REVOLUSI
AKHLAK (4)
Subagio
S.Waluyo
Melihat
kondisi umat yang carut-marut baik cara atau gaya hidupnya, pandangan hidupnya,
maupun perilakunya (akhlaknya) sudah saatnya umat Islam melakukan revolusi
akhlak. Revolusi akhlak merupakan sebuah kemestian yang harus diprogramkan.
Agar revolusi akhlak bisa berjalan efektif dan efisien harus dibuat sebuah perencanaan
yang benar-benar matang. Juga diperlukan organisasi yang juga siap menjadi
penanggung jawab untuk keberlangsungan jalannya program ini. Karena masalah
akhlak memerlukan keteladanan (uswatun hasanah)
dari sosok orang yang bisa dijadikan contoh sekaligus pemotivasi, mau tidak mau
juga harus ada sosok guru (ustadz/ ustadzah) yang bisa menjadi panutan dan
sekaligus pemotivasi.
Perencanaan
sudah disusun dengan baik. Sudah ada organisasi yang dipercayakan untuk menjadi
penanggung jawab sekaligus pengelola program. Sosok ustadz/ustadzah juga sudah
disiapkan (meskipun terkadang sangat terbatas jumlahnya). Langkah berikut, yang
juga perlu dilakukan sejak dari perencanaan, adalah adanya aktivitas pengawasan
terhadap berjalannya program. Langkah terakhir tentu saja juga dibutuhkan
evaluasi untuk melihat tingkat keberhasilan atau kegagalannya. Kalau dikatakan
berhasil, apa saja indikator keberhasilannya. Kalau dikatakan ada kegagalan,
perlu dicari apa yang menjadi faktor penyebab kegagalannya. Memang, dengan
melihat pola kerja di atas ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bukankah
musuh-musuh Islam untuk menghancurkan umat Islam juga melakukan tahapan-tahapan
seperti yang diuraikan di atas?
Musuh-musuh
Islam menghancurkan umat Islam dimulai dari atas, yaitu akhlak. Mereka
mengalami kesulitan kalau dimulai dari aqidah. Tentu saja pilihan mereka untuk
menghancurkan umat Islam dari akhlak dilakukan dengan perencanaan yang matang
yang diteruskan dengan langkah-langkah berikutnya. Sampai saat ini mereka
melakukan langkah-langkah yang sama. Yang membuat kita tidak habis pikir,
ternyata program itu berjalan masif dan terukur. Berarti ada program pewarisan
dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Dengan demikian, ada kaderisasi
yang berjalan dengan baik sehingga program yang dijalankan tidak pernah
terhenti. Bahkan, program-program mereka selalu disinergikan dengan
perkembangan zaman yang dalam hal ini sangat berkaitan dengan sains dan
teknologi. Bukan itu saja, mereka juga sangat memperhatikan perkembangan sosial
dan politik yang sedang terjadi di tempat yang dijadikan sasarannya.
Musuh-musuh
Islam sebagaimana dijelaskan di atas menghancurkan umat Islam dimulai dari
akhlak. Kalau Islam diibaratkan sebuah bangunan, (yang di dalamnya ada fondasi,
tiang-tiang, dan atapnya) musuh-musuh Islam mempreteli terlebih dahulu atap
bangunannya. Bagian teratas dari bangunan Islam, yang disebut atap, adalah
akhlak. Bangunan (rumah, gedung) kalau atapnya rusak (tidak ada) bagian
berikutnya tinggal menunggu kerusakannya. Begitu juga dengan umat Islam, kalau
akhlahknya sudah rusak, ibadah dan aqidahnya juga segera menyusul. Jadi,
musuh-musuh Islam memperhatikan sekali masalah itu. Sementara umat Islam tidak
memiliki cara atau program untuk menghadapi strategi musuh-musuhnya yang tidak
pernah berhenti merusak umat Islam.
Konsep
Islam untuk memperbaiki akhlak umat Islam tidak dimulai dari perbaikan akhlak,
tapi dimulai dari pembenahan aqidahnya. Dimulai dari pengokohan yang menjadi
fondasi bangunan Islam. Secara masif untuk bisa melakukan revolusi akhlak, umat
Islam ditanamkan tentang konsep makna syahadatain (dua kalimat syahadat). Di
dalam diri umat Islam harus tertanam tentang kesaksian akan keberadaan Allah,
kebesaran Allah, ketinggian Allah, kesucian Allah, dan kekuasaan Allah sehingga
tumbuh dalam diri seseorang untuk bergantung pada Allah. Kalau sudah bergantung
pada Allah sehingga memasrahkan hidupnya pada kehendak Allah, orang tersebut
akan selalu merasakan adanya pengawasan Allah (taqarrub illa Allah). Orang seperti ini Insya Allah dijamin akan
bersikap jujur dalam kata dan tindakan. Orang seperti ini akan ada konsistensi
ucapan dengan perbuatan. Orang seperti ini tidak mau berkata-kata yang
menyakitkan orang lain. Orang seperti inilah yang bisa dikategorikan orang
beriman.
Selain
aqidahnya bersih, orang yang dijadikan objek revolusi akhlak juga harus
melakukan ibadah sesuai tuntunan dan tuntutan syariat, yaitu harus sesuai
dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan mengikuti tuntunan dan tuntutan syariat ia
akan beribadah dengan baik (shohihul
ibadah). Karena aqidahnya bersih, orang seperti ini dalam beribadah
benar-benar diniatkan hanya untuk Allah. Dalam beribadah ia tidak ada perasaan
untuk dilihat orang lain (riya).
Dalam beribadah ia benar-benar melakukannya dengan ikhlas. Dia tidak merasa
diintervensi/dipaksa orang lain untuk beribadah karena dia telah berprinsip
tidak ada paksaan dalam beragama (2/256). Dia telah benar-benar menjadi ahlul ibadah.
Sebagai
pelengkap bahwa dirinya merupakan pendukung ‘rahmatan lil alamin’, dia juga
harus membiasakan diri untuk tilawah
Qur’an. Kalau perlu, dia juga harus menghafalnya, men-tadabur-kannya, dan mengamalkannya. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an
Insya Allah diberikan ketenangan batin karena Qur’an juga merupakan sarana
untuk berdzikir. Bukankah dengan berdzikir seorang Muslim akan tenang batinnya
(13/28)? Selain itu, orang yang akrab dengan Al-Qur’an akan dimudahkan oleh
Allah untuk menggali ilmu pengetahun karena dalam Al-Qur’an sendiri ada
perintah untuk iqro’ ‘membaca’, ‘meneliti’,
atau ‘mengungkap yang terselubung’. Bahkan, dalam Al-Qur’an jelas-jelas telah
mengarahkan bahwa seluruh alam semesta ini ciptaan Allah sehingga seorang
Muslim diharuskan meneliti atau mengkajinya seraya berdzikir pada Allah (3/190-191).
Diharapkan seorang Muslim yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an, dia akan
menjadi seorang beriman yang tentu saja akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT
(58/11).
Sebagai
tambahan, perlu juga disampaikan di sini, agar revolusi akhlak itu benar-benar
bisa menghasilkan seorang Muslim yang bersih aqidahnya, benar ibadahnya, dan
baik akhlaknya dia juga harus banyak belajar mengkaji shiroh nabawiyah (sejarah kehidupan Rasulullah). Dengan mengkaji shiroh dia akan memiliki pengetahuan
bahwa untuk menegakkan Islam diperlukan perjuangan yang panjang sebagaimana
Rasulullah, para sahabat, dan para tabi’in
(pengikutnya) mencontohkan bahwa untuk menegakkan dan mendakwahkan Islam di
muka bumi ini membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, ekstra kesabaran, dan
ke-istiqomah-an. Bukan hanya shiroh
Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, tetapi juga yang berkaitan dengan sejarah, sosial,
politik, dan budaya Islam juga tidak kalah pentingnya untuk dipelajari. Singkatnya,
revolusi akhlak menggiring s eorang Muslim diharuskan memasuki Islam secara kaafah dan dilarang mengikuti
langkah-langkah setan (2/208) karena
seorang Muslim harus menjadikan Allah sebagai walinya (2/257).
Untuk
bisa mewujudkan program revolusi akhlak salah satunya bisa melalui jalur
pendidikan Islam. Penyelenggaraan sekolah-sekolah Islam yang berbasis IT (Islam
Terpadu) yang dimulai dari TK sampai dengan SLTA yang telah dimulai lebih dari
25 tahun lalu di negara ini sekarang bisa dirasakan hasilnya. Memang, untuk
bisa mewujudkannya membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi, hasil dari pendidikan
tersebut bisa dibuktikan ketika anak-anak didik yang 25 tahun lalu bersekolah
di TKIT/SDIT ternyata mereka sekarang ini banyak yang menjadi ‘orang-orang
pintar’ yang berakhlak baik. Di samping melalui jalur pendidikan, bisa juga
dilakukan melalui masjid atau majelis taklim. Masjid-masjid di Indonesia
sekarang banyak juga yang telah ditangani secara profesional sehingga banyak
berhasil membentuk masyarakat Muslim walaupun dalam lingkup wilayah yang
tergolong kecil. Salah satu masjid di Indonesia yang telah berhasil menjadikan
masjid sebagai pembentuk pribadi muslim adalah Masjid Jogokariyan di
Jogjakarta. Masjid ini telah berhasil mengubah sebuah wilayah yang
masyarakatnya semula tidak tahu menahu masalah Islam (bahkan ada sebagian yang
memusuhi Islam) menjadi masyarakat yang taat beribadah, berperilaku Islami, dan
memiliki kecintaan pada agamanya. Tidak aneh jika di Masjid Jogokariyan baik
sholat Isya maupun subuhnya selalu dipenuhi jamaah. Seandainya, di Indonesia
ada seratus masjid yang seperti ini, Insya Allah keberkahan akan selalu ada di
negara ini sehingga ungkapan baldatun
thoyyibatun wa robbun ghafur akan benar-benar terwujud.
Kita
harus yakin bahwa mewujudkan revolusi akhlak di negara ini akan bisa dilakukan.
Kita harus yakin bahwa umat kita Insya Allah masih bisa diajak untuk melangkah ke
arah yang baik, ke arah yang Allah ridhoi. Kita harus yakin bahwa kondisi umat
Islam dan bangsa ini akan menjadi lebih baik dari sekarang. Kita harus punya
tekad kuat melawan mindstream yang
jelas-jelas akan menghadang kita ketika berniat melakukan kebaikan. Selagi kita
masih diberi kesempatan untuk menghirup udara, merasakan terik panas matahari,
dan limpahan rizki yang Allah berikan, kita harus melakukan yang terbaik, yaitu
menegakkan dan melaksanakan program revolusi akhlak. Kita harus menjadi orang
yang mengangkat umat ini dari lumpur kejahiliahan. Apakah kita hanya mau
menjadi penonton menyaksikan saudara-saudara kita larut dalam kubangan lumpur
kejahiliahan? Apakah kita juga yakin bahwa kita tidak akan terkena virus-virus
kejahiliahan yang sekarang ini masih terus memakan anak bangsa ini? Kalau
memang kita sadar, lakukanlah yang terbaik. Kalau bukan kita, siapa lagi? Wallahu a’alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar