BERKISAH
TENTANG KEJUJURAN
Subagio S. Waluyo
“Hendaklah
kamu semua bersikap jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan
kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran
akan ditulis oleh Allah sebagai seorang yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah
sifat bohong karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa
ke neraka. Orang yang selalu berbohong
dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzab)”
(HR Bukhari)
***
Kejujuran mata uang yang berlaku di
mana-mana. Adagium itu sampai sekarang ini masih melekat di benak setiap orang
ketika berbicara tentang kejujuran. Adagium itu meskipun masih melekat, tapi
dalam prakteknya banyak orang yang sudah membuang jauh-jauh yang namanya
kejujuran. Banyak orang yang beranggapan kalau kita mau lulus ujian, mau punya
harta melimpah, mau kedudukan terhormat, mau tetap bertahan sebagai pejabat,
atau mau jadi pengusaha besar singkirkan kejujuran itu. Buang kata kejujuran ke
tempat yang jauh. Adagium yang masih melekat di benak orang akhirnya hanya
sebatas simbol yang tidak bermakna sama sekali.
Adagium tentang kejujuran memang sudah
luntur di masyarakat. Adagium itu sudah dianggap asing. Orang yang kerasukan
budaya konsumtif sudah tidak peduli dengan adagium tentang kejujuran. Kalau didapati
ada orang yang jujur, mereka akan mencibirnya. Buat mereka orang yang jujur
lebih merupakan penghambat dalam melicinkan niat-niat buruk mereka. Niat-niat
buruk mereka dalam hal ini bisa jadi berkaitan erat dengan perilaku nepotisme.
Orang-orang yang penganut nepotisme pasti menginginkan segala cara karena yang
ada di benaknya adalah cara memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah. Kalau
cara-cara yang halal tidak bisa dilakukan, cara-cara yang haram juga boleh
dilakukan asalkan keinginannya tercapai. Sebagai tambahan, perlu juga
diketahui, orang-orang yang punya penyakit seperti itu bukan hanya di kalangan
orang-orang tua, orang-orang muda sekalipun berpendidikan tinggi juga punya
perilaku yang sama, yaitu pnnya kecenderungan menghalalkan segala cara.
Orang-orang yang menghalalkan segala cara bisa disebut orang-orang pragmatis.
***
Dalam kehidupan sehari-hari tidak
sedikit seorang ayah yang jujur akan berhadapan dengan anak yang cenderung
pragmatis. Orang yang pragmatis adalah orang yang lebih memprioritaskan
tindakan daripada pengetahuan dan ajaran atau boleh juga orang yang lebih
menitikberatkan pengalaman hidup daripada prinsip yang muluk-muluk, yang
melayang-layang di udara (A.Mangunhardjana, Isme-Isme
Dari A Sampai Z, 2001:189). Orang yang pragmatis bisa juga dikatakan orang
yang diragukan kejujurannya. Orang yang pragmatis lebih disebabkan oleh rasa
kecewa terhadap kenyataan hidup. Bisa juga orang menjadi pragmatis karena
lemahnya iman.
Orang yang pragmatis (karena imannya
lemah) bisa melakukan segala cara. Kalau sudah seperti itu, orang yang
pragmatis bisa menjadi orang yang bertindak serba boleh atau penganut paham
permisivisme. Permisivisme adalah sikap, pandangan, pendirian yang berpendapat segala
cara hidup, perilaku, perbuatan yang melanggar prinsip, norma, dan peraturan
(etis) boleh saja dilakukan (A.Mangunhardjana, 2001: 182). Jadi, orang-orang
yang tidak jujur, yang cenderung pramatis, tidak aneh kalau mereka juga
melanggar aturan. Orang-orang yang pragmatis, sekaligus permisif, tidak juga
aneh kalau melakukan kebohongan. Bentuk-bentuk kebohongan yang sering dilakukan
orang-orang yang pragmatis dan permisif, di antaranya adalah khianat, mungkir
(tidak menepati janji), kesaksian palsu, fitnah, dan menggunjing (Yunahar
Ilyas, Kuliah Akhlaq, 1999:86-88).
Dengan demikian, orang yang pragmatis dan permisif adalah orang-orang yang
mempunyai penyakit di dalam hatinya.
Berbicara tentang pragmatis dan
permisif ada sebuah dialog yang menarik
antara anak dan ayah. Sang Anak, Lusiana biasa dipanggil Lusi, suatu kali
sebelum berangkat ke Melbourne, Australia,berkelakar agar ayahnya sebagai
pejabat tidak usah terlalu jujur. Kita bisa bayangkan seorang anak
berpendidikan tinggi (calon program doktor bidang ilmu politik di Australia)
menganjurkan pada Sang Ayah, seorang bupati, agar tidak terlalu jujur.
Ternyata, pendidikan tinggi tidak menjamin orang untuk jujur. Dengan kata lain,
orang-orang yang bertitel akademis tinggi pun banyak yang tidak memiliki
kejujuran. Boleh jadi orang seperti Lusi bisa berbicara seperti itu karena
ketika menempuh pendidikan juga
melakukan cara-cara yang pragmatis, yang dilandasi oleh cara berpikir
yang permisif. Dalam cerpen “Tuba” (Damhuri Muhammad) seorang bupati yang jujur
sudah diwanti-wanti oleh anaknya agar tidak terlalu jujur. Berarti anaknya
cenderung agar ayahnya yang bupati bersikap pragmatis saja walaupun alasan yang
dikemukakan realistis. Kita bisa lihat dialog Lusi dan ayahnya yang menjabat
sebagai bupati di bawah ini.
“Jadi
pejabat ndak usah terlalu jujur, yah!” begitu kelakar Lusi kepada almarhum
dua tahun lalu. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne, menyelesaikan
program doktor, bidang ilmu politik.
“Maksudmu?”
“Lihatlah
jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Rusak parah dan
sudah tak layak tempuh. Nah, mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati,
ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Bila perlu diaspal
beton sekalian!” jelas Lusi, “Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa
terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri”
“Tapi,
tidak segampang itu, Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah
kondisinya”
“Utamakan
dulu pembangunan di nagari Sungai Emas, kampung kita. Jangan lupa! ayah bisa
memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?”
“Wah,
jika ayah tidak ’pandai-pandai’. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini, Lusi
khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Tapi, semuanya terserah
ayah…,” ketus Lusi, agak sinis.
|
Kelakar anaknya, Lusi, sebenarnya
boleh dikatakan realistis karena dia melihat di kampungnya, Nagari Sungai Emas,
sarana jalannya jauh dari memadai (digambarkan sangat rusak seperti kubangan
kerbau). Ayahnya yang dikenal bupati yang jujur (diistilahkan seperti `lurus
tabung`) tidak setuju dengan usulan tersebut dengan alasan masih banyak di
daerah lain yang juga lebih parah kondisinya. Sikap Sang Bupati juga sama
terhadap salah seorang warganya, Marajo Kapunduang, ketika Marajo yang merasa
berjasa besar telah membantunya dalam pemilihan bupati sehingga Sang Bupati
yang jujur itu terpilih. Jawaban Sang Bupati tentu saja membuat Marajo Kapunduang
naik pitam. Dia masih bisa menahan diri. Padahal dia hanya minta tolong agar
anaknya bisa diterima bekerja sebagai satpam di kantor Sang Bupati. Tapi, Sang
Bupati yang jujur minta agar semuanya melalui prosedur yang sesuai dengan
aturan. Sang Bupati tidak ingin ada nepotisme dalam penerimaan pegawai.
“Daripada
menganggur saja, boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja
cukup lah!” mohon Marajo waktu itu.
“Tentu
saja boleh Nduang, tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang
telah ditetapkan,” jawab bupati, sedikit berdiplomasi.
“Iya
pak, tapi saya berharap bapak dapat membantu”
“Jika
ia lulus seleksi, pasti akan diterima. Kalau saya bantu, itu artinya kita
berkolusi, mentang-mentang kita sekampung. Tidak bisa begitu Nduang!” tegas
bupati, seperti hendak mengelak.
|
Boleh jadi dari sini munculnya dendam yang berakibat pada kematian
Sang Bupati yang jujur. Hal itu bisa dibuktikan ketika terjadi pembicaraan di
kedai kopi seorang pengunjungnya yang biasa nongkrong di warung itu, Sutan
Pagarah, menyarankan sebaiknya tidak usah dibunuh. Cukup katanya diberi
penyakit saja. Dia bercanda agar Sang Bupati diberi penyakit ditambah lubang
lanciritnya (lubang kencingnya). Candaannya yang berbau porno itu tentu saja
membuat pemilik warung kesal. Dari candaan itu terbukti ada cara-cara tidak
wajar untuk menghabisi nyawa Sang Bupati. Sang Bupati dibunuh dengan racun
(yang di dalam cerpen itu disebut tuba) yang tentu saja sulit dilacak oleh polisi.
Polisi sebagai aparat keamanan tidak mungkin bisa menyelidiki sebuah pembunuhan
yang tidak kasat mata karena pembunuhnya menggunakan tuba ketika melakukan pembunuhan.
Masyarakat setempat juga tahu orang yang melakukannya, tapi mereka sepakat
tidak mau buka mulut. Mereka takut jika buka mulut karena tidak mustahil mereka
akan jadi sasaran untuk dibunuh dengan cara yang sama. Bisa juga di tempat itu
tidak suka dengan perilaku bupati yang dikenal jujur. Kalau ini terjadi menunjukkan
bukan hanya Marajo Kapunduang yang pragmatis dan permisif, masyarakat setempat
juga punya penyakit yang sama: pragmatis dan permisif. Adagium kejujuran bagi
masyarakat di tempat itu telah dicampakkan berganti dengan masyarakat yang
lebih suka berbohong sehingga kebohongan dengan berbagai bentuknya telah
menjadi budaya bagi masyarakat tersebut.
“Mestinya
ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…,” kata Sutan Pagarah
sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya.
“Penyakit
apa pula yang sutan maksud?” tanya kak Pi’ah, janda tua pemilik kedai kopi,
pura-pura tidak paham.
“Ditambah
saja lubang lancirit*)-nya. Ua-ha-ha-ha….”
“Ah,
kasar benar kelakar sutan,” balas kak Pi’ah, agak kesal.
Sebenarnya, orang-orang nagari
Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut sebab-sebab
kematian almarhum bupati. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan
menuntaskan kasus itu. Tak bakal berhasil. Sebab, tabi’at pembunuhan keji itu
tidak kasat mata. Lagi pula, di nagari Sungai Emas, musibah kematian macam
itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Meski diam-diam, hampir semua warga
sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Dibunuh secara halus
melalui kekuatan gaib. Namun, tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Bila
ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati, itu sama saja artinya
dengan bunuh diri. Kenekatan macam itu, hanya akan mengundang musibah baru,
kematian selanjutnya, bisa saja jauh lebih mengerikan.
|
Bukti bahwa mereka lebih mendukung
kebohongan dan mencampakkan kejujuran bisa dilihat pada dialog antara Marajo Kapunduang
dan Datuk Rangkayo sesepuh adat yang paling disegani di Nagari Sungai Emas.
Ketika Datuk Rangkayo ditanya pengganti bupati yang wafat beberapa hari lalu.
Dia mengusulkan Drs Mustajir Adimin Putra yang menjadi pejabat eselon di
Jakarta. Alasan dia memilihnya karena orang tersebut tidak `lurus tabung` alias
tidak punya kejujuran (pragmatis dan permisif). Bahkan, ditambahkan kalau memegang
jabatan bupati nanti, dia akan melelang hutan-hutan yang ada di Nagari Sungai
Emas. Sebaliknya, kalau nanti Sang Bupati pilihan mereka sama dengan bupati
yang baru saja wafat, Marajo Kapunduang bergurau akan memutuskan tali
jantungnya (membunuhnya). Walaupun hanya sebatas gurauan sudah jelas arah
pembicaraan mereka.
“Siapa
lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan, Tuk?” tanya Marajo
Kapunduang pada Datuk Rangkayo, sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai
Emas. Sejenak si Datuk menerawang, seperti mengingat-ingat seseorang sembari
mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung.
“Oh,
ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. Putra tertua mendiang haji Adimin
Ar-Raji. Kabarnya, kini ia pejabat eselon di Jakarta. Bagaimana menurutmu?”
balas Datuk Rangkayo, ganti bertanya.
“O,
Iya. Lupa saya. Tapi, orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?”
“Hmn
… kalau yang ini agak lain Nduang. Bila kelak ia memenangi pemilihan,
hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Bagaimana
menurutmu?”
“Nah,
itu dia yang kita cari selama ini,” jawab Marajo Kapunduang, mulai
bersemangat.
“Tapi,
bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri, apa
yang akan kita lakukan?” lagi-lagi Datuk bertanya, kali ini sambil bergurau.
“Putuskan
saja tali jantungnya….”
|
***
Cerpen Damhuri Muhammad: “Tabu”,
walaupun sebatas sebuah karya fiksi, bisa memberikan sebuah deskripsi betapa
rusaknya perilaku bangsa ini. Bangsa ini sudah teracuni oleh budaya konsumtif
sehingga bangsa ini menjadi pragmatis dan permisif. Kedua penyakit yang melanda
bangsa ini harus disingkirkan jauh-jauh. Untuk bisa menghilangkan penyakit pragmatis
dan permisif jalan satu-satunya adalah pendalaman kembali nilai-nilai agama
yang fokus pada pengajaran akhlak. Umat ini tidak cukup dengan pengajian atau
taklim yang hanya berupa tabligh yang isi ceramahnya terkadang cenderung
mengarah pada pembodohan umat karena Sang Mubaligh lebih mengajarkan tentang
hal-hal yang berbau karomah di sekitar Rasulullah. Atau terkadang juga ada
mubaligh yang cenderung mengadu domba umat dengan menjelek-jelekkan kelompok
lain sehingga muncul di tengah-tengah umat ini kecenderungan bahwa kelompoknya
lebih baik daripada kelompok lain. Dalam hal pengajaran akhlak juga perlu
diperhatikan agar jangan fokus pada teori atau konsep, tapi juga mengarah pada
pengamalan nilai-nilai akhlak. Dengan cara demikian, Insya Allah umat ini akan
terselamatkan dari penyakit pragmatis dan permisif. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar