
palsu yang sengaja disebar untuk membuat kehebohan publik.
Hoax
menurut Robert Nares (brilio.net dari WikiWand) berasal dari kata `hocus`
yang berarti `menipu`. `Hocus` sendiri semula digunakan dalam permainan
mantra sulap yang merupakan kependekan dari `hocus pocus`. Istilah `hoax`
menjadi populer sejak pemutaran film The Hoax (2006). Film yang
dibintangi Richard Gere dan disutradarai
Lasse Hallstrom yang skenarionya ditulis oleh William Wheeler ini diangkat dari
sebuah buku oleh Clifford Irving dari judul yang sama, yakni The Hoax.
Kepopuleran film ini menyebabkan setiap orang manakala berhadapan dengan sebuah
berita atau informasi yang patut diduga memuat kebohongan (sumbernya tidak
jelas dan kurang dipercaya) dengan mudahnya ikut-ikutan (latah) menyebutnya
sebagai `hoax`. Sejak saat itu kata `hoax` menjadi sangat
populer.
Efek
samping adanya hoax paling sedikit ada empat efek (https://www.
merdeka.com/teknologi/4-bahaya-mengintai-dari-kabar-hoax-di-dunia-maya).
Pertama, hoax buang-buang waktu dan uang karena membaca hoax
dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit baik bagi individu maupun badan
usaha yang indikatornya dapat diketahui dari produktivitas yang menurun akibat
kabar hoax. Kedua, hoax bisa menjadi pengalih isu. Hal itu
dilakukan oleh penjahat cyber untuk memuluskan aksi ilegalnya. Ketiga, hoax sesuai dengan pengertian
di atas dijadikan sarana untuk melakukan penipuan publik. Sudah banyak korban
dari para pelaku penjahat cyber ketika mereka melakukan penipuan publik
di dunia maya. Tujuannya sudah jelas agar kerja-kerja mereka yang terbilang
kotor dan penuh kenistaan dapat berjalan lancar. Keempat, berkaitan dengan butir ketiga di
atas, hoax jelas-jelas bisa menjadi pemicu kepanikan publik. Artinya,
kalau publik sudah banyak yang tertipu, tentu saja akan muncul kepanikan
publik. Justru inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penjahat cyber untuk
memenuhi hasratnya, entah itu hasrat kekayaan, seksual atau kekuasaan.
Kembali
pada uraian di awal tulisan, seseorang yang postingannya dianggap hoax
yang ditanggapi dengan dingin-dingin saja bahkan dia balas dengan hoax
yang bermanfaat, boleh juga hoax hasanah, karena isi postingannya
menurutnya tidak memberikan efek negatif. Dia tunjukkan butir-butir
postingannya yang menurutnya bermanfaat bagi si pembaca sebagaimana terlihat
pada potongan postingan di bawah ini.
“…penyebab
utama kerusakan hati adalah tidur terlalu malam&bangun terlalu siang”
Insya Allah banyak orang yang setuju dengan pernyataan di atas karena memang orang yang tidur terlalu malam kalau dia bangun pagi kondisi fisiknya tidak sesegar orang yang tidur cepat dan bangun di pagi hari. Orang yang tidur cepat (tidur sore-sore) dia bisa bangun sebelum subuh. Buat seorang Muslim dia masih sempat salat tahajud diteruskan dengan salat subuh kondisi fisik terlihat sehat. Kondisi hatinya juga, Insya Allah, sehat sehingga dia bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan penuh keceriaan. Bagaimana dengan orang yang tidur terlalu malam? Mana mungkin dia bisa bangun cepat? Kalau dia bangun cepat, bisa dijamin kepalanya akan pening karena kurang tidur. Kalau di pagi hari sudah diawali dengan kepala yang pening, bagaimana dia bisa melakukan aktivitas hariannya? Agar terlihat fit dan penuh vitalitas, dia akan mengkonsumsi obat-obat penguat atau suplemen. Tetapi, semua yang dia masukkan ke dalam tubuhnya tidak akan menyehatkan. Suatu saat dia akan ambruk karena tubuhnya telah diracuni oleh berbagai suplemen yang tidak menyehatkan
Pernyataan berikut yang juga patut diapresiasi adalah berikut ini.
“Jangan
makan makanan berat setelah jam 18.00 malam”
“Minum
lebih banyak air putih di pagi hari, malam lebih sedikit.”
“Jam
tidur yang paling baik jam 22.00 malam sampai jam 03.00 pagi.”
“Jangan
terlalu cepat berbaring setelah minum obat.”
Memang,
ada beberapa kutipan berikut ini yang
tampaknya perlu penelitian lebih lanjut.
“Begadang&bangun
terlalu siang mengacaukan metabolisme tubuh”
“Selain itu dari tengah malam s.d. Pukul 04.00
dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.”
“Jawablah
telpon menggunakan telinga sebelah kiri.”
“Ketika
baterai ponsel tinggal satu jangan angkat telpon karena radiasi meningkat
hingga 100 kali.”
Pertanyaannya, apakah kutipan-kutipan
di atas yang dianggap hoax jika dikaitkan dengan efek negatif dari
adanya hoax di antaranya memberikan pengaruh pada kepanikan publik?
Apakah kutipan-kutipan di atas bisa ditengarai sebagai salah satu cara
pengalihan isu? Apakah ada hasrat tertentu dari penulis postingan itu dengan
menulis seperti kutipan-kutipan di atas? Kalau memang jawabannya negatif,
postingan yang dianggap hoax karena unsur manfaatnya lebih banyak dari
unsur mudaratnya bisa dianggap hoax hasanah.
Memang
harus diakui semua tulisan yang tidak jelas sumbernya wajib hukumnya untuk
diteliti dengan cermat agar siapapun orangnya terhindar dari menyebarkan hoax.
Tetapi, sepanjang tulisan tersebut ada manfaatnya bagi orang yang membacanya
dan tidak ada indikasi menimbulkan kepanikan tidak ada salahnya untuk
dikonsumsi sendiri. Artinya, tidak perlu disebarluaskan lagi. Meskipun
demikian, siapapun orangnya ketika memposting sebuah tulisan, kalau di dalamnya
memuat sebuah atau beberapa pernyataan tetap harus menyebutkan sumbernya agar terhindar
dari hoax. Sudah saatnya semua orang yang memposting tulisan untuk
membiasakan diri bersikap ilmiah. Salah satu sikap ilmiah yang perlu
ditunjukkan adalah tidak ada lagi keraguan untuk mencantumkan sumber tulisan
walaupun hanya satu kata/frase. Selain itu, hindari sikap berbohong bahwa
tulisannya diangkat dari hasil penelitian para ilmuwan di sebuah/ bebarapa
perguruan tinggi di negara-negara maju. Mudah-mudahan semakin hari semakin
banyak orang yang sadar dari perilaku buruk untuk tidak lagi membuat tulisan
yang diduga hoax. Sebaliknya, makin banyak orang yang menegakkan
kejujuran dalam mempertanggungjawabkan tulisannya. Wallahu a`lam bissawab.
Kamis, 05 Maret 2026
Bahasa dan Sastra (245)
MENYOAL TENTANG NYINYIR
Subagio S.Waluyo
Orang
yang nyinyir tidak sama dengan orang yang kritis. Orang yang nyinyir juga tidak
sama dengan orang yang peduli. Orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri,
dengki, atau hasad. Orang yang kritis sudah pasti berangkat dari kejernihan
berpikir dan hati yang bersih. Orang yang peduli berangkat dari kepekaan.
Sebagai bukti kalau orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri, hati yang
dengki, atau hasad, dia selalu melihat orang atau kelompok lain dari sisi
negatifnya. Atau dia selalu melihat semua yang dikerjakan orang atau kelompok
pasti dinilainya buruk. Dia tidak pernah melihat dari sisi positifnya. Tidak
aneh kalau orang yang nyinyir selalu tidak pernah memberikan pendapat, jalan
keluar, atau solusi
Orang
yang punya kebiasaan nyinyir tidak pernah memberikan pendapat atau solusi. Dia
cenderung berbust `lempar batu sembunyi tangan` atau `hit and run`. Dengan kata
lain, orang semacam ini bisa digolongkan sebagai orang yang tidak bertanggung
jawab. Kalau dari hasil nyinyirannya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan,
timbul masalah, dia akan lari dari tanggung jawab. Dia akan berupaya
menghindar. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang yang berperilaku
seperti itu. Orang yang selalu saja membuat ulah baik lewat ucapan maupun
tulisan. Ucapan atau tulisannya sulit untuk dipertanggungjawabkan karena
berangkat dari sinisme.
***
Istilah
sinisme menurut A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213)
ialah sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan
kritik. Dalam istilah yang ada di media sosial (medsos) biasa disebut
`nyinyir`. Sebagai bukti kalau istilah sinisme ada kemiripan dengan `nyinyir di
dunia medsos bisa dilihat dari pengertian `nyinyir` menurut orang-orang yang
terlibat di dunia maya (netizen). Para netizen sepakat menganggap nyinyir ini
sama artinya dengan menggunjing, menyindir atau mengkritik seseorang atau pihak
lawan. Si tukang nyinyir ini, menurut para netizen artinya sama saja dengan
tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik, dan menggunjing orang lain
dan tukang sebar berita hoax (https://inspirasipedia.com/2019/04/20/apa-itu-nyinyir/).
Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang
kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah
orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme.
Orang-orang
penganut paham sinisme adalah orang-orang yang tidak bisa mengendalikan diri,
emosi, atau (boleh juga) hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan
akan memunculkan hal-hal yang negatif dalam diri seseorang. Wajar-wajar saja
kalau orang yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu memunculkan
penyakit-penyakit hati entah dengki, iri, atau hasad. Penyakit-penyakit hati
inilah yang menjadi faktor penyebab orang yang biasa di dunia medsos
memunculkan ungkapan-ungkapan `nyinyir`. Orang yang biasa `nyinyir` tidak
pernah berpikir akibat dari perbuatannya. Begitu juga orang yang terbiasa
membuat cuitan-cuitan yang negatif di medsos tidak pernah berpikir akibat
cuitan-cuitannya. Contoh-contoh cuitan `nyinyir` yang biasa ditemukan di dunia
medsos bisa dilihat berikut ini.
1. “Rame gini
palingan piara jin”
2. “Hamil duluan
ni pasti”
3. “Riya` amat,
sedekah diumbar-umbar pahalanya abis woy”
4. “Apaan, sayang
sekolah tinggi-2 kalo di rumah nyuci gosok momong anak doang”
Dari
`nyinyiran` di atas, coba kita ungkapkan satu persatu isi `nyinyiran` tersebut.
`Nyinyiran` nomor satu ditujukan buat pedagang yang baru saja membuka usahanya
yang langsung diserbu pengunjung. Orang yang suka `nyinyir` ada kemungkinan mengeluarkan `nyinyiran`: “Rame
gini palingan piara jin” (Banyaknya pengunjung ada kemungkinan sang pedagang
menggunakan jin). Orang yang menyampaikan `nyinyiran` ini sudah pasti orang
yang berprangsaka buruk. Kalau berpikir positif, dia akan menyampaikan boleh
jadi banyaknya pengunjung karena ketika launching ada diskon besar-besaran atau doorprize yang
menarik. Masih banyak lagi hal positif yang dilakukan pedagang ketika membuka
usahanya. Untuk `nyinyiran` nomor dua ditujukan buat mereka yang menikah muda.
Repotnya ketika orang yang punya hobi `nyinyir` sering kelewatan menyampaikan
`nyinyiran`. Ini bisa menyinggung perasaan orang (tujuan utama orang bikin
`nyinyiran` `kan untuk menyakiti orang?). Pasangan pengantin yang menikah muda
kok ditulis: “Hamil duluan nih pasti”? Bukannya mendoakan orang yang menikah
malah memunculkan `nyinyiran` yang `nyelekit` dan bikin orang tersinggung
berat. Masih untung kalau tersinggung, tapi kalau sampai dituntut ke
pengadilan?
Untuk
`nyinyiran` nomor empat, kalau saja tidak memunculkan `nyinyiran`: “Riya` amat, sedekah diumbar-umbar pahalanya
abis woy” orang akan mengapresiasinya (tapi kalau bukan seperti itu
pernyataannya bukan lagi `nyinyiran`).
Di sini sang pembuat `nyinyiran` (mudah-mudahan) punya maksud baik. Dia
mengingatkan pada orang yang bersedekah agar tidak menyebut-nyebut entah jumlah
uangnya yang disedekahkan atau memamer-mamerkan barang yang disedekahkannya.
Karena kalimatnya seperti tertera di atas, terkesan sarkasme sehingga tidak
mustahil orang yang membacanya menilai sebagai orang yang tidak berakhlak. Niat
baik seharusnya disertai dengan komentar yang baik.
`Nyinyiran`
terakhir tertuju pada seorang ibu rumah tangga yang tentu saja berpendidikan
tinggi. Sang ibu cenderung lebih memilih mengurus rumah tangga daripada
bekerja. Sang ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga ini aktivitas
kesehariannya bisa ditebak mengurusi anak-anak, suami, dan urusan rumah tangga
lainnya (memasak, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah). Kalau sang suami
termasuk orang yang mapan pekerjaan dan usahanya, sebenarnya tidak ada masalah.
Tapi, kalau sebaliknya dari sisi penghasilan tidak mencukupi, tidak ada
salahnya sang istri juga ikut bekerja atau berwirausaha (apalagi sekarang juga
ada bisnis online yang tidak perlu seorang istri keluar rumah). Jadi, orang
yang mengomentari keputusan seorang ibu rumah tangga yang mau sepenuhnya
mengurus rumah tangganya perlu diapresiasi. Bukan malah dikomentari dengan nada
sumbang yang bikin orang tidak berempati.
***
Orang-orang
yang sering berkomentar dengan nada-nada sumbang alias `nyinyir` adalah orang
yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Orang-orang seperti
itu sudah pasti tidak bisa memanfaatkan waktunya. Waktunya hanya dihabiskan
untuk melihat sisi-sisi negatif yang ada pada orang lain. Bisa jadi setiap
senti dari fisik orang yang diamatinya selalu tampak di matanya ada kekurangan.
Mereka tidak pernah melihat sisi-sisi positif dari orang yang diamatinya.
Begitupun ketika melihat skala yang lebih besar: masyarakat atau negara
sekalipun selalu saja di matanya ada sisi-sisi negatif. Wajar-wajar saja kalau orang
seperti itu punya sangka buruk, tidak bisa berpikir positif, selalu ada rasa
iri, dan (tentu saja) ada sikap merendahkan orang lain. Wajar-wajar juga kalau
yang keluar entah dari mulutnya atau tangannya (tulisan-tulisannya)
ungkapan-ungkapan yang `nyelekit` dan membikin orang atau masyarakat
tersinggung. Dari situ saja bisa
disimpulkan (kalau mereka muslim) kadar keimanan dan akhlaknya rendah (minim).
Kadar keimanan dan akhlak seseorang bisa
dilihat dari ucapan dan juga tulisannya. Iman dan akhlak dua hal yang tidak
bisa dipisahkan. Akhlak merupakan refleksi iman. Orang yang imannya baik,
akhlaknya juga baik. Sebaliknya, akhlak yang buruk merupakan refleksi dari iman
yang buruk. Jadi, tulisan-tulisan di atas (yang diambil sebagai contoh) bisa
dipastikan adalah orang-orang yang akhlaknya minim karena kalau akhlaknya baik
tidak mungkin mereka menyampaikan pernyataan-pernyataan lewat tulisan yang
`nyelekit` dan membikin orang terpukul jiwanya. Orang-orang yang akhlaknya
minim senang melihat orang terpukul jiwanya. Bisa jadi orang-seperti ini adalah
orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Paling tidak orang-orang seperti
ini adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian atau bipolar.
***
Apakah
kebiasaan `nyinyir` itu harus dibiarkan berlarut-larut? Kalau sudah diketahui
kebiasaan `nyinyir` itu merupakan kebiasaan buruk, tidak ada salahnya
ditinggalkan. Bukankah kebiasaan `nyinyir` itu memang refleksi lemahnya
keimanan? Agar tidak terjadi kelemahan iman yang berakibat pada rusaknya akhlak
tidak ada salahnya kebiasaan `nyinyir` itu dibuang jauh-jauh. Bagaimana
caranya? Ada tips yang menarik untuk diterapkan dari tulisan berikut ini.
Silakan disimak mudah-mudahan ada manfaatnya.
“Apabila
Anda termasuk orang yang mudah nyinyir, mulailah berubah dari sekarang. Jangan
biarkan sifat nyinyir tersebut hinggap berlarut-larut dalam diri Anda.
Bersihkan aura negatif dari dalam diri, dan masukkan semua hal positif ke dalam
diri Anda.
Bersyukurlah
atas segala hal yang Anda miliki, yang paling sederhana sekalipun. Berhentilah
membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Daripada
mengomentari orang lain, lebih baik Anda mencari kesibukan yang bersifat
positif, misalnya dengan mengikuti komunitas yang sesuai hobi atau bergabung di
kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat mengalihkan pikiran negatif Anda dan
tentunya membuat hidup Anda menjadi lebih bahagia”.
Bahasa dan Sastra (259)
`Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...
-
Profesor dan Segumpal Daging Cerpen Subagio S.Waluyo Prof Sanusi pagi itu begitu kaget ketika di meja kerjanya, di...
-
Potongan Hati yang Tertinggal Subagio S. Waluyo Mengenang ibu-ibu perkasa yang telah dipanggil Allah di gerbong terakhir KRL...
-
Proses Kreatif Saya dalam Menulis Cerpen Subagio S.Waluyo Bermula dari Sini Dulu! Sebelum memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan pros...
.jpg)























.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)