SEGALANYA TENTANG PUISI (1)
Subagio S.Waluyo
Salah satu wujud karya
sastra adalah puisi. Puisi adalah untaian kata-kata yang dibentuk dengan cara
yang khas dan yang memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Puisi
dijadikan sarana untuk mengungkapkan pengalaman batin. Pengalaman yang
terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan
ditafsirkan secara estetik (indah). Dengan penggunaan bahasa yang khas itu
puisi dapat menggugah perasaan haru pembaca atau pendengamya.
Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra nenggunakan bahasa yang
relatif lebih padat dibandingkan dengan bentuk prosa. Pemilihan kata atau diksi
dalam puisi diperhitungkan dari berbagai segi yang meliputi makna, ritma, dan
jangkauan simboliknya. Oleh karena itu, kata-kata dalam puisi tidak semata-mata
berfungsi sebagai alat penyampai gagasan atau alat pengungkap gagasan melainkan
juga berfungsi sebagai bahan.
Sebagai alat, kata-kata dalam puisi harus mampu menyampaikan gagasan yang
ingin diutarakan oleh penyair. Di samping itu, kata-kata itu sendiri harus pula
mampu membangkitkan tanggapan rasa tertentu pada pembaca. Sebagai bahan,
kata-kata dalam puisi diolah sedemikian rupa sehingga dapat menjelmakan pengalaman
jiwa yang senyata-nyatanya dalam diri pembaca. Penyimpangan bahasa dalam puisi
dimungkinkan, bahkan lebih tegas lagi “dihalalkan” karena kata-kata itu harus
ditata, diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan keselarasan antara bunyi,
makna, dan keindahan. Pemakaian bahasa atau kata sebagai bahan mengandung
konsekuensi memakai bahasa secara lebih bebas, baik yang menyangkut struktur
sintaksisnya maupun yang menyangkut morfologisnya.
Apa itu puisi ? Sangat sulit untuk mendefinisikan dengan tepat pengertian
puisi itu. H.B. Yassin dalam bukunya Tifa
Penyair dan Daerahnya menulis, “Dengan singkat bisa dikatakan bahwa prosa
ialah pengucapan dengan pikiran dan puisi pengucapan dengan perasaan”
(1953:54). Jelas, di sini Jassin lebih menekankan perasaan, sedangkan unsur
perasaan sesungguhnya sukar dipisahkan dengan pikiran.
S. Suharianto dalam bukunya Pengantar
Apresiasi Puisi menjelaskan, “..... puisi ialah hasil pengungkapan kembali
segala peristiwa atau kejadian yang terdapat di dalam kehidupan sehari-hari”
(1981 : 12).
Dilihat dan segi etimologi (asal usul kata), perkataan puisi dari bahasa
Yunani, juga dalam bahasa Latin puotes
(Latin poeta) yang berarti `pembangun`,
`pembentuk`, `pembuat`. Asal katanya poieo
atau poeo, yang artinya `membangun`,
`menyebabkan`, `menimbulkan`, `menyair`. Arti tersebut akhirnya berkembang
menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat
tertentu (Slamet Mulyana, Peristiwa
Bahasa dan Sastra, 1956:110).
PUISI
Kun fayakun
Saat penciptaan kedua adalah puisi
tertimba dan kehidupan yang kau tangisi
bumi yang kau diami, laut yang kau layari
adalah puisi
Udara yang kau hirupi, air yang kau teguki
adaläh puisi
Kebun yang kau tanami,
bukit yang kau gunduli
adalah puisi
Gubuk yang kau ratapi, gedung yang kau tinggali
adalah puisi
Dan dari setiap tanah yang kau pijak
Sawah-sawah yang kau bajak
Katakanlah, sajak
Puisi adalah manisan
Yang terbuat dan butir-butir kepahitan
Puisi adalah gedung yang megah
Yang terbuat dan butir-butir gelisah
(Dodong
Djiwapradja, Laut Biru
Langit Biru,. halaman 182)
Menurut Dodong yang dimaksud puisi adalah ciptaan kedua (ciptaan pertama
adalah alam dan semua yang hidup di dalamnya) yang ditimba dari kehidupan yang
kita tangisi, bumi yang kita diami, laut yang kita layari, dan segala macam isi
dunia ini yang kita nikmati dan ratapi. Puisi itu memang indah, namun untuk membuatnya
kita harus berpahit-pahit atau bersusah payah. Puisi bukan dibentuk dari pekerjaan
asal jadi saja. Ia merupakan hasil yang terbuat dan butir-butir gelisah.
Lain Dodong lain pula
Subagio Sastrowardojo. Menurut Subagio sajak itu mempunyai arti kalau kita
sedang susah, tetapi ia akan menjadi kenangan yang indah, yang melupakan pada
bunuh diri. Kita lihat sajak berikut ini.
SAJAK
Subagio Sastrowardojo
Apakah arti
sajak ini
Kalau anak
semalam batuk-batuk,
bau vicks dan
kayu putih
melekat di
kelambu
Kalau istri
terus mengeluh
tentang kurang
tidur, tentang gajiku
yang tekor
buat bayar dokter, bujang dan makan sehari,
Kalau
terbayang pantalon
Sudah sebulan
sobek tak terjahit
Apakah arti
sajak ini
Kalau saban
malam aku lama terbangun;
Hidup ini makin
mengikat dan mengurung
Apakah arti
sajak ini :
Piaraan anggrek tricolor di rumah atau
pelarian kecut ke hari akhir ?
Ah, sajak ini
Mengingatkan aku langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan kepada kisah dan keabadian
Sajak ini melupakan aku kepada pisau dan tali
Sajak ini melupakan aku kepada bunuh diri
(Simponi,
1975)
Subagio menempatkan puisi sebagai sesuatu yang
tidak bisa digambarkan dengan kata. Ia mengingatkan kita kepada kisah keabadian, melupakan kita kepada pisau
dan tali untuk bunuh diri.
Menurut W.H. Hudson, unsur yang paling dominan dalam puisi ialah adanya
emosi dan imajinasi. Secara luas jiwa puisi terdapat dalam banyak segi
kehidupan, dalam banyak karya seni, dalam angin, dalam banyak ombak, dalam
hutan, gunung, dan awan yang membuat orang merenung (berkontemplasi). Jiwa
puisi juga terdapat dalam drama, ceritera pendek, novel. Secara khusus puisi
adalah salah satu bentuk sastra yang khas, biasanya terdiri atas bait-bait,
bait terdiri atas larik-larik, dan larik terdiri atas kata dan susunan kata,
dan kata-kata terdiri atas bunyi-bunyi bahasa (fonem) yang kesemuanya diberi
makna. Berbeda dengan karangan dalam bentuk prosa, karangan puisi umumnya lebih
singkat, padat, karena dalam puisi yang penting bukan kejelasan uraian, tetapi
kesan yang mendalam dan perenungan (kontemplasi).
Sebagai penutup pengertian puisi ini, baiklah kita perhatikan bersama puisi
Sanusi Pane yang juga berkisah tentang puisi. Menurut Sanusi Pane puisi bukan
hanya dibentuk dari kata-kata yang indah (rancak). Bukan kata yang indah yang
menghasilkan keindahan puisi. Ia menyarankan agar pujangga membuang segala kata
yang hanya akan mempermainkan mata. Ia hanya akan dibaca sepintas karena ia
bukan keluar dari sukma. Puisi haruslah seperti matahari yang mencintai bumi
dengan menyinarinya selama-lamanya meskipun tidak ada pamrih untuk itu.
SAJAK
Sanusi
Pane
(1905
- 196)
O, bukannya dalam kata yang rancak,
Kata yang pelik kebagusan sajak,
O, pujangga, buang segala kata,
yang ‘kan cuma mempermainkan mata,
Dan hanya dibaca selintas lalu,
Karena tak keluar dari sukma
Seperti matahari mencintai bumi,
Memberi sinar selama-lamanya,
Tidak meminta sesuatu kembali,
Haus cintamu senantiasa.
(Madah
Kelana, 1931)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar