SASTRA DAN MASALAH SOSIAL (5)
Subagio S. Waluyo
"Seharusnya ada pepatah bijak yang berbunyi: `Bila engkau ambil satu jangan engkau ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Sekalipun ganjil terdengar tapi itu penting. Pepatah bukan sekedar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang-renang santai ke tepian."
(Dikutip dari Cerpen "Mencari Herman (2004)" oleh Dee)
6. Modernisasi
dan Globalisasi
Talyda
merupakan salah satu contoh korban globalisasi dan modernisasi. Globalisasi dan
modernisasi menjadikan seseorang terseret ke dalam arus perilaku konsumtif.
Globalisasi dan modernisasi telah menciptakan manusia Indonesia yang
hedonis. Globalisasi dan mordenisasi juga telah menjadikan bangsa ini masuk ke
dalam pusaran hidup yang serba permisif. Ungkapan Talyda bahwa seseorang bisa
disebut selingkuh kalau sudah jatuh cinta pada orang lain yang bukan suaminya.
Sementara orang yang baru sekedar bercinta dengan orang yang bukan suaminya,
tapi tidak sampai jatuh cinta belum masuk kategori selingkuh. Ungkapan ini
relevan dengan ungkapan Jum dalam cerpen “Warung Penajem” oleh Ahmad Tohari
yang mengatakan: “Yang saya berikan kepada Pak Koyor bukan begitu-begitu yang
sesungguhnya. Saya Cuma main-main. Cuma pura-pura, Tidak sepenuh hati. Kang,
saya masih eling. Begitu-begitu yang sebenarnya hanya untuk Kamu. Sungguh,
Kang.” Pertanyaannya, bukankah pengakuan Jum sebagai istri merupakan
perselingkuhan walaupun katanya main-main, tidak sungguhan karena biar
bagaimanapun dia masih sadar kalau Kartawi (suaminya) tetap merupakan orang
yang dicintainya? Kenapa hanya untuk melariskan usaha dilakukan cara-cara yang
cenderung asusila (dalam cerpen tersebut Jum harus bersedia bersetubuh dengan
sang dukun)? Bukankah ini merupakan cara-cara permisif yang menjadi ciri
modernisasi dan globalisasi?
”Jadi
betul Kamu…” Tangan Kartawi meraih gelas yang seperti hendak diremukkannya
dalam genggaman. Otot yang mngikat kedua rahangnya menggumpal. Matanya menyala.
Jum menyembunyikan wajah karena mengira Kartawi akan memukulnya, Tidak,
ternyata Kartawi bisa menahan diri meski seluruh tubuhnya bergetar menahan
marah.
”Kang,” ujar Jum setelah suaminya
agak kendur. ”Dengarlah, saya mau bicara.” Jum berhenti dan menelan ludah
yang tiba-tiba terasa lebih pekat. ”Yang saya berikan kepada Pak Koyor bukan
begitu-begitu yang sesungguhnya. Saya cuma main-main, Cuma pura-pura, Tidak
sepenuh hati. Kang, saya masih eling. Begitu-begitu yang sebenarnya hanya
untuk Kamu. Sungguh, Kang.” Kartawi tatap membatu. Matanya tetap berpijar.
Urat rahangnya masih menggumpal. Dalam perasaan yang terpanggang itu Kartawi
melihat wilayah-wilayah pribadi tempat bersemayam harga diri dan martabat
kelelakiannya terinjak-injak. Porak-porak. Jemari kembali meregang untuk
meremas gelas yang masih digenggamnya. Jum malah mencoba tersenyum. Tetapi
Jum terkejut karena tiba-tiba Kartawi berteriak. ”Lalu apa bedanya
begitu-begitu yang main-main dengan begitu-begitu yang sungguhan?” Jum kembali
menelan ludah. Dan ketenangannya yang kemudian berhasil ditampilkannya
membuat Kartawi harus tetap pada posisi menahan diri. ”Oalah Kang, bedanya
banyak. Karena Cuma main-main maka begitu-begitu yang saya lakukan itu tidak
sampai ke hati. Tujuan saya hanya untuk membayar penajem, agar warung kita
laris, tidak lebih. Jadi, Kamu tidak kehilangan apa-apa, Kang. Semuanya utuh.
Kang, jika warung kita bertambah laris, kita juga yang bakal enak-kepenak,
bukan?” Belum satu detik setelah Jum selesai mengucapkan kata-katanya Kartawi
bangkit. Detik berikut terdengar suara gelas hancur terbanting di lantai.
Kartawi ke luar setelah membanting pintu keras-keras. Dan Jum menangis.
(http://yolasastra.blogspot.com/2012/04/warung-penajem.html)
|
Baik Talyda maupun Jum memiliki pandangan yang sama. Sama-sama permisif.
Perbedaannya terletak pada tujuannya masing-masing. Talyda berbuat selingkuh
karena tuntutan seksual yang memang sudah ada sejak remaja. Dia berdalih kalau
yang dikerjakan bukan sebuah perselingkuhan karena mengikuti gaya hidup modern
yang menganggap sah-sah saja setiap perempuan berhubungan seks dengan siapapun
asal tidak disertai dengan perasaan jatuh cinta. Gaya hidup permisif seperti
ini memang menjadi ciri masyarakat di
barat yang menganggap dirinya sebagai masyarakat modern. Jum, perempuan desa yang
berpendidikan rendah tidak demikian. Dia secara sadar melakukan hubungan seks
dengan Koyor lebih merupakan tuntutan ritual yang menjadi syarat agar usahanya
berhasil. Cara ini tentu saja tidak dibenarkan oleh agama. Tidak ada agama yang
melakukan pembiaran terhadap perilaku seperti itu. Walaupun Jum mengatakan
kalau yang dia lakukan tidak berangkat
dari rasa cinta, tetap saja itu merupakan sebuah perselingkuhan (zina) sehingga
cara yang dilakukan tidak bisa dibenarkan.
Dalam novel Cerita Cinta Enrico
(Ayu Utami) juga diangkat masalah hubungan seks bebas yang sudah menjadi ciri
hidup masyarakat modern di era
globalisasi ini. Tokoh Aku dalam usianya yang telah menginjak kepala empat
(40-an tahun) belum juga berkeluarga. Ia tidak pernah ingin menjadi suami.
Untuk itu, dalam hidupnya ia selalu berganti-ganti pasangan atau memuaskan
hasrat seksualnya pada perempuan-perempuan yang memang membutuhkan dirinya.
Tidak mustahil perempuan-perempuan yang pernah diajaknya tidur ada di antaranya
yang sudah bersuami. Jadi, dia menjadi tempat penyaluran bagi
perempuan-perempuan yang ingin berselingkuh. Prinsip hidupnya ia lebih mencari
teman tidur bukan mencari istri. Ayahnya tidak pernah peduli dengan jalan
hidupnya yang cenderung menganut paham seks bebas. Baginya yang namanya seks
cenderung sementara karena, menurutnya, semua orang jujur tahu bahwa
seberapapun kita mencintai orang, gairah akan selalu padam. Dengan demikian,
Tokoh Aku (Enrico) sama dengan Talyda, sama-sama penganut free sex yang memang telah menjadi ciri gaya hidup masyarakat (yang
mengaku) modern di masa globalisasi ini.
Aku
suka berkhayal punya pacar seorang seniman. Sepertinya menyenangkan bisa
bangun tidur dan melihat kekasihku sedang melukis, atau bermain musik, atau
merancang desain, atau menulis novel. aku senang membayang-bayangkan
memandangi perempuan yang kerjanya mengasah rasa seni dan menciptakan sesuatu
yang bagus. Sebagai wujud rasa kagum, aku akan menyiapkan sarapan buatnya.
Segala yang enak. Jus segar, buah-buahan, roti atau sereal, tartbuah seperti
bikinan Ibu. Sayangnya, aku tidak pernah ingin jadi suami. Jadi, aku tak bisa
menimbang bibit-bebet-bobot cewek yang kuincar. Sikap penuh pertimbangan itu
hanya cocok untuk orang yang mencari istri. aku tidak mencari istri. aku
hanya mencari teman tidur.
Pada
akhirnya, aku berpindah-pindah pelukan perempuan-perempuan yang menurutku
seksi dan sedang membutuhkan lelaki yang bukan bakal suami. atau yang sedang
jenuh dengan suami mereka. Wanita yang sekadar membutuhkan transit.
Cewek-cewek
yang diam-diam sedang mencari jodoh akan kecewa dan meninggalkan aku setelah
beberapa kali kami bercinta. Mereka kesal mengetahui bahwa hubungan kami
tidak akan ke mana-mana meskipun aku memperlakukan mereka dan meninggalkan
aku setelah beberapa kali kami bercinta. Mereka kesal mengetahui bahwa
hubungan kami tidak akan ke mana-mana meskipun aku memperlakukan mereka
dengan aman dan penuh penghargaan. Sedang yang mencari petualangan juga akan
menghentikan hubungan—sambil berterima kasih karena aku memberi mereka
petualangan sebelum mereka yakin pada pilihan mereka dan kembali kepada suami
atau pacar serius mereka itu. ah, sebenarnya aku pernah punya pacar seorang
mahasiswi arsitektur. Ia mirip seniman juga.
Hubungan
kami lumayan panjang. Tapi ia meninggalkan aku setelah sahabat kami jatuh dan
mati ketika selesai panjat tebing. Bertahun-tahun aku tak bisa melupakan
mereka—pacarku, dan partner climbing-ku itu.
Ayah
tidak pernah bertanya apapun tentang bagian hidupku yang berhubungan dengan
perempuan. Ia percaya bahwa aku tidak akan kesepian sebab aku punya nina,
sahabat yang menyayangiku, sementara seks memang akan selalu sementara
belaka. Semua orang jujur tahu bahwa seberapapun kita mencintai orang, gairah
akan selalu padam.
..........................................................................................................................
Aku
tak pernah merasa kosong sebelum ini. Aku telah memilih hidupku dan aku
bahagia. aku tak mau punya istri, apalagi anak. Mimpi paling burukku—yang
syukurlah tak pernah hadir dalam demam ini—adalah kamera leica-ku hilang dan
pacarku hamil sehingga aku harus mengawininya. Untuk mencegah mimpi buruk itu
aku tidak bisa bercinta kalau tidak pakai kondom.
Aku
menginginkan perempuan sebatas teman tidur. Itupun, kalau bisa, jangan dengan
jatuh tertidur betulan. Kecuali bila pacarku menginap di rumah, sebisa
mungkin aku tidak mau tidur betulan dengan perempuan. Kau tak tahu apa yang
bisa terjadi jika kita tidur. Suatu kali saat aku terlelap salah satu
perempuanku naik ke atasku dan menyetubuhiku tanpa kondom. Untung rasa
takutku akan kehamilan lebih besar daripada nafsuku. Jadi, kami tak bercinta
karena kondom habis. Tapi, begitulah, perempuan diam-diam suka menjebak kita.
Mereka buat diri mereka hamil dan mereka suruh kita bertanggung jawab.
Kadang-kadang kupikir mungkin aku juga harus menunjukkan bahwa kondomku tidak
bocor sebelum kami bermain. Tapi, aku selalu memperlakukan pacar-pacarku
dengan manis. Cuma, mereka selalu punya harapan lebih.
Tidur
betulan bersama-sama juga akan menjalin rasa intim dan rasa aman. Rasa intim
dan aman itu bisa disalahartikan oleh perempuan sebagai kesediaan untuk
berumahtangga. Kecuali nina sahabatku,
rasanya semua perempuan ingin berumah tangga. Yang mereka inginkan
sesungguhnya adalah menimang anak. Dan dengan kata-kata manja mereka bilang
pada kita bahwa mereka ingin agar kita menjadi ayah bagi anak-anaknya,
seolah-olah itu adalah sebuah kehormatan
bagi
kita. Sebaliknya, aku jadi sangat takut dan segera ingin secepatnya
membebaskan diri jika cewekku mulai mengigau begitu.
Lagipula,
aku tidak disunat. Kalau aku tidur nyenyak, bisa saja cewekku menemukan fakta
itu dan jadi terkejut. Kau tahu, banyak perempuan Indonesia, meskipun mereka
suka juga tidur dengan lelaki yang bukan suami, tapi mereka jadi salah
tingkah bahkan ill feel kalau tahu bahwa selingkuhan atau gebetannya tidak
bersunat. Mereka membicarakan kulup seperti membicarakan daging babi. Jadi,
untuk amannya, aku tidak membiarkan mereka tahu. Itu artinya aku tidak boleh
berada dalam keadaan tidur. Pendek kata, sebisa mungkin aku tidak tidur
betulan bersama perempuanku. atau,
jika ia menginap, aku akan tidur dengan tetap pakai celana. Aku selalu dalam
keadaan waspada.
Dikutip
dari novel Cerita Cinta Enrico/Ayu
Utami
|
Meskipun Tokoh Aku penganut free sex, yang paling ditakutinya adalah kalau pacarnya sampai hamil dari hubungan
seks yang ia lakukan. Untuk itu, setiap berhubungan seks Tokoh Aku selalu
menyiapkan kondom. Dia juga menghindari setiap selesai hubungan seks tertidur
karena dia punya pengalaman buruk ketika tertidur tanpa disadarinya seorang perempuan hampir saja menyetubuhinya tanpa menggunakan kondom. Jadi, dia tidak mau dijebak oleh
perempuan-perempuan yang punya niat punya anak sehingga dia terpaksa harus menikahinya.
Bukankah Tokoh Aku sejak awal memang sudah punya niat
tidak berkeinginan untuk berkeluarga? Wajar-wajar saja kalau sejak dini
dia berusaha mencegah terjadi kehamilan bagi pasangan bercintanya. Sebagai
tambahan (disampaikan secara vulgar), karena Tokoh Aku tidak disunat,
seandainya dalam berhubungan seks tidak menggunakan kondom, yang dia
khawatirkan perempuan yang disetubuhinya akan ill feel (timbul rasa tidak suka) sehingga akan terjadi kegagalan
dalam berhubungan seks.
Modernisasi dan globalisasi tidak hanya bicara tentang perselingkuhan
yang mulai dipersempit penggunaannya baik oleh Talyda, Jum, maupun Tokoh Aku
(Enrico). Modernisasi dan globalisasi juga bisa ditandai oleh kebiasaan yang
sekarang sedang ngetrend di kalangan
anak-anak milenial yang salah satu di antaranya kebiasaan ngopi di kafe-kafe.
Budaya ngopi di kafe-kafe menjadi gengsi tersendiri bagi anak-anak muda
milenial. Mereka merasa akan jatuh levelnya kalau untuk ngopi saja di warung
kopi pinggir jalan yang menyajikan hidangan kopi tubruk, pisang goreng,
singkong goreng, ubi goreng, bakwan goreng, atau nasi uduk. Sebaliknya, mereka
akan merasa bangga kalau sudah ngopi di Starbucks,
salah satu tempat nongkrong anak-anak muda milenial terkenal yang gerainya
mencapai ratusan baik di berbagai kota besar maupun kecil di negeri ini. Mereka
yang sempat mampir ngopi ke Starbucks
ada rasa kebanggaan tersendiri. Mereka merasa telah menjadi bagian dari
Amerika. Bahkan, tidak mustahil gara-gara sering ngopi di Starbucks mereka menjadi penganut American minded.
Starbucks menjadi pilihan mereka untuk ngopi (walaupun untuk segelas kecil kopi
harganya bisa untuk makan nasi di warteg 2-3 orang) karena di tempat itu tidak
hanya menyediakan kopi. Starbucks
juga menyediakan makanan kecil sebagai teman nyemil ngopi. Selain itu, supaya mereka tertarik pihak Starbucks juga menyediakan tempat yang
nyaman dan aman. Asesori yang ada di Starbucks
ditata sedemikian rupa dengan warna Amerika. Bisa saja ketika orang masuk ke Starbucks, orang seperti masuk ke
bar-bar yang ada di film-film cowboy.
Selain, itu agar pengunjungnya nyaman disediakan wifi yang dijamin tidak akan membikin lemot walaupun diakses oleh
sekian banyak pengunjung baik di android/gadget maupun di notebook/laptop.
Pramusaji tidak akan mengusir seorang atau beberapa orang pengunjung yang
berjam-jam hanya minum segelas kopi. Pihak pengelola Starbucks cenderung memanjakan pengunjungnya agar para
pengunjungnya tidak merasa bosan untuk datang lagi ke tempat tersebut. Karena Starbucks benar-benar mempraktekkan
konsep `pembeli adalah raja.` Untuk mempromosikan usahanya pengelola Starbucks tidak memerlukan biaya besar. Mungkin
cukup paling lama satu bulan mereka mempromosikan usahanya. Setelah mulai
tampak adanya kenaikan pengunjung,
mereka cukup menggunakan manajemen promosi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh
para pengunjungnya.
Sekarang bukan hanya Starbucks
sebagai tempat kumpul anak-anak muda milenial untuk ngopi. Di kota-kota besar dan
kecil di Indonesia sudah ada ratusan tempat ngopi yang mirip-mirip Starbucks dalam memberikan layanan. Mereka,
para pengelola kedai-kedai kopi modern yang milenial itu menjadi pengekor Starbucks. Terkadang, walaupun dalam
pelayanannya, hidangannya, bahkan penataan desain interiornya mengekor pada Starbucks, tapi dari sisi harga jauh
lebih murah. Kehadiran kedai-kedai kopi semacam ini yang banyak menjadi pilihan
masyarakat yang berkantong pas-pasan. Artinya, mereka yang tidak sanggup ke Starbucks mengingat dari sisi harga
tidak mungkin terjangkau oleh kantongnya yang tipis, cenderung memilih
kedai-kedai kopi pengekor Starbucks.
Bahkan, di beberapa tempat minimarket waralaba, seperti Indomaret, Alfamaret
juga menyediakan tempat untuk ngopi, walaupun dari segi tempat tidak seperti di
Starbucks karena hanya disediakan di
emperan gerai. Buat para pelaju yang pulang kerja atau kuliah sudah lebih dari
cukup asalkan mereka bisa melepaskan kepenatan setelah menerobos kemacetan
jalan.
Tentang Starbucks, AM Lilik
Agung mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerpennya: Starbuck Coffee. Di bawah ini bisa kita lihat salah satu cerpennya
yang terdapat dalam kumpulan cerpennya berjudul “Bursa Efek Jakarta, Suatu
Senja” yang menjadikan Starbucks Coffee
sebagai salah satu lokasi setting kisahnya. AM Lilik memulai kisahnya dari
lokasi Starbucks yang menyempil di
Tower 2 lobi Gedung Bursa Efek Jakarta. Meskipun demikian, Starbucks dengan
slogannya yang terkenal the world
history of coffee bagi Tokoh
Aku bukan hanya sebagai tempat ngopi, tapi juga tempat untuk berkencan. Buktinya,
di pagi itu sebelum masuk kantor ia sempat-sempatnya bertemu dengan Anna
Karenina Wijayanti. Anna gadis berparas cantik dan cerdas terbiasa memilih Capucinno atau terkadang Espresso Macchiato dengan teman
nyeruputnya sepotong tirumisu. Sambil
menikmati minuman dan nyamikan keduanya terlibat perbincangan serius. Dari
masalah-masalah ringan seperti novel yang baru saja habis dibaca sampai dengan
masalah-masalah berat seperti eksekutif dan legislatif yang tidak pernah akur.
Ketika jam telah menunjukkan pukul 07.52 mereka sepakat untuk masuk kantor. Tokoh
Aku di lantai 27, sang wanita, Anna Karenina Wijayanti di lantai 21. Nanti
seperti biasa seusai pulang kerja keduanya bertemu kembali di tempat yang sama.
|
Dalam percakapan keduanya diketahui saham-saham yang dijual Tokoh Aku
hancur. Yang menghancurkannya siapa lagi kalau bukan teman minum kopinya sendiri di Starbucks itu: Anna Karenina Wijayanti.
Sebagai orang yang kalah tentu saja Tokoh Aku harus dihukum. Tapi, hukuman yang
akan dilakoni membuat Tokoh Aku kaget sekaligus menyenangkan. Bukankah sesuatu
yang memang sejak bertemu tadi pagi dengan gadis itu sudah dibayangkan Tokoh
Aku kesempatan untuk mengencaninya sekaligus tidur dengannya? Bukankah ini
juga merupakan gaya hidup modern yang telah mengglobal? Kehidupan modernis yang
serba permisif yang menghalalkan free sex yang juga merupakan produk dari globalisasi. Ah, Starbucks, ternyata diam-diam bisa juga dijadikan ajang untuk transaksi seksual orang-orang liberalis.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar