TEKNIK PENULISAN
LAPORAN
Subagio S.Waluyo
Pendahuluan
Selama ini kita selalu beranggapan
bahwa sebuah kegiatan dianggap selesai meskipun tidak ada laporan kegiatan
secara tertulis. Laporan kegiatan cukup secara lisan saja tidak perlu tertulis.
Kita tidak usah bersusah payah membuat
laporan tertulis karena setiap laporan yang dibuat pada akhirnya akan tersimpan
saja di arsip tanpa dievaluasi. Di samping itu, ini yang masih merupakan budaya
buruk kita selama ini, Ketrampilan menulis lebih merupakan kelemahan kita untuk
menuangkan buah pikiran kita ke dalam bentuk tulisan sehingga kita lebih
terbiasa melaporkan secara lisan daripada tertulis. Namun, apakah anggapan kita
yang demikian sudah benar ?
Anggapan tersebut tentu saja tidak
dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, kalau bisa dianggap salah, karena
laporan kegiatan lisan memiliki banyak kelemahan. Kelamahan-kelemahan tersebut
di antaranya :
1. mempunyai kadar
keresmian yang rendah;
2. tidak dapat
dibuktikan sebagai suatu laporan;
3. tidak mempunyai
kekuatan hukum; dan
4. sering menimbulkan
kesalahpahaman.
Dengan kita
melihat kelemahan-kelemahan di atas, mau tidak mau kita harus membuat laporan
secara tertulis. Dengan laporan secara tertulis akan banyak manfaat yang kita
peroleh, yaitu :
1. mempunyai kadar
keresmian yang lebih tinggi;
2. merupakan bukti
nyata dari suatu pelaporan;
3. mempunyai kekuatan
hukum yang lebih kuat; dan
4. dapat mengurangi
kesalah pahaman komunikasi.
Oleh karena itu,
pembuatan laporan kegiatan secara tertulis sudah merupakan keharusan bagi
setiap ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), kalau para ketua BEM berkeinginan
menjadi pemimpin yang baik, baik untuk saat ini maupun dimasa yang akan datang.
Bentuk Laporan Kegiatan
Kalau kita inign membuat laporan
kegiatan secara tertulis ada 4 (empat) macam bentuk laporan kegiatan yang dapat
kita buat, yaitu :
1. Laporan yang
berbentuk formulir;
2. Laporan yang
berbentuk surat ;
3. Laporan yang
berbentuk artikel; dan
4. Laporan yang
berbentuk buku.
Dari empat macam
bentuk laporan kegiatan tersebut, tampaknya laporan yang berbentuk buku tidak
perlu kita bicarakan karena bentuk laporan keempat lebih banyak digunakan di
perguruan tinggi dalam bentuk penulisan skripsi, tesis, disertasi, dan
hasil-hasil penelitian lainnya.
1.
Laporan yang Berbentuk Formulir
Dari tiga macam
bentuk laporan kegiatan, laporan jenis ini merupakan pembuatan laporan yang
paling mudah karena si pembuat laporan tinggal mengisi formulir yang telah
disediakan (contoh formulir terlampir). Laporan bentuk ini biasanya digunakan
dalam laporan bulanan yang digunakan untuk melaporkan kegiatan yang sedang
berlangsung. Kalau kegiatan tersebut sudah selesai, laporan kegiatan disusun
dalam bentuk buku (untukt ingkat BEM di perguruan tinggi sebaiknya cukup dengan
laporan bentuk formulir saja meskipun kegiatan sudah selesai dilaksanakan).
2.
Laporan yang
Berbentuk Surat
Untuk pembuatan
laporan yang berbentuk surat ini kita harus memiliki ketrampilan dalam menulis
surat. Sebagaimana layaknya kita menulis surat ,
dalam menulis surat
kita hanya menyampaikan hal-hal yang dianggap perlu saja. Meskipun demikian
masalah utama yang ingin dilaporkan hendaknya ditulis secara lengkap. Yang
harus kita ketahui segala macam ketentuan yang berlaku dalam penulisan surat berlaku pula dalam
penulisan laporan jenis ini. Agar uraian ini lebih jelas dapat kita lihat pada
contoh terlampir.
3.
Laporan yang
Berbentuk Artikel
Di antara tiga
bentuk laporan yang kita bahas kali ini, tampaknya Laporan yang Berbentuk
Artikel memerlukan sedkit kerutan dahi karena untuk pembuatan laporan ini si
pembuat laporan harus memiliki pengetahuan tentang penulisan artikel. Memang,
kalau diperhatikan isi laporan ini di satu sisi ada kemiripan dengan artikel
yang biasa terdapat di surat
kabar atau majalah, di sisi lain laporan bentuk ini juga memiliki kemiripan
dengan malah atau kertas kerja. Karena itu, kita yang suatu saat mau tidak mau
harus membuat laporan bentuk ini harus memahami pula cara-cara pembuatan
makalah. Jadi, dua hal harus dikuasai
lebih dahulu, yaitu penguasaan membuat artikel dan makalah.
Meskipun laporan
bentuk ini lebih sulit dibandingkan dengan bentuk-bentuk laporan yang terdahulu
kita tidak usah putus asa kalau suatu saat kita dituntut untuk membuatnya.
Untuk itu ada ada beberapa hal berikut yang perlu kita perhatikan pada saat
membuat laporan yang berbentuk artikel.
a.
Latar Belakang
Pada waktu kita
memulai membuat laporan, kita akan memulainya dengan membuat latar belakang.
Latar belakang setidaknya memuat alasan-alasan kegiatan yang kita selenggarakan
(alasan di sini bisa saja termasuk teknis dan bisa pula praktis) dan dukungan
dana untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Sementara itu, yang dimasudkan dengan alasan teknis di sini antara lain,
menyangkut relevansi antara perguruan tinggi (tempat kita aktif di lembaga tersebut)
dan kegiatan yang akan diselenggarakan. Sedangkan alasan praktis antara lain
menyangkut manfaat praktis dari penyelenggaraan kegiatan tersebut.
b.
Waktu
Penyelenggaraan
Setelah kita
mengungkapkan latar belakang kegiatan yang kita selenggarakan, kita harus
menyampaikan pula waktu penyelenggaraan nya. Di sini kita sebutkan hari,
tanggal, bulan, dan tahun penyelenggaraan kegiatan. Semua itu perlu disebutkan
karena sangat berguna nantinya manakala laporan yang kita buat akan
didokumentasikan.
c. Tujuan
Yang dimaksud
dengan tujuan di sini adalah tujuan yang ingin dicapai dengan penyelenggaraan
kegiatan itu. Dalam hal ini kita terlebih dahulu harus memilah tujuan ini ke
dalam dua bagian, yaitu tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Kita juga
harus bisa membedakan keduanya agar kita bisa mengetahui pada saat kita membuat
laporan apakah laporan yang kita buat tujuannya untuk pencapaian yang dilakukan
secara bertahap / berjenjang ataukah tujuannya merupakan tujuan yang ingin
dicapai dalam waktu yang relatif singkat (pendek).
d.
Hasil yang
Diharapkan
Kegiatan yang kita
selenggarakan setidaknya ada hal-hal yang kita harapkan dari kegiatan tersebut
karena nantinya menyangkut manfaat praktis yang dapat diperoleh. Kalau kita
menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan paling tidak para pesertanya akan
memiliki wawasan pengetahuan tentang kepemimpinan dan adanya peningkatan rasa
ingin tahu di kalangan para peserta.
e.
Pelaksana dan
Pelaksanaan Kegiatan
Kita tidak boleh
lupa dalam pembuatan laporan ini untuk mengungkapkan nama-nama pihak yang
terlibat di dalamnya yang lazim disebut sebagai susunan panitia. Sebutkan
jabatan dan namanya karena merekalah yang bertanggung jawab lancar tidaknya
kegiatan yang dilaksanakan. Di samping itu,
juga dicantumkan bentuk-bentuk kegiatannya, sistemnya, materinya,
sarananya, dan prasarananya karena semua itu diharapkan akan dapat memberikan
gambaran yang jelas tentang pelaksanaan kegiatan yang kita selenggarakan.
f.
Penutup
Bagian penutup
lebih merupakan rangkuman dari seluruh materi yang disajikan dalam laporan.
Untuk memperkuat pembuatan laporan bisa juga ditambah dengan saran-saran untuk
pelaksanaan kegiatan berikutnya. Yang perlu kita ingat bagian ini terutama
berfungsi sebagai pernyataan bahwa laporan sudah selesai.
Sebagai pelengkap
dalam pembuatan laporan yang berbentuk artikel ini tidak salahnya kalau
dilengkapi pula dengan lampiran-lampiran. Lampiran-lampiran tersebut
semata-mata untuk memperkuat informasi yang kita sajikan dalam laporan
tersebut.
P e n u t u p
Demikianlah uraian
singkat tentang pembuatan laporan kegiatan. Mudah-mudahan saja bahan tulisan
yang kurang berpotensi ilmiah ini bermanfaat buat kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar