Senin, 28 November 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (31)

Segalanya tentang Puisi (2)

Subagio S.Waluyo

2.   Bahasa Puisi

          Bahasa puisi itu bersifat memadu dan padat meskipun kehadiran puisi itu untuk dinikmati, dirasakan, dan dimengerti. Penghayatan kita terhadapnya tidaklah lepas dari unsur pikiran, perasaan, dan imajinasi yang menjadi bahan bangunannya. Semua elemen bangunan itu sebagian besar menunjukkan dirinya melalui bahasa sang penyair dalam puisinya. Penyair berkomunikasi lewat bahasa dalam puisi-puisinya.

Kalau orang sudah memiliki keempat hal di atas, ia akan mudah berkomunikasi dengan puisi. Banyak orang yang jika aktivitasnya diperlukan terlalu banyak untuk berbuat sesuatu, dengan segera akan ia hentikan pekerjaan itu. Namun, ada juga orang yang melakukan sesuatu dengan cara lain, yaitu belajar dan berlatih diri dengan cara yang sungguh-sungguh sehingga memperoleh suatu keterampilan atau kepandaian. Begitu juga dengan puisi. Seseorang harus belajar untuk membacanya, dan melatih diri, untuk memperoleh kenikmatan. Setelah itu barulah ia memperoleh kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan darinya. Bahasa puisi punya corak tersendiri atau khas. Ragam bahasa puisi berbeda dengan ragam bahasa pergaulan sehari-hari, juga berbeda dengan ragam bahasa karya fisik (novel, roman). Penyair menyusun kata-katanya untuk menampilkan imaji dengan bermacam-macam kombinasi dan juga untuk menampilkan ide. Walau demikian, kata-kata yang dipergunakan merupakan kata-kata yang terdapat dalam bahasa sehari-hari, hanya cara pemakaian atau cara penyusunannya yang berbeda.
Ada puisi yang bahasanya mendekati bahasa prosa sehingga kita tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya. Coba kita lihat bait syair di bawah ini.

Adalah kepada suatu hari
bersenda gurau dua laki istri
lalu berkata Tuan puteri
“Kakanda! Wai, mari kita berperi”
                            
(Syair Bidasari)

Di samping itu, bacalah juga pantun di bawah ini.
Rumah kecil tiang seribu
rumah gedung jadi terpanggung
Dan kecil timangan ibu
dari besar timangan untung

Dibandingkan dengan syair, tampaklah pada kita bahwa bahasa pantun lebih sulit daripada syair. Apalagi, kalau kita bandingkan dengan bahasa puisi mutakhir, seperti puisi-puisi Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bachri. Coba kita lihat sajak “Aku” karya Chairil Anwar.

AKU
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Kita lihat sajak berikutnya “Sepisaupi” karya Sutardji Caizoum Bachri di bawah ini.
         SEPISAUPI

Sepisau duka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka sepisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisaunya ke dalam nyanyi

Pusat perhatian penyair ialah bahasa. Lewat bahasa ia dapat menggunakan segala macam teknik, seperti teknik fiksi, teknik drama, teknik esei, dan sebagainya. Seperti sudah dikemukakan, bahasa bagi seorang penyair adalah substansi atau zat yang akan dibentuk. Dengan bahasa, penyair membangun puisi. Bangunan kata-kata itu sendiri merupakan sesuatu yang dapat dinikmati di samping ide yang terkandung di dalamnya.
Dalam menulis puisi-puisinya penyair terikat kepada kata-kata yang dipergunakan. Ia terikat oleh arti kata dan kesan yang tampil dari kata itu. Dalam puisi penyair dapat menyandingkan sebuah kata dengan kata lain yang bukan pasangannya. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan contoh kata tengik, yang lazimnya kita sandingkan dengan kata-kata mentega, keju, atau minyak goreng. Namun demikian, kata itu tidak berlaku untuk kata-kata susu atau telur. Begitu juga misalnya kita lazim menyandingkan kata cantik dengan kata gadis, wanita, atau janda; menyandingkan kata tampan dengan kata-kata perjaka, lelaki, atau duda. Bagaimana bentuk persandingan muncul dalam puisi? Perhatikan kutipan bait ketiga puisi berjudul “Kosong” karya Rismudji Rahardjo (dimuat dalam kumpulan puisinya berjudul Bencah Rawa Rimba-rimba, 1980).
sekerat angin menghempas cemara
berderai seperti kembali tiada
Bentuk persandingan sekerat angin itu diciptakan oleh penyairnya, namun hasilnya sama sekali tidak asing bagi kita walaupun seolah-olah terjadi penyelewengan bahasa. Kata sekerat lazimnya disandingkan dengan kata-kata tulang atau daging dan tidak pernah dengan kata sekerat pohon, sekerat daun, sekerat rindu, apalagi sekerat angin.
Setiap kata di samping mempunyai arti denotasi juga memiliki arti konotasi. Arti konotasi ini sangat erat bertalian dengan pengalaman manusia dengan benda atau hal itu. Misalnya, bulan berarti satelit bumi. Namun, bila orang berbicara “bulan di atas taman” kata bulan memberi suasana bagus, indah, romantis, dan sebagainya walaupun bulan itu sendiri benda mati yang amat “jelek” permukaannya. Kesan apa yang Anda peroleh dari kata: cacing, ular, narkotik, candu, cinta, benci, perempuan, perawan, hostess, dan sebagainya. Arti denotatif kata-kata itu sendiri tidak memberi kesan apa-apa, netral, dingin. Namun, kalau kata-kata ini dipergunakan dalam kalimat, kata-kata itu langsung menimbulkan kesan tertentu, misalnya “Di samping piring makannya itu ada cacing merayap-rayap” konotasi cacing adalah menjijikkan. Lebih-lebih bila kata-kata itu dipergunakan dalam kalimat-kalimat yang emosional (marah, benci, senang, kasmaran, dan sebagainya). 
Bahasa puisi memanfaatkan arti konotasi ini. Di samping konotasinya juga asosiasi kata-kata, misalnya warna merah, merah muda (ros), hijau, kuning, dan sebagainya memiliki asosiasi tersendiri. Langit biru, Langit jingga, dan langit kelabu mempunyai asosiasi perasaan yang berlainan. Bahasa puisi tidak menjelaskan kesan itu secara eksplisit atau tersendiri tetapi secara implisit ada dalam puisi. Karena itu, membaca puisi harus dapat menangkap kecuali arti denotasinya terlebih lagi arti konotasi dan asosiasi kata-kata yang dipakai. Sebab itu, membaca puisi harus dengan perenungan. Manakala pembaca menemukan kebenaran melalui arti denotasi, arti konotasi, dan asosiasi dalam puisi yang dibacanya, ia merasa memperoleh kenikmatan dari membaca puisi. Ia senang membaca sajak, dan drama, senang membicarakannya, senang mendengar sajak yang dideklamasikan, atau menyaksikan drama dipentaskan. Inilah beberapa perilaku nyata atau konkret yang biasanya diperlihatkan seseorang yang peka pikiran kritisnya dan peka perasaannya.
Dari keempat unsur bangunan puisi tersebut yang erat sekali hubungannya dengan bahasa puisi adalah unsur metafor. Metafor dapat dipandang sebagai unsur bangunan puisi yang mencakup perlambangan dan kiasan. Metafor amat umum dipergunakan dalam puisi. Ungkapan “aku ini binatang jalang” lebih lengkap dan tepat daripada ungkapan apa pun. A. Hasymi memetaforkan usia manusia dengan “batang usia” dan disamakan dengan peredaran hari; hari pagi sama dengan waktu muda, segar-menarik, penuh semangat; hari siang sama dengan waktu tengah umur, posisi tertinggi, kering dan keras; hari senja sama dengan waktu tua. Carilah metafor dalam sajak berikut.
        
SAJAK
                                      Hartojo Andangdjaja
Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
lewat bukit dan lembah
dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca
jejak kakimu di sana

Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kaki langit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh

Ia makin rindu
dalam doa, dan bersimpuh;
Tuhanku

Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia
         
(Sastra, VI (2), 1968)

Dalam puisi itu sajak dimetaforkan sebagai orang atau kenangan yang mencari jejak. Anda tahu bukan, bahwa yang dapat mencari jejak ialah orang atau hewan. Di samping metafor, sajak banyak memakai gaya personifikasi. Sesuai dengan namanya, gaya personifikasi sangat mengintensifkan pernyataan, menjelaskan maksud, dan memberi warna emosional. Benda-benda yang semula bersifat statis menjadi dinamis dan penuh gerak karena diberi sifat-sifat manusia. Kita perhatikan puisi Emha Ainun Najib di bawah ini.

ANTARA TIGA KOTA

di yogya aku lelap tidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk

ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari melototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu

Ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

surabaya seperti di tengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya

ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?

                             (Sajak-sajak Sepanjang Jalan: 13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...