SEGALANYA TENTANG PUISI (9)
Subagio S.Waluyo
(Lanjutan Apresiasi Puisi)
Pada puisi ‘Surat Cinta’ itu
tampak sekali Rendra melibatkan seluruh alam dalam rasa kebahagiaannya. Bumi dan
langit, alam dan surga meminjamkan gambaran-gambaran serta bahan-bahan untuk
melukiskan perasaan jiwanya. Atau setiap makhluk yang dijumpainya merupakan
cermin bagi isi hatinya: burung belibis, anak-anak yang bersenda gurau, bahkan
malaikat-malaikat yang dipandangnya dalam percikan air hujan pada kaca jendela.
Hal semacam itu juga banyak dijumpai pada puisi-puisi Rendra yang lain. Kita
bisa lihat pada kumpulan puisinya yang lain, seperti Blues Untuk Bonie, Ballada
Sepatu Tua, atau pada puisinya yang bernada kritik sosial Potret Pembangunan
dalam Puisi, Di samping Rendra juga banyak penyair lain yang selalu akrab
dengan alam.
Kembali kepada puisi Rendra
di atas, puisi tersebut menggambarkan secara jelas suatu peristiwa. Akan
tetapi, tidak semua puisi secara jelas menggambarkan suatu peristiwa. Artinya,
ada hal-hal yang harus digali lebih dalam lagi untuk dapat membayangkannya
kembali. Hal ini dapat dilakukan jika sering membaca puisi dengan membayangkan
peristiwa atau kehidupan di belakang puisi yang didengar atau dibacanya.
Ketajaman untuk membayangkan
peristiwa atau kehidupan di belakang puisi akan diperoleh melalui pergaulan
yang akrab dengan puisi. Agar perasaan semakin tajam haruslah diasah. Cara mengasahnya
ialah selalu akrab dengan puisi, mendengarkan puisi yang dibacakan, membacakan
puisi, berdiskusi tentang puisi, menghadiri pementasan puisi, dan lain-lain.
Hal seperti itu dapat meningkatkan keakraban dengan puisi.
Di samping dengan cara membayangkan,
ada lagi cara lain, cara telah dicoba oleh S. Effendi dalam buku Bimbingan Apresiasi Puisi.
(Adalah) seruling di pasir ipis, merdu (di)
antara gundukan pohon pina (,) (dan)
tembang (pun) menggema di dua kaki, (antara)
Burangrang (dan) Tangkubanprahu.
(Adalah) (juga) jamrut di pucuk-pucuk, (dan)
jamrut di air (yang) tipis (lagi) menurun (dan)
membelit tangga di tanah merah (yang)
dikenal (oleh) gadis-gadis dan bukit (yang)
nyanyikan kentang sudah digali, (dan) (yang)
kenakan kabaya merah kepewayangan.
(Demikianlah) jamrut (itu) di pucuk-pucuk, (dan)
jamrut (itu) di hati gadis menurun.
Dengan penanda-penanda dalam kurung itu akan mudah sekali
sebuah puisi ditangkap maknanya. Atau dengan kata lain terasa tebih jelas dan
mudah diapresiasi.
Berbicara tentang makna dalam
puisi, ada yang diebut makna lugas. Coba perhatikan puisi ‘Sersan Nurcholis’.
Informasi yang diperoleh dan kata-kata dalam puisi itu merupakan makna
lugasnya, yaitu Nurcholis adalah bekas pejuang yang kakinya hilang. Ia menolak
ketika sahabatnya hendak memberi kartu anggota bekas pejuang.
Arti tiap kata menurut adanya itu disebut arti yang
sebenarnya atau arti harafiah, bukan arti kiasan. Memahami benar-benar arti
harafiah tiap kata dalam larik atau baris mempemudah memahami makna puisi.
Makna puisi berdasarkan arti harafiah itulah yang disebut makna lugas, atau
makna tersurat. Lugas dan bahasa Jawa, artinya polos, lugu, atau apa
adanya.
Bagaimana makna lugas sajak
Taufik Ismail? Sajak itu melukiskan tentang Sersan Nucholis berikut ini.
Ada seorang sersan yang kakinya hilang
Kejadian itu berlangsung sepuluh tahun yang Lalu.
Kini sepuluh tahun kemudian setiap siang
Orang selalu mendengar siulnya di bengkel arloji tempat
ia bekerja.
ia bekerja.
Suatu kali datang teman-temannya
yang telah menjadi orang resmi.
Ketika padanya diberi kartu anggota sebagai tanda bekas
pejuang
dengan senyumnya ditolaknya.
Sersan Nurcholis yang kakinya hilang
di zaman revolusi masih setia bekerja
di bengkel arloji dengan siulnya
yang selalu terdengar setiap siang.
Cukup jelas artinya dengan
diparafrasekan sedemikian rupa, bukan? Selanjutnya perlu dimaklumi bahwa memparafrasekan
sebuah puisi bukanlah memprosakan puisi selarik demi selarik atau sebait demi
sebait, melainkan mengungkapkan keseluruhan isi puisi tersebut dengan bahasa
prosa. Oleh karena itu, yang penting dalam memprosakan puisi, makna lugasnya
tidak hilang atau berubah.
Puisi Taufik Ismail tersebut termasuk puisi yang mudah
ditangkap maknanya atau puisi transparan. Kata-katanya sederhana. Di samping makna
tugas, ada juga yang bermakna tersirat. Makna Lugas puisi tidak perlu dicari
makna kiasnya.
Tentu saja makna tugas yang demikian
itu belum memuaskan pembaca, belum memberikan kekayaan batin apa-apa kepada pembaca.
Untuk membuat sajak di atas bermakna bagi batin pembaca, maka perlu dicari makna
tersirat sajak. Coba perhatikan puisi di bawah ini :
SALJU
Wing
Karjo
Ke manakah pergi
mencari
matahari
keitika
salju turun
pohon
kehilangan daun
Ke manakah jalan
mencari
lindungan
ketika
bara hati
padam
tak berarti
Ke manakah lari
mencari
api
ketika
bara hati
padam tak
berarti
Ke manakah pergi
Selain
mencuci diri
(Selembar
Daun, halaman 24)
Dalam sajak ini kata ‘salju’
haruslah ditafsirkan dengan memperhatikan konotasi kata itu. Makna lugas salju
ialah ‘butir-butir air yang membeku berjatuhan dan udara’. makna konotasi kata
itu membangkitkan berrnacam -macam asosiasi. Kemungkinan meleset menangkap makna
kias sangat terbuka karena lambang-lambang dalam puisi sangat personal. Oleh
karena itu, yang dilakukan ialah mencoba menemukan makna itu walau hanya bagi
dirinyi sendiri.
Beberapa kata kunci yang
dapat dipergunakan untuk memparafrasukan puisi Wing Karjo di atas adalah
sebagai berikut.
(1) Salju = musim
salju memberi kesan musim dingin yang kelu, sepi, kehidupan tidak tampak
diganti dengan tumpukan salju yang putih (bait satu) daun-daun berguguran.
(2) Matahari
= Sumber
kehidupan, dalam musim dingin matahari hanya tampak beberapa jam sehari.
(3) Pohon
kehilangan daun = daun-daun gugur.
(4) Api
= harapan
yang membangkitkan semangat
(5) Bara
hati = semangat
atau kemauan
(6) Mencuci
diri = membersihkan jiwa raga berserah
diri kepada Tuhan.
Dengan berbekalkan arti kata-kata kias tersebut, kini
dapat diparafrasekan puisi Wing Karjo tersebut. Dalam musim salju permukaan
tanah menjadi putih tertutup salju dan jalan-jalan (yang membawa orang ke satu
tujuan) tak nampak, semua menjadi rata (bait 2). Dan kesejukan musim salju
mematikan harapan (bara api). Dalam musim salju tidak ada tempat yang terlindung
dari serangan salju. Kesan dari puisi itu, penulis kehilangan bara api, cinta,
semangat, dan ia seperti kehilangan jalan, kehilangan petunjuk, matahari sumber
bara hati/padam tak berarti”. Kalau sudah demikian maka cara terbaik adalah
“mencuci diri”.
Sajak ini menyindir
orang-orang, penyair, kita juga, bila sedang dilanda kemelut hidup, bara api
semangat telah mati, maka sering kita menjadi pengecut. Ketika manusia mendapat
bencana atau kesusahan dan jalan untuk mencapai tujuan tidak tampak; serta
ketika semangat manusia teiah lenyap karena kemelut yang tidak dapat dieiakkan
seperti saiju yang berjatuhan maka tidak ada jalan lain kecuali inembersihkan
din (sepenuhnya berserah kepada Tuhan Yang Kuasa).
Puisi-puisi Wing Karjo,
terutama yang terkumpul dalam Selembar Daun termasuk puisi-puisi yang sulit
untuk ditangkap maksudnya; karena itu, terlebih dahulu harus dicari makna lugas
dan makna utuhnya. Begitu juga puisi-puisi karangan penyair seperti Sapardi
Djoko Damono, Gunawan Mohammad, dan Amir Ham Zah. Puisi-puisi mereka harus
dibaca secara berulang-ulang dan direnungkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar