10. AWALI DENGAN KUTIPAN (4)
Subagio S. Waluyo
Lirik pada lagu sama saja dengan puisi. Terkadang lirik lagu banyak juga yang bernilai sastra. Lirik-lirik lagu Ebiet G. Ade, misalnya, sebenarnya kalau ditelisik merupakan puisi yang dinyanyikan. Terkadang, lirik-lirik lagu Ebiet susah dipahami maknanya. Untuk bisa menyanyikan lirik-lirik lagunya memang mudah. Tapi, tidak semudah kita mengapresiasikannya. Terbayang di benak kita, bagaimana Ebiet menuliskan lirik-lirik lagunya? Tentu Ebiet perlu berimajinasi dan berkontemplasi untuk menuangkan kata-katanya ke dalam lirik-lirik lagunya. Ebiet juga perlu banyak mempelajari fenomena sosial dan juga filsafat (bahkan agama sekalipun). Agar lirik-lirik lagunya benar-benar berbobot, dia padukan semua itu dengan aransemen musik yang siap untuk dinyanyikan. Kita pun tanpa disadari terbawa arus alunan lirik-lirik lagunya sehingga kita tidak sadar bahwa yang juga kita lantunkan lirik-lirik lagunya sebenarnya merupakan puisi-puisi yang bernuansa nilai-nilai sastra. Kita cukupkan saja pembicaraan kita tentang lirik-lirik lagu yang bernuansa sastra. Kita fokus saja pada puisi yang akan kita coba mengembangkannya menjadi sebuah tulisan berikut ini.
***
HAMPA
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
Karya:
Chairil Anwar
Puisi di atas
lebih menggambarkan tentang kesepian. Tapi, Chairil Anwar menuliskan judul
puisinya `Hampa`. `Hampa` juga bisa diartikan `sepi`. Bahkan, kata `hampa` bisa
lebih luas daripada kata `sepi` itu sendiri karena bisa diartikan `tidak
bergairah`, `sia-sia`, `tidak berisi` atau `kosong`, dan bisa juga diartikan
`bodoh` atau `tidak berpengetahuan` (KBBI,1999:338). Kita tidak perlu
berpanjang kalam tentang judul puisi di atas. Yang mau kita bahas adalah cara
kita menjadikan puisi di atas sebagai bahan menulis paragraf. Kita mulai saja
dari untaian puisi di atas yang berbunyi: Sepi di luar. Sepi menekan mendesak./ Lurus kaku pohonan. Tak bergerak/Sampai ke puncak. Dari untaian tersebut kita menulis: Chairil mencoba
mengungkapkan kesepian dengan kata-kata yang cenderung berlebihan (hiperbola): Sepi
di luar. Sepi menekan mendesak./Lurus
kaku pohonan. Tak bergerak/Sampai
ke puncak. Jadi, suasana yang
digambarkan Chairil memang benar-benar sepi sampai-sampai pepohonan pun tidak
bergerak. Kemudian
kita bisa menuliskannya seperti ini: Bisa dibayangkan
kalau pepohonan sampai sama sekali tidak bergerak berarti suasananya sudah
benar-benar seperti stagnan, mati. Kalau begitu, apa yang akan terjadi: Suasana
seperti itu akan membikin orang semakin galau karena biar bagaimana pun manusia
membutuhkan suasana yang hidup. Suasana yang hidup setidaknya memunculkan
kedinamisan. Di sini tidak ada kedinamisan: Dengan
demikian, kesepian itu sebuah kematian atau keterasingan sebagaimana diungkap
oleh Chairil di puisi “Sia-Sia” yang di akhir puisinya ia mengungkapkan ...Ah
hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi. Dengan hanya mengutip tiga baris dari puisi `Hampa` di
atas sudah bisa ditulis satu paragraf. Berikut ini bisa kita lihat hasilnya.
(1) Chairil mencoba mengungkapkan kesepian dengan
kata-kata yang cenderung berlebihan
(hiperbola): Sepi di luar. Sepi
menekan mendesak./Lurus
kaku pohonan. Tak bergerak/Sampai
ke puncak.
(2) Jadi, suasana yang digambarkan Chairil memang
benar-benar sepi sampai-sampai pepohonan pun tidak bergerak. (3) Bisa
dibayangkan kalau pepohonan sampai sama sekali tidak bergerak berarti
suasananya sudah benar-benar seperti stagnan, mati. (4) Suasana seperti itu
akan membikin orang semakin galau karena biar bagaimana pun manusia membutuhkan
suasana yang hidup. (5) Suasana
yang hidup setidaknya memunculkan kedinamisan. (6)
Dengan
demikian, kesepian itu sebuah kematian atau keterasingan sebagaimana diungkap
oleh Chairil di puisi “Sia-Sia” yang di akhir puisinya ia mengungkapkan ...Ah
hatiku yang tak mau memberi/mampus kau dikoyak-koyak sepi.
***
BUNGLON
Beni
Guntarman
Bunglon, sang penyamar hati di
pohon kekuasaan
pada warna siapa yang berkuasa
ia 'kan menyesuaikan warna diri
lincah berkelebat dari dahan ke
dahan, dari periode ke periode kekuasaan
terus menjadi ekor, dan kerap
bermimpi menjadi sang pelopor
meski hakikat diri hanyalah
alat kekuasaan yang kotor
Bunglon, sang penyamar hati di
pohon kekuasaan
kokoh berlindung dalam
warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik
diam-diam merasa bosan pada
keangkuhan kayu dan dedaunan
coba berjuang menjadi pelopor
perubahan
memaksakan warna kehendak diri
pada pohon besar di pelataran singgasana
namun kayu tetaplah kayu, daun
tetaplah daun yang selalu menghijau
tak sudi menjadi pengikut
bunglon
Bunglon, sang penyamar hati di
pohon kekuasaan
dunia dalam satu warna yang ada
di benaknya
ketika berhadapan dengan
tantangan kehidupan nyata
bunglon selalu kehilangan
ekornya!
(http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/bunglon)
Puisi lahir
dari hasil pengamatan, perenungan, dan pengimajinasian sang penyair. Sang
penyair mengamati alam sekitarnya. Salah satu yang tidak luput dari pengamatan
penyair adalah binatang reptil yang hidup di pepohonan. Binatang ini sering
berganti-ganti warna tubuhnya sesuai dengan tempat dia hinggap. Orang menamakan
binatang reptil ini: bunglon. Perilaku binatang ini yang kerap berubah-ubah
warna tubuhnya dimisalkan sebagai perilaku orang yang tidak jelas sikap atau
pendiriannya. Kita bisa menamakan orang jenis ini sebagai munafik atau
hipokrit. Jadi, orang yang sering berubah sikap atau orang yang bisa
menyesuaikan diri di manapun dia berada bisa dikiaskan seperti bunglon.
Berdasarkan puisi di atas, sekarang kita masukkan kata `bunglon` ke dalam tulisan. Kita bisa memulainya menulis: Mendengar kata `bunglon` terbayang di benak kita jenis binatang reptil yang kerap berubah warna tubuhnya sesuai dengan alam di sekitarnya. Kita coba teruskan menulis: Saking mudahnya berubah warna tubuhnya, kita sering terkecoh keberadaan sang bunglon. Tidak mustahil bunglon yang kita cari sebenarnya ada di hadapan kita. Karena kita sering terkecoh oleh binatang reptil itu, kita tulis saja: Perilaku bunglon yang sering membikin orang terkecoh itu persis sama dengan orang-orang hipokrit. Siapa itu orang-orang hipokrit? Untuk menjawab pertanyaan itu, coba kita kutip saja dengan sedikit tambahan di awal kalimat: Orang-orang hipokrit di antaranya adalah orang-orang yang disebut sang penyamar hati di pohon kekuasaan. Orang-orang yang di pohon kekuasaan itu kokoh berlindung dalam warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik. Apa yang terjadi selanjutnya? Mereka ini yang `berperan ganda` dari periode ke periode kekuasaan yang kerap bermimpi menjadi sang pelopor. Tapi, yang perlu kita ketahui: Mereka ini sebenarnya hanyalah alat kekuasaan yang kotor. Cukup satu bait puisi kita ambil. Selebihnya, bisa kita teruskan pada saat menulis sebuah wacana. Sekarang kita tulis secara utuh sebuah paragraf yang bahannya merupakan sebagian kutipan puisi di atas.
(1) Mendengar kata `bunglon` terbayang di
benak kita jenis binatang reptil yang kerap berubah warna tubuhnya sesuai
dengan alam di sekitarnya. (2) Saking mudahnya berubah warna tubuhnya, kita
sering terkecoh keberadaan sang bunglon. (3) Tidak mustahil bunglon yang kita
cari sebenarnya ada di hadapan kita. (4) Perilaku bunglon yang sering membikin
orang terkecoh itu persis sama dengan orang-orang hipokrit. (5) Orang-orang hipokrit di antaranya adalah
orang-orang yang disebut sang penyamar hati di pohon kekuasaan. (6) Orang-orang yang di pohon kekuasaan itu kokoh berlindung dalam warna-warni hiruk-pikuk percaturan politik. (7) Mereka ini yang `berperan ganda` dari periode ke periode
kekuasaan yang kerap
bermimpi menjadi sang pelopor. (8) Mereka
ini sebenarnya hanyalah
alat kekuasaan yang kotor.
***
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Hartojo
Andangdjaja
Apa yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-----horison yang selalu baru bagiku----
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
Untuk mengenal ini semua
(Solo, 1955)
Berbicara tentang guru tentu saja tidak akan melepaskan diri dari kehidupannya sehari-hari. Justeru, sisi-sisi kehidupan seorang guru adalah sisi-sisi kehidupan yang paling menarik. Sisi-sisi kehidupannya yang demikian luas dari aktivitasnya sebagai guru, yang setiap kali tidak lepas dari dunia buku dan kurikulum sampai dengan kehidupannya di rumah tangga. Sisi-sisi kehidupan seorang guru tidak akan selesai hanya dengan berpuluh-puluh seminar. Dengan sekian banyak seminar tidak akan terkupas sisi-sisi unik kehidupan seorang guru. Kehidupan seorang guru akan lebih efektif jika dituliskan dalam bentuk karya seni (Iwan Falls yang meneriakkan sosok Umar Bakri lebih menyentuh perasaan manusia bila dibandingkan dengan seminar tentang guru). Jadi, melalui sebuah karya seni, baik dalam wujud syair lagu, seperti Iwan Falls yang telah menampilkan sosok Umar Bakri, cerpen-cerpen, novel-novel, maupun puisi-puisi akan lebih banyak menyentuh perasaan manusia.
Berkaitan dengan guru yang hidupnya memang tidak lepas dari buku, Hartojo Andangdjaja menulis: Apa yang kupunya, anak-anakku/selain buku-buku dan sedikit ilmu/sumber pengabdianku kepadamu. Baris pertama pada puisi itu bisa dikatakan guru sebagai: Sosok egaliter yang tampak pertama kali kita tangkap di baris pertama. Guru memang sosok egaliter. Saking egaliternya muncul perkataan yang disampaikan di hadapan murid-muridnya `apa yang kupunya anak-anakku`. Karena hanya seorang guru, ia mengakui kalau: Sebagai akademikus, seorang guru hanya berucap, `selain buku-buku dan sedikit ilmu`. Ucapan itu pun masih terkesan egaliter, bukan?. Tentu saja itu merupakan sebuah fakta bahwa bukankah hanya bermodalkan buku dan sedikit ilmu dia mengabdikan dirinya sehingga terlontar dari ungkapan sang penyairnya: `sumber pengabdianku kepadamu`. Dengan kata lain boleh juga ditulis di sini: Dengan bermodalkan buku-buku dan sedikit ilmu dia mentransfer ilmunya ke anak-anak didiknya. Akhirnya, supaya terwujud sebuah paragraf, langkah berikutnya kita tulis saja paragrafnya.
(1) Hartojo
Andangdjaja menulis: Apa yang kupunya, anak-anakku/selain buku-buku dan
sedikit ilmu/sumber pengabdianku kepadamu. (2) Sosok egaliter yang tampak
pertama kali kita tangkap di baris pertama. (3) Saking egaliternya muncul
perkataan yang disampaikan di hadapan murid-muridnya `apa yang kupunya
anak-anakku`. (4) Sebagai akademikus, seorang guru hanya berucap, `selain buku-buku dan sedikit ilmu`. (5)
Ucapan itu pun masih terkesan egaliter, bukan? (6) Bukankah hanya bermodalkan
buku dan sedikit ilmu dia mengabdikan dirinya sehingga terlontar dari ungkapan
sang penyairnya: `sumber pengabdianku kepadamu`. (7) Dengan bermodalkan
buku-buku dan sedikit ilmu dia mentransfer ilmunya ke anak-anak didiknya.
***
DI BAWAH SELIMUT KEDAMAIAN PALSU
Wiji
Thukul
apa gunanya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam
melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam
melulu
(https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/158831-puisi-wiji-thukul
`apa gunanya ilmu/kalau hanya untuk mengibuli/apa guna baca buku/ kalau
mulut kau bungkam melulu`, tulis Wiji Tukul di puisinya `Di Bawah
Selimut Kedamaian Palsu`. Apakah seorang akademikus perlu tersingung? Tapi,
itu sebuah kenyataan bukan kalau seorang akademikus yang tidak menggunakan
ilmunya untuk menegakkan kebenaran. Sebaliknya, jutru mereka gunakan ilmunya
untuk mengibuli. Bukan hanya itu, Wiji juga menambahkan, `apa guna
baca buku/ kalau mulut kau bungkam melulu`. Artinya, seorang akademikus
ketika melihat adanya ketimpangan cenderung diam, bungkam mulutnya. Kalau
memang begitu ajukan saja pertanyaan: Bukankah buku-buku yang dibaca dan
dikajinya membentuk seorang dirinya sebagai seorang akademikus? Sesuai
dengan kapasitasnya sebagai akademikus: Jadi, seorang akademikus yang kerap
melakukan berbagai kajian seharusnya berani mengatakan yang benar itu benar dan
yang salah itu salah. Dengan mengutip empat baris saja kita sudah membuat
satu paragraf utuh dan terpadu. Buktinya bisa dilihat pada paragraf di bawah
ini.
(1) `apa gunanya ilmu/kalau hanya untuk
mengibuli/apa guna baca buku/ kalau mulut kau bungkam melulu`, tulis Wiji
Tukul di puisinya `Di Bawah Selimut
Kedamaian Palsu`. (2) Tapi, itu sebuah kenyataan bukan kalau seorang akademikus
yang tidak menggunakan ilmunya untuk menegakkan kebenaran. (3) Sebaliknya,
justru mereka gunakan ilmunya untuk mengibuli. (4) Wiji juga menambahkan, apa guna baca buku/
kalau mulut kau bungkam melulu`. (5) Artinya, seorang akademikus ketika
melihat adanya ketimpangan cenderung diam, bungkam mulutnya. (6) Bukankah
buku-buku yang dibaca dan dikajinya membentuk seorang dirinya sebagai seorang
akademikus? (7) Jadi, seorang akademikus yang kerap melakukan berbagai
kajian seharusnya berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu
salah.
Empat puisi yang kita tampilkan di atas sudah cukup dijadikan contoh
untuk menulis paragraf pembuka. Karena hanya sebuah paragraf pembuka, kita
cukup memasukkan tiga sampai empat baris di setiap judul puisi. Nanti pada
langkah berikutnya ketika menulis sebuah wacana, kita akan mengutip dari setiap
puisi di atas baik seluruh baris yang ada pada puisi tersebut maupun sebagian
saja. Dengan cara seperti itu kita belajar menulis wacana utuh dan sekaligus
belajar mengapresiasi puisi. Bukankah ini seuai dengan peribahasa yang
mengatakan, `sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui`?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar