Ilmuwan dan Civil Society
Subagio S.Waluyo
Civil
Society (selanjutnya disingkat CS) atau masyarakat madani dapat diartikan
sebagai masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya
atau bisa juga disebut masyarakat yang berperadaban (https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_madani).
Karena disebut sebagai masyarakat yang berperadaban, ilmuwan sebagai anggota
masyarakat juga bisa dimasukkan ke dalam CS. Sebagai CS, ilmuwan
juga harus memiliki prinsip demokratis, menjunjung tinggi etika dan moralitas,
transparan, memiliki toleransi, memiliki potensi, aspiratif, memiliki motivasi, berpartisipasi, bersikap konsisten,
memiliki bandingan, mampu berkoordinasi, sederhana, sinkron, integral,
mengakui, memiliki emansipasi, dan hak asasi (H.A.R.Tilaar. Pendidikan,Kebudayaan
dan Masyarakat Madani Indonesia. 2002:5). Meskipun demikian, yang perlu
ditekankan di sini seorang ilmuwan yang termasuk ke dalam CS adalah masyarakat
yang demokratis.
***
Ilmuwan
sebagai masyarakat yang demokratis harus bisa memerankan dirinya sebagai alat kontrol
kekuasaan (negara). Dalam hal ini ilmuwan harus bisa melakukan perlawanan
terhadap kecenderungan negara yang, misalnya, mengarah pada otoritarianisme. Dimaksudkan
dengan otoritarianisme menurut A. Mangunhardjana dalam Isme-Isme dari A sampai
Z (2001:174) adalah paham atau pendirian yang berpegang pada otoritas, kekuasaan
kewibawaan. Penganut otoritarian berpegang pada kekuasaan sebagai acuan hidup. Dalam
bertindak orang yang otoritarian suka main kuasa. Untuk itu, penguasa yang
cenderung otoritarian dapat melakukan segala cara. Bisa saja penguasa yang
otoritarian melakukan entah itu pelumpuhan, pengancaman, pemojokan, atau penyepelean.
Karena penguasa penganut otoritarianisme mempraktekkan cara-cara seperti itu,
seorang ilmuwan sebagai anggota masyarakat sipil tidak boleh melakukan
pembiaran. Ilmuwan yang melakukan
pembiaran bisa jadi dipertanyakan sampai sejauhmana kepeduliannya dalam
menegakkan CS. Bisa saja ilmuwan
macam itu telah terkooptasi oleh kekuasaan sehingga menjadi subordinasi
kekuasaan. Ilmuwan yang sudah menjadi alat kekuasaan bisa-bisa diragukan
integritas keilmuannya karena sebagai ilmuwan telah melacurkan dirinya. Di sini
sang ilmuwan telah tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip demokrasi. Karena
tidak berpegang teguh pada prinsip-prinsip demokrasi, walaupun memiliki potensi,
sang ilmuwan telah cacat dari sisi etika dan moralitas. Lha, kok bisa cacat
etika dan moralitasnya? Bisa saja cacat etika dan moralitasnya karena sang
ilmuwan melakukan pembiaran. Dengan melakukan pembiaran, di sebuah
negara yang demokratis sekalipun lambat-laun akan terjadi kerusakan demokrasi
atau kehidupan demokrasi di negara itu telah rusak. Dengan demikian, ada
korelasi antara pembiaran dan rusaknya demokrasi.
Rusaknya
demokrasi sangat boleh jadi dimulai dari PT yang di dalamnya banyak ilmuwan
yang telah bersikap ambigu. Di satu sisi para ilmuwan yang bersemayam di menara
gading masih mau menjadi bagian dari CS. Di sisi lain tampaknya sesuatu
yang menggiurkan, yang datangnya dari penguasa, tentu saja memiliki magnet yang
begitu kuat sehingga mereka masuk ke dalam subordinasi penguasa. Kalau sudah
masuk dalam subordinasi penguasa, sang ilmuwan tidak bisa lagi diharapkan bisa
melakukan penguatan CS. Oleh karena itu, tatanan kehidupan masyarakat
yang demokratis, partisipatoris, kritis, dan mampu mencapai balancing power
tidak akan terwujud. Sebagai gantinya akan muncul perilaku penguasa yang
cenderung refresif dan eksesif.
Munculnya
penguasa yang cenderung refresif dan eksesif jelas tidak dikehendaki. Kalau
sampai terjadi seperti itu, para ilmuwan juga pasti terkena imbasnya. Mereka
akan mengalami keterkekangan karena sebentar-sebentar ketika mereka mau
menyampaikan kebenaran dari hasil penelitiannya sudah bisa dipastikan akan diancam.
Bahkan, bisa saja mereka akan diintimidasi yang ujung-ujungnya dipidanakan. Kehidupan
akademis yang seharusnya lebih merupakan mimbar bebas untuk menyampaikan
pendapatnya dimatikan sehingga kehidupan kampus mengalami keredupan. Bisa saja
PT tempat para ilmuwan mengabdikan ilmunya hanya menjadi lembaga kursus. Apa
jadinya kalau PT telah menjadi lembaga kursus?
***
Kehidupan demokrasi di kampus saat ini
sama seperti kehidupan demokrasi di negara ini. Keduanya mengalami kemunduran
demokrasi. Hal itu lebih disebabkan salah satu di antaranya oleh terkooptasinya
para ilmuwan ke genggaman penguasa. Mereka merasa hidup lebih nyaman dan tentu
saja sejahtera di bawah subordinasi kekuasaan. Mereka telah campakkan sesuatu yang
seharusnya ditegakkan, yaitu mewujudkan masyarakat madani (CS). Apakah
sikap mencampakkan CS sebagai pilihan hidupnya akan tetap mereka pertahankan? Apakah
mereka tidak menyadari akan kerugian yang akan diderita sebagai ilmuwan yang
seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi? Apakah mereka sebagai
ilmuwan mau disebut sebagai masyarakat yang tidak berperadaban? Wallahu`alam
bissawab.
Sumber Gambar:
(https://persma.radenintan.ac.id/2021/01/08/demokrasi-mati-tirani-pembunuhnya/)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar