12. DIPANCING PAKAI GAMBAR ILUSTRASI
Subagio S. Waluyo
Menulis paragraf bisa dipancing pakai gambar ilustrasi? Di dunia ini tidak ada yang tidak bisa. Sekedar orang mau menulis paragraf dipancing pakai gambar ilustrasi pasti bisa. Gambar ilustrasi `kan cuma dipakai sebagai stimulus agar kita memulai menulis sebuah tulisan? Dengan melihat gambar ilustrasi seperti gambar ilustrasi di atas, kita akan bereaksi menulis paragraf. Kalau sebuah paragraf sudah terwujud, kita tinggal meneruskan menjadi sebuah wacana. Apa yang susah? Supaya dimudahkan kita menulis, begitu kita melihat gambar ilustrasi langsung cari referensinya.Gambar ilustrasi di atas, misalnya, orang sedang memegang kotak Jendela Johari. Kita langsung saja cari di Google tentang konsep Jendela Johari pasti dapat kita temukan. Kalau sudah ditemukan, kita langsung saja bahas hal-hal apa saja yang diuraikan di Jendela Johari itu. Berikut ini bisa kita baca tulisan singkat tentang Teori Jendela Johari.
|
KOMPAS.com –
Teori Jendela Johari atau Johari Window Theory adalah teori yang menyangkut
konsep diri atau bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri maupun diri
orang lain. Teori yang dicetuskan oleh dua psikolog Amerika Serikat yang
bernama Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955 ini berupa model atau
teknik pendekatan konsep diri. Model teori ini memahami diri tidak hanya dari
perspektif diri sendiri, namun juga dari perspektif orang lain. Oleh karena
itu, teori juga juga berguna tidak hanya untuk individual namun juga untuk
tim atau kelompok. Jadi dapat diketahui bahwa Teori Jendela Johari adalah
teori yang membahas bagaimana cara memahami diri sendiri dari perspektif diri
sendiri dan juga orang lain. (https://www.kompas.com/skola/read/2022/04/18/160000669/apa-itu-teori-jendela-johari-)
|
|
(1) Bagaimana cara memahami diri sendiri dari perspektif diri sendiri? |
|
(2) Ini pertanyaan menarik. |
|
(3) Dikatakan menarik karena untuk memahami diri sendiri membutuhkan
proses berpikir yang mendalam. |
|
(4) Meskipun demikian, juga diperlukan kejujuran karena seringkali
orang memanipulasi dirinya bahwa dirinya tahu persis kelebihan dan
kekurangannya. |
|
(5) Kejujuran dibutuhkan karena sering orang saking egonya hanya
menonjolkan kalau dirinya punya banyak kelebihan atau lebih mengedepankan
kebaikan. |
|
(6) Padahal, banyak orang tahu kalau orang tersebut pernah melakukan
berbagai kesalahan. |
Kalau sudah seperti itu, bagaimana kelanjutannya? Kita fokus saja pada frasa berbagai kesalahan.
|
(7) Salah satu kesalahan fatal, misalnya, orang tersebut pernah di
media online memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak senonoh
sehingga orang yang difitnah itu
terpukul. |
|
(8) Orang tersebut memang merasa bersalah dan buru-buru minta maaf
seraya mencabut tulisannya yang nyinyir itu. |
|
(9) Itu baru salah satu contoh saja ulah orang tersebut di dunia maya. |
Apakah melakukan kesalahan tersebut dinilai fatal?
|
(10) Walaupun itu hanya baru sekali dilakukan di dunia maya, ibarat
nila setitik rusak susu sebelanga, perilaku yang diperlihatkan orang tersebut
di dunia maya jelas merupakan cacat dirinya yang tidak bisa dihapus dari
ingatan orang terutama orang yang pernah difitnahnya. |
|
(11) Artinya, keseharian orang tersebut secara kasat mata di hadapan
orang memang termasuk orang baik-baik. |
|
(12) Tetapi, perilakunya yang telah mencoreng nama baik orang lain jelas
menghapuskan kebaikannya. |
|
(13) Dengan kata lain, orang tidak akan mudah untuk melupakan
kesalahannya. |
|
(14) Bahkan, orang juga bisa berkesimpulan kalau orang tersebut jangan-jangan
di dunia nyata memang kesehariannya sering melakukan kesalahan. |
|
(15) Untuk itu, ketika seseorang belajar memahami dirinya sendiri
dibutuhkan sebuah kejujuran atau dia juga perlu perspektif orang lain. |
Langkah terakhir coba kita tulis sebuah paragraf dengan menyalin semua kalimat yang bernomor itu sehingga menjadi sebuah paragraf yang utuh.
|
(1) Bagaimana cara memahami diri sendiri dari perspektif diri sendiri?
(2) Ini pertanyaan menarik. (3) Dikatakan menarik karena untuk memahami diri
sendiri membutuhkan proses berpikir yang mendalam. (4) Meskipun demikian,
juga diperlukan kejujuran karena seringkali orang memanipulasi dirinya bahwa
dirinya tahu persis kelebihan dan kekurangannya. (5) Kejujuran dibutuhkan
karena sering orang saking egonya hanya menonjolkan kalau dirinya punya
banyak kelebihan atau lebih mengedepankan kebaikan. (6) Padahal, banyak orang
tahu kalau orang tersebut pernah melakukan berbagai kesalahan. (7) Salah satu
kesalahan fatal, misalnya, orang tersebut pernah di media online memfitnah
orang dengan kata-kata yang tidak senonoh sehingga orang yang difitnah itu terpukul. (8) Orang tersebut
memang merasa bersalah dan buru-buru minta maaf seraya mencabut tulisannya
yang nyinyir itu. (9) Itu baru salah satu contoh saja ulah orang tersebut di
dunia maya. (10) Walaupun itu hanya baru sekali dilakukan di dunia maya, ibarat
nila setitik rusak susu sebelanga, perilaku yang diperlihatkan orang tersebut
di dunia maya jelas merupakan cacat dirinya yang tidak bisa dihapus dari
ingatan orang terutama orang yang pernah difitnahnya. (11) Artinya,
keseharian orang tersebut secara kasat mata di hadapan orang termasuk memang orang
baik-baik. (12) Tetapi, perilakunya yang telah mencoreng nama baik orang lain
jelas menghapuskan kebaikannya. (13) Dengan kata lain, orang
tidak akan mudah untuk
melupakan kesalahannya. (14) Bahkan, orang juga bisa berkesimpulan kalau
orang tersebut jangan-jangan di dunia nyata memang kesehariannya sering
melakukan kesalahan. (15) Untuk
itu, ketika seseorang belajar memahami dirinya sendiri dibutuhkan sebuah
kejujuran atau dia juga perlu perspektif orang lain. |
***
Gambar ilustrasi di atas mudah ditebak. Itu gambar seorang pengemis.
Kalau berbicara tentang pengemis, di benak kita ada berbagai gambaran. Negara
yang banyak pengemisnya menggambarkan negara itu tergolong miskin. Boleh juga
orang menjadi pengemis karena sudah tidak ada lagi cara untuk mencari nafkah
kecuali mengemis. Boleh juga orang menjadi pengemis karena adanya mentalitas
yang rendah, yaitu mental mengemis. Jadi, kalau mau dibuat gambaran dari gambar
ilustrasi di atas bisa beragam gambaran. Kita perlu fokus pada salah satu dari
gambaran yang diuraikan di atas. Kita ambil saja misalnya yang berkaitan dengan
mental mengemis sebagai mental yang rendah. Dengan demikian, kita akan fokus
pada mental mengemis.
Sekarang coba kita tulis saja seperti ini:
|
(1) Apakah sudah bisa dipastikan mental mengemis merupakan mental yang
rendah? |
Kalau mau ditambah lagi dengan pertanyaan berikut juga boleh.
|
(2) Bukankah mengemis lebih baik daripada mencuri misalnya? |
Mengemis lebih baik daripada mencuri?
|
(3) Memang benar mengemis lebih baik daripada mencuri. |
|
(4) Mencuri jelas merupakan sebuah kejahatan. |
|
(5) Sementara itu, mengemis bukan merupakan sebuah kejahatan. |
Kalau memang bukan sebuah kejahatan, mengapa mengemis tergolong mental
yang rendah?
Apakah tidak diperbolehkan orang memiliki sikap ketergantungan pada
orang lain?
|
(7) Hanya anak bayi atau anak di bawah usia lima tahun yang belum bisa
berbuat apa-apa yang layak memiliki sikap ketergantungan pada orang lain. |
|
(8) Itupun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus dilatih untuk
belajar melakukan sendiri apa saja yang dia maui. |
Kalau sudah sanggup melakukan sendiri, apakah masih layak memiliki sikap ketergantungan pada orang lain?
|
(9) Pada saatnya sang anak yang terbiasa melakukan sendiri apa saja
yang dia inginkan menjadi anak yang mandiri. |
|
(10) Perilaku mengemis jelas menunjukkan perilaku yang tidak mandiri
karena sangat bergantung pada belas kasihan orang lain. |
|
(1) Apakah sudah bisa dipastikan mental mengemis merupakan mental yang
rendah? (2) Bukankah mengemis lebih baik daripada mencuri misalnya? (3)
Memang benar mengemis lebih baik daripada mencuri. (4) Mencuri jelas
merupakan sebuah kejahatan. (5) Sementara itu, mengemis bukan merupakan
sebuah kejahatan. (6) Mengemis itu menunjukkan sikap ketergantungan pada
orang lain. (7) Hanya anak bayi atau anak di bawah usia lima tahun yang belum
bisa berbuat apa-apa yang layak memiliki sikap ketergantungan pada orang
lain. (8) Itupun seiring dengan bertambahnya usia, anak harus dilatih untuk
belajar melakukan sendiri apa saja yang dia maui. (9) Pada saatnya sang anak
yang terbiasa melakukan sendiri apa saja yang dia inginkan menjadi anak yang
mandiri. (10) Perilaku mengemis jelas menunjukkan perilaku yang tidak mandiri
karena sangat bergantung pada belas kasihan orang lain. |
***
Memasuki modernisasi memasuki perilaku konsumtif karena perilaku yang
satu ini tampaknya sudah menjadi sebuah tren kehidupan masyarakat modern bukan
saja di negara-negara maju, di negara-negara berkembang atau negara-negara
miskin pun masyarakatnya terwarnai perilaku ini. Apakah kita bisa
menghindarinya? Arus globalisasi yang sulit dibendung kehadirannya tampaknya
menjadi faktor penyebab yang membuat kita cepat atau lambat terkena arusnya
sehingga sangat sulit menghindarinya. Meskipun demikian, masih ada banyak cara
untuk menjauhi perilaku konsumtif. Salah satu di antaranya belajar melawan hawa
nafsu. Bagaimana cara melawan hawa nafsu? Nah, sampai di pertanyaan ini kita
mencoba menulis menjauhi perilaku konsumtif melalui melawan hawa nafsu.
Bagaimana? Kita coba ya?
Menjauhi perilaku konsumtif melalui melawan hawa nafsu. Kira-kira itu yang mau kita tulis. Kalau begitu, kita tulis saja kalimat tersebut sebagai kalimat pembuka:
|
(1) Menjauhi perilaku konsumtif melalui melawan hawa nafsu. |
Selanjutnya kita mengajukan pertanyaan:
|
(2) Mungkinkah? |
|
(3) Mungkin saja karena hawa
nafsu selalu mengajak manusia pada keburukan. |
Kalau begitu, apa itu hawa nafsu?
|
(4) Sebelum membahas kalimat di atas, ada baiknya kita ketahui dulu
pengertian hawa nafsu. |
|
(5) Hawa nafsu menurut Wikipedia Indonesia merupakan
kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan
intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut (https://id.wikipedia.org/wiki/Nafsu) |
Jika diperlukan, boleh juga pandangan Islam tentang hawa nafsu. Karena ada dua kata `hawa` dan `nafsu`, kita mulai dulu dengan kata `nafsu`.
|
(6) Kata `nafsu` dalam bahasa Melayu dapat berarti `keinginan`,
`kecenderungan`, atau `dorongan hati yang kuat`. |
Kalau melihat definisi di atas belum terlihat ada unsur negatif. Tetapi, kalau ditambahkan dengan kata `hawa` sehingga menjadi `hawa nafsu` bagaimana hasilnya?
|
(7) Kata `nafsu` jika di depannya dilekatkan kata `hawa` bisa berarti dorongan
hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik (https://risalahmuslim.id/kamus/hawa-nafsu/). |
|
(8) Jadi, sudah jelas hawa nafsu bisa dipastikan mengarah pada hasrat
atau keinginan yang kuat untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. |
Bagaimana jika dikaitkan dengan perilaku konsumtif?
|
(9) Karena termasuk pemborosan, bisa jadi perilaku konsumtif itu
cenderung mengikuti hawa nafsu. |
Sudah semakin jelas tampaknya sehingga perlu ditutup saja.
|
(10) Dengan demikian, perilaku konsumtif harus diperangi dengan
terlebih dahulu memerangi hawa nafsu. |
Bagaimana memerangi hawa nafsu? Kita tunggu saja tulisan berikutnya. Yang penting sekarang tulis kembali semua kalimat bernomor di atas sehingga menjadi paragraf yang utuh dan padu.
|
(1) Menjauhi perilaku konsumtif melalui melawan hawa nafsu. (2) Mungkinkah? (3) Mungkin saja karena hawa nafsu selalu mengajak manusia pada keburukan. (4) Sebelum membahas kalimat di atas, ada baiknya kita ketahui dulu pengertian hawa nafsu. (5) Hawa nafsu menurut Wikipedia Indonesia merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut (https://id. wikipedia.org/wiki/Nafsu). (6) Kata `nafsu` dalam bahasa Melayu dapat berarti `keinginan`, `kecenderungan`, atau `dorongan hati yang kuat`. (7) Kata `nafsu` jika di depannya dilekatkan kata `hawa` bisa berarti dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik (https://risalahmuslim.id/ kamus/hawa-nafsu/). (8) Jadi, sudah jelas hawa nafsu bisa dipastikan mengarah pada hasrat atau keinginan yang kuat untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. (9) Karena termasuk pemborosan, bisa jadi perilaku konsumtif itu cenderung mengikuti hawa nafsu. (10) Dengan demikian, perilaku konsumtif harus diperangi dengan terlebih dahulu memerangi hawa nafsu. |
***
Awal tahun
1980-an, ketika Soeharto sebagai presiden sedang berada di puncak kekuasaannya,
dalam rangka menanggulangi
kejahatan yang pada saat itu memang cukup tinggi diadakan operasi rahasia.
Operasi rahasia itu di belakang hari dikenal dengan nama `Penembakan Misterius`
(`petrus`).Operasi itu berupa penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang
yang dianggap mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat terutama di DKI
Jakarta dan Jawa Tengah (termasuk DIY). Pelakunya sendiri tidak diketahui dengan jelas sehingga
wajar saja muncul ungkapan `petrus`. Peristiwa `petrus` memakan korban cukup
besar. Sejak tahun
1983 sampai dengan 1985 ada 713 korban `petrus`. Umumnya, korban `petrus` yang ditemukan
masyarakat dalam kondisi
tangan dan lehernya terikat (https://id.wikipedia.org/wiki/ Penembakan_misteri-us).
Orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketenteraman masyarakat jelas harus ditangkap dan diadili. Sesuai dengan hukum yang berlaku mereka harus dikenakan hukuman bukan dihabisi nyawanya lalu dikarungi dan dibuang. Kebijakan tersebut jelas melanggar hak azasi manusia (HAM). Berkaitan dengan pelanggaran HAM langsung saja kita tuangkan ke dalam tulisan. Kita tulis saja:
|
(1) Masalah pelanggaran HAM tampaknya
masih menjadi salah
satu objek bagi para sastrawan. |
|
(2) Bahkan, masalah ini tidak akan pernah
luput dijadikan objek mereka untuk mengungkapkan hati nuraninya. |
Masalah pelanggaran HAM jadi objek para sastrawan? Sampai kapan hal itu bisa dilakukan para sastrawan?
|
(3) Selama
dunia ini masih terjadi pelanggaran HAM, selama itu pula mereka mengukirkan
pena-pena tajamnya di atas kertas putih dengan deraian air mata. |
|
(4) Semua itu lebih merupakan bentuk
perlawanan terhadap kezaliman para
pelanggar HAM yang memang tidak bisa dibalas dengan kekerasan karena
kekerasan tidak pernah membuahkan kebaikan atau
kemaslahatan umat manusia. |
|
(5) Dengan ketajaman pena yang tidak akan
melukai fisik si pelanggar HAM justru dia akan merobek-robek hati nurani manusia
pembacanya entah itu si pelanggar HAM itu sendiri yang hatinya terbuat dari
batu atau pembaca yang masih memiliki hati nurani yang bersih. |
|
(6) Meskipun
upaya itu tidak akan banyak membawa hasil (karena pelanggaran HAM pada waktu yang
bersamaan juga akan terus terjadi), bagi sastrawan sudah merasa cukup kalau
ungkapan kepedihan hati itu bisa dituangkan dalam kata-kata berupa puisi,
cerpen, novel, atau esai. |
|
(7) Mereka juga sadar bahwa pelanggaran
HAM sebagai penghilangan
nilai kemanusiaan pada akhirnya tidak akan bisa dilawan dengan
pena-pena tajamnya, tetapi itulah satu-satunya upaya penyelamatan
nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra. |
Jika sudah dirasakan cukup, tulis kembali semua kalimat bernomor ke dalam sebuah paragraf.
|
(1) Masalah pelanggaran HAM tampaknya
masih menjadi salah
satu objek bagi para sastrawan. (2) Bahkan, masalah ini tidak akan pernah
luput dijadikan objek mereka untuk mengungkapkan hati nuraninya. (3) Selama
dunia ini masih terjadi pelanggaran HAM, selama itu pula mereka mengukirkan
pena-pena tajamnya di atas kertas putih dengan deraian air mata. (4) Semua itu lebih
merupakan bentuk perlawanan terhadap kezaliman para pelanggar HAM yang memang
tidak bisa dibalas
dengan kekerasan karena kekerasan tidak pernah membuahkan kebaikan
atau kemaslahatan umat manusia. (5) Dengan ketajaman pena yang tidak akan
melukai fisik si pelanggar HAM justru dia akan merobek-robek hati nurani manusia
pembacanya entah itu si pelanggar HAM itu sendiri yang hatinya terbuat dari
batu atau pembaca yang masih memiliki hati nurani yang bersih. (6) Meskipun
upaya itu tidak akan banyak membawa hasil (karena pelanggaran HAM pada waktu yang bersamaan juga akan terus terjadi), bagi sastrawan sudah merasa
cukup kalau ungkapan kepedihan hati itu bisa dituangkan dalam kata-kata
berupa puisi, cerpen, novel, atau esai. (7) Mereka juga sadar bahwa
pelanggaran HAM sebagai penghilangan nilai kemanusiaan pada akhirnya tidak
akan bisa dilawan dengan pena-pena tajamnya, tetapi itulah satu-satunya upaya
penyelamatan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra. |
***
Sama seperti menulis
paragraf yang diawali dengan kutipan, penulisan paragraf yang dipancing dengan
menggunakan gambar ilustrasi juga tidak sulit. Kita cukup mengamati gambar
ilustrasi yang mau dijadikan objek tulisan. Nanti dari hasil pengamatannya kita
bisa menentukan, misalnya, gambar ilustrasi yang kita amati berbicara tentang
pengemis. Kita langsung saja mengaitkan
pengemis dengan masalah sosial. Atau bisa juga dikaitkan dengan mentalitas
bangsa yang rendah. Setelah itu kita mulai menulis kalimat pertamanya. Kalau
kalimat pertama sudah ditulis, kita tinggal meneruskan kalimat berikutnya. Kita
bisa menggunakan konjungsi agar terjadi ikatan yang erat kalimat pertama dengan
kalimat yang kedua dan seterusnya. Atau kita bisa juga menggunakan pengulangan
kata kunci. Bisa juga kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
menjadi kalimat-kalimat yang akan kita masukkan ke dalam paragraf. Jadi, tidak
ada yang sulit untuk menulis paragraf karena banyak cara untuk mengembangkan
sebuah tulisan.
.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar