Merdeka! Merdeka! Merdeka?
Subagio S. Waluyo
Merdeka!
Tulisan ini dimulai dari sebuah puisi
heroik yang ditulis Chairil Anwar, “Karawang Bekasi”. Puisi yang ditulis oleh
penyair Angkatan `45 ini di hari-hari bersejarah buat negeri ini sering dibacakan
dan juga sering dijadikan bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi, baik di
tingkat pendidikan menengah maupun tinggi. Bahkan, tidak sedikit di kalangan
masyarakat umum juga menjadikan puisi ini sebagai bahan perlombaan baca puisi
atau deklamasi. Memang, isi puisi ini bagi kita benar-benar membangkitkan
semangat `45 yang tidak kunjung padam. Agar benar-benar kita bisa meresapi
isinya, coba kita simak puisi berikut ini.
KARAWANG
BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5
ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan
dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
1948
Puisi di atas boleh dikatakan sebuah
puisi fenomenal yang monumental. Meskipun kata sebagian sastrawan diduga
merupakan puisi saduran, isinya luar biasa. Kita bisa membayangkan boleh jadi
sang penyair, Chairil Anwar, ketika menulis puisi ini benar-benar disertai
dengan semangat heroik yang tinggi sehingga melahirkan puisi yang tidak pernah
bosan-bosannya untuk dibacakan atau dideklamasikan. Membaca puisi “Karawang
Bekasi” kita seolah-olah dimotivasi oleh Chairil Anwar agar mempertahankan
negara ini dari cengkeraman tangan-tangan imprialis. Caranya, kita harus siap
mengangkat senjata sampai tetes darah penghabisan. Oleh karena itu, tidak ada
kata menyerah untuk melawan penjajah yang telah mencengkeramkan kuku-kuku
imprialisme-kolonialismenya selama lebih dari 350 tahun.
Ketika puisi ini ditulis usia Chairil
Anwar masih sangat muda, baru 26 tahun. Tetapi, dalam usia semuda itu, coba
perhatikan isi yang terkandung dalam puisi di atas. Bait pertama puisi
“Karawang Bekasi” dimulai dengan sebuah pernyataan `Kami yang kini terbaring
antara Karawang-Bekasi/Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi`.
Ini sebuah pernyataan bahwa para pejuang yang berada di Karawang Bekasi telah
menjadi korban ketika berhadapan dengan penjajah Belanda yang ingin merebut
kembali negara ini. Mereka sudah tidak mampu lagi teriak `merdeka!` dan
mengangkat senjata. Mereka yang mengangkat senjata adalah pejuang-pejuang muda.
Berbekal semangat juang yang tinggi, dengan senjata apa adanya, mereka melawan
penjajah Belanda. Buat mereka, para pejuang muda, hilangnya 4-5 ribu nyawa
tidak ada artinya. Bahkan, mereka mengatakan kalau `kerja belum selesai, belum
apa-apa` meskipun mereka telah menjadi `tulang-tulang berserakan` atau
`tulang-tulang yang diliputi debu`.
Meskipun telah tiada, mereka minta
agar dikenang perjuangannya. Mereka juga berpesan pada bangsa ini agar
meneruskan perjuangan mereka. Selain itu, mereka juga berpesan agar menjaga
tokoh-tokoh perjuangan yang menjadi tokoh-tokoh proklamator negara ini, yaitu
Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir karena berkat jasa mereka negara ini
bisa merdeka dari penjajahan. Dengan demikian, mereka adalah pejuang-pejuang
yang tulus, yang tidak minta imbalan (tanpa pamrih) dari manapun. Mereka hanya
minta agar kita yang masih hidup yang sampai saat ini telah menikmati sebuah
kemerdekaan tetap mengenang jasa-jasa mereka yang terbaring ribuan pejuang di
Karawang Bekasi. Jadi, puisi ini sekali lagi mencoba menggambarkan insan-insan
muda yang rela mati demi perjuangan kemerdekaan. Chairil juga meminta kesadaran
kita agar generasi penerus bangsa ini melanjutkan perjuangan walaupun negara
ini telah benar-benar merdeka.
Merdeka!
Negara yang baru merdeka sama seperti
anak bayi yang baru lahir. Ada sebuah proses yang harus dijalankan. Ada banyak
rintangan yang harus dihadapi. Lihat saja seorang anak yang baru lahir, tidak
mungkin dia bisa langsung berdiri dan berjalan. Dia perlu proses, perlu
tahapan, perlu jatuh bangun untuk bisa berdiri dan berjalan. Ketika berjalan
pun harus tertatih-tatih. Lama kelamaan baru semuanya bisa berjalan lancar.
Begitu pun yang terjadi pada negara kita. Di masa-masa awal negara ini baru
merdeka masih banyak menghadapi tantangan. Tantangan terutama datang dari
Britania Raya (Inggris) dengan alasan mau melucuti tentara-tentara Jepang tapi
di balik misi itu mereka ingin mengembalikan penjajahan pada Belanda yang kala
itu juga turut membonceng tentara-tentara Inggris. Rupanya, Belanda masih ada
keinginan menancapkan kuku-kuku imprealisme-kolonialismenya di negeri ini. Mau
tidak mau kehadiran mereka yang tidak dikehendaki oleh anak bangsa ini mengundang
berbagai pertempuran. Terjadilah pertempuran yang cukup besar di Surabaya.
Pertempuran yang setidaknya menewaskan 6.000 – 16.000 pejuang dan 200.000
rakyat sipil mengungsi dari Surabaya telah menggerakkan berbagai perlawanan
rakyat di Indonesia.
Masih ingatkah pertempuran di Surabaya
yang kemudian dikenal peristiwa itu dengan gugurnya banyak pejuang sehingga
setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan? Siapakah tokoh pertempuran di
Surabaya yang berhasil membakar semangat `arek-arek Suroboyo? Siapa lagi kalau
bukan Bung Tomo yang dengan gagah beraninya berpidato membakar semangat
`arek-arek Suroboyo`. Semboyan Bung Tomo `merdeka atau mati` telah membikin
para pejuang waktu itu tidak gentar menghadapi tentara Belanda yang bersekutu
dengan Inggris. Bung Tomo di Surabaya merupakan salah seorang pemimpin
revolusioner yang membakar semangat pejuang melawan tentara-tentara Britania
Raya yang bersenjata lebih canggih daripada pejuang-pejuang kita. Jika
Chairil Anwar, sebagai sastrawan Angkatan`45, lewat puisi-puisinya
berhasil menggedor insan-insan muda untuk mengangkat senjata melawan
penjajahan, Bung Tomo lewat pidatonya yang berapi-api berhasil membakar
semangat pejuang-pejuang muda melawan agresor Britania Raya dan Belanda.
Selama kurun waktu cukup lama (sekitar
hampir delapan belas tahun) setelah kemerdekaan negara kita sampai dengan
pengambilalihan Irian Jaya pada 1 Mei 1963 begitu banyak perjuangan
melawan kegigihan penjajah Belanda baik melalui pertempuran maupun berbagai
perjanjian karena memang masih ada keinginan Belanda untuk menjajah kembali
negara ini. Di luar itu, tidak sedikit juga pemberontakan yang dilakukan justru
oleh sebagian bangsa Indonesia sendiri yang tidak puas dengan kebijakan
Pemerintah Indonesia pada waktu itu. Perjuangan menghadapi melawan bangsa
sendiri benar kata Bung Karno lebih sulit daripada menghadapi penjajah.
Soekarno sendiri selaku Presiden RI yang berkuasa selama 21 tahun dijatuhkan
karena adanya peristiwa Pemberontakan G30S PKI pada 30 September 1965.
Jumlah korban jiwa sampai dengan tahun 1966 mencapai 500.000 orang
lebih. Yang terbanyak menjadi
korban pada peristiwa itu di Jawa dan Bali.
Merdeka?
Tanpa terasa sudah 81 tahun negara ini merdeka. Selama 81 tahun negara ini sudah delapan kali mengalami pergantian kepala negara (presiden).
Selama 81 tahun negara ini dapat dipertahankan kemerdekaannya. Mereka yang
lahir yang bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia, sekarang ini telah menjadi
kakek-kakek dan nenek-nenek. Sudah jadi tua renta. Tetapi, negara ini tidak boleh
menjadi tua renta. Boleh-boleh saja manusianya yang lahir
81 tahun yang lalu tua renta. Kondisi fisik sudah jauh
berkurang. Negara ini semakin tua justru fisiknya (sarana dan prasarananya)
semakin baik. Dengan kata lain, negara yang kita cintai ini infrastrukturnya
semakin baik. Di samping itu, kondisi negara ini semakin baik bukan hanya
tersedianya infrastruktur yang memadai, tetapi dalam kehidupan politik kita
benar-benar telah mengecap alam demokrasi yang demikian kondusif yang
sebelumnya kita tidak pernah merasakannya. Begitu juga di bidang pendidikan,
banyak anak bangsa yang telah bisa mengecap pendidikan tinggi. Di bidang
ekonomi, banyak kalangan pribumi yang sekarang juga bisa bersaing dalam dunia
bisnis dengan kalangan pebisnis dari manapun. Yang jelas, di semua sektor
kehidupan bangsa ini telah benar-benar mengecap kenikmatan yang namanya
kemerdekaan.
Berbicara tentang kemerdekaan yang
sekarang kita benar-benar bisa nikmati, coba kita renungkan: apakah kita saat
ini benar-benar merdeka? Apa arti sebuah kemerdekaan kalau pada 11 April 1967
Suharto selaku Presiden RI melakukan penandatanganan Freeport
(lengkapnya: Freeport Sulphur of Delaware, AS) untuk penambangan tembaga
di Irian Barat. Bertahun-tahun bangsa ini ditipu oleh mereka yang terlibat
dalam penandatanganan Freeport tersebut yang ternyata bukan hanya
tembaga yang dikeruk oleh Freeport tetapi juga emas dan perak. Inilah
untuk pertama kali kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman
Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan
Indonesia, sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah jutru
merugikan Indonesia. Setelah itu juga ikut ditandatangani kontrak eksplorasi
nikel di Irian Barat dan di area Waigee Sentani (Irian Barat) oleh PT
Pacific Nickel Indonesia dan Kementerian Pertambangan Republik Indonesia. Sejak peristiwa pertama penandatangan Freeport
sampai saat ini sekian banyak penandatanganan perjanjian pengerukan sumber daya
alam (SDA) dan mineral yang dilakukan pihak Pemerintah Indonesia dengan pihak
asing (sebagian besar dengan AS) yang sama sekali tidak meningkatkan
kesejahteraan rakyat karena semua tambang itu menjadi tambang para pejabat dan
petinggi militer untuk memperkaya diri sendiri. Apakah kita ini benar-benar
merdeka?
Kita bangga di masa Suharto berkuasa
bahwa di masa Repelita I (dimulai 1 April 1969) membawa pertumbuhan ekonomi
naik dari rata-rata 3% menjadi 6,7% per tahun. Pendapatan perkapita meningkat
dari 80 dolar AS menjadi 170 dolar AS. Inflasi dapat ditekan menjadi 47,8% pada
akhir Repelita I pada tahun 1974. Diteruskan setiap Pelita selalu ada laporan
tentang perbaikan ekonomi. Tetapi, ternyata pada pertengahan 1997 terjadi
krisis moneter (krismon) yang berujung pada kemarahan massa. Karena peristiwa
itu juga, yang mengakibatkan Suharto harus lengser dari singgasana
keprisidenannya setelah berkuasa lebih dari 32 tahun. Apakah kita ini benar-benar merdeka?
Pascareformasi yang seharusnya
memberikan banyak harapan bagi seluruh lapisan masyarakat ternyata `jauh
panggang dari api`. Artinya, apa yang kita harapkan hanya sebatas angan-angan.
Di bidang politik, misalnya, kita memang benar-benar harus bangga sebagai
negara yang dikatakan orang luar paling demokratis setelah AS dan Eropa. Tapi,
tolong dicatat bahwa yang akan menjadi pemimpin di negara ini adalah
orang-orang yang direstui pihak asing. Terutama mereka-mereka yang punya kepentingan
terhadap negara ini. Mereka-mereka yang memiliki keinginan mengeruk kekayaan
SDA dan mineral negara ini. Hal ini yang menjadi salah satu sebab, siapapun
yang akan menjadi presiden Indonesia ke depannya, tak akan pernah mampu untuk
mengubah perjanjian dengan mereka-mereka, penguasa imprealis, yang mengeruk
kekayaan kita. Karena, jika Presiden Indonesia siapapun dia, mulai berani
mengutak-atik tambang-tambang para elite dunia, mereka akan menggunakan seluruh
kekuatan politik dengan media dan militernya yang sangat kuatnya di dunia.
Caranya, menggoyang kekuasaan Presiden Indonesia. Kerusuhan, adu domba, agen
rahasia, mata-mata, akan disebar di seluruh pelosok negeri agar rakyat
Indonesia merasa tidak aman dan tidak puas. Terakhir, tentu saja mereka akan
meruntuhkan kepemimpinan presidennya sehingga sang presiden akan benar-benar
jatuh dari kekuasaannya siapa pun dia. Apakah kita ini benar-benar
merdeka?
Bagaimana agar kita benar-benar
merdeka? Kita harus kembali pada jati diri kita sebagai bangsa. Memang,
globalisasi dan liberalisasi kehadirannya tidak bisa ditolak. Negara ini pun
telah demikian berlebihan dalam menganut liberalisasi di bidang ekonomi
sehingga banyak aset milik bangsa telah beralih ke pihak asing. Di bidang
ekonomi telah demikian kuatnya dominasi asing. Ekonomi pasar bebas membuat kita
tidak bisa lari menghindar dari arus modal asing. Tetapi, kita tidak perlu
menjadi xenophobia, takut terhadap asing. Kita juga jangan sampai
terbawa arus besar sehingga kita mengorbankan bangsa kita sendiri. Dominasi
asing yang tidak terkontrol akan membuat kita kehilangan kedaulatan. Kita harus
menyadari bahwa penjajahan modern bukan lagi dilakukan melalui penjajahan
fisik, tetapi melalui penjajahan ekonomi sehingga tidak mustahil akan berpengaruh
pada cara berpikir kita. Wallahu a`lam bissawab.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar