3. KORUPSI ADA SEBABNYA
Subagio S.Waluyo
|
”Itu di luar money laundering yang tidak kasatmata. Kau tahu, dari seribu triliun anggaran negara, menurut ekonom senior, hampir dua puluh persen dikorup dan disalahgunakan. Siapa yang menampung uang itu? Perbankan nasional! Uang suap, sogok, pelicin, bahkan uang pajak yang tidak masuk ke kas negara, puluhan triliun nilainya. Ke mana uang itu berlabuh? Perbankan nasional! Kebanyakan orang hanya melihat money laundering dari kegiatan mafia, kejahatan bersenjata. Padahal di luar itu banyak sekali kasusnya. Kami membuka rekening untuk petugas korup, pejabat negara jahat, membuat rekening giro perusahaan fiktif, semua yang mungkin dilakukan. Aku tidak tahu detailnya, kepala cabang dan pemimpin Bank Semesta yang lebih tahu.” Om Liem menghela napas lagi, diam sejenak, membuat bagian belakang mobil boks laundry senyap. (Negeri
Para Bedebah/Tere Liye, 2012:145) |
***
Di tulisan pertama (“1. Biarkan
Mereka-Mereka Bicara tentang KKN”) kita disuguhi sepuluh gambar karikatur. Di
gambar karikatur pertama saja kita disuguhi ucapan Kasino: “Bangsa ini tidak
kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang jujur”. Ucapan Kasino yang
singkat itu menyentil semua pihak di negara ini bahwa pendidikan kita telah
gagal mewujudkan anak didik yang jujur. Padahal, kita tahu bahwa pendidikan
yang baik dan benar itu bukan sekedar mencetak anak yang cerdas, tapi juga anak
yang bertakwa. Bukankah selogan yang selalu menempel di awal-awal tahun `70-an
selalu disebutkan `tj (c)erdas, tangkas, taqwa atau 3T? Entah kenapa yang
terjadi malah kata `takwa` itu sendiri lambat-laun telah kurang diterapkan
karena dalam pembelajaran agama pun lebih cenderung pada keilmuannya (itupun
sangat minim karena seperti Pendidikan Agama Islam cuma diberikan 2-3 jam
pelajaran) bukan pada penanaman perilaku keberagamaannya. Jadi, kita perlu
mengevaluasi pendidikan di negara ini agar kata `takwa` yang dulu pernah jadi
salah satu slogannya harus benar-benar diterapkan karena salah satu bukti
adanya ketakwaan adalah adanya kejujuran. Kejujuran inilah yang menjadi akar
masalah mengguritanya KKN di negara ini.
Berbicara tentang kejujuran yang sudah
tergeser oleh perilaku orang yang cenderung melakukan kebohongan, tampaknya
kita juga perlu mencoba mengaitkannya dengan faktor internal yang ada dalam
perilaku orang yang melakukan tipikor. Orang yang terjerat tipikor sudah bisa
dipastikan adalah orang yang kerap melakukan kebohongan. Kenapa orang berbuat
bohong sehingga terjerat tipikor? Bisa dipastikan ada unsur-unsur dalam dirinya
yang tidak bisa diperangi, di antaranya sifat tamak manusia, moral yang kurang
kuat menghadapi godaan, gaya hidup konsumtif, dan tidak mau bekerja keras (Isa
Wahyudi: 2007). Keempat faktor penyebab yang berasal dalam diri sendiri akan
kita bahas satu persatu. Setelah faktor penyebab yang berasal dalam diri
sendiri dibahas, selanjutnya kita akan bahas faktor-faktor lain yang juga turut
berpengaruh maraknya korupsi di negeri ini, di antaranya faktor politik, faktor
hukum, faktor ekonomi, dan faktor organisasi.
***
Dalam diri manusia
hanya ada dua pilihan, yaitu jalan yang benar dan jalan yang salah
(menyimpang). Jalan yang benar bisa dipastikan mengikuti tuntunan iman.
Terkadang, tuntunan iman yang mengarah orang untuk melakukan jalan yang benar
sering diganggu oleh jenis makhluk, entah itu jin (setan) dan juga manusia.
Sifat tamak (rakus) yang berasal dari gangguan setan atau manusia juga
terkadang menghigapi diri kita. Kalau tidak bisa mengendalikannya, kita
terjebak menjadi orang-orang yang tamak. Para koruptor bisa dipastikan
orang-orang yang tamak. Kalau tidak tamak, tidak mungkin mereka melakukan
korupsi. Para koruptor yang sudah memiliki rumah, kendaraan, dan sedikit
tabungan karena masih ada keinginan untuk memiliki rumah yang megah, kendaraan
yang bagus, dan punya tabungan yang banyak (dengan alasan untuk keturunannya
agar tidak susah nanti hidupnya), muncul perilaku tamaknya. Ketamakan itu
berujung pada tipikor yang harus dilakukannya. Karena itu, sifat tamak yang berasal dari
gangguan setan dan juga manusia bisa menjerat orang ke dalam korupsi.
Orang melakukan korupsi selain karena
ada ketamakan dalam dirinya bisa juga disebabkan oleh moral yang kurang kuat
menghadapi godaan. Kita tahu dunia ini di mata manusia diciptakan Tuhan
demikian indah. Padahal keindahan itu lebih merupakan tipuan. Jadi, kalau ada
manusia yang tertipu oleh keindahan dunia, dia akan lupa bahwa kehidupan di
dunia hanya sementara karena ada kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Jenis manusia seperti ini akan menjuhkan Tuhannya. Di saat telah menjauhkan Tuhannya, tidak
mustahil jenis manusia seperti ini akan mengikuti langkah-langkah setan. Langkah-langkah
setan jika diikuti akan mengarah pada jalan yang negatif (jalan yang
menyimpang). Ke mana lagi dia akan melangkah untuk meraih keindahan dunia yang
terus mengganggu kehidupannya kalau bukan ke jalan yang menyimpang yang salah
satu di antaranya korupsi? Bukankah dengan dia melakukan korupsi keindahan
dunia itu akan bisa diraihnya walaupun pada akhirnya dia harus mengakui bahwa
kehidupan dunia yang serba indah itu ternyata semu? Orang-orang yang tertipu oleh
keindahan dunia adalah orang-orang yang bermoral kurang kuat. Saking kurang
kuatnya moral, dia tidak segan-segan akan melakukan tipikor. Dengan demikian,
ada kaitannya kurang kuatnya moral dengan tipikor.
Gaya hidup konsumtif
juga turut berkontribusi mempengaruhi orang untuk melakukan korupsi. Coba saja
kita perhatikan gaya hidup orang-orang yang tergolong koruptor, apa saja yang
dia lakukan sehari-hari selain di saat-saat senggang kalau bukan berbelanja? Saking
banyaknya uang terkadang mereka bingung mau dikemanakan uang yang banyak itu.
Ujung-ujungnya mereka habiskan di meja judi, mabok, pesta seks (kalau sang koruptor antizina, mereka akan mencari daun-daun muda untuk dijadikan istri peliharaan), narkoba, atau
berbelanja yang belum tentu merupakan kebutuhan utamanya. Yang terakhir ini
sering dilakukan oleh wanita. Perilaku seperti ini orang sebut sebagai gaya
hidup yang konsumtif. Orang yang sudah bergantung pada gaya hidup konsumtif
manakala tidak punya uang akan melakukan berbagai cara untuk memenuhi
kebutuhannya. Kalau seorang pejabat publik yang sudah kalap karena gaya hidup
yang konsumtifnya sudah menjeratnya, mau tidak mau dia harus melakukan
cara-cara yang jelas-jelas haram, yaitu korupsi. Jadi, gaya hidup konsumtif membuat
orang kalap sehingga saking kalapnya dia akan gelap mata. Kalau sudah gelap
mata, tidak usah aneh dia juga akan melakukan cara-cara yang ilegal:
korupsi.
Korupsi juga disebabkan oleh orang
yang tidak mau bekerja (malas). Orang yang tidak mau bekerja ada kecenderungan
mau hidup enak tanpa ada usaha apapun. Orang jenis ini termasuk hedonis alias
meok (makan enak ogah kerja). Kalau penyakit seperti ini menghigapi kalangan
pejabat publik, sudah bisa dipastikan pejabat publik yang sudah terjerat gaya
hidup yang konsumtif, tamak, dan malas bekerja akan melakukan cara-cara yang
tidak bermoral: korupsi. Jadi, orang yang tidak mau bekerja tapi mau hidup enak
akan melakukan jalan pintas (apalagi kalau bukan korupsi) agar keinginannya
terpenuhi. Kita tidak usah heran jika menemukan demikian banyak kasus yang
berkaitan dengan korupsi ternyata pelakunya adalah orang-orang yang tergolong
malas bekerja. Keinginannya untuk meraih kehidupan dunia sudah tidak bisa
terbendungkan lagi. Kalau keinginan itu diraih dengan kerja keras tidak menjadi
masalah. Sebaliknya, kalau dilakukan dengan jalan pintas (korupsi) jelas akan
merugikan bukan saja negara tapi kesejahteraan rakyat juga akan terkena
imbasnya.
***
Dalam menjalankan
aktivitas berpolitik juga tidak bersih dari korupsi. Bukankah orang-orang yang
berpolitik sudah dicekoki oleh Machiavelli bahwa untuk merebut kekuasaan orang
harus berbagai cara, baik cara-cara yang paling bersih sampai dengan cara-cara
yang paling kotor: korupsi. Karena sudah termakan oleh ajaran Machiavelli tidak
usah aneh kalau banyak pelaku korupsi dari kalangan politisi. Salah satu cara
yang dilakukan mereka-mereka yang terlibat, baik di lembaga eksekutif maupun
legislatif apalagi kalau bukan berkonspirasi dengan pengusaha. Konspirasi
penguasa (dalam hal ini eksekutif termasuk di dalamnya juga legislatif)
terwujud dalam bentuk oligarki kekuasaan. Para calon penguasa yang sudah
berkonspirasi dengan pengusaha ketika mau maju sebagai penguasa tentu
membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu, mereka meminta bantuan dana
apalagi kalau bukan dari pengusaha. Para pengusaha yang siap menggelontorkan
dananya akan memanfaatkan momen itu. Jargon yang menyebutkan `tidak ada makan
siang yang gratis` benar-benar dimanfaatkan oleh pengusaha untuk memeras
penguasa. Mereka juga akan mengendalikan penguasa yang pernah didanai ketika
melakukan kampanye. Akibatnya, sang penguasa, baik dari kalangan eksekutif
maupun legislatif yang sudah berutang budi pada pengusaha akan melakukan
cara-cara kotor, salah satu di antaranya adalah korupsi. Praktek-praktek kotor
yang merugikan negara dan sekaligus memupus habis harapan kesejahteraan rakyat dilakukan para
politisi di negara ini. Di bawah ini bisa kita lihat petikan tulisan Ahmad Tohari
dalam novelnya berjudul Orang-Orang
Proyek yang menggambarkan
praktek-praktek kotor yang dilakukan pejabat publik yang berkonspirasi dengan pengusaha dilakukan di masa Orde Baru.
|
Tanpa terasa proyek sudah berjalan tiga bulan. Namun karena dimulai ketika hujan masih sering turun, volume pekerjaan yang dicapai berada di bawah target. Menghadapi kenyataan ini, Kabul sering uring-uringan. Jengkel karena hambatan ini sesungguhnya bisa dihindari bila pemerintah sebagai pemilik proyek dan para politikus tidak terlalu banyak campur tangan dalam tingkat pelaksanaan. Dan campur tangan itu ternyata tidak terbatas pada penentuan awal pekerjaan yang menyalahi rekomendasi para perancang, tapi masuk juga ke hal-hal lain. Proyek ini, yang dibiayai dengan dana pinjaman luar negeri dan akan menjadi beban masyarakat, mereka anggap sebagai milik pribadi. Kabul tahu bagaimana bendahara proyek wajib mengeluarkan dana untuk kegiatan partai golongan penguasa. Kendaraan-kendaraan proyek wajib ikut meramai- kan perayaan HUT golongan itu. Malah pernah terjadi pelaksana proyek diminta mengeraskan jalan yang menuju rumah ketua partai golongan karena tokoh itu akan punya hajat. Bukan hanya mengeraskan jalan, melainkan juga memasang tarub. Belum lagi dengan oknum sipil maupun militer, juga oknum-oknum anggota DPRD yang suka minta uang saku kepada bendahara proyek kalau mereka mau pelesir ke luar daerah. Dan ternyata orang-orang kampung pun ikut-ikutan nakal. Bila mereka hanya minta ikut memakai kayu-kayu bekas atau meminjam generator cadangan untuk keperluan perhelatan, masih wajar. Tapi kenakalan mereka bisa lebih jauh. Mungkin karena tahu banyak priyayi yang ngiwung barang, uang, atau fasilitas proyek, mereka pun tak mau ketinggalan. Selain menyuap kuli untuk mendapatkan semen, paku, atau kawat rancang, mereka juga sering meminta besi-besi potongan, kata mereka, untuk membuat linggis. Mandor yang mencatat penerimaan material pun pandai bermain. Dia bisa bermain dengan menambah angka jumlah pasir atau batu kali yang masuk. Truk yang masuk sepuluh kali bisa dicatat menjadi lima belas kali, dan untuk kecurangan itu dia menerima suap dari para sopir. Namun
menghadapi semua tingkat kebocoran itu, Insinyur Dalkijo—atasan Kabul,
seperti tak menanggung beban apa pun. Suatu saat ketika bersama-sama berada
di rumah makan, Kabul mengeluh atas tingginya angka kebocoran yang berarti
beban tambahan cukup besar yang harus dipikul oleh anggaran proyek. ”Ah,
Dik Kabul ini seperti hidup di awangawang. Pijaklah bumi dan lihat
sekeliling. Seperti sudah pernah kukatakan, orang proyek seperti kita harus
pandai-pandai bermain.” ”Maksud
Pak Dal?” ”Yah,
berapa kali harus saya katakan, seperti proyek yang kita kerjakan sebelum
ini, semuanya selalu bermula dari permainan. Di tingkat lelang pekerjaan, kita
harus bermain. Kalau tidak, kita tidak bakalan dapat proyek. Dan anggaran
yang turunnya diatur per termin, baru kita peroleh bila kita tahu cara
bermain. Kalau tidak, kita pun tak akan dapat uang meski sudah menang lelang.
Ah, kamu sudah tahu semua. Aku bosan mengulangnya. ”Makanya,
Dik Kabul, lebih baik bersikap seperti saya sajalah. Ikuti langgam serta
permainan yang ada dan sabetlah keuntungan. Bila perlu kita jadi koboi.
He-he.” ……………………………………………………………………………………………………. Dalkijo tertawa. Demi basabasi Kabul juga ikut tertawa. Tapi hatinya tidak. Hati Kabul kini terkesan akan kata ”main” atau ”permainan” yang beberapa kali diucapkan Dalkijo. Apa yang dimaksudkan dengan kosakata ini, Kabul sudah sepenuhnya mengerti. Permainan di lelang pekerjaan, bahkan pada tingkat prakualifikasi, artinya keterampilan melobi oknum-oknum terkait untuk diajak berkongkalikong, tahu-sama-tahu, atau apalah namanya. Harga suatu lobi bisa berupa apa saja; uang, tiket ke Hong Kong, atau perempuan. Sedangkan permainan pada soal termin adalah tawar-menawar tentang berapa persen bagian pejabat yang terkait agar dia bisa memberikan dana anggaran proyek untuk termin bersangkutan. Dan karena biaya proyek terkikis demikian banyak, permainan pun harus terjadi lagi dalam pengadaan barang. Pada tingkat ini, permainan berarti memanipulasi kualitas dan kuantitas barang yang dibeli untuk keperluan proyek. Sebagai
insinyur, Kabul tahu betul dampak semua permainan ini. Mutu bangunan menjadi
taruhan. Padahal bila mutu bangunan dipermainkan, masyarakatlah yang pasti
akan menanggung akibat buruknya. Dan bagi Kabul hal ini adalah pengkhianatan
terhadap derajat keinsinyurannya. Namun Kabul merasa tak bisa berbuat
apa-apa. Karena permainan itu terasa sudah menjadi kewajaran dan menggejala
di mana-mana, sampai masyarakat sekitar proyek pun ikut melakukannya. Bahkan
pelaksana seperti Dalkijo sudah terbiasa menerima semua bentuk permainan itu
tanpa keluhan apa-apa, atau malah memanfaatkannya? …………………………………………………………………………………………………… Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama? Mungkin. Atau entah. Yang jelas bagiku kecurangan besar maupun kecil yang terjadi di proyek ini pasti akan mengurangi tingkat kesungguhan, bahkan mengkhianati tujuan dasarnya. Dan hatiku tak bisa menerimanya. Lalu,
apakah kejujuran yang sering minta dibuktikan dengan kesahajaan sama dengan
mempertahankan kemelaratan? Ah, tidak. Pasti tidak. Banyak orang memilih cara
hidup bersahaja dan mereka sangat kaya akan rasa kaya. Atau hati dan jiwa
mereka memang benar-benar kaya. Dan kau, Dalkijo, yang begitu membenci
kemiskinan dengan cara hidup jor-joran, tak peduli dari mana ongkosnya, apakah
kau punya rasa kaya? Jangan-jangan kau membenci kemiskinan, sementara hati
dan jiwamu memang benar-benar melarat. …………………………………………………………………………………………………… Jembatan
Cibawor sudah kelihatan. Tampak mangkrak dan kesepian. Kegagahan yang dulu
sempat tampak kini hilang. Dan begitu turun dari mobil di mulut jembatan,
Kabul segera tahu bagian mana yang rusak. Lantai jebol pada dua titik dan
aspal sudah retak hampir sepanjang lantai jembatan. Kabul meminta Wati tetap
di mobil, karena dia mau turun untuk mengintip bagian struktur jembatan dari
sayap fondasi. Tampaknya tak ada masalah. Kerusakan hanya terdapat pada
bagian lantai jembatan. Meski demikian rasa kecewa, malu, dan marah tak bisa
dihindarkan. Pahit. Dan Kabul merasa kepalanya pening. ………………………………………………………………………………………………….. Kabul
menjawab dengan langkah menuju mobilnya. Wajahnya masih berat. Duduk di
belakang kemudi, tapi kunci kontak tak kunjung disentuhnya. Malah memejamkan
mata. Lama. Dengan mata terpejam Kabul malah melihat ribuan proyek bangunan
sipil yang digarap dengan kesontoloyoan. Orang-orang proyek sudah dikenal
masyarakat sebagai tukang suap, tukang kongkalikong, apa saja bisa dilakukan
asal dapat untung. Dan korban kegilaan mereka adalah masyarakat umum, karena
mutu bangunan yang mereka kerjakan tak mencapai mutu baku. ………………………………………………………………………………………………….. (Orang-Orang
Proyek/Ahmad Tohari)
|
Pemberian remisi seperti yang tampak pada gambar di atas juga bisa menjadi faktor penyebab maraknya tipikor di negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa negara ini tidak serius menangani korupsi. Bukan hanya pemberian remisi, kita juga sudah cukup kenyang mendapat informasi bahwa banyak koruptor yang sekedar mencicipi beberapa bulan dimasukkan ke hotel prodeo ternyata dinyatakan tidak bersalah dan bebas menghirup udara segar. Bukan hanya itu, banyak juga para mantan koruptor yang sempat menikmati hidup di penjara juga bisa menjadi penguasa dengan alasan bahwa mereka-mereka itu sudah dianggap `bersih`. Karena sudah `bersih`, sah-sah saja kalau mereka menjadi salah satu pimpinan partai, anggota parlemen, walikota, bupati, atau gubernur sekalipun. Juga sah-sah saja kalau mereka direkrut menjadi direktur BUMN, menteri, atau pejabat-pejabat teras di negara ini. Para koruptor yang tinggal di hotel prodeo telah menyulap sel-sel penjaranya menjadi kamar hotel berbintang. Tidak usah aneh kalau mereka begitu hidup nyaman, aman, dan sejahtera di dalam penjara. Bukan itu saja, mereka kapan saja bisa keluar-masuk lapas karena hasil evaluasinya menunjukkan nilai positif. Kalau sudah seperti ini, hukum yang mengatur masalah tipikor yang ternyata dalam implementasinya seperti itu menjadi faktor penyebab tumbuh suburnya korupsi di negara ini. Tidak ada salahnya kalau ada orang yang mengatakan bahwa penegakan hukum yang tidak baik dan benar (serba longgar) memberi kesempatan mengguritanya korupsi di negara ini.
Apakah orang miskin akan melakukan
korupsi? Bagaimana orang miskin akan melakukan korupsi? Tidak mungkinlah orang
miskin melakukan korupsi. Yang mungkin korupsi menjadi faktor penyebab kenaikan
jumlah orang miskin atau korupsi berdampak pada peningkatan angka kemiskinan.
Kalau korupsi bukan dilakukan orang miskin, siapa pelaku korupsi yang harus
kita tuding? Siapa lagi kalau bukan pejabat publik atau minimal mereka yang
pendapatannya tidak memenuhi kebutuhan hidupnya tapi ngoyo untuk meraih hidup serba enak? Mereka-mereka inilah yang
memunculkan sesuatu yang paradoks. Bagaimana tidak paradoks kalau seorang
pegawai yang sudah jelas-jelas gajinya kecil bisa menggunakan kendaraan yang fantastis ke kantornya? Atau kalau mereka dari kalangan wanita (ibu-ibu) agar tetap glowing,
tidak segan-segan setiap saat mereka ke salon yang biaya untuk membenahi
wajahnya agar tetap glowing membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dari
mana mereka mengeluarkan biaya untuk tetap glowing wajahnya (bukan itu
saja di rumahnya yang juga mewah ditemukan sekian mobil dan motor yang
tergolong mahal) kalau bukan karena korupsi? Orang-orang jenis ini mau digaji
berapapun kalau gaya hidupnya seperti itu tidak akan bisa mencukupi
kebutuhannya. Untuk memenuhi nafsu kehidupan duniawinya, mereka akan tetap
melakukan cara-cara yang tidak terpuji yang salah satunya adalah korupsi.
Di manapun dalam organisasi yang
sangat berperan penting adalah faktor kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik
dan benar sudah bisa dipastikan akan melahirkan bawahan yang juga baik dan
benar. Sebaliknya, seorang pemimpin yang terbiasa melakukan penyimpangan juga
sudah bisa dipastikan akan melahirkan bawahan yang lebih kurang sama dengan
sang atasannya. Bukankah di negara ini masih kuat jargon yang namanya `asal
bapak senang` (ABS) atau bisa disebut sebagai `paternalisme`? Mental yang
mengarah pada paham `paternalisme` ini sulit dihapus dari masyarakat kita di
Indonesia. Akibatnya, para pejabat publik di negara ini ketika pimpinannya menerima
`uang haram`, bawahannya juga ikut-ikut latah menerima `uang haram`. Untuk membenahi
organisasi di negara ini tampaknya harus dimulai dari membenahi kepemimpinannya.
Selama belum bisa membenahi orang-orang yang berada di tampuk pimpinan
organisasi, selama itu juga kita akan menemui banyak orang yang terlibat di
organisasi melakukan praktek-praktek korupsi.
Selain pimpinannya yang perlu dibenahi
juga perlu dibenahi sistem pengawasannya. Selama ini pengawasan, baik pada para
pimpinan maupun para bawahan cenderung kendor. Bahkan, sangat-sangat mungkin
tidak ada pengawasan yang baik dan benar. Pengawasan yang baik dan benar tidak
cukup melibatkan orang yang berada di organisasi itu sendiri, tapi juga perlu
melibatkan masyarakat. Justru, pelibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan dianggap
paling efisien dan efektif. Lewat pengawasan masyarakat diharapkan
praktek-praktek kotor yang sering dilakukan orang-orang yang terlibat dalam
aktivitas pelayanan, misalnya, akan berkurang. Jadi, korupsi dan sejenisnya yang
sering dilakukan orang-orang yang terlibat dalam sebuah organisasi (instansi
pemerintah) bisa jauh berkurang (kalau bisa benar-benar bersih) jika melibatkan
masyarakat dalam melakukan pengawasan.
***
Akar faktor penyebab korupsi substansinya
kalau disingkap secara mendetail lebih pada faktor yang ada dalam diri manusia,
yaitu sikap menahan hawa nafsu yang cenderung ke arah keburukan. Orang yang
bisa menahan hawa nafsunya yang cenderung mengarah ke arah keburukan sudah bisa
dipastikan tidak akan ada sedikit pun keinginan untuk berbohong. Orang yang
masuk dalam golongan ini bisa dipastikan adalah orang-orang yang jujur. Kalau
kejujuran sudah tertanam dalam diri setiap orang tidak mungkin dia akan
melakukan praktek-praktek KKN. Praktek-praktek KKN entah di bidang politik,
hukum, ekonomi, atau organisasi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang
diragukan kejujurannya. Selain itu, orang yang sudah terbiasa menahan hawa
nafsu adalah orang-orang yang punya kepedulian. Mustahil orang yang peduli
tega-teganya mau melakukan praktek-praktek KKN. Jadi, dua modal yang menjadi
penyebab menghindari KKN: kejujuran dan kepedulian. Dua modal dan dua kata
kunci inilah yang bisa menjadi penyebab dan sekaligus dapat mencegah
praktek-praktek KKN di negara kita: Indonesia.
Sumber Gambar:
2) (https://transisi.org/sisi-gelap-politik-lokal/)
3) (https://www.kompasiana.com/alfonsliwun/61b20e3d06310e634c0e1142/korupsi-dan-arena)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar