Senin, 30 Januari 2017

Kebahasaan dan Kesastraan (39)

ANALISIS CERITA PENDEK
BERDASARKAN TEORI MASLOW

Subagio S.Waluyo

Ada banyak cara untuk menganalisis cerita pendek (cerpen). Salah satu cara di antaranya dengan menjadikan teori motivasi hirarki dari Abraham Maslow yang dikenal dengan Teori Hirarki Kebutuhan atau Teori Abraham Maslow atau Teori Maslow (TM). Teori ini sampai sekarang masih digunakan terutama di bidang manajemen terutama yang berkaitan dengan teori motivasi meskipun jika ditilik muatannya lebih dekat pada bidang psikologi humanistik(http://rajapresentasi.com/2009/03/teori-hirarki-motivasi-dari-abraham-maslow/).

Menurut Maslow (Teori-Teori Kepribadian oleh Koeswara, 1986: 109) motivasi kepribadian terbentuk karena adanya lima kebutuhan pokok yang terdapat dalam psikologi humanistik. Secara rinci tingkatan kebutuhan dalam diri individu oleh Maslow (Koeswara, 1986: 117-118) disusun secara bertingkat ke dalam lima tingkat kebutuhan, yaitu kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis; kebutuhan akan rasa aman; kebutuhan akan cinta dan memiliki; kebutuhan akan harga diri; dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan manusia yang paling bawah, yaitu kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis merupakan sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan itu mencakup kebutuhan akan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal (untuk istirahat), pemenuhan kebutuhan seksual, dan kebutuhan akan stimulus sensoris. Jika kebutuhan fisiologis ini tidak terpenuhi atau belum terpuaskan, maka individu tidak akan bergerak untuk bertindak memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi.  
Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan ini baru bisa dipenuhi jika kebutuhan fisiologis telah terpenuhi. Dimaksudkan dengan kebutuhan akan rasa aman ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Jika kebutuhan akan akan rasa aman pada individu telah terpenuhi, selanjutnya setiap individu juga membutuhkan kebutuhan yang berkaitan kebutuhan sosial. Dalam hal ini kebutuhan di sini adalah kebutuhan yang berkaitan dengan rasa cinta dan rasa memiliki. Kebutuhan dalam level ini adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlawanan jenis, di lingkungan keluarga atau di lingkungan kelompok di masyarakat. Individu berhak untuk mencintai dan dicintai oleh individu lain.

Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan akan rasa harga diri yang oleh Maslow dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri. Bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain. Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Berkaitan dengan hal itu adalah hal yang wajar kalau individu juga ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, setiap individu membutuhkan dalam hidupnya prestasi. Individu membutuhkan penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya berkaitan dengan prestasi yang dimiliki.

Kebutuhan individu yang terakhir (teratas) yang menjadi puncaknya adalah kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri. Kebutuhan individu akan aktualisasi diri dapat diartikan sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimiliki. Indikator dari kebutuhan teratas ini bisa dilihat dari upaya pengembangan diri individu melalui berbagai aktivitas baik pendidikan maupun sosial keagamaan. Bahkan, di sini tidak mustahil individu yang bersangkutan juga perlu melalukan pemenuhan ideologinya. Untuk itu, individu yang telah terpenuhi ideologinya memiliki prinsip hidup yang tidak bisa mudah digoyahkan.

Kembali pada uraian di atas bahwa karya sastra, dalam hal ini cerpen, dapat dianalisis dengan menggunakan TM sebagai pisau untuk menganalisisnya. Mengapa dalam menganalisis cerpen bisa digunakan TM? Telah diketahui secara umum bahwa cerpen sebagai karya prosa membicarakan masalah kehidupan manusia. Karena membicarakan kehidupan manusia, walaupun singkat saja, cerpen memberikan petunjuk bahwa ia lahir untuk memberi wawasan tentang hidup manusia dan segala sesuatunya kepada pembaca. Berdasarkan hal itu sebuah cerpen bisa dianalisis dengan TM melalui gambaran lima tahapan yang telah diuraikan di atas. Berikut ini kutipan-kutipan dari beberapa cerpen yang dikaitkan dengan kelima tahapan dalam TM. 

1) Kebutuhan Fisiologis
………………………………………………………………………………………………………
                                                                                                                                                     Bajus terus tergagap.  Sudah terbayang olehnya bila dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari tangan.  Bahkan buat selanjutnya dia mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus  kembali dimulai dari titik nol.  Oh, tidak bisa jadi.  Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah.  Dia bisa murka.  Sekali lagi Bajus hendak membujuk Srintil.  Kali ini bulat tekadnya Srintil harus menurut.
                                                                                                                                                     Hati-hati dibukanya pintu kamar Srintil.  Dia masih tersedu hingga bagian pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur, suaranya seperti ayah kepada anak yang sedang merajuk.
                                                                                                                                                     “Srin, kuharap kamu mau mengerti.  Kasihani aku dan tolonglah aku sekali ini saja.  Bagaimana nanti bila kamu tidak mau membantuku?  Mau ya, Srin?”

(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari,1999:199)

……………………………………………………………………………………………….

“Masuklah, Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu  diketuk.
“Duduklah,” sambungnya.
Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan kesantaian.  Di sana Blengur duduk merokok dan tenang.  Sangat tenang.  Tidak tergambar kehausan berahi.  Matanya yang terkenal berwarna petualangan kelihatan teduh.
“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”
“Kata yang mana, Pak?”
“Srintil itu.”
“Cantik dan lugu, kan?”
“Bukan itu maksudku.  Aku terkesan oleh citra pada wajahnya.Wajah perempuan  jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga.  Jus!”
“Ya, Pak.”
“Memang kamu tahu siap aku.  Aku senang berpetualang.  Tetapi, entahlah.  Aku tidak tega memakai Srintil.”
“Pak?”
“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek petualang- an. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia lamanya.”
“Pak, lalu?”
“Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat Srintil dan kata- kan sebagai hadiah dari aku.”
Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh Blengur.  Tangannya bergerak gamang.
“Ya, Pak, ya,” kata Bajus gugup.  Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya.  “Tetapi, Pak.”
“Apa?”
“Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?”
“Dasar recehan, kamu.  Tentu saja proyek itu tetap untukmu.  Sekarang sana keluar.  Antar Srintil pulang.”  

(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari, 1999:202 – 203)


2) Kebutuhan akan Rasa Aman

……………………………………………………………………………………………………………………

“Bapak sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini bapak masih selamat.  Barangkali memang tidak mungkin menyapu seluruh koruptor yang ada di Indonesia.  Koruptor nomor satu atau nomor dua  memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang tidak bisa disembunyikan, meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi bagaimana dengan koruptor nomor dua ratus atau tiga ratus?  Sedang bapak saja, yang bisa korupsi sekitar Rp200 milyar, rangking-nya cuma nomor 11.217.  Pasti susah `kan, mencabut yang nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor?  Jadi, barangkali untuk sementara kalian bisa tenang.  Masih banyak koruptor kelas kakap yang hasil korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung.  Bapak ini masih kelas teri, cuma Rp200 milyar.  Masih bisa dihitung.  Tenang sajalah.  Lagi pula bisa sekolah di luar negeri, bisa punya rumah mewah, mobilnya tidak cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya cukup untuk hidup sambil ongkang-ongkang kaki.  Ya nggak?  Bapak ini jelek-jelek tidak korupsi untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga.  Demi kehormatan, kebesaran, dan keselamatan keluarga.  Makanya kalian semua sekolah yang benar.  Selesaikan pendidikan dengan sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih silau dengan gelar-gelar dari luar negeri.  Perkara ijazahnya bisa beli, ya beli sajalah, untuk apa capai-capai ber-pikir?  Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan cari orang-orang yang bersedia melindungi kita.  Bayar saja sedikit.  Kasih perempuan.  Lantas diperas.  Mereka tidak mungkin bicara.  Uanglah yang akan bicara. 

(“Telpon dari Aceh”/Seno Gumira Adji Darma)


3) Kebutuhan akan Rasa Cinta dan Memiliki (Sosial)

……………………………………………………………………………………………………………………

Setelah menjadi kepala sekolah selama 10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa dirinya telah dipisahkan oleh jabatan dengan anak-anak didiknya.  Kesibukannya sebagai seorang kepala, menyebabkan ia tak ada waktu lagi mengajar bahasa Indonesia, menyanyi, dan menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempatan ia berdiri di depan kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak SD 500 itu.
           
“Ini sudah bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru.  Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat.  Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluahnya.

Ia termenung di belakang mejanya, memandang ke luar.  Lewat jendela dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak sedang main kasti.  Sayup-sayup di dengarnya pula di sebuah  kelas anak-anak sedang menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.

“Wah, aku sudah menjadi korban kedudukanku.  Kini waktunya untuk memutuskan apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan yang empuk, atau perasaan bangga karena sudah berarti dan dekat dengan murid-murid yang menjadi tanggungan sekolah?” tanyanya.

(“Protes” oleh Putu Wijaya, 1995:37)

…………………………………………………………………………………………………

”Kita memang Tuhan!” bunyinya menantang.  Raut wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit.  Glar!  Glar!  Glar!  “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari.  Kekeruhan wajah tak ada cahaya.  Melihat jauh kejauhan yang kosong.  Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…”

“Prajurit tak patut untuk berpikir.”

“Kau kira kami ini apa?”

“Kau menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!”

“Lalu apa bedanya?  Menembak angin atau menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis.  Dan kita harus bertanggung jawab.  Begitu mudahkah?”
“Benar!” serempak yang lain membetulkan.  Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah membuat kita semua gila.  Berapa ribu nyawa lagi harus kita korbankan?  Seluruh penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa dengan itu kita telah menjadi pahlawan.  Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan.  Sedang kita apa?  Bajingan tengik!  Jika semua orang di daerah ini memilih menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap dalam peta negara.  Apakah kita akan mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik?  Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka aku memilih berhenti.  Tembaklah aku, kolonel!  Engkau sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri.  Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…”

(“Bulan Sabit”/Joni Ariadinata,1999:177)


4) Kebutuhan akan Rasa Harga Diri

……………………………………………………………………………………………………………………

“Masya Allah.  Kalian perkosa anakku?!  Iblis laknat…” Saimah meraung.  Jeritan keras menembus lapisan langit.  Tubuhnya melayang melompat dan menerkam tiga bayangan hitam yang mendadak terjengat, tak menyangka:”Hei,hei, tahan dia Sersan! Sial…”

Tapi Tuhan tak memiliki kemustahilan.  Ratusan tahun Negeri Serambi telah melahirkan keperkasaan perempuan yang bergerak di hutan-hutan.  Ketika senapan dikokang, selarik cahaya petir tiba menyambar; sedetik mata kopral terpejam, sedetik kemudian tangan Saimah melayang merebut senapan.  Teramat cepat.  Lalu rentetan tembakan menggelegar, mencabik-cabik keputusasaan Saimah.  Dan angin mendesau-desau di luar pagar.  Dan raung tenggorokan yang sekarat menggelepar dibasuh hujan. Amis darah. Lalu hening.  Saimah gemetar suara senapan berkelotrak jatuh: ia memaku.  Lentikan mata di luar kesadaran, wajah yang mengeras, lalu dengan tiba-tiba pula ia menangis.  Memeluk Zainab, anak gadis bau kencur yang belum saatnya dipetik; tapi dirobek paksa dan begitu amat terhina:”Kau…apa yang telah mereka lakukan ter-hadapmu, anakku, ya Allah …”

“Pasukan gerilyawan Sabil.  Mereka memaksaku untuk mengatakannya.  Salahkah kalau aku memilih mati, ibu?  Tapi alat negara tidak memilih itu.  Mereka memperkosaku.  Mereke hanya perlu unttuk menghina negeri ini.  Allah…Allah…Allah telah begini kotor.”

“Tidak.  Engkau tetap suci.  Bidadariku.  Diamlah, ssst…”

(“Bulan Sabit”/Helvy Tiana Rosa)

……………………………………………………………………………………………..
           
 ”Ya, Kang, pekan lalu saya memang pergi kepada Pak Koyor,” dengan gaya tanpa beban. ”Setiyar Kang, supaya warung kita tetap laris. Kamu tahu Kang, sekarang sudah banyak saingan.”
            Kartawi menelan ludah. Ia merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Di bawah cahaya lampu listrik 10 watt wajahnya tampak sangat berat. ”Dan Kamu memberi dia penajem? Iya?” tanya Kartawi. Suaranya dalam dan makin berat. Tatapan matanya menusuk mata istrinya. Jum hanya sekejap mengangkat muka, lalu tertunduk. Dan tersenyum ringan. Wajahnya pun kembali cair. ”Kang, Kamu ini bagaimana? Soal memberi penajem itu kan biasa. Jadi ...”
            ”Jadi betul Kamu...” Tangan Kartawi meraih gelas yang seperti hendak diremukkannya dalam genggaman. Otot yang mngikat kedua rahangnya menggumpal. Matanya menyala. Jum menyembunyikan wajah karena mengira Kartawi akan memukulnya, Tidak, ternyata Kartawi bisa menahan diri meski seluruh tubuhnya bergetar menahan marah.
            ”Kang,” ujar Jum setelah suaminya agak kendur. ”Dengarlah, saya mau bicara.” Jum berhenti dan menelan ludah yang tiba-tiba terasa lebih pekat. ”Yang saya berikan kepada Pak Koyor bukan begitu-begitu yang sesungguhnya. Saya Cuma main-main, Cuma pura-pura, Tidak sepenuh hati. Kang, saya masih eling. Begitu-begitu yang sebenarnya hanya untuk Kamu. Sungguh, Kang.” Kartawi tatap membatu. Matanya tetap berpijar. Urat rahanya masih menggumpal. Dalam perasaan yang terpangga itu Kartawi melihat wilayah-wilayah pribadi tempat bersemayam harga diri dan martabat kelelakiannya terinjak-injak. Porak-porak. Jemari kembali meregang untuk meremas gelas yang masih digenggamnya. Jum malah mencoba tersenyum. Tetapi Jum terkejut karena tiba-tiba Kartawi berteriak. ”Lalu apa bedanya begitu-begitu yang main-main dengan begitu-begitu yang sungguhan?” Jum kembali menelan ludah.n Dan ketenangannya yang kemudian berhasil ditampilkannya membuat Kartawi harus tetap pada posisi menahan diri. ”Oalah Kang, bedanya banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak sampai ke hati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem, agar warung kita laris, tidak lebih. Jadi, Kamu tidak kehilangan apa-apa, Kang. Semuanya utuh. Kang, jika warung kita bertambah laris, kita juga yang bakal enak-kepenak, bukan?” Belum satu detik setelah Jum selesai mengucapkan kata-katanya Kartawi bangkit. Detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting di lantai. Kartawi ke luar setelah membanting pintu keras-keras. Dan Jum menangis.

(”Penajem”/Ahmad Tohari)
    

5)  Kebutuhan untuk Mengungkapkan Diri atau Aktualisasi Diri

…………………………………………………………………………………………………

            Satu detik setelah daun pintu terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari totalitas sebentuk pribadi.  Godam pertama mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah pundi-pundi hampa.  Srintil masih sempat merasakan perih dan pahitnya guncangan ini.  Deraan kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya sendiri yang sudah ingin ditinggalkan dengan suatu tekad membaja.  Kemudian tiang itu ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan, sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut  sebagai neraka dunia.
            Sosok itu tentu masih bernama Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk.  Tentu pula dia  masih akan disebut sebagai manusia.  Namun faktor yang membedakan antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya --  sudah gaib sedetik yang lalu.  Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi keberadaan dirinya.  Dia tidak tahu lagi dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik.  Posisi tubuh serta semua anggota badannya  masih melukiskan orang terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu.  Wajahnya mati, mati.  Matanya tidak berkedip, mulutnya melongo.  Roh kemanusiaan tidak tampak lagi sedikit pun.

(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari, 1999:200-201)

…………………………………………………………………………………………………………………….

“Katakanlah, Cucu.  Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
“Tidak ada , Kakek”, kataku,  keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus.  Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku.  Kemudian membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa.  Di luar mata-hari membakar.  Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet  me-mainkan tangannya.  Pemimpin meneriakkan semboyan kosong.  Anak-anak bertengkar merebut layang-layang.  Apakah arti-nya semua itu, Cucu?  Mereka semua  menipu diri sendiri.  Hidup ditemukan dalam ketenangan.  Bukan dalam hiruk-pikuk dunia.  Tataplah bunga-bunga di atas air itu.  Hawa dingin menyejuk hatimu.  Engkau menemukan dirimu.  Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku mendengarkan sebaik-baiknya.  Ia mengatur nafas.  Lalu berdiri.
“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”
Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus.  Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum.  “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”   

                           (“Dilarang Mencintai Bunga-bunga”/Kuntowidjojo,1996:12-13)


Demikian gambaran singkat tentang cara menganalisis cerpen menggunakan pisau TM sebagai alatnya. Mudah-mudahan dengan cara analisis seperti ini memudahkan orang untuk melakukan kerja-kerja apresiasi karya sastra. Wallahu a`lam bissawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...