ALBUM “SGT. PEPPER`S
LONELY HEART CLUB BAND”
SEBAGAI PRODUK BUDAYA
UNGGUL NEGARA MAJU
Adalah majalah Rolling Stone pada tahun 2003 yang memasukkan
salah satu album The Beatles yang selesai dirilis pada tahun
1967, yaitu Sgt. Pepper`s Lonely Heart Club Band (selanjutnya
disingkat SPLHCB) sebagai album terbaik (nomor 1) di dunia
sepanjang masa. Lahirnya album The Beatles kesembilan ini
tidak terlepas dari kemajuan band saingannya, The Beach Boys, yang
merilis album Pet Sounds yang menggemparkan. The Beach
Boys telah melakukan langkah-langkah maju dengan memuat
teknologi-teknologi baru, inovasi, dan terobosan baru yang membuat
personel-personel The Beatles bersemangat untuk melampaui
mereka. Selain semangat untuk melampaui saingan beratnya, banyak kalangan yang
meragukan keberlangsungan The Beatles setelah berhenti dari
tur (tur mereka terakhir 29 Agustus 1966). Keraguan banyak kalangan tentang
keberlanjutanThe Beatles dan semangat untuk melampaui saingan
beratnya, The Beach Boys, membuat The Beatles bisa
mengalahkan mereka. Hal itu terbukti album SPLHCB yang diluncurkan
pada 1 Juni 1967 bisa bertahan di peringkat atas tangga lagu selama 26 minggu
(setengah tahun). Sebuah prestasi yang luar biasa. Pertanyaan yang muncul
kemudian, mengapa The Beatles bisa seperti itu? Apa yang
dilakukan atau bagaimana caranya The Beatles sampai bisa
meraih kesuksesan luar biasa setelah banyak orang yang meragukan keberadaannya
dan persaingan yang luar biasa bukan saja menghadapi The Beach
Boys tetapi juga grup-grup band lainnya yang mulai melakukan inovasi
di era tahun `60-an?
/2/
Koentjaraningrat (1992:5) dalam Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan berpendapat
bahwa kebudayaan itu mempunyai tiga wujud, yaitu wujud (1) ide-de, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan-peraturan; (2) aktivitas kelakuan
berpola manusia dalam masyarakat; dan (3) benda-benda hasil karya manusia.
Jadi, lingkup wujud kebudayaan itu di sekitar ide, aktivitas, dan hasil.
Mengingat mereka (personel-personel The Beatles) merasa tersaingi
dan diragukan keberlanjutannya, ketiga wujud kebudayaan tersebut secara
berurutan dilakukannya. Memang, mereka melakukan cooling down. Di
saat-saat cooling down itu mereka bukan berangan-angan, tetapi
merajut mimpi-mimpinya agar bisa mengalahkan saingannya sekaligus menjawab
keragu-raguan beberapa kalangan tentang keberlanjutan The Beatles.
Langkah
awal, dalam rangka mewujudkan ide-ide yang cemerlang, diam-diam mereka pelajari
perkembangan perubahan masyarakat terhadap peminatannya di dunia musik dan
eksprimen-eksprimen serta terobosan-terobosan yang dilakukan The Beach Boys saingannya.
Setelah itu di langkah kedua, dalam rangka mewujudkan ide-idenya yang
diimplementasikan dengan aktivitas, mereka melakukan langkah besar, yaitu
sarana-sarana bermusik yang semula hanya menggunakan gitar, bas, drum, dan
harmonika dimodifikasi dengan beragam alat musik India, klarinet, alat musik
gesek, harpsicord, harmonium, dan masih banyak lagi. Bahkan, pada A Day in
The Life yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai masterpiece di
album SPLHCB ini, terdapat orkestra musik gesek yang keras, sangat
megah, dan diakhiri dengan tiga piano yang ditekan bersamaan. Konon kabarnya
untuk mensukseskan A Day in The Life melibatkan empat puluh alat musik orkestra
yang diselesaikan selama lima hari. Ketika kedua langkah di atas telah
dilaksanakan dengan sempurna, bagaimana langkah ketiga yang merupakan hasilnya?
Hasil kerja keras yang diselesaikan selama 700 jam membikin musisi-musisi lain
bernafsu mengungguli The Beatles. Sebut saja dedengkot The
Beach Boys, Brian Wilson, di tengah-tengah krisis personel-personelnya
setelah mendengar Strawberry Fields mundur teratur alias tidak
berminat untuk mengunggulinya. Bagaimana Brian Wilson tidak bersemangat untuk
menggunggulinya kalau karya agung ini mempunyai banyak keunggulan?
Keunggulan yang perlu dicatat di
sini di antaranya.
1.
Album SPLHCB menurut
majalah Rolling Stones yang terbit pada tahun 2003
sebagai album terbaik nomor 1 di dunia sepanjang masa karena selama 26 minggu
lagu ini tetap di peringkat atas tangga lagu.
2.
Album
tersebut memuat sejumlah track terkenal seperti “When I`m Sixty Four” dan
“A Day in The Life” dan khusus untuk “A Day in The Life” dicap oleh berbagai
kalangan sebagai masterpiece terbaik The Beatles dan
lagu terbaik sepanjang masa.
3. Karena
hasil usaha The Beatles dalam melakukan inovasi-inovasi baru,
album SPLHCB menjadi album yang paling berpengaruh bagi industri
musik hingga kini.Sampai saat ini cover album SPLHCBdiakui sebagai
salah satu cover terbaik di dunia.
4.
Album SPLHCB diakui
sebagai produk terbaik dalam hal pengawinan berbagai aransemen musik dan
antarbudaya (ada unsur berbau budaya timur: India).
Album yang memuat tiga belas
nomor ini, setelah menjalani delapan tahun karier dan lebih dari 1400 kali
penampilan di seluruh dunia, menjadi puncak karya The Beatles. Dengan
munculnya album SPLHCB bagi The Beatles sekaligus
merupakan ucapan selamat tinggal untuk Beatlemania dan lagu-lagu cinta.
Jika sebelum munculnya album ini mereka adalah para musisi pertunjukan, maka
setelah munculnya album ini mereka merasa telah menjadi artis yang
sesungguhnya. Sebagai tambahan perlu juga dijelaskan di sini, munculnya album
ini menjadi sebuah petunjuk bagi sebuah musim yang penuh dengan harapan,
gejolak, dan pencapaian di akhir dekade 60-an (Summer Love 1967).
/3/
Mengapa
The Beatles bisa melakukan langkah besar yang menakjubkan sehingga dengan
menyimak albumSPLHCB saja tampak jelas adanya perubahan yang luar
biasa? Kunci kesuksesan personil-personil The Beatles bisa
mengubah segalanya menurut Larry Lange semata-mata karena mereka secara
konsisten (disertai komitmen tentu saja) menerapkan tujuh prinsip kebijaksanaan
yang menakjubkan (Larry Lange, 2003:xi). Ketujuh prinsip kebijaksanaan yang
menakjubkan itu adalah mimpi, tujuan, sikap, tim, kontrol, berkembang, dan
spirit (Larry Lange, 2003:xv-xvi). Prinsip pertama tentang mimpi, The
Beatles mengambil inspirasi (juga sebagai bagian dari mewujudkan
mimpinya) dari dunia mereka sebagaimana adanya.
Tengok
saja lagu-lagu seperti “Strawberry Fields Forever” yang
merupakan salah satu tempat favorit John Lennon sewaktu kanak-kanak
bermain. Tempat itu dekat dengan rumah bibinya, Mimi, tempat John tinggal. Di
tempat itu, John sering bermain dan bermimpi di tempat yang tersembunyi itu.
Dari tempat itu, John mendapatkan ilham untuk menulis syair yang belakangan
membuat. Brian Wilson tidak bersemangat lagi untuk menyaingi The Beatles.
Lagu
“Penny Lane” juga diambil dari sebuah nama jalan yang benar-benar ada di
Liverpool. Di tempat itu ada tukang cukur langganan John, Paul, dan George
memotong rambutnya ketika mereka masih kanak-kanak. Lagu yang digubah
oleh Paul Mc Cartney ini berkisah tentang pengalaman visual Mc Cartney. Sambil
duduk di halte bus yang ada di jalan itu, Paul mencatat hal-hal yang dia
lihat, seperti tempat tukang cukur, foto langganannya, dan perawat penjual
bunga “poppies”. Semua yang dia lihat, dicatat, lalu dituangkan ke dalam sebuah
syair.
Prinsip kedua, tujuan. The
Beatles memiliki prinsip yang layak ditiru, yaitu untuk mencapai
tujuan yang sesulit apapun tidak ada kata menyerah. Buat mereka, empat pemuda
Liverpool itu, tidak ada istilah mati langkah. Selalu ada saja langkah-langkah
yang dilakukan. Di saat-saat banyak orang yang bertanya-tanya tentang
keberlanjutan The Beatles setelah diputuskan tidak lagi
manggung, mereka banting stir dengan melakukan banyak aktivitas di
studio-studio rekaman. Eksprimen-eksprimen musik dalam rangka mewujudkan
impian-impiannya dilakukan dengan kerja keras. Sekali lagi kerja keras.
Sebagaimana saingannya, The Beach Boys, yang terlebih dahulu
melakukan eksprimen-eksprimen musik dengan memadukan berbagai instrumen
musik, The Beatles pun melakukan hal yang sama. Bahkan,
hasilnya ternyata jauh lebih baik daripada grup band saingannya. Lihat saja
album mereka yang terdapat di SPLHCB, di sana bukan hanya alunan
musik yang jauh berbeda dengan album terdahulu di saat-saat mereka hanya
menggunakan gitar, bas, drum, dan sekali-sekali harmonika, tetapi juga beragam
alat musik. Mereka juga memasukkan alat musik India, sitar, dalam lagu “Within
You Without You”. Sebenarnya, di album sebelumnya, Rubber Soul,
mereka juga telah melakukan eksprimen dengan menggunakan sitar ketika merilis
“Norwegian Wood”. Setelah itu, di album Revolver, “Yellow
Submarine”, mereka juga bereksprimen dengan memasukkan warna-warna musik
yang lain, yang tidak biasanya mereka lakukan. Eksprimen-eksprimen tersebut
juga masih dilakukan dalam single-single mereka, seperti dalam “Strawberry
Field” dan “Penny Lane”. Kedua single itu lahir sebelum lahirnya album SPLHCB.
Prinsip ketiga, sikap. Coba amati “We Can Work it Out”. Apa yang
bisa diperoleh dari lagu tersebut? The Beatles mengajarkan pada
para penggemarnya atau semua orang yang mau mendengarkannya untuk tidak ada
kata menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan. Di syair lagu tersebut
berulang kali mereka menyerukan “We Can Work it Out” (“Kita dapat
Menyelesaikannya”). Bukan itu saja, mereka juga menekankan Life is very
short, and there`s no time for fussing and fighting,my friend (Hidup
itu sangat singkat kawan, tak ada waktu untuk bertengkar dan berkelahi). Inilah
sikap mereka menghadapi berbagai tantangan:”Kita dapat menyelesaikannya”.
Karena yakin dapat menyelesaikan segala tantangan, mereka menjadi orang-orang
yang tangguh menghadapi baik para penggemarnya, para produser rekaman, maupun
grup-grup band saingannya. Hal ini sesuai dengan ucapan George Harrison, “Saya
kira kami sangat tangguh, karena saya mendengar tentang orang yang menjadi gila
dan mengalami gangguan jiwa ketika menghadapi tantangan dan kesulitan yang bahkan
tak seujung kuku pun dibandingkan yang kami lewati” (Larry Lange, 2003:53).
Karena itu, di album berikutnya, White Album, sekurang-kurangnya
ada dua lagu yang juga merupakan hasil penyerbukan silang antarbudaya, yaitu di
“Piggies” dan “Don`t Pass Me By”. Bisa juga diamati dalam album Yellow
Submarine, terutama di “All You Need is Love”. Khusus untuk yang
terakhir ini, ada keunikan tersendiri jika benar-benar disimak alunan musik
yang terdapat pada lagu tersebut terutama pada penggunaan orkestranya.
Prinsip keempat, tim. Paul McCartney mengatakan, “Kenyataannya,
kami adalah tim, tak peduli apapun yang terjadi di antara kami dan di sekitar
kami” (Larry Lange, 2003:81). Perkataan dan sekaligus pengakuan Paul
membuktikan bahwa The Beatles adalah sebuah tim yang
tangguh. The Beatles adalah kumpulan superstar yang tangguh,
yang membentuk sebuah tim yang solid. Tim yang tangguh dan solid ini terbukti
berhasil menghadapi berbagai rintangan. Silakan diamati inovasi-inovasi yang
mereka lakukan dari album ke album, selalu menunjukkan adanya perubahan. Inilah
sebuah grup band yang disebut sebagai Fab Four karena adanya
ikatan yang konsisten di antara mereka. Bagaimana mereka bukan tim yang
konsisten kalau pengalaman masa kecil mereka terbawa dalam ikatan ini? (Larry
Lange, 2003:95). Ikatan yang solid dan tangguh ini berhasil menghadapi saingan
beratnya, The Beach Boys, dengan mengunjungi studio mereka di AS
ketika The Beatles semakin dekat merampungkan
album SPLHCB (Larry Lange, 2003:106). Perlu juga diketahui, di
saat The Beatles menggarap album SPLHCB kepemimpinannya
telah dialihkan dari John Lennon ke Paul McCartney. Saking kuatnya ikatan
mereka dengan tim, John Lennon pada tahun 1967 pernah meluncurkan pernyataan
indah: “Jika saya sendirian saja selama tiga hari, tidak melakukan apa-apa,
saya akan nyaris kehilangan diri saya sepenuhnya. Saya ada di belakang kepala
saya. Saya bisa melihat tangan saya dan menyadari tangan itu bergerak, tapi itu
seperti robot yang melakukannya. Saya harus bertemu dengan yang lainnya untuk
mengembalikan diri saya” (Larry Lange, 2003:96).
Prinsip kelima, kontrol. Grup band asal Liverpool ini dalam hal
melaksanakan prinsip kelima cenderung untuk menciptakan dan mengontrol aspek
karier mereka mulai dari penampakan luar mereka hingga arah dan kualitas musik
serta film mereka. Bahkan hingga orang-orang yang dilibatkan dalam mewujudkan
semua itu (Larry Lange, 2003:114). Sebagai buktinya, coba perhatikan cover
album SPLHCB. Mereka sendiri baik yang merancang cover maupun
pemberian nama album SPLHCB tersebut. Jadi, tidak ada campur
tangan orang lain. Begitu juga ketika mengaransemen musik di album tersebut,
mereka juga yang semuanya terlibat melakukannya. Tentu saja ketika mereka harus
melakukan penyerbuksilangan budaya dengan cara memasukkan berbagai instrumen
musik (termasuk di antaranya instrumen musik dari India, sitar) mau tidak mau
juga harus melibatkan banyak orang. Tetapi, semua pekerjaan itu di bawah
kontrol mereka sehingga kalau hasilnya dinilai gagal, mereka sendiri yang
menanggungnya. Sebaliknya, kalau berhasil, mereka juga yang menikmatinya.
Prinsip keenam, berkembang. Salah seorang pentolan The Beatles,
Paul McCartney, berucap: ”Kami selalu berusaha menjadi yang terkemuka: lebih
keras, lebih jauh, lebih lama, lebih banyak, berbeda” (Larry Lange,
2003:149). Apa yang bisa diambil dari ucapan tersebut? The Beatles ingin
mewujudkan mimpi-mimpinya dengan satu kata: berkembang. Mereka
buktikan ucapan tersebut dengan terus belajar. Mereka belajar untuk mengalihkan
energi mereka dari tur-tur yang melelahkan ke studio rekaman. Hasilnya, mereka
menghasilkan album Revolver yang oleh banyak kritikus musik
disebut sebagai album rock terbaik sepanjang masa. Mereka berlajar melakukan.
Hasilnya, muncullah single-single:”Norwegian Wood”, “Eleanor Rigby”, “Piggies”,
“Strawberry Fields Forever”,”Penny Lane”, ”Yellow Submarine”, dan “All
You Need is Love”. Selain itu, satu album yang merupakan sebuah hasil inovasi
yang cerdas: SPLHCB.
Prinsip ketujuh, spirit. The Beatles, telah memperoleh
semua impian. Tetapi, impian yang lebih merupakan kenikmatan duniawi tidak
memberikan mereka kepuasan batin. Mereka mulai mencari makna dari kehidupan
ini. Mereka menemukannya di India. John Lennon, misalnya, mempelajari buku
mistik Tibetan Book of the Dead dan memakai sebagian dari teks
dalam buku itu untuk lirik “Tomorrow Never Knows” (Larry Lange, 2003:179). John Lennon seperti
manusia pada umumnya yang tidak tahu tentang kejadian yang akan datang. Lewat
lirik itu diakui sejujurnya bahwa dia makhluk yang lemah, yang mengakui bahwa
ada yang mengatur dan menentukan semuanya. George Harrison juga mengakui hal
yang sama bahwa semua benda/makhluk di dunia ini akan binasa.
Karena mereka
mengakui kelemahannya, ini akibat mereka berkelana ke alam spritual, mau
tidak mau mereka melakukan berbagai eksprimen di bidang musik.
Eksprimen-eksprimen yang dilandasi spiritual menghasilkan album-album
yang spektakuler dan tetap dikenang sepanjang masa. Silakan disimak album yang
terdapat dalam SPLHCB yang lirik-liriknya jauh berbeda
dengan album-album yang terdahulu. Begitu juga dengan aransemen musiknya yang
terkesan gado-gado tapi tetap mengundang decak kagum setiap penikmat
musiknya. Mungkinkah di abad 21 ini muncul grup band yang bisa lebih
mengungguli The Beatles?
/4/
Jika Didi Kwartanada pernah mengatakan “untuk menciptakan budaya
Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global harus berbesar hati
mau belajar dari budaya bangsa tetangga” Sahrul Mauludi (ed.),2015:106), dalam
tulisan ini disarankan hal yang sama tetapi juga perlu belajar dari
bangsa-bangsa maju yang telah melakukan eksprimen-eksprimen musik,
seperti The Beatles (boleh juga The Beach Boys). The
Beatles telah berhasil melakukan berbagai inovasi termasuk
bereksprimen dalam penyerbukan budaya antarbangsa. Salah satu albumnya SPHLCB merupakan
sebuah karya monumental yang sampai saat ini masih belum ada yang
menandinginya. Diakui atau tidak, ini merupakan buah kreativitas yang disertai
dengan kerja keras karena pada saat album itu dibuat belum ada yang namanya
komputer atau instrumen-instrumen yang dianggap canggih seperti sekarang ini.
Rahasia keberhasilan mereka bisa menghasilkan album yang tergolong spektakuler
itu adalah keempat pemuda Liverpool itu menerapkan secara konsisten dan
konsekuen ketujuh prinsip-prinsip yang menakjubkan.
Bangsa Indonesia kalau mau maju dalam melakukan persilangan antarbudaya, baik
merujuk pada budaya bangsa tetangga maupun bangsa-bangsa maju, bisa juga
menerapkan secara konsisten dan konsekuen ketujuh prinsip yang telah iuraikan
di atas. The Beatles telah membuktikannya. Walaupun grup band
ini telah lebih dari lima puluh tahun lalu bubar, sejarah tetap mencatatnya
sebagai grup band dari negara maju yang telah menancapkan tonggak sejarah di
bidang tarik suara. Selayaknya, anak bangsa ini menyimak secara cermat
album SPHLCB juga lirik-lirik lagu baik sebelum maupun
sesudah SPHLCB yang dari aransemen musiknya menggunakan
penyerbukan silang antarbudaya. Ambil atau tiru kerja-kerja mereka yang dinilai
positif. Buang hal-hal yang dinilai negatif, seperti penggunaan LSD atau
narkoba atau gaya hidup mereka yang cenderung hippies. Hindari
budaya bangsa ini dari psikedelik yang mungkin saja sampai saat ini masih
menjadi panutan bagi kebanyakan insan seni di jagat ini. Bangsa Indonesia
masih punya harapan untuk mewujudkan budaya baru hasil penyerbukan silang
antarbudaya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar