REVOLUSI
AKHLAK (3)
Subagio
S.Waluyo
Di
masa-masa Rasulullah SAW yang diteruskan dengan masa-masa kekhalifahan Islam
pernah berjaya (termasuk ke dalamnya masa Umar bin Abdul Aziz sebagai raja
walaupun sangat singkat). Masa-masa itu umat Islam sangat layak disebut umat
yang bisa memberikan rahmat bagi seluruh alam (‘rahmatan lil alamin’). Umat
Islam di saat itu bisa menunjukkan diri sebagai umatan waahidah (umat yang satu). Karena itu, umat Islam saat itu sulit
ditaklukkan oleh umat-umat lain. Sebaliknya, dalam banyak peperangan umat Islam
selalu memperoleh kemenangan walaupun dari segi jumlah pasukan dan perlengkapan
perang jauh lebih kecil daripada musuh-musuhnya.
Masa-masa
kejayaan Islam berlangsung sekitar 43 tahun. Sepuluh tahun di masa Rasulullah
SAW (terbentuknya masyarakat Islam di Madinah dan Fathul Makkah), tiga puluh
tahun masa kekhalifahan, dan tiga tahun masa Umar bin Abdul Aziz sebagai raja.
Meskipun demikian singkat, warisan yang ditinggalkan Islam luar biasa. Bukan
saja menyangkut masalah-masalah ukhrawi
yang diwariskan, masalah-masalah duniawi yang berkaitan dengan muamalah dan sebagainya juga diwariskan.
Dalam dunia ilmu pengetahuan di masa-masa kerajaan juga berkembang pesat. Eropa
yang dulu dikenal sebagai wilayah yang boleh dikatakan masih belum mengenal
ilmu, begitu masuknya Islam di benua tersebut terjadi percepatan perkembangan
ilmu pengetahuan. Ekspansi umat Islam yang telah dilakukan di masa-masa
Rasulullah dan para khalifah yang empat diteruskan di masa-masa kerajaan.
Berbagai capaian kemenangan yang diperoleh umat Islam masa itu yang kurang
disyukuri (termasuk menjauhkan diri dari Al-Qur’an) menjadi penyebab kekalahan
umat Islam sehingga wilayah-wilayah yang dulu dikuasai umat Islam rontok satu
persatu. Singkatnya, umat Islam yang dulu berkuasa lambat-laun menjadi yang
dikuasai umat lain. Terjadilah sesuatu yang tidak kita inginkan, banyak negara
Islam yang dijajah umat lain. Bahkan, yang lebih memilukan lagi tidak sedikit
negara Islam menjadi negara-negara yang dikuasai kaum kafir karena umat Islam
di negara-negara tersebut menjadi minoritas.
Berbarengan
dengan penguasaan musuh-musuh Islam (negara-negara barat) atas negara-negara
Islam, masuk juga berbagai macam paham yang merusak pemikiran (fikroh) umat Islam. Banyak umat Islam
yang mengenyam pendidikan barat (yang dianggap modern) fikroh-nya menjadi sekuler. Tidak sedikit juga yang menjadi atheis
dan cenderung memusuhi agamanya sendiri. Umat Islam menjadi asing terhadap
agamanya sendiri. Seandainya ada di antara umat Islam yang masih menjalankan
ibadahnya, dalam berperilaku jauh dari nilai-nilai Islam. Agama bagi sebagian
besar umat Islam hanya sebatas pelengkap bukan menjadi tujuan. Agama hanya
menjadi asesori agar tidak dianggap kafir atau tidak beragama. Kalau ada di
antara umat Islam yang melakukan amalan-amalan yang menunjukkan kepedulian pada
sesama (zakat atau sedekah), punya kecenderungan untuk dipublikasi secara luas
agar semua orang tahu bahwa mereka masih punya kepeduliaan pada sesamanya. Jadi,
umat Islam golongan ini cenderung gila publikasi atau jaga image (gila
pencitraan). Dengan demikian, niat awal untuk melakukan ibadah telah dirusak
oleh keinginan-keinginan rendah yang dimotivasi oleh hawa nafsu. Naudzubillahi min dzaalik.
Timbulnya
perilaku umat Islam yang jauh dari nilai-nilai Islam (bahkan cenderung memusuhi
sesamanya) bukan tanpa sebab. Perilaku buruk umat Islam itu bisa terjadi karena
adanya perang pemikiran (ghazwul fikri)
yang dilakukan musuh-musuh Islam secara masif, sistemik, teratur, dan terancang
dengan baik. Bukan itu saja, ghazwul
fikri yang mereka lakukan serangannya juga mencakup semua segi kehidupan berbangsa
dan bermasyarakat baik itu di bidang politik, sosial, budaya, mental, maupun
konsep. Musuh-musuh Islam melakukan ghazwul
fikri setelah sebelumnya mereka memerangi umat Islam melalui peperangan
fisik yang ternyata tidak banyak membawa hasil. Peperangan secara fisik yang
melelahkan bukannya menjadikan umat Islam itu kalah justru semakin kuat melawan
mereka. Upaya musuh-musuh Islam yang memang telah digariskan oleh Allah dalam
Surat Al-Baqoroh 120 dan 212 sebagai orang-orang yang tidak akan henti-hentinya
memusuhi Islam sampai umat Islam murtad dari agamanya, akhirnya membuahkan
hasil, yaitu memunculkan konsep ghazwul
fikri.
Peperangan
yang tidak memerlukan pengorbanan fisik, cukup dengan perusakan akhlak ternyata
jauh lebih efektif. Sarana ghazwul fikri dari
masa ke masa (sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi) mengalami perkembangan baik dari sisi
kemudahan maupun kelengkapannya. Kalau di awal-awal tahun ’60-an sarana ghazwul fikri yang masuk ke rumah-rumah
umat Islam baru sebatas televisi (TV), di akhir-akhir abad 20 semakin banyak
dan semakin mudah mengakses ghazwul fikri.
Tidak hanya TV, sarana komunikasi, dalam hal ini Hand Phone (HP), menjadi sarana paling efektif untuk merusak umat
Islam. Bukan saja orang dewasa, anak-anak kecil pun bisa dirusak perilakunya
oleh kehadiran HP. Selain, HP juga bisa lewat komputer, notebook, atau laptop. Semua
sarana baik informasi maupun komunikasi yang terhubung dengan internet bisa
menjadi sarana ghazwul fikri yang
paling efektif dan efisien. Akibat, ghazwul
fikri sekarang bisa kita lihat kondisi umat Islam saat ini. Perilaku umat
Islam jauh dari nilai-nilai ke-Islam-an. Karena jauh dari nilai-nilai
ke-Islam-an,wajar-wajar saja juga banyak umat Islam yang merasa asing dengan
agamanya sendiri. Tujuan musuh-musuh Islam dengan demikian telah tercapai,
yaitu umat Islam telah murtad dari agamanya meskipun umat Islam tidak harus
keluar dari agamanya. Kalau cara hidup dan perilakunya sama dengan musuh-musuh
Islam, sudah dianggap cukup.
Gambaran
kerusakan perilaku umat Islam bisa dilihat pada banyaknya penyimpangan sosial.
Setiap hari, bahkan setiap saat, di negara kita yang kita cintai ini seringkali
kita ditemukan entah itu di antaranya anak-anak didik kita yang tawuran, terlibat
dalam seks bebas, korban narkoba, atau larut dalam kehidupan malam (dugem). Sementara itu, di kalangan
orang-orang dewasa selain banyak di antara mereka yang juga terlibat dalam seks
bebas, keranjingan narkoba, dan dugem,
gaya hidup yang semakin permisif dan hedonis juga melanda umat ini. Semua
gambaran keburukan yang terjadi di belahan dunia lain juga terjadi di negara
yang mayoritas Muslim ini. Akibat ghazwul
fikri memunculkan cara hidup dan perilaku umat Islam yang dulunya
mencerminkan umat yang benar-benar menjunjung tinggi ‘rahmatan lil alamin’ telah
menjadi umat yang tidak lagi memiliki kepribadian atau kepribadian yang
terpecah. Kalau di belahan dunia lain karena cara hidup dan perilakunya rusak
yang berujung dengan kerusakan umat, hal itu boleh jadi juga terjadi pada
negara-negara yang notabene-nya
Muslim. Negara-negara yang masih menggunakan simbol-simbol Islam hanya sebatas simbol.
Cara hidup dan perilaku umat di negara-negara tersebut telah sama rusaknya
dengan umat yang hidup di negara-negara musuh-musuh Islam.
Cara
hidup dan perilaku umat Islam yang rusak yang lebih disebabkan oleh musuh-musuh
Islam menjadikan umat ini tidak memiliki izzah
‘harga diri’. Karena tidak memiliki harga diri, umat Islam dengan mudah
dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Memang, dari segi jumlah umat ini masih
tergolong besar, tetapi dari segi kualitas, umat ini rendah kualitasnya.
Kalau ada hadits yang mengatakan ‘seperti buih di atas lautan’, ada benarnya. Jadi,
umat ini karena telah rusak perilakunya, cara dan gaya hidupnya telah sama
dengan musuh-musuh Islam yang berujung dengan tidak memiliki harga diri
sehingga umat ini ‘seperti buih di atas lautan’ yang jika ada ombak besar akan
hancur. Inilah gambaran umat Islam saat ini yang menunjukkan benar-benar tidak
memiliki kualitas walaupun secara kuantitas masih tergolong besar. Dengan kondisi
umat seperti ‘buih di atas lautan’, apakah kita sebagai bagian dari umat ini
tidak bisa melakukan apa-apa? Pertanyaan ini yang harus kita jawab dalam bentuk
revolusi. Revolusi yang dilakukan bukan menumbangkan rezim yang berkuasa, tetapi
revolusi akhlak. Bagaimana melakukan revolusi akhlak? Sebuah pertanyaan yang menarik
yang akan menjadi PR kita untuk sesegera mungkin melaksanakannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar