Menyoal tentang Keindahan
Kereta Berangkat SenjaKurnia JR Stasiun nampak sunyi karena bukan hari libur.
Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama
waktu. Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.
Tetapi langit justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan
di ufuk. Angin berkesiur lewat jendela.
Kereta tak penuh. Aku bisa
menganjurkan kaki ke bangku di mukaku.
Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di
hatiku. Gedung-gedung tampak sunyi di luar, terlebih-lebih ketika
malam telah meliputi bumi. Gelap. Kereta sesekali berhenti untuk memberi
kesempatan kereta dari arah yang berlawanan melintasi rel tunggal. Pada saat-saat menanti seperti itu aku
merasa ditindih beban berat di punggung.
“Let it Be…”, entah dari mana, The Beatles melantun ke hati.
Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus
menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi
tenteram. Keteduhan biara dan
janji-janji pada Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah
ada. Tahun-tahun berlalu tanpa
membekaskan apa-apa. Sakramen-sakramen
dan doa-doa kudus mengering dari hatiku dan bibirku. Pada kaca jendela kereta terlukis hantu
lama dari lubuk hati; rumah Tuhan Yang Maha Agung tapi memerihkan hati. Jiwa tandus, Tuhan – itulah sebagian dari
kata-kata lama yang pernah terucap dalam kehidupanku dan kini tak ada
lagi. Aku menikah. Keputusan itu telah menghancurkan seluruh rencana bagi
riwayat hidupku sejak ayah memberiku nama.
Meskipun demikian, aku sama sekali tak merasakan bahwa kejadian
tersebut cukup luar biasa. Pada
mulanya aku bimbang sesaat, memilih-milih, lalu memutuskan. Namun, akibatnya sungguh di luar
perkiraan. Batinku dilanda perang
besar menghadapi tuntutan pertanggungjawaban yang menekan. Aku sama sekali tak menyangka, demi Tuhan,
bahwa jauh di sudut hatiku yang gelap bersemayam sejenis persengkolan yang
menciptakan huru-hara dalam batinku, yang memburuku menuntut sumpah suci pada biara! “Kau bertanggung jawab sepenuhnya pada diri dan
kehidupanmu sendiri, Nak,” kata Guru. “Kau pula toh yang memikul segenap
konsekuensi pilihanmu.” Aku tak berkata apa-apa, begitu juga hatiku. Lahir batin, aku membisu, tidak pula
berpikir. Tak menyanggah ataupun
membenarkan kata-katanya. Aku hanya
menunduk seolah merenung, padahal kepalaku kosong, hampa. Tahukah Anda bagaimana aku mengambil pilihanku? --ingin
juga kukemukan kalimat itu padanya.
Tapi hatiku tak bergerak. Guru
yang tua itu agaknya menafsirkan kebungkamanku sebagai tanda selesainya
pertemuan kami, entahlah. Selanjutnya aku hidup damai dengan peristiwa-peristiwa
biasa. Merencanakan kehidupan bersama
serta anak-anak, dan seterusnya.
Hari-hariku menjadi teratur dan jadwal ke-giatan bersiklus bulanan,
tak lagi harian atau tahunan sebagaimana sebelumnya biasa kujalani.
Biaya-biaya dianggarkan secara teratur dan pengeluaran pun harus selalu
diperhitungkan.Tetapi aku menerimanya sebagai sesuatu yang wajar dan
semestinya.Semuanya kujalani tanpa kejutan atau luka, sampai Tuhan menegurku
dengan cara-Nya sendiri pada suatu saat: suatu kecelakaan dan rumah tanggaku
hancur. ………………………………………………………………………………………… |
***
Kesan
apa yang timbul setelah kita membaca potongan cerita pendek (cerpen) di
atas? Apakah ada nilai-nilai
estetikanya? Untuk pertanyaan kedua ini kita bisa secara pasti mengatakan:
ada! Untuk itu, mari kita telaah
kata-kata dan kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya nilai-nilai estetika pada
potongan cerpen tersebut.
Potongan cerpen tersebut sebagaimana dikomentari oleh Korrie Layun Rampan, ketika diminta komentarnya tentang cerpen tersebut, sebagai cerpen yang lebih berupa cerpen esei daripada cerpen dalam arti konvensional, yaitu cerpen yang lebih cenderung berkisah. Untuk menelaah cerpen yang cenderung berkisah dibutuhkan ketajaman imajinasi kita. Di samping itu, juga diperlukan pemahaman filsafat yang mendalam. Tentu saja, sebagai pelengkap, kita perlu pandai-pandai menangkap bahasa simbolik yang terkandung pada setiap kata, frase, atau kalimat.
Pada
paragraf pertama saja kita dapati ada empat buah kalimat yang menunjukkan
kepiawaian penulis cerpen dalam mengungkapkan kalimat-kalimat yang memerlukan
kerutan dahi seperti terlihat pada contoh berikut ini.
1)
Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama
waktu.
2)
Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.
3)
Tetapi langit justru lembayung –
matahari masih membekaskan keremangan di ufuk.
4) Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.
Pada keempat kalimat di atas, terutama pada bagian-bagian kalimat yang bergaris bawah, penulis menggunakan bentuk personifikasi yang terasa enak untuk dinikmati. Coba saja kita uraikan, pada butir 1) penulis menggambarkan kereta api berjalan demikian perlahan karena baru saja berangkat dari sebuah stasiun. Jalannya kereta api yang demikian perlahan itu seirama dengan berlalu-nya kenangan demi kenangan yang terlintas di benak penulis. Kemudian pada butir 2) penulis mengharapkan suasana yang demikian sepi itu selayaknya disertai dengan gerimis atau cuaca murung (cuaca gelap manakala gerimis), ternyata pada butir 3) justru sebaliknya, matahari masih bersinar meskipun sinar itu telah meredup sehingga masih tersisa keremangan di ufuk barat. Di penghujung akhir paragraf pertama ini penulis seperti yang terlihat pada butir 4) sekali lagi mengungkapkan betapa suara-suara roda-roda yang bergerak di atas kereta api itu diibaratkan sesuatu yang membuat pilu hatinya selama ini.
Penulis
cerpen tersebut telah berhasil melakukan prolog melalui paragraf pembuka yang
ditampilkan dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan simbol bahasa. Ia telah berhasil mengajak kita berimajinasi
atau membayangkan yang dirasakan penulisnya.
Sejak awal kita diajak penulis cerpen untuk membayang- kan stasiun yang
sunyi, kereta yang bergerak perlahan, cuaca yang menjelang sore hari, kereta
api yang kosong, dan bunyi derit roda kereta api yang seolah-olah menyayat
hatinya. Suasana yang ditampilkan adalah
suasana kesunyian sebagaimana juga terlihat pada paragraf kedua (yang juga
merupakan paragraf pembuka). Ia masih
menampilkan gedung-gedung di sekitarnya yang tampak sunyi karena sudah tidak
ada lagi aktivitas di gedung-gedung itu.
Kereta yang sesekali berhenti di stasiun kecil, karena harus menunggu
kereta api yang lewat dari arah yang berlawanan, memberikan beban berat bagi si
Aku akibat begitu banyaknya kenangan pahit yang tidak bisa dihilangkan, yang
mengakibatkan ia tidak memperoleh ketenangan.
Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.
Ia
bukan saja merasa tidak tenang, tetapi juga mulai tidak percaya pada agamanya
karena … Keteduhan biara dan janji-janji Tuhan kini telah silam dari
kehidupanku, bagai tak pernah ada…. sehingga wajar-wajar saja kalau tempat
ibadahnya selama ini, yang digambarkan sebagai rumah Tuhan, seperti …hantu lama
dari lubuk hati …. Dengan demikian, si Aku merasa jiwanya tandus. Sebagai salah satu solusinya, dalam rangka
menghadapi kemelut tersebut, ia memutuskan untuk menikah.
***
|
Padamu Jua Amir Hamzah Habis kikis Segala cintaku hilang terbang Pulang kembali aku padamu Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap Melambai pulang perlahan Sabar setia selalu
Satu kekasihku Aku manusia Rindu rasa Rindu rupa
Di mana engkau Rupa tiada Suara sayup Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu Engkau ganas Mangsa aku dalam cakarmu Bertukar tangkap dengan lepas Nanar aku, gila sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi Menunggu seorang diri Lalu waktu – bukan giliranku Mati hari – bukan kawanku …
(Nyanyi Sunyi,
1959:5)
|
Puisi di atas menggambarkan betapa manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak akan memperoleh cahaya. Dengan kata lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari benda-benda di sekitarnya. Karena itu, cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai:
Kaulah
kandil kemerlap
Pelita
jendela di malam gelap
Jadi, cahaya Tuhanlah yang membuat manusia rindu untuk kembali kepada-Nya.
Sebuah pengakuan memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan kelemahannya. Namun, manusia yang ingin menyampaikan pengakuannya tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuhan meskipun pada akhirnya ia akan rindu ingin bertemu dengan Tuhan. Ia rindu akan rasa dan rupa Tuhan. Kerinduan ini sebenarnya merupakan hal yang wajar saja seperti Nabi Musa yang dituntut oleh umatnya (bangsa Yahudi) agar dipertemukan dengan Tuhannya. Manusia merindukan Tuhan dalam bentuk aslinya karena Tuhan memang tidak akan memperlihatkannya pada manusia. Kalau Ia menampakkan-nya berarti Tuhan memiliki sifat-sifat kelemahan. Untuk itu cukup dengan firman-firman-Nya yang wajib diimani oleh manusia. Biar saja manusia merasa rindu akan rasa dan rupa Tuhan. Kalau ia ingin berdialog dengan Tuhannya, cukup dengan berdialog lewat firman-firman-Nya:
Satu
kekasihku
Aku
manusia
Rindu
rasa
Rindu
rupa
Di
mana engkau
Rupa
tiada
Suara
sayup
Hanya kata merangkai hati
Apakah dengan demikian Tuhan memiliki kecemburuan pada manusia karena Tuhan seolah-olah merahasiakan keberadaannya? Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, sama saja Tuhan itu manusia. Kalau Tuhan sama dengan manusia, berarti Tuhan juga punya banyak kelemahan. Mustahil kalau Tuhan yang Maha segala-galanya memiliki kelemahan. Untuk itu, kita tidak bisa menerima bait berikut ini.
Engkau
cemburu
Engkau
ganas
Mangsa
aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Kita tidak bisa menerima kalau Tuhan dipersonifikasikan sedemikian rupa karena mana mungkin Tuhan punya sifat cemburu? Kalau Tuhan cemburu, berarti Tuhan juga memiliki sifat iri/dengki. Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, apakah tidak mustahil tidak ada bedanya Tuhan dengan manusia? Apakah Tuhan juga ganas? Kalau Tuhan ganas, perlu kita pertanyakan: di mana sifat rahman dan rahim-Nya? Seandainya, ada orang yang mengatakan bahwa ia orang yang paling menderita karena hukuman Tuhan, perlu dipertanyakan bukankah sebaliknya bahwa bencana apapun yang diderita manusia lebih merupakan pekerjaan manusia juga? Rusaknya alam sekitar kita (lingkungan hidup) bukankah karena ulah manusia? Kalau memang itu semua merupakan ulah manusia, mengapa Tuhan disalahkan sehingga dengan demikian mudah mengatakan bahwa Tuhan itu ganas seperti yang tercantum pada bait puisi di atas?
Kita
juga tidak bisa menerima kalau Tuhan seperti seekor kucing yang mempermainkan
buruannya. Pada bait puisi di atas misalnya tertulis di sana Mangsa aku dalam
cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa Tuhan mempermainkan manusia, yang
karena cemburu dan ganasnya, menjadikan manusia sebagai buruan yang demikian
mudah untuk dipermainkan. Sekali lagi,
ini merupakan salah satu kelemahan Amir Hamzah selaku penulis puisi yang
membuat permisalan seperti itu. Selain itu, kita juga menemukan pada bait
berikut yang menunjukkan kelemahan Tuhan.
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang
padamu jua
Engkau pelik menarik
ingin
Serupa dara di balik
tirai
Kelemahan
Tuhan tercermin dari baris terakhir, yaitu Serupa dara di balik tirai yang
artinya Tuhan dipersonifikasikan sebagai manusia yang mengintip-intip pekerjaan
manusia. Mengapa Tuhan harus berperilaku
demikian? Bukankah Ia Maha Melihat dan
Maha Mendengar? Kalau Ia harus
mengintip-intip untuk mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, berarti Ia
memiliki kelemahan. Atau pekerjaan
mengintip itu merupakan kompensasi dari cemburunya Tuhan melihat perilaku
hamba-Nya sebagaimana tercantum pada bait sebelumnya? Kalau itu yang terjadi, jelas kita tidak bisa
menerimanya karena Tuhan mustahil punya sifat cemburu. Dengan demikian, dua bait pada puisi tersebut
harus kita kritisi karena Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan seperti itu.
Bait
terakhir pada puisi “Padamu Jua” yang
berbunyi:
Kasihmu
sunyi
Menunggu
seorang diri
Lalu
waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku
mengingatkan kita pada puisi Chairil Anwar:
Tuhanku
di
pintu-Mu aku mengetuk
Aku
tidak bisa berpaling
(DOA)
yang
mengisyaratkan bahwa manusia pada akhirnya memang harus kembali pada Tuhannya.
Ia harus kembali kepada Tuhannya karena hasil pengembaraan- nya selama ini
tidak banyak membawa hasil. Di sisi
lain, manusia memang bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan di dunia ini
yang semata-mata untuk memuaskan batinnya.
Tetapi, pada akhirnya ia mengalami kesunyian hidup. Baik, Amir Hamzah
maupun Chairil Anwar, bahkan semua manusia, sepakat bahwa kesunyian hidup ini
hanya bisa diisi dengan mengembalikan semua itu pada Tuhan. Ini merupakan salah satu bukti betapa manusia
sangat bergantung pada Tuhan di manapun ia berada.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar