ANALISIS
CERITA PENDEK
BERDASARKAN
TEORI MASLOW
Subagio
S.Waluyo
Ada banyak cara untuk menganalisis cerita pendek
(cerpen). Salah satu cara di antaranya dengan menjadikan teori motivasi hirarki
dari Abraham Maslow yang dikenal dengan Teori Hirarki Kebutuhan atau Teori Abraham
Maslow atau Teori Maslow (TM). Teori ini sampai sekarang masih digunakan
terutama di bidang manajemen terutama yang berkaitan dengan teori motivasi
meskipun jika ditilik muatannya lebih dekat pada bidang psikologi humanistik(http://rajapresentasi.com/2009/03/teori-hirarki-motivasi-dari-abraham-maslow/).
Menurut Maslow (Teori-Teori Kepribadian oleh Koeswara,
1986: 109) motivasi kepribadian terbentuk karena adanya lima kebutuhan pokok
yang terdapat dalam psikologi humanistik. Secara rinci tingkatan kebutuhan
dalam diri individu oleh Maslow (Koeswara, 1986: 117-118) disusun secara
bertingkat ke dalam lima tingkat kebutuhan, yaitu kebutuhan-kebutuhan dasar
fisiologis; kebutuhan akan rasa aman; kebutuhan akan cinta dan memiliki; kebutuhan
akan harga diri; dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan manusia yang
paling bawah, yaitu kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis merupakan sekumpulan
kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung
dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan itu
mencakup kebutuhan akan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal (untuk
istirahat), pemenuhan kebutuhan seksual, dan kebutuhan akan stimulus sensoris. Jika
kebutuhan fisiologis ini tidak terpenuhi atau belum terpuaskan, maka individu
tidak akan bergerak untuk bertindak memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang
lebih tinggi.
Kebutuhan berikutnya
adalah kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan ini baru bisa dipenuhi jika
kebutuhan fisiologis telah terpenuhi. Dimaksudkan dengan kebutuhan akan rasa
aman ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketenteraman,
kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Jika kebutuhan akan akan
rasa aman pada individu telah terpenuhi, selanjutnya setiap individu juga
membutuhkan kebutuhan yang berkaitan kebutuhan sosial. Dalam hal ini kebutuhan
di sini adalah kebutuhan yang berkaitan dengan rasa cinta dan rasa memiliki. Kebutuhan
dalam level ini adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan
hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama
jenis maupun dengan yang berlawanan jenis, di lingkungan keluarga atau di
lingkungan kelompok di masyarakat. Individu berhak untuk mencintai dan dicintai
oleh individu lain.
Kebutuhan berikutnya
adalah kebutuhan akan rasa harga diri yang oleh Maslow dibagi ke dalam dua
bagian. Bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri.
Bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain. Bagian pertama mencakup
hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi,
adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Berkaitan dengan hal itu adalah hal yang
wajar kalau individu juga ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga
serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, setiap
individu membutuhkan dalam hidupnya prestasi. Individu membutuhkan penghargaan
atas apa-apa yang dilakukannya berkaitan dengan prestasi yang dimiliki.
Kebutuhan individu
yang terakhir (teratas) yang menjadi puncaknya adalah kebutuhan untuk
mengungkapkan diri atau aktualisasi diri. Kebutuhan individu akan aktualisasi
diri dapat diartikan sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai
dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya untuk menyempurnakan dirinya
melalui pengungkapan segenap potensi yang dimiliki. Indikator dari kebutuhan
teratas ini bisa dilihat dari upaya pengembangan diri individu melalui berbagai
aktivitas baik pendidikan maupun sosial keagamaan. Bahkan, di sini tidak
mustahil individu yang bersangkutan juga perlu melalukan pemenuhan ideologinya.
Untuk itu, individu yang telah terpenuhi ideologinya memiliki prinsip hidup
yang tidak bisa mudah digoyahkan.
Kembali pada uraian
di atas bahwa karya sastra, dalam hal ini cerpen, dapat dianalisis dengan
menggunakan TM sebagai pisau untuk menganalisisnya. Mengapa dalam menganalisis
cerpen bisa digunakan TM? Telah diketahui secara umum bahwa cerpen sebagai karya
prosa membicarakan masalah kehidupan manusia. Karena membicarakan kehidupan
manusia, walaupun singkat saja, cerpen memberikan petunjuk bahwa ia lahir untuk
memberi wawasan tentang hidup manusia dan segala sesuatunya kepada pembaca.
Berdasarkan hal itu sebuah cerpen bisa dianalisis dengan TM melalui gambaran
lima tahapan yang telah diuraikan di atas. Berikut ini kutipan-kutipan dari
beberapa cerpen yang dikaitkan dengan kelima tahapan dalam TM.
1) Kebutuhan
Fisiologis
………………………………………………………………………………………………………
Bajus
terus tergagap. Sudah terbayang olehnya
bila dia gagal menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari
tangan. Bahkan buat selanjutnya dia
mungkin tidak akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus kembali dimulai dari titik nol. Oh, tidak bisa jadi. Blengur tidak boleh dikecewakan bahkan dengan
santapan yang sudah berada tepat di ujung lidah. Dia bisa murka. Sekali lagi Bajus hendak membujuk
Srintil. Kali ini bulat tekadnya Srintil
harus menurut.
Hati-hati
dibukanya pintu kamar Srintil. Dia masih
tersedu hingga bagian pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat
tidur, suaranya seperti ayah kepada anak yang sedang merajuk.
“Srin,
kuharap kamu mau mengerti. Kasihani aku
dan tolonglah aku sekali ini saja.
Bagaimana nanti bila kamu tidak mau membantuku? Mau ya, Srin?”
(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari,1999:199)
……………………………………………………………………………………………….
“Masuklah,
Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu
diketuk.
“Duduklah,”
sambungnya.
Bajus tidak
menyangka akan berhadapan dengan kesantaian.
Di sana Blengur duduk merokok dan tenang. Sangat tenang. Tidak tergambar kehausan berahi. Matanya yang terkenal berwarna petualangan
kelihatan teduh.
“Jus, aku
membuktikan sendiri katamu memang benar.”
“Kata yang
mana, Pak?”
“Srintil itu.”
“Cantik dan
lugu, kan?”
“Bukan itu
maksudku. Aku terkesan oleh citra pada
wajahnya.Wajah perempuan jajanan yang
sangat berhasrat menjadi ibu rumah tangga.
Jus!”
“Ya, Pak.”
“Memang kamu
tahu siap aku. Aku senang
berpetualang. Tetapi, entahlah. Aku tidak tega memakai Srintil.”
“Pak?”
“Ya. Berilah
dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Masih
banyak perempuan lain yang dengan sukarela menjadi obyek petualang- an. Jumlah
mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil mengundurkan diri dari dunia
lamanya.”
“Pak, lalu?”
“Ya. Antar dia
pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang buat Srintil dan kata- kan sebagai
hadiah dari aku.”
Mata Bajus
menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan oleh Blengur. Tangannya bergerak gamang.
“Ya, Pak, ya,”
kata Bajus gugup. Amplop itu dimasukkan
ke saku jaketnya. “Tetapi, Pak.”
“Apa?”
“Proyek. Ya,
bagaimana dengan proyek itu?”
“Dasar
recehan, kamu. Tentu saja proyek itu
tetap untukmu. Sekarang sana
keluar. Antar Srintil pulang.”
(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari, 1999:202
– 203)
2) Kebutuhan
akan Rasa Aman
……………………………………………………………………………………………………………………
“Bapak
sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini bapak masih selamat. Barangkali memang tidak mungkin menyapu
seluruh koruptor yang ada di Indonesia.
Koruptor nomor satu atau nomor dua
memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang tidak bisa disembunyikan,
meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi bagaimana dengan koruptor nomor
dua ratus atau tiga ratus? Sedang bapak
saja, yang bisa korupsi sekitar Rp200 milyar, rangking-nya cuma nomor
11.217. Pasti susah `kan, mencabut yang
nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor?
Jadi, barangkali untuk sementara kalian bisa tenang. Masih banyak koruptor kelas kakap yang hasil
korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung. Bapak ini masih kelas teri, cuma Rp200
milyar. Masih bisa dihitung. Tenang sajalah. Lagi pula bisa sekolah di luar negeri, bisa
punya rumah mewah, mobilnya tidak cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya
cukup untuk hidup sambil ongkang-ongkang kaki.
Ya nggak? Bapak ini jelek-jelek
tidak korupsi untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga. Demi kehormatan, kebesaran, dan keselamatan
keluarga. Makanya kalian semua sekolah
yang benar. Selesaikan pendidikan dengan
sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih silau dengan
gelar-gelar dari luar negeri. Perkara ijazahnya
bisa beli, ya beli sajalah, untuk apa capai-capai ber-pikir? Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya
memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan cari
orang-orang yang bersedia melindungi kita.
Bayar saja sedikit. Kasih
perempuan. Lantas diperas. Mereka tidak mungkin bicara. Uanglah yang akan bicara.
(“Telpon dari
Aceh”/Seno Gumira Adji Darma)
3) Kebutuhan
akan Rasa Cinta dan Memiliki (Sosial)
……………………………………………………………………………………………………………………
Setelah
menjadi kepala sekolah selama 10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa
dirinya telah dipisahkan oleh jabatan dengan anak-anak didiknya. Kesibukannya sebagai seorang kepala,
menyebabkan ia tak ada waktu lagi mengajar bahasa Indonesia, menyanyi, dan
menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempatan ia berdiri di depan
kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak SD 500 itu.
“Ini sudah
bertentangan dengan harkat dan pengabdianku sebagai guru. Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan
tetapi birokrat. Dus aku sudah
berkhianat pada cita-citaku untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh
dengan murid,” keluahnya.
Ia termenung
di belakang mejanya, memandang ke luar.
Lewat jendela dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak
sedang main kasti. Sayup-sayup di
dengarnya pula di sebuah kelas anak-anak
sedang menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.
“Wah, aku
sudah menjadi korban kedudukanku. Kini
waktunya untuk memutuskan apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan
yang empuk, atau perasaan bangga karena sudah berarti dan dekat dengan
murid-murid yang menjadi tanggungan sekolah?” tanyanya.
(“Protes” oleh
Putu Wijaya, 1995:37)
…………………………………………………………………………………………………
”Kita memang
Tuhan!” bunyinya menantang. Raut wajah
putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit; menerjang
dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit. Glar!
Glar! Glar! “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari. Kekeruhan wajah tak ada cahaya. Melihat jauh kejauhan yang kosong. Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang
meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…”
“Prajurit tak
patut untuk berpikir.”
“Kau kira kami
ini apa?”
“Kau
menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!”
“Lalu apa
bedanya? Menembak angin atau menembak
kepala, semua diajarkan dengan sama persis.
Dan kita harus bertanggung jawab.
Begitu mudahkah?”
“Benar!”
serempak yang lain membetulkan.
Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah
membuat kita semua gila. Berapa ribu
nyawa lagi harus kita korbankan? Seluruh
penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa
dengan itu kita telah menjadi pahlawan.
Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan. Sedang kita apa? Bajingan tengik! Jika semua orang di daerah ini memilih
menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap
dalam peta negara. Apakah kita akan
mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk
menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin
politik? Kalau itu pilihan presiden dan
panglima, maka aku memilih berhenti.
Tembaklah aku, kolonel! Engkau
sudah lupa bahwa mereka yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri. Bukan segerombolan monyet seperti doktrin
ajaranmu…”
(“Bulan Sabit”/Joni
Ariadinata,1999:177)
4) Kebutuhan akan Rasa Harga Diri
……………………………………………………………………………………………………………………
“Masya
Allah. Kalian perkosa anakku?! Iblis laknat…” Saimah meraung. Jeritan keras menembus lapisan langit. Tubuhnya melayang melompat dan menerkam tiga
bayangan hitam yang mendadak terjengat, tak menyangka:”Hei,hei, tahan dia
Sersan! Sial…”
Tapi Tuhan tak
memiliki kemustahilan. Ratusan tahun
Negeri Serambi telah melahirkan keperkasaan perempuan yang bergerak di
hutan-hutan. Ketika senapan dikokang,
selarik cahaya petir tiba menyambar; sedetik mata kopral terpejam, sedetik
kemudian tangan Saimah melayang merebut senapan. Teramat cepat. Lalu rentetan tembakan menggelegar,
mencabik-cabik keputusasaan Saimah. Dan
angin mendesau-desau di luar pagar. Dan
raung tenggorokan yang sekarat menggelepar dibasuh hujan. Amis darah. Lalu
hening. Saimah gemetar suara senapan
berkelotrak jatuh: ia memaku. Lentikan
mata di luar kesadaran, wajah yang mengeras, lalu dengan tiba-tiba pula ia
menangis. Memeluk Zainab, anak gadis bau
kencur yang belum saatnya dipetik; tapi dirobek paksa dan begitu amat
terhina:”Kau…apa yang telah mereka lakukan ter-hadapmu, anakku, ya Allah …”
“Pasukan
gerilyawan Sabil. Mereka memaksaku untuk
mengatakannya. Salahkah kalau aku
memilih mati, ibu? Tapi alat negara
tidak memilih itu. Mereka
memperkosaku. Mereke hanya perlu unttuk
menghina negeri ini. Allah…Allah…Allah
telah begini kotor.”
“Tidak. Engkau tetap suci. Bidadariku.
Diamlah, ssst…”
(“Bulan Sabit”/Helvy
Tiana Rosa)
……………………………………………………………………………………………..
”Ya, Kang, pekan lalu saya memang pergi kepada Pak
Koyor,” dengan gaya tanpa beban. ”Setiyar Kang, supaya warung kita
tetap laris. Kamu tahu Kang, sekarang sudah banyak saingan.”
Kartawi
menelan ludah. Ia merasa ada gelombang pasang naik dan menyebar ke seluruh
pembuluh darahnya. Di bawah cahaya lampu listrik 10 watt wajahnya tampak sangat
berat. ”Dan Kamu memberi dia penajem? Iya?” tanya Kartawi. Suaranya
dalam dan makin berat. Tatapan matanya menusuk mata istrinya. Jum hanya sekejap
mengangkat muka, lalu tertunduk. Dan tersenyum ringan. Wajahnya pun kembali
cair. ”Kang, Kamu ini bagaimana? Soal memberi penajem itu kan
biasa. Jadi ...”
”Jadi
betul Kamu...” Tangan Kartawi meraih gelas yang seperti hendak diremukkannya
dalam genggaman. Otot yang mngikat kedua rahangnya menggumpal. Matanya menyala.
Jum menyembunyikan wajah karena mengira Kartawi akan memukulnya, Tidak,
ternyata Kartawi bisa menahan diri meski seluruh tubuhnya bergetar menahan
marah.
”Kang,”
ujar Jum setelah suaminya agak kendur. ”Dengarlah, saya mau bicara.” Jum
berhenti dan menelan ludah yang tiba-tiba terasa lebih pekat. ”Yang saya
berikan kepada Pak Koyor bukan begitu-begitu yang
sesungguhnya. Saya Cuma main-main, Cuma pura-pura, Tidak sepenuh hati. Kang,
saya masih eling. Begitu-begitu yang sebenarnya hanya untuk Kamu.
Sungguh, Kang.” Kartawi tatap membatu. Matanya tetap berpijar. Urat rahanya
masih menggumpal. Dalam perasaan yang terpangga itu Kartawi melihat
wilayah-wilayah pribadi tempat bersemayam harga diri dan martabat kelelakiannya
terinjak-injak. Porak-porak. Jemari kembali meregang untuk meremas gelas yang
masih digenggamnya. Jum malah mencoba tersenyum. Tetapi Jum terkejut karena
tiba-tiba Kartawi berteriak. ”Lalu apa bedanya begitu-begitu yang
main-main dengan begitu-begitu yang sungguhan?” Jum kembali
menelan ludah.n Dan ketenangannya yang kemudian berhasil ditampilkannya membuat
Kartawi harus tetap pada posisi menahan diri. ”Oalah Kang, bedanya
banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya
lakukan itu tidak sampai ke hati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem,
agar warung kita laris, tidak lebih. Jadi, Kamu tidak kehilangan apa-apa, Kang.
Semuanya utuh. Kang, jika warung kita bertambah laris, kita juga yang bakal enak-kepenak,
bukan?” Belum satu detik setelah Jum selesai mengucapkan kata-katanya Kartawi
bangkit. Detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting di lantai.
Kartawi ke luar setelah membanting pintu keras-keras. Dan Jum menangis.
(”Penajem”/Ahmad Tohari)
5)
Kebutuhan untuk Mengungkapkan Diri atau Aktualisasi Diri
…………………………………………………………………………………………………
Satu detik setelah daun pintu
terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari totalitas
sebentuk pribadi. Godam pertama
mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika
dia mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah pundi-pundi
hampa. Srintil masih sempat merasakan
perih dan pahitnya guncangan ini. Deraan
kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah
harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya sendiri yang sudah ingin
ditinggalkan dengan suatu tekad membaja.
Kemudian tiang itu ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata
tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan,
sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut
sebagai neraka dunia.
Sosok itu tentu masih bernama
Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk. Tentu
pula dia masih akan disebut sebagai
manusia. Namun faktor yang membedakan
antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya -- sudah gaib sedetik yang lalu. Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi
keberadaan dirinya. Dia tidak tahu lagi
dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik. Posisi tubuh serta semua anggota
badannya masih melukiskan orang
terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu. Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya
melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak
lagi sedikit pun.
(Jentera Bianglala/Ahmad Tohari, 1999:200-201)
…………………………………………………………………………………………………………………….
“Katakanlah,
Cucu. Apakah yang lebih baik dari
ketenangan jiwa?”
“Tidak ada ,
Kakek”, kataku, keluar begitu saja dari
kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus. Tidak kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.”
Ia menepuk pundakku. Kemudian
membenarkan letak duduknya dan kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya
mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di atas air ini melam-bangkan
ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa.
Di luar mata-hari membakar.
Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke sana-kemari memburu
waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar
tentang harga. Tukang copet me-mainkan
tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan
kosong. Anak-anak bertengkar merebut
layang-layang. Apakah arti-nya semua
itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah,
apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku
mendengarkan sebaik-baiknya. Ia mengatur
nafas. Lalu berdiri.
“Nah, sudah
sampai waktunya kita jalan-jalan!”
Kami berjalan.
Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap bunga kakek men- jentik, tertawa.
“Bagus. Bagus sekali bukan, cucu?” Aku
tersenyum. “Ya, dunia ini indah seperti
bunga mekar. Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”
(“Dilarang Mencintai
Bunga-bunga”/Kuntowidjojo,1996:12-13)
Demikian gambaran singkat tentang cara
menganalisis cerpen menggunakan pisau TM sebagai alatnya. Mudah-mudahan dengan
cara analisis seperti ini memudahkan orang untuk melakukan kerja-kerja
apresiasi karya sastra. Wallahu a`lam
bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar