Berkisah tentang Kemiskinan
Subagio S. Waluyo
“Setan
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan
karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2:
268]
“Setan
menakut-nakuti kalian akan kemiskinan, agar kalian menahan harta ditangan
kalian dan tidak kalian infakkan untuk mencari ridha Allah.” [Tafsir Ibnu
Katsir]
“Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya
Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur. Sesungguhnya tiada Tuhan selain
Engkau.” (HR. Abu Dawud).
Kemiskinan sebuah kata yang selalu
dihindari setiap orang. Wajar-wajar saja kalau orang takut miskin terutama
miskin harta. Meskipun demikian, kalau sampai takut miskin membuat orang jadi
tidak mau mengeluarkan sebagian hartanya buat orang miskin, dia telah menjadi
pengikut setan. Setan seperti bunyi ayat di atas memang pekerjaannya
menakuti-nakuti orang agar menahan hartanya karena kalau hartanya tidak ditahan
dia akan jatuh miskin. Jadi, kalau ada orang yang cenderung menahan harta untuk
ditumpuk, dia sudah menjadi pengikut setan. Bukankah pekerjaan setan di
antaranya menghimpun barisan sehingga barisannya menjadi satu tim yang menentang
Allah?
Orang
yang menjadi pengikut setan memang dia tidak miskin harta. Tapi, dia
miskin iman. Dikatakan miskin iman karena iman kepada Allah sudah tergadaikan
oleh tipuan dunia. Salah satu tipuan dunia, yaitu harta. Harta yang menumpuk
telah melenakannya dari iman kepada Allah. Harta yang menumpuk telah membuat
dia hidup diatur oleh setan. Kalau setan sudah menjadi panutan yang diikuti
keinginannya, orang sejenis ini pasti orang yang kemaruk harta. Sampai-sampai
maruknya pada harta dia melakukan apa saja. Demi harta dia akan tempuh dengan
berbagai cara, salah satu di antaranya apalagi kalau bukan cara-cara yang
tergolong ilegal. Rusaknya negara ini lebih disebabkan oleh perilaku
orang-orang yang sudah kemaruk harta yang untuk menumpukkan harta dia melakukan
cara-cara yang ilegal atau haram.
Sebuah negara kalau hutangnya sudah
menumpuk sehingga tidak sanggup membayar hutangnya dan pengelolaan negara sudah
amburadul itu sebuah sinyal kalau negara itu sudah jadi korban para pejabat
negara yang demi penumpukan harta melakukan cara-cara haram. Cara-cara haram itu di antaranya melakukan
korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pelaku-pelaku KKN bisa saja para pejabat,
pengusaha dengan pejabat (pejabat malah dikuasai pengusaha), atau pejabat yang
ingin melanggengkan dinastinya terpaksa mengangkat anggota keluarganya di
jabatan-jabatan tertentu di negara ini. Pelaku-pelaku KKN ini orang-orang yang
luar biasa penampilan dan ucapannya. Sering kita tertipu dengan orang-orang
sejenis ini. Orang-orang sejenis ini karena imannya sudah menipis, kita bisa
saja katakan mereka adalah orang-orang yang miskin iman.
***
Orang miskin iman lebih parah daripada
miskin harta. Memang, baik miskin iman maupun miskin harta sama-sama berbahaya.
Tapi, orang yang miskin harta jika tidak miskin iman, dia tidak akan berbahaya.
Repotnya kalau sudah miskin harta, miskin iman juga. Ini yang berbahaya. Di
dunia ini banyak jenis manusia seperti ini: sudah miskin harta, miskin iman
juga. Orang yang miskin harta tapi tidak miskin iman (imannya terjaga), dia
akan berusaha tidak memperlihatkan kemiskinannya di hadapan orang banyak. Dia
akan menghindari untuk meminta-minta (mengemis). Mereka yang biasa mengemis itu
mencerminkan orang yang miskin harta sekaligus miskin iman. Termasuk juga dalam
hal ini orang yang sehari-harinya hidup dari menipu orang lain, dia tergolong
orang yang miskin harta (kalau ada harta juga akan cepat ludes) dan miskin
iman.
Bicara tentang orang yang mata
pencahariannya menipu, Ahmad Tohari dalam cerpennya “ Penipu yang Keempat”
berkisah kalau Tokoh Aku dalam sehari sampai tiga kali ditipu orang. Mereka,
para penipu, menemuinya dengan kepiawaiannya menampilkan ekspresi muka yang
membuat orang terdorong untuk menolong. Sebenarnya, Tokoh Aku bukan tidak tahu
kalau mereka penipu, buktinya salah seorang penipu yang datang menawarkan
perkakas sempat dibuat kaget dengan ucapannya. Ternyata, kedoknya terbuka di
depan Tokoh Aku. Karena menjaga perasaan orang saja, Tokoh Aku pada akhirnya
membayar harga perkakas itu.
“Sampean
betul. kalau dihitung harga keseluruhan barang yang sampean bawa hanya dua
belas ribu. Uang sebanyak itu bukan hanya sedikit bagiku dan bagi para anak
cacat itu. melainkan juga akan menyulitkan sampean Tidak mudah bagi sampean
menjaga uang itu tetap utuh sampai kesolo yang jaraknya 300 kilometer dari
sini “Memang tidak akan utuh sampai ke Solo, sebab saya berhak menggunakannya
sebanyak 25 persen untuk transpor dan uang makan”.
“Demikian
pun sampean masih sulit. Biaya pulang pergi dari sini Solo dengan kendaraan
apa saja minimal akan menghabiskan uang sembilan ribu rupiah. Bila sampean
harus makan tiga kali saja, sampean harus mengeluarkan lagi uang minimal
seribu lima ratus. Sungguh, sampean tetap dalam kesulitan karena sampean tak
mungkin bemberikan uang hanya seribu lima ratus ke pada anak-anak cacat itu”.
Kulihat
laki-laki itu jadi bingung.Tangannya bergerak tak menentu. Mungkin dia ingin
berkata sesuatu, Tetapi lama kutunggu tak sepatah kata pun terucap.
“Apabila
sampean bingung, Aku akan membantu mengatasinya.Aku akan bayar dua belas ribu
untuk semua barang yang sampean bawa ini. Kemudian pergilah ke pasar dan
sampean bisa mendapat barang-barang sejenis dan sejumlah ini hanya dengan
empat ribu rupiah. Sampean masih punya untung delapan ribu rupiah dan modal
sampean tak sedikit pun berkurang. Gampang sekali, bukan.?”
Laki-laki
itu membeku dan kelihatan tersiksa. Padahal sungguh aku tak bermaksud
menyakitinya.
“Sampean
bisa terus berjualan pisau dapur dan lap bulu ayam atas nama anak-anak cacat di
Solo itu selama bisa sampean suka. Apaibila dalam perantauan ini sampean bisa
melakukan sepuluh kali saja transaksi seperti ini, maka keuntungan sampean
mencapai delapan puluh ribu. Dengan membawa uang sebanyak itu sampean bisa
pulang kesolo untuk menggembirakan anak-anak cacat itu.”
Tak
peduli akan tamuku yang makin bingung itu, kukeluarkan uang dua belas ribu
rupiah, mula-mula tamuku kelihatan ragu, namun kemudian diterima nya juga
uang itu. Empat pisau dapur dan dua lap bulu ayam jadi miliku.
Selesai
memasukkan uangnya ke dalam saku, tamuku pamit. Kukira dia sangat canggung
dan serba salah tingkah. Kata-katanya pun terbata. Namun aku melepaskannya
dengan kelayakan karena aku tak punya beban pikiran. Sebaliknya aku percaya,
laki-laki itu masih bingung memikirkan sikapku padanya.
|
Sepintas bisa terbaca dari potongan
kisah di atas kalau Tokoh Aku orang yang bisa membaca ekspresi muka orang
ketika melakukan aksinya. Hanya saja Tokoh Aku orang yang terbilang sangat
menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakiti sehingga Tokoh Aku dengan
ikhlas mengeluarkan uang untuk memperoleh alat-alat perkakas itu. Setelah
memberikan uangnya pada penipu kedua itu, Tokoh Aku tidak punya beban pikiran.
Sebaliknya, penipu kedua karena sudah terbaca perilakunya membuat dia salah
tingkah. Boleh jadi, sang penipu masih ada perasaan bingung melihat sikap Tokoh
Aku yang justru tanpa beban menyerahkan uangnya padanya.
Sangat jarang orang bisa bersikap
seperti Tokoh Aku. Tokoh Aku yang sudah membongkar cara kerja sang penipu, justru
membayar alat-alat perkakas rumah tangga itu. Biasanya orang kalau sudah
membongkar modus penipuan yang dilakukan orang padanya ada kecenderungan tidak
mau membeli. Bisa saja dengan terpaksa mengusirnya. Orang yang sudah terbongkar
modus penipuannya juga akan pamit. Tokoh Aku malah bertindak sebaliknya. Dengan
ikhlas dia membayar sesuai dengan harga yang ditetapkan sang penipu. Bukankah
orang seperti ini menunjukkan kekayaan iman? Atau orang yang terhindar dari
kemiskinan iman?
***
Sebagai orang yang terhindar dari
kemiskinan iman, ada rasa penasaran pada Tokoh Aku untuk mengetahui faktor
penyebab orang melakukan tindak penipuan. Tokoh Aku sengaja pergi ke pasar
bukan ke terminal karena dia merasa yakin kalau penipu ketiga yang mengaku dari
Cikokol tidak akan mungkin ke terminal. Asumsinya ternyata benar, penipu ketiga
yang mengaku dari Cikokol itu sedang melakukan modus penipuan yang sama di
pasar. Syukurnya, orang yang akan jadi korbannya tidak berhasil ditipunya.
Begitu melihat Tokoh Aku dengan penampilan yang semula tidak dikenalinya, sang
penipu itu beralih ke Tokoh Aku. Awalnya sang penipu sempat terkecoh ketika
melihat penampilan Tokoh Aku. Selang beberapa waktu sang penipu akhirnya
mengenali kalau orang yang mau ditipunya ternyata orang yang beberapa waktu
sebelumnya sempat didatangi rumahnya. Sang penipu tentu saja mati langkah. Dia
sempat tegang.
Penipu yang mengaku dari Cikokol ini
memang tergolong penipu unggul. Walaupun sempat terkejut, dia bisa secepatnya
bermain peran. Sebagai basa-basi karena kedok penipuannya terkuak dia
menawarkan pada Tokoh Aku sekiranya mau meminta kembali uangnya. Tokoh Aku
terang tidak mau menerimanya kembali. Tokoh Aku juga sudah tahu kalau lelaki
dari Cikokol itu dari semula mau menipunya. Justru, Tokoh Aku ingin tahu kelanjutan
kata-kata sang penipu tentang uang yang dicopet orang dan istrinya yang mau
melahirkan. Karena cuma akal-akalan (cerita rekayasa), sang penipu tidak
bersedia melanjutkannya. Malah lelaki sang penipu yang mengaku dari Cikokol itu
bercerita alasannya menjadi penipu. Lagi-lagi Tokoh Aku memiliki firasat kalau
yang diceritakannya lebih pada sikap pembelaan lelaki dari Cikokol daripada
cerita yang sebenarnya. Walaupun sang penipu itu bersumpah dengan menyebut nama
Tuhan, tetap saja bagi Tokoh Aku itu merupakan salah satu trik untuk menipu
orang. Meskipun tidak tertipu, Tokoh Aku harus mengakuinya kalau lelaki dari
Cikokol ini termasuk penipu paling ulung.
Mendadak
lelaki Cikokol itu menghentikan kata-katanya. Kedua matanya terbuka lebar dan
wajahnya tegang. Dan kegugupannya gagal disembunyikan ketika lelaki Cikokol
itu mengenali kembali diriku. Tetapi dia seniman pantomim yang baik.
Kunikmati dengan seksama ketegangan di wajahnya yang perlahan-lahan mencair.
Kini kesan malu terlihat disana. Hanya sepintas, sebab lelaki cikokol itu
akhirnya malah tersenyum. Aku pun membalasnya dengan Senyum.
“Eh,
Bapak, saya kira siapa”,katanya sambil menyengir. Aku pun ikut nyengir. Dia
tersipu-sipu dan kelihatan salah tingkah, padahal aku tetap ramah padanya.
“Maaf
Pak, saya telah menipu bapak dan mencoba akan mengulanginya”, Katanya agak
Gemetar.
“Tenang.
Tenanglah orang Cikokol; sejak semula aku sadar dan mengerti sampean
menipuku.”
“Bapak
minta uang Bapak kembali?
“Hus!
Yang kuminta adalah kelanjutan cerita tentang uang yang dicopet orang dan
tentang istri sampean yang baru melahirkan.
“Ah
bapak, bisa saja. Bapak tentu tahu itu cerita akal – akalan?”
“Ya,
hanya orang tolol akan percaya cerita seperti itu. Tetapi aku ingin
mendengarnya dan aku tidak main-main.”
“Ah,
bapak. Daripada mendengarkan Cerita yang bukan-bukan,Lebih baik bapak
kuberitahu alasan mengapa aku terpaksa jadi penipu.”
“Usul
sampean baik juga. Tetapi bolehkan saya minta jaminan bahwa Cerita sampean
nanti bukan omong kosong?”
“Demi
Tuhan, saya akan bercerita sebenar-benarnya.”
Diawali
dengan sumpah,wong Cikokol itu memulai cerita yang sangat terasa sebagai
pembelaan dirinya. Dan sumpah itu membuat apa yang dikatakannya menjadi
sebuah tipuan yang bermutu tinggi.
Agar
aku bisa lebih lama menikmati sajian istimewa itu aku harus bisa
mengendalikan perasaan sebaik mungkin. Dan aku berhasil. Sampai lelaki
Cikokol itu selesai mengemukakan segala dalih mengapa dia terpaksa jadi
penipu. Aku tetap bersikap sungguh-sungguh mendengarkannya, bahkan
menikmatinya. Lelaki cikokol itu pun kelihatan demikian yakin bahwa dirinya
berhasil menipuku buat kali yang kedua. Dengan demikian dia boleh merasa
menjadi penipu yang paling unggul.
|
***
Kalau Ahmad Tohari di “Penipu yang
Keempat” memperlihatkan orang miskin yang miskin imannya bisa menjadi penipu,
di cerpen “Telepon dari Aceh” oleh Seno
Gumira Ajidarma diperlihatkan orang kaya yang miskin imannya. Di cerpen
“Telepon dari Aceh” yang jelas-jelas miskin imannya diperlihatkan oleh Sang Bapak
yang di prolog cerpen tersebut benar-benar merasa bersyukur karena sebagai
koruptor nomor 11.217 masih selamat dari jerat hukum. Selain itu, menurut
pengakuannya Sang Bapak hanya korupsi sebesar Rp200 milyar. Korupsi sebesar itu
menurutnya termasuk korupsi kelas teri. Mungkin yang tidak masuk di akal,
kenapa Sang Bapak dengan entengnya mengaku bisa bersyukur karena sebagai
koruptor masih selamat dari jerat hukum? Bukankah ungkapan syukur itu lebih
ditujukan pada orang yang memperoleh keberuntungan atau keberhasilan dalam
usahanya yang bersih dari perbuatan kotor? Kalau seorang koruptor yang merasa
bersyukur karena belum terjerat hukum, bukan ungkapan syukur sebenarnya, tapi
lebih cenderung pada rasa bangga diri.
Perasaan bangga kalau belum juga terjerat
hukum datangnya bukan dari ungkapan hati yang bersih. Itu datangnya dari
bisikan setan. Setan yang telah menjadi tokoh panutannya pasti mengajarkan agar
Sang Bapak bisa mengungkapkan rasa syukur di hadapan anggota keluarga lainnya
kalau sampai detik itu dia masih selamat dari jeratan hukum. Ungkapan syukur
Sang Bapak adalah ungkapan kebohongan. Ungkapan yang berangkat dari upaya
membohongi keluarganya dan tentu saja diri sendiri. Tipe orang seperti Sang
Bapak jangankan membohongi keluarga, negara pun kalau bisa dibohongi. Anehnya,
masih ada pikiran supaya anak-anaknya tidak melakukan hal yang sama dengan
dirinya. Anak-anak dan keturunannya agar menjadi orang baik walaupun untuk
menjalankan hidup dari hasil korupsi Sang Bapak katanya hanya Rp200 milyar.
“Bapak
sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini Bapak masih selamat. Barangkali
memang tidak mungkin menyapu seluruh koruptor yang ada di Indonesia. Koruptor
nomor satu atau nomor dua memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang
tidak bisa disembunyikan, meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi
bagaimana dengan koruptor nomor dua ratus atau tiga ratus? Sedang Bapak saja,
yang bisa korupsi sekitar Rp 200 milyar, ranking-nya cuma nomor 11.217. Pasti
susah ‘kan, mencabut yang nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor? Jadi,
barangkali untuk sementara kalian bisa tenang. Masih banyak koruptor kelas
kakap yang hasil korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung.
Bapak ini masih kelas teri. Cuma Rp 200 milyar. Masih bisa dihitung. Tenang
sajalah. Lagipula Bapak ‘kan korupsi untuk kebaikan kalian semua. Supaya kalian
anak-anak bisa sekolah di luar negeri, bisa punya rumah mewah, mobilnya tidak
cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya cukup untuk hidup sambil
ongkang-ongkang kaki. Ya nggak? Bapak ini jelek-jelek tidak korupsi untuk
diri sendiri, tetapi untuk keluarga. Demi kehormatan, kebesaran, dan
keselamatan keluarga. Makanya kalian semua sekolah yang bener. Selesaikan
pendidikan dengan sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih
silau dengan gelar-gelar dari luar negeri. Perkara ijazahnya bisa beli, ya
beli sajalah, untuk apa capai-capai berpikir? Lebih baik kalian pikirkan
bagaimana caranya menyelamatkan kekayaan hasil korupsi Bapak. Pikirkan
bagaimana caranya memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau
disidik, dan cari orang-orang yang bersedia melindungi kita. Bayar saja
sedikit. Kasih perempuan. Lantas diperas. Mereka tidak mungkin bicara.
Uanglah yang akan bicara. Bagi rata kekayaan antara kita semua. Jangan
rebutan. Itu sumber perkara. Hati-hati dengan kekuasaan. Jangan silau dengan
politik. Itu hanya akan membuat kamu jadi singa. Biasanya singa akan mati
diterkam singa lain. Lebih baik kamu jadi tikus seperti Bapak. Tidak usah
hebat-hebat punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus. Kalau kalian
punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak
korupsi, bisa menjalankan korupsi dengan sistematis. Tidak usah
banyak-banyak. Nanti terlalu kentara. Yang penting secara sistematis jalan
terus. Seperti Bapak sekarang, menjelang pensiun sudah korupsi sampai Rp 200
milyar. Yah, memang tidak trilyun-trilyunan, tetapi kita tidak usah terlalu
rakus. Kasihan rakyat kecil. Kalau semua koruptor korupsinya sampai
trilyun-trilyunan, nanti rakyat kecil makan apa? Jangan-jangan sebutir beras
pun tidak kebagian. Korupsi itu secukupnya sajalah. Asal cukup untuk istri
dan anak-cucu. Nanti cucu-cucu kalian tidak usah korupsi lagi, karena sudah
punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik. Meskipun modalnya hasil
korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci. Mereka tidak
salah, ‘kan bukan mereka yang korupsi, tetapi Bapak. Biarlah Bapak menjadi
tumbal, biarlah Bapak menanggung dosa dan masuk neraka, yang penting anak
cucu Bapak menjadi orang-orang yang mulia.”
|
Sang Bapak yang mengajarkan pada
anak-anaknya untuk melakukan apa saja agar tujuan hidupnya tercapai ternyata
masih ada perasaan kasihan pada rakyat kecil? Bahkan, dia berharap agar
keturunannya masih jadi orang-orang suci. Apakah mungkin anak-cucu yang telah
dimasuki dalam tubuhnya sesuatu yang haram dari hasil korupsi bisa menjadi
orang-orang yang suci (maksudnya orang-orang yang soleh-solehah)? Justru yang
terjadi yang masuk ke dalam tubuhnya akan berpengaruh terhadap perilaku anak-cucunya.
Atau paling tidak gaya hidup anak-cucunya akan mengarah ke gaya hidup hedonis.
Kalau sudah hedonis, apakah bisa dijamin mereka akan menjadi anak-cucu yang
soleh-solehah atau orang-orang yang suci atau mulia? Memang, Sang Bapak yang
berbuat menanggung dosa akibat perbuatannya, tapi dia tidak boleh berpikiran
membangun keluarga yang soleh-solehah dari uang haram hasil korupsi. Dengan
demikian, semakin jelas iman Sang Bapak walaupun kaya harta ternyata imannya
miskin.
***
Miskin harta tapi tidak miskin iman
menjadikan seorang hamba Allah mulia perbuatannya. Dia tidak akan mungkin
meminta-minta (mengemis) walaupun miskin harta. Kalau perlu, dia tidak
memperlihatkan di hadapan orang kemisikinannya. Ini merupakan refleksi keimanan
yang kaya. Orang-orang seperti ini seandainya suatu saat diberikan kekayaan
harta, dia akan berusaha memelihara keimanannya agar tidak terjerumus ke dalam
sikap menghalalkan segala cara seperti yang dicontohkan dalam cerpen “Telepon
dari Aceh” (Seno Gumira Ajidarma). Sebaliknya, kalau memang ditakdirkan tetap
miskin, orang seperti ini tetap akan memelihara keimanannya agar tidak menjadi
miskin harta dan miskin iman (yang bisa merembet ke miskin perilaku). Semoga
hamba-hamba Allah yang soleh-solehah tetap terpelihara keimanannya walaupun
hidup dalam kemiskinan. Wallahu a`lam
bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar