Sekilas tentang Manusia
Masalah manusia adalah masalah yang tidak pernah selesai-selesainya untuk dibicarakan karena objek yang dibicarakan adalah juga subjek yang membicarakannya (Karisma, 1985:iii). Dengan kata lain, baik yang dibicarakan maupun yang membicarakannya adalah sama, yaitu manusia itu sendiri. Di sisi lain, membicarakan manusia adalah membicarakan makhluk Tuhan yang unik. Ia dikatakan unik karena khusus makhluk Tuhan yang satu ini memang dikaruniakan Tuhan dengan memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain di dunia ini. Manusia dikatakan makhluk unik karena hanya manusia di muka bumi ini yang mempersoalkan problematika kehidupannya. Problematika kehidupan manusia sepanjang zaman di antaranya menyangkut tentang posisinya dalam papan catur kehidupan, posisinya terhadap alam dan Tuhannya, batas kehidupannya, yang harus dilakukan kepada sesamanya, tujuan diciptakannya manusia, hak dan kewajibannya setelah diciptakannya, dan keberadaan manusia sesudah mati. Problematika itulah yang pada akhirnya melahirkan berbagai pandangan, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan agama. Semua orang yang terlibat di dalamnya – yang berangkat dari berbagai sisi tersebut – berusaha memberikan jawaban terhadap problema tersebut. Sebelum kita menjawab berbagai problematika kehidupan manusia yang selalu ada di sepanjang zaman, ada baiknya kita mendefinisikan dulu pengertian manusia. Apa itu manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba kita simak puisi Chairil Anwar berikut ini.
DOA
A
Kepada Pemeluk Teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuh
aku tidak bisa berpaling
1943
Dari puisi di atas, jika dikaitkan dengan konsep manusia itu sendiri kita dapat merumuskan tentang pengertian manusia bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang dalam kondisi apapun jauh di hati sanubarinya masih ingat pada Tuhannya.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
Manusia selalu ingat dengan menyebut nama-Nya karena rahmat-Nya dalam hati manusia diibaratkan sebagai cahaya yang meneranginya.
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Di sisi lain, hati manusia yang tidak pernah ingat pada Tuhannya dengan menyebut nama-Nya ia akan mengalami kebingungan, hatinya tidak tenteram, sebagai manusia ia tidak memiliki lagi kepribadian. Dengan kata lain, manusia yang jauh dari Tuhannya akan mengalami kehancuran kepribadian.
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Dalam kondisi demikian, tidak ada cara lagi baginya kecuali ia harus lari dari kenyataan hidup karena ia tidak mau menerima kondisi dirinya yang sudah tidak berbentuk lagi (yang tidak memiliki kepribadian).
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Kalau ada peribahasa yang mengatakan “Setinggi-tinggi terbang bangau hinggap di bubungan juga” begitu juga yang terjadi pada diri semua manusia. Boleh-boleh saja ia pergi ke manapun (bahkan pergi atau lari dari kenyataan), tetapi harap diingat pada akhirnya manusia akan kembali kepada yang menciptakan dia. Artinya, manusia yang masih menganggap bahwa dia makhluk Tuhan yang harus menyembah Sang Khalik di kemudian hari ia akan mengetuk pintu rumah Tuhan dengan bertaubat dan berdo`a.
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Dari uraian di atas sebenarnya kita sudah bisa merumuskan sebuah definisi tentang manusia yang sederhana sekalipun. Namun, agar rumusan yang sudah ada di benak kita lebih pas lagi alangkah baiknya kalau kita melihat definisi yang dibuat oleh Abbas Mahmud El Aqqad. Menurut beliau yang dimaksud dengan manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan (Karisma, 1985:5). Dari definisi di atas, ada tiga hal penting yang perlu kita garis bawahi, yaitu (1) manusia sebagai ciptaan Tuhan, (2) manusia mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya, dan (3) manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Dari analisis definisi di atas (setelah kita menentukan adanya tiga hal penting tersebut) jika dikaitkan dengan puisi di atas ada relevansinya terutama yang menyangkut manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk yang bertanggung jawab (lihat bait yang berbunyi: Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling). Sementara itu, yang belum tampak adalah sifat-sifat ketuhanan. Kalau ada pertanyaan: apakah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan? maka jawabannya: ya, manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan. Kita menjawab demikian karena manusia juga punya sifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang). Tetapi, tidak semua sifat Tuhan dimiliki oleh manusia. Jika bisa dikatakan, manusia memiliki sedikit sekali sifat-sifat ketuhanan. Seandainya ada, itupun tidak sesempurna sifat-sifat Tuhan.
Di atas telah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan. Karena itu, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna kejadiannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna kejadiannya karena dalam dirinya terdapat tiga unsur penting, yaitu unsur fisik (badan/tubuh), akal (intelektual), dan ruh (jiwa). Ketiga unsur tersebut satu sama lain memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Fisik dapat dipenuhi dengan makanan yang bersih, sehat, dan halal. Di samping itu, juga diperlukan olah raga yang cukup. Akal dapat dipenuhi dengan ilmu pengetahuan (dengan banyak belajar menuntut ilmu). Sedangkan ruh dapat dipenuhi dengan banyak menyebut asma Tuhan (dzikir) dan berdo`a. Jika ada manusia yang mementingkan fisik, sementara unsur akal dan ruh sangat kurang, maka manusia seperti itu tergolong idiot. Begitu pula jika ada manusia yang mementingkan unsur fisik dan akal sementara ia melupakan untuk memenuhi kebutuhan ruhnya, ia akan menjadi manusia yang sekuler yang kering jiwanya. Sebaliknya, jika ada manusia yang hanya mementingkan unsur akal dan ruh sementara ia tidak memperhatikan unsur fisiknya, ia akan menjadi manusia yang lemah, manusia yang mudah dikalahkan oleh manusia lainnya. Jadi, manusia paripurna adalah manusia yang memiliki tubuh yang kuat, akal yang sempurna, dan ruh/jiwa yang sehat.
Di atas disebutkan bahwa unsur ruh harus dipenuhi dengan kebutuhan akan dzikir dan do`a. Selain itu, unsur ruh/jiwa juga bisa dipenuhi dengan seni/ estetika. Tentu saja seni/estetika di sini adalah seni/estetika yang mendukung manusia untuk tunduk pada kekuasaan Tuhan bukan seni yang menjadikan manusia mengingkari kebesaran Tuhannya. Menjadikan manusia lebih halus lagi (memanusiakan manusia agar lebih manusiawi lagi) sehingga ia tunduk pada kekuasaan Tuhan melalui seni sebagai mediatornya inilah hakikat sesungguhnya tujuan pendidikan humaniora. Tujuan pendidikan humaniora sebagai mediator yang berperan dalam memanusiakan manusia akan membentuk dalam diri manusia sifat-sifat kemanusiaan. Bukankah saat ini rasa kemanusiaan telah nyaris hilang dalam diri kita? Agar rasa kemanusiaan itu tidak hilang dari diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal siapa kita sebenarnya.
Untuk mengenal diri sendiri, kita harus memulainya dengan mengetahui proses kejadian kita. Dengan kita mengetahui proses kejadian kita, setidak-tidaknya kita akan tahu diri bahwa kita diciptakan Tuhan dari barang yang hina (saripati tanah yang dengan bahasa realitisnya:air mani/sperma). Setelah kita mengetahui asal-muasal kejadian kita, barulah kita bisa melakukan langkah-langkah kongkrit hal-hal yang perlu kita lakukan selama hidup di dunia ini. Langkah-langkah kongkrit yang kita lakukan tentu saja adalah langkah-langkah kemanusiaan yang diridhoi Tuhan. Jadi, misi utama kita, sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, adalah berupaya menjalankan hidup ini dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi. Nilai-nilai kemanusiaan yang manakah yang akan kita junjung tinggi selama hidup di dunia ini?
Nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi adalah nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal di antaranya adalah nilai-nilai yang berisikan tentang keindahan, cinta kasih, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terurai di atas itu banyak ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari salah satu di antaranya dalam karya-karya seni (sastra). Dengan kata lain, karya sastra sebagai mediator dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan sumber kita untuk menggali nilai-nilai kemanusiaan yang universal itu.
Kepada Pemeluk Teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuh
aku tidak bisa berpaling
1943
Dari puisi di atas, jika dikaitkan dengan konsep manusia itu sendiri kita dapat merumuskan tentang pengertian manusia bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang dalam kondisi apapun jauh di hati sanubarinya masih ingat pada Tuhannya.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
Manusia selalu ingat dengan menyebut nama-Nya karena rahmat-Nya dalam hati manusia diibaratkan sebagai cahaya yang meneranginya.
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Di sisi lain, hati manusia yang tidak pernah ingat pada Tuhannya dengan menyebut nama-Nya ia akan mengalami kebingungan, hatinya tidak tenteram, sebagai manusia ia tidak memiliki lagi kepribadian. Dengan kata lain, manusia yang jauh dari Tuhannya akan mengalami kehancuran kepribadian.
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Dalam kondisi demikian, tidak ada cara lagi baginya kecuali ia harus lari dari kenyataan hidup karena ia tidak mau menerima kondisi dirinya yang sudah tidak berbentuk lagi (yang tidak memiliki kepribadian).
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Kalau ada peribahasa yang mengatakan “Setinggi-tinggi terbang bangau hinggap di bubungan juga” begitu juga yang terjadi pada diri semua manusia. Boleh-boleh saja ia pergi ke manapun (bahkan pergi atau lari dari kenyataan), tetapi harap diingat pada akhirnya manusia akan kembali kepada yang menciptakan dia. Artinya, manusia yang masih menganggap bahwa dia makhluk Tuhan yang harus menyembah Sang Khalik di kemudian hari ia akan mengetuk pintu rumah Tuhan dengan bertaubat dan berdo`a.
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Dari uraian di atas sebenarnya kita sudah bisa merumuskan sebuah definisi tentang manusia yang sederhana sekalipun. Namun, agar rumusan yang sudah ada di benak kita lebih pas lagi alangkah baiknya kalau kita melihat definisi yang dibuat oleh Abbas Mahmud El Aqqad. Menurut beliau yang dimaksud dengan manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan (Karisma, 1985:5). Dari definisi di atas, ada tiga hal penting yang perlu kita garis bawahi, yaitu (1) manusia sebagai ciptaan Tuhan, (2) manusia mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya, dan (3) manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Dari analisis definisi di atas (setelah kita menentukan adanya tiga hal penting tersebut) jika dikaitkan dengan puisi di atas ada relevansinya terutama yang menyangkut manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk yang bertanggung jawab (lihat bait yang berbunyi: Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling). Sementara itu, yang belum tampak adalah sifat-sifat ketuhanan. Kalau ada pertanyaan: apakah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan? maka jawabannya: ya, manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan. Kita menjawab demikian karena manusia juga punya sifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang). Tetapi, tidak semua sifat Tuhan dimiliki oleh manusia. Jika bisa dikatakan, manusia memiliki sedikit sekali sifat-sifat ketuhanan. Seandainya ada, itupun tidak sesempurna sifat-sifat Tuhan.
Di atas telah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan. Karena itu, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna kejadiannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna kejadiannya karena dalam dirinya terdapat tiga unsur penting, yaitu unsur fisik (badan/tubuh), akal (intelektual), dan ruh (jiwa). Ketiga unsur tersebut satu sama lain memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Fisik dapat dipenuhi dengan makanan yang bersih, sehat, dan halal. Di samping itu, juga diperlukan olah raga yang cukup. Akal dapat dipenuhi dengan ilmu pengetahuan (dengan banyak belajar menuntut ilmu). Sedangkan ruh dapat dipenuhi dengan banyak menyebut asma Tuhan (dzikir) dan berdo`a. Jika ada manusia yang mementingkan fisik, sementara unsur akal dan ruh sangat kurang, maka manusia seperti itu tergolong idiot. Begitu pula jika ada manusia yang mementingkan unsur fisik dan akal sementara ia melupakan untuk memenuhi kebutuhan ruhnya, ia akan menjadi manusia yang sekuler yang kering jiwanya. Sebaliknya, jika ada manusia yang hanya mementingkan unsur akal dan ruh sementara ia tidak memperhatikan unsur fisiknya, ia akan menjadi manusia yang lemah, manusia yang mudah dikalahkan oleh manusia lainnya. Jadi, manusia paripurna adalah manusia yang memiliki tubuh yang kuat, akal yang sempurna, dan ruh/jiwa yang sehat.
Di atas disebutkan bahwa unsur ruh harus dipenuhi dengan kebutuhan akan dzikir dan do`a. Selain itu, unsur ruh/jiwa juga bisa dipenuhi dengan seni/ estetika. Tentu saja seni/estetika di sini adalah seni/estetika yang mendukung manusia untuk tunduk pada kekuasaan Tuhan bukan seni yang menjadikan manusia mengingkari kebesaran Tuhannya. Menjadikan manusia lebih halus lagi (memanusiakan manusia agar lebih manusiawi lagi) sehingga ia tunduk pada kekuasaan Tuhan melalui seni sebagai mediatornya inilah hakikat sesungguhnya tujuan pendidikan humaniora. Tujuan pendidikan humaniora sebagai mediator yang berperan dalam memanusiakan manusia akan membentuk dalam diri manusia sifat-sifat kemanusiaan. Bukankah saat ini rasa kemanusiaan telah nyaris hilang dalam diri kita? Agar rasa kemanusiaan itu tidak hilang dari diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal siapa kita sebenarnya.
Untuk mengenal diri sendiri, kita harus memulainya dengan mengetahui proses kejadian kita. Dengan kita mengetahui proses kejadian kita, setidak-tidaknya kita akan tahu diri bahwa kita diciptakan Tuhan dari barang yang hina (saripati tanah yang dengan bahasa realitisnya:air mani/sperma). Setelah kita mengetahui asal-muasal kejadian kita, barulah kita bisa melakukan langkah-langkah kongkrit hal-hal yang perlu kita lakukan selama hidup di dunia ini. Langkah-langkah kongkrit yang kita lakukan tentu saja adalah langkah-langkah kemanusiaan yang diridhoi Tuhan. Jadi, misi utama kita, sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, adalah berupaya menjalankan hidup ini dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi. Nilai-nilai kemanusiaan yang manakah yang akan kita junjung tinggi selama hidup di dunia ini?
Nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi adalah nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal di antaranya adalah nilai-nilai yang berisikan tentang keindahan, cinta kasih, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terurai di atas itu banyak ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari salah satu di antaranya dalam karya-karya seni (sastra). Dengan kata lain, karya sastra sebagai mediator dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan sumber kita untuk menggali nilai-nilai kemanusiaan yang universal itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar