13. DIPANCING PAKAI GAMBAR KARIKATUR
Subagio S.Waluyo
Setelah mencoba menulis paragraf dipancing dengan gambar ilustrasi, sekarang kita mencoba menulis paragraf yang juga dipancing dengan gambar karikatur. Menulis paragraf, baik dipancing dengan gambar ilustrasi maupun karikatur pada prinsipnya sama. Sama-sama di tahap pertama kita mengamati gambar tersebut. Nanti dari hasil pengamatan kita menyimpulkan gambar ilustrasi yang dijadikan objek tulisan berisikan tentang, misalnya, perilaku konsumtif. Untuk gambar karikatur selain mengamati gambar juga ada kata-kata yang tercantum di situ, misalnya, pada gambar karikatur di atas tertulis `Hari Anak`. Selain itu, pada gambar karikatur ada misi tertentu yang ingin disampaikan oleh sang karikaturis, yaitu kritik sosial buat kalangan tertentu. Dalam hal ini kalangan tertentu bisa pemerintah, pengusaha, tokoh-tokoh nasional, masyarakat, kalangan pendidik, orang tua, atau bisa juga kalangan anak-anak milineal. Jadi, semua pihak bisa dijadikan sasaran kritik.
Salah satu bentuk kritikan yang dilakukan karikaturis adalah gambar karikatur yang terdapat di atas. Dari gambar karikatur tersebut sekarang kita mencoba menuliskan kalimat pertamanya:
|
(1) Masalah-masalah penyimpangan sosial sering dijadikan objek oleh
karikaturis untuk menyampaikan kritik sosialnya. |
Dalam bentuk apa kritik sosialnya?
|
(2) Kritik sosial yang disampaikan karikaturis disalurkan melalui
gambar-gambar karikatur yang dimuat di berbagai media massa, baik media cetak
maupun online. |
Bisa dibuktikan?
|
(3) Gambar karikatur di atas, misalnya, merupakan salah satu cara
menyampaikan kritik sosial sang karikaturis. |
Terus apa lagi?
|
(4) Gambar karikatur tersebut tampaknya dibuat dalam rangka merayakan
Hari Anak. |
|
(5) Hal itu jelas terlihat di layar TV yang terdapat di gambar
karikatur itu. |
Masih adakah yang menarik selain yang tampak di layar TV?
|
(6) Anak yang sedang makan sambil nonton TV terlihat menangis dan
berteriak-teriak. |
|
(7) Sementara itu, kedua orang tuanya dengan gawainya asyik
bersilancar di dunia maya. |
Apa salahnya kalau mereka bersilancar di dunia maya?
|
(8) Bersilancar di dunia maya tidak ada salahnya asalkan anak juga
mendapat perhatian. |
|
(9) Jangan karena asyik bersilancar di dunia maya sampai-sampai kurang
perhatian pada anak? |
Kalau sudah dirasakan cukup, kita tulis kembali semua kalimat bernomor itu sehingga menjadi sebuah paragraf.
|
(1) Masalah-masalah penyimpangan sosial sering dijadikan objek oleh
karikaturis untuk menyampaikan kritik sosialnya. (2) Kritik sosial yang disampaikan karikaturis
disalurkan melalui gambar-gambar karikatur yang dimuat di berbagai media
massa, baik media cetak maupun online. (3) Gambar karikatur di atas, misalnya, merupakan salah satu cara
menyampaikan kritik sosial sang karikaturis. (4) Gambar karikatur tersebut
tampaknya dibuat dalam rangka merayakan Hari Anak. (5) Hal itu jelas terlihat
di layar TV yang terdapat di gambar karikatur itu. (6) Anak yang sedang makan
sambil nonton TV terlihat menangis dan berteriak-teriak. (7) Sementara itu,
kedua orang tuanya dengan gawainya asyik bersilancar di dunia maya. (8)
Bersilancar di dunia maya tidak ada salahnya asalkan anak juga mendapat
perhatian. (9) Jangan karena asyik bersilancar di dunia maya sampai-sampai
kurang perhatian pada anak? |
Berbicara otonomi daerah
tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan pemekaran daerah. Sejak diberlakukannya
UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sampai dengan saat ini (dalam
kurun waktu kurang dari 25 tahun sudah tiga kali perubahan UU Pemerintahan
Daerah) ada sebanyak 215 daerah otonom baru yang terdiri atas 173 kabupaten dan
42 kota. Sedangkan provinsi juga bertambah yang semula di masa Orde Baru ada 27
di masa Reformasi ada 37 provinsi. Daerah-daerah yang dimekarkan ada yang
berhasil, ada juga yang dinilai kurang berhasil. Di satu sisi, pemekaran daerah
lebih menunjukkan adanya dinamika politik masyarakat di daerah yang memang dari
hasil penelitian layak untuk dimekarkan. Di sisi lain, juga tidak luput adanya
kepentingan politis para pengambil kebijakan, baik di pusat maupun di daerah
yang cenderung untuk memenuhi syahwat politiknya.
Berangkat dari uraian di atas, kita akan coba menulis di seputar pemekaran daerah yang tidak luput dari adanya kepentingan politik. Kita mulai saja menuangkan gagasan kita.
|
(1) Kalau kita melihat karikatur tersebut, kita akan bisa
mengambil kesimpulan bahwa pemekaran
daerah itu lebih merupakan kemauan penguasa dan pengusaha. |
|
(2) Tidak salah juga kalau dikatakan pemekaran daerah itu wujud dari
implementasi pemuasan syahwat politik. |
Pemekaran daerah merupakan kemauan penguasa dan pengusaha? Selain itu, juga wujud dari implementasi
pemuasan syahwat politik. Kenapa?
|
(3) Mereka (penguasa dan pengusaha) dengan adanya desentralisasi
mengambil kesempatan (perilaku aji mumpung) untuk berebut keuntungan
yang namanya kue otonomi daerah. |
Kalau begitu, siapa yang paling berperan dalam pemekaran daerah itu?
|
(4) Di mana-mana yang namanya pemekaran daerah yang paling getol
melempar isyu ya...siapa lagi kalau bukan anggota dewan yang didukung
pengusaha di belakang layar (sengaja di-hidden-kan). |
Dengan adanya pemekaran daerah yang jelas-jelas menunjukkan adanya konspirasi penguasa dan pengusaha, apakah akan berdampak ke depannya?
|
(5) Karena itu, kalau pemekaran daerah menyisakan sekian banyak dampak
negatif, hal itu lebih disebabkan oleh nafsu serakah mereka yang demikian
bernafsu untuk melampiaskan syahwat politiknya. |
Jika sudah dirasakan cukup, langkah terakhir kita salin kembali kalimat-kalimat bernomor di atas menjadi satu paragraf utuh.
|
(1) Kalau kita melihat karikatur tersebut, kita akan bisa mengambil kesimpulan bahwa pemekaran daerah itu lebih
merupakan kemauan penguasa dan pengusaha. (2) Tidak salah juga kalau
dikatakan pemekaran daerah itu wujud dari implementasi pemuasan syahwat
politik. (3) Mereka (penguasa dan pengusaha) dengan adanya desentralisasi
mengambil kesempatan (perilaku aji mumpung) untuk berebut keuntungan
yang namanya kue otonomi daerah. (4) Di mana-mana yang namanya pemekaran
daerah yang paling getol melempar isyu ya...siapa lagi kalau bukan anggota
dewan yang didukung pengusaha di belakang layar (sengaja di-hidden-kan).
(5) Karena itu, kalau pemekaran daerah menyisakan sekian banyak dampak
negatif, hal itu lebih disebabkan oleh nafsu serakah mereka yang demikian
bernafsu untuk melampiaskan syahwat politiknya. |
Karikatur di atas di atas dibuat oleh sang maestro di
bidang karikatur. Siapa lagi kalau bukan GM Sudarta? GM Sudarta dikenal sebagai
karikaturis profesional yang sudah melalang buana di bidang pembuatan
karikatur. GM Sudarta berulang kali mendapat penghargaan di bidang karikatur.
Dimulai dari Hadiah II Lomba Kartun PWI (1967) sampai dengan Penghargaan Budaya
Adi Karsa dari Dewan Kesenian Klaten (2005). Selama kurun waktu 38 tahun
(1967—2005) GM Sudarta mendapat 13 penghargaan di bidang karikatur (https://id.wikipedia.org/wiki/ Gerardus_Mayela_Sudarta). GM Sudarta dalam pembuatan karikaturnya selalu
menggunakan nama unik di sudut kanan atas `Omm Pasikom`. Meskipun gambar
karikaturnya berisi kritik, GM Sudarta tetap membuat
penikmatnya tersenyum.
Salah satu karyanya yang akan kita jadikan objek dalam penulisan paragraf kali ini adalah yang berkaitan dengan `rasa malu sebagai bangsa miskin`. Kita mulai saja menulis.
|
(1) Oom Pasikom mengajukan pertanyaan yang menyentil tentang kenapa
harus malu mengakui sebagai bangsa miskin. |
Satu hal yang tampaknya gengsi juga kalau sebuah bangsa besar yang kaya
dengan SDA dan SDM mengakui kekurangannya. Termasuk mengakui kalau bangsanya
tergolong miskin.
|
(2) Padahal, negara ini ketika dalam kondisi tertentu ketika ada
pandemi Covid-19, misalnya, memberikan secara cuma-cuma Bantuan Langsung
Tunai (BLT). |
Masih ada lagi selain itu
yang diberikan?
|
(3) Selain BLT, masih di masa pandemi Covid-19 rakyat diberikan beras
miskin (raskin). |
|
(4) Cuma itu, mentang-mentang buat orang miskin, beras yang diberikan
juga rasanya tidak karuan alias jelek kualitasnya. |
Bagaimana cara memperoleh
raskin yang tidak karuan rasanya itu?
|
(5) Untuk memperoleh raskin yang tidak karuan juga orang-orang miskin
itu harus punya kartu miskin. |
Dengan kartu miskin tentu
juga ada manfaatnya buat mereka dong!
|
(6) Orang-orang miskin yang mendapat kartu miskin selain mendapat BLT
dan Raskin juga bisa memanfaatkan kartunya untuk mendapat bantuan kalau
sewaktu-waktu mereka mengurus biaya pendidikan atau kesehatan. |
Dengan demikian, apakah
mereka benar-benar diperhatikan nasibnya oleh negara?
|
(7) Tapi, namanya juga orang-orang miskin, orang-orang yang
teralienasi tetap saja ketika mengurus keringanan biaya pendidikan atau
kesehatan terkendala oleh aturan-aturan birokratis yang pada akhirnya mereka
menyerah alias tidak mau lagi berurusan dengan pejabat-pejabat terkait di
negeri ini. |
|
(8) Begitulah nasib anak bangsa yang teralienasi, yang tidak pernah
memperoleh kesejahteraan hidup yang sesungguhnya walaupun bunyi sila kelima
Pancasila itu: `Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia`. |
Kalau begitu, ditulis saja sebagai penutup paragrafnya.
|
(9) Meskipun teralienasi, masih ada kesempatan buat mereka menjadi TKI. |
|
(10) Karena dengan menjadi TKI, mereka akan mendapat gelar `Pahlawan
Devisa`. |
|
(1) Oom Pasikom mengajukan pertanyaan yang menyentil tentang kenapa
harus malu mengakui sebagai bangsa miskin. (2) Padahal, negara ini ketika
dalam kondisi tertentu ketika ada pandemi Covid-19, misalnya, memberikan
secara cuma-cuma Bantuan Langsung Tunai (BLT). (3) Selain BLT, masih di masa
pandemi Covid-19 rakyat diberikan beras miskin (raskin). (4) Cuma itu,
mentang-mentang buat orang miskin, beras yang diberikan juga rasanya tidak
karuan alias jelek kualitasnya. (5) Untuk memperoleh raskin yang tidak karuan
juga orang-orang miskin itu harus punya kartu miskin. (6) Orang-orang miskin
yang mendapat kartu miskin selain mendapat BLT dan Raskin juga bisa
memanfaatkan kartunya untuk mendapat bantuan kalau sewaktu-waktu mereka
mengurus biaya pendidikan atau kesehatan. (7) Tapi, namanya juga orang-orang
miskin, orang-orang yang teralienasi tetap saja ketika mengurus keringanan
biaya pendidikan atau kesehatan terkendala oleh aturan-aturan birokratis yang
pada akhirnya mereka menyerah alias tidak mau lagi berurusan dengan
pejabat-pejabat terkait di negeri ini. (8) Begitulah nasib anak bangsa yang
teralienasi, yang tidak pernah memperoleh kesejahteraan hidup yang
sesungguhnya walaupun bunyi sila kelima Pancasila itu: `Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia`. (9) Meskipun teralienasi, masih ada kesempatan
buat mereka menjadi TKI. (10) Karena dengan menjadi TKI, mereka akan mendapat gelar
`Pahlawan Devisa`. |
Gambar karikatur terakhir
berkaitan dengan korupsi. Pada gambar tersebut terlihat masih adanya keringanan
hukuman buat para narapidana tipikor. Di situ tertulis `sudah hukumannya
rendah, sering dapat remisi pula`. Hal itu menunjukkan kekurangseriusan
pemerintah membasmi korupsi. Kita layak bertanya sampai sejauhmana keseriusan
pemerintah membersihkan negara ini dari korupsi? Kita lihat sendiri negara ini
tidak mustahil cepat atau lambat akan mengalami kebangkrutan akibat korupsi
yang sudah menggurita. Kalau di masa Orde Baru korupsi tersentralisasi, di masa
Reformasi seperti sekarang ini korupsi sudah terdesentralisasi. Untuk itu,
tidak ada keringanan yang namanya keringanan hukuman dan remisi buat
mereka-mereka sang koruptor yang telah merampok habis-habisan negara ini.
Berdasarkan uraian di atas, kita sudah bisa menuangkan gagasan kita ke dalam tulisan. Agar benar-benar ada kesinambungan dengan gambar karikatur di atas kita bisa mulai menuliskan tentang beruntungnya nasib para koruptor di negeri ini.
|
(1) Para koruptor di negeri ini benar-benar beruntung. |
Kenapa beruntung?
|
(2) Sudah banyak di antara mereka yang selain mendapat hukuman ringan
juga mendapat remisi. |
Kalau memang ada datanya yang bisa dibuktikan, sampaikan saja di sini mereka-mereka yang terbukti mendapat keringanan hukuman dan remisi.
|
(3) Djoko Tjandra adalah salah satu koruptor yang mendapat hukuman
ringan dan remisi. |
|
(4) Padahal, di tahun 2009 Djoko Tjandra divonis dua tahun. |
|
(5) Belum habis masa tahanannya Djoko Tjandra kabur selama sebelas
tahun. |
|
(6) Anehnya, sudah jelas-jelas kabur selama sebelas tahun,
bisa-bisanya Djoko Tjandra mendapat remisi. |
Apakah hanya Djoko Tjandra yang mendapat remisi?
|
(7) Djoko Tjandra termasuk salah seorang dari 214 koruptor yang
mendapat remisi (https://www.kompas.com/tren/read/2021/08/22/
200500565/214-koruptor-dapat-pengurangan-hukuman-ini-jenis-jenis-remisi-yang?page=all ) |
Kesimpulannya bagaimana?
|
(8) Dengan adanya keringanan hukuman dan pemberian remisi pada para koruptor,
dapatkah korupsi di negara ini benar-benar bisa diberantas? |
Tampaknya, sudah bisa kita menulis satu paragraf dengan cara menuliskan kembali kalimat-kalimat di atas yang bernomor itu.
|
(1) Para koruptor di negeri ini benar-benar beruntung. (2) Sudah
banyak di antara mereka yang selain mendapat hukuman ringan juga mendapat
remisi. (3) Djoko Tjandra adalah salah satu koruptor yang mendapat hukuman
ringan dan juga mendapat remisi. (4) Padahal, di tahun 2009 Djoko Tjandra
divonis dua tahun. (5) Belum habis masa tahanannya Djoko Tjandra kabur selama
sebelas tahun. (6) Anehnya, sudah jelas-jelas kabur selama sebelas tahun,
bisa-bisanya Djoko Tjandra mendapat remisi. (7) Djoko Tjandra termasuk
salah seorang dari 214 koruptor yang mendapat remisi (https://www.kompas.com/tren/read/2021/08/22/200500565/ 214 -koruptor-dapat-pengurangan-hukuman-ini-jenis-jenis-remisi-yang?page= al). (8) Dengan adanya keringanan hukuman dan pemberian remisi pada
para koruptor, dapatkah korupsi di negara ini benar-benar bisa diberantas? |
***
Kita telah menuntaskan
penulisan paragraf yang menggunakan gambar karikatur sebagai pemancingnya. Kita
bisa membuktikan, kalau ada kemauan untuk menulis semuanya bisa kita lakukan.
Yang semula kita susah memulai sebuah tulisan, begitu dipancing dengan gambar
karikatur ternyata kita bisa menuangkan gagasan kita. Tentu saja menulis
paragraf yang dimulai dengan pancingan gambar ilustrasi dibutuhkan kecermatan
mengamati gambar. Selain itu, kita juga harus membaca tulisan yang tercantum di
gambar itu. Yang lebih penting lagi, di balik gambar karikatur itu apa yang
dikritisi oleh sang karikaturis? Kalau semuanya bisa kita lakukan, tidak
mustahil kita bisa menuliskannya dalam satu paragraf utuh.
Sumber Gambar Karikatur:


.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar