Insan Akademis Berpikir Kritis
Subagio S.Waluyo
***
Dengan melihat pada definisi dan
manfaatnya, tidak ada pilihan kecuali seorang insan akademis memang harus bisa
berpikir kritis. Di definisi tersebut sudah jelas-jelas seorang insan akademis
yang bisa berpikir kritis memiliki kemampuan untuk menganalisis permasalahan dan
ide atau gagasan. Seorang insan akademis dalam kesehariannya bukankah memang
dituntut untuk menganalisis permasalahan yang muncul? Kalau tidak
menganalisisnya, bisa dipastikan sang insan akademis itu diragukan keilmuannya.
Bisa diambil contoh di sini tentang kasus yang muncul di seputar hasil Mahkamah
Konstitusi (MK) yang berbau nepotisme sehingga menggolkan anak pimpinan
tertinggi negara ini untuk dicalonkan sebagai wakil presiden. Ada apa dengan
negara ini sampai-sampai anak pimpinan tertinggi di negara ini yang minus
pengalaman sebagai pemimpin, kok, bisa-bisanya dicalonkan sebagai wakil
presiden? Apa yang akan terjadi kalau sampai sang anak yang benar-benar minus
pengalaman tiba-tiba saja nanti jadi wakil presiden padahal jika diajak
wawancara, bahkan, debat sekali pun selalu menghindar? Susah untuk bisa
dibayangkan ke depannya nasib bangsa dan negara ini ke depan.
Bisa saja seorang insan akademis
berkesimpulan bahwa majunya sang anak lebih karena masih bercokolnya syahwat
politik yang ada pada sang bapak. Kalau tidak ada syahwat politik, mustahil
sang bapak tega-teganya menyodorkan sang anak yang masih `celingusan` diajukan
menjadi calon wakil presiden. Di sini sang insan akademis sudah bisa melihat
ada syahwat politik yang masih kuat bukan hanya pada pimpinan tertinggi di
negara ini, tapi juga di beberapa pejabat tinggi negara ini. Sang insan
akademis juga bisa memprediksi ke depannya akan semakin banyak pejabat tinggi
yang masih bercokol syahwat politiknya ingin tetap berkuasa. Tampaknya, untuk
bisa mewujudkan negara sejahtera buat negara ini masih jauh dari harapan kalau
masih bercokol penyakit syahwat politik di kalangan pimpinan tinggi negara ini.
Kesimpulan yang diambil membuktikan bahwa sang insan akademis bisa berpikir
kritis. Karena kalau tidak bisa berpikir kritis, sang insan akademis btidak
bisa menganalisis sejauh itu.
Selain bisa menganalisis sejauh itu, sang
insan akademis juga bisa menunjukkan dirinya sebagai orang yang bisa
berkreativitas. Bukankah itu lebih merupakan manfaat yang bisa diambil secara
akademis oleh seorang insan akademis? Bahkan, bukan hanya kreativitas, seorang
insan akademis juga bisa melakukan evaluasi atas ide dan teori yang
dikemukakannya. Bisa diambil contoh di sini ketika seorang insan akademis suatu
saat melakukan penelitian yang berkaitan dengan ide-idenya tentang pembangunan smart
city di salah satu kota di Pulau Jawa. Hasil penelitian yang di dalamnya
ada butir-butir evaluasi menunjukkan bahwa ide dan teorinya yang pernah
diajukan dulu sebelum smart city itu terwujud ternyata ada yang perlu
dikoreksi. Sang insan akademis yang mengetahui adanya sisi-sisi negatif dari
hasil evaluasinya itu akhirnya meminta beberapa institusi untuk berkolaborasi.
Artinya, sang insan akademis yang menyadari adanya kelemahan, baik ide maupun
teorinya membuka diri untuk bekerja sama dengan beberapa pihak (bisa juga
disebut sebagai pemangku kepentingan). Di sini sang insan akademis dilihat dari
sisi dunia kerja telah menunjukkan diri sebagai orang yang mampu mengatasi
masalah, berpikir kreatif dan menganalisis dengan cepat, dan tentu saja bisa mengkomunikasikan
gagasan dengan jelas dan tepat.
Bukan hanya berkaitan dengan kerja-kerja
akademis, dalam kehidupan masyarakat pun sang insan akademis dituntut untuk meningkatkan
kualitas keputusan dan kualitas kehidupan demokrasi. Hal ini bisa dibuktikan
ketika sang ilmuwan melakukan aktivitas pengabdian masyarakat sebagai dharma
ketiga PT. Dalam melakukan aktivitas dharma ketiga itu apakah sang ilmuwan
benar-benar bisa menunjukkan bahwa konsep-konsep yang dikemukakan yang akhirnya
digunakan dalam pengambilan keputusan memberikan hasil yang positif dan
signifikan? Selain itu, dalam mengajukan konsep-konsepnya, apakah dilakukan
secara demokratis di antaranya menerapkan konsep good governance? Pertanyan-pertanyaan
itu jika terbukti memang benar-benar dilakukan dan hasilnya positif, hal itu
menunjukkan sang insan akademis termasuk golongan orang-orang yang bisa
berpikir kritis.
***
Insan akademis dituntut berpikir
kritis. Insan akademis yang tidak bisa berpikir kritis diragukan kemampuannya. Insan
akademis yang berpikir kritis bukan saja diuji kemampuannya dalam berbagai aktivitas
akademis, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Insan akademis teruji
berpikir kritisnya kalau bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada di
masyarakat. Agar tidak disebut sebagai `jago kandang` yang cuma beraktivitas di
Menara Gading, sudah saatnya insan akademis membuktikan kemampuannya di
masyarakat. Justru, di masyarakat insan akademis teruji berpikir kritisnya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar