Senin, 28 November 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (30)

SEGALANYA TENTANG PUISI (1)


Subagio S.Waluyo


1.   Pengertian Puisi

          Salah satu wujud karya sastra adalah puisi. Puisi adalah untaian kata-kata yang dibentuk dengan cara yang khas dan yang memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Puisi dijadikan sarana untuk mengungkapkan pengalaman batin. Pengalaman yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik (indah). Dengan penggunaan bahasa yang khas itu puisi dapat menggugah perasaan haru pembaca atau pendengamya.

Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra nenggunakan bahasa yang relatif lebih padat dibandingkan dengan bentuk prosa. Pemilihan kata atau diksi dalam puisi diperhitungkan dari berbagai segi yang meliputi makna, ritma, dan jangkauan simboliknya. Oleh karena itu, kata-kata dalam puisi tidak semata-mata berfungsi sebagai alat penyampai gagasan atau alat pengungkap gagasan melainkan juga berfungsi sebagai bahan.
Sebagai alat, kata-kata dalam puisi harus mampu menyampaikan gagasan yang ingin diutarakan oleh penyair. Di samping itu, kata-kata itu sendiri harus pula mampu membangkitkan tanggapan rasa tertentu pada pembaca. Sebagai bahan, kata-kata dalam puisi diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjelmakan pengalaman jiwa yang senyata-nyatanya dalam diri pembaca. Penyimpangan bahasa dalam puisi dimungkinkan, bahkan lebih tegas lagi “dihalalkan” karena kata-kata itu harus ditata, diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan keselarasan antara bunyi, makna, dan keindahan. Pemakaian bahasa atau kata sebagai bahan mengandung konsekuensi memakai bahasa secara lebih bebas, baik yang menyangkut struktur sintaksisnya maupun yang menyangkut morfologisnya.
Apa itu puisi ? Sangat sulit untuk mendefinisikan dengan tepat pengertian puisi itu. H.B. Yassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya menulis, “Dengan singkat bisa dikatakan bahwa prosa ialah pengucapan dengan pikiran dan puisi pengucapan dengan perasaan” (1953:54). Jelas, di sini Jassin lebih menekankan perasaan, sedangkan unsur perasaan sesungguhnya sukar dipisahkan dengan pikiran.
S. Suharianto dalam bukunya Pengantar Apresiasi Puisi menjelaskan, “..... puisi ialah hasil pengungkapan kembali segala peristiwa atau kejadian yang terdapat di dalam kehidupan sehari-hari” (1981 : 12).
Dilihat dan segi etimologi (asal usul kata), perkataan puisi dari bahasa Yunani, juga dalam bahasa Latin puotes (Latin poeta) yang berarti `pembangun`, `pembentuk`, `pembuat`. Asal katanya poieo atau poeo, yang artinya `membangun`, `menyebabkan`, `menimbulkan`, `menyair`. Arti tersebut akhirnya berkembang menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu (Slamet Mulyana, Peristiwa Bahasa dan Sastra, 1956:110).

PUISI

Kun fayakun
Saat penciptaan kedua adalah puisi
tertimba dan kehidupan yang kau tangisi
bumi yang kau diami, laut yang kau layari
adalah puisi
Udara yang kau hirupi, air yang kau teguki
adaläh puisi
Kebun yang kau tanami,
bukit yang kau gunduli
adalah puisi
Gubuk yang kau ratapi, gedung yang kau tinggali
adalah puisi
Dan dari setiap tanah yang kau pijak
Sawah-sawah yang kau bajak
Katakanlah, sajak
Puisi adalah manisan
Yang terbuat dan butir-butir kepahitan
Puisi adalah gedung yang megah
Yang terbuat dan butir-butir gelisah
                                      (Dodong Djiwapradja, Laut Biru
                                       Langit Biru,. halaman 182)

Menurut Dodong yang dimaksud puisi adalah ciptaan kedua (ciptaan pertama adalah alam dan semua yang hidup di dalamnya) yang ditimba dari kehidupan yang kita tangisi, bumi yang kita diami, laut yang kita layari, dan segala macam isi dunia ini yang kita nikmati dan ratapi. Puisi itu memang indah, namun untuk membuatnya kita harus berpahit-pahit atau bersusah payah. Puisi bukan dibentuk dari pekerjaan asal jadi saja. Ia merupakan hasil yang terbuat dan butir-butir gelisah.
Lain Dodong lain pula Subagio Sastrowardojo. Menurut Subagio sajak itu mempunyai arti kalau kita sedang susah, tetapi ia akan menjadi kenangan yang indah, yang melupakan pada bunuh diri. Kita lihat sajak berikut ini.

SAJAK
                                                          Subagio Sastrowardojo

Apakah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang gajiku
yang tekor buat bayar dokter, bujang dan makan sehari,
Kalau terbayang pantalon
Sudah sebulan sobek tak terjahit
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun;
Hidup ini makin mengikat dan mengurung
Apakah arti sajak ini :
Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir ?
Ah, sajak ini
Mengingatkan aku langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan aku kepada bunuh diri
                                                          (Simponi, 1975)

Subagio menempatkan puisi sebagai sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Ia mengingatkan kita kepada kisah keabadian, melupakan kita kepada pisau dan tali untuk bunuh diri.
Menurut W.H. Hudson, unsur yang paling dominan dalam puisi ialah adanya emosi dan imajinasi. Secara luas jiwa puisi terdapat dalam banyak segi kehidupan, dalam banyak karya seni, dalam angin, dalam banyak ombak, dalam hutan, gunung, dan awan yang membuat orang merenung (berkontemplasi). Jiwa puisi juga terdapat dalam drama, ceritera pendek, novel. Secara khusus puisi adalah salah satu bentuk sastra yang khas, biasanya terdiri atas bait-bait, bait terdiri atas larik-larik, dan larik terdiri atas kata dan susunan kata, dan kata-kata terdiri atas bunyi-bunyi bahasa (fonem) yang kesemuanya diberi makna. Berbeda dengan karangan dalam bentuk prosa, karangan puisi umumnya lebih singkat, padat, karena dalam puisi yang penting bukan kejelasan uraian, tetapi kesan yang mendalam dan perenungan (kontemplasi).
Sebagai penutup pengertian puisi ini, baiklah kita perhatikan bersama puisi Sanusi Pane yang juga berkisah tentang puisi. Menurut Sanusi Pane puisi bukan hanya dibentuk dari kata-kata yang indah (rancak). Bukan kata yang indah yang menghasilkan keindahan puisi. Ia menyarankan agar pujangga membuang segala kata yang hanya akan mempermainkan mata. Ia hanya akan dibaca sepintas karena ia bukan keluar dari sukma. Puisi haruslah seperti matahari yang mencintai bumi dengan menyinarinya selama-lamanya meskipun tidak ada pamrih untuk itu.

SAJAK
                                                                   Sanusi Pane
                                                                   (1905 - 196)
O, bukannya dalam kata yang rancak,
Kata yang pelik kebagusan sajak,
O, pujangga, buang segala kata,
yang ‘kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca selintas lalu,
Karena tak keluar dari sukma
Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Haus cintamu senantiasa.
                                      (Madah Kelana, 1931)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...