Sabtu, 03 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (32)

SEGALANYA TENTANG PUISI (3)

Subagio S.Waluyo

3. Unsur-Unsur Puisi


Kalau kita ingin membangun rumah, kita harus tahu unsur-unsur yang harus dipenuhi. Kita bisa menyebutkan adanya fondasi rumah karena fondasi adalah dasar rumah. Rumah yang fondasinya rapuh, cepat rubuh apalagi jika terjadi gempa bumi. Dinding rumah juga turut membentuk rumah. Terakhir tentu saja atapnya. Satu sama lain unsur-unsur tersebut sangat berkaitan. Bahan bangunannya bergantung kepada jenis rumah yang akan dibangun. Apakah itu rumah gubuk, rumah mewah, ataukah bangunan bertingkat ?

Membuat sebuah puisi sama dengan membangun rumah. Ada unsur-unsur yang dipenuhi. Unsur-unsur puisi itu antara lain : bentuk, simbol, metafora, pigura bahasa, imaji, ritme, rima, dan tema. Unsur-unsur puisi itu berguna untuk menganalisis, memahami, dan mengapresiasi puisi. Untuk lebih jelasnya, unsur-unsur puisi itu di bawah ini dibahas satu per satu.

A.      Bentuk
Puisi sering didefinisikan sebagai bentuk karangan yang terikat oleh syarat-syarat: banyaknya baris dalam tiap bait, banyaknya suku kata dalam tiap baris, dan terdapatnya persajakan atau persamaan bunyi. Batasan ini cocok bagi puisi lainya dan berapa puisi zaman Pujangga Baru. Coba kita lihat puisi di bawah ini yang mendukung definisi tersebut.

SAWAH
                                             Sanusi Pane
Sawah di bawah emas padu
Padi melambai, melalai terkulai
Naik suara salung serunai,
Sejuk didengar mendamaikan kalbu.

Sungai bersinar, menyilaukan mata,
Menyenburkan buih warna pelangi,
Anak mandi bersuka hati,
Berkejar-kejaran berseru gempita.

Langit lazuardi bersih sungguh,
Burung elang melayang-layang.
Sebatang kara dalam udara.
Desik-berdesik daun buluh,
Dibuai angin dengan sayang,
Ayam berkokok sayup udara.
                                          (Pujangga Baru)

Dengan contoh di atas, yaitu puisi masa Pujangga Baru, definisi tersebut cocok. Namun, tidak demikian halnya dengan puisi-puisi masa setelah itu. Chairil telah melakukan pembaruan dalam puisi baik dilihat dari segi isi maupun dilihat dari segi bentuk. Berikut ini kita lihat puisi yang tidak sesuai dengan definisi tersebut di atas.
IYA

                                             L. K. Ara

Angkasa yang sepi
Lihatlah
ibu terbang
sebuah sayapnya

iya

bumi yang tua
lihatlah
bapak berjalan
sebuah kakinya

iya

matahari, bulan, dan bintang-bintang
yang senua nampak serta
terbungkuk-bungkuk menerangi
ibu dan bapak menempuh jalannya

iya

                                             (Kur Lak Lak, 1982)
Puisi Indonesia pada masa-masa sekarang ini beragam bentuknya. Ada puisi yang seperti prosa atau puisi panjang yang bentuknya seperti prosa. Coba Anda bandingkan dengan prosa lirik.
Kowe Ario Sudah pernah ke Bali
Sudah tahu kera-kera di Sangeh, bukan ?
Kemanapun biyungnya mencari makan
anaknya di sembunyikan digendongan.
Nah, derajatmu lebih rendah ketimbang kera
bila habis menikmati Pariyem kowe minggat
Lebih terkutuk lagi bila dia yang dipecat
Dilihat bentuknya karangan berupa puisi, tetapi pemakaian kata-katanya mirip prosa. Jadi, ada puisi yang bahasanya seperti prosa. Contohnya bait puisi di atas. Ada pula puisi yang bentuknya seperti prosa, hanya cara penggunaan kata-katanya yang menandakan bahwa karangan itu sebuah puisi. Kita lihat teks di bawah ini.
Ada bayangan hitam kawat listrik terentang panjang-panjang dan burung-burung senja bertengger diam-diam di atasnya. Mencicit pelan: segan mengusik ketenangan senja. Juga telah menjadi bayangan hitam dengan langit merah sebagai layarnya.
                                             (Syahril Latif, Pengembara Sunyi, 1973)
Sifat puitis dalam penggunaan katanya dapat Anda lihat dalam “bayangan hitam kawat listrik”. Kawat listrik tidak meninggalkan bayangan hitam karena kecilnya. Akan tetapi, ungkapan itu memberi kesan tertentu dan adanya kawat listrik. Membaca teks di atas Anda harus merenung seperti membaca puisi lainnya. Dengan banyaknya membaca karya-karya sastra, Anda dapat membedakan mana puisi dan mana bukan.

B.      Simbol (Perlambangan)
Anda pernah melihat tanda-tanda lalu lintas, bukan? Pernahkah Anda memperhatikan dan membicarakan arti dan fungsi tanda-tanda lalu lintas itu? Sebagai ilustrasi coba kita amati anti tanda seru (!). Apa artinya itu? Apa pula fungsi dan arti lampu pengatur jalan (traffic light) yang berwarna merah, kuning, dan hijau? Mengapa dengan lampu itu setiap pengendara dapat mengetahui artinya? Mengapa pula tidak ditulis jalan sebagai pengganti warna hijau, jalan pelan-pelan sebagai pengganti warna kuning, dan berhenti sebagai pengganti warna merah?
Tanda-tanda lalu lintas itu agaknya telah dijadikan sebagai simbol (lambang) yang berlaku di mana-mana dan mudah dipahami. Setiap pengendara atau masyarakat sebagian besar tahu arti dan fungsinya. Sekarang timbul pertanyaan, apa itu simbol? Dengan singkat dapat dikatakan, simbol ialah sesuatu yang mengandung arti iebih dari yang terdapat dalam fakta. Di sekeliling kita banyak simbol-simbol yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.
Simbol yang pemakaiannya begitu umum terdapat juga dalam puisi. Bahkan dalam puisi pemakaian simbol cukup dominan. Justru di sinilah letak unsur seninya karena simbol itu menyarankan kepada sesuatu arti tertentu. Pemakaian simbol itu erat sekali hubungannya dengan tujuan penyair untuk menyarankan sesuatu secara tepat yang erat sekali hubungannya dengan pengimajian.
Coba Anda perhatikan puisi “Bunglon” karya S.M. Asbar di bawah ini.

BUNGLON
                                                                     Untuk Pahlawanku
Melayang gagah, meiuncur rampis,
menentang tenang, alam samadi,
Tiada sedar marabahaya;
‘Alam semesta memberi senjata.

Selayang terbang ke rumpun bambu,
Pindah meluncur ke padi masak
Bermain mesra di balik dahan,
Tiada satu dapat mengganggu.
Akh, sungguh puas berwarna aneka,
Gampang menyamar mudah menjelma,
Asalkan diri menurut suasana.
O, Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara,
Biar lahirku diancam derita,
Tidak daku sudi serupa.
                                                         (Gema Tanah Air)

Anda tahu bukan bunglon? Apa yang menarik dari binatang itu? Binatang itu dapat mengubah-ubah warna dirinya sesuai dengan lingkungan tempatnya berada: “A1am semesta memberi senjata”. Binatang itu dapat mengubah warna kulitnya sehingga mudah inengelabuhi musuhnya dan tidak mudah dikenal: ‘Tiada satu dapat mengganggu”.
Bunglon dalam puisi di atas bukan dimaksudkan sebagai binatang. Jika kita amati larik pertama puisi di atas dari bait terakhirnya, kita dapat menduga bahwa kata bunglon digunakan penyair untuk melambangkan orang yang suka berubah sikap sesuai situasi. Boleh juga dikatakan sebagai “pejuang” yang demi keselamatan dirinya sering bertukar haluan menyesuaikan diri dengan pihak yang menang atau yang sedang berkuasa. Bunglon pada puisi tersebut digunakan penyair untuk melambangkan orang yang hipokrit atau plin-plan.
Dengan dilambangkannya orang yang hipokrit atau plin-plan tersebut sebagai bunglon, pengertiannya menjadi lebih mudah kita tangkap karena yang tergambar di dalam angan-angan kita sekarang ialah wujud binatang tersebut. Nyatalah bahwa pelambangan mempunyai efek yang kuat untuk menimbulkan bayangan-bayangan yang mudah ditangkap oleh pancaindra. Pelambangan atau simbol sering sekali dimanfaatkan oieh para penyair untuk lebih mengefektifkan isi puisinya.
Anda juga bisa memanfaatkan simbol-simbol yang ada di sekitar kita. Anda bisa menafsirkan status orang atau lembaga dan simbol yang digunakan. Misalnya, orang Kristen memakai simbol salib dan ikan, orang Buddha memakai simbol teratai, orang menggambarkan keadilan dengan simbol neraca, orang menggunakan gambar hati sebagai simbol cinta, orang memakai simbol padi dan kapas untuk menggambarkan kemakmuran, orang memakai simbol kepala banteng untuk kerakyatan, kaum buruh memakai simbol palu arit, orang Belanda memakai singa sebagai lambang kerajaannya, orang Rusia memakai beruang sebagai lambang negaranya, dan masih banyak lagi simbol yang lain.

Dari simbol yang bersifat duniawi mudah beralih ke simbol yang bermakna sakral. Bukankah Orang berani mempertaruhkan nyawa untuk suatu simbol? Salib mempunyai anti sakral bagi peimeluk Kristen, teratai mempunyai arti sakral bagi pemeluk Buddha, dan seterusnya. Dewi Sri adalah lambang kesuburan yang memiliki nilai mitos seperti matahari bagi orang Jepang dan bangsa Mesir kuno. Coba Anda cari simbol-simbol yang lain dan simbol yang mempunyai makna sebagai mitos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...