Rabu, 09 April 2014

All You Need Is Love (12)

BERPIKIR ILMIAH

Subagio S. Waluyo

1.0 Di Seputar Berpikir Ilmiah
             Apa itu berpikir ilmiah?  Sebuah pertanyaan singkat sengaja diajukan di sini karena selama ini kita (anggap saja) belum tahu persis tentang berpikir ilmiah.  Untuk memberikan jawaban pertanyaan di atas, coba Anda lihat bagan Proses Modernisasi yang dibuat oleh Jujun Suria Sumantri (Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 1988).  Di Nilai Teori, Anda akan mendapati betapa jauh berbeda Nilai Teori yang terdapat pada masyarakat tradisional dengan masyarakat modern.  Kalau Anda mengukur ke dalam diri sendiri, apakah Anda termasuk ke dalam masyarakat tradisional atau masyarakat modern?  Jika Anda sudah bisa mengukurnya, berarti Anda telah melakukan proses berpikir  ilmiah.  Kalau begitu (kita teruskan pertanyaan di atas) apa itu berpikir ilmiah?  Jika Anda masih belum bisa menyimpulkannya sebaiknya kita lihat dulu uraian di bawah ini.
2.0 Manusia sebagai Homo Faber
             Manusia adalah makhluk yang paling mulia.  Pernyataan itu tidak bisa dibantah karena Al-Qur`an sendiri telah memberikan isyarat ke arah itu (At-tin:4).  Selain itu, manusia juga disebut oleh kalangan ahli sebagai homo faber atau makhluk yang membuat alat (Jujun S.Sumantri, 1988:165) karena kalau kita bandingkan dengan hewan, misalnya,kita akan dapati begitu banyak kemampuan yang tidak ada pada hewan.  Hewan, jika di hadapannya ada sebuah obyek seluruh pikirannya dipenuhi oleh kebutuhannya untuk memenuhi secara langsung menggapai obyek yang diinginkannya walaupun ia harus membuang benda yang menghalanginya.  Bagaimana dengan manusia?  Manusia akan menggunakan berbagai cara dan (kalau perlu alat) untuk menggapai sebuah obyek. Dengan menggunakan alat, manusia dipacu kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.  Sarana yang digunakan untuk membuat alat yang pada akhirnya memunculkan ilmu pengetahuan adalah berpikir ilmiah.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Anda pasti menggunakan alat.  Alat yang Anda gunakan boleh jadi lebih banyak bukan dihasilkan oleh Anda sendiri.  Tetapi, apakah Anda pernah berpikir tentang orang yang membuat alat yang Anda gunakan?  Komputer, misalnya, jika Anda ingin jadikan sebagai obyek berpikir Anda, apakah Anda pernah memikirkannya betapa canggih baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya yang terdapat pada alat tersebut?  Jika Anda pernah memikirkannya, berarti Anda telah berpikir ilmiah.  Jadi, berpikir ilmiah sebagai salah satu ciri yang ada pada manusia sebenarnya telah akrab dengan diri Anda.  Namun, terkadang kita tidak pernah menyadari bahwa sarana yang Allah swt. berikan jarang atau tidak pernah dimanfaatkan untuk melakukan suatu eksprimen sehingga menghasilkan suatu benda yang dapat kita manfaatkan.  Kita lebih cenderung menjadi manusia pemakai benda bukan pembuat benda yang bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya.
3.0 Otak Manusia dan Kelebihannya
             Salah satu kelebih manusia dibandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya  terletak pada otaknya.  Otak pada manusia merupakan karunia Allah yang patut kita syukuri.  Betapa malangnya manusia jika Allah menciptakan manusia tanpa otak karena dari sisi manapun manusia dibandingkan hewan (jika tanpa otak) adalah makhluk paling lemah.  Kalau Anda kurang percaya, coba bandingkan manusia tanpa otak dengan harimau. Jelas, manusia tidak berotak akan kalah dengan harimau karena harimau diciptakan Allah sebagai binatang buas yang memiliki sarana di tubuhnya untuk bersaing dengan sesama hewan dan sekaligus manusia.  Namun, Allah demikian adil.  Kita tidak mempunyai penciuman yang setajam ikan hiu, tetapi Allah ciptakan otak sehingga manusia dapat menciptakan alat yang lebih canggih daya penciumannya dibandingkan ikan hiu.  Itu baru satu bukti.  Masih begitu banyak dari produk otak yang Allah berikan kepada manusia sehingga menghasilkan banyak alat atau benda yang bisa digunakan manusia.
Otak sebagai sarana berpikir ilmiah menurut Bobbie De Porten dan Mike Hernacki mempunyai dua fungsi utama.  Kedua fungsi utama itu adalah berpikir divergen dan berpikir konvergen.  Berpikir divergen ialah berpikir dalam keadaan bercabang-cabang atau menyebar (berpikir kreatif).  Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir konvergen ialah berpikir yang bersifat menuju pada satu titik pertemuan (memusat) yang disebut juga berpikir kritis atau objektif. Berpikir ilmiah menggunakan kedua fungsi utama tersebut (berpikir kreatif dan kritis).  Dengan kata lain, orang yang berpikir ilmiah adalah orang yang berpikir kreatif dan kritis.  Jadi, kalau ada di antara kita yang tidak berpikir kreatif (meskipun kritis) atau sebaliknya (yang tidak kritis meskipun kreatif), jelas orang tersebut belum berpikir ilmiah.
Orang yang bisa berpikir ilmiah (karena ia bisa berpikir kreatif dan kritis) sudah bisa dipastikan dapat memecahkan masalah yang ada di hadapannya.  Mengapa bisa demikian?  Untuk menjawabnya bisa diajukan di sini sebuah ilustrasi.  Seekor monyet, jika melihat pisang di tempat yang tinggi yang terpikir adalah cara untuk mengambil pisang itu dan memakannya.  Tetapi, manusia tidak demikian.  Jika suatu saat terjadi panen pisang yang jumlahnya demikian besar yang terpikir adalah cara menyelamatkan panen pisang itu agar tidak cepat busuk.  Akhirnya, dilakukan berbagai eksprimen, di antaranya dengan cara dibuat selai pisang. Contoh lain,jika terjadi musibah ledakan bom di Kuta, Bali, misalnya.  Orang yang berpikir kritis akan mencoba menganalisis dengan mencari sebab-sebab terjadinya musibah tersebut. Dengan mencari sebab-sebab timbulnya suatu masalah sudah bisa dipastikan orang tersebut dapat memecahkan masalah. Sebaliknya, makhluk-makhluk ciptaan Allah di luar manusia tidak pernah berpikir untuk melihat sebab-sebab timbulnya musibah tersebut.
Di samping berpikir ilmiah bisa digunakan untuk memecahkan masalah, berpikir ilmiah juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi masalah. Bahkan, kalau bisa dikatakan, setiap masalah sebelum dicari solusinya, sebaiknya diidentifikasi (ditentukan atau ditetapkan identitasnya).  Dengan kita mengetahui identitas atau ciri-ciri dari setiap masalah yang kita hadapi, kita akan mengalami kemudahan untuk memecahkan masalah.  Pengidentifikasian masalah mau tidak mau membutuhkan pikiran yang kreatif dan kritis.  Tanpa kedua hal itu tidak mungkin kita bisa mengidentifikasi masalah. Untuk langkah selanjutnya, yaitu  memecahkan masalah hampir-hampir tidak akan bisa dilakukan.  Jadi, sekali lagi, untuk dapat memecahkan masalah diperlukan terlebih dahulu identifikasi masalah yang dalam hal ini sangat dibutuhkan berpikir ilmiah (kreatif dan kritis).
4.0 Brainstorming sebagai Sarana Memecahkan Masalah
Kalau masalah telah dapat diidentifikasi, langkah berikutnya (sebagai mana telah diuraikan di atas) adalah memecahkan masalahnya.  Bagaimana cara memecahkan masalah?  Untuk memecahkan masalah (karena kita hidup dalam jamaah) tidak bisa dilakukan sendiri.  Untuk itu dibutuhkan kerja sama di antara kita yang dalam hal ini dilakukan dengan carabrainstorming (curah pendapat).  Dimaksudkan dengan Brainstorming ialah pengajuan usul atau pendapat secara tidak terbatas dalam suatu pertemuan untuk memecahkan suatu masalah atau boleh juga dikatakan sumbang saran (KBBI, 1999: 1196).  Jadi, dengan mengacu pada definisi di atas, jika suatu masalah dipecahkan secara perseorangan (tanpa memperhatikan adanya usul/pendapat yang merupakan sumbang saran dari orang lain) sangat mungkin hasilnya tidak akan sempurna.
Brainstorming sebagai sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan berjamaah juga mempunyai keuntungan yang demikian besar.  Kalau Anda merenungkan bunyi ayat Qur`an seperti ini “…wata`awanu `alal birri wa taqwa walaa ta`awanu alal ismi wal `udwan ….”  dan bunyi hadits yang berisikan perintah untuk berukhuwah, kita akan dapati bahwa baik ayat Qur`an maupun bunyi hadits tersebut mengarah pada perintah untuk brainstorming.  Mengapa?  Di sini kita bisa memberikan jawaban bahwa dengan brainstorming akan memunculkan ide-ide yang menarik yang tidak akan mungkin muncul jika kita lakukan sendiri saja.  Selanjutnya, ide-ide yang telah kita peroleh dari  hasil brainstorming dapat diformulasikan menjadi gagasan yang lebih baik.  Ide-ide yang telah diformulasikan itu boleh jadi akan menjadi masukan bagi seorang pimpinan dalam pengambilan keputusan.
5.0 Penutup
             Setelah Anda membaca dengan teliti uraian di atas (yang mungkin juga disertai dengan menganalisisnya), apakah Anda bisa menjawab pertanyaan yang sengaja diajukan di atas.  Kalau Anda sudah bisa menjawabnya, berarti Anda telah memahami berpikir ilmiah.  Sebaliknya, kalau masih belum bisa juga, coba Anda cari buku-buku atau tulisan-tulisan yang menguraikan lebih jelas lagi dari-pada tulisan ini tentang berpikir ilmiah sebab makalah yang singkat ini memang tidak berkeinginan mencekoki Anda dengan berbagai macam definisi tentang berpikir ilmiah.  Wallahu a`alam bissawab.
 6.0 Daftar Pustaka
 DePorter, Bobbi & Mike Hernacki.  Quantum Learning: Membiasakan BelajarNyaman dan Menyenangkan.  Bandung: Penerbit Kaifa, 1999.
Jujun Suria Sumantri.  Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988.
Prasetyo Irawan.  Logika dan Prosedur Penelitian.  Jakarta: STIA LAN, 2000.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.  Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Jakarta: Balai Pustaka, 1999.
Wibowo, B.S., dkk.  Shoot (Sharpening Our cOncept and Tools).  Bandung: PT Syaamil Cipta Media, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...