8. AWALI DENGAN KUTIPAN (2)
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…. (Ar-Raad:11).
Potongan ayat Al-Quran di atas menjadi pemicu dan pemacu bagi umat Islam untuk mengubah nasib dirinya. Bahkan, ayat tersebut juga bisa dijadikan motivasi buat umat-umat lain untuk mengubah nasibnya. Yang jadi masalah masih banyak orang tidak berusaha melakukan perubahan nasib. Mereka cenderung fatalis. Banyak di antara mereka bersikap menerima nasib yang katanya sudah digariskan Tuhan. Kok, bisa tahu ya kalau nasibnya kurang baik atau buruk karena sudah digariskan Tuhan? Bukankah masalah mati, jodoh, dan nasib (rezeki) hanya Tuhan yang tahu? Atau jangan-jangan ini hanya ungkapan orang-orang yang kalah bersaing dalam mengais rezeki di muka bumi ini? Terlepas dari itu semua, kita jadikan uraian di atas sebagai bahan masukan untuk kita belajar menulis yang diawali dengan kutipan dari Al-Quran atau hadits-hadits Nabi.
***
Sebagai
langkah awal, coba kita masukkan potongan ayat itu ke kalimat pertama: Siapapun
orangnya, ketika mendengar bunyi ayat Quran `… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum
sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….` (Ar-Raad:11), pasti
tergerak hatinya untuk berusaha mengubah nasib dirinya. Setelah kalimat pertama dituliskan, kita coba kalimat
kedua: Hanya orang yang bebal tidak bisa menerima bunyi ayat tersebut atau
yang memang dalam hatinya ada penyakit. Di kalimat ketiga kita juga bisa
menuliskan: Jangankan mendengar bunyi ayat-ayat Quran, mereka juga sudah
tidak mempan lagi jika dinasihati. Sampai di sini kita perlu mengajukan
pertanyaan faktor penyebabnya sehingga mereka tidak mempan lagi jika
dinasihati. Kita bisa saja menuliskan seperti ini: Ada beberapa alasan yang
menyebabkan mereka tidak bisa menerima kebaikan, salah satunya boleh jadi
disebabkan oleh kemampuan berpikir logisnya (pendidikan rendah). Atau bisa juga
adanya faktor kejiwaan (rasa tinggi hati) yang menyebabkan mereka tidak mau
menerima kebaikan. Atau bisa juga disebabkan faktor lain seperti masih
adanya penyakit figuritas (siapa yang menyampaikannya). Kalau sudah
diketahui faktor penyebabnya, bagaimana solusinya. Bisa saja kita menulis
seperti ini: Berpatokan pada prinsip tidak ada paksaan dalam beragama,
sebagai sesama orang yang beragama yang paling penting kita sudah menyampaikan
kebaikan. Tentang orang mau menerimanya atau tidak sama sekali, itu bukan
urusan kita lagi. Sebagai tulisan pembuka yang terdiri atas satu paragraf,
itu sudah cukup. Langkah berikutnya, kita coba pindahkan kalimat-kalimat yang ditulis
miring itu sehingga terwujud sebuah paragraf utuh.
(1) Siapapun
orangnya, ketika mendengar bunyi ayat Quran `… Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri….`
(Ar-Raad:11), pasti tergerak hatinya untuk berusaha mengubah nasib dirinya. (2)
Hanya orang yang bebal tidak bisa menerima bunyi ayat tersebut atau yang memang
dalam hatinya ada penyakit. (3) Jangankan mendengar bunyi ayat-ayat
Quran, mereka juga sudah tidak mempan lagi jika dinasihati. (4) Ada beberapa
alasan yang menyebabkan mereka tidak bisa menerima kebaikan, salah satunya
boleh jadi disebabkan oleh kemampuan berpikir logisnya (pendidikan rendah). (5)
Atau bisa juga adanya faktor kejiwaan (rasa tinggi hati) yang menyebabkan
mereka tidak mau menerima kebaikan. (6) Atau bisa juga disebabkan
faktor lain seperti masih adanya penyakit figuritas (siapa yang
menyampaikannya). (7) Berpatokan pada prinsip tidak ada paksaan dalam
beragama, sebagai sesama orang yang beragama yang paling penting kita sudah
menyampaikan kebaikan. (8) Tentang orang mau menerimanya atau tidak sama
sekali, itu bukan urusan kita lagi.
***
`Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna` (Al-Hadits).
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari potongan hadits di atas? Kita
diminta untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Selama
memanfaatkan waktu, kita melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Kegiatan
yang bermanfaat di antaranya mengisi waktu-waktu kosong dengan banyak ingat
pada Sang Pencipta. Maksudnya, kita isi waktu kita dengan banyak berzikir dan
berdoa. Aktivitas itu bisa saja dilakukan ketika kita belajar atau bekerja.
Jadi, kita tidak harus mengkhususkan diri berjam-jam hanya melakukan zikir dan doa.
Kita bisa berlama-lama berzikir dan berdoa (disertai dengan salat malam
tentunya) hanya di waktu sepertiga malam (sekitar Pukul 02.00-03.30 menjelang
subuh). Di siang hari kita isi waktu kita dengan bekerja atau belajar. Dengan
cara demikian, kita menjadi seorang sufi di malam hari, tapi menjadi pekerja
atau penuntut ilmu yang tangguh di siang hari.
Kita tidak perlu berpanjang kalam meneruskan tulisan di atas karena yang mau kita tuju adalah bagaimana caranya memasukkan potongan hadits di atas ke dalam tulisan yang mau kita tulis. Sekarang kita coba saja masukkan hadits tersebut ke awal paragraf. Sebelumnya kita boleh memasukkan dulu sebuah frasa mendengar bunyi hadits di awal kalimat sehingga berbunyi: Mendengar bunyi hadits `Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna` (Al-Hadits) kita seperti diperingati agar memanfaatkan waktu dengan baik. Tentang memanfaatkan waktu kita jadi ingat substansi yang terdapat dalam Surat Al-Asr. Di surat tersebut ada peringatan bahwa semua manusia dalam kondisi merugi karena telah menyia-nyiakan waktu. Kita telah menulis tiga kalimat. Karena sudah bicara masalah waktu teruskan saja dengan kalimat ini: Agar kita tidak termasuk orang yang menyia-nyiakan waktu, kita harus mengisi waktu-waktu kita dengan yang bermanfaat. Jika ditanyakan aktivitas apa saja yang termasuk bermanfaat? Tulis saja: Salah satu aktivitas yang termasuk bermanfaat di antaranya adalah menolong sesama manusia yang memang membutuhkan pertolongan kita. Pernyataan ini masih bisa dilanjutkan dengan: Dalam hal ini termasuk orang-orang duafa, yaitu orang-orang yang lemah ekonominya dan pendidikannya. Orang-orang yang lemah baik dari sisi ekonomi maupun pendidikannya sangat mengharapkan bantuan kita. Dalam bentuk apa pertolongannya? Kita jawab: Bantuan yang kita berikan bisa berupa kebutuhan pokok. Tapi, ingat, tidak selamanya mereka kita bantu dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok karena hal itu dikhawatirkan memuncul kebiasaan meminta-minta. Kalau begitu apa dong yang bisa dibantu? Selain diberikan bantuan kebutuhan pokok, mereka juga perlu kita berdayakan melalui berbagai pelatihan. Pelatihan buat mereka berkaitan dengan pelatihan di bidang ekonomi. Bukankah masalah ekonomi merupakan kebutuhan yang paling mendasar buat mereka? Nah, dengan satu pertanyaan bisa dijawab dengan tiga kalimat panjang sehingga tanpa kita sadari ada dua belas kalimat yang ditulis dalam satu paragraf. Biar lebih jelas lagi, kita pindahkan semua kalimat yang diketik miring itu ke dalam satu paragraf utuh di bawah ini.
(1) Mendengar
bunyi hadits `Sebagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan
perkara yang tidak berguna` (Al-Hadits) kita seperti diperingati
agar memanfaatkan waktu dengan baik. (2) Tentang memanfaatkan waktu kita jadi ingat substansi
yang terdapat dalam Surat Al-Asr. (3) Di surat tersebut ada peringatan bahwa
semua manusia dalam kondisi merugi karena telah menyia-nyiakan waktu. (4) Agar
kita tidak termasuk orang yang menyia-nyiakan waktu, kita harus mengisi
waktu-waktu kita dengan yang bermanfaat. (5) Salah satu aktivitas yang termasuk
bermanfaat di antaranya adalah menolong sesama manusia yang memang membutuhkan
pertolongan kita. (6) Dalam hal ini termasuk orang-orang duafa, yaitu
orang-orang yang lemah ekonominya dan pendidikannya. (7) Orang-orang yang lemah
baik dari sisi ekonomi maupun pendidikannya sangat mengharapkan bantuan kita.
(8) Bantuan yang kita berikan bisa berupa kebutuhan pokok. (9) Tapi, ingat,
tidak selamanya kita membantu mereka dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok
karena hal itu dikhawatirkan memunculkan kebiasaan buruk, yaitu meminta-minta.
(10) Selain diberikan bantuan kebutuhan pokok, mereka juga perlu kita
berdayakan melalui berbagai pelatihan. (11) Pelatihan buat mereka berkaitan
dengan pelatihan di bidang ekonomi. (12) Bukankah masalah ekonomi merupakan
kebutuhan yang paling mendasar buat mereka?
***
`Maka
hendaklah kamu lurus seperti apa yang diperintahkan….`(Hud: 112).
Membaca potongan ayat di atas kita teringat dengan bunyi ayat di
As-Shaf:2-3 yang berbunyi:`Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi
Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan`. Kedua ayat yang
terdapat di Surat As-Shaf relevan substansinya dengan yang terdapat di Surat
Hud ayat 112, yaitu memerintahkan orang-orang yang beriman istiqomah atau dalam
bahasa populernya komitmen sekaligus konsisten. Dua kata: komitmen dan
konsisten yang ingin kita tuliskan dalam satu paragraf. Jadi, kita akan menulis
tentang dua kata kunci yang perlu ada pada setiap orang yang mengaku beriman.
Kita mulai tulisan kita dengan memasukkan bunyi ayat di atas: `Maka hendaklah kamu lurus seperti apa yang diperintahkan….` (Hud: 112). Boleh juga kita tulis: Bunyi Surat Hud: 112, `Maka hendaklah kamu lurus seperti apa yang diperintahkan….` tampaknya merupakan isyarat yang ditujukan kepada kita semua agar bersikap konsisten terhadap komitmen yang kita keluarkan. Mengapa? Dalam kehidupan sehari-hari kita demikian mudah mengeluarkan sebuah komitmen. Tapi, apakah kita konsisten terhadap komitmen yang kita sampaikan? Bagaimana kenyataannya? Jujur saja, kita cenderung untuk tidak konsisten terhadap komitmen yang telah terlanjur kita sampaikan. Akibatnya, orang kecewa terhadap perilaku kita dan tidak mustahil mereka melabeli kita sebagai pembohong. Selanjutnya, apa yang terjadi? Kalau sudah dicap seperti itu, ke depannya sulit bagi kita membersihkan nama baik kita. Kita susah untuk membangun kembali kepercayaan orang pada kita. Kalau begitu, apa yang perlu kita lakukan? Untuk itu, kita harus berhati-hati terhadap setiap komitmen yang kita sampaikan agar tidak terjadi yang tidak kita inginkan. Sebagai langkah akhir, kita tulis kembali semua yang ditulis miring di atas itu ke dalam sebuah tulisan sehingga terwujud menjadi sebuah paragraf utuh.
(1) Bunyi Surat Hud: 112, `Maka hendaklah kamu lurus seperti apa yang diperintahkan….` tampaknya merupakan isyarat yang ditujukan kepada kita semua agar bersikap konsisten terhadap komitmen yang kita keluarkan. (2) Dalam kehidupan sehari-hari kita demikian mudah mengeluarkan sebuah komitmen. (3) Tapi, apakah kita konsisten terhadap komitmen yang kita sampaikan? (4) Jujur saja, kita cenderung untuk tidak konsisten terhadap komitmen yang telah terlanjur kita sampaikan. (5) Akibatnya, orang kecewa terhadap perilaku kita dan tidak mustahil mereka melabeli kita sebagai pembohong. (6) Kalau sudah dicap seperti itu, ke depannya sulit bagi kita membersihkan nama baik kita. (7) Kita susah untuk membangun kembali kepercayaan orang pada kita. (8) Untuk itu, kita harus berhati-hati terhadap setiap komitmen yang kita sampaikan agar tidak terjadi yang tidak kita inginkan.
***
`Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam`
(Al-Hadits).
Ingat bunyi hadits di atas, ingat peribahasa yang mengatakan berjalan
pelihara kaki, berbicara pelihara lisan (ucapan). Ada juga yang mengatakan
pelihara diksi. Maksudnya, kalau mau berbicara pilih kata yang paling tepat
agar orang yang diajak bicara tidak tersinggung. Kalau tidak bisa bicara baik
atau tidak bisa memilih kata dengan baik, lebih baik kita diam saja. Kalau
masih juga mau bicara, nanti kita berbicaranya cenderung ngalor-ngidul, tidak karuan. Jangan sampai
nanti ada stigma buat kita orang seperti peribahasa yang mengatakan `tong
kosong nyaring bunyinya`. Artinya, orang yang banyak bicara menunjukkan orang
yang tidak berbobot ucapannya. Bisa juga dikatakan orang yang tidak memiliki
intelektual yang memadai.
Menarik juga bunyi hadits di atas kalau kita masukkan di awal kalimat: `Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam`. Demikian bunyi hadits yang berkaitan dengan salah satu karakteristik orang beriman. Jadi, orang beriman itu ketika berbicara harus pandai memilih kata (diksi) supaya lawan bicaranya tidak tersinggung. Kalimat keempat boleh juga diberikan stimulus dengan kalimat tanya, bagaimana caranya? Untuk bisa mewujudkannya, biasakan orang tersebut belajar bicara yang baik. Salah satu di antaranya berpuasa karena dengan berpuasa orang belajar menahan hawa nafsu. Bagaimana kalau sudah berpuasa masih saja tidak bisa menahan ucapan? Kalau masih saja belum ada perubahan, boleh jadi orang tersebut baru memahami puasa itu sebatas menahan lapar dan haus. Padahal? Puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga menahan berkata yang tidak baik. Apakah masih ada yang lainnya? Selain itu, orang tersebut juga harus banyak belajar dari pengalaman hidupnya ketika pernah berkata yang tidak baik. Atau dia juga harus belajar dari orang lain akibat tidak bisa berkata baik. Ada yang lebih penting? Dia juga harus mau menerima nasihat dari orang lain manakala pernah melakukan kesalahan yang diakibatkan oleh perkataannya yang tidak baik. Akhirnya, kita pindahkan saja kalimat-kalimat di atas yang diketik miring itu ke dalam sebuah paragraf utuh.
(1) `Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam`. (2) Demikian bunyi hadits yang berkaitan dengan salah satu karakteristik orang beriman. (3) Jadi, orang beriman itu ketika berbicara harus pandai memilih kata (diksi) supaya lawan bicaranya tidak tersinggung. (4) Untuk bisa mewujudkannya, biasakan orang tersebut belajar bicara yang baik. (5) Salah satu di antaranya berpuasa karena dengan berpuasa orang belajar menahan hawa nafsu. (6) Kalau masih saja belum ada perubahan, boleh jadi orang tersebut baru memahami puasa itu sebatas menahan lapar dan haus. (7) Puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan haus, tapi juga menahan berkata yang tidak baik. (8) Selain itu, orang tersebut juga harus banyak belajar dari pengalaman hidupnya ketika pernah berkata yang tidak baik. (9) Atau dia juga harus belajar dari orang lain akibat tidak bisa berkata baik. (10) Dia juga harus mau menerima nasihat dari orang lain manakala pernah melakukan kesalahan yang diakibatkan oleh perkataannya yang tidak baik.
Tanpa terasa kita telah menulis sebuah paragraf yang terdiri atas
sepuluh kalimat. Nanti dari paragraf tersebut masih mungkin dikembangkan
menjadi sebuah wacana. Jadi, untuk bisa menulis sebuah paragraf kita harus fokus
pada masalah yang kita bahas. Kita fokus pada berbicara baik atau diam. Kita
juga harus konsisten pada komitmen awal bahwa yang mau kita tulis adalah dua
hal: berbicara baik atau diam. Dengan cara demikian, pada saat menulis kita
seolah-olah dituntun supaya mengarah pada kedua hal tersebut.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar