5. MEMULAINYA DENGAN PERTANYAAN
Subagio S.Waluyo
Selain memulai
tulisan dengan definisi juga bisa kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan.
Bahkan, boleh jadi sebuah definisi bisa dimunculkan setelah diajukan
pertanyaan. Pertanyaan `apa` yang kita letakkan di awal tulisan salah satu di
antaranya bisa diwujudkan dalam bentuk definisi. Kita bisa ambil contoh ketika
ada orang yang menulis tentang `vandalisme`. Bisa saja orang itu mengajukan
pertanyaan apa itu `vandalisme`? Ada alternatif buat orang itu apakah mau langsung
mendefinisikan `vandalisme` atau selain mengajukan pertanyaan apa, bisa saja
mengajukan pertanyaan siapa yang melakukan `vandalisme`, mengapa orang
melakukan `vandalisme`, dan bagaimana cara mengantisipasi perilaku
`vandalisme`? Di sini setiap orang yang mau menulis diberi kebebasan apakah
langsung membuat definisi atau mengajukan berbagai pertanyaan di seputar
`vandalisme`.
Dalam mengajukan pertanyaan setiap orang juga diberi kebebasan untuk menentukan jenis pertanyaannya. Apakah mau menggunakan pertanyaan terbuka, tertutup, spesifik, reflektif, mengarahkan, prediktif, atau perilaku? ((https://www.gurusiana.id/read/yusrijaldatukmakhuduun/article/memulai-tulisan-dengan-pertanyaan-2919002). Semua itu tergantung pada gagasan yang mau diajukan seseorang yang mau menulis. Dengan kata lain, pertanyaan yang diajukan penulis setidaknya menggambarkan gagasan yang akan diuraikan dalam paragraf. Jika seorang penulis mengajukan pertanyaan perilaku, misalnya, pertanyaan yang akan diajukan akan mengungkapkan tindakan seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah.Berikut ini ada enam contoh paragraf yang bisa kita jadikan contoh dalam penulisan paragraf yang diawali dengan penggunaan kalimat tanya.
Mengapa
biaya pendidikan di Indonesia masih mahal?
Walaupun pemerintah sudah memberikan bantuan, tetap saja para murid
harus membayar beberapa biaya untuk keperluan sekolah, seperti baju dan
buku. Mahalnya biaya pendidikan ini
tidak hanya sebatas pada sekolah dasar saja, tetapi hingga di perguruan tinggi.
Bahkan biaya untuk menempuh pendidikan di kampus amat sangat mahal karena
pemerintah tidak memberikan bantuan langsung kepada perguruan-perguruan tinggi.
Anak-anak yang sesudah lulus dari SMA lebih memilih untuk mencari pekerjaan
saja daripada melanjutkan ke perguruan tinggi. Akibatnya, pendidikan di
Indonesia tidaklah merata dan hanya terkonsentrasi pada orang yang mampu.
Sedangkan bagi orang yang kurang mampu, pendidikan tinggi hanyalah sebuah
angan.
( https://www.gurupendidikan.co.id/paragraf)
Paragraf di
atas isinya lebih bersifat memberikan sugesti. Bisa juga disebut sebagai
mengarahkan. Atau bisa juga ada upaya untuk menjelaskan lebih jauh (lebih
mendalam) masalah yang diajukan. Berkaitan dengan itu wajar saja jika
pertanyaan yang diajukan juga menghendaki jawaban yang boleh dikatakan
mendalam. Untuk memperoleh jawaban yang mendalam, tentu saja diperlukan
pengamatan, bahkan, kalau perlu dengan penelitian mendalam sehingga diperoleh
jawaban yang bisa diterima oleh semua pihak. Uraian pada paragraf di atas
ketika diajukan pertanyaan tentang alasan biaya pendidikan di Indonesia yang
tergolong masih mahal diperoleh jawaban
yang benar-benar valid. Bukan hanya biaya kuliah di perguruan tinggi,
sejak anak sekolah di SD pun biaya pendidikan untuk sekolah berkualitas
demikian mahal. Begitu juga untuk tingkat pendidikan berikutnya. Kita pun tidak
bisa memungkiri bahwa orang yang mampu menempuh pendidikan tinggi adalah sebuah
angan-angan belaka. Paragraf di bawah ini juga masih isinya tergolong
mengarahkan.
Mengapa
anak sering kehilangan konsentrasi pada saat mereka belajar? Bahkan, tidak
jarang konsentrasi itu hilang sebelum mereka mulai belajar. Akibatnya,
pelajaran tidak bisa diterima dengan baik. Guru-guru dan orang tua sering
merasakannya. Lantas, bagaimana mengatasinya?
(Handbook
of Writing -Panduan Lengkap Menulis- oleh Nurhadi, 2017:100)
Kalimat
pertama di paragraf di atas mengajukan pertanyaan yang berisikan
arahan/sugesti. Di balik pertanyaan tersebut sebenarnya sudah ada jawaban bahwa
anak-anak sering kehilangan konsentrasi ketika belajar. Pertanyaan yang
diajukan kalau boleh dikatakan sudah diketahui oleh penanyanya. Di sini penanya
menghendaki ketika diajukan pertanyaan, orang yang menjawab harus bisa
diarahkan jawabannya. Lihat saja di kalimat kedua, belum selesai dijawab
pertanyaan yang diajukan sudah dijawab dengan kalimat: “Bahkan tidak jarang
konsentrasi itu hilang sebelum mereka mulai belajar”. Apa yang terjadi,
pertanyaan yang diajukan di kalimat pertama tidak terjawab. Justru yang dijawab
adalah kalimat kedua. Dimulai “dari pelajaran tidak bisa diterima dengan baik’
sampai dengan “guru-guru dan orang tua sering merasakannya”. Tapi, di akhir
paragraf ada pertanyaan yang menggelitik yang justru perlu ditindaklanjuti:
“Lantas, bagaimana mengatasinya?”. Pertanyaan terakhir ini bisa menjadi
stimulus untuk menulis yang lebih mengarah pada tulisan berisikan prediktif
atau perkiraan. Bisa juga kalau pertanyaan tersebut mengarah pada pertanyaan
terbuka, tidak ada salahnya kalau jawaban yang diberikan juga jawaban terbuka.
Di paragraf berikutnya, kita bisa memulainya dengan mengajukan pertanyaan terbuka: “Bagaimana mengatasi anak yang sering kehilangan konsentrasi?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita bisa memulainya dengan menjawab terlebih dahulu faktor penyebab kehilangan konsentrasi. Setelah ditemukan jawabannya, baru kita masukkan jawaban tersebut sebagai salah satu (bisa juga beberapa) cara mengatasi kehilangan konsentrasi. Misalnya, kalau ada jawaban hilangnya konsentrasi disebabkan oleh ketergantungannya pada gawai, bisa saja jawaban tersebut dimasukkan dengan membuat usulan jauhkan anak-anak dari gawai ketika belajar. Dari situ silakan saja kalau mau ditulis pengaruh yang ditimbulkan gawai jika digunakan secara terus-menerus (sampai-sampai mau tidur pun tidak lepas dari gawai). Bisa juga kalau nanti diperoleh jawaban hilangnya konsentrasi disebabkan oleh kurang tidur, dari jawaban tersebut bisa dijadikan masukan dengan menuliskan: “Selain gawai yang harus dijauhkan dari anak-anak untuk mengatasi hilangnya konsentrasi pada saat anak-anak belajar, juga bisa dilakukan dengan mengajak mereka beristirahat yang cukup”. Dengan cara demikian, kita bisa menuliskan satu tulisan yang dimulai dari pertanyaan yang bersifat terbuka.
Apa
yang menyebabkan pendidikan karakter kurang berhasil? Banyak
orang dewasa saat ini yang tidak mampu menjadi contoh dan teladan. Orang dewasa
saat ini banyak yang telah mengalami degradasi moral. Hal ini disebabkan mereka
tidak mampu menjadikan nilai-nilai agama dan adat sebagai pembenteng diri.
Pelaksanaan ajaran agama dan adat yang setengah hati menyebabkan mereka mudah terkontaminasi
oleh ekses-ekses kemajuan zaman. Kurangnya pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan ajaran agama dan adat membuat mereka rapuh. Mereka mudah tergoyahkan
oleh arus globalisasi yang menyimpang dari ajaran agama dan adat.
Penggunaan
kalimat tanya pada paragraf di atas bisa digolongkan sebagai pertanyaan
prediktif atau perkiraan.Dikatakan sebagai prediktif karena seperti yang
disampaikan di paragraf tersebut penyebab pendidikan karakter tidak berhasil
karena orang dewasa 1) tidak mampu menjadi contoh dan teladan, 2) telah mengalami
degradasi moral, dan 3) tidak mampu menjadikan nilai-nilai agama dan adat
sebagai pembenteng diri. Kesemua butir itu lebih merupakan perkiraan atau
prediktif. Walaupun yang ditanyakan berkaitan dengan faktor penyebab,isi
jawabannya lebih merupakan prediktif.Karena berisikan prediktif, bisa-bisa saja
ketiga butir di atas itu benar prediksinya. Bisa juga sebaliknya, bisa tidak
tepat jawabannya. Terlepas dari itu semua dalam menulis sah-sah saja orang
membuat tulisan yang berisikan prediktif. Tulisan berikut ini juga termasuk
tulisan yang kalimat tanyanya di awali dengan pertanyaan prediktif.
Bagaimana
agar birokrasi negara ini tidak teracuni paternalisme? Pada tulisan terdahulu
(“Brain Wash—Blood Wash—Heart Wash) diusulkan agar sejak awal penerimaan calon
birokrat dilakukan seleksi penerimaan secara ketat. Tidak ada lagi
praktek-praktek KKN dalam penerimaan calon PNS. Setelah mereka diterima sebagai
calon birokrat harus dilakukan diklat yang bertujuan membersihkan otaknya,
darahnya, dan hatinya. Dengan cara seperti itu, Insya Allah bangsa ini akan
terhindar dari paternalisme. Dengan menjalankan penerimaan calon birokrat yang
selektif yang bebas dari KKN dan dilanjutkan dengan brain wash, brain
blood, dan brain heart birokrat bangsa ini akan benar-benar bekerja secara profesional, efektif, dan
efisien. Dengan demikian, bisa diharapkan terwujudnya pelaksanaan good
governance di negara ini.
(Kota Gigantisme Produk Bangsa Berperilaku Degil
oleh Subagio S.Waluyo, 2022:391)
Pada paragraf
di atas ada kalimat berbunyi: ”Dengan menjalankan penerimaan calon birokrat
yang selektif yang bebas dari KKN dan dilanjutkan dengan brain wash, brain
blood, dan brain heart birokrat bangsa ini akan benar-benar bekerja
secara profesional, efektif, dan efisien.”
Kalimat tersebut dikatakan jelas-jelas menunjukkan prediktif karena
belum ada penelitian tentang hal itu. Selain itu, konsep yang berkaitan dengan
seleksi yang bebas KKN yang kemudian dilanjutkan dengan brain wash, brain
bood, dan brain heart baru sebatas wacana. Namanya juga wacana baru
sebatas konsep, penjajakan, yang perlu ada tindak lanjutnya dalam bentuk
penelitian. Sebagai sebuah tulisan, sekali lagi, boleh-boleh saja orang
menyampaikan wacana. Artinya, tidak ada salahnya orang untuk menyampaikan
wacana. Tentang nanti mau direspon wacana tersebut atau dibuang ke tempat
sampah sah-sah saja kok!
Untuk memulai sebuah tulisan juga boleh diajukan serentetan pertanyaan. Muncul sebuah pertanyaan, apakah pertanyaan itu perlu dijawab? Silakan saja kalau mau dijawab. Tapi, juga tidak ada salahnya kalau tidak dijawab. Paragraf di bawah ini meskipun diawali dengan tiga pertanyaan, tidak ada satu pun pertanyaan yang dijawab. Kalau begitu apa gunanya menempatkan sampai tiga kalimat tanya? Bisa saja orang menjawab itu hanya asesoris agar orang tertarik untuk membacanya karena kalau tidak dimunculkan ketiga pertanyaan tersebut orang boleh jadi tidak tertarik untuk membacanya. Itu `kan gaya penulis ingin menuangkan gagasannya. Siapa saja boleh menulis dengan gaya seperti itu.
Pertanyaan
dasar yang diajukannya adalah “Bagaimana orang mengatakan kebenaran? Kebenaran
apa? Bagi siapa dan di mana?”. Intelektual tidak bisa menjadi milik
siapa-siapa. Karena itu sering dianggap berbahaya. Ia boleh solider dengan
kelompoknya, tetapi selalu tetap kritis. Ia karena itu mudah dicurigai, dicap
tidak loyal.Ia pada hakekatnya berjuang sendirian. Berhadapan dengan
khalayaknya ia pertama-tama tidak mau mereka puas, melainkan menantang mereka.
Karena terlibat dengan kebenaran, ia justru tidak dapat menjual diri pada pihak
mana pun. Ia harus menantang “ortodoks dan dogma”, baik yang religius maupun
yang politik. Ia berpihak kepada kebenaran dan keadilan.
(Feodalisme
dan Imprealisme di Era Globalisasi, Rudiaji Mulya, 2012:382)
Tulisan di
atas walaupun dimulai dengan serentetan pertanyaan, ternyata tidak satu pun
pertanyaan tersebut dijawab. Coba kita uraikan, apa hubungannya semua
pertanyaan yang berkaitan dengan kebenaran kok dijawab di kalimat pertama:
”Intelektual tidak bisa menjadi milik siapa-siapa”. Kalimat-kalimat berikutnya
juga tidak berhubungan dengan kebenaran. Boleh jadi banyak orang yang berharap
agar pertanyaan pertama: “Bagaimana orang mengatakan kebenaran?”, dijawab
dengan, misalnya, “Orang mengatakan kebenaran dengan berbagai cara, salah satu
di antaranya secara langsung menyampaikan mosi tidak percaya di hadapan
penguasa yang menurutnya sudah menyimpang dari undang-undang”. Atau menulis
seperti ini: “Kebenaran bisa dilakukan dengan parlemen jalanan manakala
suara-suara kita tidak didengar oleh anggota parlemen terhormat”. Jadi, kalau
ada orang yang mau menjawab seperti dicontohkan di atas sah-sah saja. Sekali
lagi, setiap penulis diberi kebebasan untuk menjawab atau tidak menjawab semua
pertanyaan yang diajukannya.
Orang yang mau
menulis juga diberi kebebasan untuk mengajukan pertanyaan yang tertutup. Yang
perlu diketahui, orang yang berniat mengawali tulisan dengan mengajukan
pertanyaan tertutup nanti pada saat memberikan jawaban benar-benar harus
terbatas. Jangan sampai nanti jawaban yang dimunculkan meluas sehingga nyaris
mendekati tulisan yang prediktif. Di bawah ini ada sebuah contoh tulisan yang
diawali dengan kalimat tanya yang bersifat tertutup. Karena tertutup, jawaban
yang diberikan juga sesuai dengan pertanyaannya sebatas di seputar kupu-kupu.
Jawabannya juga di seputar kupu-kupu.
(https://www.kompasiana.com/01107/5d6d1933 097f36
373647d612/pelangi-dan-kupu-kupu)
Siapakah
yang tak kenal dengan kupu-kupu? Makhluk yang indah rupanya, dan menawan hati
perilakunya. Kehidupannya menimbulkan inspirasi bagi orang melihatnya.
Tingkahnya menyejukkan bagi siapa yang memandangnya. Sang kupu-kupu hidupnya
dari tangkai bunga ke tangkai bunga, membantu penyerbukan. Hidup dari suasana
yang harum mewangi. Sang kupu-kupu selalu bersosialisasi di tempat yang bersih,
indah, dan berwarna warni. Keharuman dan kewangian bunga dan suasana itulah
yang membias kepada kewangian tingkah lakunya.
Tulisan di atas diawali dengan pertanyaan tertutup di seputar kupu-kupu. Penulis memberikan deskripsi singkat yang dimulai dengan menyampaikan rupanya yang indah sehingga membuat orang yang melihatnya tertarik. Melihat kehidupannya bisa menginspirasi setiap orang yang melihatnya. Bahkan, tingkah lakunya pun bisa membuat hati ini sejuk. Kupu-kupu walaupun dari sisi usia terbatas tapi juga memanfaatkan kehidupannya untuk berbagi. Sebagai buktinya, kupu-kupu membantu penyerbukan sehingga dari hasil kerjanya itu terwujud kehidupan yang harum mewangi. Bukan itu saja, kata si penulis kupu-kupu juga jenis serangga yang hanya mau bersosialisasi di tempat-tempat yang bersih, indah, dan berwarna-warni. Walaupun diawali dengan pertanyaan yang cenderung tertutup, jawaban yang diberikan bisa menginspirasi orang yang menulisnya karena si penulis telah berhasil mengajak pembacanya untuk merenungkan tentang rupa/wujud fisik, kehidupan, dan kebiasaan kupu-kupu. Dengan demikian, penulis berikutnya bisa menulis yang lebih mendalam dengan memilih salah satu kekhasan yang ada pada kupu-kupu
entah itu rupanya, kehidupannya, atau kebiasaannya.Meskipun tidak semua jenis pertanyaan dibahas di sini, kita setidaknya bisa memilih salah satu jenis pertanyaan yang mau kita tulis. Dalam mengajukan pertanyaan yang perlu kita camkan adalah setiap pertanyaan yang mau kita ajukan berkaitan dengan tema yang sedang digarap. Selain itu, ini juga cukup penting, pengajuan pertanyaan bertujuan untuk menggelitik pembaca. Atau pertanyaan yang diajukan bisa membuat penasaran pembaca. Sebuah tulisan jika bisa membuat pembacanya penasaran, tulisan tersebut dinilai berhasil. Mau mencoba tulisan yang diawali dengan pertanyaan? Silakan saja dicoba! Kalau bukan sekarang mencobanya, kapan lagi?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar