Senin, 05 Oktober 2020

Kebahasaan dan Kesastraan (88)

 

Menyoal tentang Cinta Kasih


Subagio S. Waluyo


ALL YOU NEED IS LOVE 

                             The Beatles 

Love, love, love.

Love, love, love.

Love, love, love.

 

There's nothing you can do that can't be done.

Nothing you can sing that can't be sung.

Nothing you can say but you can learn how to play the game.

It's easy.

 

Nothing you can make that can't be made.

No one you can save that can't be saved.

Nothing you can do but you can learn how to be you in time.

It's easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.


Love is all you need.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

Nothing you can know that isn't known.

Nothing you can see that isn't shown.

Nowhere you can be that isn't where you're meant to be.

It's easy.

 

All you need is love.

All you need is love.

All you need is love, love.

Love is all you need.

 

All you need is love (all together, now!)

All you need is love. (everybody!)

All you need is love, love.

Love is all you need (love is all you need).

 

Yee-hai!

Oh yeah!

She loves you, yeah yeah yeah.

She loves you, yeah yeah yeah.

***

Sebelum kita membicarakan konsep cinta kasih yang kita kaitkan dengan yang terdapat pada karya sastra, ada baiknya kita simak potongan syair lagu berikut ini.

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

 

Perasaan insan sama

Ingin nyinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Pernahkah kita mendengar potongan syair di atas?  Kalau kita pernah mendengarnya, apa yang dapat kita ambil hikmah dari potongan syair tersebut?  Kalau kita belum bisa mengambil hikmahnya, coba kita analisis potongan syair di atas.  

Pada bait pertama si penyair menulis:

Rasa cinta pasti ada

Pada makhluk yang bernyawa

Sejak dulu sampai kini

Tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya

Sampai datang akhir masa

Renungkanlah

Dari potongan bait pertama tersebut, penyair itu mengatakan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua makhluk.  Pernyataan tersebut memang tidak bisa kita tolak.  Artinya, penyair memang memberikan gambaran yang sebenarnya bahwa setiap makhluk pasti memiliki rasa cinta.  Jangankan manusia yang telah diberikan hati nurani, binatang pun dikaruniai rasa cinta.  Coba kita amati gambar berikut ini.  


***

Burung pipit di atas itu membawa makanan. Untuk siapa makanan tersebut? Tentu saja untuk pasangannya (betina) atau anaknya. Mengapa ia membawa makanan tersebut dan tidak dimakannya sendiri? Kita bisa mengatakan bahwa ia membawa makanan tersebut (yang akan diberikan pada pasangannya atau anaknya) karena ia memiliki rasa cinta pada sesamanya.  Bukankah demikian? Jika hewan seperti itu saja memiliki rasa cinta, bagaimana kita makhluk Tuhan yang demikian sempurna ciptaannya?

Rasa cinta yang dimiliki semua makhluk ciptaan Tuhan juga tidak akan hilang. Ia akan tetap abadi pada kehidupan manusia. Ia baru akan hilang manakala telah berakhir masa kontrakannya di dunia alias berakhir masa hidupnya. Karena itu, cinta itu tak akan hilang begitu saja Jadi, meskipun ada manusia yang telah berlumpur noda dan dosa, di dalam relung hatinya yang paling dalam pasti masih ada rasa cinta.  Meskipun ia mengaku telah tidak memiliki lagi rasa cinta, ia pasti telah berbohong pada dirinya sendiri karena sebenarnya Tuhan telah memberikan rasa cinta kepada semua makhluknya.  Dengan demikian, kita tidak bisa lagi untuk  mengingkari bahwa rasa cinta memang ada pada diri kita semua.  Sekali lagi, rasa cinta tersebut baru akan hilang ketika Tuhan (melalui malaikat-Nya) telah mencabut nyawa kita.

Coba kita perhatikan bait puisi berikutnya:

Perasaan insan sama

Ingin cinta dan dicinta

Bukan ciptaan manusia

Tapi takdir yang Kuasa

Janganlah Engkau mungkiri

Segala yang Tuhan beri

Renungkanlah

………………………………

Kalau sesama manusia ada rasa cinta, maka layaklah ada rasa saling mencintai di antara sesama manusia. Perasaan demikian pada setiap makhluk Tuhan yang (bernyawa) pasti sama karena rasa tersebut memang bukan ciptaan manusia.  Ia merupakan takdir yang Kuasa, yang diberikan pada setiap insan.  Untuk itu, kita tidak bisa memungkirinya segala yang telah diberikan Tuhan termasuk ke dalamnya rasa cinta itu sendiri.

Berkaitan erat dengan uraian di atas, jika kita perhatikan karya-karya sastra, hampir semua karya sastra, apakah ia berupa prosa maupun puisi selalu berbicara tentang cinta.  Cinta yang dibicarakan juga beragam.  Karena cinta itu beragam, menurut Erich Fromm ada lima tipe cinta, yaitu:

1.   cinta persaudaraan; 

2.   cinta keibuan; 

3.   cinta erotis; 

4.   cinta diri sendiri; dan 

5.   cinta terhadap Allah 

(Erich Fromm, 1990, 63 –103).

Dari kelima tipe cinta  tersebut, kita hanya membahas cinta persaudaraan dan cinta terhadap Allah.

***

1)      Cinta Persaudaraan

Seperti telah diuraikan bahwa rasa cinta dimiliki oleh semua insan sehingga ada rasa saling mencintai di antara sesama insan.  Rasa cinta juga dimiliki oleh seorang guru manakala berhadapan dengan murid-muridnya.  Boleh jadi cinta seorang guru pada para muridnya tidak mendapat respon.  Namun, meskipun sang murid tidak pernah membalas kasih sayang yang diberikan gurunya, sang guru tetap memberikan rasa cintanya.  Wujud cinta yang diberikan sang guru di antaranya seperti terlihat pada puisi berikut ini.    

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA

                                                    

                                                    Hartojo Andangdjaja

 

Apa yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu

sumber pengabdianku kepadamu

 

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku

kursi-kursi tua yang di sana

dan meja tulis sederhana

dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya

semua padamu akan bercerita

tentang hidupku di rumah tangga

 

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja

-----horison yang selalu baru bagiku----

karena kutahu, anak-anakku

engkau terlalu muda

engkau terlalu bersih dari dosa

Untuk mengenal ini semua

 

Solo, 1955

Cinta yang diwujudkan Hartojo Andangdjaja melalui puisinya di atas adalah berupa pesan pada para muridnya.  Pesan tersebut tersirat pada bait pertama yang mengatakan bahwa ia tidak punya apa-apa kecuali sedikit ilmu yang lebih merupakan sumber ilmu pengetahuan.  Ilmu yang sedikit itu diberikan pada para muridnya karena semata-mata rasa cinta.          

Di bait kedua tersirat bahwa hidupnya memang dicurahkan untuk murid-muridnya.  Sebagai bukti bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang tulus, makhluk Tuhan yang mengabdi untuk kepentingan umat manusia, ia tidak punya apa-apa.  Tidak punya apa-apa menunjukkan bahwa ia bekerja tidak semata-mata mencari keuntungan materi, tetapi ia bekerja untuk mencurahkan rasa kasih sayangnya pada sesama makhluk Tuhan, yaitu murid-muridnya.         

Meskipun ia miskin, ia tidak mau bercerita tentang kemiskinannya.  Ia tidak sampai hati untuk mengeluhkan kemiskinannya, tentang kehidupannya di rumah tangga karena ia memandang murid-muridnya sebagai makhluk Tuhan yang masih terlampau hijau untuk mengenal sisi-sisi gelap kehidupan gurunya.  Di sisi lain, ia memandang murid-muridnya adalah generasi muda yang kehidupannya harus lebih baik daripada gurunya.  Oleh karena itu, ia tidak ingin murid-muridnya mengikuti jejak langkahnya. Salah satu cara agar murid-muridnya tidak mengikuti langkahnya, selayaknya ia tidak perlu bicara di depan kelas tentang kehidupan rumah tangganya.         

Hartojo ingin menyampaikan pada kita semua, begitulah seharusnya kita selaku guru mencintai murid-muridnya. Kita tidak perlu mengeluh dengan menyampaikan pada anak didik kita tentang kehidupan kita yang terasa pahit karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup.  Dengan mengeluh di hadapan anak didik akan menjadikan kita sebagai guru yang bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain.Memang dengan menjadi guru seseorang telah menandatangani untuk siap hidup susah. Namun, di sisi-sisi lainnya sebenarnya seorang guru memiliki kekayaan cinta karena setiap hari, setiap saat ia memberikan cintanya kepada para muridnya, yaitu cinta persaudaraan.  

***

2)   Cinta terhadap Allah

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.  Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa,  Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik.  Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun.  Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.         

Cinta terhadap Allah harus menjadi landasan cinta manusia kepada siapapun. Entah cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan Tuhan.  Jika kita mencintai sesama kita karena Allah, kita akan terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Sebagai contoh, orang yang mencintai isterinya karena Allah akan terhindar dari cinta karena kecantikan, kecerdasan, keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan musnah.  Yang abadi hanya keimanan.  Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi iman (karena Allah semata).  Dengan kata lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.

Hidupku Milikmu

 

                              Ebiet G.Ade

 

Ketika aku mencari cahayaMu

Menerobos lewat celah dedaunan

Bersilangan semburatmu dalam kabut

Aku terpaku aku terpana

Aku turut didalam

Nyanyian burung-burung

Gemuruh didadaku

Sirna bersama keheningan rimba raya

 

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang-bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya

 

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

 

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu  

Cinta yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan.  Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam.  Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu seperti terlihat pada  untaian lagu di bawah ini.Bisakah dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”.  Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.  Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya, yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.         

Itu baru ciptaan Tuhan yang tertangkap oleh panca indera.  Bagaimana dengan ciptaan Tuhan yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita?  Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang didengarnya, yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari sehingga ia  mengepalkan jari jemarinya dan menengadahkan kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.

Ketika aku mendengar suaraMu

Bergema diruang dalam jiwa

Mengalir sampai keujung jemari

Aku mengepal aku tengadah

Rindu yang aku simpan

Membawa aku terbang

Menjemput bayang bayang

Senyap ditelan keheningan rimba raya.               

Mengingat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan seseorang penasaran untuk mencari jawaban semua itu.  Ia akan berupaya mencari dan mencari untuk menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara fisik ia tidak akan bertemu:

Apapun tlah aku coba

Dan tak henti bertanya

Setiap sudut setiap waktu

Tak surut ku mencari

Pencarian itu akan menimbulkan rasa haus, rasa dahaga karena cintanya pada Tuhan.  Manakala kerinduan itu sudah semakin memuncak kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan itu?  Kerinduan itu sendiri tidak akan mungkin dibuang begitu saja karena ia sudah semakin menguat meski pada akhirnya ia merasa bahwa hidupnya hanya milik-Nya:

Kemana

Dimana

Aku lepas dahaga

Kepada siapa

Aku rebah bersandar

Tak mungkin kubuang

Rindu semakin dalam bergayut

Hidupku memang milikMu

Hanya untukMu 

***

Begitulah gambaran orang yang benar-benar telah jatuh cinta pada Tuhannya.  Ia tak akan mungkin merasa ragu karena jalan hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya pada Tuhan ia melepaskan dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya di saat-saat ia telah lelah mencari nilai-nilai kehidupan.  Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan kerinduannya karena  kepada Sang Khalik ia bersumnpah: Hidupku memang milikMu/Hanya untukMu.  

 


 

Kebahasaan dan Kesastraan (87)

 Menyoal tentang Keindahan

Subagio S. Waluyo




Kereta Berangkat Senja

                                                                                          Kurnia JR  

          Stasiun nampak sunyi karena bukan hari libur. Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu. Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.  Tetapi langit justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan di ufuk. Angin berkesiur lewat jendela.  Kereta tak penuh.  Aku bisa menganjurkan kaki ke bangku di mukaku.  Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.

          Gedung-gedung tampak sunyi di luar, terlebih-lebih ketika malam telah meliputi bumi.  Gelap.  Kereta sesekali berhenti untuk memberi kesempatan kereta dari arah yang berlawanan melintasi rel tunggal.  Pada saat-saat menanti seperti itu aku merasa ditindih beban berat di punggung.  “Let  it Be…”,  entah dari mana, The Beatles melantun ke hati. Tapi tak bisa!  Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.  Keteduhan biara dan janji-janji pada Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada.  Tahun-tahun berlalu tanpa membekaskan apa-apa.  Sakramen-sakramen dan doa-doa kudus mengering dari hatiku dan bibirku.  Pada kaca jendela kereta terlukis hantu lama dari lubuk hati; rumah Tuhan Yang Maha Agung tapi memerihkan hati.  Jiwa tandus, Tuhan – itulah sebagian dari kata-kata lama yang pernah terucap dalam kehidupanku dan kini tak ada lagi.  Aku menikah.

          Keputusan itu telah menghancurkan seluruh rencana bagi riwayat hidupku sejak ayah memberiku nama.  Meskipun demikian, aku sama sekali tak merasakan bahwa kejadian tersebut cukup luar biasa.  Pada mulanya aku bimbang sesaat, memilih-milih, lalu memutuskan.  Namun, akibatnya sungguh di luar perkiraan.  Batinku dilanda perang besar menghadapi tuntutan pertanggungjawaban yang menekan.  Aku sama sekali tak menyangka, demi Tuhan, bahwa jauh di sudut hatiku yang gelap bersemayam sejenis persengkolan yang menciptakan huru-hara dalam batinku, yang memburuku menuntut  sumpah suci pada biara!

          “Kau bertanggung jawab sepenuhnya pada diri dan kehidupanmu sendiri, Nak,” kata Guru. “Kau pula toh yang memikul segenap konsekuensi pilihanmu.”

          Aku tak berkata apa-apa, begitu juga hatiku.  Lahir batin, aku membisu, tidak pula berpikir.  Tak menyanggah ataupun membenarkan kata-katanya.  Aku hanya menunduk seolah merenung, padahal kepalaku kosong, hampa.

          Tahukah Anda bagaimana aku mengambil pilihanku? --ingin juga kukemukan kalimat itu padanya.  Tapi hatiku tak bergerak.  Guru yang tua itu agaknya menafsirkan kebungkamanku sebagai tanda selesainya pertemuan kami, entahlah.

          Selanjutnya aku hidup damai dengan peristiwa-peristiwa biasa.  Merencanakan kehidupan bersama serta anak-anak, dan seterusnya.  Hari-hariku menjadi teratur dan jadwal ke-giatan bersiklus bulanan, tak lagi harian atau tahunan sebagaimana sebelumnya biasa kujalani. Biaya-biaya dianggarkan secara teratur dan pengeluaran pun harus selalu diperhitungkan.Tetapi aku menerimanya sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.Semuanya kujalani tanpa kejutan atau luka, sampai Tuhan menegurku dengan cara-Nya sendiri pada suatu saat: suatu kecelakaan dan rumah tanggaku hancur.

…………………………………………………………………………………………


 ***

Kesan apa yang timbul setelah kita membaca potongan cerita pendek (cerpen) di atas?  Apakah ada nilai-nilai estetikanya? Untuk pertanyaan kedua ini kita bisa secara pasti mengatakan: ada!  Untuk itu, mari kita telaah kata-kata dan kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya nilai-nilai estetika pada potongan cerpen tersebut.

Potongan cerpen tersebut sebagaimana dikomentari oleh Korrie Layun Rampan, ketika diminta komentarnya tentang cerpen tersebut, sebagai cerpen yang lebih berupa cerpen esei daripada cerpen dalam arti konvensional, yaitu cerpen yang lebih cenderung berkisah.  Untuk menelaah cerpen yang cenderung berkisah dibutuhkan ketajaman imajinasi kita.  Di samping itu, juga diperlukan pemahaman filsafat yang mendalam.  Tentu saja, sebagai pelengkap, kita perlu pandai-pandai menangkap bahasa simbolik yang terkandung pada setiap kata, frase, atau kalimat.          

Pada paragraf pertama saja kita dapati ada empat buah kalimat yang menunjukkan kepiawaian penulis cerpen dalam mengungkapkan kalimat-kalimat yang memerlukan kerutan dahi seperti terlihat pada contoh berikut ini.

1) Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu.         

2) Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.

3) Tetapi langit justru lembayung –  matahari masih membekaskan keremangan di ufuk.

4) Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.

Pada keempat kalimat di atas, terutama pada bagian-bagian kalimat yang bergaris bawah, penulis menggunakan bentuk personifikasi yang terasa enak untuk dinikmati.  Coba saja kita uraikan, pada butir 1) penulis menggambarkan kereta api berjalan demikian perlahan karena baru saja berangkat dari sebuah stasiun.  Jalannya kereta api yang demikian perlahan itu seirama dengan berlalu-nya kenangan demi kenangan yang terlintas di benak penulis.  Kemudian pada butir 2) penulis mengharapkan suasana yang demikian sepi itu selayaknya disertai dengan gerimis atau cuaca murung (cuaca gelap manakala gerimis), ternyata pada butir 3) justru sebaliknya, matahari masih bersinar meskipun sinar itu telah meredup sehingga masih tersisa keremangan di ufuk barat.  Di penghujung akhir paragraf pertama ini penulis seperti yang terlihat pada butir 4) sekali lagi mengungkapkan betapa suara-suara roda-roda yang bergerak di atas kereta api itu diibaratkan sesuatu yang membuat pilu hatinya selama ini.         

Penulis cerpen tersebut telah berhasil melakukan prolog melalui paragraf pembuka yang ditampilkan dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan simbol bahasa.  Ia telah berhasil mengajak kita berimajinasi atau membayangkan yang dirasakan penulisnya.  Sejak awal kita diajak penulis cerpen untuk membayang- kan stasiun yang sunyi, kereta yang bergerak perlahan, cuaca yang menjelang sore hari, kereta api yang kosong, dan bunyi derit roda kereta api yang seolah-olah menyayat hatinya.  Suasana yang ditampilkan adalah suasana kesunyian sebagaimana juga terlihat pada paragraf kedua (yang juga merupakan paragraf pembuka).  Ia masih menampilkan gedung-gedung di sekitarnya yang tampak sunyi karena sudah tidak ada lagi aktivitas di gedung-gedung itu.  Kereta yang sesekali berhenti di stasiun kecil, karena harus menunggu kereta api yang lewat dari arah yang berlawanan, memberikan beban berat bagi si Aku akibat begitu banyaknya kenangan pahit yang tidak bisa dihilangkan, yang mengakibatkan ia tidak memperoleh ketenangan.

Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram. 

Ia bukan saja merasa tidak tenang, tetapi juga mulai tidak percaya pada agamanya karena … Keteduhan biara dan janji-janji Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada…. sehingga wajar-wajar saja kalau tempat ibadahnya selama ini, yang digambarkan sebagai rumah Tuhan, seperti …hantu lama dari lubuk hati …. Dengan demikian, si Aku merasa jiwanya tandus.  Sebagai salah satu solusinya, dalam rangka menghadapi kemelut tersebut, ia memutuskan untuk menikah.

***

 

Padamu Jua

                    Amir Hamzah

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

 

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar setia selalu

 

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

 

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

 

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

 

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku …

 

                             (Nyanyi Sunyi, 1959:5)

 

Puisi di atas menggambarkan betapa manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak akan memperoleh cahaya.  Dengan kata lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari benda-benda di sekitarnya.  Karena itu, cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai: 

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

      

Jadi, cahaya Tuhanlah yang  membuat manusia rindu untuk kembali kepada-Nya.        

Sebuah pengakuan memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan kelemahannya.  Namun, manusia yang ingin menyampaikan pengakuannya tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuhan meskipun pada akhirnya ia akan rindu ingin bertemu dengan Tuhan. Ia rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kerinduan ini sebenarnya merupakan hal yang wajar saja seperti Nabi Musa yang dituntut oleh umatnya (bangsa Yahudi) agar dipertemukan dengan Tuhannya.  Manusia merindukan Tuhan dalam bentuk aslinya karena Tuhan memang tidak akan memperlihatkannya pada manusia.  Kalau Ia menampakkan-nya berarti Tuhan memiliki sifat-sifat kelemahan.  Untuk itu cukup dengan firman-firman-Nya yang wajib diimani oleh manusia.  Biar saja manusia merasa rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kalau ia ingin berdialog dengan Tuhannya, cukup dengan berdialog lewat firman-firman-Nya: 

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

 

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati 

Apakah dengan demikian Tuhan memiliki kecemburuan pada manusia karena Tuhan seolah-olah merahasiakan keberadaannya?  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, sama saja Tuhan itu manusia.  Kalau Tuhan sama dengan manusia, berarti Tuhan juga punya banyak kelemahan.  Mustahil kalau Tuhan yang Maha segala-galanya memiliki kelemahan.  Untuk itu, kita tidak bisa menerima bait berikut ini. 

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas 

Kita tidak bisa menerima kalau Tuhan dipersonifikasikan sedemikian rupa karena mana mungkin Tuhan punya sifat cemburu? Kalau Tuhan cemburu, berarti Tuhan juga memiliki sifat iri/dengki.  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, apakah tidak mustahil tidak ada bedanya Tuhan dengan manusia? Apakah Tuhan juga ganas?  Kalau Tuhan ganas, perlu kita pertanyakan: di mana sifat rahman dan rahim-Nya? Seandainya, ada orang yang mengatakan bahwa ia orang yang paling menderita karena hukuman Tuhan, perlu dipertanyakan bukankah sebaliknya bahwa bencana apapun yang diderita manusia lebih merupakan pekerjaan manusia juga? Rusaknya alam sekitar kita (lingkungan hidup) bukankah karena ulah manusia?  Kalau memang itu semua merupakan ulah manusia, mengapa Tuhan disalahkan sehingga dengan demikian mudah mengatakan bahwa Tuhan itu ganas seperti yang tercantum pada bait puisi di atas?     

Kita juga tidak bisa menerima kalau Tuhan seperti seekor kucing yang mempermainkan buruannya. Pada bait puisi di atas misalnya tertulis di sana Mangsa aku dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas.  Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa Tuhan mempermainkan manusia, yang karena cemburu dan ganasnya, menjadikan manusia sebagai buruan yang demikian mudah untuk dipermainkan.  Sekali lagi, ini merupakan salah satu kelemahan Amir Hamzah selaku penulis puisi yang membuat permisalan seperti itu. Selain itu, kita juga menemukan pada bait berikut yang menunjukkan kelemahan Tuhan.

 

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

 

Kelemahan Tuhan tercermin dari baris terakhir, yaitu Serupa dara di balik tirai yang artinya Tuhan dipersonifikasikan sebagai manusia yang mengintip-intip pekerjaan manusia.  Mengapa Tuhan harus berperilaku demikian?  Bukankah Ia Maha Melihat dan Maha Mendengar?  Kalau Ia harus mengintip-intip untuk mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, berarti Ia memiliki kelemahan.  Atau pekerjaan mengintip itu merupakan kompensasi dari cemburunya Tuhan melihat perilaku hamba-Nya sebagaimana tercantum pada bait sebelumnya?  Kalau itu yang terjadi, jelas kita tidak bisa menerimanya karena Tuhan mustahil punya sifat cemburu.  Dengan demikian, dua bait pada puisi tersebut harus kita kritisi karena Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan seperti itu.

 

 

Bait terakhir pada puisi “Padamu Jua”  yang berbunyi:

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku

mengingatkan kita pada puisi Chairil Anwar: 

Tuhanku

di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

                       

(DOA)

 

yang mengisyaratkan bahwa manusia pada akhirnya memang harus kembali pada Tuhannya. Ia harus kembali kepada Tuhannya karena hasil pengembaraan- nya selama ini tidak banyak membawa hasil.  Di sisi lain, manusia memang bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan di dunia ini yang semata-mata untuk memuaskan batinnya.  Tetapi, pada akhirnya ia mengalami kesunyian hidup. Baik, Amir Hamzah maupun Chairil Anwar, bahkan semua manusia, sepakat bahwa kesunyian hidup ini hanya bisa diisi dengan mengembalikan semua itu pada Tuhan.  Ini merupakan salah satu bukti betapa manusia sangat bergantung pada Tuhan di manapun ia berada. 

***

Secara keseluruhan puisi tersebut mencerminkan betapa indahnya ide/konsep yang ingin disampaikan Amir Hamzah meskipun di sana-sini kita masih banyak melihat betapa lemahnya penyair menggambarkan sifat-sifat Tuhan. Penyair ingin menyampaikan bahwa (1) manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan biar bagaimanapun memerlukan kehadiran Tuhan dan (2) manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab di manapun manusia itu berada pada akhirnya ia akan kembali pada Tuhan

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...