Rabu, 14 Desember 2016

Kebahasaan dan Kesastraan (38)

SEGALANYA TENTANG PUISI (9)

Subagio S.Waluyo


(Lanjutan Apresiasi Puisi)


Pada puisi ‘Surat Cinta’ itu tampak sekali Rendra melibatkan seluruh alam dalam rasa kebahagiaannya. Bumi dan langit, alam dan surga meminjamkan gambaran-gambaran serta bahan-bahan untuk melukiskan perasaan jiwanya. Atau setiap makhluk yang dijumpainya merupakan cermin bagi isi hatinya: burung belibis, anak-anak yang bersenda gurau, bahkan malaikat-malaikat yang dipandangnya dalam percikan air hujan pada kaca jendela. Hal semacam itu juga banyak dijumpai pada puisi-puisi Rendra yang lain. Kita bisa lihat pada kumpulan puisinya yang lain, seperti Blues Untuk Bonie, Ballada Sepatu Tua, atau pada puisinya yang bernada kritik sosial Potret Pembangunan dalam Puisi, Di samping Rendra juga banyak penyair lain yang selalu akrab dengan alam.

Kembali kepada puisi Rendra di atas, puisi tersebut menggambarkan secara jelas suatu peristiwa. Akan tetapi, tidak semua puisi secara jelas menggambarkan suatu peristiwa. Artinya, ada hal-hal yang harus digali lebih dalam lagi untuk dapat membayangkannya kembali. Hal ini dapat dilakukan jika sering membaca puisi dengan membayangkan peristiwa atau kehidupan di belakang puisi yang didengar atau dibacanya.
Ketajaman untuk membayangkan peristiwa atau kehidupan di belakang puisi akan diperoleh melalui pergaulan yang akrab dengan puisi. Agar perasaan semakin tajam haruslah diasah. Cara mengasahnya ialah selalu akrab dengan puisi, mendengarkan puisi yang dibacakan, membacakan puisi, berdiskusi tentang puisi, menghadiri pementasan puisi, dan lain-lain. Hal seperti itu dapat meningkatkan keakraban dengan puisi.
Di samping dengan cara membayangkan, ada lagi cara lain, cara telah dicoba oleh S. Effendi dalam buku Bimbingan Apresiasi Puisi.

(Adalah) seruling di pasir ipis, merdu (di)
antara gundukan pohon pina (,) (dan)
tembang (pun) menggema di dua kaki, (antara)
Burangrang (dan) Tangkubanprahu.

(Adalah) (juga) jamrut di pucuk-pucuk, (dan)
jamrut di air (yang) tipis (lagi) menurun (dan)
membelit tangga di tanah merah (yang)
dikenal (oleh) gadis-gadis dan bukit (yang)
nyanyikan kentang sudah digali, (dan) (yang)
kenakan kabaya merah kepewayangan.

(Demikianlah) jamrut (itu) di pucuk-pucuk, (dan)
jamrut (itu) di hati gadis menurun.

Dengan penanda-penanda dalam kurung itu akan mudah sekali sebuah puisi ditangkap maknanya. Atau dengan kata lain terasa tebih jelas dan mudah diapresiasi.
Berbicara tentang makna dalam puisi, ada yang diebut makna lugas. Coba perhatikan puisi ‘Sersan Nurcholis’. Informasi yang diperoleh dan kata-kata dalam puisi itu merupakan makna lugasnya, yaitu Nurcholis adalah bekas pejuang yang kakinya hilang. Ia menolak ketika sahabatnya hendak memberi kartu anggota bekas pejuang.
Arti tiap kata menurut adanya itu disebut arti yang sebenarnya atau arti harafiah, bukan arti kiasan. Memahami benar-benar arti harafiah tiap kata dalam larik atau baris mempemudah memahami makna puisi. Makna puisi berdasarkan arti harafiah itulah yang disebut makna lugas, atau makna tersurat. Lugas dan bahasa Jawa, artinya polos, lugu, atau apa adanya.
Bagaimana makna lugas sajak Taufik Ismail? Sajak itu melukiskan tentang Sersan Nucholis berikut ini.

Ada seorang sersan yang kakinya hilang
Kejadian itu berlangsung sepuluh tahun yang Lalu.
Kini sepuluh tahun kemudian setiap siang
Orang selalu mendengar siulnya di bengkel arloji tempat
ia bekerja.
Suatu kali datang teman-temannya
yang telah menjadi orang resmi.
Ketika padanya diberi kartu anggota sebagai tanda bekas pejuang
dengan senyumnya ditolaknya.
Sersan Nurcholis yang kakinya hilang
di zaman revolusi masih setia bekerja
di bengkel arloji dengan siulnya
yang selalu terdengar setiap siang.

Cukup jelas artinya dengan diparafrasekan sedemikian rupa, bukan? Selanjutnya perlu dimaklumi bahwa memparafrasekan sebuah puisi bukanlah memprosakan puisi selarik demi selarik atau sebait demi sebait, melainkan mengungkapkan keseluruhan isi puisi tersebut dengan bahasa prosa. Oleh karena itu, yang penting dalam memprosakan puisi, makna lugasnya tidak hilang atau berubah.
Puisi Taufik Ismail tersebut termasuk puisi yang mudah ditangkap maknanya atau puisi transparan. Kata-katanya sederhana. Di samping makna tugas, ada juga yang bermakna tersirat. Makna Lugas puisi tidak perlu dicari makna kiasnya.
Tentu saja makna tugas yang demikian itu belum memuaskan pembaca, belum memberikan kekayaan batin apa-apa kepada pembaca. Untuk membuat sajak di atas bermakna bagi batin pembaca, maka perlu dicari makna tersirat sajak. Coba perhatikan puisi di bawah ini :
  

SALJU
                                               
                             Wing Karjo

Ke manakah pergi
          mencari matahari
          keitika salju turun
          pohon kehilangan daun
Ke manakah jalan
          mencari lindungan
          ketika bara hati
          padam tak berarti
Ke manakah lari
          mencari api
          ketika bara hati
          padam tak berarti
Ke manakah pergi
          Selain mencuci diri

                                      (Selembar Daun, halaman 24)

Dalam sajak ini kata ‘salju’ haruslah ditafsirkan dengan memperhatikan konotasi kata itu. Makna lugas salju ialah ‘butir-butir air yang membeku berjatuhan dan udara’. makna konotasi kata itu membangkitkan berrnacam -macam asosiasi. Kemungkinan meleset menangkap makna kias sangat terbuka karena lambang-lambang dalam puisi sangat personal. Oleh karena itu, yang dilakukan ialah mencoba menemukan makna itu walau hanya bagi dirinyi sendiri.
Beberapa kata kunci yang dapat dipergunakan untuk memparafrasukan puisi Wing Karjo di atas adalah sebagai berikut.
(1)  Salju  =  musim salju memberi kesan musim dingin yang kelu, sepi, kehidupan tidak tampak diganti dengan tumpukan salju yang putih (bait satu) daun-daun berguguran.
(2)  Matahari =  Sumber kehidupan, dalam musim dingin matahari hanya tampak beberapa jam sehari.
(3)  Pohon kehilangan daun = daun-daun gugur.
(4)  Api =  harapan yang membangkitkan semangat
(5)  Bara hati  =  semangat atau kemauan
(6)  Mencuci diri = membersihkan jiwa raga berserah diri kepada Tuhan.

Dengan berbekalkan arti kata-kata kias tersebut, kini dapat diparafrasekan puisi Wing Karjo tersebut. Dalam musim salju permukaan tanah menjadi putih tertutup salju dan jalan-jalan (yang membawa orang ke satu tujuan) tak nampak, semua menjadi rata (bait 2). Dan kesejukan musim salju mematikan harapan (bara api). Dalam musim salju tidak ada tempat yang terlindung dari serangan salju. Kesan dari puisi itu, penulis kehilangan bara api, cinta, semangat, dan ia seperti kehilangan jalan, kehilangan petunjuk, matahari sumber bara hati/padam tak berarti”. Kalau sudah demikian maka cara terbaik adalah “mencuci diri”.
Sajak ini menyindir orang-orang, penyair, kita juga, bila sedang dilanda kemelut hidup, bara api semangat telah mati, maka sering kita menjadi pengecut. Ketika manusia mendapat bencana atau kesusahan dan jalan untuk mencapai tujuan tidak tampak; serta ketika semangat manusia teiah lenyap karena kemelut yang tidak dapat dieiakkan seperti saiju yang berjatuhan maka tidak ada jalan lain kecuali inembersihkan din (sepenuhnya berserah kepada Tuhan Yang Kuasa).
Puisi-puisi Wing Karjo, terutama yang terkumpul dalam Selembar Daun termasuk puisi-puisi yang sulit untuk ditangkap maksudnya; karena itu, terlebih dahulu harus dicari makna lugas dan makna utuhnya. Begitu juga puisi-puisi karangan penyair seperti Sapardi Djoko Damono, Gunawan Mohammad, dan Amir Ham Zah. Puisi-puisi mereka harus dibaca secara berulang-ulang dan direnungkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...