SEGALANYA TENTANG PUISI (3)
Subagio S.Waluyo
3. Unsur-Unsur Puisi
Kalau kita ingin membangun rumah,
kita harus tahu unsur-unsur yang harus dipenuhi. Kita bisa menyebutkan adanya
fondasi rumah karena fondasi adalah dasar rumah. Rumah yang fondasinya rapuh,
cepat rubuh apalagi jika terjadi gempa bumi. Dinding rumah juga turut membentuk
rumah. Terakhir tentu saja atapnya. Satu sama lain unsur-unsur tersebut sangat
berkaitan. Bahan bangunannya bergantung kepada jenis rumah yang akan dibangun.
Apakah itu rumah gubuk, rumah mewah, ataukah bangunan bertingkat ?
Membuat sebuah puisi sama
dengan membangun rumah. Ada unsur-unsur yang dipenuhi. Unsur-unsur puisi itu
antara lain : bentuk, simbol, metafora, pigura bahasa, imaji, ritme, rima, dan
tema. Unsur-unsur puisi itu berguna untuk menganalisis, memahami, dan
mengapresiasi puisi. Untuk
lebih jelasnya, unsur-unsur puisi itu di bawah ini dibahas satu per satu.
A. Bentuk
Puisi
sering didefinisikan sebagai bentuk karangan yang terikat oleh syarat-syarat:
banyaknya baris dalam tiap bait, banyaknya suku kata dalam tiap baris, dan
terdapatnya persajakan atau persamaan bunyi. Batasan ini cocok bagi puisi
lainya dan berapa puisi zaman Pujangga Baru. Coba kita lihat puisi di bawah ini
yang mendukung definisi tersebut.
SAWAH
Sanusi Pane
Sawah di bawah emas padu
Padi melambai, melalai
terkulai
Naik suara salung serunai,
Sejuk didengar mendamaikan
kalbu.
Sungai bersinar, menyilaukan
mata,
Menyenburkan buih warna
pelangi,
Anak mandi bersuka hati,
Berkejar-kejaran berseru gempita.
Langit lazuardi bersih
sungguh,
Burung elang
melayang-layang.
Sebatang kara dalam udara.
Desik-berdesik daun buluh,
Dibuai angin dengan sayang,
Ayam berkokok sayup udara.
(Pujangga
Baru)
Dengan
contoh di atas, yaitu puisi masa Pujangga Baru, definisi tersebut cocok. Namun, tidak demikian halnya dengan
puisi-puisi masa setelah itu. Chairil telah melakukan pembaruan dalam puisi
baik dilihat dari segi isi maupun dilihat dari segi bentuk. Berikut ini kita lihat puisi yang tidak sesuai
dengan definisi tersebut di atas.
IYA
L. K. Ara
Angkasa yang sepi
Lihatlah
ibu terbang
sebuah sayapnya
iya
bumi yang tua
lihatlah
bapak berjalan
sebuah kakinya
iya
matahari, bulan, dan
bintang-bintang
yang senua nampak serta
terbungkuk-bungkuk menerangi
ibu dan bapak menempuh
jalannya
iya
(Kur
Lak Lak, 1982)
Puisi
Indonesia pada masa-masa sekarang ini beragam bentuknya. Ada puisi yang seperti
prosa atau puisi panjang yang bentuknya seperti prosa. Coba Anda bandingkan
dengan prosa lirik.
Kowe Ario Sudah pernah ke Bali
Sudah tahu kera-kera di
Sangeh, bukan ?
Kemanapun biyungnya mencari
makan
anaknya di sembunyikan digendongan.
Nah, derajatmu lebih rendah
ketimbang kera
bila habis menikmati Pariyem
kowe minggat
Lebih terkutuk lagi bila dia
yang dipecat
Dilihat bentuknya karangan
berupa puisi, tetapi pemakaian kata-katanya mirip prosa. Jadi, ada puisi yang bahasanya seperti prosa.
Contohnya bait puisi di atas. Ada pula puisi yang bentuknya seperti prosa,
hanya cara penggunaan kata-katanya yang menandakan bahwa karangan itu sebuah
puisi. Kita lihat teks di
bawah ini.
Ada bayangan hitam kawat listrik terentang
panjang-panjang dan burung-burung senja bertengger diam-diam di atasnya.
Mencicit pelan: segan mengusik ketenangan senja. Juga telah menjadi bayangan
hitam dengan langit merah sebagai layarnya.
(Syahril
Latif, Pengembara Sunyi, 1973)
Sifat
puitis dalam penggunaan katanya dapat Anda lihat dalam “bayangan hitam kawat
listrik”. Kawat listrik tidak meninggalkan bayangan hitam karena kecilnya. Akan
tetapi, ungkapan itu memberi kesan tertentu dan adanya kawat listrik. Membaca
teks di atas Anda harus merenung seperti membaca puisi lainnya. Dengan
banyaknya membaca karya-karya sastra, Anda dapat membedakan mana puisi dan mana
bukan.
B. Simbol (Perlambangan)
Anda pernah
melihat tanda-tanda lalu lintas, bukan? Pernahkah Anda memperhatikan dan membicarakan
arti dan fungsi tanda-tanda lalu lintas itu? Sebagai ilustrasi coba kita amati
anti tanda seru (!). Apa artinya itu? Apa pula fungsi dan arti lampu pengatur
jalan (traffic light) yang berwarna merah, kuning, dan hijau? Mengapa
dengan lampu itu setiap pengendara dapat mengetahui artinya? Mengapa pula tidak
ditulis jalan sebagai pengganti warna hijau, jalan pelan-pelan sebagai pengganti
warna kuning, dan berhenti sebagai pengganti warna merah?
Tanda-tanda
lalu lintas itu agaknya telah dijadikan sebagai simbol (lambang) yang berlaku
di mana-mana dan mudah dipahami. Setiap pengendara atau masyarakat sebagian
besar tahu arti dan fungsinya. Sekarang timbul pertanyaan, apa itu simbol?
Dengan singkat dapat dikatakan, simbol ialah sesuatu yang mengandung arti iebih
dari yang terdapat dalam fakta. Di sekeliling kita banyak simbol-simbol yang digunakan
manusia untuk berkomunikasi.
Simbol yang
pemakaiannya begitu umum terdapat juga dalam puisi. Bahkan dalam puisi pemakaian
simbol cukup dominan. Justru di sinilah letak unsur seninya karena simbol itu
menyarankan kepada sesuatu arti tertentu. Pemakaian simbol itu erat sekali
hubungannya dengan tujuan penyair untuk menyarankan sesuatu secara tepat yang
erat sekali hubungannya dengan pengimajian.
Coba Anda
perhatikan puisi “Bunglon” karya S.M. Asbar di bawah ini.
BUNGLON
Untuk
Pahlawanku
Melayang gagah, meiuncur rampis,
menentang tenang, alam samadi,
Tiada sedar marabahaya;
‘Alam semesta memberi senjata.
Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.
Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.
(Gema
Tanah Air)
Anda tahu bukan bunglon?
Apa yang menarik dari
binatang itu? Binatang itu dapat mengubah-ubah warna dirinya sesuai dengan lingkungan
tempatnya berada: “A1am semesta memberi senjata”. Binatang itu dapat mengubah
warna kulitnya sehingga mudah inengelabuhi musuhnya dan tidak mudah dikenal: ‘Tiada
satu dapat mengganggu”.
Bunglon
dalam puisi di atas bukan dimaksudkan sebagai binatang. Jika kita amati larik
pertama puisi di atas dari bait terakhirnya, kita dapat menduga bahwa kata
bunglon digunakan penyair untuk melambangkan orang yang suka berubah sikap
sesuai situasi. Boleh juga dikatakan sebagai “pejuang” yang demi keselamatan
dirinya sering bertukar haluan menyesuaikan diri dengan pihak yang menang atau
yang sedang berkuasa. Bunglon pada puisi tersebut digunakan penyair untuk melambangkan
orang yang hipokrit atau plin-plan.
Dengan dilambangkannya
orang yang hipokrit atau plin-plan tersebut sebagai bunglon, pengertiannya
menjadi lebih mudah kita tangkap karena yang tergambar di dalam angan-angan
kita sekarang ialah wujud binatang tersebut. Nyatalah bahwa pelambangan
mempunyai efek yang kuat untuk menimbulkan bayangan-bayangan yang mudah
ditangkap oleh pancaindra. Pelambangan atau simbol sering sekali dimanfaatkan
oieh para penyair untuk lebih mengefektifkan isi puisinya.
Anda juga
bisa memanfaatkan simbol-simbol yang ada di sekitar kita. Anda bisa menafsirkan
status orang atau lembaga dan simbol yang digunakan. Misalnya, orang Kristen
memakai simbol salib dan ikan, orang Buddha memakai simbol teratai, orang
menggambarkan keadilan dengan simbol neraca, orang menggunakan gambar hati
sebagai simbol cinta, orang memakai simbol padi dan kapas untuk menggambarkan
kemakmuran, orang memakai simbol kepala banteng untuk kerakyatan, kaum buruh
memakai simbol palu arit, orang Belanda memakai singa sebagai lambang kerajaannya,
orang Rusia memakai beruang sebagai lambang negaranya, dan masih banyak lagi
simbol yang lain.
Dari simbol
yang bersifat duniawi mudah beralih ke simbol yang bermakna sakral. Bukankah
Orang berani mempertaruhkan nyawa untuk suatu simbol? Salib mempunyai anti
sakral bagi peimeluk Kristen, teratai mempunyai arti sakral bagi pemeluk
Buddha, dan seterusnya. Dewi Sri adalah lambang kesuburan yang memiliki nilai
mitos seperti matahari bagi orang Jepang dan bangsa Mesir kuno. Coba Anda cari
simbol-simbol yang lain dan simbol yang mempunyai makna sebagai mitos.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar