Senin, 30 Maret 2026

Bahasa dan Sastra (246)

 


Hoax Hasanah

Subagio S.Waluyo

 

Suatu saat seseorang memposting sebuah tulisan dari grup WA yang selama ini dipercaya sumber tulisannya ke grup WA lainnya. Beberapa saat setelah di-posting ada salah seorang anggota grup WA yang langsung mengomentarinya `hoax` (tulisan tersebut dianggap bohong, sulit dipertanggungjawabkan isinya). Orang itu tidak kaget atau gusar (apalagi marah) kalau postingannya dikomentari `hoax,`. Dia cukup menjawab `hoax` yang bermanfaat. Mungkin ada yang bertanya: `hoax` kok bermanfaat?

    Kita perlu melihat dulu hal-hal  yang berkaitan dengan hoax baik pengertiannya, asal-usulnya, dan efek dari hoax itu sendiri sebelum menjawab pertanyaan di atas. Hoax yang sekarang ini menjadi perbincangan hangat baik yang terdapat di media cetak maupun media sosial (online), menurut Wikipedia ialah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu (https://id.wikipedia.org/wiki/). Sedangkan menurut Kamus Inggris Indonesia oleh John M.Echols dan Hassan Shadilly (1997:300) adalah olok-olokan; ceritera bohong; memperdayakan.  Dengan kata lain, hoax adalah kabar palsu yang sengaja disebar untuk membuat kehebohan publik.

      Hoax menurut Robert Nares (brilio.net dari WikiWand) berasal dari kata `hocus` yang berarti `menipu`. `Hocus` sendiri semula digunakan dalam permainan mantra sulap yang merupakan kependekan dari `hocus pocus`. Istilah `hoax` menjadi populer sejak pemutaran film The Hoax (2006). Film yang dibintangi  Richard Gere dan disutradarai Lasse Hallstrom yang skenarionya ditulis oleh William Wheeler ini diangkat dari sebuah buku oleh Clifford Irving dari judul yang sama, yakni The Hoax. Kepopuleran film ini menyebabkan setiap orang manakala berhadapan dengan sebuah berita atau informasi yang patut diduga memuat kebohongan (sumbernya tidak jelas dan kurang dipercaya) dengan mudahnya ikut-ikutan (latah) menyebutnya sebagai `hoax`. Sejak saat itu kata `hoax` menjadi sangat populer.

   Efek samping adanya hoax paling sedikit ada empat efek (https://www. merdeka.com/teknologi/4-bahaya-mengintai-dari-kabar-hoax-di-dunia-maya). Pertama, hoax buang-buang waktu dan uang karena membaca hoax dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit baik bagi individu maupun badan usaha yang indikatornya dapat diketahui dari produktivitas yang menurun akibat kabar hoax. Kedua, hoax bisa menjadi pengalih isu. Hal itu dilakukan oleh penjahat cyber untuk memuluskan aksi ilegalnya.  Ketiga, hoax sesuai dengan pengertian di atas dijadikan sarana untuk melakukan penipuan publik. Sudah banyak korban dari para pelaku penjahat cyber ketika mereka melakukan penipuan publik di dunia maya. Tujuannya sudah jelas agar kerja-kerja mereka yang terbilang kotor dan penuh kenistaan dapat berjalan lancar.  Keempat, berkaitan dengan butir ketiga di atas, hoax jelas-jelas bisa menjadi pemicu kepanikan publik. Artinya, kalau publik sudah banyak yang tertipu, tentu saja akan muncul kepanikan publik. Justru inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penjahat cyber untuk memenuhi hasratnya, entah itu hasrat kekayaan, seksual atau kekuasaan.   

      Kembali pada uraian di awal tulisan, seseorang yang postingannya dianggap hoax yang ditanggapi dengan dingin-dingin saja bahkan dia balas dengan hoax yang bermanfaat, boleh juga hoax hasanah, karena isi postingannya menurutnya tidak memberikan efek negatif. Dia tunjukkan butir-butir postingannya yang menurutnya bermanfaat bagi si pembaca sebagaimana terlihat pada potongan postingan di bawah ini.

“…penyebab utama kerusakan hati adalah tidur terlalu malam&bangun terlalu siang”

Insya Allah banyak orang yang setuju dengan pernyataan di atas karena memang orang yang tidur terlalu  malam kalau dia bangun pagi kondisi fisiknya tidak sesegar orang yang tidur cepat dan bangun di pagi hari. Orang yang tidur cepat (tidur sore-sore) dia bisa bangun sebelum subuh. Buat seorang Muslim dia masih sempat salat tahajud diteruskan dengan salat subuh kondisi fisik terlihat sehat. Kondisi hatinya juga, Insya Allah, sehat sehingga dia bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan penuh keceriaan. Bagaimana dengan  orang yang tidur terlalu malam? Mana mungkin dia bisa bangun cepat? Kalau dia bangun cepat, bisa dijamin kepalanya akan pening karena kurang tidur. Kalau di pagi hari sudah diawali dengan kepala yang pening, bagaimana dia bisa melakukan aktivitas hariannya? Agar terlihat fit dan penuh vitalitas, dia akan mengkonsumsi obat-obat penguat atau suplemen. Tetapi, semua yang dia masukkan ke dalam tubuhnya tidak akan menyehatkan. Suatu saat dia akan ambruk karena tubuhnya telah diracuni oleh berbagai suplemen yang tidak menyehatkan

Pernyataan berikut yang juga patut diapresiasi adalah berikut ini.

“Jangan makan makanan berat setelah jam 18.00 malam”

“Minum lebih banyak air putih di pagi hari, malam lebih sedikit.”

“Jam tidur yang paling baik jam 22.00 malam sampai jam 03.00 pagi.”

“Jangan terlalu cepat berbaring setelah minum obat.”

Memang, ada beberapa kutipan berikut  ini yang tampaknya perlu penelitian lebih lanjut.

“Begadang&bangun terlalu siang mengacaukan metabolisme tubuh”

 “Selain itu dari tengah malam s.d. Pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.”

“Jawablah telpon menggunakan telinga sebelah kiri.”

“Ketika baterai ponsel tinggal satu jangan angkat telpon karena radiasi meningkat hingga 100 kali.”

Pertanyaannya, apakah kutipan-kutipan di atas yang dianggap hoax jika dikaitkan dengan efek negatif dari adanya hoax di antaranya memberikan pengaruh pada kepanikan publik? Apakah kutipan-kutipan di atas bisa ditengarai sebagai salah satu cara pengalihan isu? Apakah ada hasrat tertentu dari penulis postingan itu dengan menulis seperti kutipan-kutipan di atas? Kalau memang jawabannya negatif, postingan yang dianggap hoax karena unsur manfaatnya lebih banyak dari unsur mudaratnya bisa dianggap hoax hasanah.

    Memang harus diakui semua tulisan yang tidak jelas sumbernya wajib hukumnya untuk diteliti dengan cermat agar siapapun orangnya terhindar dari menyebarkan hoax. Tetapi, sepanjang tulisan tersebut ada manfaatnya bagi orang yang membacanya dan tidak ada indikasi menimbulkan kepanikan tidak ada salahnya untuk dikonsumsi sendiri. Artinya, tidak perlu disebarluaskan lagi. Meskipun demikian, siapapun orangnya ketika memposting sebuah tulisan, kalau di dalamnya memuat sebuah atau beberapa pernyataan tetap harus menyebutkan sumbernya agar terhindar dari hoax. Sudah saatnya semua orang yang memposting tulisan untuk membiasakan diri bersikap ilmiah. Salah satu sikap ilmiah yang perlu ditunjukkan adalah tidak ada lagi keraguan untuk mencantumkan sumber tulisan walaupun hanya satu kata/frase. Selain itu, hindari sikap berbohong bahwa tulisannya diangkat dari hasil penelitian para ilmuwan di sebuah/ bebarapa perguruan tinggi di negara-negara maju. Mudah-mudahan semakin hari semakin banyak orang yang sadar dari perilaku buruk untuk tidak lagi membuat tulisan yang diduga hoax. Sebaliknya, makin banyak orang yang menegakkan kejujuran dalam mempertanggungjawabkan tulisannya. Wallahu a`lam bissawab.

 

 

 

 

 

 

 


Kamis, 05 Maret 2026

Bahasa dan Sastra (245)

 


MENYOAL TENTANG NYINYIR

 Subagio S.Waluyo

 

          Orang yang nyinyir tidak sama dengan orang yang kritis. Orang yang nyinyir juga tidak sama dengan orang yang peduli. Orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri, dengki, atau hasad. Orang yang kritis sudah pasti berangkat dari kejernihan berpikir dan hati yang bersih. Orang yang peduli berangkat dari kepekaan. Sebagai bukti kalau orang yang nyinyir berangkat dari rasa iri, hati yang dengki, atau hasad, dia selalu melihat orang atau kelompok lain dari sisi negatifnya. Atau dia selalu melihat semua yang dikerjakan orang atau kelompok pasti dinilainya buruk. Dia tidak pernah melihat dari sisi positifnya. Tidak aneh kalau orang yang nyinyir selalu tidak pernah memberikan pendapat, jalan keluar, atau solusi

        Orang yang punya kebiasaan nyinyir tidak pernah memberikan pendapat atau solusi. Dia cenderung berbust `lempar batu sembunyi tangan` atau `hit and run`. Dengan kata lain, orang semacam ini bisa digolongkan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau dari hasil nyinyirannya, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, timbul masalah, dia akan lari dari tanggung jawab. Dia akan berupaya menghindar. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai orang yang berperilaku seperti itu. Orang yang selalu saja membuat ulah baik lewat ucapan maupun tulisan. Ucapan atau tulisannya sulit untuk dipertanggungjawabkan karena berangkat dari sinisme.

***

      Istilah sinisme menurut A.Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:213) ialah sikap suka mengejek, mengolok-olok, mencari kesalahan, dan melemparkan kritik. Dalam istilah yang ada di media sosial (medsos) biasa disebut `nyinyir`. Sebagai bukti kalau istilah sinisme ada kemiripan dengan `nyinyir di dunia medsos bisa dilihat dari pengertian `nyinyir` menurut orang-orang yang terlibat di dunia maya (netizen). Para netizen sepakat menganggap nyinyir ini sama artinya dengan menggunjing, menyindir atau mengkritik seseorang atau pihak lawan. Si tukang nyinyir ini, menurut para netizen artinya sama saja dengan tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik, dan menggunjing orang lain dan tukang sebar berita hoax (https://inspirasipedia.com/2019/04/20/apa-itu-nyinyir/). Bisa juga mereka orang-orang yang tukang gosip, tukang sebar aib orang, tukang kritik dan menggunjing orang lain, dan tukang sebar berita hoax adalah orang-orang yang sinis. Orang-orang penganut paham sinisme.

    Orang-orang penganut paham sinisme adalah orang-orang yang tidak bisa mengendalikan diri, emosi, atau (boleh juga) hawa nafsu. Hawa nafsu yang tidak bisa dikendalikan akan memunculkan hal-hal yang negatif dalam diri seseorang. Wajar-wajar saja kalau orang yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu memunculkan penyakit-penyakit hati entah dengki, iri, atau hasad. Penyakit-penyakit hati inilah yang menjadi faktor penyebab orang yang biasa di dunia medsos memunculkan ungkapan-ungkapan `nyinyir`. Orang yang biasa `nyinyir` tidak pernah berpikir akibat dari perbuatannya. Begitu juga orang yang terbiasa membuat cuitan-cuitan yang negatif di medsos tidak pernah berpikir akibat cuitan-cuitannya. Contoh-contoh cuitan `nyinyir` yang biasa ditemukan di dunia medsos bisa dilihat berikut ini.

1.   “Rame gini palingan piara jin”

2.   “Hamil duluan ni pasti”

3.   “Riya` amat, sedekah diumbar-umbar pahalanya abis woy”

4.   “Apaan, sayang sekolah tinggi-2 kalo di rumah nyuci gosok momong anak doang”

    Dari `nyinyiran` di atas, coba kita ungkapkan satu persatu isi `nyinyiran` tersebut. `Nyinyiran` nomor satu ditujukan buat pedagang yang baru saja membuka usahanya yang langsung diserbu pengunjung. Orang yang suka `nyinyir` ada  kemungkinan mengeluarkan `nyinyiran`: “Rame gini palingan piara jin” (Banyaknya pengunjung ada kemungkinan sang pedagang menggunakan jin). Orang yang menyampaikan `nyinyiran` ini sudah pasti orang yang berprangsaka buruk. Kalau berpikir positif, dia akan menyampaikan boleh jadi banyaknya pengunjung karena ketika launching ada diskon besar-besaran atau doorprize yang menarik. Masih banyak lagi hal positif yang dilakukan pedagang ketika membuka usahanya. Untuk `nyinyiran` nomor dua ditujukan buat mereka yang menikah muda. Repotnya ketika orang yang punya hobi `nyinyir` sering kelewatan menyampaikan `nyinyiran`. Ini bisa menyinggung perasaan orang (tujuan utama orang bikin `nyinyiran` `kan untuk menyakiti orang?). Pasangan pengantin yang menikah muda kok ditulis: “Hamil duluan nih pasti”? Bukannya mendoakan orang yang menikah malah memunculkan `nyinyiran` yang `nyelekit` dan bikin orang tersinggung berat. Masih untung kalau tersinggung, tapi kalau sampai dituntut ke pengadilan?

    Untuk `nyinyiran` nomor empat, kalau saja tidak memunculkan `nyinyiran`:  “Riya` amat, sedekah diumbar-umbar pahalanya abis woy” orang akan mengapresiasinya (tapi kalau bukan seperti itu pernyataannya bukan lagi  `nyinyiran`). Di sini sang pembuat `nyinyiran` (mudah-mudahan) punya maksud baik. Dia mengingatkan pada orang yang bersedekah agar tidak menyebut-nyebut entah jumlah uangnya yang disedekahkan atau memamer-mamerkan barang yang disedekahkannya. Karena kalimatnya seperti tertera di atas, terkesan sarkasme sehingga tidak mustahil orang yang membacanya menilai sebagai orang yang tidak berakhlak. Niat baik seharusnya disertai dengan komentar yang baik.

    `Nyinyiran` terakhir tertuju pada seorang ibu rumah tangga yang tentu saja berpendidikan tinggi. Sang ibu cenderung lebih memilih mengurus rumah tangga daripada bekerja. Sang ibu yang memilih menjadi ibu rumah tangga ini aktivitas kesehariannya bisa ditebak mengurusi anak-anak, suami, dan urusan rumah tangga lainnya (memasak, mencuci, menyetrika, bersih-bersih rumah). Kalau sang suami termasuk orang yang mapan pekerjaan dan usahanya, sebenarnya tidak ada masalah. Tapi, kalau sebaliknya dari sisi penghasilan tidak mencukupi, tidak ada salahnya sang istri juga ikut bekerja atau berwirausaha (apalagi sekarang juga ada bisnis online yang tidak perlu seorang istri keluar rumah). Jadi, orang yang mengomentari keputusan seorang ibu rumah tangga yang mau sepenuhnya mengurus rumah tangganya perlu diapresiasi. Bukan malah dikomentari dengan nada sumbang yang bikin orang tidak berempati.

***

   Orang-orang yang sering berkomentar dengan nada-nada sumbang alias `nyinyir` adalah orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Orang-orang seperti itu sudah pasti tidak bisa memanfaatkan waktunya. Waktunya hanya dihabiskan untuk melihat sisi-sisi negatif yang ada pada orang lain. Bisa jadi setiap senti dari fisik orang yang diamatinya selalu tampak di matanya ada kekurangan. Mereka tidak pernah melihat sisi-sisi positif dari orang yang diamatinya. Begitupun ketika melihat skala yang lebih besar: masyarakat atau negara sekalipun selalu saja di matanya ada sisi-sisi negatif. Wajar-wajar saja kalau orang seperti itu punya sangka buruk, tidak bisa berpikir positif, selalu ada rasa iri, dan (tentu saja) ada sikap merendahkan orang lain. Wajar-wajar juga kalau yang keluar entah dari mulutnya atau tangannya (tulisan-tulisannya) ungkapan-ungkapan yang `nyelekit` dan membikin orang atau masyarakat tersinggung.  Dari situ saja bisa disimpulkan (kalau mereka muslim) kadar keimanan dan akhlaknya rendah (minim).

   Kadar keimanan dan akhlak seseorang bisa dilihat dari ucapan dan juga tulisannya. Iman dan akhlak dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Akhlak merupakan refleksi iman. Orang yang imannya baik, akhlaknya juga baik. Sebaliknya, akhlak yang buruk merupakan refleksi dari iman yang buruk. Jadi, tulisan-tulisan di atas (yang diambil sebagai contoh) bisa dipastikan adalah orang-orang yang akhlaknya minim karena kalau akhlaknya baik tidak mungkin mereka menyampaikan pernyataan-pernyataan lewat tulisan yang `nyelekit` dan membikin orang terpukul jiwanya. Orang-orang yang akhlaknya minim senang melihat orang terpukul jiwanya. Bisa jadi orang-seperti ini adalah orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Paling tidak orang-orang seperti ini adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian atau bipolar.

***

    Apakah kebiasaan `nyinyir` itu harus dibiarkan berlarut-larut? Kalau sudah diketahui kebiasaan `nyinyir` itu merupakan kebiasaan buruk, tidak ada salahnya ditinggalkan. Bukankah kebiasaan `nyinyir` itu memang refleksi lemahnya keimanan? Agar tidak terjadi kelemahan iman yang berakibat pada rusaknya akhlak tidak ada salahnya kebiasaan `nyinyir` itu dibuang jauh-jauh. Bagaimana caranya? Ada tips yang menarik untuk diterapkan dari tulisan berikut ini. Silakan disimak mudah-mudahan ada manfaatnya.

“Apabila Anda termasuk orang yang mudah nyinyir, mulailah berubah dari sekarang. Jangan biarkan sifat nyinyir tersebut hinggap berlarut-larut dalam diri Anda. Bersihkan aura negatif dari dalam diri, dan masukkan semua hal positif ke dalam diri Anda.

 

Bersyukurlah atas segala hal yang Anda miliki, yang paling sederhana sekalipun. Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.

 

Daripada mengomentari orang lain, lebih baik Anda mencari kesibukan yang bersifat positif, misalnya dengan mengikuti komunitas yang sesuai hobi atau bergabung di kegiatan sosial. Aktivitas ini dapat mengalihkan pikiran negatif Anda dan tentunya membuat hidup Anda menjadi lebih bahagia”.

 

(https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3619764/suka-nyinyir-adakah-hubungannya-dengan-gangguan-kejiwaan)

 

 

 

 

 

 

 

         

 

 

 


Kamis, 19 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (244)


Berakhirnya Bunglon 
di Pohon Kekuasaan

 Cerpen

 Subagio S.Waluyo

 

          Aku bunglon. Aku bisa berubah warna sesuai dengan tempat aku hinggap. Aku bunglon yang hinggap dari satu pohon kekuasaan ke pohon kekuasaan berikutnya begitu seterusnya. Sampai saat ini aku masih menghidupkan diri sebagai bunglon yang menikmati hidup dari pohon-pohon kekuasaan yang aku hinggapi. Kalau pohon kekuasaan yang satu tiba-tiba saja layu, aku segera hinggap di pohon kekuasaan yang lain. Aku tinggalkan ekorku di pohon kekuasaan yang layu itu. Banyak orang yang tidak bisa menangkapku. Mereka hanya menangkap ekorku yang tertinggal di pohon kekuasaan yang kutinggalkan.

          Aku tidak pernah tersinggung jika ada orang menyebutku bunglon. Aku memang bunglon, kok! Makanya aku rela  jika aku sama seperti tokoh-tokoh bunglon di dunia ini. Silakan saja ada orang yang bikin daftar orang-orang bunglon dari abad ke abad, masukkan aku ke dalam daftar itu, pasti aku terima. Buatku tidak ada masalah kalau namaku dicantumkan sebagai salah satu bunglon. Aku tidak perlu melempar ke orang lain stigma buruk itu. Aku sekali lagi siap menerima sebutan bunglon titik. Kenapa stigma buruk itu aku terima? Buatku menjadi bunglon kata orang `sesuatu banget`. Ya, `sesuatu banget` karena aku saat ini benar-benar merasakan hidup ini semuanya serba mudah dan nikmat. Aku tidak perlu kerja keras. Aku cukup kasih instruksi ke bawahanku kalau ada orang-orang yang mulai membahayakan keberadaanku. Atau aku cepat-cepat cari pohon kekuasaan yang sekiranya bisa buat aku selamat. Untuk bisa selamat, apalagi kalau bukan menjadi penjilat di pohon kekuasaanku yang baru.

***

          Aku tidak tahu, apakah menjadi bunglon lebih merupakan talentaku yang memang sudah ada sejak aku lahir? Seingatku, dulu aku termasuk orang baik-baik. Aku lahir dari keluarga orang-orang yang taat beribadah. Sejak sekolah di bangku SD sampai ke perguruan tinggi aku termasuk anak yang berprestasi. Aku bisa selesaikan studi S3 dengan predikat summa cumlaude di Monash University. Selama aku kuliah S2 dan S3 aku sama sekali tidak mengeluarkan biaya karena aku mendapat beasiswa penuh. Aku kecewa saja ketika kembali ke tanah air kenaikan pendapatanku tidak seimbang dengan gelar S3 yang kuperoleh dari perguruan tinggi ternama di Australia. Makanya aku mencoba peruntungan di dunia politik dengan benar-benar terjun menjadi seorang politikus walaupun aku harus menjadi bunglon.

          Sampai aku dewasa, menikah, dan punya keturunan aku belum menjadi bunglon. Aku menjadi bunglon setelah mulai menikmati hidup di bawah pohon kekuasaan. Aku ingat ketika istriku marah besar padaku karena aku resign sebagai dosen memilih menjadi politikus. Aku menjadi politikus karena mau mengubah nasib. Aku tidak mau hidup terus-terusan dengan kondisi ekonomi yang tidak akan menjadikan aku kaya. Sebagai dosen dengan latar belakang pendidikan S3, buatku gaji yang aku terima pada waktu itu terbilang kecil. Semua alasan yang aku sampaikan ke istriku ditolak mentah-mentah. Saking marahnya, istriku mengusirku dari rumahnya (rumah tempat aku tinggal memang milik istriku).

“Saudara Deni (dia tidak menyebutku `Ayah` seperti biasanya), silakan bawa semua tas dan koper ini. Dulu Saudara Deni datang ke rumah ini cuma bawa tas dan pakaian yang melekat di badan. Sekarang juga silakan bawa semua ini”, sambil berkata begitu istriku langsung membanting pintu seraya sekalian menguncinya.

“Bu!, Ibu!, tega-teganya mengusirku!”, aku berteriak sejadi-jadinya. Tetangga-tetangga rumah hanya bisa diam. Mereka hanya melihat dari kejauhan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka cuma tahu aku diusir dari rumah istriku. Sementara anak-anakku tidak ada seorang pun yang melihatku diusir. Rupanya mereka sudah dikondisikan oleh istriku. Karena istriku di dalam rumah bergeming dan tidak ada reaksi sama sekali dari dalam rumah, aku tinggalkan rumahku. Aku bawa semua tas dan koper. Aku terseok-seok membawa tas dan koper di bawah tatapan tetangga-tetangga rumahku yang tidak bisa berbuat apapun buatku. Mereka hanya menyimpan tanya `ada apa denganku?`. Aku segera menuju ke apartemen yang memang telah disediakan temanku sesama bunglon.

   Temanku sesama bunglon menyambutku dengan penuh antusias. Dia memelukku erat seraya membisikkan sesuatu.

“Kau akan jadi politikus terkenal. Aku sudah lihat talentamu memang ke arah sana. Selamat datang di dunia Politik, Deni!”, sambil senyum semringah temanku sesama bunglon menerima kehadiranku.

“Terima kasih. Tapi, aku sedih karena harus meninggalkan keluarga”, kataku penuh haru.

“Sudahlah Den, jangan disedihkan lagi. Kita harus bikin pesta kecil untuk menyambutmu supaya kesedihanmu hilang. Kalau kau kesepian, nanti ada yang siap menemanimu. Kau ingat `kan Linda, gadis mungil yang naksir kau?”, tanya temanku setengah berbisik.Aku hanya mengangguk mengiyakan. “Nanti kita undang ke pesta kecil kita”, kata temanku menyemangatiku.

“Sekarang kamu masukkan semua pakaian yang ada dalam tas dan kopermu ke lemari yang telah kusediakan”, perintah temanku.

     Aku segera menuruti perintahnya. Sambil memasukkan pakaian ke dalam lemari aku masih mengingat-ingat kejadian tadi pagi ketika aku diusir oleh istriku. Buatku pengusiran ini sesuatu yang menyakitkan. Aku harus membalas dendam padanya. Aku akan melampiaskan dendamku bukan dalam bentuk menyakiti fisiknya. Tapi, aku akan menerornya lewat perbuatan burukku supaya dia tahu betapa sakitnya seorang kepala rumah tangga diusir dari rumahnya di bawah tatapan para tetangga rumah yang tentu saja menaruh curiga padaku. Aku harus mulai mengatur strategi apa saja yang harus aku perbuat biar dia tambah sakit hati dengan perbuatanku. Sejak aku menempati apartemen yang disedikan temanku, aku telah mulai memasuki dunia penuh gegap gempita yang orang sebut sebagai `dugem` dan sekaligus dunia politik yang penuh tipu daya. Aku campakkan dunia rumah tangga. Aku puasi hidupku di dua alam, dugem dan politik. Di dugem aku yang dulu dikenal pria-pria baik saja, kini adalah pria flamboyan yang siap merayu dan meniduri perempuan-perempuan yang bersedia kusetubuhi. Aku yang dulu tidak pernah memasuki tenggorokanku dengan minunam yang membakar tenggorokan dan perutku, kini entah berapa botol telah aku habiskan. Kini sehabis rapat-rapat di DPR yang penuh kepenatan, aku akhiri dengan mampir ke klub-klub malam apalagi kalau bukan dugem. Ah, aku benar-benar menikmati dugem. Semua yang aku lakukan ku unggah ke WA istriku. Aku hanya dikomentari`norak`. Selalu begitu komentarnya sampai-sampai aku bosan mengunggahnya lagi. Ternyata, strategiku meneror istriku tidak mempan.

      Di dunia politik aku benar-benar sekarang bermuka dua, berstandar ganda, dan aku kini adalah bunglon. Aku tunjukkan sikapku sebagai bunglon di depan ribuan pendukungku yang aku akui kemampuan intelektualnya tidak memadai. Di hadapan mereka aku umbar-umbar janji akan memberikan kesejahteraan termasuk memberikan beasiswa buat pendukungku yang tergolong miskin sambil aku sawer uang dan kaos. Tapi, begitu aku bisa melenggang ke gedung kura-kura segera aku lupakan janjiku. Toh, aku juga yakin pendukungku termasuk orang-orang yang pendek memorinya.

     Perilaku bunglonku juga aku tunjukkan di forum-forum yang diliput oleh sekian banyak, baik di berbagai media mainstream maupun medsos bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat internasional. Aku terbiasa jadi narasumber atau pembicara dari kalangan anggota dewan terhormat yang berlatar belakang pendidikan S3 Public Policy and Management Monash University yang bahasa Inggrisnya berstandar internasional tergolong mahir atau dalam istilah kerennya disebut C2 Proficient (CEFR). Karena latar belakang pendidikanku dari perguruan tinggi ternama di Australia ditambah lagi dengan referensiku di bidang politik terbiasa melahap buku-buku dari penulis dan peneliti kenamaan dari mancanegara aku selalu bisa mematahkan lawan-lawanku. Sebagai anggota dewan dari kalangan akademis, aku juga pernah menulis buku-buku politik. Aku juga pernah melakukan banyak penelitian dan menulis jurnal tingkat internasional. Bahkan, aku ketika masih aktif sebagai dosen juga biasa diundang sebagai pembicara mewakili perguruan tinggi di forum-forum nasional dan internasional. Namun yang pasti, tentu saja sebelum aku dipilih oleh rakyat pendukungku, aku dipilih oleh para pimpinan partai politik karena bukan semata dari latar belakang pendidikan dan pekerjaanku dulu sebagai dosen, tetapi juga kemampuan retorikaku ketika berbicara dan berargumentasi. Berkat kemampuan bicaraku yang bisa mematahkan orang-orang yang menjadi lawanku, namaku sebagai politikus semakin melambung.

***

     Tidak terasa aku telah memasuki priode ketiga sebagai anggota dewan. Aku telah meninggalkan keluarga lebih dari sepuluh tahun. Selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah satu rupiah pun uang yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku sebagai bunglon dikirim ke keluargaku. Bukan aku pelit. Tapi, karena memang istriku tidak mau menerimanya. Dia pernah mengatakan uang yang kuperoleh dari hasil kerjaku sebagai bunglon adalah uang yang sudah berbaur antara halal dan haram. Aku pernah diam-diam mentransfer ke rekening anak-anakku, tapi begitu mereka tahu langsung istriku segera mengembalikannya. Istriku bukan hanya mengembalikan uangku, tapi juga menyampaikan kata-kata yang sarkasme padaku. Meskipun istriku benar-benar menunjukkan sikap ketidaksukaannya padaku, aku tidak pernah membalasnya. Aku tetap tenang. Aku tidak terusik dengan ucapannya yang cenderung sarkasme.

      Istriku dari ucapan-ucapannya memang sarkasme. Tapi, di acara-acara keluarga dia selalu minta padaku untuk hadir. Aku tidak perlu jual mahal. Aku segera menuruti kemauannya. Di acara-acara keluarga, aku, istriku, dan anak-anakku berpura-pura menunjukkan kebahagiaan. Seusai acara, istriku segera memintaku meninggalkan rumah. Aku pun kembali ke kehidupanku sebagai bunglon. Semua yang aku, istriku, dan anak-anakku lakukan yang penuh dengan kepura-puraan itu akhirnya terbongkar juga. Begitu mereka tahu kalau aku sudah tidak lagi tinggal satu rumah dengan istri dan anak-anakku, aku tidak pernah lagi kumpul-kumpul dengan istri dan anak-anakku. Aku ingat hanya dua kali aku terpaksa kumpul dengan mereka ketika aku menjadi wali sekaligus menjadi pasangan suami istri di panggung pernikahan anak-anakku. Selesai acara seperti biasa aku kembali menjadi laki-laki yang telah ditunggu teman kumpul keboku.

     Memasuki tahun pertama di periode ketiga ini ada sedikit keresahan yang akhir-akhir ini menggelayutiku sebagai bunglon. Aku selalu dikejar-kejar mimpi buruk. Memang, semua mimpi buruk itu bisa terselesaikan dengan rayuan-rayuan gombal teman kumpul keboku. Namun, itu hanya sementara karena di malam-malam berikutnya aku tetap saja dikejar-kerja mimpi serupa. Aku coba konsul ke psikiater ternama. Tetap saja tidak ada jalan keluar yang terbaik. Bahkan, ke `orang-orang pintar` yang katanya ada orang yang iri dan sengaja menjatuhiku yang kemudian seusai itu aku diberikan berbagai macam ajimat, mimpi-mimpi seramku tidak pernah terhenti. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan rayuan gombal perempuan-perempuan yang aku tiduri. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh berbotol-botol miras yang masuk ke tenggorokanku sampai setiap malam sebelum tidur aku selalu masuk ke kamar tidur dalam kondisi teler. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh cara-cara medis yang memberikan suntikan ke tubuhku yang ternyata hanya memberikan ketenangan sesaat. Mimpi-mimpi burukku tidak bisa dihentikan oleh `orang-orang pintar` yang menjampi dengan doa-doa yang tidak kumengerti bahasanya disertai dengan ajimat-ajimat yang ternyata penuh dengan kepalsuan. Mimpi-mimpi burukku yang tidak terhenti itu yang membawaku akhirnya ke rumah sakit jiwa. Aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa karena ketika aku baru selesai berzina, aku ternyata membunuh perempuan panggilan. Aku benar-benar tidak sadar ketika membunuhnya. Aku terus meracau yang tidak dimengerti ucapannya oleh orang-orang yang menangkapku. Karena diduga sakit jiwa, aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa ini. Ah, sang bunglon yang menjadi pembunuh, kini dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Aku jadi penghuni rumah sakit jiwa bersama ratusan orang penderita penyakit jiwa yang ada di situ. Aku tidak tahu berapa lama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Selama aku menjadi penghuni rumah sakit jiwa seingatku hanya sekali istri dan anak-anakku mengunjungiku. Meski hanya sekali dan sebentar kedatangan mereka membuat aku terhibur.

     Aku kini benar-benar lupa hari, tanggal, bulan, dan tahun. Mimpi-mimpi buruk yang dulu mengejar-ngejarku sudah mulai berkurang. Mungkin obat penenang yang selalu disuntikkan dan diminum setiap hari. Aku kini sudah mulai tenang. Satu hal saja yang aku ketahui kalau aku sekarang bunglon sekaligus pembunuh. Aku sudah siap menanggung resiko akibat perbuatanku. Dan ternyata, aku dipecat sebagai anggota dewan dan pengurus partai. Aku kini bukan lagi menjadi bunglon. Aku kini merasa bebas. Tapi, satu hal lagi yang harus aku lakukan akibat tindakan kriminalku. Itu pun aku sudah siap. Aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di pengadilan karena biar bagaimanapun aku adalah pembunuh. Aku telah menghabisi nyawa orang walaupun itu aku lakukan dalam kondisi tidak sadar.

***

      

      Aku kini bukan lagi menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Aku menjadi pesakitan yang menunggu pengadilan. Aku sekarang menjadi orang hukuman di lapas. Di lapas inilah aku mulai menyadari kesalahanku. Pelan-pelan aku di bawah bimbingan pembina rohani di lapas mulai mengerjakan kewajibanku sebagai hamba Allah. Aku kini benar-benar ingin bertobat. Aku siap menerima hukuman yang akan ditimpakan padaku sebagai pembunuh. Aku saat ini menunggu pengadilan yang siap mengadiliku. Di saat-saat aku menunggu, ada kegembiraan ketika istri, anak-anakku, menantu-menantuku, dan cucu-cucuku mengunjungiku. Saking gembiranya aku melihat kedatangan mereka, tak terasa air mata ini bercucuran. Di akhir kunjungan istriku sempat berpesan.

“Yah, ibu, anak-anak, menantu-menantumu, dan cucu-cucumu akan tetap menunggu sampai ayah menghabisi masa hukuman di penjara. Semua harta yang ayah peroleh selama menjadi bunglon akan ibu sumbangkan ke lembaga amal kemanusiaan yang siap menerimanya. Ayah nanti selepas menjalani hukuman kembali pada keluarga. Kembali pada pekerjaan semula sebagai pendidik. Ayah setuju dengan usul ibu?”, tanya istriku.

“Insya Allah, ayah setuju ”, kataku terharu.

“Ibu pamit, ya Yah?”, sambil berkata begitu dia mencium punggung tanganku seraya memelukku.

“Assalamualaikum!”  

“Waalaikum salam! Terima kasih, Bu!”   

“Ya. Sama-sama.”

        Aku bersyukur karena istriku ternyata masih mencintaiku. Buktinya, dia siap menungguku sampai selesai masa hukumanku di penjara. Aku juga layak bersyukur karena dia sangat setia padaku. Buktinya, selama lebih dari sepuluh tahun aku menjadi bunglon dia tidak pernah menuntut aku untuk menceraikannya. Memang, dia tidak mau menerima pemberianku. Aku juga tidak mau memaksanya, tapi di saat-saat aku menderita karena harus menjalani hukuman dia masih sempat mengurusi harta-harta peninggalanku meskipun aku harus rela semua itu dilimpahkan ke lembaga-lembaga sosial kemanusiaan. Aku sekarang benar-benar bangkrut tidak memiliki harta.Yang kumiliki sekarang ini hanya pakaian yang melekat di badan dan beberapa helai pakaian di lemari kecilku. Tapi, aku masih punya orang-orang yang tetap mencintaiku: keluargaku. Itulah kekayaan yang tidak ternilai buatku. 

 

                                                                  Kota Bekasi, 20 Februari 2026


Minggu, 15 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (243)

 



Mencari/Dicari dan Memerlukan/Diperlukan

 

Subagio S.Waluyo

 

        Dalam iklan-iklan di media cetak dan media sosial, apabila suatu perusahaan/badan usaha memerlukan tenaga kerja selalu memulainya dengan kata mencari atau dicari. Meskipun terkadang ada juga yang menyebutkannya dengan kalimat yang agak panjang membuka kesempatan karier, misalnya PT Teknologi Terang Terus membuka kesempatan karier…. Kalau ada perusahaan/ badan usaha yang cenderung menggunakan membuka kesempatan karier, jelas kalimat yang digunakan kurang efektif. Akhirnya, lebih banyak perusahaan/ badan usaha kembali menggunakan  kata mencari atau dicari seperti pada kalimat `PT Teknologi Terang Terus mencari staf untuk sortir barang.` atau bisa juga `Dicari staf untuk sortir barang.`

      Di negara-negara asing yang mempergunakan bahasa Inggris, apabila aparat kepolisian ingin menangkap seorang pelaku tindak kriminal yang sebelumnya sudah diketahui identitasnya selalu memulainya dengan kata wanted. Kata tersebut jika diindonesiakan menjadi dicari. Kata  wanted merujuk pada seseorang yang dicari oleh polisi.  Tetapi, jika suatu badan usaha memerlukan tenaga kerja memulainya dengan kata looking for yang maknanya mencari. Di sini bisa dilihat contoh kalimatnya: "Join our fast-growing international fintech team! EKRUT is looking for a passionate Developer to build the next generation of financial solutions”. Di kalimat di atas ada kata looking for yang artinya mencari. Baik kata wanted maupun looking for maknanya hampir sama, yaitu dicari dan mencari. Dikatakan sama karena dalam bahasa Indonesia keduanya dari kata dasar yang sama, yaitu cari. Cuma kata mencari merupakan kata kerja aktif. Sedangkan, kata dicari merupakan kata kerja pasif. Kalau merujuk pada kalimat-kalimat yang digunakan perusahaan-perusahaan asing agar tidak sama dengan yang digunakan oleh pihak kepolisian, mereka menggunakan kata looking for untuk perusahaan yang mencari tenaga kerja dan menggunakan kata wanted untuk pelaku tindak kriminal yang dicari polisi. Pertanyaan yang muncul, apakah dalam pemakaian kata di Indonesia tidak sebaiknya dilakukan pembedaan ketika pihak kepolisian mencari pelaku tindak kriminal dan perusahaan-perusahaan yang mencari tenaga kerja?

    Sebagai pemerhati bahasa Indonesia, penulis mengusulkan agar ada pembedaan penggunakan kata yang biasa digunakan oleh pihak kepolisian dengan pebisnis atau pemilik perusahaan. Untuk pihak kepolisian yang sedang mencari pelaku tindak kriminal bisa saja tetap menggunakan kata mencari/dicari. Tetapi, khusus untuk mereka yang bergelut di bidang bisnis, sebaiknya lebih memilih kata memerlukan/diperlukan. Kalimat-kalimat berikut ini bisa dijadikan contoh menarik dalam pembuatan iklan, baik iklan lowongan umum, bimbingan belajar, profesional, maupun UMKM/Jasa.

·     Perusahaan swasta di bidang jasa memerlukan tenaga kerja berpengalaman sebagai Marketing Reps (MR).

· Kursus Guna Dharma memerlukan staf Adm (min. SMA) dan Guru Matematika/IPA (min. D3).

·   Kantor hukum terkemuka di Jakarta memerlukan tenaga Legal Corporate dengan pengalaman minimal 3 tahun.

·    Rumah makan Padang Sedap memerlukan tenaga juru masak wanita, jujur, dan ulet.

Kata memerlukan (dalam bentuk aktif) bisa saja diubah menjadi diperlukan (bentuk pasif) sehingga menjadi kalimat-kalimat berikut ini.

·    Diperlukan tenaga kerja berpengalaman sebagai Marketing Reps (MR) oleh perusahaan swasta di bidang jasa.

·   Diperlukan staf Adm (min. SMA) dan guru Matematika/IPA (min.D3) oleh Kursus Guna Dharma.

·     Diperlukan tenaga Legal Corporate dengan pengalaman minimal 3 tahun oleh Kantor hukum terkemuka di Jakarta.

·  Diperlukan tenaga juru masak wanita, jujur, dan ulet oleh Rumah makan Padang Sedap. 

Tentang mau menggunakan kata memerlukan atau diperlukan, semuanya tergantung pada orang yang mau menggunakannya. Namun, yang pasti dengan menggunakan kata memerlukan atau diperlukan pebisnis sudah bisa membedakan antara kalimat yang biasa digunakan pihak kepolisian ketika mencari pelaku tindak kriminal dan perusahaan-perusahaan atau badan usaha yang memang memerlukan tenaga kerja.


Jumat, 13 Februari 2026

Bahasa dan Sastra (242)




Ujian dan Pengujian


Subagio S.Waluyo

 

          Dalam pemakaian imbuhan bahasa Indonesia, kerap kali ditemukan dua bentuk imbuhan yang fungsinya sama namun maknanya berbeda. Karena pemakai bahasa umumnya tidak memahami, baik makna maupun fungsinya pemakai bahasa sering kali dengan tidak disadari menggunakan sebuah imbuhan dan tidak memanfaatkan imbuhan lainnya meskipun maknanya jelas berbeda. Contoh konkret yang bisa diambil di sini adalah kata ujian yang lebih sering digunakan daripada kata pengujian. Kedua kata tersebut apabila dianalisis proses pembentukannya dan maknanya jelas berbeda. Namun dalam pemakaian bahasa sehari-hari akhiran-an pada kata ujian seolah-olah sama maknanya dengan gabungan peN-an. Pada kata pengujian sehingga kata ujian menggeser kata pengujian.

          Akhiran –an menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat TBBBI) bermakna seperti berikut ini.

a.    Hasil tindakan yang dinyatakan oleh verba dengan meng-(dapat juga dikatakan nomina dengan –an bermakna apa yang di….), misalnya:

anjuran

:

hasil menganjurkan/yang dianjurkan

kiriman

:

hasil mengirimkan/yang dikirimkan

asinan

:

hasil mengasinkan/yang diasinkan

kiloan

:

hasil mengilokan/yang dikilokan

b.   Ke `tempat`, misalnya:

tepian

:

tempat menepi

belokan

:

tempat membelok

akhiran

:

yang ditempatkan di akhir

atasan

:

yang ditempatkan di atas/yang diataskan

c.    Ke waktu yang berkala, misalnya:

(surat kabar) harian Republika

(majalah) mingguan Tempo

(jurnal) bulanan Bahasa

 (tabloid) mingguan Nova

Sedangkan gabungan peN-an menurut TBBBI bermakna seperti berikut ini.

a.    Proses atau perbuatan meng- ….`, misalnya:

pemberontakan

:

proses/perbuatan memberontak

pendaftaran

:

proses/perbuatan mendaftar

pelatihan

:

proses/perbuatan melatih

b.   Hasil, misalnya:

penyelesaian

:

proses/perbuatan/hasil menyelesaikan

pemeriksaan

:

proses/perbuatan/hasil memeriksa

pengakuan

:

proses/perbuatan/hasil mengakui/(-kan)

pendapatan

:

proses/perbuatan/hasil mendapatkan

          Berdasarkan uraian di atas, kata ujian berarti hasil menguji, kalau boleh ditambahkan yang diujikan. Selama ini kata ujian hanya digunakan untuk proses/perbuatan. Sebagai bukti bisa dilihat pada contoh berikut ini.

Hasil ujian saya benar-benar mengecewakan.

Anda besok harus menempuh ujian sekali lagi.

Kalau mengacu pada proses/perbuatan, kata yang betul adalah pengujian karena kata pengujian bermakna proses/perbuatan menguji. Dengan demikian contoh kalimat di atas seharusnya berbunyi:

Ujian saya benar-benar mengecewakan.

Anda besok harus menempuh pengujian sekali lagi.  

          Bagaimana pula dengan kata karangan, latihan, lukisan, saringan, dan tulisan? Kata-kata tersebut pada prinsipnya maknanya sama, yaitu hasil mengarang/yang dikarang, hasil melatih/yang dilatih, hasil melukis(kan)/ yang dilukis, hasil menyaring/yang disaring, dan hasil menulis(i)(kan). Singkatnya, untuk menyatakan proses yang akan/sedang berlangsung gunakanlah imbuhan peN-an sehingga kata-kata tersebut menjadi pengarangan, pelatihan, pelukisan, penyaringan, dan penulisan. Demikian, semoga bermanfaat!

 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...