6. AWALI DENGAN YANG MEMIKAT
Bagaimana caranya agar dapat memikat pembaca? Awali dengan kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat yang bombastis! Tetapi, ingat, biar bagaimana pun kita harus berpatokan pada data yaang valid. Tanpa data kita akan dikatakan orang asal `ngecap`, asal `bunyi, atau asal `bersuara`. Jadi, supaya terhindar dari itu semua, sekali lagi, setiap kali kita mau menulis harus memiliki data yang valid. Paling tidak kita harus berpatokan pada 5 W + 1 H. Dengan berpatokan pada 5 W + 1 H kita bisa mempertanggungjawabkan tulisan kita manakala ada orang yang penasaran ingin menelusuri tulisan kita.
***
Berikut ini ada contoh tulisan yang di awali sebuah
frase `nyeri dada`. Mungkin banyak pembaca yang terkecoh karena si penulis akan
menyampaikan masalah-masalah di seputar nyeri dada entah itu apa itu nyeri dada,
kapan terjadinya nyeri dada, mengapa terjadi nyeri dada, atau bagaimana cara
mengobati nyeri dada. Ternyata, setelah kita membacanya rupanya si penulis mau
menyampaikan bahwa di mesin pencari yang terdapat di komputer (seperti Google)
setiap orang yang mau mencari satu kata atau frase demikian mudah dan cepat
ditemukan informasi di seputar kata atau frase yang dicarinya. Di sini penulis
mengambil contoh ketika kita mencari frase `nyeri dada` akan muncul sebelas
juta lebih hasil. Kita tidak tahu persis apakah yang disampaikan penulis
berlebihan atau memang yang sebenarnya seperti itu. Terlepas dari sikap berlebihan,
yang jelas penulis berhasil memikat setiap pembaca bahwa mesin pencari yang
terdapat di komputer memang layak digunakan untuk membantu seseorang ketika
suatu saat mengalami stagnan mencari kata atau frase yang mau dijadikan bahan
tulisan. Coba kita telusuri tulisan di bawah ini.
Nyeri
dada? Tanya komputer Anda. “Mengapa dada saya nyeri?” Akan muncul sebelas juta
lebih hasil (setidaknya di mesin pencari yang saya gunakan dalam waktu tepat
0,52 detik. Aliran informasi akan memenuhi layar Anda, berisi nasihat yang
membantu dari sumber-sumber yang bervariasi, mulai dari Institut Kesehatan
Nasional sampai organisasi lain yang tampak kurang meyakinkan. Sebagian situs
bahkan akan membimbing calon pasien melalui diagnosis. Dokter Anda mungkin
memiliki pendapat yang berbeda, tetapi siapa yang bisa membantah layar bersinar
yang menjawab pertanyaan Anda dalam waktu tak sampai satu detik?
(Matinya Kepakaran oleh Tom Nichols, 2019:128)
Tim Nichols
dalam bukunya Matinya Kepakaran mau menyampaikan bahwa kehadiran
komputer memudahkan orang untuk melakukan berbagai aktivitas terutama yang
berkaitan dengan komunikasi dan literasi. Jika di awal-awal kemunculan komputer
lebih banyak membantu orang untuk menulis dan menyimpannya, pada perkembangan
berikutnya dengan berbagai aplikasi yang ditawarkannya komputer juga bisa
dijadikan alat komunikasi sekaligus informasi bahkan juga bisa dijadikan alat
hiburan. Komputer seperti yang disampaikan di atas juga membantu orang mencari
kata-kata atau frasa-frasa yang biasanya terdapat di kamus atau glosari atau
boleh juga ensiklopedi. Sekarang cukup dengan mengetikkan sebuah kata atau
frasa dalam beberapa detik sudah bisa ditemukan kata atau frasa yang mau kita
cari. Kita tidak usah repot-repot lagi buka kamus dan sejenisnya hanya untuk
mencari kata atau frasa. Hadirnya komputer (yang di dalamnya juga tersedia
internet) membuat kita benar-benar dimudahkan. Tim Nichols boleh jadi juga
ingin mengatakan bahwa matinya kepakaran lebih disebabkan kehadiran internet
yang bukan saja orang malas baca buku, tapi juga sangat memungkinkan kehadiran
internet menyuburkan perilaku plagiat. Ungkapan Will McDonough di bawah ini ada
benarnya kalau internet telah menyebabkan banyaknya plagiarisme dalam
jurnalisme. Selain ungkapan McDonough, beberapa penulis dunia juga membuat
ungkapan yang memerahkan telinga orang yang membacanya. Kita lihat
ungkapan-ungkapan mereka berikut ini.
Mencuri dari satu penulis adalah plagiarisme; dari banyak penulis,
penelitian.
Orisinalitas adalah plagiarisme yang tidak terdeteksi.
Dalam seni mereka menyebutnya plagiarisme, dalam bisnis mereka
menyebutnya kompetisi.
(https://azsayings.com/kutipan-berdasarkan-topik/plagiat)
***
Peru salah
satu negara di Amerika Selatan pernah dipimpin seorang diktator dari Jepang.
Kita mungkin akan bertanya-tanya `kok, bisa-bisanya seorang imigran asal Jepang
menjadi seorang pemimpin di Peru?`. Tapi, itulah sebuah kenyataan yang tidak
bisa kita pungkiri. Adalah Fujimori sang imigran asal Jepang yang menjabat
sebagai rektor di salah satu universitas di Peru yang di awal-awal cuma mau
coba-coba menjadi anggota senat. Takdir menentukan dia bukan hanya menjadi
anggota senat, tapi juga menjadi pemimpin di negara bukan tempat kelahirannya
(Fujimori lahir di Kataoka Kenya). Kalimat pertama yang ditulis Steven
Levitsky&Daniel Ziblatt:”Alberto Fujimori tak berencana menjadi diktator
Peru.Dia bahkan tak berencana menjadi presiden.” menarik untuk dibaca sampai
tuntas.
Alberto
Fujimori tak berencana menjadi diktator Peru. Dia bahkan tak berencana menjadi
presiden. Fujimori, rektor universitas keturunan Jepang yang kurang dikenal
awalnya, tadinya berharap bisa mendapat kursi senat pada 1990. Ketika tidak ada
partai yang mau mencalonkanya, dia membuat partai sendiri dan maju dari partai
itu. Dia kekurangan dana dan ikut pemilihan presiden untuk menarik perhatian ke
kampanye senatnya. Namun, 1990 adalah tahun krisis berat. Ekonomi Peru ambruk
dalam inflasi besar-besaran, dan satu kelompok gerilya Maois bernama Sendero
Luminoso (Jejak Bercahaya) yang aksi brutalnya telah menewaskan puluhan ribu
orang sejak pertama berdiri pada 1980 sedang mendekati ibukota Lima. Rakyat
Peru muak dengan partai-partai lama. Mereka protes dan beralih mendukung si
tokoh kurang terkenal dalam politik yang slogan kampanyenya “Presiden Seperti
Anda”. Tanpa diduga, Fujimori memimpin di jejak pendapat. Dia mengejutkan dunia
politik Peru dengan meraih suara terbanyak kedua dan masuk putaran kedua menantang
Mario Vargas Llosa, penulis novel terkenal di Peru. Rakyat Peru mengagumi
Vargas Llosa, yang sesudahnya meraih Hadiah Nobel bidang sastra. Hampir seluruh
kalangan mapan—politikus, media, pemimpin bisnis—menyokong Vargas Llosa, tapi
rakyat biasa Peru memandang dia terlalu akrab dengan kaum elite, yang tampak
tak mendengarkan kekhawatiran mereka. Fujimori, dengan wacana populis yang
memanfaatkan kemarahan itu dianggap banyak orang sebagai satu-satunya pilihan
yang menjanjikan perubahan. Dia menang.
(Bagaimana Demokrasi Mati oleh Steven
Levitsky&Daniel Ziblatt, 2019:55).
Jika kalimat
pertama Steven Levitsky&Daniel Ziblatt kurang menggigit, bisa saja kita
menyimak ungkapan Najwa Shihab kalau politik itu permainan citra. Bisa juga
kita mengutip ungkapan Winston Churchill kalau dalam perang orang hanya bisa
terbunuh sekali, tetapi dalam politik bisa mati berkali-kali. Artinya, politik
itu seperti tidak ada matinya. Politik itu benar-benar sebuah permainan yang
penuh dengan kekotoran. Tetapi, politik itu juga mengasikkan karena bisa
membuat orang lupa daratan. Saking lupa daratan politik itu seperti dikatakan
WS Rendra politik itu adalah cara merampok dunia. Karena diajarkan cara merampok dunia, politik
juga penuh dengan kasak-kusuk elit yang berebut kekuasaan. Untuk lebih
jelasnya, kita simak tokoh-tokoh baik nasional maupun internasional yang
melantangkan ungkapan-ungkapan politik berikut ini.
Telah
berlalu show politik permainan citra, sebab rakyat sudah terlatih
memisah dusta dari kata.
- Najwa
Shihab
Dalam
perang Anda hanya bisa terbunuh sekali, tapi dalam politik Anda bisa
mati berkali-kali.
- Winston
Churchill
Akhirnya
politik menjadi soal modal, rakyat diajarkan memilih yang terkenal.
- Najwa
Shihab
Berada
dalam politik seperti menjadi pelatih sepak bola. Kamu harus cukup
pintar untuk memahami permainan, dan cukup bodoh untuk berpikir itu penting.
-
Eugene McCarthy
Kepemimpinan
adalah kapasitas untuk menerjemahkan pandangan menjadi kenyataan.
- Warren Bennis
Pendidikan
politik rakyat hanya akan berhasil dalam sistem yang demokratis dan
adanya jaminan atas HAM.
- Munir
Politik adalah
cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk
menikmati giliran berkuasa.
- W.S.
Rendra
Berbicara
politik sebagai debat kebijakan, bukan kasak-kusuk elit berebut
kekuasaan.
- Najwa
Shihab
Saya
harus mempelajari politik dan perang agar anak saya punya kebebasan
untuk mempelajari matematika dan filsafat.
- John
Adams
Manusia
pada dasarnya adalah binatang politik.
– Aristoteles
Ketika politik
mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat,
namun, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri.
-
Joseph Schumpeter
***
Kalau tulisan
di atas berkaitan dengan bidang politik, tulisan berikut ini berkaitan dengan
psikopat. Psikopat seperti yang kita ketahui ialah gangguan mental yang
ditandai dengan kurangnya empati (rasa iba) dan kontrol perilaku yang buruk
atau impulsif. Orang yang psikopat mengakibatkan penderitanya memiliki perilaku
antisosial dan cenderung melanggar aturan serta melakukan tindak kriminal atau
kekerasan (https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/psikopat/). Sebagai bukti kalau orang psikopat ada
kecenderungan untuk bertindak kriminal, tulisan di bawah ini menggambarkan penderita
psikopat bisa bertindak keji.
Kenapa
Gambir berbuat sekeji itu? Tujuh orang dalam satu malam melayang nyawanya
karena kegilaannya. Tuduhan bahwa dia anak gila bisa jadi terbukti kalau dia
dengan tanpa rasa kemanusiaan membunuh ibunya, istrinya, adik-adiknya, dan dua
orang sahabat karibnya. Gambir memang gila. Gambir telah melampiaskan sakit
hatinya pada orang-orang yang telah mengkhianati dirinya. Tapi, Gambir tidak
mungkin melakukan itu semua tanpa ada faktor-faktor penyebabnya. Orang-orang
terdekat Gambir seperti ibunya dan istrinya adalah orang-orang yang paling
tidak suka dengan keberadaan Gambir. Mereka sering berkamuflase untuk menutup
aib dirinya dan menimpakan kesalahan pada Gambir. Jauh sebelum itu, ayah
Gambir, dokter Koentoro atau dokter Koen, adalah seorang ayah yang kejam ketika
menghukum anaknya, Gambir. Ibunya, Menik Sasongko, juga sama. Mereka selalu
berkonspirasi ketika menghukum Gambir. Cara-cara keji yang diterima Gambir
semua terekam dalam ingatanya.
(Kota Gigantisme Produk Bangsa Berperilaku Degil oleh
Subagio S.Waluyo, 2022:412-413).
Mungkin banyak
orang yang penasaran seperti apa sih orang yang psikopat? Kalau disebutkan
orang yang psikopat adalah orang yang mengalami gangguan mental sehingga orang
tersebut kurang punya rasa empati. Selain itu, orang psikopat juga kurang bisa
mengontrol perilakunya yang buruk (impulsif). Saking impulsifnya seorang
psikopat bisa saja memiliki perilaku yang cenderung antisosial. Lebih jauh dari
itu, dia bisa saja melakukan tindakan-tindakan kriminal atau kekerasan yang
membahayakan. Kutipan-kutipan berikut ini membuktikan Gambir dalam novel Pintu
Terlarang (Sekar Ayu Asmara) sebagai
penderita psikopat yang tidak bisa mengontrol dirinya.
..............................................................................................
Bahagia.
Kebahagiaan. Apakah itu kebahagiaan? Aku tidak ingat lagi kapan aku merasakan
kebahagiaan.
(Pintu Terlarang, 2009:7)
.............................................................................................
Aku menyukai
kesendirianku. Kesendirianku adalah sebuah dunia di mana aku merasa nyaman. Di
mana aku merasa aman. Di dalam kesendirian, aku bisa menciptakan berbagai dunia
lain. Menciptakandunia seperti yang aku inginkan. Sebuah dunia yang terkadang
bisa membuatku bahagia.
(hlm. 8)
..............................................................................................
Kemarahan
Gambir sampai dipuncaknya. Ia memakukan belati tepat
ke jantung Damar. Dan adiknya pun terkulai tak bernyawa. Mata
Gambir kian merah menahan amarah. Gambir bangkit sambil menendang
jasad adiknya dengan kesal. Kata-kata terakhir adiknya mengiang
terus di telinga. Bagai-mana mungkin ibunya menyuruh adiknya
untuk berselingkuh dengan Talyda? Bagaimana mungkin?
(hlm.
223)
..................................................................................
Kamu gila,
Gambir. Kamu tidak waras....” Kata-kata
Menik Sasongko memberebet seperti knalpot tersumbat. Gambir menancapkan belati
ke jantung ibunya berkali-kali. Napas Gambir tersengal-sengal. Ia melihat mata
ibunya melotot. Dalam kematian pun, sorotan ibunya masih saja menghakimi
dirinya.Masih terus saja meremehkan kemampuannya. Menyepelekan karirnya.Di dua
sisi kehidupan yang berbeda—kehidupan dan kematian ibunya masih saja tidak bisa
menghargainya.
(hlm. 235)
............................................................................................
Dengan satu
gerakan secepat kilat Gambir menancapkan belati ke dada
Talyda. Mata Talyda membelalak, mulutnya mengeluarkan rintihan,
kepalanya terkulai. Ia tewas seketika. My guardian angel. Bidadari pelindungku.Bidadari sudah binasa di
tanganku. Tiadanikmat senikmat pembalasan. Wa-ha-ha-ha!!!
Tawa Gambir menggema pada dinding-dinding studio.
(hlm. 251-252)
..................................................................................................
Aku gila?
Jangan seenaknya menuduh. Bisa buktikan? Bisa buktikan kau
lebih waras dariku? Apa aku gila? Apa aku waras? Bisa ya. Bisa juga
tidak. Ooouuuwww!!!
(hlm. 264)
***
Masalah korupsi
adalah masalah yang tampaknya tidak habis-habisnya untuk dibahas. Konon
kabarnya untuk memberantas korupsi yang sudah menggurita di negara ini pemerintah
mempersilakan lembaga independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan
berbagai cara agar tindak pidana korupsi (tipikor) semakin berkurang. Korupsi
bukan makin berkurang malah makin merata di semua lini baik di dalam tubuh pemerintahan
maupun di luar pemerintahan. Kalau dulu korupsi cenderung tersentralisasi, kini
korupsi benar-benar terdesentralisasi. Ke depan urusan korupsi akan tambah runyam
karena KPK bukan lagi sebagai lembaga independen. KPK telah menjadi alat
pemerintah yang dikendalikan oleh pemerintah. Tidak aneh kalau ditemukan
kasus-kasus korupsi lebih cenderung tebang pilih. Padahal kita tahu sendiri
bahaya korupsi yang masif akan menciptakan ekonomi biaya tinggi seperti yang
disampaikan dalam tulisan berikut ini.
Praktek
korupsi yang terjadi menciptakan ekonomi biaya tinggi. Beban yang ditanggung
para pelaku ekonomi akibat korupsi disebut high cost economy. Dari
istilah pertama di atas terlihat bahwa potensi korupsi akan sangat besar
terjadi di negara-negara yang menerapkan kontrol pemerintah secara ketat dalam
praktek perekonomian alias memiliki kekuatan monopoli yang besar karena rentan
sekali terhadap penyalahgunaan. Yang disalahgunakan adalah perangkat-perangkat
publik atau pemerintahan. Yang diuntungkan adalah kepentingan-kepentingan yang
bersifat pribadi.
(Pendidikan Antikorupsi untuk Perguruan Tinggi oleh
Tim Penulis Buku Pendidikan Anti Korupsi, 2011:59)
Kutipan di atas mengajarkan
pada para mahasiswa kita tentang bahayanya korupsi. Di satu sisi diajarkan pada
mereka sesuatu yang idealis dan sekaligus teoritis. Di sisi lain mereka juga
menyaksikan betapa pimpinan di negara ini telah memberikan pelajaran yang
justru bertentangan. Karena itu, wajar-wajar saja kalau ada orang yang
mengkritisi maraknya korupsi di negara ini. Mereka bahkan membuat
ungkapan-ungkapan yang sebagian bisa memerahkan telinga orang yang membacanya.
Agar tidak timbul rasa penasaran, berikut ini kita simak ungkapan-ungkapan
tentang korupsi yang disampaikan oleh beberapa tokoh baik tokoh nasional
maupun tokoh internasional yang menarik untuk direnungkan.
Di pundak pemimpin yang bebas korupsi, di situlah masa depan negeri.
-Najwa Shihab
Dalam kondisi darurat korupsi, pejabat negara tetap
mencuri silih berganti. Sebanyak koruptor masuk penjara, sebanyak itu pula
regenerasinya menggarong negara.
-Najwa Shihab
Makin redup idealisme dan heroisme pemuda,
makin banyak korupsi.
-Soe Hok Gie
Membiarkan
terjadinya korupsi besar-besaran
dengan menyibukkan diri dengan ritus-ritus hanya akan berarti membiarkan
berlangsungnya proses pemiskinan bangsa yang semakin melaju. -Abdurrahman
Wahid
Titik bahaya dari korupsi tak cuma dilihat
persentase kebocoran uang tapi juga dari menipisnya kepercayaan kepada
bersihnya aparatur negara secara keseluruhan. -Goenawan Mohamad
Sebuah pemerintahan, yang hanya melindungi kepentingan bisnis saja, tak
lebih dari sekadar cangkang, dan segera runtuh sendiri oleh korupsi dan pembusukan. -Amos Bronson Alcott
Negara kita begitu mantap menunjukkan bagaimana jalan yang tepat untuk
lolos dari kehancuran, yaitu pertama dengan konsolidasi kekuasaan, dan
kemudian korupsi, itulah konsekuensi pentingnya. -Thomas Jefferson
Jadi dunia semuanya
kalau belajar mengenai korupsi,
belajar ke Indonesia. -Adnan Pandu Praja
(https://www.alonesia.com/humaniora/pr-1912096884/21-quotes-atau-ungkapan-tentang-korupsi)
***
Begitu banyak cara kita
memulai sebuah tulisan. Salah satunya dimulai dengan pernyataan-pernyataan yang
bombastis. Ketika orang melihat kejadian di Stadion Kanjuruhan yang memakan korban
sampai 135 orang meninggal dunia, kalimat apa yang paling tepat untuk
menyampaikannya? Bisa saja kita memulainya menulis: “Giliran polisi dan PSSI
yang di titik nadir sekarang.” Tapi, kita harus meneruskan kalimat tersebut
yang juga tidak kalah bombastis bunyinya: “Bagaimana tidak di titik nadir Kasus
Sambo saja membuat polisi sebagai penegak
hukum telah demikian melorot kewibawaannya?”. Masih mungkin saja bisa
diteruskan dengan: “Belum selesai Kasus Sambo, sekarang polisi dituding sebagai
biang kerok kerusuhan Stadion Kanjuruhan”. Jadi, kalau punya keinginan menulis,
kita pasti bisa melakukannya. Untuk itu, pada saat kita memulai menulis jangan
ditunda-tunda lagi. Tetap kuatkan niat kita untuk menulis. Fokus pada masalah
yang mau kita tulis. Usahakan jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar