Segalanya
tentang Puisi (2)
Subagio
S.Waluyo
2.
Bahasa
Puisi
Bahasa puisi itu bersifat
memadu dan padat meskipun kehadiran puisi itu untuk dinikmati, dirasakan, dan
dimengerti. Penghayatan kita terhadapnya tidaklah lepas dari unsur pikiran,
perasaan, dan imajinasi yang menjadi bahan bangunannya. Semua elemen bangunan
itu sebagian besar menunjukkan dirinya melalui bahasa sang penyair dalam
puisinya. Penyair berkomunikasi lewat bahasa dalam
puisi-puisinya.
Kalau orang sudah
memiliki keempat hal di atas, ia akan mudah berkomunikasi dengan puisi. Banyak
orang yang jika aktivitasnya diperlukan terlalu banyak untuk berbuat sesuatu,
dengan segera akan ia hentikan pekerjaan itu. Namun, ada juga orang yang
melakukan sesuatu dengan cara lain, yaitu belajar dan berlatih diri dengan cara
yang sungguh-sungguh sehingga memperoleh suatu keterampilan atau kepandaian.
Begitu juga dengan puisi. Seseorang harus belajar untuk membacanya, dan melatih
diri, untuk memperoleh kenikmatan. Setelah itu barulah ia memperoleh
kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan darinya. Bahasa puisi punya corak
tersendiri atau khas. Ragam bahasa puisi berbeda dengan ragam bahasa pergaulan
sehari-hari, juga berbeda dengan ragam bahasa karya fisik (novel, roman).
Penyair menyusun kata-katanya untuk menampilkan imaji dengan bermacam-macam
kombinasi dan juga untuk menampilkan ide. Walau demikian, kata-kata yang
dipergunakan merupakan kata-kata yang terdapat dalam bahasa sehari-hari, hanya
cara pemakaian atau cara penyusunannya yang berbeda.
Ada puisi yang
bahasanya mendekati bahasa prosa sehingga kita tidak mengalami kesulitan untuk
memahaminya. Coba kita lihat bait syair di bawah ini.
Adalah kepada
suatu hari
bersenda gurau
dua laki istri
lalu berkata Tuan puteri
“Kakanda! Wai, mari kita berperi”
(Syair Bidasari)
Di samping itu, bacalah juga pantun di bawah ini.
Rumah kecil tiang seribu
rumah gedung jadi terpanggung
Dan kecil timangan ibu
dari besar timangan untung
Dibandingkan dengan syair, tampaklah pada kita bahwa bahasa pantun lebih sulit daripada
syair. Apalagi, kalau kita bandingkan dengan bahasa puisi mutakhir, seperti
puisi-puisi Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bachri. Coba kita lihat sajak
“Aku” karya Chairil Anwar.
AKU
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Kita lihat sajak berikutnya “Sepisaupi” karya Sutardji Caizoum Bachri di
bawah ini.
SEPISAUPI
Sepisau duka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka sepisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisaunya ke dalam nyanyi
Pusat perhatian penyair ialah bahasa. Lewat bahasa ia dapat menggunakan
segala macam teknik, seperti teknik fiksi, teknik drama, teknik esei, dan
sebagainya. Seperti sudah dikemukakan, bahasa bagi seorang penyair adalah
substansi atau zat yang akan dibentuk. Dengan bahasa, penyair membangun puisi. Bangunan kata-kata itu sendiri merupakan sesuatu yang
dapat dinikmati di samping ide yang terkandung di dalamnya.
Dalam menulis puisi-puisinya penyair terikat kepada kata-kata yang
dipergunakan. Ia terikat oleh arti kata dan kesan yang tampil dari kata itu. Dalam puisi penyair dapat menyandingkan sebuah kata
dengan kata lain yang bukan pasangannya. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan
contoh kata tengik, yang lazimnya kita sandingkan dengan kata-kata mentega,
keju, atau minyak goreng. Namun demikian, kata itu tidak berlaku
untuk kata-kata susu atau telur. Begitu juga misalnya kita lazim
menyandingkan kata cantik dengan kata gadis, wanita, atau janda;
menyandingkan kata tampan dengan kata-kata perjaka, lelaki,
atau duda. Bagaimana bentuk persandingan muncul dalam puisi? Perhatikan
kutipan bait ketiga puisi berjudul “Kosong” karya Rismudji Rahardjo (dimuat
dalam kumpulan puisinya berjudul Bencah Rawa Rimba-rimba, 1980).
sekerat
angin menghempas cemara
berderai
seperti kembali tiada
Bentuk persandingan sekerat angin itu
diciptakan oleh penyairnya, namun hasilnya sama sekali tidak asing bagi kita
walaupun seolah-olah terjadi penyelewengan bahasa. Kata sekerat lazimnya
disandingkan dengan kata-kata tulang atau daging dan tidak pernah
dengan kata sekerat pohon, sekerat daun, sekerat
rindu, apalagi sekerat angin.
Setiap kata di samping mempunyai arti denotasi juga memiliki arti konotasi.
Arti konotasi ini sangat erat bertalian dengan pengalaman manusia dengan benda
atau hal itu. Misalnya, bulan berarti satelit bumi. Namun, bila orang
berbicara “bulan di atas taman” kata bulan memberi suasana bagus,
indah, romantis, dan sebagainya walaupun bulan itu sendiri benda
mati yang amat “jelek” permukaannya. Kesan apa yang Anda peroleh dari kata: cacing,
ular, narkotik, candu, cinta, benci, perempuan, perawan, hostess, dan
sebagainya. Arti denotatif kata-kata itu sendiri tidak memberi kesan apa-apa,
netral, dingin. Namun, kalau kata-kata ini dipergunakan dalam kalimat,
kata-kata itu langsung menimbulkan kesan tertentu, misalnya “Di samping piring
makannya itu ada cacing merayap-rayap” konotasi cacing adalah menjijikkan.
Lebih-lebih bila kata-kata itu dipergunakan dalam kalimat-kalimat yang
emosional (marah, benci, senang, kasmaran, dan sebagainya).
Bahasa puisi
memanfaatkan arti konotasi ini. Di samping konotasinya juga asosiasi kata-kata,
misalnya warna merah, merah muda (ros), hijau, kuning, dan sebagainya memiliki
asosiasi tersendiri. Langit biru, Langit jingga, dan langit kelabu mempunyai
asosiasi perasaan yang berlainan. Bahasa puisi tidak menjelaskan kesan itu
secara eksplisit atau tersendiri tetapi secara implisit ada dalam puisi. Karena
itu, membaca puisi harus dapat menangkap kecuali arti denotasinya terlebih lagi
arti konotasi dan asosiasi kata-kata yang dipakai. Sebab itu, membaca puisi
harus dengan perenungan. Manakala pembaca menemukan kebenaran melalui arti
denotasi, arti konotasi, dan asosiasi dalam puisi yang dibacanya, ia merasa
memperoleh kenikmatan dari membaca puisi. Ia senang membaca sajak, dan drama,
senang membicarakannya, senang mendengar sajak yang dideklamasikan, atau
menyaksikan drama dipentaskan. Inilah beberapa perilaku nyata atau konkret yang
biasanya diperlihatkan seseorang yang peka pikiran kritisnya dan peka
perasaannya.
Dari keempat unsur bangunan puisi tersebut yang erat sekali hubungannya
dengan bahasa puisi adalah unsur metafor. Metafor dapat dipandang sebagai unsur
bangunan puisi yang mencakup perlambangan dan kiasan. Metafor amat umum
dipergunakan dalam puisi. Ungkapan “aku ini binatang jalang” lebih lengkap dan
tepat daripada ungkapan apa pun. A. Hasymi memetaforkan usia manusia dengan
“batang usia” dan disamakan dengan peredaran hari; hari pagi sama
dengan waktu muda, segar-menarik, penuh semangat;
hari siang sama dengan waktu tengah umur, posisi
tertinggi, kering dan keras; hari senja sama
dengan waktu tua. Carilah metafor dalam sajak berikut.
SAJAK
Hartojo
Andangdjaja
Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
lewat bukit dan lembah
dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca
jejak kakimu di sana
Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kaki langit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh
Ia makin rindu
dalam doa, dan bersimpuh;
Tuhanku
Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu, di dunia
(Sastra, VI (2), 1968)
Dalam puisi itu
sajak dimetaforkan sebagai orang atau kenangan yang mencari jejak. Anda tahu
bukan, bahwa yang dapat mencari jejak ialah orang atau hewan. Di samping
metafor, sajak banyak memakai gaya personifikasi. Sesuai dengan
namanya, gaya personifikasi sangat mengintensifkan pernyataan, menjelaskan
maksud, dan memberi warna emosional. Benda-benda yang semula bersifat statis
menjadi dinamis dan penuh gerak karena diberi sifat-sifat manusia. Kita perhatikan puisi Emha Ainun Najib di bawah ini.
ANTARA TIGA KOTA
di yogya aku lelap tidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?
jakarta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari melototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
Ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?
surabaya seperti di tengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
ke manakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga?
(Sajak-sajak
Sepanjang Jalan: 13)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar