Senin, 25 Desember 2023

All You Need Is Love (153)

 


Kemauan-Kemampuan-Keterampilan Insan Akademis

Subagio S. Waluyo


Sebagai makhluk sosial, insan akademis pasti menginginkan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, kenyamanan, dan keamanan. Untuk mencapai itu semua dibutuhkan kerja-kerja kreatif. Kerja-kerja kreatif yang dilakoni jelas kerja kreatif yang mengarah ke nilai-nilai positif. Masa depan yang masih samar-samar bagi siapa saja tidak boleh sama sekali menyurutkan niat insan akademis untuk melakukan kerja-kerja kreatif yang memberikan nilai tambah. Untuk bisa melakukan kerja-kerja kreatif insan akademis harus memiliki tiga modal utama, yaitu kemauan, kemampuan, dan keterampilan. Tulisan ini membahas ketiga hal tersebut: kemauan, kemampuan, dan keterampilan.

***

Untuk punya kemauan, insan akademis harus banyak diberi motivasi. Motivasi menurut Hadari Nawawi dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia (2003:359) bisa diberikan dalam bentuk motivasi intrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai individu) dan motivasi ekstrinsik (pendorong kerja yang bersumber dari luar diri pekerja sebagai individu). Dalam prakteknya motivasi ekstrinsik lebih banyak digunakan daripada motivasi intrinsik. Hal itu lebih disebabkan oleh tidak mudahnya menumbuhkan kesadaran dari dalam diri seorang insan akademis. Untuk bisa kerja kreatif insan akademis harus lebih mengutamakan motivasi intrinsik daripada motivasi ekstrinsik. Kalau lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik, insan akademis tersebut akan selalu meminta kompensasi untuk melakukan aktivitas. Karya-karya besar hasil kerja kreatif manusia selama ini lebih disebabkan oleh adanya kemauan sendiri dari orang yang menciptakan karyanya. Karya-karya yang diciptakan atas dasar adanya kompensasi biasanya tidak terlepas dari adanya iming-iming atau boleh juga pesanan. Karya-karya pesanan tidak memiliki nilai lebih karena karya tersebut telah dicampuri oleh keinginan orang yang memberi pekerjaan. Bayangkanlah kalau negara dibangun oleh pemimpin yang lebih mengutamakan motivasi ekstrinsik akan seperti apa pemimpin tersebut dalam menjalankan pemerintahannya?

Setelah memiliki kemauan yang dibangun atas dasar motivasi intrinsik, seorang insan akademis yang mau melakukan kerja-kerja kreatif juga harus memiliki kemampuan (potensi diri). Untuk bisa memiliki potensi diri, insan akademis minimal mengenal tujuh potensi diri berikut ini.



Di luar itu semua, sebagai makhluk yang ber-Tuhan, insan akademis harus meyakini bahwa manusia diciptakan Sang Khalik dengan berbagai kelebihan yang justru tidak dimiliki makhluk-makhluk lain. Salah satu yang diberikan  yaitu akal. Dengan akal inilah seorang insan akademis bisa mengembangkan potensi dirinya kalau memang masih ada keinginan dan kesempatan untuk menggunakannya.

Faktor terakhir yang tidak kalah pentingnya dalam melakukan kerja-kerja keras adalah keterampilan. Di era globalisasi ini segalanya serba cepat dan terukur. Untuk itu, agar bisa mengantisipasinya dibutuhkan kerja-kerja terampil. Keterampilan itu sendiri beragam. Setiap insan akademis harus konsens pada keterampilan yang lebih ditujukan pada diri sendiri. Untuk bisa mengembangkan keterampilan pada diri sendiri diperlukan sepuluh langkah berikut ini.


Di samping kesepuluh butir di atas, seorang insan akademis yang mau melakukan kerja-kerja keras harus punya konsentrasi menjadi insan akademis  yang baik dengan bersikap jujur pada diri sendiri. Sebagai tambahan, insan akademis tersebut sepanjang hidupnya harus bisa membimbing diri sendiri dengan baik (reni-em.blogspot.com).

***



Dengan melihat uraian di atas, memang tidak mudah melakukan kerja-kerja keras sehingga memerlukan proses. Prosesnya ada yang memang cepat, ada juga yang lambat. Baik proses yang cepat maupun lambat semuanya harus berangkat dari adanya kemauan yang lebih didominasi oleh motivasi intrinsik. Berkaitan dengan motivasi intrinsik ini seorang insan akademis harus menyingkirkan jauh-jauh pola pikir yang semuanya ingin serba instan. Mindset insan akademis yang cenderung, misalnya, melakukan sesuatu dengan serba instan (meminjam istilah yang dipakai Koentjaraningrat dalam Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan: mental menerabas) harus dihilangkan. Seandainya mindset  masih `doyong` ke mentalitas menerabas, jangan berharap insan akademis akan bisa melakukan kerja-kerja keras atau bahkan, membangun kreativitas.

 

Sumber Gambar:

(https://id.quora.com/Menurut-pandangan-kalian-sebenarnya-apa-penyebab-kemalasan)







Minggu, 24 Desember 2023

All You Need Is Love (152)

 


Kritik Sosial dalam Gambar Karikatur


Subagio S.Waluyo


Berpikir kritis tidak harus dimiliki oleh para ilmuwan di PT. Artinya, siapa saja boleh berpikir kritis. Karikaturis, misalnya, meskipun banyak di antara mereka yang berpendidikan tidak setinggi ilmuwan di PT, banyak di antara mereka ternyata bisa berpikir kritis. Buktinya, hasil-hasil karya mereka berupa kritik sosial di bawah ini merupakan representasi dari berpikir kritis yang mereka miliki. Berikut ini bisa dilihat hasil-hasil karya para karikaturis yang menunjukkan kekritisan mereka ketika melihat fenomena sosial yang ditemukan di negara ini.

***

1.   RUU Cipta Kerja dan Nasib Buruh



Undang-Undang Cipta Kerja yang sebelum disahkan sempat kisruh akhirnya pada tanggal 31 Maret 2023 disahkan. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. Agar mudah dipahami sebut saja Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 (UURI Nomor 6 Tahun 2023) tentang Cipta Kerja. UU ini yang sering orang sebut dengan UU `sapu jagat` atau Omnibus Law di awal-awal kemunculannya sebenarnya menimbulkan permasalahan karena orang menganggap sebagai UU yang bertentangan dengan sifat demokrasi. Kenapa? Boleh jadi munculnya masalah lebih disebabkan oleh adanya rasa khawatir yang akan menguntungkan pemilik perusahaan (terutama perusahaan asing), konglomerat, kapitalis, investor (terutama investor asing), dan merugikan hak-hak pekerja serta meningkatkan deforetasi di Indonesia dengan mengurangi perlindungan lingkungan (https://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Cipta_Kerja). Tentang kekhawatiran sikap semena-mena para pemilik perusahaan dan investor asing terhadap para buruh bisa dilihat pada gambar karikatur di atas.   

 

2.   Dalang Penyebar Hoax



Apakah penyebar berita palsu (hoax) ada dalangnya? Kalau melihat gambar karikatur di atas, sudah terjawab pasti ada dalangnya. Cuma siapa dalang penyebar hoax? Ini yang harus dicari penyebar hoax-nya. Meskipun sulit untuk mencari penyebar hoax, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebutkan ada 800.000 situs penyebar hoax. Luar biasa banyaknya penyebar hoax di negeri ini. Penyebar hoax yang luar biasa ini juga dipastikan menyebarkan hoax ke pengguna internet di negeri ini yang konon kabarnya sampai mendekati angka 132,7 juta orang (https://www. kominfo. go.id/content/detail/12008/ada-800000-situs-penyebar-hoax-di-indonesia/0/ sorotan_media). Pertanyaan yang muncul, bagaimana cara memberantas penyebar hoax yang jumlahnya demikian besar sementara sampai saat ini tidak terdeteksi penyebarnya? Karena itu, gambar karikatur di atas menyentil para penegak hukum untuk bersikap tegas pada entah orang-orang, instansi, LSM, atau ormas yang diduga menjadi penyebar hoax. Kalau memang sudah diketahui dalang penyebar hoax-nya, pesan dari gambar karikatur di atas menginginkan agar mereka-mereka itu dikenakan sanksi hukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Dengan demikian, hukum jangan menjadi tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah.

                   

3. Makanan Terbuat dari Bumbu Kemiskinan




Kemiskinan menurut Wikipedia ialah keadaan saat ketidakmampuan seseorang atau masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan,dan kesehatan.Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar. Bisa juga disebabkan oleh sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan (https://id.wikipedia.org/wiki/ Kemiskinan). Kemiskinan sendiri memiliki empat bentuk, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural, dan kemiskinan struktural (http://e-journal.uajy.ac.id/1756/3/2EP15294. pdf. ). Kondisi seperti apa orang bisa disebut miskin? Seseorang disebut atau dimasukkan ke dalam golongan orang miskin kalau menurut Bank Dunia dan PBB pendapatannya di bawah US$3,2/hari atau Rp48.000,00. Sementara itu, perhitungan BPS dan Pemerintah Indonesia berbeda dihitung berdasarkan garis kemiskinan, yaitu sebesar Rp535.547/orang/bulan atau Rp17.851/hari (https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan). Dengan melihat pada data di atas, Penulis berkesimpulan akan ada perbedaan jumlah orang miskin antara hasil perhitungan Bank Dunia dan BPS. Terlepas dari jomplangnya jumlah orang miskin dari kedua lembaga tersebut, tampaknya karikatur di atas merupakan sebuah kritik sosial betapa orang miskin tidak bisa menikmati kesejahteraan hidup karena untuk menikmati sepotong tempe saja terbuat bumbunya dari kemiskinan.

 

4.   Perlunya Pemiskinan buat Koruptor



Mereka-mereka yang korup, yang sebagian hartanya tidak disita negara, boleh jadi beranggapan buat dia kalau ditahan itu tidak akan berpengaruh. Sudah banyak diketahui orang kalau mereka-mereka (para koruptor) selama di dalam penjara selnya telah berubah menjadi kamar hotel bintang empat. Sel tahanan yang telah disulap menjadi kamar hotel bintang empat itu dilengkapi dengan berbagai kelengkapan hidup yang serba lengkap dan mewah. Jauh berbeda dengan sel tahanan pelaku-pelaku kriminal di luar para koruptor yang satu selnya diisi sekian narapidana (napi). Sel para napi itu jauh dari nilai-nilai hidup layak (bisa disebut tidak berkemanusiaan). Jadi, orang bisa menyaksikan di penjara yang nama halusnya “Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)” saja terjadi disparitas antara napi koruptor dan napi kriminal. Itu baru dilihat dari segi tempat bermukimnya. Belum lagi perlakuan terhadap kedua jenis napi itu. Napi yang tergolong koruptor jelas diistimewakan. Mereka bisa berkeliaran di luar Lapas. Tidak usah aneh kalau napi koruptor yang tergolong VVIP itu bisa punya anak di luar Lapas karena adanya kebebasan untuk keluar masuk Lapas. Tentu saja untuk mendapatkan keistimewaan itu tidak gratis. Di sini sudah pasti ada sesuatu buat petugas Lapas (pimpinan Lapas juga tahu) yang bisa dijadikan oleh-oleh ketika pulang kerja. Karena itu, munculnya gambar karikatur di atas tidak usah dipungkiri tetapi bagaimana caranya membuat koruptor itu jera? Tidak ada cara lain kecuali sita semua hartanya atau dibuat `kere` (miskin) saja seperti tertera pada kata-kata yang terdapat di gambar karikatur itu.

***

Empat gambar karikatur yang ditampilkan di atas merupakan bukti bahwa seorang karikaturis adalah orang yang bisa berpikir kritis.Jadi, berpikir kritis bukan hanya didominasi oleh ilmuwan, para karikaturis juga bisa melakukannya. Di negara yang demokratis yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sah-sah saja setiap orang menyampaikan kritik sosial. Justru, dengan kritik sosial orang tersadarkan bahwa banyak persoalan kehidupan sosial yang perlu dibenahi. Mudah-mudahan walaupun hanya gambar-gambar karikatur, setiap orang yang masih punya hati nurani manakala melihat gambar-gambar tersebut selagi diberi kesempatan hidup di dunia tergerak untuk melakukan yang terbaik. Wallahu a`lam bissawab!

 Sumber Gambar:

1.   (https://geotimes.id/opini/karikatur-sebagai-kritik-politik/)

2.   (https://nyatanya.com/gatot-eko-cahyono-kartun-sebagai-seni-multi-fungsi/)

3.(https://www.baliekbis.com/pameran-kartun-gmsudarta-50-tahun-kesaksian-oom-pasikom/)

4.(https://tonisultonish.blogspot.com/2016/11/apakah-para-koruptor-orang-orang-pintar.html)








Rabu, 20 Desember 2023

All You Need Is Love (151)

 


Insan Akademis Berpikir Kritis

Subagio S.Waluyo



Dimaksudkan dengan berpikir kritis adalah kemampuan seseorang dalam menganalisis permasalahan serta ide atau gagasan ke arah yang lebih spesifik untuk mencari solusi sesuai nalar dan pengetahuan yang dimilikinya  (https: //www.kompas.com/skola/read/2022/11/29/160000769/berpikir-kritis). Lalu, apa kepentingannya seorang insan akademis harus bisa berpikir kritis? Di sini perlu dijelaskan bahwa dengan berpikir kritis, seorang insan akademis akan ada manfaat yang bisa diambil. Kasdin Sihotang dalam Berpikir Kritis: Kecakapan Hidup di Era Digital (2019) menjelaskan bahwa secara akademis seseorang yang bisa berpikir kritis akan bisa menunjukkan kreativitasnya. Selain itu, juga bisa meningkatkan kemampuannya dalam menyampaikan argumentasi. Perlu juga ditambahkan di sini, seorang insan akademis yang bisa berpikir kritis secara akademis bisa melakukan evaluasi atas ide dan teorinya. Itu baru dari sisi akademis manfaat yang bisa diambil dari berpikir kritis. Belum lagi dari dunia kerja dan kehidupan masyarakat.

***

Dengan melihat pada definisi dan manfaatnya, tidak ada pilihan kecuali seorang insan akademis memang harus bisa berpikir kritis. Di definisi tersebut sudah jelas-jelas seorang insan akademis yang bisa berpikir kritis memiliki kemampuan untuk menganalisis permasalahan dan ide atau gagasan. Seorang insan akademis dalam kesehariannya bukankah memang dituntut untuk menganalisis permasalahan yang muncul? Kalau tidak menganalisisnya, bisa dipastikan sang insan akademis itu diragukan keilmuannya. Bisa diambil contoh di sini tentang kasus yang muncul di seputar hasil Mahkamah Konstitusi (MK) yang berbau nepotisme sehingga menggolkan anak pimpinan tertinggi negara ini untuk dicalonkan sebagai wakil presiden. Ada apa dengan negara ini sampai-sampai anak pimpinan tertinggi di negara ini yang minus pengalaman sebagai pemimpin, kok, bisa-bisanya dicalonkan sebagai wakil presiden? Apa yang akan terjadi kalau sampai sang anak yang benar-benar minus pengalaman tiba-tiba saja nanti jadi wakil presiden padahal jika diajak wawancara, bahkan, debat sekali pun selalu menghindar? Susah untuk bisa dibayangkan ke depannya nasib bangsa dan negara ini ke depan.

Bisa saja seorang insan akademis berkesimpulan bahwa majunya sang anak lebih karena masih bercokolnya syahwat politik yang ada pada sang bapak. Kalau tidak ada syahwat politik, mustahil sang bapak tega-teganya menyodorkan sang anak yang masih `celingusan` diajukan menjadi calon wakil presiden. Di sini sang insan akademis sudah bisa melihat ada syahwat politik yang masih kuat bukan hanya pada pimpinan tertinggi di negara ini, tapi juga di beberapa pejabat tinggi negara ini. Sang insan akademis juga bisa memprediksi ke depannya akan semakin banyak pejabat tinggi yang masih bercokol syahwat politiknya ingin tetap berkuasa. Tampaknya, untuk bisa mewujudkan negara sejahtera buat negara ini masih jauh dari harapan kalau masih bercokol penyakit syahwat politik di kalangan pimpinan tinggi negara ini. Kesimpulan yang diambil membuktikan bahwa sang insan akademis bisa berpikir kritis. Karena kalau tidak bisa berpikir kritis, sang insan akademis btidak bisa menganalisis sejauh itu.

Selain bisa menganalisis sejauh itu, sang insan akademis juga bisa menunjukkan dirinya sebagai orang yang bisa berkreativitas. Bukankah itu lebih merupakan manfaat yang bisa diambil secara akademis oleh seorang insan akademis? Bahkan, bukan hanya kreativitas, seorang insan akademis juga bisa melakukan evaluasi atas ide dan teori yang dikemukakannya. Bisa diambil contoh di sini ketika seorang insan akademis suatu saat melakukan penelitian yang berkaitan dengan ide-idenya tentang pembangunan smart city di salah satu kota di Pulau Jawa. Hasil penelitian yang di dalamnya ada butir-butir evaluasi menunjukkan bahwa ide dan teorinya yang pernah diajukan dulu sebelum smart city itu terwujud ternyata ada yang perlu dikoreksi. Sang insan akademis yang mengetahui adanya sisi-sisi negatif dari hasil evaluasinya itu akhirnya meminta beberapa institusi untuk berkolaborasi. Artinya, sang insan akademis yang menyadari adanya kelemahan, baik ide maupun teorinya membuka diri untuk bekerja sama dengan beberapa pihak (bisa juga disebut sebagai pemangku kepentingan). Di sini sang insan akademis dilihat dari sisi dunia kerja telah menunjukkan diri sebagai orang yang mampu mengatasi masalah, berpikir kreatif dan menganalisis dengan cepat, dan tentu saja bisa mengkomunikasikan gagasan dengan jelas dan tepat.

Bukan hanya berkaitan dengan kerja-kerja akademis, dalam kehidupan masyarakat pun sang insan akademis dituntut untuk meningkatkan kualitas keputusan dan kualitas kehidupan demokrasi. Hal ini bisa dibuktikan ketika sang ilmuwan melakukan aktivitas pengabdian masyarakat sebagai dharma ketiga PT. Dalam melakukan aktivitas dharma ketiga itu apakah sang ilmuwan benar-benar bisa menunjukkan bahwa konsep-konsep yang dikemukakan yang akhirnya digunakan dalam pengambilan keputusan memberikan hasil yang positif dan signifikan? Selain itu, dalam mengajukan konsep-konsepnya, apakah dilakukan secara demokratis di antaranya menerapkan konsep good governance? Pertanyan-pertanyaan itu jika terbukti memang benar-benar dilakukan dan hasilnya positif, hal itu menunjukkan sang insan akademis termasuk golongan orang-orang yang bisa berpikir kritis.

***

Insan akademis dituntut berpikir kritis. Insan akademis yang tidak bisa berpikir kritis diragukan kemampuannya. Insan akademis yang berpikir kritis bukan saja diuji kemampuannya dalam berbagai aktivitas akademis, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Insan akademis teruji berpikir kritisnya kalau bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Agar tidak disebut sebagai `jago kandang` yang cuma beraktivitas di Menara Gading, sudah saatnya insan akademis membuktikan kemampuannya di masyarakat. Justru, di masyarakat insan akademis teruji berpikir kritisnya.  


All You Need Is Love (150)

 


Ilmuwan Subordinasi Kekuasaan

Subagio S.Waluyo

Ilmuwan yang telah menjadi subordinasi kekuasaan tidak lagi layak disebut sebagai ilmuwan berperadaban. Ilmuwan jenis ini tidak lagi memiliki idealisme. Ilmuwan jenis ini sudah jelas-jelas bersikap pragmatis-permisif. Buat mereka materi sudah menjadi tujuan hidupnya. Mereka lebih cenderung mengorbankan idealismenya daripada sebagai ilmuwan tidak memperoleh kesejahteraan hidup. Kehidupan dunia yang semakin hari semakin indah dalam pandangannya membuat mereka terlena. Ketika ada `orderan` dari penguasa untuk mengerjakan `proyek` yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan hati nuraninya yang bersih, tanpa pikir-pikir mereka `samber`. Di belakang hari `proyek-proyek` yang mereka kerjakan ternyata bermasalah karena sudah jelas-jelas merugikan orang banyak. Wajar saja jika ilmuwan jenis ini masuk ke dalam golongan ilmuwan tidak berperadaban.

***

Ilmuwan yang telah menjadi subordinasi kekuasaan bisa dimasukkan ke dalam golongan ilmuwan yang tidak berperadaban. Mengapa dianggap tidak berperadaban? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut dibahas dulu, apa itu subordinasi kekuasaan? Frase subordinasi kekuasaan sebaiknya dipecah dulu dengan membahas dulu apa itu subordinasi? Baru kemudian dibahas apa itu kekuasaan? Setelah itu, baru disimpulkan apa itu subordinasi kekuasaan?

Subordinasi dalam KBBI (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/subor-dinasi) diartikan sebagai kedudukan bawahan (terutama dalam kemiliteran). Bisa juga subordinasi diartikan sebagai peran seorang bawahan (https:// kumparan.com/sejarah-dan-sosial/5-contoh-subordinasi-di-indonesia-yang-masih-banyak-dijumpai-21aomGSEbXr). Atau bisa juga subordinasi  diartikan sebagai menjadi bawahan atau bagian. Sedangkan kekuasaan bisa diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhinya (https://id.wikipedia. org/ wiki/ Kekuasaan). Jadi, subordinasi kekuasaan bisa diartikan sebagai orang yang menjadi bawahan orang atau pranata (institusi) yang mempunyai kemampuan mempengaruhi bawahannya agar berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak orang atau institusi itu. Kalau begitu, seorang ilmuwan yang masuk ke dalam golongan subordinasi kekuasaan mau tidak mau harus siap menjadi bawahan yang memiliki kekuasaan (dalam hal ini pemerintah yang berkuasa). Apa yang akan terjadi kalau seorang ilmuwan sudah menjadi seorang bawahan atau bagian dari pemerintah?

Ilmuwan yang sudah menjadi bagian kekuasaan (pemerintahan) bisa dipastikan tidak memiliki harga diri. Karena tidak memiliki harga diri, ilmuwan jenis ini tidak lagi memiliki budaya CS yang mencakup di antaranya demokratisasi, sikap kritis dan rasional, bertanggung jawab, partisipatoris, integritas, dan good governance. Karena sudah tidak lagi memiliki budaya CS, ilmuwan jenis ini bisa dipastikan ilmuwan yang tidak berperadaban. Artinya, mereka bukan lagi ilmuwan yang berkualitas pada aspek akhlak (moral), pemikiran, dan amal (perbuatan baik). Para ilmuwan yang menjadi bawahan (bisa juga alat kekuasaan) mana mungkin memiliki akhlak, pemikiran, dan amal yang baik karena mereka-mereka itu ketika membuat penelitian seperti survai politik sudah bisa dipastikan akan memanipulasi data sesuai dengan permintaan penguasa. Tidak aneh kalau di saat-saat menjelang pemilu entah pemilihan presiden atau pemilihan legislatif, ada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang hasil survainya sengaja ditempatkan di nomor buncit. Di sini sudah jelas-jelas ilmuwan yang menjadi subordinasi kekuasaan telah melacurkan dirinya. Demi materi sang ilmuwan mau menghancurkan harga dirinya.  

Ilmuwan yang menghancurkan harga dirinya akan melakukan segala cara. Buat sang ilmuwan yang sudah `kepincut` dengan kehidupan dunia yang serba gemerlap akan mengorbankan keilmuannya. Demi materi mereka siap memanipulasi data hasil sebuah penelitian. Demi materi buat mereka tidak menjadi masalah kalau harus membuat regulasi yang kontroversial. Demi materi buat mereka tidak menjadi masalah kalau sesuatu yang baik jadi buruk atau sebaliknya. Demi materi sang ilmuwan membuat konsep keilmuan menjadi `jumpalitan` tidak `karuan`. Akhirnya, dunia kampus tidak usah aneh kalau tidak lagi menjadi ujung tombak demokrasi. Pilar demokrasi goyah karena kemalasan sang ilmuwan untuk menumbuhkan sikap kritis objektif akademisi yang ditopang oleh penelitian berkualitas.

***


Penelitian-penelitian yang dilakukan para ilmuwan yang sudah menjadi subordinasi kekuasaan karena isinya sudah dimanipulasi tidak lagi memberi bekas pada sivitas akademika. Penelitian-penelitian itu sekedar memenuhi kebutuhan pengisian borang-borang yang tidak sama sekali diterapkan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus (masyarakat). Akhirnya, mereka-mereka para ilmuwan membuat jarak dengan dunia sekelilingnya. Mereka telah merasa nyaman tinggal di Menara Gading. Mereka-mereka itu ilmuwan gamang yang hidup di dunia angan-angan. Mereka-mereka itu tidak mungkin lagi bisa memberikan pencerahan karena ilmunya telah tergadaikan.

Sumber Gambar:

 (https://nasional.sindonews.com/berita/1347091/18/kriminalisasi-akademisi )



Selasa, 19 Desember 2023

All You Need Is Love (149)

 


Ilmuwan dan Civil Society

 Subagio S.Waluyo

Civil Society (selanjutnya disingkat CS) atau masyarakat madani dapat diartikan sebagai masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya atau bisa juga disebut masyarakat yang berperadaban (https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_madani). Karena disebut sebagai masyarakat yang berperadaban, ilmuwan sebagai anggota masyarakat juga bisa dimasukkan ke dalam CS. Sebagai CS, ilmuwan juga harus memiliki prinsip demokratis, menjunjung tinggi etika dan moralitas, transparan, memiliki toleransi, memiliki potensi, aspiratif,  memiliki motivasi, berpartisipasi, bersikap konsisten, memiliki bandingan, mampu berkoordinasi, sederhana, sinkron, integral, mengakui, memiliki emansipasi, dan hak asasi (H.A.R.Tilaar. Pendidikan,Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. 2002:5). Meskipun demikian, yang perlu ditekankan di sini seorang ilmuwan yang termasuk ke dalam CS adalah masyarakat yang demokratis.

***

Ilmuwan sebagai masyarakat yang demokratis harus bisa memerankan dirinya sebagai alat kontrol kekuasaan (negara). Dalam hal ini ilmuwan harus bisa melakukan perlawanan terhadap kecenderungan negara yang, misalnya, mengarah pada otoritarianisme. Dimaksudkan dengan otoritarianisme menurut A. Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai Z (2001:174) adalah paham atau pendirian yang berpegang pada otoritas, kekuasaan kewibawaan. Penganut otoritarian berpegang pada kekuasaan sebagai acuan hidup. Dalam bertindak orang yang otoritarian suka main kuasa. Untuk itu, penguasa yang cenderung otoritarian dapat melakukan segala cara. Bisa saja penguasa yang otoritarian melakukan entah itu pelumpuhan, pengancaman, pemojokan, atau penyepelean. Karena penguasa penganut otoritarianisme mempraktekkan cara-cara seperti itu, seorang ilmuwan sebagai anggota masyarakat sipil tidak boleh melakukan pembiaran.       Ilmuwan yang melakukan pembiaran bisa jadi dipertanyakan sampai sejauhmana kepeduliannya dalam menegakkan CS. Bisa saja ilmuwan macam itu telah terkooptasi oleh kekuasaan sehingga menjadi subordinasi kekuasaan. Ilmuwan yang sudah menjadi alat kekuasaan bisa-bisa diragukan integritas keilmuannya karena sebagai ilmuwan telah melacurkan dirinya. Di sini sang ilmuwan telah tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip demokrasi. Karena tidak berpegang teguh pada prinsip-prinsip demokrasi, walaupun memiliki potensi, sang ilmuwan telah cacat dari sisi etika dan moralitas. Lha, kok bisa cacat etika dan moralitasnya? Bisa saja cacat etika dan moralitasnya karena sang ilmuwan melakukan pembiaran. Dengan melakukan pembiaran, di sebuah negara yang demokratis sekalipun lambat-laun akan terjadi kerusakan demokrasi atau kehidupan demokrasi di negara itu telah rusak. Dengan demikian, ada korelasi antara pembiaran dan rusaknya demokrasi.

Rusaknya demokrasi sangat boleh jadi dimulai dari PT yang di dalamnya banyak ilmuwan yang telah bersikap ambigu. Di satu sisi para ilmuwan yang bersemayam di menara gading masih mau menjadi bagian dari CS. Di sisi lain tampaknya sesuatu yang menggiurkan, yang datangnya dari penguasa, tentu saja memiliki magnet yang begitu kuat sehingga mereka masuk ke dalam subordinasi penguasa. Kalau sudah masuk dalam subordinasi penguasa, sang ilmuwan tidak bisa lagi diharapkan bisa melakukan penguatan CS. Oleh karena itu, tatanan kehidupan masyarakat yang demokratis, partisipatoris, kritis, dan mampu mencapai balancing power tidak akan terwujud. Sebagai gantinya akan muncul perilaku penguasa yang cenderung refresif dan eksesif.

Munculnya penguasa yang cenderung refresif dan eksesif jelas tidak dikehendaki. Kalau sampai terjadi seperti itu, para ilmuwan juga pasti terkena imbasnya. Mereka akan mengalami keterkekangan karena sebentar-sebentar ketika mereka mau menyampaikan kebenaran dari hasil penelitiannya sudah bisa dipastikan akan diancam. Bahkan, bisa saja mereka akan diintimidasi yang ujung-ujungnya dipidanakan. Kehidupan akademis yang seharusnya lebih merupakan mimbar bebas untuk menyampaikan pendapatnya dimatikan sehingga kehidupan kampus mengalami keredupan. Bisa saja PT tempat para ilmuwan mengabdikan ilmunya hanya menjadi lembaga kursus. Apa jadinya kalau PT telah menjadi lembaga kursus?

***


Kehidupan demokrasi di kampus saat ini sama seperti kehidupan demokrasi di negara ini. Keduanya mengalami kemunduran demokrasi. Hal itu lebih disebabkan salah satu di antaranya oleh terkooptasinya para ilmuwan ke genggaman penguasa. Mereka merasa hidup lebih nyaman dan tentu saja sejahtera di bawah subordinasi kekuasaan. Mereka telah campakkan sesuatu yang seharusnya ditegakkan, yaitu mewujudkan masyarakat madani (CS). Apakah sikap mencampakkan CS sebagai pilihan hidupnya akan tetap mereka pertahankan? Apakah mereka tidak menyadari akan kerugian yang akan diderita sebagai ilmuwan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi? Apakah mereka sebagai ilmuwan mau disebut sebagai masyarakat yang tidak berperadaban? Wallahu`alam bissawab.    

Sumber Gambar: 

(https://persma.radenintan.ac.id/2021/01/08/demokrasi-mati-tirani-pembunuhnya/) 





Senin, 18 Desember 2023

All You Need Is Love (148)

 


Idealisme Ilmuwan

Subagio S. Waluyo

 

Ada apa dengan idealisme ilmuwan? Apakah idealisme ilmuwan masih ada atau memang sudah mulai luntur. Kalau memang mengalami kelunturan, mengapa bisa terjadi kelunturan idealisme ilmuwan? Terus, apa yang harus dilakukan agar terjadi konsistensi idealisme ilmuwan? Serentetan pertanyaan akan berseliweran di hadapan setiap orang yang menghendaki agar ilmuwan tetap menjaga idealismenya. Tetapi, apakah mungkin di tengah kehidupan yang konon kabarnya serba materi ini masih bisa dipertahankan idealisme ilmuwan?

***

Lantaran terhipnotis oleh materi bisa saja seorang ilmuwan menjadi orang yang ambigu. Ambigunya di sini: apakah sang ilmuwan akan tetap bertahan di posisi civil society atau subordinasi penguasa? Karena terhipnotis oleh materi, sang ilmuwan memilih menjadi subordinasi penguasa. Kalau sudah seperti itu, sang ilmuwan sudah luntur idealismenya. Jadi, sudah bisa dijawab faktor penyebab lunturnya idealisme seorang ilmuwan. Dengan kata lain, ilmuwan jenis ini bisa ditebak kalau ujung-ujungnya pada materi. Masukkan saja ilmuwan jenis ini sebagai ilmuwan materialisme (bahasa kerennya: `matre`).  

Ilmuwan `matre` bukan hanya mengharapkan materi (dalam hal ini hanya uang), tapi juga jabatan, kedudukan, dan kehormatan. Karena tujuan hidupnya mengarah pada materi, orang tidak usah heran kalau suatu saat sang ilmuwan lebih melihat orang yang dihadapinya. Tidak usah heran juga kalau ada kecenderungan menyepelekan orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya. Juga tidak usah heran kalau orang jenis ini telah mematikan sikap kritis objektif akademis. Kok, bisa-bisanya ilmuwan yang materialisme mematikan sikap kritis objektif akademis?

Ilmuwan yang sudah kadung menjadi penganut materialisme bisa dipastikan menyepelekan hasil-hasil kerja akademis yang ditopang penelitian yang bermutu. Buat ilmuwan jenis ini, karena sudah terbius oleh sikap yang serba pragmatis-permisif (lihat tulisan “Ilmuwan Pragmatis-Permisif”) mau tidak mau akan mengesampingkan hasil-hasil penelitian. Buat dia hasil-hasil penelitian hanya digunakan sebagai bahan referensi di saat menulis entah buku atau jurnal atau laporan penelitian. Hasil-hasil penelitian yang dijadikan referensi dalam penulisan tidak pernah diimplementasikan dalam kerja-kerja akademis. Dalam pembelajaran, misalnya, mereka-mereka yang sudah kadung menjadi pengikut setia perilaku pragmatis-permisif, jangan diharap akan menerapkan yang diperolehnya, baik dari hasil penelitiannya maupun dari hasil mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah. Sang ilmuwan baru benar-benar mau mengikuti arahan dari orang atau instansi yang menyampaikannya kalau memberikan keuntungan materi buat dirinya atau PT-nya.

Sang ilmuwan tanpa disadarinya telah membuat goyahnya pilar-pilar keilmuan. Goyahnya pilar-pilar keilmuan lebih disebabkan oleh kemalasan sang ilmuwan selaku akademisi. Mereka yang seharusnya mempertahankan sendi-sendi intelektual, kebudayaan, dan moral karena kemalasannya telah mematikan ruh idealisme. Ruh idealisme yang bisa mewujudkan universitas sebagai ujung tombak demokrasi telah hilang. Ujung tombak universitas itu telah tumpul. Ketumpulan itu dicirikan dengan munculnya sikap ambigu di antara para ilmuwan, yaitu antara civil society dan subordinasi penguasa.  

Ilmuwan yang tidak memiliki ruh idealisme sudah beralih dari akademisi menjadi pengusaha. Karena sudah menjadi pengusaha, tidak usah heran kalau banyak didapati ilmuwan yang berperilaku pengusaha. Bagaimana kalau sang ilmuwan telah menjadi pengusaha? Bisa ditebak, akan muncul dalam dirinya keserakahan (lihat “Menciptakan Ilmuwan yang tidak Serakah”). Ilmuwan jenis ini bisa dipastikan sebagai ilmuwan amoral. Ilmuwan amoral sudah pasti akan menghalalkan segala cara. Ilmuwan jenis ini jangan banyak diharap karena bisa dipastikan mereka-mereka ini tidak akan melahirkan karya-karya pemikiran autentik. Kalau ada karya-karya ilmiah yang diklaim sebagai hasil karyanya, bisa dipastikan mereka-mereka ini banyak melakukan copas dari berbagai yang referensi di internet.

Wajar-wajar saja jika berbagai masalah kemasyarakatan tidak pernah terselesaikan karena sang ilmuwan cenderung tidak menghasilkan karya-karya ilmiah yang autentik. Sang ilmuwan yang berjiwa pengusaha tanpa disadarinya telah menciptakan menara gading. Sang ilmuwan telah membuat jarak dengan masyarakat sekitarnya. Sang ilmuwan telah tidak lagi menjadi bagian dari civil society. Sang ilmuwan lebih cenderung menjadi subordinasi penguasa. Dengan demikian, sang ilmuwan dengan ilmunya tidak/belum dapat memberikan pencerahan.

***

Setiap ilmuwan bisa dipastikan banyak meraup ilmu yang mencerahkan. Ilmuwan yang berhasil menempuh pendidikan doktor, misalnya, tentu saja bisa dipastikan memiliki kadar keilmuan yang lebih tinggi dari sebelumnya karena di bangku kuliah tertinggi itu sang ilmuwan memperoleh ilmu-lmu yang mencerahkan. Tapi, kenapa sekian banyak ilmu yang diperolehnya yang juga tentu saja berhasil mencerahkannya itu tidak memberi bekas sama sekali atau pencerahan buat orang sekitarnya? Sebagai bukti bahwa sang ilmuwan tidak/kurang memberikan pencerahan adalah banyaknya problem masyarakat yang tidak terselesaikan. Bukankah hal itu ironis? Agar tidak terjadi hal yang ironis itu hanya ada satu cara, yaitu ruh idealisme itu harus ditiup ke setiap ilmuwan. Ruh idealisme itu hanya bisa ditiupkan kepada mereka kalau struktur pimpinan yang paling tinggi (rektor, misalnya) di PT tempat mereka mengabdi bisa memberikan contoh teladan terbaik buat sang ilmuwan. Pimpinan PT itu telah menjadi panutan bagi bawahannya. Wallahu a`lam bissawab.


Rabu, 13 Desember 2023

All You Need Is Love (147)

 


Ilmuwan Pragmatis-Permisif


Subagio S.Waluyo

 

Penulis berpendapat dua kata: pragmatis dan permisif, keduanya tidak dapat dipisahkan. Artinya, orang yang pragmatis sudah pasti akan permisif. Sebaliknya, orang yang permisif juga sudah pasti pragmatis. Kok, bisa begitu? Coba saja perhatikan, orang yang bersikap pragmatis ketika ingin memperoleh sesuatu mana mau melakukan yang idealis? Pasti dia melakukan cara-cara yang bertentangan dengan idealis apalagi kalau bukan cara-cara yang menyimpang. Perilaku yang menyimpang, misalnya, kalau mau memperoleh gelar entah S1, S2, atau S3 sekalipun orang yang pragmatis tidak mau berlelah-lelah untuk belajar. Dia akan melakukan jalan ringkas: menerabas. Bukankah yang dia lakukan cenderung pragmatis dan permisif? 

***

Dalam kehidupan di Menara Gading juga banyak ilmuwan yang tidak luput dari perilaku pragmatis-permisif. Di banyak uraian terdahulu sudah Penulis berikan contoh-contoh yang kasat mata perilaku pragmatis-permisif ilmuwan di PT. Di berbagai momen yang berkaitan dengan masalah-masalah akademis ada kecenderungan banyak ilmuwan yang mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif. Praktek-praktek perilaku pragmatis-permisif di satu sisi memang bisa menyelesaikan masalah. Tapi, bukan berarti masalah yang baru saja diselesaikan tidak meninggalkan masalah. Ada masalah baru yang justru lebih menantang, yaitu tentang kredibilitas sang ilmuwan.

Sebagai ilmuwan ketika mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif mau tidak mau sebenarnya telah mempertaruhkan kredibilitasnya di hadapan insan akademis lainnya. Kalau untuk mengerjakan tugas-tugas akademis sang ilmuwan telah mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif, terlepas hasil pekerjaannya diketahui orang atau tidak sangat mungkin di suatu saat orang pasti juga tahu yang dikerjakannya. Suatu saat manakala orang tahu yang dikerjakannya lebih merupakan praktek-praktek ilegal (hasil dari perilaku pragmatis-permisif), berlaku peribahasa `sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya`. Artinya, walaupun sekali saja sang ilmuwan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif, sejak dia melakukannya seumur hidup orang akan meragukan kompetensinya. Apa jadinya kalau diragukan kompetensinya padahal sang ilmuwan bertitel S3, bahkan profesor sekalipun?  

Seorang ilmuwan kalau sudah diragukan kompetensinya, walaupun masih diberi amanah untuk mengajar, membimbing mahasiswa, atau hal-hal yang berkaitan dengan penelitian dan pengabdian masyarakat, tetap saja stigma sebagai ilmuwan yang diragukan kompetensinya itu tetap melekat. Bahkan, tidak mustahil orang juga meragukan gelar kesarjanaan tertinggi yang diraihnya. Di awal-awal ketika sang ilmuwan baru saja meraih gelar doktor, misalnya, orang pasti banyak berharap pada kemampuannya untuk melakukan kerja-kerja penelitian dan pengabdian masyarakat. Tetapi, ketika didapati semua yang dikerjakannya tidak lebih dari hasil jiplakan pekerjaan orang lain (plagiat), sejak saat itu orang sudah memandangnya sebelah mata alias diremehkan. Bagaimana kalau sang ilmuwan bergelar doktor sudah diremehkan? Silakan tebak sendiri!

Seorang ilmuwan yang mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif sepanjang hanya diragukan kompetensinya masih dianggap beruntung. Lain halnya kalau praktek buruk itu berbuah pada pencabutan gelar doktornya. Sudah banyak ilmuwan yang kedapatan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif yang berujung pada pencabutan gelar doktornya. Terlepas dari orang tahu atau tidak tahu kalau sang ilmuwan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif, sebagai orang yang berke-Tuhan-an sekaligus seorang ilmuwan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan selayaknya sebelum melakukannya mempertimbangkan baik-buruk perbuatan yang akan dilakukannya. Kalau ternyata nilai keburukannya lebih tinggi daripada kebaikannya, sebaiknya hal itu ditinggalkan. Di sini sang ilmuwan harus bisa pandai-pandai memprediksi hal-hal yang tidak diinginkan akibat dari perilaku pragmatis-permisif. Apa salahnya jika sang ilmuwan menyingkirkan perilaku pragmatis-permisif?

Menyingkirkan perilaku pragmatis-permisif memang pekerjaan berat. Sang ilmuwan yang sudah `kadung` melakukan praktek-praktek ilegal itu manakala suatu saat mau menyingkirkan perilaku pragmatis-permisif bisa dipastikan akan berhadapan dengan entah atasan atau teman sejawat yang sudah karatan hidup dengan perilaku buruk itu. Tidak mustahil mereka-mereka yang berperilaku buruk itu akan melakukan berbagai cara untuk mempengaruhinya. Bisa saja sang atasan yang tidak suka dengan perubahan sikap sang ilmuwan akan memecatnya atau minimal menghambat kariernya. Bagi ilmuwan yang idealis tidak menjadi masalah, baik dipecat sebagai dosen maupun dihambat kariernya karena masalah karier atau rezeki sekalipun sudah ada yang menentukan.

***



Menjadi seorang ilmuwan yang idealis di tengah-tengah kehidupan yang serba pragmatis-permisif memang sulit. Tapi, semua itu harus dilawan. Orang harus disadarkan bahwa yang mereka kerjakan tidak benar. Kalau memang sulit untuk mengubahnya, minimal sang ilmuwan yang tidak berkeinginan mempraktekkan perilaku pragmatis-permisif sudah baik. Meskipun demikian, sang ilmuwan yang idealis sebaiknya juga membentuk komunitas atau bisa juga melakukan pertemanan dengan orang-orang sejenis. Bukankah domba yang sendirian mudah disergap serigala? 


Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...