CORONA
MAKHLUK ALLAH
jangan mengeluh
jua , hai orang yang mengadu
Jangan putus asa
, melihat lengang kebunmu
Cahaya pagi telah
terhampar bersih
Dan
kembang-kembang telah menyebar harum narwastu
Khilafatul-Ard
akan diserahkan kembali ke tanganmu
Bersedialah dari
sekarang
Tegaklah untuk
menetapkan engkau ada
Denganmulah Nur
Tauhid akan disempurnakan kembali
Engkaulah minyak
atar itu , meskipun masih tersimpan dalam
kuntum yang akan
mekar
Tegaklah, dan
pikullah amanat ini atas pundakmu
Hembuslah panas
nafasmu di atas kebun ini
Agar harum-harum
narwastu meliputi segala
Dan janganlah
dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak
hanya berbunyi
ketika terhempas di pantai
Tetapi jadilah
kamu air-bah , mengubah dunia dengan amalmu
(Muhammad
Iqbal “Harapan Kepada Pemuda”)
Corona memang makhluk Allah. Tidak ada
yang memungkiri pernyataan itu. Yang jadi masalah bukan pada letak pernyataan
itu, tapi ada apa di balik pernyataan itu? Bukankah orang yang menyampaikan
pernyataan itu terkesan yang namanya makhluk Allah pasti akan tunduk pada
Allah, Sang Pencipta, yang juga dengan kekuasaan-Nya bisa mematikan yang
namanya Corona sebagai makhluk-Nya? Meskipun demikian, bisa-bisa saja di balik
pernyataan itu ada kesan menyepelekan peringatan tentang bahaya Corona. Atau bisa juga di balik pernyataan itu ada
kesan sikap fatalis atau dalam istilah Jawa `nerimo ing pandum` (menerima
dengan pemberian). Ternyata, lewat pandemi Corona kita jadi tahu ada orang
fatalis di tengah-tengah bangsa ini.
***
Fatalis dalam KBBI didefinisikan
sebagai orang yang percaya atau menyerah saja kepada nasib (https://kbbi.web.id/fatalis).
Kalau begitu tidak bisa disalahkan orang yang mengatakan Corona itu makhluk
Allah. Karena makhluk Allah, dia hanya akan tunduk pada Allah. Memang, orang
yang masih punya pemikiran seperti itu tidak bisa disalahkan. Sah-sah saja
setiap orang menyampaikan pendapat seperti itu. Tetapi, pemikiran seperti ini
tidak bisa dibenarkan karena Allah sendiri dalam Surat Ar-Ra`ab ayat 11
berfirman “...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Jadi, ayat ini sudah jelas
mengarahkan kita untuk berbuat sesuatu. Seperti sekarang ini kita berhadapan
dengan pandemi Covid-19 yang boleh dikatakan sangat dahsyat serangannya. Negara
besar seperti AS saja yang boleh dikatakan negara adidaya tidak berdaya
menghadapi serangan Covid-19. Karena itu, tidak bisa menghadapi pandemi
Covid-19 ini cukup dengan mengatakan kalau Korona makhluk Allah.
Orang fatalis dilihat dari orientasi
nilai budayanya tergolong masyarakat tradisional. Tetapi, mereka
juga sudah mengecap dunia pendidikan (banyak juga di antara mereka yang
berpendidikan tinggi) sehingga tidak layak lagi disebut masyarakat tradisional. Meskipun
demikian, disebut masyarakat modern juga belum bisa. Satu kaki masih di
masyarakat tradisional dan satu kaki lagi belum sampai ke masyarakat modern.
Kita masukkan saja mereka ke dalam masyarakat transisi. Sebagai masyarakat
transisi wajar-wajar saja kalau, misalnya, berhadapan dengan gejala alam (seperti
sekarang Corona), mereka masih punya pemikiran untuk menjaga keselarasan dengan
alam (Koentjaraningrat, Kebudayaan
Mentalitas dan Pembangunan, 2015:34). Pemikiran seperti ini yang
menyebabkan mereka cenderung pasrah saja pada pandemi Covid-19. Karena
beranggapan kalau Corona makhluk Allah, Corona pasti tidak akan masuk ke
rumah-rumah Allah (mushola dan masjid). Saking yakinnya, mereka beranggapan
Korona tidak akan menyerang orang-orang yang beriman pada Allah.
Adalah Jamaah Tabligh (JT) yang
beranggapan kalau orang-orang yang beriman pada Allah tidak akan terkena Corona. Karena merasa Corona tidak akan menyerang orang-orang beriman, mereka
nekad melaksanakan Ijtima` Dunia Zona Asia 2020 di Kabupaten Gowa, Sulawesi
Selatan. Acara yang semula dilaksanakan tanggal 19-22 Maret 2020 itu pada
akhirnya oleh aparat setempat dibubarkan. Perhelatan yang tergolong besar itu
semula akan dihadiri oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia dan negara lain.
Bahkan, beberapa peserta sudah berada di lokasi acara di antaranya dari
Malaysia, Thailand, Pakistan, India, Brunei, Timor Leste, Arab Saudi,
Bangladesh, dan Filipina. Para peserta Ijtima` Dunia 2020 yang sempat kecewa
dengan pembubaran itu dipulangkan dengan pengawalan melalui bandara dan
pelabuhan. (https://tirto.id/ijtima-jamaah-tabligh-di-gowa-diba-talkan-jokowi-ucap-terima-kasih).
Kita tidak perlu mempermasalahkan
perhelatan JT yang berakhir dengan pembubaran. Yang mau kita tuju adalah
pensikapan mereka terhadap pandemi Covid-19. Sikap mereka terhadap pandemi
Covid-19 menunjukkan sikap keras kepala, boleh juga kalau disebut egois.
Sah-sah juga kalau disebut mereka menunjukkan tidak peduli pada nasib orang
lain, tidak menaati anjuran pemerintah, atau kalau mau disebut ini lebih
merupakan penunjukkan masyarakat yang fatalis juga boleh. Bukti bahwa mereka
itu fatalis ungkapan-ungkapan yang dikemukakannya di antaranya seperti yang diucapkan salah seorang ustadz: “Baru satu macam virus Corona datang,
seluruh dunia geger! Gampang selesaikan itu Corona, kirim jamaah-jamaah ke
tempat Corona! Virus Corona takut sama jamaah, jamaah tidak takut sama Corona!
Jamaah hanya takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala!” (ucapan ini disamput
pekikan takbir ribuan peserta). Ucapan tersebut mencerminkan masyarakat
yang boleh dikatakan pasrah terhadap nasib walaupun diembel-embeli dengan kata
Allah.
Berbagai
media mengabarkan bahwa JT menggelar ijtima’ dunia zona Asia 2020 di
Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ijtima’ itu bukan hanya diikuti oleh para
peserta lokal dari seluruh Indonesia, tetapi dikabarkan melibatkan ribuan
orang dari 48 negara. Kegiatan tersebut tetap dilangsungkan meskipun tidak
mendapatkan izin dari pemerintah Kabupaten Gowa.
Agaknya,
mereka merasa yakin dan karenanya menjadi keras kepala, bersikap egois, tak
peduli kepada nasib orang lain, enggan bekerja sama, tidak menaati ajakan
pemerintah, dan dengan jubah kebesarannya itu merasa tidak kuatir dengan
wabah virus Corona, karena “kami lebih takut kepada Tuhan!” Begitulah
keyakinan mereka.
Saya
mendengar salah satu dari berbagai video kegiatan tersebut, di mana ada
seorang “ustadz” dalam suatu sesi kegiatan mereka dengan nada agitasi yang
meyakinkan ribuan audien JT menyatakan sebagai berikut, “Baru satu macam
virus Corona datang, seluruh dunia geger! Gampang selesaikan itu Corona,
kirim jamaah-jamaah ke tempat Corona! Virus Corona takut sama jamaah, jamaah
tidak takut sama Corona! Jamaah hanya takut kepada Allah subhanahu wa
ta’ala!” (ucapan ini disamput pekikan takbir ribuan peserta).
Sang
ustadz berjubah dan bersorban ala warga Pakistan itu melanjutkan ceramah
provokatifnya dengan penuh semangat, “Allah yang kuasa, Corona tidak
berkuasa! La ilaha illa Allah!” (Jamaah pun beramai-ramai menirukan ucapan
tahlil itu). “Itu baru dakwah namanya. Menyelesaikan masalah dengan cara sendiri,
bertambah masalah, bertambah masalah! Begitu banyak biaya untuk menyelesaikan
masalah, (masalah) bukannya berkurang, (tetapi masalah makin) bertambah!”
|
***
Apakah jamaah yang datang di
perhelatan akbar itu aman dari pandemi Covid-19? Ternyata, begitu mereka
kembali ke tempat asalnya masing-masing terbukti cukup banyak juga di antara
mereka yang positif terpapar Corona. Bahkan, di antara mereka juga ada yang meninggal.
Salah satu contoh kasus yang membuat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19
Kabupaten Kebumen harus pontang-panting melacak keberadaan 58 warga Kebumen
yang mengikuti acara di Gowa itu. Berita terbaru (25 April 2020) menyebutkan
dari 58 warga Kebumen tersebut ada 18 orang yang positif dinyatakan terpapar Corona setelah mereka menjalani rapid
test. Itu baru satu kabupaten. Tim yang menangani Gugus Tugas Percepatan
Penanganan Covid-19 juga bukan hanya melacak keberadaan 58 warga tersebut,
tetapi juga dalam kurun waktu lebih dari satu bulan itu mereka telah
berinteraksi dengan siapa saja. Memang, dilihat dari kuantitasnya sedikit
mereka yang berangkat. Tapi, yang sedikit itu (terutama yang positif itu) sudah
dipastikan berpartisipasi dalam menyebarkan virus Corona. Tidak mustahil dari
yang sedikit itu, satu kabupaten Kebumen bisa saja terpapar Covid-19. Ini
dampak yang harus dipikirkan oleh mereka para peserta Ijtima’ Dunia Zona Asia 2020 di Kabupaten Gowa,Sulawesi
Selatan.
KEBUMEN
– Sebanyak 58 warga Kebumen yang mengikuti acara Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona
Asia di Gowa keberadaannya berhasil ditemukan Gugus Tugas Percepatan
Penanganan Covid-19. Sebanyak 18 dari 58 orang tersebut dinyatakan positif
corona usai menjalani rapd test.
Pelacakan
dilakukan setelah 2 orang yang mengikuti acara tersebut, positif Covid-19
berdasar hasil pemeriksaan spesimen yang dilakukan laboratorium virologi
BBTKLPP Yogyakarta.
“Begitu
diketahui 2 warga Kebumen yang mengikuti acara di Gowa positif Covid-19,
langsung dilakukan pelacakan riwayat perjalanan pasien. Tidak mudah menemukan
semua warga Kebumen yang ikut dalam acara di Gowa meski ada data by name and
by address. Apalagi jumlahnya ada 58 orang,” ujar anggota Bidang Hubungan
Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kebumen,
Kusbiyantoro, Jumat 24 April 2020.
Kerja
keras gugus tugas yang melibatkan berbagai pihak, lanjut Kusbiyantoro, semua
warga Kebumen yang ikut dalam acara di Gowa akhirnya bisa ditemui. Bahkan
sudah dilakukan rapid test atau tes cepat pada yang bersangkutan serta
keluarganya.
“Ada
18 orang yang ikut dalam acara di Gowa, hasil rapid test atau tes cepatnya
positif. Rapid test juga dilakukan pada keluarganya, namun hasilnya negatif,”
ungkap Kusbiyantoro yang menjabat Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten
Kebumen.
Ke-18
orang yang hasil rapid test-nya positif, dikatakan secara medis tidak
menunjukkan gejala dan tanda-tanda klinis, atau tergolong orang tanpa gejala
(OTG). Mereka karantina mandiri dengan dipantau secara ketat.
|
Sampai saat ini belum diketahui
seberapa banyak orang yang terpapar Covid-19 dari mereka-mereka yang ikut
perhelatan akbar di Gowa itu. Namun, yang pasti begitu banyak pemberitaan di
seputar anggota JT yang terpapar Covid-19 sudah bisa disimpulkan bahwa setiap
ada kerumunan orang di sebuah tempat bisa dipastikan akan ada korban serangan
Covid-19. Buat ormas yang namanya sudah mendunia (konon kabarnya ormas ini jamaahnya
tersebar di 88 negara) sudah saatnya
mereka mengempaskan jauh-jauh sikap fatalis yang berakibat fatal. Mereka tidak
boleh lagi bicara seenaknya sehingga yang keluar dari mulutnya ucapan-ucapan
yang cenderung meremehkan. Boleh jadi ucapan tersebut berangkat dari hawa nafsu
karena kalau berangkat dari hati yang bersih tidak akan muncul ucapan seperti
itu. Ucapan mereka juga dapat menunjukkan kekurang-pahamannya dalam mengkaji
nilai-nilai Islam. Orang yang kerap mengkaji nilai-nilai Islam (salah satu di
antaranya mengkaji shiroh baik shiroh Rasulullah maupun shiroh Sohabat, misalnya) akan menemukan
ada kasus serupa yang bisa dijadikan analogi. Karena aktivitasnya lebih ke arah tabligh-tabligh
saja, tidak aneh jika suatu saat ketika berhadapan dengan masalah pandemi
Covid-19, mereka gamang, tidak siap sehingga muncul ungkapan-ungkapan yang
cenderung meremehkan.
***
Peristiwa pandemi Covid-19 memberikan
begitu banyak hikmah buat kita. Salah satu hikmahnya kita menemukan ada
sebagian anak bangsa (jangan-jangan sebagian besar) yang masih memiliki sikap
fatalis. Sebagai umat terbesar di negara ini melihat ada sebagian anak bangsa
yang masih fatalis, tampaknya kita tidak bisa berdiam diri. Ormas-ormas besar
seperti NU dan Muhammadiyah bahkan MUI (yang di dalamnya terhimpun ormas-ormas
Islam) jangan sampai mengeluarkan ungkapan-ungkapan miring tentang mereka. Sebaliknya,
ormas-ormas Islam di bawah komando MUI harus ada upaya membantu JT agar mereka mau
mendalami Islam secara benar dan kaafah
(menyeluruh). Mereka yang terlibat di JT juga harus mau belajar dari
saudara-saudaranya yang bukan dari jamaahnya. Mereka yang di JT harus meyakini
bunyi ayat yang dikutip di atas (Ar-Raad:11). Dengan cara seperti itu
diharapkan tidak ada lagi pandangan sempit yang mengarah pada sikap menyerah
pada nasib.Sebagai pelengkap, agar terjadi hubungan yang harmonis antarormas,
sudah saatnya `orang-orang pintar` yang ada di ormas-ormas Islam menunjukkan
sikap tawadhu` (rendah hati). Jangan
mentang-mentang karena paling tahu tentang ilmu-ilmu ke-Islam-an meremehkan
pendapat orang lain yang bukan dari ormasnya. Sikap fanatik terhadap
golongannya harus disingkirkan jauh-jauh. Saat ini yang sangat dibutuhkan adalah
memberikan pencerahan terhadap sesama saudaranya dengan kerendahhatian dan
kesabaran. Wallahu a`lam bissawab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar